DnO 3 – Nafsu Luxuria

The Lazy King Chapter 3: Nafsu Luxuria

Part 1: Seorang Penguasa Iblis Lust Berkata, Pada Suatu Hari

Seorang Penguasa Iblis Lust berkata, pada suatu hari,

“Bahkan tanpa pesona yang tegas, kau masih bisa memenuhi hasratmu.
Jika itu hanya tentang memuaskan hasratmu, maka tidak ada halangan.”

Berkata begitu, dia tidak memakan apa yang seharusnya dia makan, dan sambil terus menjadi semakin kurus dan lemah, dia membelai kepalaku.
Penampilannya yang menyegarkan dan kharismanya yang menawan cukup untuk membuat seorang perempuan sepertiku menaruh perasaan tertentu. Dia cukup cantik untuk memaksa seseorang ke dalam kebejatan, dan seraya merenungkan tentang bagaimana ini adalah kecantikan sataniah yang sebenarnya, aku tidak bisa menghindari perasaan iri terhadapnya.
Mungkin dia adalah satu – satunya 『Luxuria』 yang aku pernah taruh pandanganku padanya, dan aku ingin dia melihatku sebagai seorang 『Luxuria』 juga. Dia adalah wanita yang terlampau manis, kelam, dan fana.

Penguasa Iblis itu sudah lama tumbang, tapi ajarannya hidup di dalam diriku, dan aku hidup dengannya sebagai dasarku.
Nafsu dikatakan sebagai yang tersulit dipuaskan di antara Dosa Asal lainnya.
Iblis tidaklah mudah terpesona.

Kekayaan materi untuk Greed, Kehormatan untuk Pride,
Nafsu makan untuk Gluttony, dan Envy dan Wrath berada dalam arah yang berbeda.
Sloth punya dunianya sendiri, dan dia  bahkan tidak akan mengingat namaku.

Dan sebagai Iblis Level Tinggi, semakin kuat seorang Iblis, semakin mereka mengejar dahaga mereka, dan semakin mereka ternodai oleh emosi – emosi itu. Begitu mereka mencapai Level Penguasa Iblis, semua emosi selain itu adalah tidak lebih dari potongan – potongan kertas murahan yang berserakan di sana – sini. Mereka hampir tidak tersisa.

Saat ini, musuh terbesarku bukan seseorang seperti Penguasa Iblis dari Kerakusan, tapi sang Penguasa Iblis pasukanku sendiri.
Sudah berapa dekade, berapa abad aku telah berpihak padanya? Setidaknya, dia seharusnya bisa ingat namaku.
Apakah dosa bagiku untuk berpikir seperti itu?

Aku benci Deije dari Keserakahan. Tapi aku mengakui keahlian bertarungnya.
Si Pride dan aku tidak pernah berpikir untuk mengambil inisiatif dan melancarkan serbuan sendiri. Aku bisa menambahkan bahwa Leigie-sama tidak punya sentimen seperti itu juga, jadi untuk Deije, yang mencari equipment kuat sebagai kompensasi, dia terus menjadi aset yang berguna untuk pasukan Leigie-sama.

Untuknya, yang mempunyai mimpi membawanya langsung ke pertempuran, dia adalah satu – satunya yang mau pergi dalam penyerangan dalam pasukan kami.

Aku sekedar iri padanya.
Bahkan aku… punya hal – hal yang kudambakan. Aku hanya tidak pernah mengejarnya secara langsung.
Itu adalah sesuatu yang aku tidak bisa apa – apakan dengan atribut yang kukuasai.

Aku berhasil membuat kontak dengan pihak musuh dalam beberapa detik.
Meski begini, aku adalah seorang Iblis Kelas Tinggi. Aku sering diberitahu bahwa aku kecil, atau tidak ramah, atau bahwa aku kurang memiliki daya tarik, tapi itu tidak ada hubungannya dengan pertarungan. Dengan langkah dari seorang Iblis Kelas Tinggi, aku menjejak tanah, dan menindas tanah yang sunyi di bawah kakiku, sebelum berkontakan dengan Legiun Gluttony yang tadinya beberapa kilometer jauhnya.
Lebih dari seratus diriku terlihat, tapi tetap saja, pasukan Gluttony sejauh beberapa ratus meter tidak menunjukkan tanda – tanda menyadari kehadiran kami.

Sebagian besar dari Skill Tree Luxuria berhubungan dengan skill yang mencemari pikiran.

Mereka berkisar dari mantra pesona yang tipikal sampai membuat ilusi sesuai kehendak penggunanya, dan bahkan ada beberapa untuk membuat orang lain tertidur.
Meski begitu, mereka tidak begitu cocok untuk digunakan pada Iblis.
Salah satu skill pertama yang didapat seorang Iblis di Skill Tree dasar adalah sebuah skill pasif yang menolak pencemaran mental. Selain Malaikat dan Iblis, ras lain jarang memilikinya, tapi diantara keduanya, cukup langka untuk menemukan seseorang tanpa skill itu.

Karena itu, Iblis Luxuria dipandang rendah. Skill Tree Luxuria, dari yang dasar sampai ke level yang lebih tinggi, bisa ditiadakan secara keseluruhan dengan salah satu skill dari tree dasar.
Dalam kasus terburuk, kami dipanggil penggoda tak berguna, dan aku telah membasmi mereka semua yang melihatku dengan pandangan bias semacam itu. Mereka tidak menunjukkan ketertarikan padaku saat itu terjadi, tapi sebagai lelucon, mereka mencoba menodai kehormatanku, memicu amarahku, bahkan saat aku tidak berkuasa atas salah satu dari bidang itu.

Pada umumnya, atribut Lust tidak ada hubungannya dengan itu. Mereka membuat kesalahpahaman yang fatal.
Bukannya… aku kekurangan daya tarik seksual, dan bukannya aku kekurangan pesona. Rambutku, dan kulitku, dan bahkan pakaianku, aku merawat mereka semua, dan aku mencoba sekuat tenaga untuk membuat ekspresiku secerah dan sepenuh kasih sayang mungkin.
Kecilnya perawakanku bukanlah kesalahanku. Itu karena aku tidak mendapat cukup nutrisi di masa kecilku. Saat aku mulai memerhatikannya, aku mencoba mendapatkan sebanyak mungkin nutrisi untuk tubuhku, tapi semua sudah terlambat.

Tapi aku tidak bisa menyalahkan takdir.

Tidak apa. Ini bukan ucapan favoritku, tapi mereka tidak begitu berarti.
Bukannya aku… ingin menjadi seseorang yang menyulut hasrat seksual dari semua orang, atau bahwa aku ingin miliki semua orang.

Sebagian besar legiun Zebul sang Pelahap terdiri atas Iblis dengan Gluttony sebagai dosa asal mereka.
Tree itu berspesialisasi dalam menyerang area yang luas. Itu adalah skill tree yang kekuatan serangannya hanya terkalahkan oleh Wrath.

Tapi itu tak ada gunanya jika tidak kena.
Fakta bahwa semua orang memiliki resistensi terhadap Pencemaran Mental berarti mereka hanya punya sedikit cara untuk mengatasinya setelah resistensi mereka diatasi.

Pada khususnya, Skill Lust 『Phantom Aliquot Dance』 bukan skill ilusi semata.
Masing – masing dan setiap ruang pandang ilusiku dikirim langsung ke kepalaku.

Di baris terdepan pasukannya, seorang Iblis akhirnya menangkap penglihatan atas sosokku yang berkelip dan menghentikan langkahnya.

Kekuatan yang kurasakan dari wujudnya tidaklah rendah. Pasukan Zebul cukup kuat.

Pasukan Gluttony adalah sekawanan Iblis yang ganjil. Hampir tidak ada dari mereka yang memiliki bentuk manusia. Watak kebinatangan yang bengis itu… lolongan kebinatangan bergema ke seluruh padang pasir seakan mengekspresikan nafsu makan mereka.

Sihir yang kurasakan dari masing – masing dan setiap dari mereka sedikit lebih tinggi dari mereka dari pasukan sang Tingkat Ketiga, tapi tidak jauh bedanya. Orang – orang ini tidak lagi memiliki masa depan. Mereka pergi menentang sang Raja Iblis Agung Kanon, dan sekarang mereka telah menumbangkan dua Penguasa Iblis, mereka telah membakar jembatan mereka untuk kembali. Mereka bahkan tidak akan bisa melewatinya dengan kemenangan tipis. Kecuali mereka memiliki keuntungan telak, mereka tidak akan bisa bertahan berbentrokan dengan kelima belas Penguasa Iblis lain di bawah Kanon.

Menurut apa yang kudengar, alasan sang Pelahap memulai revolusinya adalah kekurangan pangan.
Hanya ada sedikit cadangan makanan di alam Dunia Iblis. Tidak, dari sudut pandang seorang Iblis biasa, ada banyak makanan di sana – sini, tapi dengan Atribut Gluttony membuat volume yang diperlukan berlipat ganda. Semakin banyak mereka makan, semakin banyak kekuatan yang bisa mereka dapatkan. Seperti kekuatan Lust yang bertambah seiring bertambah intimnya interaksi yang dimiliki seseorang. Seperti kekuatan Envy yang bertambah seiring bertambahnya dambaan seseorang atas kepunyaan orang lain.

Sang Iblis yang menyadari kehadiran kami mengaktifkan sebuah Skill Gluttony.
Gelombang hitam dari sihirnya menyebar darinya dalam sekejap dan menelanku.

Begitu… sebuah Skill Gluttony. Betapa mengerikan.
Sihir di sekitar tubuhku tertembus oleh taring dan tercabik – cabik. Sihir dari kemampuan Penguat Tubuh yang telah kugunakan dilenyapkan secara paksa, dikonversi kembali ke sihir murni, dan terserap pergi.

Ini adalah… sebuah skill untuk memakan kekuatan orang lain dan menggunakannya sebagai milikmu sendiri.
Sepertinya dia tidak tahu di mana tubuh asliku berada, jadi dia berusaha menyerang kami semua secara bersamaan. Cakupan kemampuannya memiliki afinitas yang buruk dengan skill – skill Lustku.
Aku sudah tahu sejak awal, tapi ini akan merepotkan.

Itulah mengapa aku pergi duluan. Aku, salah satu dari hanya tiga Jenderal dari pasukan Leigie-sama.
Tidak peduli seberapa buruk afinitasnya, tidak peduli seberapa tidak cocoknya aku untuk pertarungan, kau tidak bisa menggulingkan selisih kemampuan kami.

Nafsuku menarik matanya, dan mereka menjadi terpengaruh untuk sesaat. Dia meremehkanku.
Tapi dia hanya berhenti bergerak untuk sekejap saja, dan 『Gluttony』 mewarnai matanya sekali lagi. Orang – orang ini bahkan akan memakan mereka dari ras yang sama. Tidak, aku tidak bermaksud secara seksual, maksudku secara fisik. Itulah mengapa aku membenci mereka. Tidak, bukannya aku ingin dimakan secara seksual atau apapun…

Cakar – cakar yang terjulur dari jarinya datang ke wajahku tanpa belas kasihan. Sebelum darahku bisa terhambur, aku menggunakan tanganku untuk mencongkel tenggorokannya. Yang pertama sudah jatuh. Tanpa menengok ke belakang untuk melihatnya jatuh ke tanah, aku terus menjejak tanah.

Jika mungkin, aku ingin menggunakan skillku, tapi selama mereka diblok oleh resistensi, aku hanya punya pertempuran tangan kosong. Tapi itu lebih dari cukup.

Taring – taring yang dikirim dari belakang menembus perutku, dan seperti itu, satu ilusiku dimakan habis. Darah yang menari di udara kosong segera lenyap.
Salah satu dari ruang pandangku menghilang. Tapi sesuatu seperti itu tidak akan memberikan damage apapun padaku.
Serangan langsungku bekerja, bahkan pada Iblis Gluttony. Ini adalah pertarungan fisikku yang pertama setelah sekian lama, tapi kelihatannya baik – baik saja. Aku bisa melakukannya.

Deije adalah pria yang menjengkelkan, tapi dia memang memiliki mata untuk perang. Dia punya bagian – bagian vulgar, tapi aku tidak bisa meremehkan kekuatan yang membuatnya mendapatkan posisi memerintah dalam 10 tahun saja.

Peran yang diberikan kepada seseorang yang bisa mengontrol kelima indra tentunya tidak membinasakan pasukan mereka.

Peranku adalah untuk memastikan kekuatan sang Penguasa Iblis. Bahkan jika tidak ada yang mengatakannya, aku bisa memahami sebanyak itu.
Zebul sang Pelahap. Aku harus menggunakan tubuhku untuk menangani salah satu dari skill Demon Lord kelas atas yang telah kami dengar dan melihat kekuatannya. Dan tugas itu sempurna untuk pengguna ilusi sepertiku. Bahkan Brigade Ketiga milik Deije yang berspesialisasi pada penyerangan dan mobilitas akan mendapati jumlah mereka berkurang dalam sekejap bila mereka menghadapinya tanpa persiapan.
Bahkan jika kau mengkategorikannya sebagai Penguasa, dia seharusnya memiliki beberapa perbedaan. Kekuatan serangan, daya tahan, kelincahan, kecacatan karakter, kemampuan yang terspesialisasi. Aku tidak meragukan bahwa Zebul kuat, tapi ada kebutuhan buatku untuk menentukan kecenderungannya dengan darah dagingku.

Pada saat itu, seluruh pasukan Zebul berhenti.
Tubuhku terguncang. Rasanya seakan seluruh tubuhku telah tertusuk dan termakan.

Di tengah berdiri sebuah bayangan seukuran bukit besar. Itulah sumber dari rasa merinding ini.
Sebuah kehadiran yang menghisap tubuh dan pikiran secara perlahan dan menghancurkan kesombongan seseorang.
Aku memiliki firasat bahwa segalanya dan apapun akan hancur dan tersapu pergi.

Ini adalah perasaan yang aku belum pernah rasakan sebelumnya dalam tahun – tahun pelayananku.
Kejut itu membuat tanganku berhenti sesaat.

Ini tidak mungkin… ini…

Saat pikiranku berhenti bekerja, ilusiku lenyap.
Tapi apa yang seharusnya kupikirkan bukanlah itu.
Pertarungan antara Penguasa Iblis adalah perebutan wilayah.
Saat ini, hasil dari kekuatan yang bertarung sudah ditentukan.

“Wilayah milik Leigie-sama telah dimakan…!?”

“… Oy, oy, dari mana kau muncul, cewek…”

Deije mengeluarkan suara terkejut saat aku terpaku di depannya.
Tak apa. Area yang terpisah sejauh beberapa kilometer ini masih belum terpengaruh.
Tubuhku yang lain semuanya hancur dan diserap tanpa setitik bekas pun. Saat aku berbalik untuk berlari, hal – hal seperti tentakel menjerat kakiku, jadi aku melemparkan diriku sendiri ke udara. Pada titik itu, bola, yang hitam dan seperti roti, mengikuti dan melepaskan tentakel yang tak terhitung ke arahku. Itu adalah penglihatan terakhir yang kudapat dari tubuhku yang lain. Tanpa daya untuk memberontak, ilusi – ilusiku lenyap seperti cahaya saat mereka menyentuh massa bayangan hitam itu.

Kekuatan macam apa. Aku bahkan tidak sempat memperdayainya.
Kekuatan Kelas Jendralku tak akan bisa menembus sampai ke sana.

Benar – benar seorang Iblis yang melampaui keiblisan. Seorang monster yang telah mencapai puncak dari dosa asal… ini adalah Penguasa Iblis level tinggi.
Kupikir aku telah tahu, tapi ini… terlalu banyak. Aku bahkan tidak bisa bilang skill apa yang dia gunakan. Tidak, bahkan bila aku tahu, aku ragu aku akan bisa menghindar.
Stat dasar kami sudah terpaut terlalu jauh. Level dambaan kami terpisah terlalu jauh.

Salah satu tiruanku telah mencoba menanamkan tinjunya ke punggung Zebul. Saat kupikir dia telah menembusnya, tiruan itu hanya tertelan ke badannya bulat – bulat. Dia mencoba memberontak, tapi dia dicerna dalam sekejap, dan kesadaranku akan dia terpotong.
Bahkan jika aku mencoba untuk menilai situasinya, bahkan bila itu hanya tiruan, aku tidak pernah berpikir seorang Penguasa Iblis sanggup membunuh seorang Jendral semudah itu.
Watak bengis murninya membuatnya bisa menggilas seluruh ilusi Nafsuku tanpa menaruh pikiran sama sekali.
Dia boleh saja seorang pendatang baru, tapi dia telah menelan dua Penguasa Iblis lain. Inilah hasilnya.

“Deije, gawat… dia kuat…”

“… Well, well, well, bukankah itu sudah jelas? Musuhnya adalah… seorang Penguasa Iblis Tingkat Tinggi. Dia datang dengan niatan penuh untuk membunuh boss Leigie…”

Deije dengan ahli memanipulasi keenam tangannya sambil menghela nafas.
Sungguh pria yang menjengkelkan. Tapi itu benar – benar tepat.

Namun, kekuatan Zebul… abnormal. Sudah ratusan tahun sejak pertama kali aku menghirup kehidupan, tapi dia telah melampaui segala yang telah kulihat sebelumnya.
Aku tidak bisa melihat cara apapun untuk menang. Itulah kesan yang kudapatkan setelah bertautan pedang dengannya.
Haruskah kami mundur dan mengatur ulang pasukan kami?

“Haruskah kita mengatur ulang persiapan kita?”

“Tidak, tidak, kalau begini, pasukanku akan binasa. Kita tidak punya pilihan selain bertarung.”

Deije tersenyum sambil mengangkat Pedang Iblis di tangan kanannya ke atas kepalanya.
Pedang Iblis Celeste. Sebuah pedang yang dijiwai nyala api, dinamakan sesuai naga api legendaris yang ia tumbangkan.
Sebuah hadiah dari sang Raja Iblis Agung ke seorang Penguasa Iblis, salah satu pedang terbaik, dipamerkan secara mencolok.

Part 2: Kita Tidak Boleh Kalah

Cahaya merah panas memenuhi dunia.

Pedang Iblis Celeste.

Itu adalah pedang yang memiliki atribut api.
Rankingnya sebagai sebuah senjata adalah SSS. Selain naga, itu adalah sebuah pedang yang dikatakan pernah membakar Malaikat level tinggi sampai mati,
Setelah disimpan di dalam gudang Sang Raja Iblis Agung selama bertahun – tahun, kini senjata itu memamerkan kekuatannya sekali lagi.

Pedang Iblis Level Tinggi tidak hanya bisa digunakan sebagai pedang.

“Ki ki ki, sesuai dugaan, ini adalah sihir yang mengagumkan…”

Tertawa dalam suara menyebalkannya, Deije membuka segel kekuatan pedang itu.
Biasanya, senjata level ini berada dalam tangan seorang Penguasa Iblis. Seharusnya ini terlalu sulit untuk ditangani seorang Jendral, tapi Deije kelihatannya bisa mengarahkan sihir dengan jumlah yang tidak masuk akal itu ke arah pasukan musuh tanpa banyak masalah.
Kurasa perawakan besarnya bukan hanya untuk gaya.

Benar – benar orang yang menyebalkan…
Naga berapi yang timbul dari pedang itu melewati Brigade Ketiga dengan lincah, belum sempat melahap pasukan musuh yang berjarak sejauh beberapa kilometer.
Cahaya hitam terpancar dari pasukan mereka.

『Surge of Starvation』

Sebuah skill yang Rakus dari Gluttony.
Gelombang kekuatan itu berbentrokan dengan api sang Pedang Iblis.

Sihir yang sangat lapar yang terlihat ingin melahap apapun dan segalanya bertarung dengan kobaran api yang begitu kuat sehingga aku bahkan tidak dapat memahaminya.
Saat meminjam kekuatan pedang itu, Deije benar – benar sanggup menyaingi kekuatan si Zebul itu.
Dia menjilat bibir tebalnya secara menjengkelkan.

“Saat meminjam kekuatan dari Celeste, kita hampir setara… sesuai yang diharapkan dari seorang Penguasa Iblis… kekuatan itu, aku menginginkannya.”

Akar dari Dosa Asal dikatakan adalah keinginan.
Aku ingin uang. Aku ingin barang. Aku ingin makan makanan lezat. Aku ingin seks. Aku tidak mau bekerja. Aku memandang rendah orang lain. Aku ingin membuat mereka semua berlutut.
Dan keinginanku dan Deije bisa diringkas sebagai kecemburuan terhadap orang lain.
Pada akhirnya, mencuri adalah, pada dasarnya, sifat dasar seorang iblis. Mengumpulkan sesuatu lebih banyak dari orang lain di negeri dengan sumber daya terbatas.

Deije menggenggam pedang yang memancarkan cahaya dengan empat tangannya. Ekspresinya terhadap kekuatan bengis yang dilepasnya meninggalkan sebuah senyuman heroik.
Panasnya membuat tangannya memerah, tapi tidak ada tanda – tanda darinya mengurangi genggamannya sedikit pun.
“Ki ki ki, kita benar – benar hanya punya serangan jarak jauh, kurasa. Jika aku mendekat, kurasa aku akan dimakan habis. Aku sedikit tidak cocok dengan Gluttony sebagai musuhku…”

“… Tapi kita tidak boleh kalah.”

“Tentu saja. Jika kita kalah setelah dua Jendral diutus ke sini… si Heard itu akan membawa kita ke neraka sebelum Boss bahkan mendengarnya.”

Aku menyentuh pedang dalam genggamannya.
Itu adalah panas yang cukup hebat untuk membakar jiwa dan raga.
Oleh sebuah skill, Friendly Fire, damage dari pasukan kawan ditiadakan, jadi aku tidak terluka. Tapi bahkan tanpa menerima damage, kekuatannya yang dahsyat membuatku merasa iri.

Iblis tangan kanan Deije, Libell, membuat wajah suram.

“Fumu… Skill Gluttony 『Surge of Starvation』 memakan kekuatan apapun yang dilemparkan padanya. Deije, jika kau tidak menyudahi ini sesegera mungkin, ia akan menyedot seluruh sihir Celeste, kau tahu?”

“Aku tahu. Ki ki ki, kompetisi… ini adalah permainan. Betapa tak berguna. Kekuatan sihir Celeste memang benar – benar mengerikan. Tapi ini tidak cukup untuk memuaskan hasratku! Bila kita menaklukkan Penguasa Iblis musuh saja, maka kita akan bisa meraih kemenangan dengan mudah!”

Saat melihat nyala api yang menaklukan segalanya, pasukan kami menghentikan langkah mereka. Bahkan jika mereka tidak menerima damage apapun, mereka tidak punya keberanian untuk masuk ke dalam api.
Tidak, saat ini, perang ini menjadi satu lawan satu antara sang Penguasa Iblis dan Celeste. Satu langkah lagi ke depan, dan tampak nyata bahwa mereka akan terlahap oleh Zebul. Demikianlah seberapa jauh dahaga yang dipancarkan oleh aura Gulanya.
Anak buahnya juga berhenti.

“Ki ki ki, tapi aku sedikit kekurangan tangan. Aku tidak bisa mendesaknya. Tidak ada cara lain, aku akan menggunakan boneka itu…”

Aku mengalihkan pandanganku ke arah boneka tengkorak yang terdiri atas tulang keperakan yang berdiri di belakangnya.

“… Tidak perlu. Aku akan melakukannya.”

Deije tampak terkejut seraya menatapku. Apakah seaneh itu?
Anehkah untuk seorang Luxuria mengatakan hal – hal semacam itu?

Afinitas kami adalah yang terburuk. Aku mengakuinya. Tapi itu tidak bisa menjadi akhir dari semuanya. Kami tidak punya waktu untuk mempedulikan sesuatu seperti itu.
Kalau begini, Deije akan mengambil semua penghargaannya.

Aku menutup mataku dan mengekstrak kekuatan dari seluruh tubuhku. Aku menguras kekuatan dari jantung iblisku, inti jiwaku. Perangi api dengan api. Aku menginginkan api neraka untuk menelan segalanya.
Segalanya, bakar akar kelaparan sampai ke tanah dan hapuskan itu dari dunia ini.

Dan aku memanifestasikan 『Pedang』ku sendiri.

“… Oy, oy, lelucon macam apa ini…”

“… Apa aku terlihat sedang bercanda?”

Aku mengangkat pedang di tangan kananku.
Itu adalah pedang lurus cantik dengan bilah berapi – api. Pedang yang kubuat dengan hampir seluruh sihir di tubuhku pada dasarnya kalah dari Celeste, tapi itu masih pantas untuk digenggam seorang Penguasa Iblis.

“Apakah itu juga… sebuah skill Lust!? Apa – apaan… apa yang kau lakukan!?”

“Lihat dan saksikan kekuatan Luxuria, biadab.”

Aku mengayunkan pedang itu.
Kekuatan membadai keluar darinya, dan kilatan merah mewarnai dunia.
Sejumlah panas yang sangat besar merayap naik ke lenganku.
Pedang Iblis memerlukan suatu bentuk kompensasi. Jadi Celeste memiliki sebuah umpan balik semacam ini pada penggunanya!?
Api neraka membungkus tanganku sebagai sebuah aliran api mengalir pergi untuk bercampur dengan naga Deije.

Rasanya seperti tubuhku tercabik – cabik. Oleh api. Kepalaku berputar – putar.
Tapi Deije, yang seharusnya menerima jumlah rasa sakit yang sama berdiri dengan tenang. Aku tidak boleh menjadi satu – satunya yang menunjukkan rasa sakit.

Bahkan aku… seorang komandan. Salah satu pemimpin dari Pasukan Leigie-sama.
Lenganku terpanggang oleh cahaya yang menyilaukan dan mulai memancarkan bau yang amat busuk. Lepuh mulai menutupi kulit putihku, tapi itu dengan cepat menghilang, digantikan oleh luka bakar yang tak sedap dipandang.
Aku menggertakkan gigiku, dan mencoba sekuat tenaga untuk menahan rasa sakitnya, seraya mengarahkan pandanganku ke depan.
Aku meneruskan untuk mengarahkan apiku ke arah api Deije, dan cahaya darinya menyala lebih terang. Cukup terang sampai aku tidak bisa membuka mataku.
Pada saat itu, jahanam itu sudah pasti telah membuat kekuatan sang Penguasa Iblis kewalahan. Gelombang api turun ke arah Pasukan sang Penguasa Iblis.

“… Aku tidak begitu paham, tapi kau tidak buruk, cewek. Ki ki ki, tapi aku…”

Deije mengeluarkan tawa jahat. Keenam matanya berkilat dengan kilauan aneh.

“… akan mendapat lebih banyak lagi kekuatan.”

Saat ia mengatakan itu, intensitas apinya bertambah secara meledak – ledak.

Ini… sebuah Skill Greed?

Kekuatan hitam yang menggelora yang telah terdesak saat api kami bercampur seketika terhembus pergi dengan skill yang digunakan Deije.
Gelombang merah cahaya menelan pasukan Gluttony, dan menyebar luas ke segala arah.
Lingkaran – lingkaran cahaya menghujani area beberapa kilometer jauhnya tanpa henti, tapi ledakannya menjangkau sampai ke sini.
Itu adalah balasan yang mengerikan.

“Ki ki ki, ini adalah kekuatan Celeste… kurasa fakta bahwa itu terbuat dari api surgawi yang membakar seorang penguasa kaum iblis ke kematiannya bukanlah kebohongan.”

Suara Deije penuh dengan kegirangan.

Kekuatan macam apa. Itu adalah senjata yang berbahaya. Apalagi, kekuatannya yang mendesak seorang Penguasa Iblis diperkuat lebih jauh dengan sebuah skill dari Greed.

Leigie-sama… mainan ini terlalu berbahaya untuk berada dalam tangan Deije.
Gelombang panas yang intens melalui padang pasir Dunia Iblis, dan rambutku menari liar di belakangku.

Tapi senyuman Deije segera lenyap dari wajahnya.

“Oy, oy… apakah ini sungguhan…”

“… Tidak mungkin. Mustahil seorang Penguasa Iblis normal bisa bertahan darinya…”

Libell membuat ekspresi terkejut seraya menghadap tanah tandus di kejauhan… jarak antara kami tidak lagi berarti.

Sebuah benda hitam menggeliat. Tidak ada tanda – tanda dari pasukan yang telah mengerumuni wilayah itu.
Dengan panas selevel itu, mereka mungkin telah musnah bahkan tanpa tersisa jiwa mereka.

Benda itu bergetar hebat, sebelum ia mulai menyusut.
Brigade Ketiga yang telah berhenti hanya beberapa ratus meter jauhnya dari itu mengangkat suara mereka.

Udaranya berubah.
Tidak hanya di sekitar Zebul. Bahkan wilayah di mana aku berdiri juga terpengaruh.
Hitam kelam yang jelas berubah menjadi kegelapan berat layaknya rawa.
Menyadarinya, Deije mengangkat suaranya dalam kekagetan.

“… Boss Leigie… kalah… katamu!?”

Itu adalah perasaan darinya meng-overwrite 『Abyss Field』.
Bukti bahwa kami telah terlempar ke dalam wilayah musuh. Kekuatan dalam tubuhku benar – benar telah berkurang secara nyata, dan sihirku menurun.

Abyss zone adalah sebuah skill yang lebih efektif semakin dekat dirimu ke Penguasa Iblismu, selama kau berada dalam wilayah mereka.
Seharusnya mustahil untuk seorang Penguasa Iblis dengan tingkat yang lebih tinggi untuk mendapati Zonenya direbut oleh seorang yang lebih rendah semudah itu.

Namun, sampai sekarang, zona Leigie adalah zona yang tidak pernah dilanggar, tidak peduli seberapa hebat peperangannya.

“… Biarkan aku beristirahat. Seorang Penguasa Iblis yang dapat menahan pembaptisan itu oleh apiku!? Bukankah itu Kelas L…”

“… Deije, apa kau mampu menggunakan skill yang tadi itu lagi?”

“Kau bercanda? Itu bahkan tidak bekerja saat kita ada dalam Zona Boss. Mustahil itu akan berefek dalam zona miliknya.”

Mata Deije dalam kepanikan seraya melihat sekitarnya.
Dia benar. Abyss Zone meningkatkan kemampuan pasukan yang bersekutu. Peningkatannya tidak pada level yang dapat diabaikan.

“Seberapa besar sih zona yang sudah dimakan!? Libell!”

“… Sebagian yang cukup besar! Luasnya berada di luar jangkauan persepsiku!”

Sebuah kebencian yang bisa kurasakan dengan wujudku sendiri.
Aura yang kental dan lapar.

Satu – satunya yang tersisa adalah sang Penguasa Iblis? Kelihatannya tidak ada orang lain yang tersisa berdiri di sekitarnya, tapi itu bahkan bukanlah suatu pelipur pada titik ini.
Gumpalan hitam yang menyusut mulai berubah wujud.
Dari gumpalan seperti lendir yang tidak jelas menjadi… wujud Manusia.

“Zebul Glaucus… Dia dengan rasa lapar yang tak bisa terpuaskan… dia yang akan menelan segalanya, Raja Pelahap, bukan begitu…”

Aku bisa melihatnya.
Binatang Gelap yang merangsek di dunia, mengurai segala di jalannya.

Wujud manusia yang diambilnya jauh lebih kecil dari ekspektasiku. Itu bahkan lebih kecil dariku.
Dibandingkan dengan Deije, yang bertinggi lebih dari dua meter, kukira – kira dia sekitar empat kepala lebih pendek.
Ke mana semua massa itu pergi?
Seakan sebuah lubang telah dibuka di ruang, mantel yang dikenakannya menyedot semua cahaya, hanya meninggalkan ruang hitam.
Perasaan menindas yang dikeluarkannya membuat kilometer – kilometer di antara kami terasa tidak berarti.
Itu adalah sesuatu yang tak kurasakan saat mendekatinya sebelumnya, itu, sampai aku berada di sampingnya.

“Ki ki ki, betapa menarik… Dia memakan Zona Boss dengan momentum yang mengagumkan…”

Kau masih sempat tertawa? Keberanian Deije harus dipuji.
Otot pectoralisnya yang menonjol membesar lebih jauh lagi, dan ia mengangkat suara garang.

“Kalian! Buat apa kalian bengong!? Musuh kita adalah si Penguasa Iblis saja! Maju!”

Udara bergetar.
Mendengar teguran Deije, Brigade Ketiga yang tadinya berhenti berlari maju dengan keras.
Kekuatan mereka layaknya sebuah Tsunami. Bahkan setelah melihat kekuatan sang Penguasa Iblis, bahkan setelah zonanya direbut, mereka tidak mundur.

“Cewek, bahkan jika kau memiliki kekuatan, kau tidak punya keberanian. Aku berani taruhan kau punya banyak hal dalam pikiranmu, tapi untuk mereka para orang biasa di bawah sana, jika kita menyerah dalam pertarungan, itulah akhirnya, bukan? Ki ki ki, kau belum cukup kuat untuk bisa tidur di medan perang.”

“… Itu benar.”

Tapi kalau begini, pembinasaan kami tak terhindarkan lagi.
Kata – kata Deije boleh saja tepat, tapi itu juga merupakan sebuah hukuman mati untuk anak buahnya.
Bahkan jika itu Brigade Ketiga, setimbun Iblis Biasa tidak akan bisa mengulur waktu sebanyak itu. Karena aku telah melawannya sendiri, aku bisa bilang begitu.

Tentakel – tentakel menonjol dari jubahnya, menusuk para Iblis di garis depan tanpa belas kasihan.
Tanpa waktu untuk sekedar menjerit, mereka terwarna hitam polos, dan diserap.
Tetapi massa sang Penguasa Iblis tidak bertambah sedikitpun.

Bagaimana kau mengharapkanku untuk mengalahkan seorang musuh seperti itu…!?
Tentakel – tentakel menitik yang tak terhitung jumlahnya menonjol dari sekujur tubuhnya.
Dia melepaskan tudung yang menutupi wajahnya.

“Yang satu itu… seorang Wanita…! Bukankah penampilannya cukup mirip denganmu, cewek?”

Rambut hijau gelap yang hampir hitam dalam bayangan, dan mata berwarna sama. Dari paras wajahnya, dia bahkan tidak melihat pasukan tepat di depannya.
Penampilan seorang Iblis tidaklah relevan.
Tidak, semakin menenangkan penampilan seseorang, semakin berbahayalah mereka. Karena itu tak lain adalah senjata lain.

Penampilan Zebul terlihat lembut tanpa isyarat Gluttony yang dikuasainya.
Aku tidak yakin apa yang ada di pikirannya, karena ia berkuasa atas iblis di sekitarnya.

Setidaknya kita memiliki keuntungan jumlah. Dari titik buta sang Penguasa Iblis–Aku bertanya – tanya apakah hal semacam itu ada–anyway, dari belakang, sebuah tombak ditusukkan ke sang Penguasa.
Itu pasti telah menembus jubahnya, tapi seperti itu, itu terus disedot ke dalamnya. Dia telah melepaskannya tepat pada waktunya, jadi sang penggunanya terhindarkan dari nasib yang sama. Dia menghindari tentakel – tentakel yang mengejarnya dengan sebuah langkah mundur, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa ia tetap tak bersenjata.
Dalam celah yang tercipta, iblis lain menyebarkan sejumlah bola api, dan melontarkannya ke arah sang Penguasa Iblis. Tapi bahkan itu juga tertelan masuk, dan semua yang tersisa adalah keheningan.
Zebul menjilat lidahnya dengan lapar.

“… Itu tidak adil. Apakah Gluttony memiliki skill semacam itu?”

Ekspresi Libell pucat, tapi suaranya datar seraya menjawab.

“Itu adalah skill Gluttony level menengah. Sebuah perut tanpa ujung yang menyedot apapun dan segalanya. … Tapi aslinya, itu seharusnya tidak bisa menyedot serangan semua orang tanpa pandang bulu seperti itu.”

“Jadi itu adalah perbedaan dalam pemurniannya… Ki ki ki, inilah mengapa orang yang sampai di puncak begitu… Jangan – jangan serangan Celeste tadi juga disedot masuk ke dalamnya juga?”

“Aku ragu itu mampu menelan sesuatu selevel itu… Kurasa. Tapi jika kau mencegah skill level menengahnya, aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang level tinggi miliknya akan lakukan…”

Sang Penguasa Iblis tidak memiliki ekspresi khusus pada wajahnya seraya melihat sekelilingnya.
Deije memiliki ekspresi yang tak menyenangkan dan bibirnya melengkung. Dia dengan enggan meraih pedangnya.
Dengan sebuah pedang saja, Kupikir aku bisa mengalahkan seorang Iblis level lebih tinggi dengan empat Pedang Iblis level normal. Tapi sekarang saat ia sesiap ini, aku tidak bisa melihat kesempatan menang sedikitpun.

“Tai, mata kami barusan bertemu…”

“Akankah kau lari?”

“Jangan bodoh, melawan seorang Penguasa Iblis tingkat tinggi… mustahil aku bisa melarikan diri. Ki ki ki, siapkan dirimu, Libell Aejens. Pikirkan kembali ke Perang Hitam dan Putih. Dibandingkan dengan itu… kita masih lebih baik, kan? Kita hanya melawan satu.”

Pada kata – kata resolusi Deije, Libell menghela nafas panjang.

“… Well, well, apa boleh buat. Aku telah menyerahkan nyawaku sekali… Deije, aku bahkan tidak iri terhadap ketetapan hatimu sekarang.”

“Ki ki ki, kau serius seperti biasanya. Aku hanya sedikit… lebih serakah dari kebanyakan orang.”

… Apa boleh buat. Aku akan meyakinkan diriku sendiri juga.
Meskipun ini boleh saja sebuah tiruan yang kuciptakan, Pedang Iblis di tanganku hampir tidak memiliki sisa Sihir. Paling banter, skill yang bisa kugunakan sekarang adalah Level Dasar.
CQC[1] tidaklah dalam wilayah Lust, tapi aku mencabut belati yang menggantung dari sabukku.
Itu adalah sesuatu yang diwasiatkan Leigie-sama padaku. Tentu saja, itu kalah jauh dari Celeste, tapi itu tetap saja sebuah Pednag Iblis. Setidaknya itu akan mengulur waktu meski hanya sekejap buatku.

“Cewek, kau boleh lari, kau tahu? Kau hampir tidak memiliki sisa sihir lagi, kan?”

“Lari? Apa itu sebuah lelucon?”

Kenapa aku harus… aku, yang diutus oleh Leigie-sama menelantarkan tugasku saat krisis menyerang?
Bahkan seorang tentara bayaran seperti Deije tidak mempertimbangkan lari dari situasi yang membuat putus asa ini.
Deije mengedipkan matanya seakan dia telah menyaksikan sesuatu yang misterius.

“Hmm… tapi bagaimana pun kau melihatnya, sebuah belati tidak akan bisa melakukannya. Bisakah kau menggunakan sebuah pedang?”

“… Sebisa orang disebelah.”

“Ki ki ki, maka jadilah begitu. Aku akan meminjamimu… salah satu dari pedang – pedangku. Bunga dari transaksi ini adalah belati itu. Hanya jika kita kembali hidup – hidup, itu saja.”

Bunga?
Seberapa jauh sih keserakahannya? Aku tertawa di luar kehendakku.
Untuknya untuk membuat perjanjian bisnis saat hidup kami dipertaruhkan…

“Hah… apa yang kau katakan di waktu seperti ini? Greed memang benar – benar sesuatu.”

“Ki ki ki, saat ada kesempatan untuk mendapatkan sesuatu, kau hanya perlu mengambilnya… maksudku, ada terlalu banyak hal yang kuinginkan di dunia ini.”

“Dan yang terpenting dari semuanya adalah nyawa, bukan begitu?”

“Tentu saja, jadi aku berencana menaruh tanganku pada itu suatu hari nanti juga.”

Pedang yang dilambungkan Deije terbungkus dalam aura yang membekukan.
Itu bukan Celeste, tapi kurasakan kekuatan di dalamnya lebih dari apa yang seorang Iblis kelas Jendral pantas terima.
Memelototi sang Penguasa yang melemparkan tentaranya yang ia latih kesana kemari seperti potongan – potongan kertas, Deije berkata.

“Meski aku tidak punya niatan untuk mati.”

“Begitu juga aku.”

Itu benar, kita tidak boleh kalah. Tidak dengan penyesalan sebanyak itu tertinggal.

Part 3: Aku Tidak Bisa Paham

“Oy, kalian memanggil diri kalian Brigade Ketiga!? Berapa lama waktu yang akan kalian sia – siakan pada seorang Iblis!?”

Dengan kalimat yang seperti pemicu death flag, Deije menyerbu ke garis depan.
Seribu orang pasukan sudah, oleh perbuatan seorang Penguasa Iblis, berkurang setengah dari jumlahnya.
Aku tidak yakin apakah ini mengagumkan atau tidak bahwa setengah dari mereka bertahan hidup. Tapi dari sudut pandang strategis, pertarungan ini sudah menjadi kekalahan telak untuk kami.

Tentu saja, pasukan musuh hanya punya satu orang yang tersisa.

Celeste di tangan Deije mengeluarkan panas lagi, sambil ia mengangkatnya, dan mengayunkannya ke arah tanah.
Gelombang udara panas keluar, membuat sebuah awan debu.
Deije membuka mulut besarnya, dan tertawa.

“Ki ki ki, jadi kau akan menghindari sebuah serangan langsung seperti itu.”

“… Pemimpin musuh.”

Suara Zebul ternyata lebih serak, dan terdengar lebih intelektual dari ekspektasiku.
Dia menghunus sebuah pedang berbentuk bulan sabit berwarna putih-gading, dan mulai menyerang. Itu adalah tindakan langsung pertama yang Penguasa Iblis itu ambil.
Meski tubuh Deije terlatih dengan baik, dengan bantuan dari tambahan kekuatan dari wilayah, sang Penguasa Iblis mengalahkannya jauh. Lengannya terus menerus terpotong saat ia mencoba mengeluarkan kekuatan. Badan pedangnya mengeluarkan panas yang intens ke arah sang Penguasa, tapi ekspresinya tetap sedingin tadi.
Deije menggunakan salah satu lengannya yang tersisa untuk mengayunkan pedang kearahnya, tapi tentakel – tentakel yang memanjang dari punggungnya menembaknya jatuh.
Bahkan dengan enam lengan, dia hanya memiliki satu tubuh. Dibandingkan dengan Penguasa Iblis ini dengan tentakel dengan jumlah yang tampaknya tak terhingga, keadaan buruknya tampak seperti sekedar permainan anak – anak.

“Kemampuan yang bagus.”

“Ki ki ki, suatu kehormatan untuk dipuji olehmu!!”

Pedang Iblisnya meledak berapi – api, dan apinya menjilat wajah Zebul.
Kilatan merah tertembak ke arah pedang putihnya. Api menyebar turun ke pedang berkilau anehnya, tapi meskipun sakit untuk diterima, sang Penguasa Iblis dengan tenang menerima serangan itu. Seakan – akan ia telah membaca seluruh gerakan kami.

Tapi kami juga telah mengantisipasinya. Tidak seperti kami yakin bahwa serangan pertama akan menentukannya.

Deije telah menyerang secara langsung.
Di celah yang dibuatnya, aku menundukkan tubuhku, dan menebas Zebul juga.

Tidak ada pola pada gerakan tentakelnya, tapi mereka tidak lebih cepat dari persepsiku. Aku menggunakan belati di tangan kiriku untuk membereskan mereka, dan pedang es di tangan kananku untuk menyelesaikannya.
Untuk sekejap, tubuhnya meliuk hebat.
Pedangnya mengayun menebas udara kosong, dan matanya berbelok ke arahku.
Pandangannya panas. Mereka menyerupai mata milik sang Penguasa Iblis Lust yang memeluk gairahnya, dan Deije, yang menggenggam Pedang Iblisnya ke depan.

Tapi mata itu lebih penuh dosa. Aku hanya mampu merasa terpukul mundur.
Karena Zebul berkuasa atas Gluttony, emosi yang dia rasakan seharusnya…

“Dua dari mereka… sedikit kecil, tapi mereka tampak cukup lezat.”

… Nafsu makannya.

Dia memiliki keinginan yang kuat untuk memakan kami, yang satu ras dengannya. Ketakutan menjalar naik ke tubuhku, dan tanganku menjadi kaku.
Ada banyak iblis yang berkuasa atas Gluttony di luar sana, tapi di antara mereka, hanya beberapa yang sudah mempraktekkan kanibalisme.

Sang Pelahap, Zebul Glaucus.

Negeri itu sendiri, iblis lain, dan bahkan Penguasa Iblis ada di atas piringnya. Dia yang rasa laparnya cukup hebat untuk memandunya menjadi seorang Penguasa Iblis.
Sebuah tentakel menembus punggungku dan dada kiriku… itu menusuk Inti Jiwaku. Sihirku, jaringan dari tubuhku terkupas pergi.

“Fumu… rasa yang ringan… sebuah ilusi… rasa ini, jadi kau adalah seorang Lust-kun…”

Tiruanku yang terakhir akhirnya sirna. Phantom Aliquot Dance berakhir.
Dengan ini, aku telah dikurangi hingga menjadi seorang diri saja.

Tapi aku sudah berbuat cukup.

“Ki ki ki, tidak buruk, cewek!”

Di saat aku mendapatkan perhatiannya, Deije melancarkan serangannya.
Dia mengayunkan Celeste ke punggungnya yang kosong… di depan Pedang Iblis yang dikatakan bahkan telah menghancurkan malaikat, Zebul sekedar memalingkan kepalanya, dan membuka mulutnya lebar – lebar.
Taring yang berbaris rapi, menghiasi mulut yang mengisi seluruh wajahnya. Dengan urutan apa aku tak tahu, tapi sebuah respon yang tenang sekali datang dari balik tenggorokannya.

“Sebuah Pedang Iblis… belum pernah memakan satu sebelumnya. Bisa jadi sebuah makanan yang lezat.”

“Apa!?”

Pedang yang diayunkan turun oleh tangan kuatnya terhenti oleh mulutnya. Baja merah itu tertembus oleh taringnya.
Api mencoba menggilas habis giginya, tapi karena sebagian besar kekuatannya sudah dilahap,
Zebul tidak menunjukkan setitik pun derita di wajahnya. Giginya membuat suara asahan saat ia mulai mengunyah pedang itu.
Deije mencoba menariknya kembali, tapi tidak ada tanda – tanda itu dilepaskan dari mulutnya.
Tetapi, fakta bahwa dia sedang memakan pedang itu berarti tubuh utamanya tidak bisa lagi bergerak.

Deije menurunkan pedang lain dengan tangan kiri atasnya.
Zebul menangkisnya dengan pedangnya sendiri, dan menguncinya.

Kesempatan!
Aku merendahkan tubuhku, dan melesat ke arahnya sebelum menusukkan pedangku ke arah punggungnya yang kini tak berdaya.
Tapi lalu, aku mendengar suara kepuasan yang tak terduga.

“Tubuh utamamu… sihir itu terlihat cukup lezat.”

Punggungnya tercabik membuka, dan cairan kental hitam menodai mantelnya.
Itu adalah mulut yang besar. Setiap dan masing – masing dari taringnya yang berbaris kira – kira sepanjang belatiku.
Aku dengan panik menarik belatiku, tapi lidah panjang yang melesat keluar mengikutiku.
Dengan anatomi yang mustahil, ia membelitkan dirinya mengelilingi belati itu. Atmosfer dingin di sekitarnya membekukan lidahnya, tapi tanpa mempedulikannya sama sekali, dia tetap menariknya dengan kekuatan yang mengagumkan.

“Fufufu, teksturnya tidak buruk…”

Suaranya bersemangat.
Dia tidak menunjukkan perubahan emosi bahkan saat dihadapkan dengan iblis – iblis yang mengayunkan pedang ke arahnya.
Keinginannya tidak masuk akal dalamnya sehingga aku tidak yakin itu dapat disimpulkan sebagai nafsu makan.

“Ku, monster!”

Deije mengeluarkan pedang lain, dan mengayunkannya dengan tangan kiri-tengahnya, dan Zebul menangkapnya dengan tangannya yang bebas.
Tidak, itu bukan tangan. Di telapaknya… mulut lain muncul.
Taring – taring itu dengan mudah menggigit tembus badan pedang. Meski itu seharusnya sebuah Pedang Iblis, sebuah gigitan saja menyebabkan serpihan logam yang tak terhitung berhamburan.
Lidah dari mulut tangannya melingkar untuk memastikan tidak ada serpihan yang lolos, sebelum melilit di sekeliling pedang yang rusak.

Dengan timing itu, tanpa memedulikan tangan Deije.

“… Kau punya sesuatu yang bagus di sini. Itu Lezat. Konsistensi, dan rasanya… tidak buruk sama sekali.”

Gagang yang dilepaskannya menghilang ke dalam mulutnya.
Untuk menikmati rasanya, mulut tangannya mengunyah itu tanpa tergesa – gesa.
Matanya terwarnai dengan kebahagiaan yang hebat.

“Yang satu ini… koleksiku…”

“Fufufu, jadi kau adalah seorang Greed-kun. Aku merasa perutku akan terpuaskan untuk pertama kalinya dalam beberapa saat ini.”

Kekuatan lidah yang sedang kulawan akhirnya merenggut pedangku dariku.
Aku merasa kasihan untuk Deije, tapi aku melangkah mundur untuk mengambil jarak.
Mulutnya mengunyah pedang itu berkeping – keping. Suara asahan yang keluar seakan – akan pedang itu sendiri sedang menjerit.
Melihatnya, Deije mengeluarkan jeritan yang menjengkelkan.

“O-oy, cewek! Jangan biarkan dia memakannya begitu saja! Itu milikku, tahu!”

“A-apa boleh buat!”

Lidah Zebul terus melayang di udara sambil mencari mangsa baru.
Alih – alih aku, itu mengincar Deije yang lebih dekat.
Sebelum aku bisa berteriak untuk memperingatkannya, lidahnya dipukul jatuh oleh sebuah pedang yang besar.

“… Apa kau ini?”

“…”

Sebuah tengkorak raksasa… Slaughter Doll Leigie-sama mengayunkan tangannya yang kini selebar tiang besi.
Sebuah pedang yang jauh lebih besar dari Zebul tertanam ke tanah.
Tanah robek di bawahnya, tapi tangan – tangan sang tengkorak tak berhenti. Itu adalah gerakan yang sudah pasti mustahil untuk seorang Iblis normal. Pedang itu membuat lintasan yang aneh di udara seraya menebas maju.
Lidah dan tentakel – tentakel mencoba untuk membelitnya, tapi momentum yang luar biasa dari sebongkah besi itu menyapu mereka pergi seraya ia datang ke wajannya.
Sang tengkorak tidak memancarkan sebuah kehadiran, dan serangan – serangannya tidak mengeluarkan tanda kehidupan.

“Kerja bagus!”

Deije menggapaikan tangannya ke udara, dan menarik satu lagi pedang dari ruang spesialnya.
Kekuatan fisik sang tengkorak benar – benar mengerikan. Lengannya mungkin melampaui sang tentara bayaran Deije dalam kekuatan.
Ekspresi Zebul terlihat panik, dan ia melepaskan Celeste seraya mengambil jarak.

Celeste terbungkus dalam sesuatu seperti lendir, dan retakan – retakan menjalar di permukaannya.

“… Kiranya apa itu… itu bukan seorang Iblis, ia tidak mempunyai kehadiran.”

“Ki ki ki, ia hanyalah sebuah tempat lilin, tahu! Boss hanya telah menaruh sedikit mantra padanya!”

Sang tengkorak menjawab kehendak Deije, dan mendorong tapak kakinya ke dalam tanah.
Kekuatan eksplosifnya melontarkannya ke depan, dan Zebul menangkisnya dengan sikap sempurna.
Pedang bastard[2] itu dan pedang sang Penguasa Iblis terkunci.
Ayunan – ayunan dari tubuh yang dua kali ukuran tubuh Zebul selincah badai, dan dengan gerakan yang semrawut, ia terus mencoba dan menggilasnya habis.

“… Tidak tampak begitu lezat. Meskipun aku kelihatan begini, tapi aku seorang gourmet[3].”

“…”

Yang benar saja, Pelahap!

Dia menghindari pedang bastard itu dengan mudah, dan memotong maju dengan golok putih gadingnya.
Ia menerima serangan itu dengan bagian atas lengan kirinya. Wilayah sendinya patah, dan sisa lengannya terbang ke langit.
Tapi sang Boneka tidak kelihatan peduli sama sekali, seraya terus mengayunkan pedang di tangan kanannya. Ia membabat ke arah Zebul secara horizontal.

Zebul menghindari serangannya dengan merendahkan tubuhnya ke tanah.
Meski ia tidak memiliki rasa sakit, ia hanya sebuah Boneka. Ia kurang kuat untuk menghadapi seorang Penguasa Iblis.

Itu cukup untuk membuat sebuah kesempatan. Jumlah lengan dan musuh yang Zebul harus konsentrasikan bertambah, dan dia di sana meninggalkan lebih banyak celah.
Tapi itu saja. Tidak ada dari serangan kami yang bahkan bekerja padanya, dan senjata – senjata kami dimakan tanpa kecuali.
Situasinya masih seburuk tadi. Fakta bahwa kami semua masih hidup adalah mendekati keajaiban.
Apalagi, sampai sekarang, Zebul bahkan belum menggunakan satu pun skill langsung.
Kekuatan sihirnya setinggi langit, dan ia belum menggunakan satu pun skill dengan kekuatan yang tinggi.

Zebul menghela nafas yang dalam seraya melompat mundur.

“My, my, bahan makanan yang menjengkelkan… Well, hidangan cenderung terasa lebih lezat jika kau memberinya waktu dan usaha.”

Tentakel yang tak terhitung meledak dari tubuhnya. Kumohon beri kami keringanan.
Jumlah dan ketebalan mereka tak bisa dibandingkan dengan apa yang dia tunjukkan sebelumnya.
Aku mulai meragukan apakah tubuh kecil itu atau tentakel – tentakel itu adalah tubuh aslinya dengan seberapa dalamnya dia terkubur di dalam mereka.
Dari tubuhnya sendiri, hanya ada sebuah mulut yang dapat dilihat di tengah – tengah. Ini mulai menjadi sedikit menjijikkan, dan suaranya tidak berubah sama sekali.

“Iblis dari Greed… kau bisa mendapat kedalaman rasa yang lebih hebat jika kau memakan koleksi mereka terlebih dahulu.”

Suaranya datang tiba – tiba.
Sosok langsingnya meluap – luap dengan kekuatan. Mana yang samar yang telah menggantung di udara tiba – tiba menjadi terpusat.

“Anehnya, Iblis dari Lust memberikan rasa yang teramat manis. Fufufu, aku akan mengajarimu kenikmatan yang terhebat. Tidak apa, kalian semua adalah bahan makanan yang hebat, jadi aku tidak akan memakan kalian seperti Iblis lainnya. Aku akan memakanmu secara pantas.”

Itu… sebenarnya tidak membuatku gembira sama sekali.
Untuk mencabuli sambil makan. Untuk dicabuli sambil dimakan.
Membayangkannya membuat punggungku bergidik.
Bahkan sebagai sesama Iblis, aku tidak bisa memahaminya sedikitpun.
Ini buruk. Aku tidak yakin apa pasti apa yang buruk, tapi jika aku terus membuang waktu, sesuatu yang buruk akan terjadi.
Namun, kakiku tidak mau bergerak. Tekanan yang luar biasa mengikat tubuhku.
Itu adalah sebuah skill Seri Penguasa Iblis. Meskipun sang pengguna tidak dapat bergerak selagi menggunakannya, itu bisa mengikat gerakan orang lain. Itu hanya dapat mengikat makhluk yang lebih rendah daripada penggunanya, tapi itu lebih dari berguna untuk membuat persiapan untuk menggunakan sebuah skill yang besar.
Mungkin Deije sama. Wajahnya kaku seraya ia membuka mulutnya.

“Ini bukan candaan. Apa sih tujuanmu…?”

“Tujuan…? Coba kita lihat, jika aku harus bilang… aku lapar.”

Kata – kata santai yang dikeluarkannya membuatku meragukan telingaku.
Tapi kalimat itu memiliki arti yang jauh lebih dalam dari itu.
Rasa lapar yang tak terbatas… Aku senang. Senang bahwa aku tidak dilahirkan di bawah Gluttony. Tidak, mungkin yang satu ini hanya abnormal.

“Aku pemakan yang agak berat… Di titik tertentu, aku menyadari aku telah selesai memakan seluruh bagianku. Jadi apa boleh buat. Untuk hidup, aku harus makan, dan aku memiliki kewajiban untuk membiarkan rakyatku makan.”

“… Bagaimana dengan orang – orang itu?”

“Aku sudah memakan mereka.”

Orang – orang yang dipinjamkan padanya oleh sang Raja Iblis Agung telah… dimakan?
Zebul bicara seakan dia memberikan penjelasan sederhana.

“Well, mereka adalah barang berkualitas rendah, tapi mereka berhasil memenuhi perutku juga pada akhirnya. Fufufu, kelihatannya anak buahku terpuaskan oleh mereka, tapi buatku rasanya menjijikkan… sejujurnya, pedang Greed-kun itu jauh lebih lezat.”

“…”

Bahkan Deije tidak menduga yang satu itu. Dia tetap diam.
Tidak ada kata untuk dibalaskan setelah diberitahu pedangnya terasa lezat.
Tidak, watak yang dimiliki gadis itu… itu akan selamanya di luar nalarku. Maksudku, bahkan Brigade Kedua punya beberapa Iblis Gluttony, tapi mereka hanya pemakan yang sedikit berat, dan mereka belum pernah melompat sejauh ini keluar batas.

“Well, aku ingin memberimu ketenangan pikiran. Kalian semua akan… tetap hidup di dalamku!”

Tentakel yang tak terhitung terbang ke arahku dengan kecepatan yang tidak bisa dibandingkan dengan serangan yang ia gunakan sebelumnya.
Sesuatu datang.
Kewaspadaan itu adalah satu – satunya hal yang menjaga nyawaku tetap melekat. Saat tentakel – tentakel itu datang, aku secara naluriah menjejak dengan kakiku, yang telah mendapat kembali kemampuan geraknya, dan berguling ke samping.
Setiap dan masing – masing tentakel meneteskan cairan ungu, yang berkilau saat ia tersinari cahaya.
Deije juga paham dia sudah naas, dan alih – alih menghadapinya, ia melompat mundur.

Hanya sang boneka bertangan satu mengayunkan pedangnya untuk menemui tentakel – tentakel itu.
Ia menebas mereka saat mereka menghujaninya dari segala arah.

Tetapi pedangnya ‘terpeleset’.
Pedang raksasa itu membuat suara keras saat itu jatuh.
Tentakel yang telah berhasil mementalkan mundur halangannya membelitkan dirinya di sekeliling tengkorak itu, dan tubuh perak yang seharusnya telah diperkuat oleh sihir Leigie-sama secara harfiah jatuh berkeping – keping.

“Wha…”

Endingnya terlalu tiba – tiba membuat Deije tidak punya pilihan selain menaikkan suaranya.
Peraba – peraba itu menggenggam bagian – bagian tengkorak itu apa adanya dan membawa mereka ke sebuah lubang yang membuka di massa hitam itu.

“… Sesuai dugaanku, itu hanya logam biasa. Itu bahkan bukan sebuah alat sihir atau apapun… apakah itu tadi dikontrol oleh sebuah skill? Itu tidak terlalu menggugah selera, tapi bukannya itu tidak dapat dimakan atau apapun.”

“Sialan, untuk mendapatkannya, apa kau tahu berapa banyak masalah yang telah kuhadapi? Berapa banyak Iblis yang telah kubunuh…!?”

“Fufufu, kelihatannya aku melakukan sesuatu yang tidak termaafkan. Jangan khawatir, kalian berdua akan bertemu di perutku dengan segera.”

Dia memotong tentakel – tentakel ungu yang datang padanya dengan Celeste, dan mengeluarkan air mata kesedihan saat ia menghindari mereka dengan tipis.
Salah satu Anggota Brigade Ketiga tertangkap oleh satu tentakel, dan robek berkeping – keping. Hujan darah tersebar ke udara, sebelum ia dengan cepat terserap ke dalam tentakel itu.

Dia telah dimakan… setiap dan masing – masing tentakel itu… mereka adalah mulut!?

“Bahkan jika itu bukanlah pemimpinnya, bukankah mereka semua cukup lezat? Bagus dan kuat.”

“…”

Tentakel – tentakel yang berkejaran keluar di segala arah, dan aku tidak sanggup melihat mereka.
Jubahku tertusuk tipis, tetapi lubang yang tercipta padanya secara perlahan mulai tumbuh. Aku segera melepaskannya, dan melemparkan diriku untuk menghindari sisanya.
Dia tidak serius. Jika dia serius, kita sudah mati sejak lama.

Tentakel – tentakel yang kuhindari antara menumbuk tanah, atau menembus beberapa Iblis lain dan menyerap mereka. Setiap dan masing – masing waktu itu terjadi, Zebul mengeluarkan jeritan kegirangan.

Kenapa dia tidak serius?
Tidak, itu salah… dia…

Tidak mampu menghindar, selanjutnya sabukku yang tergores.
Itu mulai menggerogoti tubuhku, jadi aku melepasnya.
Lagi, dia tidak mengincarku ketika aku lengah. Dia…

Mereka memanjang ke arahku dari segala sisi. Aku bahkan tidak punya waktu untuk membalas.
Kali ini, plastron besiku tergores. Lagi.
Cairan peraba itu bahkan melelehkan logam itu dengan mudah. Kemungkinan itu adalah benda yang diberi sihir, tapi itu tampaknya tidak berpengaruh.
Aku melepaskan baju zirah itu, dan mengambil jarak.
Dengan serangan dari segala arah, di mana setiap pukulan akan fatal, juga tekanan yang dikeluarkan oleh sang Penguasa Iblis, staminaku ada pada batasnya.

Jangkauan serangnya lebar, dan tiap kali ia melelehkan seorang Anggota Brigade, sihir Zebul terpulihkan.
Tapi di atas lainnya, Penguasa Iblis ini jelas – jelas bermain – main denganku.

“Apa yang kau rencanakan…”

“Fufufu, apakah kau mau mengunyah cangkang saat makan?”

Part 4: Namun Aku Puas

Melihat ke belakang, dari momen aku hidup sebagai seorang iblis, ini adalah pertarungan terburuk yang aku pernah alami.

Bahkan jika kau menghitung saat aku tak berdaya, berkerumun di sudut permukiman kumuh, aku belum pernah mengalami penghinaan sehebat ini.

Sudah satu jam sejak Tentakel – tentakelnya berubah ungu.

Kematian di sekeliling. Jumlah anggota Brigade Ketiga yang tersisa dapat dengan mudah dihitung. Kau bahkan bisa menyebutnya pembinasaan total kami.

Kekuatan sang Penguasa Iblis sangat dahsyat, dan aku berani taruhan tidak ada perbedaan yang besar baginya saat ia menghadapi seorang Jendral atau Iblis biasa.

Tidak banyak tentara yang mencoba kabur, tapi sebagian yang melakukannya langsung ditembak jatuh oleh tentakel – tentakel dari belakang, dan dicerna.

Selain Deije, yang masih memiliki Pedang – Pedang Iblis padanya yang membuatnya bisa menyerang tentakel – tentakel itu, satu – satunya alasan aku masih hidup adalah Zebul kelihatannya belum memiliki niatan untuk membunuhku.

Karena persiapan makanan untukku merupakan meluangkan waktunya.

Dia menjilat lidahnya. Mungkin karena jumlah kami sudah berkurang, jumlah tentakel yang mengelilinginya sudah berkurang, dan wujud manusianya sudah dapat terlihat lagi, tapi itu tidak begitu berarti.

Mereka terlalu cepat untuk kuhindari.

“Fufufu, sesuai yang diharapkan dari Lust… betapa cantiknya kulit yang kau miliki itu. Kau mungkin agak kurang dalam fisikmu, tapi kau kelihatannya akan terasa menakjubkan. Betapa menyenangkan.”

Rasa lapar yang mengambang di matanya membuat isi kepalaku terbakar merah terang.

Pakaian pada tubuhku sudah dilelehkan semua, dan telah menghilang ke dalam perutnya.

Di padang pasir, dengan tak satu hal pun untuk menutupi diriku, dan bahkan  tidak ada kesempatan untukku untuk menutupinya dengan tanganku sambil kabur; pemandangannya hanya dapat disebut menggelikan.

Tubuhku terasa seberat timbal, dan dari olahraga panjangku yang pertama sejak waktu yang lama, aku merasa pusing.

Tapi aku tidak boleh menyerah.

“Tapi ini aneh… untuk seorang Iblis Lust, aroma Lust yang ada padamu terlalu lemah… kau, Closet Pervert[4]?”

Dia melempar kata – kata itu dengan nada bercanda. Kasarnya.

“Ki ki ki, Tepat seperti sentimenku. Aku akan senang melihatmu seperti itu di ranjang dan bukan di tempat seperti ini!”

Dia mengeluarkan kata – kata lancang seraya mencoba menyerang lagi setelah puluhan kali gagal.

Satu – satunya benda yang tersisa yang dia miliki adalah Celeste. Tapi pedangnya masih memiliki kekuatan di dalamnya melampaui sebuah pedang biasa. Api ilahiahnya mewujudkan sebuah pusaran api yang ganas, dan mengirimnya ke arah Zebul.

“Well, well, kau tidak tahu kapan kau harus menyerah… sejujurnya, apinya lezat, tapi mereka tidak mau diam di perutku. Kurasa aku tidak begitu menyukai mereka.”

Tapi bahkan itu tidak berpengaruh. Dalam sebuah gerakan yang telah kulihat tak terhitung berapa kali sekarang, Zebul membuka mulutnya.

Seakan disedot masuk, nyala api itu tertarik ke lubang kecil itu, di mana mereka lenyap.

“… Sial, tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu curang…”

“Fufufu, tidak usah dipikirkan, kalian… jauh lebih kuat dari pada Penguasa Iblis itu yang kumakan dua hari yang lalu. Itu benar – benar pedang yang mengerikan.”

“Ki ki ki, jadi hanya pedangnya saja!”

“Fufufu, dalam sepuluh ribu tahun, mungkin kau akan bisa meraih setidaknya pijakan untuk hasratku, kurasa.”

“… Jadi apa kau memiliki niatan untuk membiarkan kami pergi?”

“Aku terlalu lapar untuk itu!”

Terbungkus tentakel, lagi – lagi Iblis lain tersedot masuk.

Tanah yang disentuh cairan ungu hancur, dan banyak lubang terbuka.

“Oy, Medea…”

“… Apa?”

Deije bicara dengan ekspresi yang disebabkan oleh kelelahan. Pedang – pedang yang dicintainya dimakan, dan matanya dipenuhi kebencian terhadap sang Penguasa Iblis di depannya.

“Kau… berikan aku 『Phantom Aliquot Dance』mu.”

“… Ha? Apa yang kau bicarakan?”

Deije membelalak pada sang Penguasa dengan mata galak. Apakah fakta bahwa dia tidak melancarkan sebuah serangan saat ini karena kesenggangannya?

Skill itu… itu adalah yang melahirkan ilusi dengan wujud fisik, bukan?”

“… Ya, untuk lebih spesifiknya, itu membuat ilusi, dan tubuh aslinya dapat dengan bebas bertukar dengan salah satu dari mereka jika dalam jangkauan.”

Saat kau terbunuh, itu adalah skill yang dapat membuat tubuh aslimu menjadi ilusi. Begitulah kekuatan dari skill yang kau harus memanjat cukup tinggi dalam Skill Tree Luxuria untuk mendapatkannya, 『Phantom Aliquot Dance』. Itu adalah skill yang kuat di mana, sampai salah satu dari mereka diserang, semuanya dapat dianggap tubuh asli. Itulah mengapa resistensi terhadap Pencemaran Mental tidak dapat melihat menembusnya.

“Cukup dekat. Cewek, dengar baik – baik. Saat ini, kita tidak punya cara untuk mengalahkan Zebul. Hanya tipis, jika sebuah kesempatan akan datang, harapan kita bergantung pada pedang ini.”

Ia mengangkat Pedang Iblis yang retak dan tercabik.

Sungguh, serangan dari Celeste adalah satu – satunya yang dapat membuat dia butuh waktu untuk bertahan darinya. Tidak, dia masih memakan mereka, tapi tak ada keraguan bahwa dia harus mengambil suatu aksi. Karena dia melakukannya setiap kali, kalau tidak dia seharusnya menerima damage.

Tapi aku ragu kita akan bisa membereskannya dalam satu serangan.

“Aku akan mengambil 『Phantom Aliquot Dance』mu dengan 『Skill Ruler』ku, dan menggunakannya, aku akan menggoreng bajingan itu dengan Celeste dari segala arah.”

Kata – kata itu adalah sesuatu yang tak bisa kupercaya.

Aku secara tak sadar mengangkat tanganku yang bebas untuk menutupi payudaraku. Mata Deije serius.

“Tidak mungkin… 『Phantom Aliquot Dance』 adalah Skill Kelas SS, tahu? Menggunakannya sambil mengeluarkan kekuatan Celeste adalah… mustahil.”

“Ki ki ki, jadi arti dari semuanya adalah… ini masalah Kekuatan Sihir… meski begitu, jika kita tidak melakukan sesuatu sekarang, kita akan dimakan. Kita akan dirubah menjadi suatu hidangan aneh bin ajaib.”

Dia… benar.

Bahkan jika kita membuang – buang waktu di sini, kekalahan tidak dapat dihindari. Maka tidak buruk untuk membuat taruhan.

Aku memberi anggukan kecil.

“Fufufu, sudahkah kalian menyelesaikan diskusi kalian? Rasa laparku hampir ada pada batasnya, teman – teman.”

“Ya… Ki ki ki, kami akan memanggangmu hidup – hidup.”

Aku meraih tangan yang Deije ulurkan padaku.

Pada detik aku menyentuhnya, sebuah skill dari Tree Greed, 『Skill Ruler』 diaktifkan.

『Skill Ruler』adalah, sesuai namanya, sebuah Skill Greed yang mencuri Skill orang lain. Itu adalah skill yang paling terkenal di tree itu.

Ada banyak persyaratan kompleks yang harus dicapai, jadi kau tidak bisa memenuhi mereka di medan perang untuk mengambil skill musuh, tapi kau masih bisa memanipulasi skill curian secara bebas, dan kau bahkan dapat memperkuat mereka. Sebuah Skill yang kuat.

Terlebih lagi untuk Skill Kelas yang hanya dapat dibuka dengan memenuhi Dosa Asal.

Skill Ruler dapat mengabaikan prasyarat – prasyarat itu, dan membuka keuntungan yang tak terbatas. Karena semakin sulit untuk dibuka, semakin kuat skill Iblis itu.

Aku merasakan sensasi tak nyaman seakan sekujur tubuhku sedang dicari – cari. Aku entah bagaimana menelan perasaan menjijikkan itu dengan menggertakkan gigiku.

Tapi wajah Deije segera berubah, dan ia bergumam kagum.

“Tidak mungkin… Skill 『Phantom Aliquot Dance』… tidak ada di sini… apa – apaan!?”

“Eh!?”

Dia menaruh lebih banyak kekuatan, dan menggenggam tanganku dengan kekuatan yang membuatku bertanya – tanya apakah tanganku akan patah.

Eksistensiku digali ke kiri dan kanan.

“Hilang… sial… tidak mungkin. Aku seharusnya sudah memenuhi persyaratannya!! Bahkan jika itu adalah sebuah Skill Kelas SS, tidak mungkin aku tidak bisa menemukannya… mustahil!!”

“… Mungkinkah kau tidak cukup cakap untuk menggunakannya atau sesuatu?”

Kata – kataku dengan cepat dibantah.

Dengan mata seakan ia sedang memandah rendah ke arah seorang monster.

“Tidaktidaktidaktidaktidak, Skill Ruler bukan… skill semacam itu. Cewek, apa kau benar – benar bisa menggunakan skill itu?”

“… Bukankah kau tadi melihatku menggunakannya?”

“… Tetap saja… sial, tidak ada waktu. Apa boleh buat, aku akan meminjamimu Celeste. Kau melakukannya!”

Mustahil. Benar – benar mustahil.

Ada perbedaan yang jelas dalam level keahlian berpedang antara aku dan Deije. Bukan hanya masalah kemampuan; massa otot, dan cara kami membawa diri kami, dan bahkan kebiasaan harian kami, cara kami menghidupi hidup kami sampai sekarang, perbedaan kecil dalam pergerakan di luar persepsi kami.

Aku tidak bisa menangani Celeste. Bahkan jika itu hanya mengeluarkan api, sebuah Pedang Iblis selevel ini bergantung pada penggunanya, dan pertama – tama, aku tidak punya sihir tersisa untuk menggunakan 『Phantom Aliquot Dance』.

“Tidak baik… aku tidak punya cukup Energi Magis padaku untuk menggunakan skill 『Phantom Aliquot Dance』.

“Ku, maka kurasa ini akhirnya saatnya… untuk kita untuk berdoa memohon keajaiban.”

Mata tajamnya berbelok ke arah sang Penguasa Iblis di kejauhan.

Keajaiban?

Kata itu membuat sebuah cahaya menyala di benakku.

… Tidak, bukan seperti itu, tapi hanya satu… hanya ada satu cara ini akan bekerja.

Ini bukan sesuatu yang cukup agung untuk mengantarkan kita kepada kemenangan, tapi masih ada satu cara yang bisa kugunakan untuk memulihkan sihir.

Tetap saja, jika aku menggunakannya, watak asliku akan terbocorkan. Tidak, aku telah menggunakannya sekali sebelumnya.

Ketahuan hanyalah masalah waktu…

Aku menatap wajah Deije. Itu bukanlah sesuatu yang kusukai sama sekali.

Dia adalah pria yang telah membangun lebih banyak pelayanan yang hebat dibandingkan denganku.

Tapi kami tak berada pada level di mana aku bisa peduli tentang suka atau benci.

Aku menyiapkan diriku, dan membuka mulutku.

“Deije… um, aku…”

“… Apa? … Keajaiban macam apa ini?”

Ekspresinya berubah menjadi dalam trance. Itu adalah ekspresi yang sama seperti saat ia telah membakar hangus padang pasir, hanya untuk menemukan Zebul masih hidup dan sehat.

Sebuah wajah yang datang saat sesuatu di luar nalar telah terjadi.

Dia memandangku dengan mata seakan ia ragu apakah ia sedang bermimpi atau tidak.

“Cewek, bisakah kau merasakannya?”

“Eh? …Ah! …Eh!?”

Terlambat beberapa detik, aku menyadarinya juga.

Arti dari kata – katanya.

Anginnya tersapu pergi. Angin hitam yang tak tersendat yang terlihat seakan membawa segalanya pergi.

Aku melihat telapak tanganku, tercengang. Secercah kekuatan kembali ke tubuh lelahku, dan sedikit sihir kembali ke tangki kosongku.

Perasaan lengket yang Zebul keluarkan tersapu pergi.

“『Abyss Zone』 milik Leigie-sama telah… hidup kembali!?”

“… Mengapa… pada titik ini, mengapa Zona Boss…”

Benar, setelah semua ini.

『Abyss Zone』 bukanlah sebuah skill yang bisa dimanipulasi sesuka hati. Tentu, jika seorang Penguasa Iblis memiliki kekuatan yang besar, cakupan dan keluarannya akan meningkat, tapi itu didasarkan pada kemampuan dasar mereka, dan itu bukanlah sesuatu yang dapat mereka kontrol secara sadar.

Zebul juga menyadarinya. Ia tampak bingung.

Tampaknya kekuatannya tidak terpengaruh, tapi ia kemungkinan bertanya – tanya bagaimana wilayah yang telah ia bangun tanpa masalah secara tiba – tiba hancur tanpa peringatan.

“… Oy, oy, apa yang kalian lakukan? Apakah ini bagian dari rencana kalian?”

Yang benar saja.

『Abyss Zone』hanya tersedia untuk Penguasa Iblis. Aku ataupun Deije tidak akan membangkitkannya secara tiba – tiba.

Itu sendiri akan memerlukan lebih dari sebuah keajaiban.

Tapi keajaiban yang sebenarnya belum datang.

Deije tiba – tiba membuka lebar matanya.

Bibirnya bergetar, dan lengannya kehilangan kekuatan dan Celeste jatuh ke tanah.

Celah yang jelas dalam pertahanan. Jika Penguasa di sana menyerang sekarang, kami sudah tergigit hingga tewas.

“Bagaimana… mengapa, pada saat ini… tidak, pertama – tama… itu mustahil.”

Tapi aku tidak punya waktu untuk memedulikannya.

Karena aku telah menyadari apa yang ada di arah yang dilihatnya.

Rambut hitam elegan, terawat dengan baik (oleh para pelayan). Kulit pucat tidak sehat tanpa noda. Mantel hitam legam yang ia pakai, sesuai bagi dia yang bertahta atas malam, dikatakan sebagai sesuatu yang dianugerahkan oleh sang Raja Iblis Agung, tapi tidak ada yang tahu kebenarannya.

Tentu saja tanpa pedang, atau senjata jenis apapun. Bahkan tanpa mahkota untuk memuliakan titelnya. Dia tidak mengenakan ornamen apapun.

Dari dalam pakaian hitamnya, yang terlihat ditenun dengan sutera kelas tinggi, sebuah baju polos yang acak – acakan terlihat. Karena ia tidak mengenakan sabuk, ia tidak akan melakukan gerakan ekstrim apa pun, tapi bahkan sekarang, celananya terlihat seakan mereka akan melorot.

Dalam segala arti kata, roman wajah itu bukanlah sesuatu yang seharusnya muncul di medan perang. Tidak, tidak mungkin itu bisa muncul.

Bahkan sebuah tombak acak jatuh dari langit dan secara tidak sengaja membunuh sang Penguasa Iblis akan lebih dapat dipercaya.

“Medea… apa itu ilusimu?”

“… Tentu bukan.”

Aku tidak punya waktu, dan tidak akan ada gunanya.

Membuat ilusi dari tuanku sendiri? Dia terlalu hebat buatku untuk bisa melakukan sesuatu semacam itu.

“… Begitu, jadi itu adalah ilusi Zebul… Ah, itu mengejutkan. Maksudku, tidak mungkin Boss akan muncul di tempat seperti ini.”

“… Jadi begitu… jika begitu, maka aku bisa percaya.”

Pikiran bekuku dicairkan oleh Deije yang mengungkapkan situasi yang memang masuk akal.

Begitu… seberapa keji Penguasa Iblis ini? Bahkan saat kita ada di ambang kematian, untuk menunjukkan kami sosok Leigie-sama… apakah ini bagian dari seni memasaknya?

Menggunakan wortel dan stik untuk menaikkan cita rasa?

Tidak peduli bagaimana, jangan takuti aku seperti itu. Kurasa jantungku akan berhenti bahkan sebelum ia membunuhku.

Jantungku masih berdebar kencang seperti sebuah alarm karena dampaknya.

Meski begitu, itu benar – benar dibuat dengan baik.

Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku melihat sosok Leigie-sama. Dan melihatnya berjalan – jalan di luar, sudah berapa tahun lamanya? Bahkan jika aku mencari – cari di seluruh memoriku, pertama kali aku bertemu dengannya adalah kali pertama dan terakhir aku melihatnya di luar, dan kemungkinan itu tak akan terjadi dalam waktu dekat.

Alasan rambutnya sangat berkilau meski acak – acakan adalah karena para pelayan sangat kesusahan merawatnya sambil berusaha tidak membangunkannya. Dan kulit pucatnya kemungkinan besar adalah hasil darinya tidak keluar tiga ratus enam puluh lima hari setahun. Wataknya dan setiap dan masing – masing detail direproduksi dengan sempurna.

Bahkan ekspresinya adalah ekspresi mengantuk yang dibuatnya saat di ruangannya, dan sikapnya yang goyang adalah satu di mana aku ingin buru – buru menyokong tubuhnya saat ini juga.

“Itu benar – benar sesuatu… itu benar – benar identik. Jika si Boss pernah benar – benar berdiri, ia kemungkinan besar akan terlihat seperti itu.”

“… Benar… Ah!!”

Pada momen itu, aku menyadari sesuatu yang penting.

Aku… tidak mengenakan apapun sekarang!

Aku terburu – buru duduk untuk menyembunyikan diriku. Meski itu boleh saja sebuah ilusi, berdiri di depan tuanku tanpa satupun pakaian di punggungku adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi. Bahkan jika Leigie-sama tidak tertarik padaku sama sekali.

Isi kepalaku terbakar merah, seakan itu telah terlukis oleh rasa malu itu sendiri, dan menyadari ada hal yang aku tidak bisa sembunyikan bahkan dalam posisi ini, aku beralih pada Deije.

“Deije… mantel.”

“… Tentu.”

Ia melempar mantel compang – campingnya, dan aku bagaimanapun menggunakannya untuk menutupi tubuhku. Dengan begini, aku tidak akan bisa bergerak dengan baik, tapi ini bukan saatnya untuk khawatir tentang itu.

Deije menjaga matanya terkunci, pada aksi ilusi itu.

“… Oy, oy, boss itu sudah mulai tidur. Di depan Zebul.”

“Mereka benar – benar identik.”

Masih dengan ekspresi bingung, Zebul mengangkat suaranya ke arah ilusi Leigie-sama yang telah muncul secara tiba – tiba.

“… Kau. Siapa kau?”

“… Gitu.”

Ilusi itu, dengan ekspresi yang mengindikasikan ia tidak mendengarkan sama sekali, mengeluarkan kata – kata yang tidak relevan dengan alur percakapan.

[1]Close Quarter Combat, Pertarungan Jarak Dekat
[2]Pedang dengan panjang di antara long sword dan short sword
[3]Pencicip; kritikus makanan dengan selera tinggi
[4]Cabul yang tidak mau mengakui kecabulannya

Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya

 

Leave a Reply