Daraku no Ou Chapter 11 – Kelalaian Acedia, Part 1 – Hari Ini Damai

Update hari ini,

Daraku no Ou Chapter 11 – Kelalaian Acedia
Part 1 – Hari ini Damai

Diterjemahkan dan disunting oleh Aftertolv

Selamat membaca!

Kelalaian Acedia

Part 1: Hari Ini Damai

Adalah jangkauan angkasa.

Angkasa. Menurut suatu Dewa atau sesuatu semacam itu di luar sana, itu adalah jurang kegelapan tanpa dasar. Bahkan jika seseorang memiliki sayap-sayap surgawi, tidaklah mudah untuk mengarungi kekosongan yang lebih luas dibandingkan Surga yang tinggi, dan rumornya, di suatu tempat yang jauh melampauinya, di sana benar-benar tidak ada apa-apa.

Gravitasi dan materi dan cahaya dan bahkan hasrat tidak ada lagi.

Dan semua yang ada hanyalah… benar.

“Tiada apa-apa…”

“… Bukan… tiada apa-apa!”

Kekuatan yang besarnya tak terpikirkan datang dari lengan-lengan langsing itu untuk menarikku, dan dari angkasa lembut ketiadaan yang gelap dan hangat itu, aku diseret menjauh.

Lust pada umumnya tidak cocok untuk bertarung, tapi saat cinta dipertaruhkan, mereka memang memiliki sifat yang sedikit meningkatkan kemampuan mereka. Tapi itu tidak begitu berarti sih.

Rambut keemasan yang indah, dan mata biru tua. Paras tak berdosa nan lembutnya membuat Iblis manapun yang menguasai Dosa Asal lain terdiam.

Tapi di saat yang sama, tidak ada yang cukup kurang ajar untuk berani melecehkannya di negeri ini.

Lorna. Tanpa nama belakang.

Seorang Iblis Luxuria, juga pelayan pribadi sang Penguasa Sloth.

Tapi sosok itu yang dulunya kudambakan, gaya hidup itu, tidak ada yang cukup untuk merangsang hasratku barang sedikitpun.

Bukannya aku telah meng-Overrule-nya, atau aku tidak dengki terhadapnya lagi, atau sesuatu seperti itu.

Hanya saja semuanya menjadi merepotkan. Semuanya. Mungkin ini adalah suatu wujud pencerahan.

Antara aku dan dia, aku hanya sedikit lebih pendek, tapi perbedaan itu hanya dalam ukuran ketidaktelitian percobaan. Itulah mengapa saat dia memegangku, dan menyeretku kesana kemari, kakiku masih terseret di tanah.

Dengan kemauan kuat yang tersembunyi dalam kedua mata biru yang seperti menyedotku itu, aku mengucapkan satu kata seperti biasanya.

“… Apa?”

“… Mengapa kau… ada di ranjang Leigie-sama…”

‘Tu jadwal harianku. Itulah mengapa aku selalu mengantuk.

Dengan lenganku yang dikunci olehnya, aku menguap. Sudut-sudut bibir Lorna berkedut sesaat, tapi bahkan ekspresinya itu tampak manis.

Ini mungkin bakat alaminya itu… tidak, apakah ini sesuatu yang secara alami datang begitu saja pada Iblis-Iblis Luxuria? Maksudku, mereka-mereka itu selalu mengundang nafsu syahwat Iblis lain.

Kegelapan perlahan merembes keluar dari kedalaman yang paling dalam dari tubuhku.

Seperti Envy, itu sulit untuk dilawan, tapi jauh lebih lembut, dan sepenuhnya baik. Kekuatan itu, yang menenggelamkan eksistensiku ke dalam kebejatan adalah sesuatu yang disebut kantuk.

Aku bertanya-tanya berapa lama waktu yang telah berlalu sejak jalan Sloth terbuka untukku. Akhir-akhir ini, aku telah bisa sedikit memahami sentimen Leigie-sama.

Aku sangat ngantuk. Dan malas gerak.

Persis seperti Envy yang terus membakar, dan Gluttony yang terus lapar, hasrat Sloth melarangku membuat pergerakan drastis.

“… Tiap hari, menyerah sajalah…”

“Itu karena kau belum menyerah merangkak masuk ke sana tiap hari!!”

Lorna mulai menusuk-nusukku dengan sapunya seakan pembawaan kalemnya yang biasanya hanyalah kebohongan belaka.

Dan persis seperti aku mulai memahami perasaan Leigie-sama akhir-akhir ini, aku mulai memahami Lorna pula.

Dia bukan baik hati. Dia baik pada Leigie-sama. Dia memanjakannya.

Kemungkinan ada perbedaan kecil di antara keduanya.

Dia mengguncang-guncang bahuku tanpa henti.

Tapi ini hanyalah rutinitas biasa kami. Mungkin karena kekuatan Sloth, bahkan jika ia mengguncangku seperti itu, aku nyaris tak merasakannya.

“Medea Luxeliaheart! Kerjakan pekerjaanmu dengan benar!”

“… Aku sebuah bantal.”

Bukannya bekerja merepotkan.

Tugasku adalah untuk tidur di ranjang Leigie-sama. Dengan ‘tidur’, maksudku bukan tidur yang aneh-aneh. Aku hanya mencoba untuk menunjukkan tidur yang murni dan sederhana.

Dari sudut pandang itu, aku memenuhi tugas profesionalku lebih dari apapun.

Sebagai buktinya, Tree Sloth-ku berkembang dengan lumayan cepat.

“Kalau begitu… apaan yang di bawah kepala Leigie-sama itu!?”

“… Senpai-ku.”

Apakah dia mendengarkan perbincangan kami atau tidak, kepala Leigie-sama terbaring di atas bantal tanpa bergerak sedikitpun.

Cara dia terlihat seakan dia mati belum berubah sedikitpun. Tapi kekuatan yang kurasakan darinya hanya dengan ada di sana memang sudah pasti kekuatan seorang Penguasa.

Senpai. Senpai-ku.

Dianugerahkan dari sang Raja Iblis Agung, Kanon Iralaude, dia adalah sebuah bantal yang dibuat dari bulu bayi Naga Api. Tentu saja, dia tak memiliki nama. Tapi karena dibuat dari material Naga Api, bantal itu luar biasa kuat, memiliki ketahanan terhadap api yang tak masuk akal, dan selain terus dihangatkan ke suhu yang nyaman, dia membanggakan keempukan yang istimewa.

Tak perlu diragukan lagi, dia adalah musuh terbesarku.

Dulunya begitu, tapi akhir-akhir ini, aku mendapati diriku tidak tertarik memusingkan sesuatu seperti itu. Sejak awalnya, aku tidak pernah menerimanya.

Tidakkah bodoh untuk iri terhadap sebuah bantal? Aku belum pernah mendengar Invidia yang seperti itu.

Alasan mengapa aku masih mengincar posisi yang kudamba-damba itu adalah karena naluriku menyuruhku.

… Dan bukannya aku memiliki hal yang lebih baik untuk dilakukan.

Terlebih lagi, kamar tidur terbesar di Kastil Bayangan sudah pasti kamar tidur sang Penguasa Iblis. Hanya dengan berada di sini, kekuatanku meningkat.

Lorna mengangkat sebuah cermin tangan ke arahku dalam diam. Dan di dalamnya, aku melihat seorang Medea Luxeliaheart yang tanpa ekspresi, tanpa jejak emosi melimpah yang kumiliki sebelumnya.

Benar-benar tanpa ekspresi…

“… Dan?”

“… Hah… Medea. Apa kau benar baik saja dengan ini?”

“Ya.”

“… Hah…”

Saat aku memberi jawaban langsung, Lorna menghela nafas dalam.

Matanya tak terwarna oleh amarah. Matanya hanya menyimpan warna kesedihan.

Lorna tak akan pernah membiarkan ekspresi marah mewarnai wajahnya. Mungkin itu adalah sifat Lust, atau mungkin dia sudah terbiasa dengan perilaku Leigie-sama, atau mungkin itu karena dialah yang menyelamatkanku. Aku tak tahu alasannya.

Dia kelihatannya ingin menyampaikan sesuatu, tapi sekali lagi, dia menghela nafas yang amat dalam sebelum bicara.

“Setidaknya, tolong pakailah pakaian… pakaian…”

“… Itu merepotkan.”

Pertama, aku hampir tidak akan meninggalkan ranjang, jadi tidak ada gunanya memakai pakaian, dan saat aku memang ingin beranjak, yang ada disini hanyalah Lorna, jadi tak ada gunanya menyembunyikan apapun.

Leigie-sama disini juga, tapi aku berani taruhan dia bahkan tidak melihatku saat aku di depan matanya, jadi perasaan malu di depannya telah menghilang di suatu titik di masa lalu. Memikirkannya hanyalah buang-buang waktu.

Tanpa mengatakan apapun untuk membalas responku, dengan sebuah senyuman yang mengatakan ‘Medea mabuk lagi,’ dia melirik ke arah Leigie-sama.

“Leigie-sama… setelah hamba menyingkirkan Medea, hamba akan menyajikan makanan anda, jadi mohon tunggu beberapa saat…”

“…”

Waktu tidur Leigie akhir-akhir ini bertambah panjang. Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun saat mendengar suara Lorna.

Mengangguk puas, Lorna mengulurkan tangannya kepadaku dalam diam.

Dia menyisipkan tangannya ke ketiakku, dan mengangkatku. Aku tidak memberontak. Ini juga sekedar rutinitas harian kami.

Diangkat seperti ini adalah sensasi yang cukup ganjil. Rasanya seperti aku bergerak tanpa kakiku menyentuh tanah.

Aku mengucapkan sepatah kata padanya sembari diangkat seperti barang bawaan olehnya.

“Lorna…”

“Ya?”

“Kurasa paling baik jika kau berhenti melakukan hal-hal percuma ini.”

Tak peduli berapa kali kau menyingkirkanku, aku akan kembali.

Dan akhir-akhir ini, adegan itu terjadi berulang kali. Seperti dengan naluri pulang, tak peduli seberapa jauh dia menaruhku, aku akan mendapati diriku disini.

Bahkan jika itu melawan Sloth-ku, mungkin itu adalah sisa-sisa Envy yang tertinggal di dalam diriku.

Aku tak bisa tenang. Aku harus berada disini.

“Medea… kau adalah pengaruh buruk bagi Leigie-sama.”

“… Pengaruh… buruk?”

Lorna kemungkinan dibutakan oleh cinta. Dia hanya melihat apa yang dia ingin lihat.

Ini adalah Penguasa Sloth yang telah hidup sangat lama, dan kau bilang aku pengaruh buruk… mimpi tentang Leigie-sama macam apa sih yang kau lihat?

Tidak ada jendela, tapi karena lilin yang tak terhitung jumlahnya yang menghiasi dinding, bagian dalam kamar ini terang..

Oh, bahkan jika gelap, dengan penglihatan malamku, aku akan bisa melihat ekspresi Lorna bagaimanapun juga.

Aku berpikir sejenak, dan mencoba bertanya.

“Jadi haruskah aku memakai pakaian?”

“… Itu bukanlah masalahnya disini.”

Kalau begitu apa yang jadi masalah?

Bahkan jika aku tidak bertanya, aku bisa menebak. Jika dambaan seorang Iblis adalah validasi eksistensi mereka, maka wujud Lorna adalah sosok Luxuria.

Tapi dalam situasi ini, tanpa iri terhadapku, tanpa mengembangkan  『Invidia』, dia terus memeluk dosanya, dan dari sudut pandang itu, dia mungkin lebih tinggi dariku sebagai Iblis.

Dia tidak menjawab apa-apa lagi sembari menutupiku dengan sebuah selimut abu-abu, sebelum mengangkatku di ketiakku lagi.

Tanpa suara, dia membuka pintu kamar Leigie-sama. Ruang terdalam yang tak pernah dicapai Pahlawan atau Malaikat manapun, bagi si pelayan, dan bagi Iblis tak berharga yang dikenal sebagai aku, sekedar bagian kehidupan sehari-hari kami.

Pasukan Leigie sang Sloth, yang dulunya berjumlah luar biasa banyaknya, kini dapat dihitung dengan satu tangan. Bagian dalam Kastil Bayangan yang dibangun dari batu-batu hitam berada dalam kesunyian yang mencekam.

Pasukan kuat dan terkenal itu sebagian besar telah diserap ke dalam angkatan perang seorang Heard Lauder. Tidak, kemungkinan itu adalah pasukan Heard sejak dulu. Itulah mengapa itu adalah hasil alaminya.

Kastil ini sejak dulu terlalu luas.

Bahkan Istana Api yang Menyayat milik sang Raja Iblis Agung yang dulu pernah kukunjungi sekali tidak bisa menandinginya. Kastil ini mampu memuat dua atau tiga kota yang mengelilinginya di dalamnya dengan mudah.

Tidak, kenyataannya, meski kastil ini adalah sebuah kastil, kastil ini sendiri hampir seperti kota.

Tidak hanya bawahan, seluruh warga di bawah perlindungan sang Penguasa Sloth berkumpul di benteng ini. Tentu saja, mereka hidup terpisah, tapi itu juga satu ciri Kastil Bayangan.

Penambahan, dan penggabungan ditambahkan pada satu sama lain, dan ditambahkan pada properti Penguasa Iblis yang membengkak dengan ganjil ini. Di dalamnya, Iblis yang tak terhitung jumlahnya memiliki properti mereka sendiri, dan itu telah berkembang menjadi semacam labirin.

Tapi semua itu sudah menjadi sejarah.

“Nah, sekarang, Medea. Kita sampai.”

Saat aku terlelap, kelihatannya kami telah sampai. Tempat yang kudapati saat aku membuka kelopak mataku adalah kamarku sendiri yang telah biasa kutempati. Tanpa hiasan apapun yang layak, kamar ini adalah kamar yang sangat praktis.

Kamar Lorna terletak di sebelahnya. Dulu tidak begitu adanya, tapi sejak aku mulai membawa Sloth, dia memindahkan posnya. Jadi dia bisa mengurusku dengan lebih mudah.

Tubuhku ditinggalkan di ranjang, dan Lorna menepuk-nepuk tangannya seperti habis bersih-bersih.

Betapa kasarnya…

Dia memiringkan kepalanya sambil berpikir, dan bergumam.

“Bukankah mengikatnya ke ranjangnya akan bagus…?”

“Tak berguna.”

Itu merepotkan, jadi aku hanya mengucap dua kata.

Benar, itu tak akan berhasil.

Sudah takdir bahwa rencana-rencana Lorna akan berakhir dengan kegagalan.

Bahkan jika seperti ini, aku adalah seorang Iblis Kelas Jendal. Hanya dalam kemampuan-kemampuan dasar saja, aku jauh melampaui si pelayan.

Dalam dunia jeruk-makan-jeruk ini, kebenaran yang sederhana itu bernilai mutlak.

Dengan ekspresi bisu, Lorna melihatku.

“Kalau begitu… bekerjalah sedikit. Tiap hari kau hanya tidur saja di kasur itu…”

“…”

Terus mengapa tak kau katakan itu pada Leigie-sama?

Pertama, aku bekerja. Dalam pandanganku sendiri terhadap nilai-nilai, aku terus mengejar hasratku. Maksudku, yeah, aku tidak bertarung akhir-akhir ini, tapi hidup itu tak melulu soal bertarung saja.

Apa sih yang diharapkan Lorna terhadapku?

Itu adalah misteri terbesarnya. Leigie-sama tak lagi memiliki wilayah selain kastil ini, dan bangunan ini sepenuhnya dikelilingi oleh wilayah Heard.

Memiliki wilayah yang dikelilingi di segala sisi oleh pasukan sekutu adalah hal yang tidak dimiliki orang lain lagi selain sang Raja Iblis Agung.

Artinya tidak ada yang akan menginvasi tempat ini.

Bahkan jika kau berpikir keras dan panjang tentang itu, aku ragu ada banyak orang di luar sana yang mampu melewati Heard Lauder itu.

“Leigie-sama baik saja. Karena itu adalah pekerjaannya…”

“…”

Kalau begitu apa bedanya denganku? Tidak, waktu tidur Leigie-sama bertambah panjang dengan cepat. Aku menghabiskan sekitar setengah hari tertidur, tapi saat aku bangun, satu-satunya waktu aku melihat Leigie-sama bangun adalah saat makan. Makanannya juga disuapkan padanya oleh Lorna, jadi aku bahkan tidak bisa bilang dengan yakin bahwa dia bangun pada saat-saat itu.

Aku memang sudah cukup tak tertolong lagi, tapi Leigie-sama berbeda level denganku.

Jurang yang besar itu adalah sesuatu yang hanya bisa kulihat dengan hormat. Apa coba yang bisa kulakukan agar bisa tidur selama itu…

Saat dilihat dari jauh, Leigie-sama cukup buruk, tapi saat dilihat dari dekat, dia jauh lebih buruk, dan lebih dari itu, adalah kebiasaan Lorna melihat apapun sebagai hal yang baik. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

Dan segalanya damai di Kastil Bayangan.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 4: Aku Ingin Tambah Daraku no Ou Ch 11, Part 2: Sejujurnya, Ini Merepotkan→

Leave a Reply