Daraku no Ou Chapter 4 Part 2: Mati Saja!

Halo!
Maaf minggu kemarin tidak ada update,
Dan ada pemberitahuan, minggu ini dan minggu depan adalah minggu ujian kami, jadi update akan tertunda.

Daraku no Ou Chapter 4 Part 2: Mati Saja!
Diterjemahkan oleh Aftertolv
Disunting oleh KenMashiro

Part 2: Mati Saja!

Hari ini, lagi – lagi, sang Penguasa Iblis, yang aku ditugaskan untuk mengawasinya, sedang dalam kedamaian.

Meski mentari pagi telah terbit, ranjang itu masih terjejali dengan gumpalan tebal yang merupakan Leigie, dan ia tidak bergerak sedikitpun. Pada titik ini, aku mulai mempertanyakan apakah dia masih hidup.

Sejak sang Raja Iblis Agung memberiku beberapa patah kata semangat, aku telah mengawasinya dengan teliti, tapi tidak peduli bagaimana kau melihatnya, Penguasa Iblis ini jauh terlalu malas.

Ada saat di mana seorang Wrath sepertiku tidak marah, tapi Leigie-sama tidak pernah melalaikan tugasnya.

Apakah itu perbedaan antara seorang Iblis biasa dan seorang Penguasa Iblis? Tidak, itu kemungkinan salah. Menurut anggota lain Orde Hitam yang diutus untuk mengawasi Penguasa Iblis, mereka hanya sedikit lebih jauh dari pada Iblis biasa, dan kelihatannya mereka tidak pernah menemui orang lain yang terus mengejar atribut mereka setabah Leigie. Sungguh, dia seharusnya mati saja.

Dalam keadaan jengkel, aku mulai menulis dalam Buku Harian Pengamatan Penguasa Iblisku.

Secara tidak sadar kubuka lebar mataku. Ini mengejutkan. Ini cukup parah.

Tidak… tidak ada satu pun hal untuk dilaporkan.

Dia tidak melatih kemampuannya, dan tanpa latihan, aku ragu dia akan melangkah ke dalam pertempuran. Dia tidak menjalin komunikasi dengan bawahannya, dan dia tidak berpartisipasi dalam dewan perang. Segalanya pekerjaan yang dilakukan orang – orang berputar di luar pengawasannya. Aku di sini menyaksikan sebuah bentuk yang telah disempurnakan dari sebuah tipe monarki. Tapi ini tentunya suatu yang berbeda dari frase 『Sang Raja Berkuasa, tapi Tidak Memerintah』[1].

Tidak, itu karena dia tidak memikirkan apa – apa.

Apakah kau bahkan sadar apa peranmu dalam semua ini, Pe~ Ngu~ A~ Sa~ I~ Blis~ Sa~ Ma~?

Bagaimana pasukan ini bisa tetap utuh? Tidak, serius.

Terlalu menyedihkan bahwa stressku terkumpul, dan itu terkonversi menjadi amarah. Sebagai hasilnya, untukku yang tidak benar – benar pernah memiliki banyak hal untuk membuatku marah dalam hidupku, Skill Tree Wrathku mengalami pertumbuhan tiba – tiba yang ekstrim. Aku tidak senang tentang itu sama sekali.

Aku duduk dengan jengkel di kursiku yang biasanya sembari membelalak penuh cemooh ke arah ranjang.

Bahkan saat aku melepaskan rasa haus darah sebanyak ini, mengapa ia tidak bangun sama sekali…!?

Dan saat itu terjadi, jam telah menunjukkan waktu tertentu, dan sumber dari segala kejahatan muncul dengan sebuah troli di tangannya.

Ia membuka pintu tanpa membuat suara sedikit pun, dan masuk dengan tenang dengan pembawaan elegan. Dalam suara yang lunak, ia memperingatkannya tentang waktu itu.

Itu adalah koneksi terdekat yang dimiliki pasukan Leigie dengan Penguasa Iblis mereka. Itu adalah…

“… Leigie-sama, waktunya makan…”

Si pelayan.

Ia mengenakan pakaian pegawai kantoran lawas, dan ia adalah seorang Iblis cantik yang rapi dan pantas. Aku tidak tahu atributnya, tapi ia tidak terlihat cocok untuk bertarung, jadi kurasa ia tidak punya satu.

Dalam sistem penggolongan yang ditentukan oleh Ras Manusia, golongan Iblis yang dikenal sebagai Wraith[2], telah banyak yang lahir hanya dengan insting untuk melukai orang lain, tapi terkadang, seorang Iblis tanpa keinginan semacam itu terlahir dari mereka.

Dalam kasus itu, apa yang keluar adalah seorang Iblis yang tidak berkuasa atas Dosa Asal manapun. Ada juga anak Iblis yang jiwanya masih belum matang bagi mereka untuk menganut hasrat apa pun, tapi bagi mereka untuk terus tumbuh dalam keadaan itu langka. Aku pernah mendengar bahwa itu bisa terjadi sih.

Jika gadis itu benar – benar menganut suatu dosa,  maka tidak mungkin dia akan seberbakti ini pada Leigie-sama. Karena Penguasa Iblis ini sampah.

Namanya Lorna. Dia tidak punya nama belakang. Sejak aku diutus ke sini, dia adalah orang yang harus aku interaksi paling banyak.

Mata biru lebar cantiknya, dan rambut keemasan yang dipotong rata sepanjang bahunya adalah ciri – ciri paling mudah untuk mengenalinya. Dia kemungkinan seumuranku, jika tidak sedikit lebih muda.

Pada saat bersamaan, dia adalah sumber dari semua ini. Karena gadis ini memanjakan Penguasa Iblis itu dalam segala artian kata itu, Leigie-sama tidak akan bekerja tidak peduli berapa waktu berlalu.

Aku sudah memprotes dari waktu ke waktu, tapi tidak ada tanda – tanda ia menghentikan pekerjaannya. Bagi seorang gadis seperti ini untuk tersia – siakan pada seorang iblis yang tidak mengidamkan apa pun selain kelambanan, ini adalah akhir dunia. Jika gadis ini ternyata adalah orang yang menarik seluruh benangnya[3], aku tidak berpikir aku akan terkejut.

Aku sejujurnya berpikir dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik tanpanya. Tapi ia tidak mati. Tidak ada kekhawatiran dia akan tewas dalam pertarungan. Karena ia tidak pergi bertarung.

Pada bisikan makanan Lorna, kepala sang Penguasa Iblis perlahan menjulur keluar dari selimutnya. Matanya setengah tertutup, dan dia masih terbaring dengan muka di bawah. Ini adalah satu – satunya waktu dalam sehari di mana aku bisa secara rutin melihat wajah tercela pria itu. Meski ia tidak bersenjata, jika kau melancarkan serangan, Leigie-sama tidak menerima satu poin damage pun. Aku tahu karena aku telah mencobanya beberapa kali.

Memangnya skill macam apa sih yang Sloth miliki?

Dari seluruh Skill Tree yang dimiliki Kelas Iblis, yang memiliki paling sedikit informasi diketahui tentang itu adalah Skill Tree Sloth tanpa diragukan lagi.

Iblis Sloth tidak biasanya menggunakan skill secara sukarela. Jika kau bertanya mengapa, itu tepatnya karena mereka adalah Sloth. Dan maka, sebagian besar skill Sloth tidak diketahui secara luas. Tentu saja, di antara mereka, tidak ada seorang yang cukup rajin untuk bersusah payah mencatat skill – skill mereka juga. Bukan suatu misteri mengapa itu adalah sebuah misteri. Jangan. Macam. Macam. Dengan. Ku!

Memangnya pikiran apa yang terlintas di kepala mereka sembari mereka terus mengejar kemalasan itu?

Memangnya apa yang mereka coba lakukan dengan memperkuat sekumpulan skill yang tidak akan mereka gunakan?

Setiap kali aku berpikir tentang itu, rasanya seperti aku mengamati semacam binatang asing. Dan aku merasa sekujur tubuhku tertelan oleh perasaan lemah. Mati saja sudah.

Informasi langka yang telah disebarluaskan menyatakan bahwa skill Sloth unggul dalam daya tahan, dan mereka memiliki skill yang membuat mereka mampu melambatkan gerakan orang lain. Juga ada Slaughter Doll yang membuat Leigie-sama begitu terkenal: sebuah skill untuk memberi kehidupan pada boneka – boneka. Tapi hanya itu.

Bisa saja itu semuanya, tapi aku juga berpikir bahwa itu terlalu banyak informasi dalam satu makna. Maksudku, bukan seperti gumpalan di sana akan menggunakan skill.

Dengan mata tertutup, Leigie-sama membuka mulutnya.

Lorna menerima tindakan itu dengan senyum berseri – seri, menyendok makanan dengan sendok, dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ini seperti menyaksikan seorang ibu burung memberi makan anaknya.

Satu hal yang mengejutkan adalah bahwa Penguasa Iblis ini bahkan tidak mengangkat sebuah jarinya untuk makan!

Hentikan saja sudah! Apa – apaan benda ini adalah seorang Penguasa Iblis! Minta maaf pada semua Iblis yang dengan rajin bekerja di luar sana !

Bahkan jika kau berhasil memenuhi hasratmu, MINTA MAAF PADA SELURUH IBLIS YANG TIDAK BISA MENJADI PENGUASA!

Aku menggertakkan gigiku, dan menjerit hanya dalam hatiku. Kewarasan mentalku dalam bahaya. Dalam berbagai cara.

Dan Lorna, kau juga harus berhenti!

Itulah. Semakin banyak aku tahu tentang gaya hidup joroknya, evaluasiku soal Leigie, dan juga mereka, Iblis lain yang tidak bisa menjadi Penguasa Iblis, meskipun benda ini entah bagaimana mencapainya dengan malas – malasan. Termasuk aku. Dan itu membuatku semakin jengkel lagi.

Saat aku berdiri secara refleks, Lorna mengalihkan matanya padaku.

Sembari aku menghela nafas, ia dengan lembut meletakkan sendoknya di atas piring, dan menaruh tangannya di pinggangnya, seakan sudah lelah.

“Hari, demi hari, demi hari. Memangnya karena apa kau benar – benar tidak puas?”

Dengan sikap itu, aku mendengar sesuatu berderak di suatu tempat di kepalaku.

Leigie menguap.

“Apa? Aku, tidak puas? Seharusnya ada batas untuk mempermainkanku!!”

Hanya karena ia seorang Penguasa Iblis, ia meremehkanku…

Aku kehilangan rasionalitasku sesaat, dan Amarahku menyala – nyala. Itu menjalar ke sekujur tubuhku seiring dengan darahku.

Memangnya berapa banyak yang harus kutahan? Mengapa aku harus hidup seperti ini… Jika Kanon-sama tidak mau menyingkirkannya, maka aku akan membereskan ini atas namanya…

Namun, bahkan saat aku mencapai tahap seperti ini… dia tidak peduli padaku.

Dengan mata yang masih tertutup, ia mengayunkan kepalanya maju mundur. Aku mendapat keinginan mendadak untuk menendang kepala itu seperti bola sepak.

Sial… aku telah mencoba yang satu itu dulu. Itu tidak memberinya satu lecet pun.

Maka untuk memberinya sebuah lecet, apa yang tersisa adalah skill – skill 『Ira』ku.

Aku mengambil nafas dalam – dalam, dan mencoba mengatur emosi bengis yang berlarian di kepalaku.

Itu membuka celah yang terlalu besar, jadi aku tidak bisa menggunakannya dalam pertarungan, tapi mari mengambil beberapa waktu yang manis, dan mengumpulkan kekuatan.

Dengan amarahku sebagai bahan bakar, aku akan membinasakan musuh. Itu adalah dasar dari skill – skill 『Ira』.

“Meremehkanku… atas nama Kanon-sama… aku akan menghajarmu hingga tewas…”

Skill 『Ira』 yang kumiliki dengan keluaran tertinggi.

Api yang lahir dari jantung seorang Iblis, Inti Jiwaku, meluap dari kakiku, dan naik ke langit sebagai pilar api.

Dalam Skill Tree, ini adalah skill kelas bagian atas dengan tingkat S. Dari skill yang bisa kugunakan, ini adalah yang terkuat.

『Rage Flame』

Lorna berkedut seraya terpukul dengan suhu tinggi yang datang dengan itu sebagai efek samping.

Ledakannya membuat perabotan beterbangan, dan itu menabrak tembok sebelum hancur berkeping – keping.

Meski hanya efek samping, panasnya melampaui apa yang Iblis biasa dapat tahan. Kulit di lengan Lorna seketika mulai terbakar, dan ruangannya dipenuhi bau daging terpanggang yang  tidak sedap. Ia memandang marah, melangkah mundur, dan menutupi kulitnya, tapi ini bukanlah panas yang bisa dihindari dengan sesuatu seperti itu.

“… Lorna, menyingkir. Bukan urusanku jika kau terseret dalam ini.”

“… Sia – sia. Dengan 『Wrath』 selevel itu… kau tidak akan mampu membobol 『Sloth』 Leigie-sama.”

… Meremehkanku.

Aku menahan rasa api yang membakar diriku sendiri, dan meningkatkannya ke tingkat panas yang belum pernah kucapai sebelumnya. Barrier[4] yang melindungi langit – langit pecah, dan batu di atas meleleh sebelum menetes ke lantai.

Kata – kata diambil sebagai bahan bakar, dan isi kepalaku menjadi semakin merah dan merah. Api yang menyelimuti lenganku berubah menjadi merah tua kehitaman.

Pergelangan tangan baju Lorna menyala, dan api itu mulai menyebar.

Tapi tanpa bahkan mencoba mematikannya, ia terus menepuk kepala Leigie. Ia bahkan belum membuka matanya. Mulutnya mendekati telinganya.

Dan ia menyuarakan beberapa patah kata yang tak dapat dipercaya.

“Leigie-sama… aku punya seorang adik perempuan. Jika aku menghilang, sudah ditentukan bahwa ia akan menjadi orang yang merawatmu menggantikanku.”

“Gitu.”

Lorna tidak tampak mempedulikan nyawanya sendiri.

Dan sang Penguasa dari Sloth tidak memiliki setitik pun ketertarikan pada fakta itu. Leigie bahkan tidak membuka matanya… dia bahkan tidak memandang wajah Lorna.

“Idiot… kau berencana untuk mati di sini?”

“Ku… aku tidak punya apa pun untuk memblok apa yang kau punya di situ, Lize. Tidak peduli apa yang kulakukan, itu akan membunuhku pada akhirnya. Itu saja.”

Sembari menahan rasa sakit, kata – katanya keluar dalam nada datar, menambah bahan bakar pada api amarahku.

Apinya menjalar naik ke kain, dan ranjang king size itu tertelan di dalamnya. Lorna tidak berusaha menutupi dirinya. Dengan tubuhnya yang menyala, ia terus menatap ke arah Leigie yang matanya tertutup.

Api itu adalah amarahku itu sendiri. Sifatnya berbeda dengan api fisis sederhana. Mereka memiliki kekuatan yang sesuai bagi mereka untuk disebut api neraka, kemampuan untuk mengubah apa pun menjadi abu. Di dunia yang luas ini, mereka kemungkinan adalah apa yang memiliki kemampuan destruktif terhebat. Mereka bahkan melampaui api sihir yang digunakan oleh Ras Roh.

Informasi tentang target apiku memasuki kepalaku.

Tubuh Lorna yang tersusun atas Jiwa hanya memiliki sedikit resistensi terhadap api dari Tree Iblis dasar. Dia dengan mudah terbakar seraya menjadi makanan bagi api itu.

Alasan dia masih hidup adalah ini hanyalah efek sekunder dengan bahkan tidak sampai secuil dari kekuatan skill itu.

Jika aku melepaskan skill itu, maka bahkan jika aku tidak membidiknya, dia akan dengan mudah… bahkan lebih mudah dari secarik kertas, jiwanya dan semua lainnya akan berubah menjadi abu.

“Minta pada tuanmu untuk menyelamatkanmu.”

“Kau membuat… sebuah kesalahan. Lize Bloodcross.”

Seluruh tubuhnya terbakar sedikit demi sedikit, dan kepalanya terhias dalam arang membuatku merasa takjub ia masih hidup. Dengan rongga mata yang terbakar itu, ia menatapku.

Apa yang ada dalam matanya adalah ketiadaan. Seluruh tubuhnya menghilang, dia tidak mengeluarkan jeritan kesakitan, seakan ia sekedar menunggu untuk menyapa kematian yang tak terhindarkan. Itu lebih memukul mundur dari apa pun yang aku pernah lihat sebelumnya.

Dan begitu, Lorna tersenyum.

“… Sloth adalah… tanpa memikirkan apa pun… tanpa menciptakan apa pun… tanpa menyelamatkan apa pun… tanpa membiarkan perasaanmu tergerakkan… hanya ada sebagaimana kau menginginkannya.”

“!?”

Leigie yang sangat-penting itu, bahkan dengan api neraka yang dikatakan untuk menghancurkan apa pun dan segalanya yang mengelilingi mereka, tidak terusik sama sekali.

Tidak sehelai rambut pun, atau sepotong kulitnya terbakar. Meskipun tidak ada tanda – tanda darinya menggunakan skill apa pun!

Di depan matanya… bahkan saat si Iblis setia yang telah melayaninya dengan taat sampai sekarang sedang terbakar!

Bahkan saat segala sesuatu di dunianya sedang terhanguskan menjadi arang!

Fakta itu membuat pikiranku meninggalkanku.

Rasanya seperti kepalaku akan terbelah, bahwa bahkan membakar segalanya di dunia ini tidaklah cukup. Amarah semacam itu menembus kepalaku. Panas apinya meningkat lebih jauh lagi.

Pada saat itu, Leigie membuka matanya untuk pertama kalinya, dan bergumam.

Untuk pertama kalinya, matanya beralih ke arahku. Ekspresinya tampak kesusahan.

“… Panas.”

Apa – apaan yang dia katakan… dia ini….

Aku bisa melihat wajahnya kaku. Kata – kata yang tak bisa kupahami. Cara hidup yang tak bisa kupahami.

Tanpa se-iota pun keraguan, aku mengaktifkan skillnya.

“… Mati saja! Leigie!”

“… Gitu.”

Dengan ekspresi yang tak menyenangkan, Leigie menghela nafas.

Ia membelokkan telapak tangannya ke arahku… di muka api hitam itu, ia mengucapkan sepatah kata.

“Iyo.”

Itu adalah saat pertama dimana aku telah paham bahwa sang Penguasa Iblis telah mengaktifkan sebuah skill. Bahkan tanpa mengucapkan nama Skillnya.

Tepat sebelum itu mengenainya, dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari skillku sendiri.

Apa yang seharusnya melindungi jiwaku, skill Resistensi Pencemaran Mental seketika tertembus tanpa mampu memberontak sama sekali. Instingku memberitahuku.

Imbasnya cukup hebat untuk mengguncang Inti Jiwaku. Bidang pandangku dalam kekacauan, dan pikiranku ke mana – mana.

Panas di dalam kepalaku seketika terputus.

Seakan perasaan – perasaan itu hanyalah sebuah kebohongan, sebuah lubang telah tertembus melalui jantungku. Apa yang seharusnya di sana adalah batin neraka dari Wrath, tapi kekuatan pendorong yang merupakan amarahku dimatikan, dan mati. Api yang telah mengamuk di sekeliling, api yang telah membakar Lorna, seakan apapun dan segalanya hanyalah sekedar mimpi.

“Apa… yang kau…”

Aku memandang telapak tanganku, yang di situ terdapat api hitam itu telah menghilang.

Aku seharusnya… marah tadi. Aku yakin aku telah memeluk amarah dan kebencian yang cukup hebat untuk membakar segalanya hingga rata dengan tanah.

Ingatanku masih melekat. Sampai beberapa detik yang lalu, aku seharusnya sedang dalam kemarahan, tapi… sekarang aku tidak benar – benar peduli.

Perbedaan antara emosiku dan ingatanku menjadi angin dingin, membuat tulang belakangku menggigil. Sesuatu pasti telah membuat celah kosong dalam benakku.

Lututku menyerah, dan aku berlutut di tanah yang dengan cepat telah mendingin setelah kehilangan panasnya.

Aku tidak paham. Aku tidak paham apa pun. Aku tidak paham emosi amarahku. Bagaimana. Mengapa aku marah? Bagaimana aku menjadi sangat marah? Ingatanku tidak mampu menyediakanku jawaban – jawaban itu.

Tanpa mempedulikan kekhawatiranku, dalam abu, dan dengan ekspresi kesusahan, dalam sprei compang – campingnya, Leigie berguling.

Hanya ada satu teori yang mampu menjelaskan situasi abnormal ini.

… Ini adalah… sebuah Skill dari Sloth.

Berbaring di punggungnya, mata Leigie beralih ke arahku.

“…”

Tapi tanpa mengucapkan apa pun, ia menutupnya.

Kelakuan lancangnya menyalakan percikan lain di dalam diriku.

Katakan sesuatu…

[1]Ini ternyata adalah sebuah kalimat dari doktrin politis dari Commonwealth of the Two Nations
[2]Hantu
[3]Memainkan semuanya, seperti marionet
[4]Lapisan Pelindung

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

 

← Daraku no Ou Chapter 4 Part 1 Daraku no Ou Chapter 4 Part 3: Memangnya Dia Pikir Siapa Dia?→

1 comment

makasih banyak min 😀

Leave a Reply