DnO 10 – Rasa Lapar Gula

Rasa Lapar Gula

Part 1: Aku Kenyang

Mengapa aku bertindak sejauh itu hanya untuk mengonsumsi hal – hal semacam itu?

Aku telah menerima pertanyaan yang demikian bodohnya waktu demi waktu demi waktu…

Itu adalah dialog yang cukup tak berguna untuk membuatku menahan tawa.

Aku berani taruhan tidak ada satu hal pun di dunia ini yang lebih tak berarti dari hasrat seorang Iblis.

Hasrat – hasrat ini bukan ada karena kami, Iblis.

Sebaliknya, karena hasrat – hasrat ini ada para Iblis tetap hidup. Itulah mengapa kau tidak bisa memanggil seorang Iblis yang tanpa dosa seorang Iblis.

… Dan… dan karena aku telah menjadi orang yang tak bisa memberikan jawaban langsung pada pertanyaan tak masuk akal itu, kurasa aku bukan lagi sesuatu yang bisa kau panggil seorang Iblis juga.

Kebangkitanku adalah sebuah kebetulan, tapi juga tak terhindarkan.

Jiwaku memang padam sekali, tapi seakan masih memiliki penyesalan yang tertinggal, jiwaku menunjukkan kemauan rakusnya, dan kembali.

Dengan kabur, seakan muncul ke permukaan dari sumur air yang dalam, kesadaranku muncul, dan tentu saja, pikiran pertama yang muncul di benakku adalah ‘mengapa?’

Bahkan jika aku seorang Penguasa Iblis yang telah menimbun banyak kekuatan seiring berjalannya waktu yang tak berujung, sebuah jiwa yang telah padam tak akan pernah bisa kembali. Tidak ada yang namanya kehidupan kedua. Seharusnya tidak ada.

Tapi aku segera menemukan jawabanku.

Yang tercermin dalam pandanganku yang sedang menyesuaikan diri dengan lamban adalah padang kerikil yang membentang tanpa ujung.

Tak bisa memahami apa yang telah terjadi, tak bisa mengerti apa yang harus dilakukan, aku sekedar mengawasi lingkungan sekitarku dengan santai.

Aku seharusnya berada tepat di jantung pertarungan, tapi di atas tanah yang hitam itu tidak terlihat sang Penguasa Sloth maupun bawahan – bawahannya, dan dari fakta bahwa bahkan tidak ada jejak api yang tersisa dari Pedang Iblis itu, aku memutuskan bahwa waktu yang cukup lama telah berlalu.

Dalam kelinglunganku, aku beralih ke telapak tanganku. Tubuhku praktis sama dengan tubuh yang kubanggakan dulu. Kaki dan tangan yang telah membuatku terbiasa, bahkan setelah menerima kerusakan yang begitu besar dari Penguasa malas itu, berakhir tanpa lecet sama sekali, dan aku bisa membuat gerakan – gerakan halus tanpa perlu dibantu. Seakan – akan kerumitan patahnya tulang – tulangku yang kurasakan dalam pertarungan hanyalah mimpi belaka.

Dengan begitu saja, di tanah yang begitu luasnya, bintang – bintang Dunia Iblis yang tak berubah dalam beberapa puluh ribu tahun menyinariku.

Kata – kata tanpa makna yang datang ke mulutku keruh dengan air mata.

“Haa… haa… dia tidak menghancurkan intiku… Leigie, bukankah kau… seorang idiot?”

Alasan aku mampu bangkit dari kematian dengan sukses kemungkinan ada tiga.

Pertama. Skill milik Leigie memang menghancurkan tubuhku dengan cukup menyeluruh, tapi tidak berhasil meremukkan jantung seorang Iblis, inti jiwaku.

Kedua. Bawahan – bawahannya bahkan tidak meragukan kematianku, dan mereka tidak memeriksa inti tersebut.

Ketiga. Tanah Penjara Kegelapan luas, dan dalam selang waktu yang dihabiskan inti jiwaku untuk melakukan regenerasi, tidak ada pasukan lawan yang kebetulan lewat.

Jika satu saja dari itu tidak terjadi, kesadaranku akan hanyut ke neraka abadi, ke kedalaman Penjara Kegelapan yang sebenarnya, dan tak akan pernah muncul lagi.

… Well, aku akan mengesampingkan apakah itu hal yang baik atau bukan.

Bagaimanapun, aku memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan tubuhku. Kalaupun ada, maka itu pasti berkaitan dengan jantungku.

Merebahkan diriku di tanah Penjara Kegelapan, yang berwarna gelap seperti bubuk mesiu, aku menatap naik ke langit.

Masih dalam trance. Bahkan saat aku belum mulai memikirkan tentang itu, kata – kata mengalir keluar.

“Fufu… jadi aku harus… hidup dalam rasa malu.”

Aku ragu ini terjadi atas kehendak sang Penguasa Sloth. Pria itu bukanlah orang yang akan melakukan apapun yang merepotkan.

Tapi, tetap saja, cukup jelas bahwa aku telah kalah. Sembari membawa nama sang Penguasa Pelahap, aku menemui zat yang tak bisa dimakan untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Dan rasa puas yang kurasakan pada akhirnya akhir cukup untuk membuatku kenyang.

“Aku sudah kenyang…”

Aku puas. Tidak se-iota pun kelaparanku tersisa.

Momen saat aku menetapkan hatiku untuk kematian adalah satu hal, tapi kini itu telah diperluas ke kehidupanku, itu adalah sensasi yang cukup mengerikan.

Rasa laparku adalah musuhku, tapi juga temanku. Itu hanya karena ia ada di sana saat aku seorang Penguasa Iblis, saat aku mampu memakan segala ciptaan.

Dengan hilangnya itu, aku yang sekarang bahkan bukan seorang Iblis, dan meski ini sudah jelas, aku sudah pasti bukan Malaikat. Aku pasti satu kepingan yang cukup besar dari sebuah eksistensi.

“Leigie, kenyataannya adalah… kau membuatku memikirkannya untuk pertama kalinya.”

Terimakasih atas hidangannya.

Jamuan terakhirku telah berlanjut untuk waktu yang lama sampai akhirnya berakhri. Maka bagaimana situasi saat ini?

Tidak ada dewa di neraka. Jika ada, maka dengan logika apa dia bekerja untuk menaruhku di tanah ini sekali lagi?

Rekan – rekan dan pengikutku sudah tiada. Aku telah memakan segalanya. Bahkan keluargaku.

Dan kali ini, kali ini, teman terdekatku dari lebih dari seratus ribu tahun lalu, rasa laparku, telah tiada.

Benar – benar hilang. Kendati puasnya aku, sebuah jurang rasa lapar yang tak tertandingi telah terbuka dalam perutku.

Setelah mati sekali, dan bangkit di sini, mungkin itu adalah kompensasiku.

“Fufu… well, baiklah. Jika begitu adanya, aku akan bermain sedikit lebih lama.”

Tanpa tujuan atau kemauan, aku akan menghabiskan hidupku dengan sekedar terus menuruni jalan tak berujung ini. Alangkah kejamnya ini.

Bahkan jika aku tidak memiliki tujuan, karena aku telah berada pada jalannya, karena aku telah menghadapi kekalahan, aku perlu terus mengikuti jalan ini.

Jika aku melakukannya, maka mungkin aku akan tahu alasan hilangnya rasa laparku.

“Well, mungkin berkelana di Dunia Iblis tanpa tujuan untuk beberapa waktu tidak akan begitu buruk…”

Dulu aku selalu bertarung. Dulu aku selalu melahap.

Semuanya hanya untuk memuaskan rasa laparku.

Hari – hari itu memang absurd, manis, dan menyenangkan, tapi jika aku melihat balik sekarang, dulu aku hanya didorong kesana kemari oleh hasratku. Setelah diputuskan dari rasa laparku, aku menyadarinya untuk pertama kalinya.

Maka jika itu sekarang, dengan hilangnya rasa laparku, dengan aku yang bahkan bukan seorang Iblis…

Pemandangan Dunia Iblis ini pasti menjadi sedikit berbeda dibandingkan dengan dulu saat aku menjadi seorang Penguasa Iblis.

Mari tinggalkan dunia yang dulu kusebut meja makanku, dan temukan yang baru.

Menggerakkan kaki dan tanganku untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, aku menyokong naik tubuhku, dan berdiri.

Angin yang suam suam kuku menyapu tubuhku. Menyadari bahwa aku tidak mengenakan apapun, aku menghela nafas.

Telanjang itu melakukan… itu adalah sebuah sentimen yang telah lama hilang dariku, tapi ditinggalkan dalam keadaan tidak senonoh ini tidaklah baik. Akan tidak termaafkan buat mereka yang telah menghilang ke dalam perutku, Iblis – iblis Gluttony yang telah melayaniku hingga akhir.

Well, mungkin kesempatan kedua untuk hidup ini akan lebih menghina buat mereka daripada apapun, sih…

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku menggunakan sebuah Skill.

Aku hanya sedikit gelisah, tapi bahkan tanpa rasa laparku, aku mampu mengoperasikan Skill – skill Gula tanpa masalah.

Manifestasi rasa lapar. Kegelapan yang luar biasa dalam terkumpul, dan membungkus tubuhku. Bagiku, ini adalah pakaianku untuk bertarung, dan di saat yang sama, garmen seremonialku.

Skill – skill Gluttony mengkhususkan diri dalam penyerangan, jadi mereka tidak akan begitu berguna sebagai sebuah zirah, tapi itu jauh lebih baik daripada telanjang.

Untuk argumen, aku mencari pedang yang kusukai, tapi kelihatannya itu tak tergeletak di sekitar sini.

Yang satu itu adalah kesukaanku, dan kemungkinan itu berada di tangan salah satu bawahan Leigie pada saat ini. Ada seorang Iblis Greed di antara mereka, jadi mungkin pedang itu bersamanya.

Well, semua itu tidak begitu berarti. Bahkan Greed-kun itu yang membangkitkan selera makanku hingga sejauh itu, sekarang karena aku kehilangan nafsu makanku, sama tidak berartinya buatku dengan bahan – bahan makanan yang tak terhitung banyaknya yang berserakan di tanah berdebu ini.

“… Kurasa aku harus beranjak…”

Aku berbisik.

Aku sudah tahu apa yang akan kulakukan.

Aku akan menemui Leigie lagi. Untuk alasan itu, aku mulai melangkah maju. Itulah satu – satunya alasan. Saat gadis yang seharusnya telah dia bunuh muncul di depan matanya, wajah macam apa yang akan pria itu buat? Aku sedikit mengharapkannya.

Aku memberi perintah pada tubuhku, yang terasa lebih berat dari sebelumnya, dan melangkahkan satu kaki ke depan.

Betapa tandusnya realita ini tanpa rasa lapar?

Aku tidak terluka sama sekali. Otot – ototku juga tidak melemah sama sekali.

Sekedar karena fakta bahwa aku tidak memeluk sebuah hasrat dengan benar, karena fakta bahwa aku tidak memiliki kemauan yang kuat lagi, kelihatannya tubuhku menjadi sesulit ini untuk digerakkan.

Peta Dunia Iblis memiliki nama yang melekat padanya berdasarkan warna tanahnya, dan atmosfer yang mengelilinginya. Bahkan jika aku tidak tahu lokasi tepatku, aku punya gambaran umum.

Kawasan yang mengelilingiku, jauh sampai ke ufuk, terisi dengan kerikil hitam, dan beberapa warna abu tercampur di sana sini, mengambil cahaya mentari tanpa akhir.

Dan sesuai dengan nama Penguasa negeri ini, udara tak bermakna yang terisi dengan mana suram seakan untuk menurunkan semangat seseorang.

Itu adalah bukti dari bagaimana, selama bertahun – tahun, membangkitkan kekuatan Penguasa Sloth, lingkungan ini mengalami perubahan.

Bahkan dengan memikirkan ke kenangan tertuaku, tidaklah sulit untuk mengingat bagaimana ini selalu Penjara Kegelapan yang dikuasai Leigie dari Acedia.

Artinya jika aku meneruskan ke arah ini, maka benteng Leigie… aku akan sampai di Kastil Bayangan.

Tapi apakah itu benar – benar baik saja?

Bukankah itu seperti melewatkan kisahnya, dan langsung pergi menantang boss terakhirnya?

Dengan perkiraanku, kekuatanku sendiri belum melemah, tapi itu hanyalah keganjilan lain.

Kekuatan seorang Iblis adalah hasrat mereka. Mustahil aku yang sekarang yang tidak memeluk rasa lapar sama kuatnya dengan aku yang penuh nafsu makan yang baik dan sehat.

Aku bimbang untuk beberapa saat, dan memutuskan untuk menggeser tujuanku.

Pada saat ini, aku tidak memiliki kemauan untuk menentang sang Raja Pemalas. Aku memang tidak memiliki kemauan dari awalnya.

Akan buruk untuk langsung mengincarnya. Setidaknya, memahami situasiku sendiri, dan situasi terkini Dunia Iblis harus didahulukan. Aku belum pernah mengalami regenerasi dari inti jiwaku sebelumnya, tapi aku bisa menebak bahwa itu tidak memerlukan waktu yang singkat.

Maksudku, aku punya segala waktu yang kubutuhkan. Dengan hilangnya kebutuhanku untuk makan, melihat kembali, waktu yang kuhabiskan mengerikan panjangnya.

Sebuah peta muncul di kepalaku.

Aku memikirkan tanah yang terdekat dengan tanah yang dipersatukan oleh Leigie.

Sang Egois, Vanity Seidthroan. Penjara Kirmizi yang dikuasai seorang Penguasa Superbia.

Tyler Gredmore. Penjara Keemasan yang dikuasai seorang Penguasa Avaritia.

Yang memiliki kekuatan lebih adalah Vanity, tapi aku yang sekarang tidak tega menghadapi seorang Iblis Greed. Untuk membariskan jamuan di depanku saat aku bahkan tidak lapar, bayangan tentang itu saja membuatku merinding.

Kesombongan Vanity, anehnya, tidaklah kasar. Dengan mempertimbangkan itu, untuk saat ini mungkin paling baik untuk beranjak ke Penjara Kirmizi. Kualitas pasukannya tidaklah setinggi itu, jadi bahkan jika eksistensi terpeliharaku ketahuan, aku ragu mereka akan mengejarku terlalu jauh.

Setelah memikirkan sejauh itu, aku sadar. Bahkan tanpa tujuan yang megah, bahkan saat rasa laparku tiada, aku mencoba terus hidup.

Itu terlalu aneh, dan akhirnya aku memberi senyuman getir.

“… Fufu… fu bagi insting bertahan hidupku untuk terus berfungsi tanpa hasrat…”

Kelihatannya aku harus sedikit merubah opiniku tentang hidup.

Aku menghela nafas sedih, dan mulai berjalan menyeberangi tanah hitam ini, yang kelihatannya membentang tanpa ujung.

Part 2: Mungkin jika Nafsu Makanku Kembali

Perubahan situasi selalu datang tiba – tiba.

Bahkan bagi seorang Penguasa Iblis dengan persepsi yang begitu konyol lebarnya, kami tidak bisa menerawang masa depan.

Aku dari tahun lalu tidak akan pernah membayangkan bahwa aku akan kehilangan rasa laparku, dan aku juga tidak pernah terpikir akan jadi sesulit ini untuk bergerak.

Bagi para Iblis yang memeluk dambaan mereka, dambaan – dambaan itulah alasan mereka untuk hidup. Mungkin aku tak pernah benar – benar memahami apa artinya itu hingga aku bangkit dari kematian.

Dunia tanpa rasa lapar, seperti dalam mimpi, tak terasa nyata.

Meski aku telah mendapati diriku di sebuah dunia baru, bagiku, dunia ini tak kalah dari kedalaman neraka.

Aku berada di sebuah kota kecil di Penjara Kirmizi yang kusinggahi secara kebetulan. Dan di sana, aku kehabisan tenaga. Aku kehilangan kemauan untuk melakukan apapun, dan aku terkapar entah berapa lama di sebuah kafe atau sesuatu, melupakan hal yang tak terhitung jumlahnya.

Aku yakin aku telah memiliki rencana. Tapi lubang hitam yang menembus pusat jantungku tak akan memperbolehkanku mewujudkannya.

Segala hal hanyalah urusan sepele. Bagiku, nafsu makanku adalah sebuah hasrat yang tak tertahankan, sekaligus menjadi wujud kenikmatan tertinggi.

Di meja kafe kotor sederhana, aku terkapar. Itu adalah sebuah tindakan yang begitu tak berguna hingga aku bahkan tak mampu menertawakan sang Penguasa Sloth lagi.

Awalnya, seseorang mencoba bicara padaku, tapi mungkin karena lelah denganku yang tidak memberikan balasan sama sekali, semua itu berakhir dengan cepat. Aku juga merasa aku menerima beberapa Skill yang diarahkan ke tubuhku, tapi berlawanan dengan keadaanku, Skill – skill Gluttony yang telah kuasah sepanjang hidupku menangkal semuanya.

Aku sama sekali tidak lapar. Tapi tetap saja, kekuatanku tidak menunjukkan tanda – tanda akan padam. Kekuatanku tidak mau berkurang. Tidak, terlebih lagi, bahkan saat aku tidak memakan apapun, aku merasa kekuatanku terus meningkat.

Itu adalah satu dari beberapa kebenaran yang kuketahui setelah kembali dari jurang kematian, dan itu juga sesuatu yang seharusnya mengejutkanku.

Bukannya aku makan hanya untuk mendapatkan kekuatan, tapi saat aku menjadi lebih kuat tanpa melakukan apapun, entah mengapa aku merasa semua yang telah kulakukan hingga saat ini percuma.

Aku duduk, dan dalam kegelapan yang sunyi, aku memikirkan maknanya. Tanpa hasrat yang dulu selalu mengguncang eksistensiku, aku punya cukup waktu berpikir hingga otakku membusuk.

Aku bahkan mendapat firasat bahwa aku akan bisa memahami sesuatu jika aku menghabiskan waktu sedikit lebih lama lagi.

Tapi entah mengapa, hari ini cukup ribut.

Suara – suara. Cahaya – cahaya. Gelombang sihir yang sedikit nostalgik mewarnai duniaku. Tak peduli aku menyukainya atau tidak, aku merasakannya di segala tempat di sekitarku.

Aku bertanya – tanya apakah semacam kecelakaan terjadi. Bahkan bagi Iblis, pada masa damai, kota – kota seharusnya bersuasana damai dan tenang. Terutama karena tempat aku berada bukanlah sebuah kota besar. Kota ini adalah pemukiman terpencil. Jika aku di wilayah seorang Penguasa Iblis lawan, itu lain cerita, tapi tempat ini bukan garda depan atau apapun. Aku tidak bisa membayangkan siapa yang akan menyerang siapa di tempat ini.

Tapi jika kau membalikkannya, jika ini kejadian yang jarang terjadi, artinya hal ini bisa terjadi sewaktu – waktu. Mereka yang cukup sembrono untuk menyerang kota – kota para Penguasa Iblis yang bersekutu dengan sang Raja Iblis Agung muncul secara rutin.

Informasi yang datang melalui kelima indraku memberitahuku bahwa kota ini telah terseret ke dalam suatu peperangan.

Tapi kekuatan yang berdering di sekitarku, sosok – sosok, dan suara – suaranya, dengan beban yang kurasakan di tubuhku, semua itu hanyalah rangsangan tanpa makna.

Mereka tidak pada tingkat dimana mereka akan mampu melukai seorang Penguasa Iblis sepertiku, dan bagaimanapun juga…

… Bagaimanapun juga aku tidak akan bisa memakan mereka.

Kurasa seseorang tewas. Beberapa sumber kekuatan padam, dan beberapa dari mereka membengkak.

Mungkin ini efek samping dari ledakan – ledakan itu. Meja yang menyokong tubuhku terhempas, dan tubuhku terlempar ke tanah. Lagi, aku tidak tertarik.

Setelah terbanting ke tanah, aku menjulurkan lidahku yang sempurna, dan kucicipi rasa tanah.

… Tidak buruk. Memang tidak buruk, tapi nafsu makanku tidak terangsang sama sekali.

Sejak kebangkitanku, aku telah mencoba menaruh segala macam makanan di hadapanku. Tapi tetap saja, tidak ada tanda – tanda apapun akan kembali.

Bukannya tidak bisa dimakan, tapi aku tidak ingin memakannya. Perasaan itu termasuk salah satu variasi perasaan yang, sejak kelahiranku, amat jarang kurasakan.

Itu juka bukan sesuatu yang kurasakan saat aku menghadapi sang Penguasa Sloth. Yang dulu itu adalah sensasi negatif, tapi aku yakin apa yang kurasakan saat ini adalah nol.

Rupanya, bahkan Iblis non-Gluttony akan merasa lapar seiring berjalannya waktu. Informasi itu telah memberiku suatu optimisme tentang kondisiku sekarang, tapi kini aku bisa bilang bahwa keadaanku sekarang adalah sebuah masalah yang melampaui level itu.

“… Hah, apa sih yang terjadi… bagiku untuk tidak merasakan apapun hingga separah ini…”

Pada titik ini, firasat bahwa aku mungkin bukan lagi seorang Iblis mulai berubah menjadi keyakinan.

Apa ini hal semacam ‘kebenaran dari sebuah kebohongan’…

Tapi tetap saja, apa – apaan ini…

Selagi aku memikirkan sesuatu semacam itu, tengkukku digenggam, kemudian tubuhku dipanggul. Perawakanku tidak terlalu tinggi, jadi aku tidak berpikir Iblis besar manapun akan merasa kesulitan melakukan itu, tapi cukup mengagumkan bahwa mereka mampu melakukannya tanpa mengatakan sepatah kata pun padaku.

Tudung yang tadinya menghalangi cahaya mentari melayang, dan aku melihat wajah orang yang mengangkatku.

Tanduk – tanduk melengkung yang tumbuh di kepalanya, dan enam mata adalah ciri khas sang Iblis. Dan bagiku, yang telah kehilangan seluruh rekan seperjuanganku, itu adalah wajah familiar pertama yang kulihat sejak lama.

Greed-kun bawahan Leigie. Satu dari beberapa eksistensi di dunia ini yang kucoba dan gagal untuk kumakan.

Tapi bahkan dengan seorang yang dulunya kupikir lezat di depan mataku, aku tidak benar – benar merasakan apapun.

Mata – mata Greed-kun melintasi wajahku tanpa ekspresi untuk sesaat. Tatapan keenam pupilnya bertemu dengan tatapanku.

Dan dalam sekejap, tanpa mengatakan apapun, masih tanpa emosi di wajahnya, Greed-kun melemparkanku dengan sekuat tenaga.

Aku dilempar. Seperti melempar bola, begitu saja, tanpa ragu – ragu.

Kejamnya… untuk melemparku setelah bersusah payah mengangkatku…

Mungkin dia menambahkan pelintiran ke lemparannya, karena pandanganku berputar – putar ke segala arah. Di atas angin yang luar biasa, dan sebuah benturan yang cukup hebat untuk mengguncang saluran setengah lingkaranku, tanpa perasaan sungguhan, aku menaruh kekuatan ke tubuhku sesekali, menunggu saat yang tepat, dan mendarat di tanah.

Bahkan jika aku telah kehilangan hasratku, itu urusan yang tak ada hubungannya dengan Greed-kun.

Hey, setidaknya biarkan aku menjaga kehormatanku. Aku mencoba untuk tidak menunjukkan wajahku yang tak sedap dipandang, dan mencoba untuk menekan suaraku, tapi saat suaraku keluar, kupikir suaraku sedikit bernada lelah.

“… Well, well, well, kau benar – benar telah melakukan hal yang kejam barusan… terlebih lagi pada seorang kenalan…”

“M-m-mengapa kau ada di tempat semacam ini!!?”

“Fufu… kenapa ya?”

Kebingungannya cukup untuk membuatku tersenyum.

Reaksi yang bagus. Raut wajah yang kau buat bagus. Seperti biasa, penampilannya pantas untuk seorang yang dipanggil Iblis. Perawakan Greed-kun, tentu, tapi gerak – geriknya juga belum berubah sama sekali sejak terakhir kali aku melihatnya.

Akan bagus jika Leigie juga memberi reaksi seperti itu, tapi…

“Bukan yang lainnya, tapi akulah yang bertanya – tanya mengapa kau ada di tempat semacam ini, Greed-kun… betapa kebetulan.”

“Kebetulan semacam ini… aku tidak membutuhkannya. Boss, tolong biarkan aku beristirahat…”

Kelihatannya aku cukup dibenci. Fufu, bahkan saat aku hanya sedikit melahap koleksinya… Benar – benar bocah yang berpikiran sempit.

Well, aku ragu aku bahkan bisa melakukan sesuatu semacam itu saat ini.

Karena reaksinya, tensiku yang telah menurun ke tingkat yang paling rendah meningkat sedikit.

Akhirnya aku bisa memastikan situasi.

Aku mencium wangi yang membuat hidungku berkedut.

Greed-kun, dan satu bocah Iblis laki – laki yang ia pikul… yang juga seorang Greed-kun. Fufu, dia berbau seperti tipe Iblis yang mencuri emosi. Tidak ada Iblis lain di sekitar sini. Seperti sebuah gelembung udara, seluruh kawasan ini menjadi kosong.

Tapi lebih dari itu, masalahnya adalah musuh.

Musuh… mangsa. Kedengarannya tidak asing.

Aku mengalihkan pandanganku ke samping.

Dua pria bagaikan patung. Mengenakan jubah putih bersih, perawakan besar mereka dihiasi sepasang sayap putih dari cahaya di punggung mereka. Para utusan Surga. Sambil memamerkan nafsu membunuh mereka yang gelap di mata keperakan mereka, musuh-musuh alami bangsa Iblis ini berjajar tepat di tengah Dunia Iblis tanpa keraguan barang sesaat.

Mereka berdua bak pinang dibelah dua, seakan salah satu dari mereka direplikasi. Aura besar yang mereka kenakan disekitar tubuh mereka adalah simbol rasa takut yang nyata bagi bangsa kami.

Jika kau berbuat nakal, para Malaikat akan mendatangimu, kata para orang tua… Fufu.

“Dua Malaikat… Fufu, sudah beberapa lama sejak terakhir kali aku melihat sosok Malaikat… benar – benar disesalkan aku tak bisa memakan mereka.”

Aura ringan mereka yang hanya memiliki sedikit sekali ketidakmurnian di dalamnya mulai terasa ganjil.

Bahkan bagi seorang yang telah hidup sepanjang zaman sepertiku, sebuah kekuatan yang jarang sempat aku temui: Malaikat tingkat tinggi. Terlebih lagi, atasan para Malaikat tingkat tinggi itu.

Kelas 『Penguasa Suci』.

Cahaya putih yang melahap segala yang di sekitarnya ini adalah kebalikan dari 『Abyss Zone』 milik para Penguasa Iblis.

Itu tak lain lagi dari Skill Paradise Field』 yang hanya dimiliki para Penguasa Malaikat.

Ketuhanan mereka memiliki sifat keji yang menghilangkan Mana yang dimiliki para Iblis.

Dalam wilayah di bawah kekuasaan para Malaikat, kami tak bisa menggunakan kekuatan kami sesuka hati.

Mata kedua Malaikat terarah padaku, sang penyelinap yang tak terduga.

Bahkan jika kau melihatku seperti itu… ini tak terjadi atas kemauanku, tahu. Fufu, aku hanya semacam terlempar, tahu.

Yeah, aku baru saja dilempar kesana kemari. Jika kau ingin seseorang di sini untuk disalahkan, maka kejarlah Greed-kun itu, oke?

Nafsu membunuh para Malaikat yang cukup untuk mengguncang jiwa seseorang itu menyentak naluriku. Bukan nafsu makanku, tapi ini pasti naluri bertarung yang para Iblis lain bicarakan.

Greed-kun berteriak.

“Zebul, aku akan memperingatkanmu karena masa lalu kita. Paling baik jika kau lari! Ki ki ki, menghadapi dua akan sulit, bahkan bagimu.”

Bahkan saat kau baru saja menggunakanku sebagai proyektil, itu cukup menyakitkan.

Tapi itu bisa saja hanya kekesalanku yang salah arah.

“Fu fu… kau pikir kau bicara pada siapa?”

Aku adalah seorang Penguasa yang tak terkalahkan. Tidak, tunggu, aku kalah pada Leigie, jadi aku adalah seorang Penguasa yang kalah sekali.

Dalam seratus ribu tahun hidup, satu kekalahan. Aku bahkan tak bisa mengingat jumlah hal yang telah kumakan. Tanpa pernah lari, tanpa pernah kalah.

Jika kau ingin menyebutnya keberuntungan yang bagus, maka sebut saja, tapi lebih dari itu, kecenderungan Gula-ku membuatku bisa berspesialisasi dalam penyerangan.

Penggunaan Skill skill-ku ditemani oleh semacam perasaan yang menggembirakan. Tanpa mengatakan apa – apa, aku mulai menggunakan mereka untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu.

… Fufufu, salahku, Vanity. Aku akan mengambil yang dua ini.

Aura hitam kegelapan yang berkumpul dengan aku sebagai pusatnya menodai aura ketuhanan itu.

Hitam tanpa dasar yang tampak melahap segala warna di sekitarnya, kekuatan gelap yang tampak mewakili rasa lapar itu berada dalam keadaan prima bahkan saat penggunanya telah kehilangan hasratnya.

Aku menyapu bersih hawa suci menjengkelkan yang dimuntahkan Malaikat – malaikat itu sekaligus, dan mewarnai putih mereka dengan hitamku.

Kekuatan yang begitu hebatnya hingga membuat lawan tak berdaya ini adalah, meskipun aku telah kehilangan rasa laparku, bukti bahwa aku masih seorang Penguasa.

Untuk memakan dan mencemari segala ciptaan, kebenaran seorang Iblis Gula.

“Aku tak percaya… kau memakan Paradise Field mereka!?”

“Fu… aku belum memakan apa – apa. Hanya saja kekuatanku lebih kuat dari mereka. Itu saja.”

Karena hancurnya Field mereka, mata keperakan para Malaikat itu berkilat berbahaya.

Itu bukan rasa takut. Tapi sekedar kemauan baru mereka untuk bertarung denganku yang mengeluarkan cahaya. Itu tidak terlalu berbeda dengan apa yang para Malaikat biasa anut saat mereka membantai Iblis.

Cahaya yang kuat terkumpul di telapak tangan mereka. Tidak seperti cahaya yang dipancarkan oleh mentari kirmizi Dunia Iblis, cahaya kuat itu berwarna putih. Tanpa mantra pun, kecepatan mereka bagaikan petir, dan gerakan mereka yang mengalir halus memberi kesan bahwa mereka terbiasa menembakkan kilat – kilat seperti ini.

Tapi aku sudah hafal dengan semua itu. Ingatan tentang perang Putih dan Hitam masih segar dalam ingatanku. Bahkan jika mereka tak pernah muncul akhir – akhir ini, sifat hal – hal ini bukanlah sesuatu yang bisa kulupakan dengan semudah itu.

Ah, itu…

Aku menjilat bibirku. Bahkan saat aku tidak memiliki nafsu makan, aku meneteskan air liur.

… Masa – masa itu memang menyenangkan.

Gemetar kegembiraan menjalar naik dari ujung kakiku hingga ke ujung kepalaku. Seluruh ingatanku dapat dirangkum dengan satu kata, ‘Lezat.’

Masa – masa itu begitu indah. Sangat disesalkan masa itu harus berakhir.

“Fufu… jadi kalian ini Malaikat 『Iustitia』?”

“……!?”

Waktu yang diperlukan sejak mengumpulkan hingga menembakkan energi mereka hanyalah hitungan detik. Atribut mereka didesain untuk menembak dengan cepat, dan juga membanggakan kekuatan serang yang tinggi untuk membinasakan para Iblis.

Mereka menembakkan cahaya yang begitu terangnya hingga aku tidak bisa tetap membuka mata.

Dan tanpa kesempatan untuk menghindar, tumbukan yang hebat menerpa tubuhku.

Kekuatan seorang malaikat sangatlah berbeda dari kekuatan seorang Iblis. Bagaimanapun juga, mereka cepat.

Kecepatan mereka benar – benar menyaingi cahaya. Tak peduli sederapa cepat dirimu, kau tak akan bisa mengalahkan kecepatannya; itu memang pantas menyandang nama Heavenly Retribution.

Yep, kurasa memang pantas.

Yep,

Memang benar.

“…!?”

“Fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu”

Cahayanya padam.

Aku tak bisa menghentikan tawaku.

Bersama nafsu membunuh itu, ekspresi wajah para malaikat tampak terkejut untuk sesaat. Entah mengapa, tanpa melarikan diri, Greed-kun yang tengah bersembunyi di ujung gang menatapku dengan mata terbelalak.

Tubuhku tak terluka sedikitpun.

“Kalian ini… mungkinkah kalian ini idiot? Melancarkan serangan energi pada seorang Gula… fufu, itu sesuatu yang layak disebut kebodohan hakiki.”

Aku melemparkan mantelku, yang sekarang berlubang besar.

Pakaian hitam legam yang kukenakan di bawahnay adalah 『Gobbling Garments』 yang kubuat dengan sebuah Skill Gluttony.

Semuanya ada hubungannya dengan afinitas. Gluttony relatif lemah terhadap serangan fisik, tapi terhadap serangan magis, Gluttony amatlah kuat. Bahkan melawan sesuatu yang terbuat dari pembunuh alami kami, 『Cahaya』, pernyataan itu tetap berlaku.

Pakaian hitam ini menyerap segala cahaya bagaikan sebuah lubang hitam. Bahkan di bawah cahaya mentari, pakaian ini tampak hitam legam.

Tetap saja… rasanya tidak sedap sama sekali. Aku cukup yakin dulu rasanya cukup lezat saat aku terakhir menyantapnya sepuluh ribu tahun lalu, tapi…

Betapa disayangkan, tapi apa boleh buat.

Bahkan jika aku tak ingin makan, Malaikat dan Iblis adalah sisi yang berlawanan.

Fufu, bagaimana jika aku meminjam teori itu saja untuk sementara?

Aku memalingkan telapak tanganku ke arah kedua malaikat.

“Aku akan menunjukkanmu kegelapan yang melahap segala cahaya.”

Seakan terpicu oleh kata – kata itu, sayap-sayap para Malaikat itu kembali mulai memancarkan cahaya.

Tapi pada saat itu, aku telah menembakkan Wave of Starvation-ku. Gelombang yang perlahan menggerogoti mereka adalah rasa lapar yang tumbuh subur dalam jiwaku itu sendiri. Untuk selang waktu yang cukup lama, rasa lapar itu adalah kutukan yang mematuhi perintahku.

Saat cahaya itu melewati dalamnya kegelapan, cahaya itu terlahap habis, dan memudar.

Rasa hambar itu berubah menjadi energi murni kemudian mengisi tubuhku. Aku tidak selemah itu untuk bisa dihabisi dengan Skill-skill dasar.

Aku menciptakan 『Tentakel』 yang tak terhitung jumlahnya dari tubuhku. Karena kedua tanganku telah terbukti kurang, aku menjadi bisa menciptakan mereka. Merekalah tangan-tanganku.

Jumlah mereka seratus. Tentu saja, jumlah itu jauh melebihi jumlah tangan-kaki kedua Malaikat itu, dan juga tangan-tangan Greed-kun.

Raut wajah kedua Malaikat itu berubah jijik. Ekspresi yang bagus. Kalian membuat wajah yang bagus.

“Kalau begitu, aku akan mulai.”

Sepuluh untuk bergerak. Sembilan puluh lainnya untuk menyerang.

Aku menggerakkan tentakel-tentakelku seperti cambuk untuk membabat kedua malaikat itu dari samping.

Mungkin karena sedang tidak mood untuk disentuh tentakelku, kedua Malaikat itu bergerak bersama. Sayap-sayap mereka memancarkan cahaya, dan mereka terbang naik ke atas untuk menghindarinya.

Itu adalah salah satu nilai jual mereka. Sesuatu yang bahkan dimiliki Malaikat kelas rendah tanpa kecuali- sayap-sayap surgawi mereka… mobilitas mereka.

Dan sebagai seorang Iblis Gula dengan berbagai opsi cara menyerang, tanpa peduli jarak, aku memiliki afinitas yang bagus di sini.

Sembari mengayunkan satu tentakel secara horizontal, aku melesatkan satu lainnya tinggi, dan menimpakannya pada mereka.

Dan aku memanjangkan lainnya lagi. Saat kau mencapai levelku, jumlah dan panjang tentakel dapat diubah dan dimanipulasi dengan bebas.

Kedua Malaikat menghindari tentakel yang mengincar mereka dari atas dengan tipis.

Sambil menghindar, dari telapak tangan mereka, mereka menambakkan Nova-nova besar yang beberapa kali lebih kuat dari serangan mereka sebelumnya.

Bola – bola cahaya itu berjumlah beberapa lusin. Gumpalan – gumpalan energi destruktif menyebabkan lanskap kota berubah. Mereka menembakkannya tanpa membidik dengan benar, jadi bola – bola cahaya itu satu demi satu mengenai bangunan-bangunan, menyebabkannya runtuh.

Tanah berguncang hebat. Kekuatannya cukup hebat untuk mengubah medan pertarungan. Tapi dengan bertambahnya kekuatan destruktif, kecepatan mereka menurun. Mereka melesat ke arahku dengan kecepatan yang jauh lebih rendah daripada cahaya mereka, tidak ada ruang bagiku untuk menghindar.

Aku menyalurkan kekuatan ke tentakel di kakiku, dan menusukkan mereka ke dalam tanah.

Dan aku menghindari mereka semua. Dalam Zonaku, aku mampu melihat segalanya. Aku memahami medan, dan tentang bola cahaya dengan kecepatan yang tidak tinggi-tinggi amat, aku bisa menghindari mereka bahkan dengan mata tertutup.

Dan begitu saja, dengan menerima kekuatan dari gundukan otot yang merupakan tentakel-tentakelku, dalam satu langkah saja, aku telah sampai tepat di bawah kedua Malaikat yang melayang di langit itu. Tentu saja, sementara itu, aku juga tidak menghentikan tentakel-tentakel yang mengejar mereka.

Langit bukan hanya milik kalian semata. Jika aku menginginkannya, maka seperti jaring laba-laba, aku bisa memanjangkan tangan-tanganku.

Tak ada yang bisa kabur dari piring makanku.

“Uge… kau sungguh gegabah…”

Aku mendengar Greed-kun berbisik dengan samar-samar pada dirinya sendiri dengan ekspresi kaku.

Gegabah?

Fufufu… bukan gegabah, tapi memang begitulah jalannya pertarungan seorang Penguasa.

Kupikir Penguasamulah yang ada dimana-mana! Bahkan jika aku mencoba melupakannya, aku tak akan mampu mengeluarkan rasa itu dari pikiranku!

Pada saat perhatian para Malaikat terfokus pada lengan-lengan yang mengincar mereka dari ketinggian, aku menjejak tanah dengan mantap.

Aku menggunakan tentakel-tentakel yang tadinya untuk bergerak menjadi untuk menyerang. Saat sejumlah besar tentakel melesat ke arah mereka dari bawah, satu dari mereka mencoba menghalaunya, dan yang satunya mengarahkan telapak tangannya padaku.

Fufu, mereka masih bergantung pada Skill-skill sihir sampai titik ini…

Tentu saja, bukan hakku untuk protes. Yang bertanggung jawab atas hal ini adalah kalian sendiri.

Seakan untuk mengimbanginya, aku juga merentangkan kedua tanganku.

Judgement Rain.”

The Skyeater’s Darkness.”

Dan cahaya dan kegelapan berbentrokan sekali lagi.

Cahaya mencoba menusuk menembus kegelapan, dan kegelapan mencoba menghisap habis cahaya. Jika kau melihatnya, itu seperti perwakilan mini perselisihan abadi kami.

Energi yang kurasakan dari cahaya itu tanpa ragu lagi adalah energi Kelas Penguasa.

Maka dari itu, kekuatan yang kudapat dari melenyapkannya juga besar.

Dengan meminum cahaya itu, si kegelapan makin bertambah kuat.

Kalau Avaritia yang terhebat di bawah langit dalam hal mencuri, maka tidak ada yang mampu menyaingi kemampuan Gula dalam makan.

Meski begitu, aku ragu aku akan bisa menelan seluruh energi ini. Tak peduli bagaimanapun juga, kekuatan kegelapan selalu selangkah di belakang cahaya.

Saat Penguasa-penguasa yang selevel saling beradu, tak terelakkan lagi bahwa pihak Iblislah yang akan binasa. Aku sangat memahami hal itu.

Itulah mengapa aku menggoda mereka. Dengan tentakel-tentakel.

“Fufu… tidak baik memalingkan muka seperti itu.”

Aku menusuk tangan si Malaikat dengan tentakel yang kugerakkan mengelilinginya dari samping. Pada saat bersamaan, cahaya yang dia pancarkan kepadaku berubah arah, dan melayang jauh.

Untuk sesaat, aku bisa melihat keterkejutan di wajah si Malaikat, dan sebelum itu pudar, si Malaikat telah ditelan oleh kegelapanku.

Jeritan yang tak terlukiskan keluar dari bibirnya.

Sebuah teriakan yang cukup untuk membuatku bergidik. Kekuatan sang Malaikat yang mengalir melalui kegelapan itu mengalir kepadaku. Kemungkinan pada saat itu, dia sedang mengalami penderitaan akibat tubuhnya yang sedang larut.

Malaikat itu mengalir terus, dan menggenggam wajahku dengan telapak tangannya.

Aku tak mampu melihat raut wajahnya. Tapi itu cukup mudah dibayangkan. Pasti itu raut wajah yang selalu diarahkan padaku.

Dan itulah mengapa, seperti biasanya, aku mengucap terimakasih.

“Terimakasih atas hidangannya.”

Dalam sekejap, tubuh si Malaikat bersemayam di dalam tubuhku sepenuhnya. Hanya sisa – sisa sihirnya mengalir ke bibirku.

Sesuai dugaanku, rasanya tawar. Kelihatannya dia memang telah menaikkan tingkat kekuatannya dengan benar, tapi ini terlalu hambar, tahu…

Mematuhi hukum gravitasi, aku mendarat di tanah. Selama aku mengenakan Gobbling Garments ini, aku bahkan tidak membuat debu beterbangan, tapi karena kebiasaan, aku menepuk-nepuk celana panjangku.

Malaikat yang satunya tak lagi di sini. Aku tahu.

Pada saat yang satu mencoba menembakkan serangan ‘Judgement Rain’ itu, malaikat yang satunya terbang pergi. Mungkin jika yang satunya tetap di sini, aku tak akan mampu menusuk tangan Malaikat itu. Dan bahkan setelah ditinggalkan oleh rekannya, emosi si Malaikat yang menembakkan putusannya padaku tak berubah sama sekali.

Maka bisa dibilang itu adalah rencana mereka sejak awal.

“Fu… mereka terlalu memahami. Betapa membosankan…”

Jika mereka hanya melayang – layang, itu lain lagi, tapi aku tak mungkin bisa mengejar seorang Malaikat yang terbang lurus menjauhiku.

Pertama, tidak adanya rasa membuatku tak memiliki hasrat untuk mengejar. Insting untuk bertarung, insting untuk berselisih yang terbakar pada tubuhku terkekang saat memakan yang pertama tadi.

Dulu, tak terpikirkan buatku untuk membiarkan seorang bahan kabur di depan mataku, tapi… well, kupikir ini tidak begitu buruk juga.

Aku melihat kota yang telah menjadi gunungan puing-puing, dan mendapati Greed-kun melihatku dari suatu sudut.

Seperti biasa, keberaniannya cukup mengagumkan. Dengan seorang mantan musuh, seorang mantan Penguasa Iblis di depan matanya, untuknya yang tak takut sama sekali, bahkan buat seorang Iblis Kelas Jendral, itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

Well, meski begitu, pada akhirnya, hanya itulah dia bagiku…

“Ki ki ki, seperti biasa, kekuatan yang kau miliki tak masuk akal…”

“Fufu… bahkan jika kau menyebut mereka Penguasa, mereka bukan apa-apa.”

Sama seperti Penguasa Iblis yang berbeda dari awal hingga akhir, para Penguasa Suci juga berbeda jauh antara yang di atas dan di bawah.

Bahkan di antara mereka, para Penguasa yang barusan kutemui hanyalah… ampas.

Well, meski begitu, mereka adalah stok makanan yang sulit ditemui di Dunia Iblis yang luas ini.

Aku menghela nafas dalam, dan menepuk perutku.

Ah… mungkin jika nafsu makanku kembali…

Part 3: Ini Sia-Sia… Kurasa

Aku menciumnya.

Meja di depan mataku dipenuhi berbagai macam makanan.

Selain di satu wilayah, seluruh Dunia Iblis berada dalam kemiskinan. Itulah mengapa jarang terlihat hidangan sebanyak ini berserakan, tapi aku adalah jenis orang yang tidak memedulikan penampakan fisik, jadi itu tak begitu berarti.

… Sepanjang itu memuaskan rasa laparku.

Di atas piring putih mengkilap terdapat sepotong daging yang meneteskan darah segar.

Sebagai seorang Iblis Gluttony, aku mengerti. Itu adalah daging Naga.

Daging mentah satu dari beberapa ras di Dunia Iblis ini yang mampu bertarung menyamai Iblis. Tentu saja, ini adalah hidangan langka, dan rasanya seharusnya cukup ciamik untuk menyamai rasa Iblis.

Sembari mengawasi gundukan daging yang dibagikan di piring – piring dalam diam, Iblis berperawakan besar yang telah membawanya bertanya takut-takut.

Dia tampaknya seorang Pride atau Greed. Aku tak tahu namanya, atau kekuatannya. Hasratnya untuk menjadi pusat perhatian adalah kelas satu, dan dia adalah pria menyedihkan yang telah mencoba menyerangku saat aku mengerutkan alisku dan berjalan perlahan sendirian.

Bagi seorang Penguasa Iblis, kebanyakan Iblis di bawah Kelas Jendral hanyalah bagian dari gerombolan Iblis rendahan. Paling tidak, bagi seorang yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai seorang Penguasa sepertiku, bahkan setelah aku kehilangan hasratku, aku hanya bisa menganggapnya sebagai ‘salah satu Iblis kebanyakan.’

“… A-apakah itu sesuai selera anda? Itu adalah daging Naga Kirmizi yang kami taklukkan tempo hari. Daging itu tak akan kalah dari daging Iblis… Bagi seseorang seperti anda yang menguasai Gula, pasti itu persembahan yang lebih dari cocok, bukan?”

“… Hah…”

Si Iblis mencoba mengecilkan tubuhnya dengan ketakutan, dan suara paraunya bergetar. Tak ada yang lebih tak enak dipandang dari ini.

Aku memainkan garpu perak di tanganku, dan memandang daging Naga itu.

Betapa merepotkan. Sesuai dugaanku, itu tak membangkitkan selera makanku. Aku tidak mood untuk memakannya.

Baunya sama sekali tidak buruk, dan kekuatan yang dipancarkan oleh daging itu cukup jelas. Kalau membicarakan Kelasnya, itu mungkin bahkan melampaui seorang Iblis Kelas Jendral. Meski daging itu mampu melampaui segala hal lain, daging itu tak mampu melampaui seorang Penguasa Iblis. Tapi meski begitu, tanpa diragukan lagi, daging itu adalah makanan kelas satu.

Bagi si pria menyedihkan yang berlutut di hadapanku, pasti cukup sulit untuk mendapatkannya.

Normalnya, aku akan langsung melahapnya tanpa pikir panjang, tapi sekarang semua sia-sia. Perasaanku tak tergerak.

Bahkan konsep rasa lapar itu sendiri mulai menghilang di seberang ufuk memoriku.

Pertama, saat seorang Iblis menjadi seorang Penguasa Iblis, mereka mampu bertahan beberapa tahun tanpa makan atau minum. Itulah mengapa kami tak perlu mengkhawatirkan kematian, dan bagi seorang sepertiku, yang dulunya akan merasa amat gatal hanya karena melalui satu hari tanpa makanan, keadaan ini adalah keadaan paling aneh yang pernah kualami.

Pada akhirnya, aku tak mampu membangkitkan seleraku untuk memakannya bagaimanapun caranya, dan tanpa mengotori ujung garpu sama sekali, aku meninggalkannya di meja.

“… Tidak, aku baik-baik saja.”

“… Eh? Anda bahkan belum menyentuhnya, bukankah…”

“… Kau bisa memakannya kalau kau mau.”

Ah……………………

Ini bukanlah aku. Ini jelas-jelas bukanlah karakterku. Bagaimana caranya aku bisa menghadapi bawahan-bawahanku yang menungguku di alam sana coba!?

Normalnya, makanannya, piringnya, dan peralatan makan peraknya, dan si Iblis yang menyajikannya semua seharusnya telah berada di perutku sekarang. Akulah sang Pelahap, dasar sialan!

Aku menuruni kursi, dan melewati si Iblis yang menatapku linglung.

Dan pada akhirnya, tanpa memakan apapun, aku meninggalkan kedai itu.

Di pintu masuknya, seorang Greed-kun yang kelewat was-was tengah menungguku.

Oh, dia bukanlah Greed-kun, dia itu… benar, Deije.

Deije Breindac. Mantan jendral pasukan Leigie Slaughterdoll.

Well, pada saat ini, dia hanyalah seorang Iblis penyendiri yang memburu harta karun di negeri asing, sepertinya begitu.

Fufu, itulah yang kau sebut pengangguran, tahu. Pengangguran.

“… Oy, oy, jadi kau benar-benar kehilangan hasratmu…”

“Yeah. Itulah apa yang telah kucoba katakan padamu.”

Ludes. Tak bersisa. Yang tersisa dalam diriku hanyalah perasaan kehilangan nan dalam.

Aku tak tahu apa yang kubutuhkan untuk mengisinya. Tak ada yang mahir kulakukan selain makan.

Deije-kun mengernyitkan alisnya dan membentuk ekspresi sulit, dan melipat lengan-lengannya.

“… Aku belum pernah mendengar sesuatu seperti itu…”

“Yeah, itu karena akulah yang pertama.”

Bahkan jika dia berumur panjang, setidaknya, dia kemungkinan lebih muda dariku.

Well, bagi si individu yang kehilangan hasrat mereka, itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dibicarakan, dan bahkan jika kasus ini pernah muncul di masa lalu, ada kemungkinan bahwa beritanya tak pernah menyebar jauh.

Jika aku berhenti melihat Deije-kun sebagai bahan makanan, dia adalah temuan langka di antara para Iblis, seorang ‘individu berbakat.’

Biasanya, semakin dalam hasrat seorang Iblis, semakin sulit untuk bercakap-cakap dengan mereka. Dari sudut pandang itu, dengan hasratnya yang dangkal, mungkin dia adalah seorang Iblis yang masih pemula, tapi sebagai kawan mengembara, dia tidaklah buruk.

Berlawanan dengan penampilannya yang seperti monster, dia adalah orang yang cukup terus terang. Pria itu.

Well, itu adalah sesuatu yang bahkan bisa kusadari saat aku bertarung dengannya setahun lalu.

“Well, begitulah adanya, jadi aku yang sekarang tidak memiliki kemauan untuk memakanmu.”

“Ki ki ki, begitukah? Aku merasa senang dan damai kalau begitu…”

Melihatnya menghela nafas dalam-dalam memberiku kesan bahwa dia cukup pesimis.

Overthinking tidaklah baik, tahu. Jika kau mau berpikir begitu keras tentang sesuatu maka buatlah pemikiran itu pemikiran tentang bagaimana kau berencana memuaskan hasratmu sendiri.

Terpikir sesuatu, aku mencoba menanyainya.

“… Kau, mungkinkah kau telah merampas nafsu makanku?”

“Ap… mana mungkin. Bahkan jika kau memohon padaku, aku tak akan mau mengambilnya.”

Well, kedengarannya benar.

Kemungkinan besar sasaran pencuriannya adalah harta. Kau bisa menyebutnya tipe Greed yang paling populer.

Pertama, aku ragu seseorang yang menginginkan sesuatu seperti nafsu makanku akan menjadi seorang Avaritia. Jika memang ada Iblis seperti itu, maka dia pasti menguasai Gula bukan Avaritia.

Wajah jijik Deije-kun tidaklah dibuat-buat. Fufu, kau tidak harus membencinya separah itu…

Deije-kun dan si Zeta-kun itu sepertinya sedikit menderita, tapi setelah kau menjadi seorang Penguasa Iblis, panas selevel ini tidaklah cukup untuk memengaruhimu barang sedikitpun.

Setelah memastikan bahwa tidak setitikpun rasa laparku kembali, walaupun aku telah memakan Malaikat itu, aku menurunkan diriku ke sebuah kursi di kafe.

Tentu saja, bukan kedai yang telah kurobohkan sebelumnya. Kedai itu telah hancur akibat gelombang kejut serangan para Malaikat.

Kedai yang terpilih untuk menyemarakkan reuni kami sedikit lebih baru dari yang satunya, tapi keduanya tidak begitu berbeda. Kedai ini semacam kedai makan kecil.

Mungkin karena jauh dari medan perang, hawanya begitu tenang seakan-akan kejadian yang tadi hanyalah mimpi.

Itu cukup untuk membuat orang mengantuk.

Dengan Deije-kun duduk di seberangku, dan Zeta-kun diposisikan untuk mengawasi tiap gerakanku, aku berbincang. Mereka tidak kelihatan ingin menyembunyikan apapun, dan mereka menjelaskan keadaan terkini Dunia Iblis dengan lancar.

Kelihatannya keadaan Dunia Iblis telah berubah drastis di saat aku pergi.

Benar bagiku untuk berangkat ke Penjara Kirmizi. Namaku kemungkinan telah menyebar ke seluruh negeri. Sebagai si Iblis bodoh yang mencoba menarik busur melawan Kanon-sama.

Itulah mengapa bertemu seseorang yang mengenal wajahku seperti Deije-kun adalah suatu keberuntungan. Yep, aku memang beruntung. Bukannya kami telah menjadi rekan seperjuangan atau apa, tapi ada banyak Iblis di luar sana yang tak akan mendengarkan apa yang kau harus katakan.

Juga, saat aku sendirian, perasaan kosong itu mengambil alih tubuhku, dan menghambat fungsi sehari-hariku, jadi dengan mempertimbangkan itu, ketegangan level sedang ini tidaklah buruk.

Malaikat dan Valkyrie.

Turunnya pangkat Leigie, dan tentang bagaimana Heard Lauder menjadi seorang Penguasa Iblis.

Kisah-kisah lawas ini semuanya berita baru buatku.

Dari semuanya, jatuhnya Leigie terdengar ganjil. Aku bertanya-tanya apa yang telah terjadi.

Paling tidak, pencapaiannya karena menghancurkanku seharusnya membantunya naik pangkat, bukan sebaliknya.

Fakta bahwa si Iblis Kuno yang menggerakkan pasukan di bawah namanya, Heard Lauder, menjadi seorang Penguasa Iblis membuat kemungkinan bahwa Heard telah meng-Overrule Leigie jadi opsi yang paling mungkin, tapi…

Bagaimanapun kejadiannya, kelihatannya kematianku adalah permulaan sesuatu.

Seorang Iblis Pride, dan aku yang dari Gluttony tidak memiliki afinitas yang begitu baik. Mereka bukanlah musuh yang ingin kuperangi, tapi… jika binasanya aku memulai sesuatu, maka jika aku ketahuan masih hidup, aku mendapat firasat dia akan mengincarku. Itu cukup merepotkan.

Tapi dengan mengesampingkanku, kedua Greed-kun fokus pada bahasan sebelumnya.

Masa depan ketimbang masa lalu. Well, bukannya aku tidak melihat dari mana mereka datang. Masalah dengan Leigie adalah masalahku, dan Deije-kun tidak ada hubungannya.

Meski Deije-kun sudah cukup ramah, Zeta-kun terus melirik curiga ke arahku, jadi aku memutuskan untuk ikut saja.

“Hmm… Malaikat, ya? Kurasa bulan-bulan biru benar-benar terbit.”

“Terlebih lagi, Kelas Penguasa Suci. Ki ki ki, pasti akan terjadi sesuatu.”

Sambil mengatakannya, mata Deije-kun berkilat dengan hasrat seakan dia sedang menatap mangsanya.

Semua orang tahu bahwa Malaikat terkadang turun, tapi frekuensinya rendah, dan mereka yang di atas kompetensi tertentu tak akan berpikir untuk turun.

Bagi kelas Penguasa Suci, jika kau mengesampingkan Perang Hitam dan Putih sepuluh ribu tahun lalu, turunnya mereka adalah kisah yang belum kudengar akhir-akhir ini.

Kata-kata Deije-kun cukup tepat sasaran.

… Tapi hanya itulah mereka.

Rasanya tidak menyenangkan untuk meredupkan nyala api hasrat Deije-kun yang tulus, tapi ini bukan cerita semacam itu. Ini tak akan menjadi jalan menuju kejayaannya.

Dari sudut pandangku, semua terlalu jelas, tapi seorang Jendral memiliki sudut pandang seorang Jendral, dan seorang Penguasa, sudut pandang seorang Penguasa.

“Fufu… Deije-kun, kau terlalu banyak memikirkannya. Fufu… jika kau menginginkan kejayaan, maka berhentilah mengejar-ngejar sesuatu seperti malaikat, dan mulailah berusaha untuk menjadi seorang Penguasa Iblis.”

Itu adalah persimpangan jalan yang pertama.

Bagi seorang Iblis yang bahkan tak bisa melakukannya, tidak ada kejayaan yang bisa ditemukannya.

Dan mengejar Malaikat buang-buang waktu. Mengasah pikiran dan tubuh di jalan untuk menjadi seorang Penguasa Iblis bukanlah sesuatu yang dilakukan untuk menghancurkan Malaikat dan Iblis.

Semua hanya tentang menengok kedalaman hasratmu. Itu saja.

Lain halnya kalau pertarungan berhubungan secara langsung dengan hasrat tersebut, tapi Dosamu bukan sesuatu seperti itu, bukan?

Fufu, inilah apa yang mereka sebut lari dari kenyataan, bukan?

Deije merengut, dan menggelengkan kepalanya penuh sesal.

“Ki ki ki, mencapai level itu bukanlah sesuatu yang bisa kubayangkan terjadi pada diriku. Aku akan menjalaninya saja.”

Fufu… lakukanlah apa yang kau mau.

Tentu saja, bahkan jika untuk pasukan teman, Avaritia manapun yang mau meminjamkan target hasrat mereka (harta) tak akan pernah menjadi seorang Penguasa Iblis, tahu…

Benar, dosanya… terlalu dangkal. Aku mengenal keserakahan yang menyala jauh lebih terang.

Bagi Deije-kun yang memilih untuk membuang hartanya, dari semua hal, bisa saja itu karena sifat dasarnya, tapi ini cukup parah.

Zeta-kun menanyai Deije-kun. Kelihatannya mereka rekan, dan punya hubungan semacam guru dengan muridnya.

Ekspresi si Iblis muda memang memiliki warna kepercayaan terhadapnya.

“Jadi, Deije-san. Apa yang harus kita lakukan? Kita akhirnya membiarkan satu dari mereka lolos…”

“… Kini karena ada seorang Penguasa di antaranya, kita tidak bisa melanjutkan begini. Aku memang berencana mengejar, tapi di level itu, sejujurnya, ini di luar kemampuanku.”

Musuh alami kami, para Malaikat.

Dan perbedaan Tingkat.

Kata-kata Deije-kun benar. Tergantung situasinya, Avaritia mampu menunjukkan kekuatan yang tak tertandingi, tapi dalam kekuatan bertarung semata, kekuatannya kalah selangkah dibandingkan Ira dan Gula.

Jika dia memiliki Pedang Iblis yang tadi itu, aku berani taruhan dia akan bisa bertarung cukup seimbang dengan Penguasa Suci selevel itu, sih.

Makhluk itu hanya omong besar saja.

“Ki ki ki, sekarang, setidaknya mari menulis sebuah laporan kepada sang Raja Iblis Agung… bahkan sesuatu selevel itu seharusnya memberikan ganjaran yang cukup besar.”

Fufufu… manisnya. Betapa manisnya. Memiliki Iblis Lust untuk kemanisan itu sudah lebih dari cukup.

Kemanisan dan ketegasan. Dia menekan rem dengan terlalu keras. Ada saatnya tipu daya kalah dengan keberanian. Itu adalah fenomena yang kami para Iblis tua jarang saksikan.

Kanon-sama adalah seorang Penguasa yang menguasai Wrath, tapi juga seorang Raja yang baik hati.

Itulah mengapa, bahkan hanya dengan laporan sederhana, kemungkinan akan ada ganjarannya. Tapi Deije-kun, kalau kau terus begitu, maka apa yang kau cari tak akan pernah jatuh ke tanganmu.

“Jadi, Zebul. Apa yang akan kau lakukan?”

“… Well, itu pertanyaan yang bagus.”

Malaikat itu tidak lezat sama sekali, tapi tetap saja, ada sesuatu yang bisa didapat.

Kondisi fisikku tidaklah buruk… tidak, nyatanya aku mengerti aku dalam kondisi prima. Aku yang sekarang kemungkinan bahkan bisa bertarung lebih sengit dengan Leigie itu. Sekali lagi, aku akan mencari pengalaman bertarung dengan Penguasa Sloth itu. Aku tak akan kalah semudah itu lagi sekarang.

Salah satunya karena aku yang sekarang tak merasakan apapun tak peduli apa yang kumakan. Itulah mengapa mungkin aku akan bisa memakannya kali ini. Melawan racun dengan racun… kupikir itulah istilahnya.

Ini adalah nyawa yang telah kukumpulkan kembali, jadi menantangnya lagi tidak terdengar buruk. Aku seorang penantang… fufufu, saat aku memikirkannya demikian, hatiku menari sedikit.

Mungkin karena merasakan sesuatu dari ekspresiku, Deije membuka hanya satu dari keenam matanya, dan bertanya.

“Zebul, maukah kau pergi bersamaku? Dulu, kita memang saling bermusuhan, tapi karena itulah aku mampu memahami kekuatanmu. Ki ki ki, menghajar Malaikat alih-alih Iblis bukanlah pergantian suasana yang buruk, sesekali, kan?”

“Fu… aku harus menolak.”

Usulnya adalah usul yang layak dihormati, bahkan mengejutkan untuk mendengarnya dari seorang Iblis. Mengundang seseorang yang dulu menerorku di masa lalu tak terbayangkan bagiku.

Tapi bahkan jika aku telah kehilangan hasratku, aku masih memiliki harga diriku sebagai mantan Iblis. Dan juga, keuntungan dari menerima undangannya terlalu rendah.

Rasa seorang Malaikat terlalu tak berharga bagiku.

“Mengapa?”

“Fufufu… aku harus pergi dan menemui… memakan si Leigie itu.”

Itu adalah kewajibanku sebagai seorang penantang kepada seorang yang telah mengalahkanku sekali sebelumnya.

Wajah Deije-kun berubah sedikit, dan dia memandangku seolah melihat monster.

“… Dari mana coba kau menemukan energi sebanyak itu setelah kau dihancurleburkan seperti itu…”

“Itu sudah jelas… Jika aku meneruskan hidupku tanpa makan, aku tak bisa memanggil diriku seorang Gula lagi.”

Bahkan jika aku tak lapar sama sekali. Aku ragu kau akan memahaminya.

Ini urusan harga diri.

“… Well, well, well, kurasa semua Penguasa Iblis di luar sana sedikit sinting.”

“Dan itulah tepatnya mengapa mereka lezat.”

“Deije-san… apakah orang ini waras?”

Wajah Zeta-kun terlihat mengeras dengan cukup jelas sembari menunjuk ke arahku.

Betapa tidak sopannya bocah ini.

Well, bagaimanapun juga, aku tidak mengharapkannya untuk memahami jalan pikiranku. Ini adalah milikku, dan hanya milikku sendiri.

Fufu… bahkan jika kau seorang Greed, aku tak akan membiarkanmu mengambilnya dariku dengan semudah itu.

“… Jadi kau akan menuju Penjara Gelap, kalau begitu… Ki ki ki, kepemilikan negeri itu sudah berpindah tangan. Heard Lauder adalah seorang yang kuat, tahu? Maksudku, bahwa ada seorang Superbia yang telah mengikuti Boss Leigie sejak zaman kuno. Bahkan dia adalah Penguasa Iblis Peringkat Satu saat ini. Kau boleh saja sang Pelahap, tapi bebannya terlalu berat.”

“Fufu.”

Kau benar-benar tak mengerti.

Ya, seluruh perkataanmu benar.

Begitulah adanya, Pride bertambah kuat seiring berjalannya zaman. Jika waktu yang berlalu itu sampai hampir sama lamanya dengan lamanya keberadaan Leigie, maka tidak akan ada Penguasa Iblis biasa yang mampu mendaratkan jarinya pada diri mereka. Peringkat bukanlah dekorasi semata, dan sebagai seorang Gluttony, afinitasku terhadapnya buruk.

… Tapi alasan itu tidaklah cukup bagiku untuk tidak makan.

Fufu… Pride Peringkat Satu.

Heard Lauder. Benar-benar disayangkan bahwa aku tak akan bisa mencicipi rasamu saat matang nanti.

Tapi apa boleh buat. Kau mungkin sedikit berat untuk hidangan pembuka, tapi aku akan tetap memakanmu.

“… Keh, kelihatannya kau tidak berpikiran untuk mengubah rencanamu.”

“Mungkinkah kau meremehkanku, Deije-kun? Fufu… bahkan jika aku seperti ini, aku ini seorang mantan Penguasa Iblis, tahu.”

“Tidak, tentu saja, aku tahu itu, tapi…”

Deije menghela nafas tak puas.

Kemungkinan hasrat dangkalnyalah yang mencegahnya dari berempati terhadapku.

Kami berdua adalah makhluk hidup yang berbeda. Jiwa yang menyusun dasar kami, dan pangkat kami berbeda. Kekuatanku termasuk kelas atas bahkan dibandingkan dengan Penguasa Iblis lain, dan tak peduli Deije-kun menjadi seberapa kuat, tak peduli berapa banyak Pedang Iblis yang ia genggam, celah antara kami hampir tak bisa diseberangit.

Aku bertanya-tanya apakah ia menyadarinya.

Bahwa dalam mata yang ia gunakan untuk menatapku, ada secercah kekaguman tercampur di dalamnya.

“Yep… dan terlalu sulit untuk berurusan dengan setiap dan masing-masing dari kalian para Penguasa. Apa boleh buat. Aku akan melakukan apa yang kumau saja, kalau begitu.”

“Dan aku tak berencana menghentikanmu. Turuti hasratmu sesuka hatimu. Fufufu… pastikan kau tidak menyesalinya saat ia menghilang.”

“Aku bahkan tak bisa membayangkan perasaan-perasaan di dalamku padam. Ki ki ki, di mataku, Zebul sang Pelahap… aku tidak bisa melihat milikmu padam juga.”

Sembari menggumamkan itu dengan melebih-lebihkan, dia mengeluarkan tawa yang ganjil.

Matanya, dan suaranya tidak memberiku kesan bahwa dia bermain-main.

Well, hasrat adalah sesuatu yang kau simpan di dalam dirimu sendiri. Hanya pemiliknya yang benar-benar mampu memahami sifatnya.

Seakan untuk menjawabnya, aku menjilat bibirku.

Setelah sedikit gemetar, Deije-kun beranjak. Dia memiliki tujuannya sendiri. Aku tidak memiliki hak ataupun motivasi untuk menghentikannya.

“Jadi kau akan segera berangkat? Dari sini aku berencana menuju Istana Api yang Menyayat secepat yang aku bisa.”

“Fufu… mungkin aku akan menemui seorang kawan lama dulu. Berhenti untuk berbincang sekali-kali tidaklah buruk.”

Sejak awalnya, adalah suatu kebetulan aku memutuskan untuk menginjakkan kaki di Penjara Kirmizi.

Aku datang kemari tanpa mengambil jalan memutar, jadi aku bahkan belum mendengar sedikitpun rumor seorang Malaikat telah turun, dan aku bahkan tak pernah membayangkan akan menemui seseorang yang kukenal.

Tapi pada akhirnya, aku bertemu para Malaikat, dan aku bertemu dengan Deije-kun. Itu boleh saja menyimpang dari tujuanku, tapi karena sudah terlanjur, satu atau dua pertemuan lagi tidaklah buruk

Manusia adalah makhluk yang menarik… tidak, aku cukup yakin maksudku Iblis.

“Seorang… teman lama?”

“Yeah… aku telah hidup cukup lama… bahkan jika aku terlihat seperti ini, aku sudah ada untuk beberapa lama.”

Tentu saja, sebagian besar kenalan itu telah tinggal di perutku…

Jika kau melihatnya dari sudut pandang lain, kau bisa memikirkan orang yang akan kutemui sebagai salah satu kenalan langka yang tidak bersemayam di bawah sana.

Juga ada fakta bahwa aku tak bisa memakannya karena kami dulunya bagian pasukan yang sama di bawah sang Raja Iblis Agung, tapi alasan yang lebih besar terletak pada kekuatan Iblis tersebut.

Fufufu…

Well, bukan berarti kami akrab. Kami adalah rekan untuk waktu yang lama, jadi ada hal simpati itu atau semacamnya.

Mencurigai sesuatu, Deije-kun membuka keenam matanya, dan menatap dengan cukup kuat untuk melubangi wajahku.

“Oy, oy, jangan-jangan maksudmu…”

“Fufufu… well, bagaimanapun juga, kami berteman…”

“… Itu berita bagiku.”

Suara itu suram seberat timah.

Seakan terpukul oleh suara itu, Deije-kun dan Zeta-kun meloncat mundur. Aku sudah menyadarinya sedari tadi, jadi aku tak terkejut, tapi kehadiran itu memang mengerikan.

Cukup kuat hingga bahkan dengan kekuatan Kelas Jendral, kau tak akan mampu merasakannya.

Jika aku tak memiliki Abyss Zone-ku, auranya begitu tipis hingga aku bisa saja kehilangan jejaknya, dan kehadiran yang begitu besar itu, adalah milik seorang Iblis langka yang tidak memamerkan secercah pun kekuatan yang ditimbunnya sejak zaman yang melampaui ingatan.

Itu adalah dasar Pride yang dikuasai Iblis ini.

Zeta-kun melihat naik perawakan besarnya dengan ekspresi kaku.

“A-apa… kau… sejak kapan…”

“… Tsk.”

Dia kira-kira dua kepala lebih tinggi dari Deije-kun, membuat orang berpikir dia salah satu dari 『Greip Giants』 yang dulunya menghuni Dunia Iblis ini.

Otot-ototnya menonjol bagaikan batu, dan mereka menutupi sekujur tubuhnya bagaikan baju zirah. Celah antara harga dirinya dan kehadiran tipisnya membuat orang merasakan sensasi yang begitu membuat bergidik ngeri.

Vanity Seidthroan.

Seorang Penguasa Iblis yang meninggalkan tahta.

Dia adalah seorang yang cukup kasar, yang pertama menyapaku dengan decakan lidahnya. Penguasa Iblis hebat yang membanggakan julukan Sang Egois, menggunakan suara menggelegarnya yang bergema hingga ke langit untuk melontarkan ratapan.

“Mengapa kau hidup… si Penguasa Pemalas itu… tak menghancurkanmu… dengan cukup sempurna.”

“Fufu… betapa tidak sopan. Untuk melontarkan kata-kata itu dalam reuni yang telah lama kita nantikan ini.”

Bersama dengan senyuman yang meluap-luap, keputusasaan yang dalam mulai bergetaran di sekelilingku layaknya percikan api.

Sesuai dugaanku… ini sia-sia.

Part 4: Aku Ingin Tambah

Sebelum aku menyadarinya, kedai ini telah dikepung oleh pasukan yang tak terhitung jumlahnya. Seperti Vanity, kehadiran mereka tipis, dan situasinya terasa tidak sepenuhnya nyata.

Wajah Deije-kun menegang sembari mengawasi area tanpa terlihat lengah. Sikapnya benar-benar tegang, tapi tidak ada rasa takut pada dirinya.

Pria dan wanita segala usia. Tubuh, kekuatan, dan ukuran mereka sangat bervariasi, tapi hanya dalam satu sisi Legiun itu memiliki sebuah sifat yang membedakannya dari pasukan-pasukan Penguasa Iblis lain.

Tanpa perbedaan gerakan di antara mereka, mereka memaku pandangan mereka padaku.

Boro-boro ekspresi, seluruh wajah mereka terbungkus dalam topeng hitam kelam.

Mereka sedikit menyerupai bawahan-bawahan Vanity saat aku pertama kali melihatnya, tapi mereka juga sedikit berbeda.

Bawahan Vanity sang Egois adalah unit yang unik yang dikenal sebagai Ravus Persona.

Asal usul mereka, alasan mereka, tidak ada yang diketahui tentang mereka.

Bukan karena kekuatan mereka, tapi karena penampilan mereka yang membawa firasat buruk nama mereka dikenal. Sebuah pasukan yang tak dapat dipahami.

Jika kita melihat kekuatan, maka pasukan Leigie yang dulu dikomando oleh Deije-kun jauh melampaui mereka. Selama Vanity tidak bersama mereka, begitulah adanya.

Tapi tetap saja, bahkan tanpa Penguasa mereka, pasukan ini memiliki sesuatu yang tak dapat kuraih.

“Fufu… sapaan yang sesuatu…”

“Waspada itu… wajar… bukan?”

Vanity sampai pada kesimpulannya sendiri, seraya melihat turun ke arahku dari ketinggian yang jauh lebih tinggi dari perawakanku.

Itu sudah wajar. Aku seorang Gula. Aku biasa membuat orang waspada.

Dengan wajah mereka yang tertutup, Iblis-Iblis yang tak bersuara itu tidak mengeluarkan niatan untuk melukaiku sedikit pun, dan mereka sekedar melihat, seakan menunggu perintah dari tuan mereka.

Kesetiaan. Kualitas yang teramat langka untuk ditemukan pada seorang Iblis lebih langka lagi untuk ditemui pada jumlah sebanyak ini.

Fufu… well, aku sudah terbiasa dengan itu dari pengalaman lampau.

Seakan melihat sebuah obyek yang menjijikkan, mata dalam dan gelap Vanity yang penuh hasrat mengawasiku.

“Zebul… pelahap brengsek.”

“Kau menakutiku… fufufu, aku akan lebih senang jika kau tidak memelototiku sebanyak itu.”

Mata itu bukan… mata yang kau arahkan kepada seorang kawan lama, tahu. Maksudku, aku hanya mencoba mencicipi sedikit, bukan?

Tak peduli berapa puluh ribu tahun berlalu, dia adalah seorang yang berpikiran sempit…

Dan seperti biasa, jumlah kata yang ia keluarkan sangat sedikit. Tampaknya itu adalah kebiasaan yang didapatnya saat masih kecil, dan dia tidak bisa meninggalkannya.

Apa sih peribahasa tentang ini…

Si anak adalah ayah dari si pria. Benar, yang itu.

Bahkan tanpa mencoba menyembunyikan rasa jijiknya, Vanity mengeluarkan suara yang parau.

“Mengapa, di sini?”

“Itu… suatu kebetulan, kujamin. Fufu, meskipun aku memang mampir di sini untuk menemuimu.”

“…Jadi aku… terpancing.”

Penjara Kirmizi adalah kerajaan Vanity.

Memasukinya adalah satu hal, tapi saat seorang Penguasa sepertiku masuk, mustahil Vanity tidak menyadarinya.

Seakan untuk mengisi ruang antara mata Vanity dan mataku, Deije-kun membuka mulutnya.

Keberanianmu sendiri patut dipuji… Deije-kun.

“Ki ki ki, dan kalau begitu, mengapa sih kau memutuskan untuk menunjukkan diri pada saat ini, Boss Vanity.”

“… Itu, di sana.”

Vanity menggunakan dagunya untuk menunjukku. Sesuai dugaanku, tak peduli berapa tahun berlalu, dia tetaplah seorang yang kasar.

Puas dengan jawaban itu, Deije-kun mengangguk. Aku ingin sedikit memprotesnya.

“… Kau berencana… memakan… lebih banyak Malaikat?”

“… Kau benar-benar membicarakan hal-hal yang nostalgik.”

Ya, dulu, aku adalah sang Gula yang melahap malaikat, tanpa menyisakan apapun.

Meskipun mereka memang musuh alami Iblis, sebagai bahan makanan, mereka tidak ada kekurangannya. Aku tidak mendiskriminasi makanan. Selain Leigie.

Itulah mengapa Gula yang memakan Malaikat terbanyak sepuluh ribu tahun lalu kemungkinan adalah aku.

Tapi tentu saja, tujuanku kali ini bukanlah sesuatu seperti itu.

Saat pandangan curiga terhadapku mulai muncul, aku angkat bicara dengan nada minta maaf pada si pria yang mengawasiku.

“Tapi tujuan kali ini tidak ada hubungannya dengan itu. Fufu… Vanity. Aku ada urusan dengan Leigie.”

“… Balas dendam… huh.”

Pemikiran yang angkuh. Orang seperti dia pasti selalu memikirkan kekerasan.

“Aku tidak ada keinginan untuk balas dendam. Itu karena aku bahkan tak bisa memakannya. Fufu… kali ini, aku hanya ingin berbincang-bincang kecil. Dengan si Raja Pemalas, itulah.”

Ya. Itu adalah niatanku yang sebenarnya.

Kalau yang kita bicarakan adalah pria itu, yang membawa ketidak-melakukan-apa-apaan sampai tingkat yang ekstrim, maka mungkin dia akan mampu menjelaskan keadaanku saat ini.

Tidak, bahkan jika dia tidak bisa… tak perlu diragukan lagi bahwa pria itulah yang membunuh Penguasa Iblis di dalamku. Untuk mengembalikan hasratku sekali lagi, ini adalah masalah yang harus kubereskan.

Bahkan jika aku hanya akan menerima kekalahan lagi.

Vanity mengangguk pada kata-kataku dengan tenang dan santai.

“Itu… jadi? Lakukanlah yang… kau mau.”

“… Oy, oy, Boss Vanity, kau yakin tentang itu? Si Pelahap, Zebul Glaucus, adalah Penguasa Iblis yang menghunus pedang untuk menentang sang Raja Iblis Agung, bukan? Ki ki ki, kau yakin kau tidak harus membereskan masalah ini?”

Kau benar-benar mengatakan hal yang tidak perlu. Sangat tidak perlu.

Vanity memang seorang bawahan sang Raja Iblis Agung, tapi dia sudah pasti bukan pelayan setianya.

Pertama, Iblis melayani dirinya sendiri. Selain perintah langsung dari Raja, tidak ada aturan yang menyatakan bahwa dua Penguasa Iblis yang kebetulan bertemu harus bertarung satu sama lain.

Karena aku telah berhubungan dengannya untuk sangat lama, aku bisa berkata demikian dengan yakin.

Bahkan jika dia telah meninggalkan tahtanya, jika kau ingin mengelompokkan Penguasa-Penguasa Iblis yang bersekutu dengan Kanon-sama, dia sudah pasti akan berada di faksi anti-Kanon.

“… Jangan… mati… terlalu cepat.”

“Fufufu… apakah aku harus berterimakasih sekarang? Kalau begitu, terimakasih?”

“… fu.”

Vanity mendengus, sebelum segera menunjukkan punggungnya, dan berjalan pergi.

Dan bak ombak yang surut di tepi laut, bawahan-bawahannya merembes keluar kedai.

Rasanya seakan-akan aku habis bermimpi, dan setelah itu, situasinya persis sama seperti sebelumnya.

Vanity hanya di sini untuk sekejap saja. Kehadirannya sama sekali tidak dekat pada saat ini. Menggunakan zonaku, aku nyaris tak mampu menyadari kehadirannya tadi, tapi kini dia lenyap tanpa sisa.

Wajah tegang Deije-kun menghela nafas panjang.

“Apa-apaan… itu tadi? Dia benar-benar seorang yang membawa firasat buruk. Instingku mengirimkan kejut-kejut takut ke sekujur tubuhku… Ki ki ki, dunia ini memang luas. Aku tidak berpikir begini kejadiannya saat terakhir kali aku melihatnya…”

“… Itu karena Vanity sedang bersiap untuk perang. Fufu… artinya hanyalah dia tidaklah setenang yang ditunjukkan raut wajahnya.”

Sejak zaman dulu, pria ini adalah seorang penakut. Pada dosa Superbianya, dia memiliki trauma yang hebat.

Itulah mengapa dia begitu pemalu, dan itulah mengapa dia begitu kuat.

Aku tidak melihatnya selama beberapa waktu, tapi kelihatannya Vanity tidak berubah sama sekali. Tidak, hanya sedikit, keteguhan hatinya bertambah sedikit.

Fufufu… Heard Lauder pasti telah membangkitkan amarahnya.

Zeta-kun memiringkan kepalanya, dan mengajukan pertanyaan pada Deije-kun yang telah mendapat kembali ketenangannya.

“… Tapi mengapa dia bersusah payah jauh-jauh ke sini…? Bahkan sampai membawa pasukannya bersamanya.”

“Kemungkinan dia tadi datang untuk menghajarku… fufufu, itu karena aku mengenalnya cukup baik.”

Kemungkinan, termasuk Kanon-sama, dia adalah Penguasa Iblis yang paling lama kukenal.

Untuk Iblis yang telah kukenal selama itu, kemungkinan hanya Leigie yang mampu menyainginya. Dan juga, mungkin aku kenal Heard Lauder, atau tidak.

“… Menghajar?”

“Benar. Menghajar. Aku tak akan menghalangimu, jadi kau jangan mencampuri urusanku. Hal semacam itu.”

Nafsu membunuh yang mengalir keluar dari Vanity jelas-jelas terarah padaku. Untuk mencoba mengancam seseorang yang, untuk argumen, menguasai Gluttony sepertiku, aku hanya bisa mengaguminya.

Fufu… sama seperti menemui Leigie adalah tujuan tertinggiku saat ini, Vanity pasti memiliki sesuatu semacam itu juga.

Well, aku memiliki gambaran umum, tapi tentu saja, aku tak akan melakukan apapun tentang itu, dan bagaimanapun juga kemungkinan besar itu akan membuahkan hasil yang menguntungkan bagiku.

Saat ini, makan hanya akan merepotkanku. Paling baik jika halangan yang ada semakin sedikit.

Salah paham akan sesuatu, Deije-kun menegangkan wajahnya, dan membiarkan pandangannya melayang-layang ke angkasa.

“Meski begitu, hawa yang memaksa tadi tidaklah normal… apakah si Vanity itu memiliki semacam karma dengan para Malaikat? Kelihatannya memang dia sedikit berhati-hati dengan mereka, tapi…”

Karma. Karma, ya?

Deije-kun setengah tepat sasaran, dan setengah meleset.

Jika kau bertanya apakah dia memiliki karma atau tidak, maka jawabannya kemungkinan iya. Di antara para Iblis berumur panjang, aku ragu kau akan menemukan banyak Iblis yang tidak mempunyai karma dengan para utusan surga itu.

“Fufu, Deije-kun. Iblis itu adalah…”

Haruskah aku mengatakannya atau tidak?

Hmm… aku ragu-ragu untuk sesaat, tapi kelihatannya tidak akan ada masalah yang muncul karena aku mengatakannya.

Aku ingin sok hebat sedikit, jadi aku memutuskan untuk mengajari si kecil tua Deije-kun.

“… seorang mantan 『Malaikat』, tahu?”

Malaikat dan Iblis adalah dua sisi dari koin yang sama. Kami semua sama-sama terbuat dari jiwa, dan perbedaan antara kami hanya terletak pada apakah kami jiwa sampah, atau jiwa yang budiman.

Itulah mengapa, jika seorang Malaikat jatuh, roh mereka bisa berbalik, dan mereka akan menjadi Iblis.

“… Jadi dia telah Jatuh…”

Benar. Seorang Malaikat jatuh menjadi Iblis. Seorang 『Malaikat yang Jatuh』.

Seorang Malaikat yang berbalik. Sebuah jiwa yang murka, dikhianati oleh kasih Tuhan. Fufufu, bahkan, dia jauh lebih berdosa dari aku, dulu saat aku masih seorang Iblis.

Bahkan saat mendengar kata-kataku, Deije-kun lebih tenang dari yang kuduga. Fufu, begitu begitu, kelihatannya dia memang telah makan asam garam kehidupan yang cukup banyak.

Dia berbisik pada dirinya sendiri, untuk mengkonfirmasi arti dari kata-katanya. Setengahnya mungkin bertujuan untuk membuat Zeta-kun bisa mengikuti percakapan kami, karena si pemuda melihat Deije-kun dengan wajah tidak paham.

“Ki ki ki, seorang mantan Malaikat… ya? Tentu itu bukan suatu yang menyenangkan.”

“Well… itu benar. Fufu, dia masih cukup sengit soal itu.”

Tidak menyenangkan. Itu karena jatuhnya dia bukan hal yang menyenangkan pula. Well, itu benar, kurasa.

Tapi mengapa saat ini Vanity menduduki kedudukan seorang Penguasa Iblis? Sebuah eksistensi yang mutlak di antara pangkat-pangkat Iblis?

Inilah mengapa manusia begitu menarik… tidak, Iblis, maksudku.

“… Jadi bisakah Vanity menang melawan Malaikat-Malaikat itu?”

Deije-kun bergumam, tapi seakan tidak mencari jawaban, dia membiarkan kata-katanya menggantung.

“Well, jika hanya Malaikat, dia kemungkinan akan menang. Tapi musuh Vanity kali ini bukanlah Malaikat.”

“… Yeah. Bukan Malaikat biasa, seorang Penguasa Suci. Terlebih lagi, orang-orang itu… mereka bertambah kuat begitu saja dalam pertarungan. Jika itu bukan sesuatu yang mereka sembunyikan, dan kekuatan mereka memang benar bertambah kuat di tengah pertarungan, akan merepotkan.”

Fufu… Deije-kun adalah pengkhawatir.

Tapi kekhawatiran-kekhawatiran itu tidaklah perlu. Paling tidak, jika Malaikatnya selevel yang kuhadapi tadi, dia bukanlah tandingan Vanity, dan itu tadi bahkan tidak benar-benar terasa seperti pertarungan bagiku.

Tapi aku takkan mengatakannya.

Fufufu, apa yang seharusnya kau khawatirkan adalah dirimu sendiri, dan aku perlu mulai mengkhawatirkan diriku sendiri juga.

Aku membalikkan pemikiranku kepadaku.

Hanya padaku.

Sekarang, bagaimana sebaiknya aku menuju Leigie…

Bagaimana sebaiknya aku berangkat…

Akan sulit melewati Heard Lauder. Itulah bagaimana adanya Iblis Pride.

Mereka memiliki kekuatan mutlak, tapi jika aku harus bilang, kekuatan itu berkurang banyak saat dihadapi muka lawan muka.

Tapi dalam pertarungan kejar-kejaran, mereka menunjukkan kekuatan tak tertandingi. Itulah Dosa Asal Superbia.

Tapi pertama, apakah dia bahkan akan melawanku?

Penjara Kegelapan Leigie berada jauh di dalam negeri yang dikenal sebagai Penjara Gelap.

Tak peduli dari arah mana aku berangkat, aku harus menyeberangi wilayah Heard Lauder. Akankah dia memandangku sebagai seorang Iblis yang tak berbahaya?

Tidak, aku meragukannya. Kekuatanku terlalu kuat untuk itu, dan bahkan jika aku mencoba untuk lolos dengan mengandalkan kata-kata, dia semacam maniak pertarungan.

Kalau begitu kejadiannya, aku harus membuat celah.

Jika kami berhadapan, aku tak berpikir aku akan kalah, tapi kemenangan itu tak akan mudah didapat.

Pride pada umumnya adalah atribut yang unggul dalam kecepatan. Pada Level Penguasa Iblis, mereka mampu melihat dunia bergerak bagaikan dunia ini stagnan.

Karena mustahil untuk menerobos dengan lari, pilihan terbaikku adalah untuk menunggu kesempatan yang bagus.

Aku tidak begitu suka menyerahkan diriku pada takdir, tapi untungnya bagiku, tidak akan lama sebelum celah besar muncul pada pertahanan Heard Lauder.

“Fufufu, sebuah kesempatan, ya? Sudah berapa tahun… sejak terakhir kali aku melakukan hal seperti menunggu datangnya kesempatan…”

Buatku, biasanya akan berhasil entah bagaimana jika aku ngotot menerobos.

Perasaan menggembirakan menunggu sesuatu untuk datang ini bukanlah sesuatu yang telah kurasakan untuk waktu yang sangat, sangat lama.

Jadi apa yang harus kukatakan di saat seperti ini… fufu…

“Tambah lagi… mungkin?”

“Hm? Apa kau mengatakan sesuatu?”

“Fufu… bukan apa-apa.”

Aku menghindari tatapan curiga Deije-kun, dan memandang ke arah perginya Vanity.

Bagus. Hasrat itu, emosi itu, cukup bagus. Vanity sang Egois. Dari mata seorang yang mengenalmu begitu lama, aku bahkan tak bisa mempercayai kau dulunya seorang Malaikat.

Waktu dan keberuntungan berpihak padaku.

Fufufu, Leigie. Kemungkinan aku akan menemuimu dalam waktu dekat. Bersenang-senanglah menunggunya.

Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya