DnO 1 – Kemalasan Acedia

Kemalasan Acedia

Part 1: Ah, betapa merepotkan.

Ah, betapa merepotkan.

Maaf untuk pertanyaan yang mendadak ini, tapi apakah kamu tahu konsep reinkarnasi ke dunia lain?

Aku belum pernah mendengar apapun tentang itu sampai aku mengalaminya, dan kupikir penggunaan kata itu tidak begitu umum di duniaku sebelumnya, tapi artinya persis seperti kedengarannya: direinkarnasikan ke dunia lain. Di kejadian yang paling umum, mereka yang mengalaminya biasanya tetap memiliki pengetahuan dari kehidupan mereka sebelumnya, dan mendapat semacam kekuatan spesial atau semacamnya.

Aku tidak begitu paham, tapi kamu memulai permainan baru dengan kekuatan baru.

Dan bukannya aku kuat di kehidupanku sebelumnya atau semacamnya. Ah. Ha. Ha.

Contohnya, di suatu planet bernama Bumi, di suatu negara bernama Jepang, di suatu tempat bernama Tokyo, aku dilahirkan. Well, aku tidak yakin kamu benar – benar tertarik, jadi aku akan melewati bagian itu. Anyway, dunia ini memiliki beberapa orang seperti itu tersebar di sana dan di sini, dan beberapa dari mereka memegang gelar yang penting.

Seperti pahlawan, atau petualang, atau santo, atau penemu, atau orang suci, atau hal – hal semacam itu. Tampaknya mereka suka mengikuti pola itu.

Aku tak paham bagaimana mereka bisa kuat menjalani pekerjaan yang begitu merepotkan. Mereka hanya seperti batu normal di sisi jalan, dan aku tidak benar – benar peduli, tapi aku berhasil dikagumkan dengan motivasi mereka.

Jika kamu bertanya mengapa aku berkata tentang hal semacam ini…

… Apa? Kenapa aku membuang – buang energiku menggerakkan mulutku untuk mengatakan hal – hal tidak berguna ini?

“… Sang Raja Iblis Agung telah memberimu perintah langsung. Tolong pergilah dan tulis sebuah laporan yang pantas!”

Berisik.

Tak bisa menghindari suara menyebalkan yang datang ke telingaku, kuhujamkan sikuku ke kasur, dan berbalik.

Dia yang terus mengomel ke telingaku adalah seorang perempuan yang seluruh pakaiannya terbuat dari warna hitam sebagai dasarnya.

Sifatnya sedingin boneka. Tidak ada keraguan bahwa dia memang lumayan cantik.

Betapa tidak berguna.

Kutempelkan sikuku ke bantalku untuk mendorong naik diriku, dan kulihat ke arah perempuan yang mengernyitkan alisnya kepadaku—anggota brigade ksatria blablabla milik Si Raja Iblis Agung, Raja Kehancuran, Kanon, Kurasa.

“Dan… apa tadi?”

“Laporan! Dan akulah yang seharusnya marah disini, kan!? Walaupun kami diutus secara bersamaan ke seluruh Penguasa Iblis, kenapa hanya aku satu – satunya yang belum bisa kembali…”

“Ah, malangnya…”

“Tolong berhenti mengacau! Tulis. Laporan. Sialanmu!”

Aku tak paham apa yang dia coba katakan.

Kenapa aku harus melakukan sesuatu semacam itu?

Ah, tanganku lelah. Sekali lagi aku jatuh ke bantalku. Aku telah membuang – buang energi pada sebuah hal yang tidak berguna.

Dia menggoyangkan bahuku dengan kasar. Suaranya yang melengking sangat menyebalkan. Ku angkat wajahku, dan kulihat ke arah perempuan yang seharusnya dikirim oleh Penguasa Iblis Agung.

Demi Tuhan, kalau kau punya waktu untuk melakukan hal ini, lakukan pekerjaanmu. Pekerjaanmu.

“Oi, kamu. Tulis laporannya.”

“A… apa!? Kenapa aku harus… dan pertama – tama, apa yang harus kutulis…”

“’Semua kuserahkan padamu. Aku sibuk.”

Aku genggam selimutku, tapi si perempuan menggenggam lenganku saat aku menggeliat.

Sial, hal ini sangat merepotkan. Setelah aku berkata sebanyak ini, dia masih ingin menggangguku?

Aku lelah. Aku mengantuk. Aku benar – benar tidak peduli.

Dan tunggu, laporan seperti apa yang dia bicarakan?

“Dan pertama – tama, bukankah kau yang bilang, Penguasa Iblis!? Bahwa menulis sangat merepotkan jadi kau hanya akan bicara dan akulah yang harus menulis semuanya!?”

“… Bicara membuatku lelah, jadi tulislah apa saja yang kau mau.”

Kulemparkan padanya boks kotak yang telah jatuh dari matras.

Itu adalah stempel resmiku. Kelihatannya aku harus mengecapnya pada setiap laporan. Bangun untuk mencarinya sangat merepotkan, jadi aku selalu menyimpannya di bawah selimutku.

Tak peduli jika dia menulis apa yang kubilang, atau melaporkan apapun yang dia inginkan, Aku tahu isinya akan bersifat fiksi, jadi tidak ada gunanya.

Si perempuan kaget, menggerakkan tangannya untuk menangkapnya, sebelum menatapku dengan ekspresi datar.

“… Jadi, sampai nanti.”

“Apa!? Kenapa… Lagi – lagi, ini… bangun!”

Kali ini, kuabaikan suara jeritannya, dan kutarik selimut menutupi kepalaku.

Dalam beberapa detik, kesadaranku hanyut, dan suara yang menyebalkan itu menjadi jauh. Pikiranku lepas dari tubuhku.

Um, kupikir ada sesuatu yang tadi seharusnya kukatakan. Apa itu tadi?

Ah… namaku.

Namaku… Leigie Slaughterdolls. Aku lupa nama apa yang kumiliki di Jepang dulu. Pada suatu hari, di Jepangnya Bumi, aku adalah seorang pegawai yang mendedikasikan waktunya ke sebuah perusahaan, dan sekarang, aku hanyalah seorang Penguasa Iblis, yang biasa, dan malang, di bawah suatu Raja Iblis Agung.

Part 2: Aku seorang pasifis[1]

Biarkan aku berkata sedikit jujur di sini. Saat pertama kali menyadari aku telah direinkarnasikan ke dunia ini, pikiran pertamaku adalah bahwa ini sangat merepotkan. Itu saja.

Tapi sekarang, kupikir dibandingkan menjadi seorang pegawai di Bumi, kehidupanku sekarang jauh lebih mudah.

Ini pasti karena aku telah menjadi seorang anak baik. Yep. Pasti itu.

Jika bukan karena itu, maka aku seharusnya akan dipaksa untuk bekerja untuk beberapa dekade ke depan. Seperti para pekerja kasar yang ada di sana – sini. Well, mungkin aku akan merasa itu merepotkan, dan bunuh diri di tengah jalan.

Dalam perbandingan, kehidupan di dunia lain ini jauh lebih mudah.

Memberi penjelasan spesifik sangat merepotkan, jadi akan kulewati itu, tapi dari momen aku dilahirkan ke dunia ini, aku belum pernah bekerja sedetikpun dalam hidupku. Meski begitu, aku berhasil mencapai gaya hidup yang cukup nyaman.

Kemalasan tanpa akhir. Tidak ada kepuasan yang lebih besar dari ini. Paling tidak, untuk seseorang yang menghormati yang miskin, aku puas dengan hidup ini.

“Menganggur!? Tidak punya pengalaman kerja!? Bagaimana mungkin salah satu kaki tangan Raja Iblis Agung, seorang Penguasa Iblis bermalas – malasan!? Kau hanya tidak ingin bekerja, kan!”

Saat ini, satu – satunya sakit kepala yang kumiliki adalah perempuan ini yang dikirim oleh Raja Iblis Agung. Aku tidak tahu namanya. Dia lumayan cantik. Dan dia berteriak padaku. Jika kau menanyakan sifatnya, kurasa kira – kira itu cukup menjelaskan. Dia hanya sedikit lebih tinggi dari sisa gerombolannya. Buatku, jeritannya sangat menjengkelkan. Untuk seseorang sekalem aku, kita benar – benar tidak cocok bersama –sama.

Aku berani taruhan Si Raja Iblis Agung berusaha untuk mengirim siapapun yang bisa membuatku paling jengkel sebagai bentuk gangguan.

“… Dan tentang apa ini tadi?”

Saat kau membandingkan mereka yang direinkarnasikan ke dunia ini denganku, yang terlahir sebagai iblis butiran debu murahan, kurasa satu – satunya pembelaanku adalah dunia ini benar – benar mudah untuk dihidupi. Nyawa memang dihargai sedikit rendah, tapi jika kau sedikit berusaha, kau bisa menikmati hidup tanpa melakukan apa – apa. Bahkan jika kau tidak mencoba, itu mungkin saja.

Aku merasa seperti seorang idiot karena bekerja keras di Jepang. Aku hanya bisa mengatakan ini setelah terjadi, tapi kuharap aku mengalami reinkarnasi lebih awal.

“Dia seorang pahlawan. Seorang pahlawan! Seorang pahlawan menyerangku! Lihat, akhirnya datang waktu buatmu untuk bangkit! Tolong bangun dari tempat tidur sekarang!”

“… Aku seorang pasifis.”

Aku tak paham kenapa dia begitu bersemangat.

Dia mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya, dan memohon padaku sambil menatapku dengan mata dingin. Ganti, ganti. Tolong beri aku yang lebih bagus.[2]

Aku akan benar – benar senang jika dia berhenti membangunkanku saat aku sedang tidur dengan damai. Dia terus membangunkanku tanpa selang waktu yang tetap, jadi aku selalu tidur dalam gangguan.

Tak apa jika dia punya alasan, tapi aku ingin dia untuk memikirkan mereka yang tidak.

Saat kau dipenuhi semangat tanpa alasan yang jelas, kau pada akhirnya membuang waktumu dari waktu ke waktu. Ah aku baru saja ingat tentang seorang superior yang bekerja di divisiku. Lupa namanya, sih.

“Pasifis!? Sang Penguasa Iblis seorang pasifis!? Apakah belatung – belatung itu akhirnya sampai ke otak busukmu!? Ini adalah perintah langsung! Perintah langsung Sang Raja Iblis Agung!! Apa kau paham artinya itu? Sang Raja Iblis Agung secara pribadi mengutusmu, dan seharusnya itu sebuah kehormatan…”

Aku mengerti. Kehormatan.

Aku hanya tak bisa mengalahkan kantukku.

“… Ganti. Ganti. Bawakan pelayan malas yang kupunya sebelumnya.”

“Eh? Ganti?”

“Ya. Ganti. Kamu berisik. Aku benci.”

“Apaaaaaaaaaa?”

Si perempuan membuka lebar matanya sambil bergerak dengan alay. Sampai seperti aku bisa melihat urat pembuluh darahnya menonjol dari dahinya.

Perempuan di depanku ini adalah seorang iblis.

Aku juga, dan juga Si Raja Iblis Agung.

Tapi walau kau mengkategorikan mereka di bawah satu nama, ada banyak tipe, dan kami dibagi menurut atribut.

Artinya, aku lupa angkanya, tapi itu… kau tahu, hal itu di agama Bumi atau legenda, atau manga atau semacam itu. Kau kemungkinan besar pernah mendengarnya.

Um… benar, Amarah, atau Kebusukan atau semacam itu… hal itu dengan tujuh atau delapan hal. Yang terdengar begitu tinggi dan mulia.

“Pendahuluku berhenti! Dia bilang sesuatu tentang Kemalasanyang begitu menyedihkan untuk dilihat! Apa kau paham apa artinya ini!? Melihatmu, Sang Penguasa Iblis, dia muak atas atributnya sendiri! Hey!”

“Gitu.”

“Gitu!? Kesanmu adalah, ‘Gitu’!? Satu kata? Hanya satu kata!? Ah, terkutuklah semua. Apa – apaan pria ini!”

Ini adalah topik yang aku tidak benar – benar tertarik ke dalamnya.

Pertama – tama, aku tidak benar – benar ingat wajah pria yang dulu itu. Semua yang kuingat adalah dulu jauh lebih tenang daripada sekarang.

Aku seorang iblis. Atributku adalah Sloth.

Kebejatan dan kemunduran, pelarian dan kebusukan, tekanan dan stagnasi, kelembaman dan kesedihan. Seorang Penguasa Iblis yang bertahta atas hal – hal semacam itu.

Dari balik selimut, aku mengintip ke arah anak buah Si Raja Iblis Agung.

“Dan apa kau pikir itu cukup… untuk membuat seseorang sepertiku bergerak?”

“Ku… orang ini…”

Bukannya bermaksud sombong, tapi aku adalah seseorang yang bisa tidur selama yang kumau. Ini bukan hanya karena aku seorang iblis. Ini sudah seperti itu sebelum aku direinkarnasikan juga.

Untuk hidup, aku terpaksa bekerja, tapi pada hari liburku, aku tidur seharian.

Karena itu, aku tidak punya memori atas kapan, di mana atau bagaimana aku mati.

Kupikir itu membuatku lebih beruntung dari mereka para reinkarnator yang ditabrak truk atau dibacok oleh beberapa pembacok.

Well, pada titik ini, aku benar – benar tidak peduli.

Si wanita yang menjerit masih berusaha memberikan perintah.

Bahkan menjadi seorang Penguasa Iblis sama seperti menjadi penguasa feodal, jadi kupikir itu tidak mudah.

“Pergi laporkan apa yang akan kukatakan pada Kanon.”

Dengan satu kalimat itu, si perempuan seketika diam.

Disamping semuanya, kupikir dia masih seorang profesional, dan dia secara pribadi dikirim oleh Si Raja Iblis Agung itu. Seharusnya dia memang mampu.

Setelah bilang apa yang kumau, akhirnya aku meyakinkan diriku untuk kembali ke dunia mimpi sekali lagi, dan lagi, si perempuan mencoba menarik selimutku.

“Tunggu… tunggu sebentar! Kau belum bilang apa – apa, dan mengapa kamu tidur lagi!?”

“… Tebak saja.”

Kalau aku serius, tidak mungkin seorang iblis pada level ini bisa mengganggu tidurku.

Aku merasakan futon[3], lengan dan rambutku ditarik, sambil kubiarkan pikiranku jatuh ke dalam jurang gelap. Aku jatuh ke kedalaman kegelapan yang damai itu.

Part 3: Bukannya aku seorang NEET[4] atau semacam itu

Bukannya bermaksud sombong, tapi bukan berarti satu – satunya yang kulakukan hanyalah tidur.

Saat aku lapar, aku makan, dan waktu tiba saat bersih – bersih, aku bangun dari tempat tidur.

Benar, aku hanya tidak bekerja. Tapi bukannya aku seorang NEET atau semacamnya.

“… Kau benar – benar yang terburuk. Itulah yang disebut masyarakat untuk seorang NEET.”

“Aku dalam unearned income.”[5]

“Tidak, itu tidak seperti kau hidup seperti ini dengan gratis atau semacamnya, kan!?”

Tidak buatku, buatku ini terasa gratis.

Aku tak begitu mengkhawatirkannya, tapi jika mungkin, aku suka kasurku dalam keadaan empuk. Dan lalu, saat mereka datang untuk membersihkan, aku bangun dari situ. Untuk pergantian suasana, aku memikirkan untuk merubah kamarku dari waktu ke waktu, tapi aku tidak ingin berjalan di lorong[6], jadi idenya ditolak. Aku tidak sebegitu ingin akan kasur yang empuk dan nyaman.

Alasan terbesar aku bersyukur telah dilahirkan kembali sebagai seorang iblis, adalah tidak peduli seberapa lama aku tidur, aku tidak pernah sakit kepala.

Aku meregangkan tubuhku setelah aku bangun dari tempat tidurku, dan menurunkan tubuhku ke sebuah kursi kayu yang kokoh. Kursi itu adalah favoritku. Nampaknya benda itu memiliki sejarah dibelakangnya, dan juga cukup berharga, tapi aku tidak begitu mengetahuinya. Saat aku mencondongkan tubuhku ke belakang dan membiarkannya berayun maju mundur, rasanya seperti aku adalah seorang bayi yang diayun agar tidur di buaian. Itu membuatku mengantuk.

“Oi, balutkan itu di sekitarku.”

“Ya. Sesuai keinginanmu, tuanku.”

Si pelayan yang telah datang untuk membersihkan memasang senyuman cerah di wajahnya sambil membawakan selimut itu padaku.

Begini. Beginilah bagaimana kau seharusnya melayani eksistensi yang disebut Penguasa Iblis.

Penguasa Iblis bukanlah gelar sembarangan. Aku punya pengawalku sendiri, dan juga tanah.

Itu semua adalah apa yang diberikan Sang Raja Iblis Agung padaku, tapi aku tak begitu peduli. Apa yang penting adalah orang – orang yang telah diberikan padaku telah melayaniku dengan baik.

Bukannya bermaksud sombong, tapi aku tidak bisa membersihkan, memasak atau mencuci. Satu – satunya hal yang bisa kulakukan adalah tidur.

Aku berterimakasih, saat ia membalutkan itu pada kursi.

Dan saat aku bersantai seperti itu, anak buah Sang Raja Iblis Agung membuatku terhempas.

Dia mendorong kursi itu dengan kekuatan yang luar biasa. Tubuhku melayang di udara untuk beberapa saat sebelum aku membentur tembok dengan kepala lebih dulu.

Kekuatan macam apa. Setiap dia memukulku, Aku mulai mengingat hidupku yang lalu sebagai seorang manusia, dan mengkonfirmasi fakta bahwa ini, memang benar, dunia lain.

Apakah ini memang hanya imajinasiku, ataukah perlakuan perempuan ini terhadapku menjadi semakin buruk, dan buruk?

“Ahh… tuanku!? A-apa kau baik – baik saja!?”

“Yeah.”

“Berhentilah mengacau!”

Si perempuan menghentakkan kakinya dalam keputusasaan. Hanya dengan tindakan itu, lantai yang seharusnya terlindungi dengan lapisan pelindung dari kelas tertinggi mulai retak.

Ekspresinya seperti seorang iblis. Um, kapan dia datang tadi?

Si pelayan mengangkatku dengan menyokong ketiakku, dan mengembalikanku ke kursi.

Dia mengarahkan jarinya pada si pengikut Raja Iblis Agung.

Karena dia adalah bawahanku, tentu saja, si pelayan juga iblis. Walaupun aku tidak tahu atributnya. Jika aku boleh menambahkan, aku juga tidak tahu namanya.

Aku buruk dalam mengingat nama orang. Biasanya, aku hanya tidak tertarik.

“Seseorang yang seharusnya berhenti adalah kau, Lize Bloodcross! Bahkan jika kau adalah seorang pengawas yang dikirim secara langsung dari Kanon-sama, tata kramamu terhadap Penguasa Iblis kami sudah kelewatan dari apa yang bisa disebut kasar!”

Begitu. Jadi perempuan ini memiliki nama macam Lize.

Sekarang setelah kau mengatakannya, aku merasa bahwa dia pernah memperkenalkan dirinya saat pertama dia ditempatkan di sini.

“Apa – apaan yang kau bicarakan!? Semua ini disebabkan karena kalian seperti ini, itu, Penguasa Iblis itu, tidak pernah punya setitikpun niatan untuk bekerja!”

Bahkan aku tidak bisa tinggal diam setelah mendengar ucapan semacam itu.

“Tidak, bahkan jika mereka tidak di sini, Aku tidak punya niatan bekerja, tau.”

“Seperti yang diharapkan dari Leigie-sama!”

Si pelayan melihatku dengan mata berbinar penuh dengan kekaguman. Aku berpikir apakah dia sadar bahwa aku tidak tahu namanya.

Dan aku bingung bagian mana dari diriku yang dikaguminya.

Well, semuanya tidak jadi persoalan.

Dengan perasaan pasrah, aku menutup mataku.

“Tunggu… Jangan tidur! Bukankah kau baru saja bangun!?”

“Lize, sang Penguasa Iblis sedang tidur! Jangan berisik!”

“Haaaaa!? Kenapa kalian semua begitu lunak terhadap Penguasa Iblis ini!? Dan tunggu, Bagaimana benda ini bisa menjadi seorang Penguasa Iblis!?  Semua yang dia lakukan adalah tidur!”

Ah, dia berisik.

Ah, semua ini sangat merepotkan.

Ada banyak iblis, tapi sangat sedikit Penguasa Iblis.

Cara untuk menentukan seorang Penguasa Iblis sederhana.

Kelas: Penguasa Iblis

Mereka yang memilikinya adalah Penguasa Iblis.

Kelas adalah konsep yang tidak dijumpai di duniaku yang lalu, tapi secara sederhana, itu seperti pekerjaanmu.

Dengan naik dalam Kelas, manusia dapat mengakses berbagai kekuatan yang tidak masuk akal…

Berbagai bentuk dari sesuatu yang disebut Skill. Aku tidak tahu detailnya, dan aku tidak tahu berdasarkan sistem apa mereka bekerja. Aku bahkan tidak tahu jika ada sistem yang tetap. Apa yang penting adalah dengan berkecimpung dalam Kelasmu, kau bisa menggunakan beberapa kekuatan yang memudahkan, dan itu saja. Bahkan tanpa usaha sedikitpun.

Lagi, reinkarnator biasanya berujung dengan mendapat Kelas spesial. Seperti Pahlawan, atau Penyelamat atau Pertapa.

Dalam kasusku, aku terlahir dengan Iblissebagai kelasku.

Setelah beberapa tahun hidup dalam kebejatan, itu menjadi Penguasa Iblissebelum bahkan aku menyadarinya. Mengalami pergantian Kelas nampaknya adalah sesuatu yang terjadi setiap saat. Aku mendapat perasaan bahwa terdapat suatu kriteria pada siapa yang akan naik Kelas, tapi aku tak begitu ingat.

Anyway, pada akhirnya, aku menjadi seorang Penguasa Iblis tanpa mengeluarkan usaha sedikitpun, dan aku tiba – tiba bisa menggunakan beberapa kekuatan aneh sesuka hatiku.

Dalam artian itu, memberi jawaban pada pertanyaan wanita ini sangatlah mudah.

Aku menjadi seorang Penguasa Iblis dengan tidak melakukan apapun kecuali tidur. Itu diluar kehendakku.

Itu adalah semua yang kubisa katakan, dan aku tidak punya jawaban selain itu.

Tapi itu akan merepotkan, jadi aku tidak akan bicara.

“Penguasa Iblis Leigie dari para Slaughter Dolls! Sebagai seorang anggota dari Orde Hitampribadi milik Sang Raja Iblis Agung, Aku memerintahmu atas nama Raja Iblis Agung Kanon!

Pimpin legiunmu, dan pergilah ke Penjara Api. Bawakan kehancuran pada Penguasa Iblis yang telah menentang kita, Granzer Esther!”

“Tidak mau.”

Kenapa? Atas alasan apa aku harus pergi ke suatu tempat antah berantah untuk seseorang yang aku tidak kenal?

“Hah? Kau berencana untuk menolak sebuah perintah langsung di bawah nama Raja Iblis Agung? Apa kau benar – benar mengerti arti dari tindakan itu?”

“…”

Aku benar – benar tidak peduli, jadi aku tadinya akan menjawab, ‘Tidak tahu’, tapi kurasa itu akan membuat hal menjadi rumit, jadi aku tetap diam.

Ini adalah masalah kepribadian. Aku tidak berpikir aku akan sampai pada titik kesepahaman dengan wanita ini. Aku benci hal – hal tidak berguna, dan aku lebih membenci hal – hal yang merepotkan. Apa yang aku suka adalah tidur dan waktu luang, dan aku tidak peduli akan hal lain.

Aku memanggil si pelayan yang mengawasi kami, dan mengucapkan sepatah kata.

“Iyo.”

“…. Dimengerti.”

Si pelayan membungkukkan kepalanya dengan hormat.

Ia membuat langkah – langkah bisu untuk meninggalkan ruangan. Aku akhirnya menutup mataku sekali lagi, hanya untuk merasakan kepalaku dihantam lagi.

Itu adalah sebuah gambaran kekuatan yang luar biasa. Kursi favoritku hancur berkeping – keping di bawahku, dan retakan menyebar di lantai saat aku menubruknya.

Tangan wanita itu langsing. Kira – kira sama tebalnya seperti milik orang lemah seperti milikku.

Tapi ini tak lain adalah dunia fantasi, jadi penampilan dan kekuatan disproporsional.

Dia terengah – engah sambil menaikkan matanya. Aku meliriknya, dan karena kursiku telah hancur, aku terbaring di lantai di mana aku tadi berada.

Aku belum bisa kembali ke tempat tidur. Tempat tidurnya yang harus terbang. Dan naik ke atas tempat tidur juga merepotkan. Si wanita menatapku dengan ekspresi tercengang melihatku berbaring di lantai.

“… Ap-apa!? K…kau… seburuk itu!? Bagaimana kalau kau setidaknya mencoba mengatakan sesuatu?”

Dia adalah seorang yang jauh lebih dari merepotkan.

Terutama bagian dimana dia langsung mengandalkan kekerasan. Biarkan aku menambahkan bahwa wanita ini adalah pengikut langsung dari Kanon, dia jauh lebih kuat dari iblis biasa. Iblis memiliki pangkat yang banyak, dan di antara seorang Iblis dan Penguasa Iblis, ada banyak posisi. Di dalamnya, posisi tepat di bawah Penguasa Iblis… Kurasa dia memiliki kekuatan sebanyak seorang Jendral. Dunia ini memang sebuah Dunia Fantasi, tapi karena pemisahan berdasarkan pangkat, dan langit – langit kaca, kurasa tidak terdapat perbedaan yang berarti antara dunia yang ini dan yang itu. Well, kurasa tingkat kemampuannya pantas mendapatkannya, tapi…

Ini merepotkan.

“Aku menentang kekerasan.”

Dia mencengkeramku di lengan bajuku, dan mengguncangku bolak balik.

Terlihat bentuk seorang wanita kecil mengancam seorang pria yang jauh lebih besar darinya. Tapi pada akhirnya, dengan sesuatu seperti ini, mengganggu tidurku adalah… mustahil.

“Apa? Kau ingin menutup matamu dalam situasi seperti ini!? Mustahil, tidak masuk akal, apa – apaan Penguasa Iblis ini!!?”

Dia menampar wajahku ke kiri dan kanan, dan melancarkan beberapa tubrukan yang diarahkan dengan baik.

Dia menggunakan uppercut pada daguku untuk melancarkanku ke udara, dan melanjutkan dengan kombo tendangan yang cantik.

Gerakannya yang mengalir telah diasah dengan keras, memberikanku kesan bahwa wanita ini sudah cukup biasa menghajar manusia.

Yang satu ini… bahkan setelah berpindah pekerjaan, dia tidak menunjukkan belas kasihan.

Gelombang kejut dari setiap pukulan merobek selimut, dan bulu beterbangan ke segala arah dengan mencolok.

Si Kanon itu akan menerima tuntutan untuk ini… tentu saja, bukan aku yang akan mengirimnya.

Tapi pada akhirnya, mencoba mengganggu tidurku hanya dengan seperti ini adalah… mustahil.

Bukannya aku kuat terhadap rasa sakit atau semacamnya. Aku tidak menerima damage.

Sebuah perbedaan antara di sini dan Jepang adalah bahwa beberapa hal dari dunia itu telah ditempatkan secara sistematis di bawah sesuatu yang disebut HP, dan selama itu tidak berkurang, tubuhku tidak akan terluka, dan aku tidak akan merasa sakit.

Tendangan dan skill biasa akan mengurangi Hpku, tapi di sini, berkat pertolongan sebuah stat yang disebut Vitality… semakin tinggi VITmu, semakin rendah damage yang kau terima.

Seluruh dunia ini dibangun berdasarkan berbagai parameter, dan menggunakannya, kau bisa membuat perbandingan kalkulatif yang jelas. Ini sedikit merepotkan.

Dan lain dari itu, aku sebagai seorang Penguasa Iblis membuat VITku  kelewat tinggi. Setiap kali si wanita memukulku, VITku mengambil alih, dan tubuhku menerima lebih sedikit damage daripada jika aku sedang dipukuli seorang bayi.

Ini membuatku merasa mengantuk.

Tapi dia memang benar – benar wanita yang menyebalkan. Hanya saja memangnya apa atributnya?

Keingintahuanku telah sedikit memuncak.

“Hey, kau. Apa atri…”

Dan di sana, aku menghela nafas panjang, dan berguling sambil mengalihkan pandanganku.

“Jangan. Berhenti. Di. Tengah. Kalimatmu!!!!!”

Dia memang benar – benar wanita yang berisik. Aku tidak setertarik itu padamu, tahu.

Aku membuka mulutku karena aku merasa ingin, tapi di tengah jalan, aku sadar aku tidak peduli.

Telapak kakinya turun padaku yang tanpa pertahanan berkali – kali. Kepalaku ditendang ke sana kemari layaknya bola sepak, dan akhirnya, dia mendorongkan pedang ke wajahku.

Jangan mengeluarkan pedang di sini. Bukannya aku berencana mengatakan sesuatu, tapi…

Beberapa menit kemudian, setelah mendorong dirinya terlalu keras, semua yang tersisa adalah anak buah Raja Agung Iblis yang telah menghabiskan seluruh energinya, dan aku, yang tidak menerima damage sedikitpun.

“Hah… hah… orang ini… aku telah mendengar tentangnya, tapi… D-dia keras…”

Tentu saja. Selama VITku tinggi, aku bisa tidur tanpa memedulikan sekelilingku.

Dengan VITku yang kelewat tinggi, suhu tinggi, suhu rendah, racun, dan bahkan kelumpuhan, dan gangguan status yang lain, juga abnormalitas tidak berpengaruh terhadapku.

Bukannya aku terlahir seperti ini, ini adalah skill yang dimiliki mereka dari Kelas Penguasa Iblis.

Tapi detailnya merepotkan untuk dijelaskan, jadi aku akan melewatinya.

Si wanita membuka tangannya, dan menatap telapak tangannya dalam kekaguman.

“Jadi ini… Penguasa Iblis Acedia…”

Lihat baik – baik, dan saksikanlah. Sekarang berlututlah di depan kekuatanku.

Dan jika aku boleh memohon padamu, tolong tenanglah. Kuyakinkan padamu itulah satu – satunya jalan yang akan membuat semuanya senang.

Part 4: Kemalasan dan Kebejatan

Bahkan jika aku tidak menginginkan statusku, selama aku menjadi seorang Penguasa, aku punya orangku sendiri… dan pengawalku sendiri.

Aku adalah musuh alami dari kemanusiaan, dan di beberapa negara atau lainnya, beberapa pengikut dewa blablabla melihatku sebagai musuh bebuyutan mereka. Aku harus menambahkan  bahwa beberapa iblis dan Penguasa Iblis yang lain juga mengejarku untuk alasan yang egois juga.

Singkatnya, aku punya banyak musuh. Meskipun aku tidak pernah melakukan apapun, aku punya banyak musuh. Semuanya gara – gara si bos Kanon itu mendeklarasikan dominasi dunia atau dominasi surga atau dominasi neraka atau beberapa tujuan yang kelewat megah yang sebenarnya tidak perlu. Kalau aku tidak punya orang – orangku, jadi karena aku tidak suka bertarung, mungkin aku sudah mati.

Setiap seperempat tahun, seseorang dengan Kelas Pahlawan atau Penyelamat mencoba menyerbu, dan sekali atau dua kali setahun, tentara langit datang untuk membunuhku diam – diam. Sekali atau dua kali sebulan, aku diikut campurkan dalam perang yang berlangsung di Neraka. Merepotkan. Aku sendiri tidak bertarung, jadi aku dilihat sebagai salah satu Penguasa Iblis yang lebih moderat. Kurasa dunia ini ada di ujung waktunya.

Si pengikut Raja Iblis Agung yang tampaknya bernama Lize menyilangkan tangannya sembari menatapku dengan ekspresi yang tidak enak dipandang.

“Penguasa Iblis, Leigie dari para Slaughterdolls. Atas pencapaianmu di Penjara Api di perang melawan Penguasa Iblis Granzer Esther, di bawah nama Raja Iblis Agung Kanon, kau telah dipromosikan ke Tingkat Ketiga di antara Penguasa Iblis, dan telah dianugerahi Pusaka Pedang Iblis Celeste.”

“Gitu.”

Itu bukan sesuatu yang menyangkutku.

Saat dia menyerahkan pedangnya dengan setengah hati, aku menepisnya ke samping tanpa melihatnya.

Aku tidak butuh pedang. Tapi bukannya aku menginginkan sebuah perisai atau apapun, dan tentu saja, aku tidak menginginkan medali apapun. Aku juga tidak menginginkan status. Semua yang kuinginkan hanyalah waktu yang tenang untuk beristirahat.

“AAAAAAAH, apa yang kau lakukan pada pedang yang Kanon-sama kirimkan secara pribadi padamu!?”

Dengan terburu – buru, Lize mengambil pedangnya, dan mendekapkannya ke tubuhnya seakan itu adalah artefak berharga sambil memelototiku.

Aku bahkan tidak tahu perbedaan antara Pedang Iblis dan pedang biasa, dan aku bahkan belum pernah bangkit dari tempat tidurku, jadi aku tidak punya kesempatan untuk menggunakannya. Bahkan sebuah pisau dapur akan lebih berguna.

Well, aku tidak akan menggunakannya juga, tapi…

“… Aku tidak bisa menerimanya. Kenapa kau mendapat promosi! Kau bahkan tidak melakukan apa – apa!”

“Tidak tahu.”

Itu adalah sesuatu yang harusnya kau tanyakan pada tuanmu. Aku berani taruhan itu akan menjadikan waktumu lebih bermanfaat.

Hanya melihat tatapannya telah membuatku lelah, jadi aku jatuh dengan wajah ke atas ke atas tempat tidur.

Lize dengan luar biasa telah menghancurkan yang satunya, jadi ini baru. Pada awalnya, aku menginginkan milikku yang lama, tapi sekarang ini tidak benar – benar menggangguku. Semua yang kuperlukan adalah tidur yang sederhana.

Aku bahkan tidak tahu alasan promosiku, dan aku bahkan tidak tahu peringkatku sebelumnya. Aku tidak tahu apakah Peringkat Ketiga itu tinggi atau tidak.

Semua itu tidak begitu penting.

Tapi mungkin karena dia tidak puas dengan perilakuku, Lize mulai menghentakkan kakinya. Aku tidak tahu berapa lama waktu telah terlewat sejak dia pertama datang ke sini, tapi impresiku terhadapnya sebagai seorang yang cantik telah hancur berkeping – keping tanpa jejak sama sekali. Kupikir itu benar bahwa kau bisa bosan dengan kecantikan. Yang tersisa hanyalah bagian menyebalkannya, dan aku juga telah terbiasa dengannya.

“Jangan kau pikir aku tidak tahu! Orang yang memimpin pasukanmu adalah Deije sang Perampas! Dia memimpinnya sambil mengarahkan serbuan ke pasukan Granzer!”

“Gitu.”

Siapa gerangan Deije sang Perampas?

Well, tidak begitu penting. Aku tidak begitu tertarik.

Lize menghela nafas sambil melihat wajahku. Bersamaan dengan aku terbiasa dengannya, kupikir dia juga mulai terbiasa denganku. Itu adalah kekuatan adaptasi manusia.

“Itu adalah strategi yang luar biasa. Kupikir rumor bahwa pasukan Leigie yang Bejat adalah yang terkuat benar adanya. Mereka menginjak – injak pasukan Granzer seakan – akan mereka adalah anak – anak… aku bisa lihat kenapa Kanon-sama membiarkan perilakumu yang seperti sekarang ini.”

“Gitu.”

“… Apakah kau mendengarkanku?”

“Gitu.”

Aku menggulingkan tubuhku sekali lagi, dan menggenggam guling yang hampir setinggi tubuhku. Aku suka tidur, tapi aku juga suka berguling – guling setelah bangun tidur.

Lize menaikkan alisnya seraya mengambil gulingku. Apa boleh buat, jadi aku memeluk selimutku sebagai gantinya.

“… Anyway, aku hanya dikirim untuk mengawasimu oleh Sang Raja Iblis Agung, tapi biarkan aku memberimu sepatah nasihat. Sebagai seorang Penguasa Iblis, kau sebaiknya memberi sesuatu pada Deije untuk pelayanannya yang hebat.”

“… Itu benar… Siapa tadi Deije?”

“Haaaaaah!? Mungkinkah kau bahkan tidak ingat anggota Legiunmu sendiri?”

Hal – hal semacam itulah Kemalasan.

Dan aku tidak memiliki sedikitpun ketertarikan pada Iblis yang bernama Deije.

Itu sedikit merepotkan, tapi… Aku menunjuk ke pedang yang didekap Lize sangat erat.

“… Aku akan memberinya pedang itu.”

“Hah? Apa kau serius? Tidak peduli seberapa hebatnya dia, kau akan memberikan Pedang Iblis yang dianugerahkan padamu oleh Sang Raja Iblis Agung kepada seorang Iblis biasa?”

“Aku tidak membutuhkannya. Jika itu tadi semacam sprei, maka mungkin aku akan mempertimbangkannya.”

Matras baru, atau mungkin bantal, atau bahkan mungkin sebuah pengganti untuk kursi yang telah dihancurkan secara brutal. Kanon sebenarnya memiliki sisi yang dermawan pada dirinya, jadi aku berani taruhan dia akan menyiapkan sesuatu yang bagus.

“Harta langit[7]… harta para dewa… bahkan jika kau seorang Penguasa Iblis, apa kau pikir seorang Iblis sepertimu bisa menggunakannya?”

Ini adalah pertama kalinya aku melihat Lize menatapku dengan mata seakan dia sedang melihat monster.

Ini adalah, tanpa keraguan, sebuah salah paham, tapi mengkoreksinya akan merepotkan.

“… Itu benar.”

“Begitu, jadi kau bukan hanya seorang penggabut biasa…”

Penggabut… Wanita ini mengatakan hal – hal yang menarik.

Well, dia boleh bilang apapun yang dia inginkan. Aku tertarik pada kata – katanya.

Aku menggulingkan tubuhku sekali lagi. Selimutnya hangat, dan berat. Itu memberikan rasa aman. Telah mencapai segala sesuatu yang ingin kulakukan, aku menguap dalam – dalam seraya menutup mataku.

“Ah, tunggu sebentar boss Leigie.”

Betapa berisiknya orang ini. Kejadiannya selalu begini. Saat aku mencoba untuk tidur, semua orang menghalangiku. Aku akan tetap tidur bagaimanapun.

“Oi, Penguasa Iblis. Itu dia Deije.”

Seperti kubilang, siapa dia?

Aku menggulingkan bahuku, dan memaksa membuka kelopak mataku yang berat.

Dia adalah pria yang besar dan kekar. Wajahnya yang tanpa jenggot seperti topeng polos yang halus, dan di atasnya tumbuh sepasang tanduk melengkung yang besar.

Tapi hal yang paling mencolok darinya adalah lengannya, tiga di setiap sisi dengan enam totalnya.

Dan di kepalanya, enam mata yang berkelip redup. Di mulutnya yang melengkung menjijikkan, tumbuh taring – taring panjang.

“Siapa gerangan kau ini?”

“… Kau masih sama seperti biasanya, Boss Leigie… Aku Deije Breindac. Aku bertanggung jawab atas brigade ketiga dari Legiunmu.”

“Gitu…”

Si Iblis lelaki yang memproklamirkan dirinya sebagai Deije memiliki nada bicara yang lepas yang tidak cocok untuk penampilannya.

Jadi ini si Deije yang dibicarakan Lize tadi… Gitu…

Yep. Aku tidak peduli.

“Dan apa aku mengenalmu?”

“Tentu saja, boss. Kau adalah orang yang menunjukku untuk memimpin brigade ketiga.”

“… Gitu.”

Aku sedikit penasaran tentang berapa banyak brigade yang kupunya, tapi anyway, tampaknya dia seorang yang cukup penting.

Instingku memberitahuku bahwa Iblis yang dipanggil Deije ini memiliki kekuatan yang lumayan.

“Orang yang mengabaikan oposisi gadis Medea itu, dan menunjukku sebagai pemimpin brigade ketiga adalah kau, boss. Tapi kurasa kau tidak akan pernah berubah.”

Siapa Medea itu yang dia maksudkan? Aku menoleh ke arah Lize, tapi karena dia tidak terlihat bingung tentang itu, Kupikir si Medea itu adalah orang yang cukup terkenal di pasukanku.

Well, bukannya itu berarti.

Nama, dan eksistensi, dan kekuatan dan segala lainnya. Mereka semua tidak berarti buatku. Lakukanlah apapun yang kau mau.

Aku menggosokkan kepalaku ke bantal sambil bicara pada Deije.

“Iyo.”

“Ya, ini adalah suatu kehormatan bahwa aku telah mencukupi ekspektasi Boss.”

Deije membungkukkan badannya. Melihat aksinya, Lize memiringkan kepalanya.

“… Apa tepatnya arti Iyo?”

I akan serahkan padayou.

I puas dengan pekerjaanyou.

Itu adalah frase yang mengatakan keduanya secara bersamaan. Berterimakasih atau memerintahkan orang secara khusus merepotkan, jadi itu adalah sesuatu yang kupikirkan dan kutemukan. Jika kau mengatakannya kapanpun kau mau, mereka akan mengartikannya secara bagaimana yang mereka mau, jadi itu memang sangat memudahkan.

Tapi menjawabnya akan merepotkan, jadi aku akan mengabaikannya.

“Dan kenapa tadi kau datang ke sini?”

“Ya, mungkin ini sedikit lancang, tapi aku memikirkan bahwa mungkin boss sedang menentukan apakah akan menganugerahkanku hadiah atau tidak. Bagaimana dengan itu?”

Tidak ada bagaimana – bagaimana tentang itu.

Aku tidak peduli tentang itu. Semua yang penting buatku adalah untuk berjuang untuk tidur yang lebih nyaman dari ini.

Aku menatap rendah Deije dengan mata dingin. Tentu saja, itu merepotkan, jadi aku tidak menyuarakan pendapatku.

“Aku akan menghadiahimu pedang itu.”

Di kata – kataku, Deije mengambil pandang pada pedang yang dibawa Lize. Matanya menyala merah seperti binatang pemakan daging yang telah melihat mangsanya.

Dia menjilat bibirnya sebelum mengembalikan pandangannya padaku.

“Ini adalah kehormatan yang terlalu besar untukku, boss. Tapi ada benda lain yang aku harapkan… tidak, Aku tidak bilang aku tidak menginginkan pedangnya atau sesuatu. Seperti kau bisa lihat, aku punya enam lengan di sini, jadi…”

“Deije, kau bajingan! Ketika kau hanya seorang Iblis tingkat kuli pabrik, kau ingin bilang bahwa pedang yang dikirimkan Raja Iblis Agung tidak cukup buatmu!?”

Aku mengangkat tanganku untuk menghentikan Lize, yang telah tenggelam dalam kemarahan. Guling yang dia pegang membuat suara – suara retakan, dan terasa seakan akan meledak. Aku akan mengapresiasinya jika dia akan berhenti.

Itu berisik. Itu merepotkan. Tidak bisakah dia menutup mulutnya sedetik saja? Aku hanya ingin tidur di sini.

Kelihatannya atributnya adalah Greed. Wajar baginya untuk menginginkan lebih.

Deije yang Serakah dan aku yang Malas tidak akan pernah memiliki pertentangan pikiran.

Aku mengambil bantalku dari Lize, dan menaruhnya di bawah kepalaku. Aku alihkan pandanganku ke pola memelintir di langit – langit seraya menjawab.

“Minta apa yang kau inginkan.”

“Ya, mungkinkah buatku untuk memiliki Bonekaspesial boss yang lain?”

Itu sedikit jauh dari ekspektasiku.

Jika itu adalah sesuatu yang aku punya di tangan, itu baik saja, tapi membuat boneka baru akan memerlukan sedikit usaha.

“… Itu terdengar merepotkan.”

“Aku memohon padamu, tipe yang paling dasar juga tidak apa – apa, jadi…”

Keserakahan busuk ini. Kelihatannya dia tidak akan pergi kecuali aku melakukan sesuatu untuk menjawab keinginannya, atau kecuali aku membunuhnya.

Aku berpikir apakah membunuhnya atau membuat boneka baru akan memerlukan lebih banyak usaha.

Sudah sekian waktu, tapi kelihatannya benar dia telah melakukan pelayanan yang hebat.

Jika kedua opsi memerlukan usaha yang sama, maka kurasa aku akan memberikannya boneka.

Aku melihat ke sekeliling ruangan, dan mengambil tempat lilin dari meja sisi terdekat.

Tempat lilinnya memiliki desain yang mirip tengkorak. Ini merepotkan, jadi mari lakukan dengan ini.

Aku melemparkannya pada Deije seperti apa adanya.

Deije menerimanya dengan penuh senyum.

Dia mengelusnya dengan keenam tangannya.

“Boss, yang satu ini tidak punya jiwa.”

Itu karena aku tidak memberikannya.

“Lebih baikkah bila ia punya?”

“… Tentu saja, ada – ada saja. Sebuah boneka tanpa jiwa tak lain hanyalah benda biasa. Apa yang aku minta adalah salah satu dari Slaughter Dolls-mu.”

“Gitu.”

Kurasa aku memang harus menaruh sedikit usaha, atau dia tidak akan pergi.

Apa boleh buat. Mari kita selesaikan ini.

Aku menguap seraya menunjukkan jariku ke arah tengkorak yang tidak berjiwa.

Aku menggunakan sebuah skill.

Dan dengan itu, sebuah kehadiran mulai muncul dari boneka itu.

Diantara kekuatanku sebagai Penguasa Iblis adalah skill untuk memberikan kehidupan pada boneka.

Itu adalah skill yang aku spesialisasi. Itulah dari mana aku mendapatkan Slaughter Dolls sebagai bagian dari titelku.

“Apakah itu cukup?”

“Ya, aku akan dengan senang hati menerimanya. Bisakah kau juga memberikan nama padanya?”

Memberikan nama adalah upacara penting untuk seorang Iblis. Namanya terukir ke tubuhnya, dan tidak berlebihan untuk bilang bahwa nama memberikan jalan untuk keuatan baru.

Tapi mengapa aku harus melakukan sesuatu semacam itu?

“Jika kau mencapai beberapa pencapaian lagi, aku akan mempertimbangkannya.”

“… Ki ki ki, dipahami. Aku akan melakukan yang terbaik untuk tidak menggaok di luar sana.”

Dia tertawa dalam suara melengking, sebelum mundur. Kurasa itu adalah perilaku yang cocok buat seorang Iblis yang berkuasa atas Keserakahan, tapi aku tidak begitu peduli.

Dengan ekspresi yang kelam, dia mengambil pedangnya dari tangan Lize, yang telah melihat seluruh pertukaran seperti sebuah orang – orangan sawah.

“Baiklah kalau begitu, boss. Aku akan izin untuk hadir lagi disini setelah mencapai beberapa pencapaian lagi.”

Setelah membungkukkan badan dalam – dalam, dia meninggalkan ruangan.

Sekarang, kau tidak harus datang lagi. Aku akan berikan apapun yang kau mau.

Kau bahkan tidak harus memintaku. Aku akan serahkan padamu.

Dan jadi, tinggalkan aku sendiri.

Kebejatan dan Kemalasan. Itu adalah satu – satunya alasan untuk eksistensiku, dan itulah semua yang aku inginkan.

————————————————————————–

[1]Orang yang menolak kekerasan

[2]Kalimat yang dipakai untuk… mengganti wanita di klub tertentu

[3]Alas tidur jepang, semacam kantong tidur

[4]Not in Employment, Education, and Training

[5]Google aja

[6]Menampakkan diri

[7]Sprei (寝具) dibaca sama dengan Senjata Langit (神具)

Chapter Selanjutnya

Leave a Reply