DnO 11 – Kelalaian Acedia

Kelalaian Acedia

Part 1: Hari Ini Damai

Adalah jangkauan angkasa.

Angkasa. Menurut suatu Dewa atau sesuatu semacam itu di luar sana, itu adalah jurang kegelapan tanpa dasar. Bahkan jika seseorang memiliki sayap-sayap surgawi, tidaklah mudah untuk mengarungi kekosongan yang lebih luas dibandingkan Surga yang tinggi, dan rumornya, di suatu tempat yang jauh melampauinya, di sana benar-benar tidak ada apa-apa.

Gravitasi dan materi dan cahaya dan bahkan hasrat tidak ada lagi.

Dan semua yang ada hanyalah… benar.

“Tiada apa-apa…”

“… Bukan… tiada apa-apa!”

Kekuatan yang besarnya tak terpikirkan datang dari lengan-lengan langsing itu untuk menarikku, dan dari angkasa lembut ketiadaan yang gelap dan hangat itu, aku diseret menjauh.

Lust pada umumnya tidak cocok untuk bertarung, tapi saat cinta dipertaruhkan, mereka memang memiliki sifat yang sedikit meningkatkan kemampuan mereka. Tapi itu tidak begitu berarti sih.

Rambut keemasan yang indah, dan mata biru tua. Paras tak berdosa nan lembutnya membuat Iblis manapun yang menguasai Dosa Asal lain terdiam.

Tapi di saat yang sama, tidak ada yang cukup kurang ajar untuk berani melecehkannya di negeri ini.

Lorna. Tanpa nama belakang.

Seorang Iblis Luxuria, juga pelayan pribadi sang Penguasa Sloth.

Tapi sosok itu yang dulunya kudambakan, gaya hidup itu, tidak ada yang cukup untuk merangsang hasratku barang sedikitpun.

Bukannya aku telah meng-Overrule-nya, atau aku tidak dengki terhadapnya lagi, atau sesuatu seperti itu.

Hanya saja semuanya menjadi merepotkan. Semuanya. Mungkin ini adalah suatu wujud pencerahan.

Antara aku dan dia, aku hanya sedikit lebih pendek, tapi perbedaan itu hanya dalam ukuran ketidaktelitian percobaan. Itulah mengapa saat dia memegangku, dan menyeretku kesana kemari, kakiku masih terseret di tanah.

Dengan kemauan kuat yang tersembunyi dalam kedua mata biru yang seperti menyedotku itu, aku mengucapkan satu kata seperti biasanya.

“… Apa?”

“… Mengapa kau… ada di ranjang Leigie-sama…”

‘Tu jadwal harianku. Itulah mengapa aku selalu mengantuk.

Dengan lenganku yang dikunci olehnya, aku menguap. Sudut-sudut bibir Lorna berkedut sesaat, tapi bahkan ekspresinya itu tampak manis.

Ini mungkin bakat alaminya itu… tidak, apakah ini sesuatu yang secara alami datang begitu saja pada Iblis-Iblis Luxuria? Maksudku, mereka-mereka itu selalu mengundang nafsu syahwat Iblis lain.

Kegelapan perlahan merembes keluar dari kedalaman yang paling dalam dari tubuhku.

Seperti Envy, itu sulit untuk dilawan, tapi jauh lebih lembut, dan sepenuhnya baik. Kekuatan itu, yang menenggelamkan eksistensiku ke dalam kebejatan adalah sesuatu yang disebut kantuk.

Aku bertanya-tanya berapa lama waktu yang telah berlalu sejak jalan Sloth terbuka untukku. Akhir-akhir ini, aku telah bisa sedikit memahami sentimen Leigie-sama.

Aku sangat ngantuk. Dan malas gerak.

Persis seperti Envy yang terus membakar, dan Gluttony yang terus lapar, hasrat Sloth melarangku membuat pergerakan drastis.

“… Tiap hari, menyerah sajalah…”

“Itu karena kau belum menyerah merangkak masuk ke sana tiap hari!!”

Lorna mulai menusuk-nusukku dengan sapunya seakan pembawaan kalemnya yang biasanya hanyalah kebohongan belaka.

Dan persis seperti aku mulai memahami perasaan Leigie-sama akhir-akhir ini, aku mulai memahami Lorna pula.

Dia bukan baik hati. Dia baik pada Leigie-sama. Dia memanjakannya.

Kemungkinan ada perbedaan kecil di antara keduanya.

Dia mengguncang-guncang bahuku tanpa henti.

Tapi ini hanyalah rutinitas biasa kami. Mungkin karena kekuatan Sloth, bahkan jika ia mengguncangku seperti itu, aku nyaris tak merasakannya.

“Medea Luxeliaheart! Kerjakan pekerjaanmu dengan benar!”

“… Aku sebuah bantal.”

Bukannya bekerja merepotkan.

Tugasku adalah untuk tidur di ranjang Leigie-sama. Dengan ‘tidur’, maksudku bukan tidur yang aneh-aneh. Aku hanya mencoba untuk menunjukkan tidur yang murni dan sederhana.

Dari sudut pandang itu, aku memenuhi tugas profesionalku lebih dari apapun.

Sebagai buktinya, Tree Sloth-ku berkembang dengan lumayan cepat.

“Kalau begitu… apaan yang di bawah kepala Leigie-sama itu!?”

“… Senpai-ku.”

Apakah dia mendengarkan perbincangan kami atau tidak, kepala Leigie-sama terbaring di atas bantal tanpa bergerak sedikitpun.

Cara dia terlihat seakan dia mati belum berubah sedikitpun. Tapi kekuatan yang kurasakan darinya hanya dengan ada di sana memang sudah pasti kekuatan seorang Penguasa.

Senpai. Senpai-ku.

Dianugerahkan dari sang Raja Iblis Agung, Kanon Iralaude, dia adalah sebuah bantal yang dibuat dari bulu bayi Naga Api. Tentu saja, dia tak memiliki nama. Tapi karena dibuat dari material Naga Api, bantal itu luar biasa kuat, memiliki ketahanan terhadap api yang tak masuk akal, dan selain terus dihangatkan ke suhu yang nyaman, dia membanggakan keempukan yang istimewa.

Tak perlu diragukan lagi, dia adalah musuh terbesarku.

Dulunya begitu, tapi akhir-akhir ini, aku mendapati diriku tidak tertarik memusingkan sesuatu seperti itu. Sejak awalnya, aku tidak pernah menerimanya.

Tidakkah bodoh untuk iri terhadap sebuah bantal? Aku belum pernah mendengar Invidia yang seperti itu.

Alasan mengapa aku masih mengincar posisi yang kudamba-damba itu adalah karena naluriku menyuruhku.

… Dan bukannya aku memiliki hal yang lebih baik untuk dilakukan.

Terlebih lagi, kamar tidur terbesar di Kastil Bayangan sudah pasti kamar tidur sang Penguasa Iblis. Hanya dengan berada di sini, kekuatanku meningkat.

Lorna mengangkat sebuah cermin tangan ke arahku dalam diam. Dan di dalamnya, aku melihat seorang Medea Luxeliaheart yang tanpa ekspresi, tanpa jejak emosi melimpah yang kumiliki sebelumnya.

Benar-benar tanpa ekspresi…

“… Dan?”

“… Hah… Medea. Apa kau benar baik saja dengan ini?”

“Ya.”

“… Hah…”

Saat aku memberi jawaban langsung, Lorna menghela nafas dalam.

Matanya tak terwarna oleh amarah. Matanya hanya menyimpan warna kesedihan.

Lorna tak akan pernah membiarkan ekspresi marah mewarnai wajahnya. Mungkin itu adalah sifat Lust, atau mungkin dia sudah terbiasa dengan perilaku Leigie-sama, atau mungkin itu karena dialah yang menyelamatkanku. Aku tak tahu alasannya.

Dia kelihatannya ingin menyampaikan sesuatu, tapi sekali lagi, dia menghela nafas yang amat dalam sebelum bicara.

“Setidaknya, tolong pakailah pakaian… pakaian…”

“… Itu merepotkan.”

Pertama, aku hampir tidak akan meninggalkan ranjang, jadi tidak ada gunanya memakai pakaian, dan saat aku memang ingin beranjak, yang ada disini hanyalah Lorna, jadi tak ada gunanya menyembunyikan apapun.

Leigie-sama disini juga, tapi aku berani taruhan dia bahkan tidak melihatku saat aku di depan matanya, jadi perasaan malu di depannya telah menghilang di suatu titik di masa lalu. Memikirkannya hanyalah buang-buang waktu.

Tanpa mengatakan apapun untuk membalas responku, dengan sebuah senyuman yang mengatakan ‘Medea mabuk lagi,’ dia melirik ke arah Leigie-sama.

“Leigie-sama… setelah hamba menyingkirkan Medea, hamba akan menyajikan makanan anda, jadi mohon tunggu beberapa saat…”

“…”

Waktu tidur Leigie akhir-akhir ini bertambah panjang. Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun saat mendengar suara Lorna.

Mengangguk puas, Lorna mengulurkan tangannya kepadaku dalam diam.

Dia menyisipkan tangannya ke ketiakku, dan mengangkatku. Aku tidak memberontak. Ini juga sekedar rutinitas harian kami.

Diangkat seperti ini adalah sensasi yang cukup ganjil. Rasanya seperti aku bergerak tanpa kakiku menyentuh tanah.

Aku mengucapkan sepatah kata padanya sembari diangkat seperti barang bawaan olehnya.

“Lorna…”

“Ya?”

“Kurasa paling baik jika kau berhenti melakukan hal-hal percuma ini.”

Tak peduli berapa kali kau menyingkirkanku, aku akan kembali.

Dan akhir-akhir ini, adegan itu terjadi berulang kali. Seperti dengan naluri pulang, tak peduli seberapa jauh dia menaruhku, aku akan mendapati diriku disini.

Bahkan jika itu melawan Sloth-ku, mungkin itu adalah sisa-sisa Envy yang tertinggal di dalam diriku.

Aku tak bisa tenang. Aku harus berada disini.

“Medea… kau adalah pengaruh buruk bagi Leigie-sama.”

“… Pengaruh… buruk?”

Lorna kemungkinan dibutakan oleh cinta. Dia hanya melihat apa yang dia ingin lihat.

Ini adalah Penguasa Sloth yang telah hidup sangat lama, dan kau bilang aku pengaruh buruk… mimpi tentang Leigie-sama macam apa sih yang kau lihat?

Tidak ada jendela, tapi karena lilin yang tak terhitung jumlahnya yang menghiasi dinding, bagian dalam kamar ini terang..

Oh, bahkan jika gelap, dengan penglihatan malamku, aku akan bisa melihat ekspresi Lorna bagaimanapun juga.

Aku berpikir sejenak, dan mencoba bertanya.

“Jadi haruskah aku memakai pakaian?”

“… Itu bukanlah masalahnya disini.”

Kalau begitu apa yang jadi masalah?

Bahkan jika aku tidak bertanya, aku bisa menebak. Jika dambaan seorang Iblis adalah validasi eksistensi mereka, maka wujud Lorna adalah sosok Luxuria.

Tapi dalam situasi ini, tanpa iri terhadapku, tanpa mengembangkan  『Invidia』, dia terus memeluk dosanya, dan dari sudut pandang itu, dia mungkin lebih tinggi dariku sebagai Iblis.

Dia tidak menjawab apa-apa lagi sembari menutupiku dengan sebuah selimut abu-abu, sebelum mengangkatku di ketiakku lagi.

Tanpa suara, dia membuka pintu kamar Leigie-sama. Ruang terdalam yang tak pernah dicapai Pahlawan atau Malaikat manapun, bagi si pelayan, dan bagi Iblis tak berharga yang dikenal sebagai aku, sekedar bagian kehidupan sehari-hari kami.

Pasukan Leigie sang Sloth, yang dulunya berjumlah luar biasa banyaknya, kini dapat dihitung dengan satu tangan. Bagian dalam Kastil Bayangan yang dibangun dari batu-batu hitam berada dalam kesunyian yang mencekam.

Pasukan kuat dan terkenal itu sebagian besar telah diserap ke dalam angkatan perang seorang Heard Lauder. Tidak, kemungkinan itu adalah pasukan Heard sejak dulu. Itulah mengapa itu adalah hasil alaminya.

Kastil ini sejak dulu terlalu luas.

Bahkan Istana Api yang Menyayat milik sang Raja Iblis Agung yang dulu pernah kukunjungi sekali tidak bisa menandinginya. Kastil ini mampu memuat dua atau tiga kota yang mengelilinginya di dalamnya dengan mudah.

Tidak, kenyataannya, meski kastil ini adalah sebuah kastil, kastil ini sendiri hampir seperti kota.

Tidak hanya bawahan, seluruh warga di bawah perlindungan sang Penguasa Sloth berkumpul di benteng ini. Tentu saja, mereka hidup terpisah, tapi itu juga satu ciri Kastil Bayangan.

Penambahan, dan penggabungan ditambahkan pada satu sama lain, dan ditambahkan pada properti Penguasa Iblis yang membengkak dengan ganjil ini. Di dalamnya, Iblis yang tak terhitung jumlahnya memiliki properti mereka sendiri, dan itu telah berkembang menjadi semacam labirin.

Tapi semua itu sudah menjadi sejarah.

“Nah, sekarang, Medea. Kita sampai.”

Saat aku terlelap, kelihatannya kami telah sampai. Tempat yang kudapati saat aku membuka kelopak mataku adalah kamarku sendiri yang telah biasa kutempati. Tanpa hiasan apapun yang layak, kamar ini adalah kamar yang sangat praktis.

Kamar Lorna terletak di sebelahnya. Dulu tidak begitu adanya, tapi sejak aku mulai membawa Sloth, dia memindahkan posnya. Jadi dia bisa mengurusku dengan lebih mudah.

Tubuhku ditinggalkan di ranjang, dan Lorna menepuk-nepuk tangannya seperti habis bersih-bersih.

Betapa kasarnya…

Dia memiringkan kepalanya sambil berpikir, dan bergumam.

“Bukankah mengikatnya ke ranjangnya akan bagus…?”

“Tak berguna.”

Itu merepotkan, jadi aku hanya mengucap dua kata.

Benar, itu tak akan berhasil.

Sudah takdir bahwa rencana-rencana Lorna akan berakhir dengan kegagalan.

Bahkan jika seperti ini, aku adalah seorang Iblis Kelas Jendal. Hanya dalam kemampuan-kemampuan dasar saja, aku jauh melampaui si pelayan.

Dalam dunia jeruk-makan-jeruk ini, kebenaran yang sederhana itu bernilai mutlak.

Dengan ekspresi bisu, Lorna melihatku.

“Kalau begitu… bekerjalah sedikit. Tiap hari kau hanya tidur saja di kasur itu…”

“…”

Terus mengapa tak kau katakan itu pada Leigie-sama?

Pertama, aku bekerja. Dalam pandanganku sendiri terhadap nilai-nilai, aku terus mengejar hasratku. Maksudku, yeah, aku tidak bertarung akhir-akhir ini, tapi hidup itu tak melulu soal bertarung saja.

Apa sih yang diharapkan Lorna terhadapku?

Itu adalah misteri terbesarnya. Leigie-sama tak lagi memiliki wilayah selain kastil ini, dan bangunan ini sepenuhnya dikelilingi oleh wilayah Heard.

Memiliki wilayah yang dikelilingi di segala sisi oleh pasukan sekutu adalah hal yang tidak dimiliki orang lain lagi selain sang Raja Iblis Agung.

Artinya tidak ada yang akan menginvasi tempat ini.

Bahkan jika kau berpikir keras dan panjang tentang itu, aku ragu ada banyak orang di luar sana yang mampu melewati Heard Lauder itu.

“Leigie-sama baik saja. Karena itu adalah pekerjaannya…”

“…”

Kalau begitu apa bedanya denganku? Tidak, waktu tidur Leigie-sama bertambah panjang dengan cepat. Aku menghabiskan sekitar setengah hari tertidur, tapi saat aku bangun, satu-satunya waktu aku melihat Leigie-sama bangun adalah saat makan. Makanannya juga disuapkan padanya oleh Lorna, jadi aku bahkan tidak bisa bilang dengan yakin bahwa dia bangun pada saat-saat itu.

Aku memang sudah cukup tak tertolong lagi, tapi Leigie-sama berbeda level denganku.

Jurang yang besar itu adalah sesuatu yang hanya bisa kulihat dengan hormat. Apa coba yang bisa kulakukan agar bisa tidur selama itu…

Saat dilihat dari jauh, Leigie-sama cukup buruk, tapi saat dilihat dari dekat, dia jauh lebih buruk, dan lebih dari itu, adalah kebiasaan Lorna melihat apapun sebagai hal yang baik. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

Dan segalanya damai di Kastil Bayangan.

Part 2: Sejujurnya, Ini Merepotkan

Aku bosan.

Para Iblis Sloth bosan. Hasrat mereka tidak membutuhkan rangsangan apapun dari dunia luar.

Tak ada rangsangan artinya tubuh serta hati mereka tak memberi reaksi. Mereka tak bisa.

Singkatnya, selain mereka yang memang pada dasarnya Sloth, bagi seorang yang setengah-setengah dengan dambaan-dambaan lain dalam dirinya seperti aku, sensasi ini cukup tak tertahankan.

Pasti ini alasannya mengapa tidak banyak orang di luar sana yang mencapai puncak kekuatan mereka hanya dengan tidur saja.

Rasa bosan adalah pembantai Sloth.

I remembered back when there was a Sloth Demon among my subordinates. He was an exceedingly weak Demon, but that stands to reason. The more they move, the more Sloth’s power declines. Being enlisted in the army pretty much means there was no helping his powers dropping to such a low level.

Aku ingat saat ada seorang Iblis Sloth di antara bawahanku dulu. Dia adalah seorang Iblis yang amat lemah, tapi itu dapat dimaklumi. Semakin banyak mereka bergerak, semakin menurun kekuatan seorang Sloth. Masuk dalam angkatan perang kurang lebih berarti penurunan kekuatannya hingga tingkat yang begitu rendah tak terelakkan lagi.

Dia tidak kehilangan kemampuannya untuk menggunakan Skill, tapi masalahnya adalah kemampuan dasarnya jauh terlalu rendah. Bagi seorang prajurit, itu adalah kelemahan yang fatal.

Sudah begitu, Skill-skill Sloth bahkan tak digunakan untuk menyerang.

Segala macam ketahanan yang dapat kau bayangkan, peningkatan VIT, dan Skill-skill defensif lainnya, juga beberapa skill pasif untuk membuat kau mampu hidup tanpa perlu makan, juga beberapa skill pasif untuk mencegah badanmu menjadi kotor, juga beberapa skill pasif untuk membuat ekskresi tidak diperlukan, dan… bagaimanapun juga, jumlah skill pasif yang ada benar-benar absurd. Kata pasif mendeskripsikan seorang Iblis Sloth dengan sempurna, tapi tak peduli bagaimana kau melihatnya, itu adalah sebuah undangan ke pintu kematian.

Itulah mengapa tidak ada alasan untuk memeluknya, atau alasan untuk menempanya. Apa tujujan Leigie-sama terus memaksa maju dengan Sloth, aku bahkan tak mengerti secercah pun jalan pikirannya.

Tapi setidaknya aku cukup yakin bahwa para Penguasa Iblis lain menuruni jalan mereka pada kecepatan yang meninggalkan Sloth tertutup debu.

Dan… aku bosan.

Dengan tak melakukan apapun selain menggeliat di atas matras seperti ini, aku berakhir mengingat hal-hal yang tak perlu. Aku mulai merasa inferior.

Seperti, apakah aku benar-benar baik saja dengan ini?

Sesuatu yang seperti awan menjelajahi kedalaman hatiku tanpa mendapatkan hasil.

Apa yang berguna pada saat-saat seperti ini adalah Skillskill Invidia-ku.

Envy.

Itu adalah Dosa Asal yang paling umum dipeluk oleh para Iblis di Dunia Iblis.

Batin yang mendapati kecemburuan pada orang lain, bagi Iblis dan Manusia, adalah sesuatu yang siapapun pernah rasakan setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Nasib baik, dan tragedi, dan bakat, dan kekuatan, dan harta, dan ketenaran.

Bahkan dalam dunia tandus ini, target iri hati benar-benar melimpah.

Envy adalah dosa yang berkebalikan dengan Pride, dan keserbagunaannya adalah sesuatu yang tak ditemukan dalam Skill Tree lain.

Well, I put a lot out there, but to say it simply… it’s optimum for killing time.

Well, aku mengusahakannya dengan cukup keras, tapi singkatnya… itu karena itu optimal untuk mengisi waktu.

Sambil berbaring di ranjang kamarku, aku mengaktifkan sebuah Skill.

Envy Vision

Medan pandangku kabur dalam sekejap dan berubah.

Ini adalah sebuah Skill untuk mengamati mereka yang kau Envy. Tergantung pada waktu dan tempatnya, ini adalah Skill evasif yang mampu menunjukkan kekuatan yang cukup hebat. Ini hanya bisa menarget target Envy-mu, dan batasan itu cukup parah, tapi bagi aku yang sekarang, tak begitu penting siapa yang kulihat, jadi itu tidak begitu masalah.

Pertama, sang Jendral yang dulu bernaung di bawah bendera Legiun Leigie yang sama, seorang Iblis Avaritia, sang Perampas, Deije Breindac. Mari kita intip dia.

Sudah cukup lama sejak kepergian Deije, tapi kurasa itu belum terlalu lama juga. Walau mungkin sepihak, aku bisa sering melihat sosoknya.

Tanpa mengambil jabatan di angkatan perang lain, setelah mengundurkan diri, Deije telah mengembara kesana kemari ke seluruh penjuru negeri.

Hanya ada sedikit Iblis Kelas Jendral. Itulah mengapa tak peduli angkatan perang mana yang dia layani, dia seharusnya disambut dengan senang hati. Meski begitu, tanpa mengambil jabatan resmi, dia mencari pemenuhan dambaannya, menjelajahi negeri asing. Pada jalan hidupnya, aku sedikit iri.

Kelihatannya dia bahkan mendapatkan seorang pendamping. Seorang Iblis yang sepantaran denganku. Seorang dengan rambut dan mata kelabu.

Membandingkan tubuh rampingnya dengan tubuh Deije bagaikan membandingkan serpihan kayu dengan sebuah pohon, tapi kekuatan yang kurasakan dari tubuhnya sudah pasti tidaklah kecil.

“… Betapa bagusnya.”

Dibandingkan dengan itu, bagaimana denganku?

Sudah berapa bulan sejak terakhir kali aku merasakan udara luar? Aku bahkan tidak bisa mengingatnya.

Sejak mendapatkan Sloth, aku belum melakukan apapun selain berbaring di atas ranjang dan menghabiskan waktuku dengan bermalas-malasan.

Jika kau menanyakan pertumbuhanku, aku tumbuh, jadi aku tidak begitu bisa mengatakan apapun tentang itu, tapi pertumbuhan itu terbatas pada kekuatanku sebagai seorang Iblis, dan selain itu, tidak ada yang  berubah sama sekali.

Memikirkannya terlalu dalam akan menurunkan semangatku, jadi aku mengubah jalan pikiranku.

Aku menjulurkan telingaku untuk menguping percakapan Deije dan si pendamping yang sepertinya bernama Zeta.

“… Malaikat.”

Aku belum pernah benar-benar bertemu satu sebelumnya, tapi aku telah mendengar rumor tentangnya. Nama itu milik musuh alami para Iblis yang tinggal di atas Surga, dan merupakan eksistensi yang berkebalikan dengan para Iblis.

Perang yang pecah sekitar sepuluh ribu tahun lalu tampaknya telah melahirkan korban yang lumayan di kedua belah pihak, dan Iblis-Iblis yang lebih tua jarang membicarakannya.

Akhir-akhir ini, fakta bahwa lebih banyak assassin surga yang turun telah menjadi buah bibir, dan aku telah mendengarnya.

Kelihatannya Deije mengejar mereka. Aku tak tahu alasannya, dan bahkan jika aku mendengar alasannya, aku ragu aku akan mengerti. Hasrat Deije lebih kuat dari hasratku, kemungkinan seperti itu.

Jika dia mengatakan kebenaran, maka akankah sesuatu yang sedang terjadi di Dunia Iblis itu membuka jalannya hingga kesini?

… Yeah, kemungkinan tidak.

Setelah berpikir sejenak, aku akhirnya menjawab pertanyaanku sendiri.

Leigie-sama kuat. Dia tak bergerak sama sekali, namun dia luar biasa kuat.

Bahkan jika sesuatu itu mengincar lehernya, mereka akan segera menyerah. Mereka akan paham bagaimana perbuatan itu tidak ada artinya, dan bagaimana jika kekuatan mereka dijumlahkan pun tidak akan pernah cukup.

Aku mengubah posisiku, dan membenamkan wajahku ke bantal.

Terlepas dari apa yang dia katakan, Lorna membersihkan kamarku juga, jadi tidak ada halangan bagiku untuk bermalas-malasan.

Tanpa menggeser tubuhku, aku beralih ke target selanjutnya.

Apa yang memasuki mataku adalah sesosok gadis dengan mata berkaca-kaca dan gigi yang digertakkan, melihat ke arahku.

Dia sedang mencoba membentuk senyuman di mulutnya, tapi bahkan dengan sekali lirik saja kau bisa bilang seberapa sesaknya wajahnya.

Sosoknya dapat dideskripsikan sebagai versi yang lebih kecil dan muda dari Lorna dengan dada yang sedikit kisut. Dia memiliki wajah dan perawakan yang memang cukup menawan.

Nama si gadis yang, jika kau menyapu bersih senyum penuh niatan busuk yang selalu menghiasi wajahnya, akan tampak persis seperti Lorna, adalah Hiero.

Adik perempuan Lorna dan Iblis yang ditugaskan untuk mengurus Leigie setelah Lorna tiada.

Tapi dia bukanlah target Envy-ku.

Targetku adalah yang berdiri dengan tenang di sisi Hiero.

Seperti Leigie, Iblis ini membanggakan rambut dan matanya yang hitam seakan dihiasi kegelapan.

Tapi hawa yang tergantung di sekitarnya adalah kebalikan dari sang penguasa malas.

Sang Iblis yang eksistensinya belaka selalu memancarkan aura yang memaksa segala makhluk untuk berlutut adalah seorang Penguasa Iblis yang menguasai Superbia.

Di saat yang sama, dulu dia adalah atasanku, dan setelah menjadi Penguasa, dia dengan mudahnya meremukkan sistem peringkat, dan mengambil alih posisi Peringkat Satu di antara para Penguasa Iblis.

Sang Kaisar Angkuh, Heard Lauder.

Pada titik ini, dia adalah seorang Penguasa Pride yang dikenal oleh siapapun juga, dan dengan sorot mata merendahkannya yang terpaku pada Hiero, dia mengangkat lengannya hingga mendatar.

Ke arah sebuah area yang kosong, dia dengan enteng menurunkan lengannya.

… Dan hanya dengan itu, tanahnya membelah.

Tanpa menggunakan sebuah Skill, tekanan dari satu serangan itu telah merobek tanah hingga terbelah. Bumi bergetar tertahan, dan kerikil-kerikil hitam bergulir ke segala arah.

Tapi dengan satu kata dari Heard, mereka semua terhenti.

Heard menggunakan dagunya untuk menunjukkan bencana alam yang telah dia timbulkan sendiri. Bahkan selama melakukan gerakan itu, tatapannya terus menusuk Hiero.

Dengan ekspresi murung, si gadis menunjuk dirinya sendiri sembari memiringkan kepalanya dalam rangka berusaha tampak imut.

Heard mengabaikan godaan itu sepenuhnya, dan memberikan sebuah perintah.

『Lakukan.』

“Pu… tidaktidaktidak, itu mustahil.”

Aku tertawa tanpa sengaja.

Apa sih Hiero di mata Heard Lauder?

Dia adalah orang biasa tanpa latar belakang pengabdian militer. Bagi seorang rakyat sipil, dia bisa dianggap kuat, tapi sebagai seorang Iblis Pride, dirinya hanya sebatas itu saja.

Aku tidak akan bilang dia tidak memiliki bakat. Sifatnya yang seperti sampah sangatlah cocok dengan sifat seorang Iblis, dan pada waktunya nanti, dia kemungkinan akan menjadi kuat.

Tapi sekarang sudah tentu bukanlah waktunya.

Terlebih lagi, untuk membelah tanah dengan tangan kosong tanpa menggunakan sebuah Skill, siapa gerangan dirimu…?

Aku tidak berpikir sebagian besar Penguasa Iblis akan mampu untuk melakukannya.

Itu adalah titik terjauh yang hanya dapat dicapai oleh seorang Iblis Pride yang terus menerus mengasah tubuhnya.

Aku telah mendengar bagaimana Heard telah menyeret Hiero dari Lorna.

Perhaps he felt something from a fellow Pride Demon, but it seems she was persevering in being beaten into shape.

Mungkin Heard merasakan sesuatu dari dia yang sesama Iblis Pride, tapi kelihatannya dia bertahan dengan gigih selagi dihajar, dipaksa agar menjadi kuat.

Tidak, dia memang bertahan, tapi… yep. Turut berduka cita.

Itu mustahil, bukan?

Pertama, ketebalan lengan Heard dan lengannya benar-benar berbeda. Meski memang benar kekuatan seorang Iblis dan penampilannya tidaklah proporsional, ada sesuatu yang disebut batas. Hiero sama lemah lembutnya dengan Lorna. Kekuatannya kemungkinan bukanlah sesuatu yang dia asah untuk digunakan dalam pertarungan.

『T-tidak… mustahil. Itu mustahil bagiku…』

『Lakukan.』

『Tidak, maksudku, kekuatanku….』

『Lakukan.』

『……』

Di sisi lain, kelihatannya Heard tidak berniat mendengarkan kata-kata Hiero. Well, itu memang dapat diduga dari seorang Iblis Pride, tapi…

Hiero menurunkan pandangannya dari mata Heard, dan dengan air mata kekalahan terbentuk di sudut-sudut matanya, dia perlahan mengangkat tangannya.

Aku tak tega melihat adegan itu lebih lama lagi dan mengembalikan penglihatanku ke penglihatanku sendiri.

Di atas ranjang. Kebalikan dari tanah tandus tempat Hiero berdiri, berbaring dalam dunia sunyiku. Aku meregangkan tubuhku.

Aku mengingat kembali adegan-adegan yang baru kusaksikan, melakukan perhitungan, dan karena tidak ada orang di sekitarku, aku menggelengkan kepalaku.

“Tidak, tidak… itu mustahil…”

Aku benar-benar penasaran apa yang ada di pikiran Heard… itu… keterlaluan. Bahkan bagiku, itu benar-benar mustahil dilakukan.

Aku teringat akan bagaimana, dengan senyuman lembut di wajahnya, Lorna telah memberitahuku bagaimana Heard membawa Hiero pergi untuk latihan. Aku penasaran apakah dia membenci saudaranya… tidak, itu sudah pasti salah. Meski begini begitu, saat masalahnya tidak ada hubungannya dengan Leigie-sama, dia adalah seorang wanita berkepala dingin.

Tapi meski kejadiannya begitu, adegan yang tadi… adalah penyiksaan. Dia akan ambruk sebelum apapun terlatih.

Dan tunggu, bagaimana tentang kemampuan rumah tangganya… aku mendapat kesan dia akan mengambil alih tugas setelah Lorna…

Kelihatannya tujuannya telah benar-benar bergeser…

Ini cukup melelahkan…

Aku menghela nafas, tapi aku masih terus menggunakan Skill untuk targetku selanjutnya.

Medan pandangku bergeser untuk ketiga kalinya. Kali ini, ini buat si kakak perempuan yang baik hati.

Sosok pelayan menyusuri sebuah lorong yang tidak asing memasuki mataku.

Bahkan saat tidak ada yang melihat, dia memasang sikap dengan sopan santun yang meluap-luap, dan bahkan saat dia hanya berjalan saja, sosoknya dapat menjadi sebuah lukisan elok. Dia mengenakan celemek putih bersih di atas terusan biru dongker. Selain terfokus pada kepraktisan, pakaiannya membuatnya terlihat jauh lebih manis.

Sosoknya rapi dan layak, dan meski aku tidak bisa mengatakan dengan pasti, dia tidak terlihat cocok bagi seorang pembawa dosa Luxuria.

Tapi aku tahu. Benar, di bawah ekspresi naif nan polos itu, aku tahu persis seberapa keruhnya nafsu yang bersemayam di sana. Gairahnya yang diperhitungkan dengan baik membuatnya mampu meningkatkan statusnya sebagai seorang Iblis tanpa membiarkan satu hal pun menodai dirinya.

Sejujurnya, dia adalah orang yang paling aku takuti.

Di masa lalu, aku berkesempatan bertemu dengan sang Penguasa Iblis Lust, Lilith Luxeliaheart sekali, dan dengan meng-Envy sebagian dari dirinya, aku bisa mengerti.

Dosa Asal Luxuria tidak memiliki satupun Skill ofensif langsung seperti Pride atau Gluttony, tapi itu sama sekali tidak lemah. Jalan hidupnya, bisa dibilang, mendekati Sloth.

Tapi jika Acedia seperti tanaman, maka Luxuria adalah tanaman karnivora. Bagi mereka, medan perang bukanlah suatu padang tandus berlumuran darah, tapi sebuah… kamar tidur yang ternoda. Pertarungan mereka bukanlah adu pukulan, tapi untuk meledak dan mekar sepenuhnya.

Di dalamnya, ada rasa takut yang telah tertimbun di dalam diriku mencair tanpa sepengetahuanku. Dan Luxeliaheart, sang Penguasa Iblis, adalah seorang Penguasa kuat yang telah membawa sejumlah Penguasa Iblis lain pada kematian mereka.

Itu, bisa dibilang, adalah kekuatan yang paling ditakuti bagi seorang prajurit.

Aku mengembalikan mataku, dan di bawah selimut, aku membiarkan tubuhku bergetar akibat ketakutan yang datang dari kedalaman hatiku seraya berbisik.

“… Lorna… betapa wanita yang menakutkan…”

“… Dan apa maksudmu dengan itu…?”

“…!?”

Aku menarik selimut yang membungkus tubuhku. Di baliknya, adalah si pelayan yang telah kuintip dan kufantasikan.

Fakta bahwa aku terhanyut dalam pikiranku, dan berhenti menonton, telah berbalik menyerangku.

Wajah kebingungan yang ia buat– di bawah kedok itu, aku merasa seakan aku dicicipi oleh lidah ular yang terjulur-julur, dan karena ilusi itu, aku mengeluarkan jeritan pendek.

“Betapa tak sopannya…”

“Kku… h-ha… hah…”

Menjadi sulit untuk bernafas untuk sesaat, tapi entah bagaimana aku mampu melakukannya. Tidak akan lucu apabila aku mati kehabisan nafas di atas kasur.

Dan terlepas dari semua itu… Lorna masih mengurus makananku dan pembersihan kamarku. Itulah mengapa tak terhindarkan baginya untuk berada di sini.

Seorang Iblis Sloth tidak berhak untuk menolak. Maksudku, kami bahkan tidak melakukan apapun untuk mendapatkannya.

“Sekarang, Medea. Waktunya makan…”

“Y… ya…”

Rasa lapar belum melandaku. Itu karena rasa laparku telah diredakan oleh Skill-skill-ku. Jika aku terus menuruni tree ini, maka mungkin makanan itu sendiri akan menjadi tidak diperlukan. Karena itu merepotkan, mungkin.

Tapi mustahil aku sampai ke sana dalam waktu dekat, dan bahkan saat aku mencapai titik itu, aku mungkin masih akan makan. Akan sulit untuk menghilangkan kebiasaan yang begitu penting seperti itu.

Aku menekan jantungku yang masih meledak-ledak dalam dadaku, dan entah bagaimana mengangkat tubuhku sulit digerakkan sebelum melanjutkan ke meja makan yang telah disiapkan.

Sebelum datang kesini, aku belum pernah makan hidangan yang layak, jadi bagiku, masakan Lorna adalah citarasa rumah.

Bahkan tanpa rasa lapar, mustahil aku akan berpikir masakannya tidak enak.

Dalam diam, Lorna berdiri di sisiku.

Tanpa mengatakan apapun, dia mengawasi aku yang tengah memasukkan makanan ke dalam mulutku. Jika dia menatapku dengan begitu tajam, aku tidak akan bisa menikmati makanannya.

Aku selesai makan, dan seakan menanti saat aku menaruh alat makan perakku, Lorna akhirnya membuka mulutnya.

“… Hey, Medea.”

“Ya?”

Untuk sesaat, aku melihat sekilas keraguannya. Tapi itu menghilang dengan cepat, dan setelah meyakinkan dirinya, dia melempar pandangan teguh ke arahku.

“Tidakkah kau pikir sudah waktunya untuk mulai bekerja…”

“… Y-ya.”

Kedua mata itu dipenuhi kesedihan yang begitu mendalam hingga hatiku mulai merasakan sakit yang berdenyut-denyut.

Apa-apaan serangan mental ini… Skill-skill-ku tak mau mempertahankan diriku darinya…

Suaranya masih tak ternoda. Tidak ada emosi Wrath atau Pride di baliknya.

Dan itulah mengapa itu bisa menusuk menembus hatiku seperti pedang.

“Medea, tak peduli seberapa lama kau tidur, kau tak akan pernah menjadi Leigie-sama… kau harus memiliki caramu sendiri untuk menjalani kehidupanmu.”

“… Y-ya…”

Aku… Aku merasa ingin melarikan diri. Ketulusannya memberikanku dorongan tak tertahankan untuk melarikan diri ini. Dan itu hanya semakin diperkuat oleh fakta bahwa dia adalah penyelamat hidupku.

Dan kata-kata itu tidak mengenai akar permasalahannya. Aku tidak ingin menjadi Leigie-sama atau apapun… terlebih lagi, aku yakin aku tak ingin melakukannya.

Aku bukan ingin menjadi orangnya, tapi aku ingin menjadi…

Setelah berpikir sejauh itu, aku mulai memeriksa dosa-dosa yang kubawa sekali lagi.

… Mustahil. Aku penasaran apakah ada sekrup yang lepas entah dimana pada hasrat Envy-ku.

Ditambah lagi, aku telah mulai membawa Sloth karena hal itu, dan rasanya aku sedang didesak dari segala sisi.

Jika kau membawa lebih dari satu Dosa, maka tiap Skill individu menjadi lebih sulit untuk ditingkatkan. Ini hanya rumor, tapi kecepatannya menjadi kurang dari setengah kecepatan aslinya. Karena itu, sulit bagi Iblis dengan lebih dari satu Dosa untuk menjadi kuat.

Juga, bagaimana seharusnya aku menangani pasangan Sloth dan Envy…

Dan tunggu, pertama…

“… Tempat ini bahkan tidak butuh angkatan perang lagi…”

Benar. Kamp Leigie-sama tak lagi butuh pertumpahan darah. Tidak ada musuh, dan tidak ada angkatan perang. Jika kau harus mengatakannya, aku adalah satu-satunya anggota angkatan perangnya.

Jika kau menyuruhku untuk bekerja di tempat seperti ini, sejujurnya itu merepotkan.

Benar. Bukan aku tak mau bekerja. Aku tak punya tempat untuk bekerja.

“Tak apa.”

Dan padaku, Lorna mengarahkan senyuman seperti Bunda Maria, dan mengatakan sesuatu yang pantas untuk seorang Iblis.

“Aku akan mencoba membuat Angkatan Perang Heard membiarkanmu membantu pekerjaan mereka, jadi…”

“Aku tidur. Met malam.”

“Wai…”

Aku mengabaikan teriakan-teriakan Lorna, dan menenggelamkan diriku di ranjang.

Mungkin orang yang paling kacau kepalanya adalah Lorna. Dia tidak memikirkan satu hal pun selain Leigie-sama.

Yang muncul di kepalaku adalah sosok seorang yang kuintip beberapa saat lalu, Hiero, yang dipaksa melakukan begitu banyak hal mustahil.2

Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya