DnO 4 – Amarah Ira

Amarah Ira

Part 1: Hanya Mengingatnya Membuatku Kesal

Dalam novel, aku telah membaca bahwa tidak ada yang lebih merepotkan dari seorang yang tidak kompeten tetapi pekerja keras, tapi jika kau membolehkanku menyatakan pendapat pribadiku, di dunia ini, tidak ada yang lebih menjengkelkan dari pada seorang pemalas yang secara tidak masuk akal berkompeten.

Sang Penguasa Iblis yang aku telah ditugaskan untuk mengawasinya – Raja dari Sloth, Leigie dari para Slaughterdolls – mungkin adalah seseorang yang paling sesuai untuk frase itu di dunia. Salah satu dari orang – orang ini lebih dari cukup.

Dari mereka yang berpihak kepada sang Raja Iblis Agung 『Kanon Iralaude』 , totalnya 19 yang telah mencapai Kelas Penguasa Iblis, tapi dari Penguasa Iblis yang dipilih oleh Dosa Asal Kemalasan, hanya ada satu.

Dibandingkan dengan kemampuan Iblis biasa, milik Penguasa Iblis kelewat kuat, dan sementara itu berubah berdasarkan Skill Treenya, semuanya sangat berguna. Maka dari itu, sang Penguasa Iblis yang meningkatkan Skill Slothnya sampai ke batasnya, secara cukup menjengkelkan, dianggap sebagai sebuah eksistensi yang berharga, dan itu membentuk semacam zona penyangga di mana tidak seorang pun dapat menentang perilakunya..

Aku harus mengikuti perintah – perintahnya, dan membuahkan hasil. Tapi dia tidak kelihatan ingin membuat huru – hara apa pun, dan semua yang dia lakukan hanyalah tidur – tiduran saja. Betapa menjengkelkan.

Sang Raja Iblis Agung yang sekarang, Kanon-sama adalah seorang Penguasa Iblis yang dikonotasikan dengan Ira. Atribut Ira berspesialisasi dalam kekuatan ofensif, dan kekuatan target tunggalnya jauh melampaui seri Gula, yang juga dikatakan membanggakan kekuatan ofensif yang tinggi. Namun, Seri Acedia, secara cukup menjengkelkan, dikatakan sebagai satu – satunya Skill Tree dari mereka semua yang unggul dalam stamina murni. Semua iblis memiliki beberapa skill Defensif atau lainnya, tapi Tree Sloth jauh melampaui nalar dalam bidang itu.

VIT yang tiada artinya yang kelihatannya telah dilemparkan masuk tanpa alasan yang nyata, di atas jumlah HP yang luar biasa besar sekali. Apa lagi, mereka memiliki resistensi khusus terhadap serangan dari seluruh atribut, dan abnormalitas status. Dengan VIT mereka yang eksplosif, mereka jarang merasakan sakit.

Di sisi lain, mereka kurang dalam Kelincahan, dan kekuatan Ofensif, tapi aku ragu hal semacam itu diperlukan.

Tanpa arti apa pun, seperti bebatuan di atas tanah, seperti kerang di lautan, orang – orang itu hanya eksis di sana tanpa melakukan apa – apa.

Mengapa kita harus membuang – buang tenaga kita untuk mencoba dan memecahkan eksistensi – eksistensi yang menyerupai zat anorganik itu? Raja Iblis Agung yang lama kemungkinan berpikir sejalan dengan kalimat – kalimat itu.

Dari sudut pandangku, mengambil seorang Raja dari Sloth sebagai bawahan adalah salah satu kesalahan terbesar yang pernah diperbuat oleh sang Raja Iblis Agung pertama.

Mereka tanpa keraguan adalah eksistensi yang merugikan. Itulah mengapa stressku terhadap pengecut yang tak bisa dihancurkan itu terus terbangun tanpa akhir. Aku telah mengumpulkan Amarah dengan jumlah yang tak terlukiskan, dan sementara sudah sekitar seribu tahun sejak kelahiranku, aku belum pernah merasakan kemarahan sebesar ini terhadap sesuatu yang spesifik sebelumnya.

Itu adalah isi dari laporan rutin yang kuserahkan kepada Kanon dengan rasa yakin bahwa aku akan dibunuh. Tawanya meledak. Itu adalah kali pertama aku pernah melihat Sang Raja Iblis Agung dari Amarah tertawa sampai sejauh ini.

Korps pilihan pribadi Sang Raja Iblis Agung yang berperan sebagai mata dan telinganya, 『Orde Hitam』.

Iblis – iblis yang menyusunnya telah disaring melalui berbagai proses, membuatnya menjadi sebuah brigade yang bergengsi dan elit. Bukan hal yang melebih – lebihkan untuk bilang bahwa mereka adalah yang memimpin Pasukan Sang Raja Iblis Agung, dan bahwa mereka adalah penjaga pribadi sang raja.

Pada kenyataannya, sekitar seperlima dari Raja Iblis dunia dulunya adalah bagian dari Orde itu, dan saat kau berpikir tentang bagaimana Sang Raja Iblis Kanon yang sekarang berasal dari situ juga, mudah untuk memahami seberapa terujinya sejarah Orde ini.

Para anggota yang menyusunnya dikirim ke skuadron – skuadron yang berbeda untuk mengawasi tindakan para Penguasa Iblis yang berpihak ke Sang Raja Iblis Agung- berdasarkan hasrat yang mereka genggam, apakah mungkin bagi mereka untuk mematuhi orang lain secara diam – diam atau tidak. Kami mengawasi tingkah laku mereka secara sangat rinci, dan kadang menyampaikan dekrit – dekrit dari sang Raja, dan kadang, memberikan peringatan, dan kadang bertarung bersama mereka, dan kadang mencari tanda – tanda pemberontakan sebelum mereka bisa melaksanakan apa pun.

Tapi karena kami adalah utusan, itu adalah suatu misi yang amat berbahaya di mana kami harus melayani Penguasa Iblis lain, dan dari sifatnya, adalah suatu yang krusial di mana kelalaian tidak diperbolehkan.

Meski begitu, setelah menerima laporan kelas tertinggi untuk pelayanan militerku, aku, Lize Bloodcross, tidak bisa memahami mengapa aku dikirim sendiri untuk melaksanakan misi yang biasanya memerlukan satu tim yang terdiri atas tiga orang, dan meskipun aku berkuasa atas Wrath, seperti Kanon, aku tidak bisa paham arti dibalik dikirimnya aku untuk mengawasi Sloth, sifat yang bertolak belakang. Ini benar – benar tak tertahankan.

Aslinya, inspeksi seharusnya dilaksanakan oleh Iblis dari atribut yang sama, atau setidaknya oleh atribut yang bersifat mirip. Meski itu mungkin adalah keputusan Sang Raja Iblis Agung, aku benar – benar tidak mampu memahami titahnya. Aku ada di ujung kesabaranku. Maka dari itu, aku tidak bisa menghindari untuk mengirimkan protes. Meski jika itu akan berujung kepada kematianku.

Di atas sebuah singgasana raksasa dari obsidian, Raja Iblis Agung Kanon Iralaude tertawa sangat keras sehingga air mata keluar dari matanya, seraya menopang dirinya naik dengan tongkatnya.

Kanon-sama adalah Iblis perempuan. Tinggi badannya mendekati pria, dan personifikasi Amarahnya, rambut merah tuanya sewarna dengan api neraka yang mendidih dan mengeluarkan uap seperti lava. Ujung – ujungnya menggelitik lengan singgasananya.

Bahkan dengan beberapa meter di antara kami, atmosfer agung yang kurasakan adalah bukti dari kekuatan tak terukur yang ia perintah sebagai Sang Raja Iblis Agung.

Tapi wewenangnya sedikit terbuang. Dalam berbagai cara. Dan jika aku boleh menambahkan, Raja Iblis-sama hari ini berada dalam suasana hati baik yang langka.

Ia mengeluarkan batuk kecil, dan menatapku dengan mata merah panasnya.

“Dan, Lize Bloodcross. Jika itu adalah keadaannya, maka apa tepatnya yang kau inginkan?”

“Ya, saran hamba adalah kita bunuh Leigie-sama sekarang juga, membagi – bagi wilayahnya, dan menyerahkannya kepada Penguasa Iblis lain yang loyal pada baginda.”

Aku menyatakan apa yang ada di dalam pikiranku langsung kepada Sang Raja Iblis Agung.

Mungkin ia telah menduga keberatanku. Dia langsung melemparkan sebuah balasan.

Keberatanku bertentangan dengan kehendak Sang Raja Iblis Agung, jadi tidaklah aneh untuk kepalaku untuk terbang kapan pun sekarang, tapi tidak ada bahkan secercah kemarahan di matanya.

“Begitu… jadi siapa yang akan membunuhnya? Sebagai satu – satunya Penguasa Iblis yang berkuasa atas Sloth, dia sekedar membuang keabadiannya pada kekosongan. Bagaimana seharusnya kita membunuh seorang Penguasa Iblis seperti itu?”

“Itu…”

Itu sendiri adalah alasan aku menghabiskan beberapa bulan menahan amarahku dan melayaninya.

Aku memiliki kekuatan level Jendral, dan atributku adalah yang paling sesuai untuk penyerangan, tapi sementara dia menerima serangan – serangan itu, dari segala hal… Penguasa Iblis itu mulai tidur.

Seakan dia berkata bahwa tak ada perlunya memedulikan serangan level rendahanku.

Hanya mengingatnya membuatku kesal.

Darah panas beredar di dalam tubuhku dengan Inti Jiwaku sebagai pusatnya, dan penglihatanku terwarna merah. Aku menghirup nafas dalam – dalam untuk mencoba dan menenangkan diriku, tapi itu tidak berpengaruh.

“Ku ku ku, dengan tampilan itu, kau telah mencoba melakukannya sendiri…”

“… Ya, hamba paham bahwa hamba telah melangkahi kewenangan hamba, tapi hamba tidak mampu menahan Amarah hamba…”

Kanon-sama menerima kata – kata itu dengan mata penuh kesenangan.

“Aku membolehkannya. Ku ku ku, Lize… kau menyerupai… aku yang dulu.”

“!? Ya… sebuah kehormatan.”

Apa yang dia maksudkan?

Aku tidak bisa memahami pikiran Kanon-sama. Aku tidak bisa mengerti. Bukannya aku marah. Akal sehatku kembali, dan aku langsung berlutut di depannya.

Dengan ekspresi yang sama sekali tidak cocok dengan julukannya, Kanon dari Kehancuran, dia melihatku dengan mata menenangkan.

“Bagaimanapun, Lize. Pria itu tidak akan mati… tentu saja, jika kau menemukan cara untuk membunuhnya, aku tidak peduli kalau kau melaksanakannya, tapi… Lize, aku mengandalkanmu.”

“… Ya. Hamba akan berusaha sekuat hamba untuk menjawab ekspektasi anda, baginda.”

Dari kata – katanya yang tiba – tiba, aku buru – buru membenarkan sikapku, dan dari ekspektasinya yang tiba – tiba, aku menyembunyikan wajahku.

Akankah aku bisa menjalani harapan seperti itu?

Sang Penguasa Iblis dari Sloth memiliki kekuatan yang tak tertandingi, dan dalam perkataannya, kesetiaan kepada sang Raja Iblis Agung, dan perlakuannya terhadapku, seorang utusan langsung darinya… terhadap semua itu, dia tidak punya sedikitpun ketertarikan.

Terhadap Iblis yang mengurung dirinya sendiri dalam dunia tertutupnya itu, apa yang bisa kulakukan?

Apakah ada sesuatu yang aku bisa ubah sedikit saja? Tidak peduli kapan, aku selalu membuka jalanku sendiri dengan kehendakku sendiri, tapi aku tidak memiliki kepercayaan diri pada cobaan ini.

Afinitas kami… terlalu buruk.

“Bagus… aku memahami pembelaanmu. Tapi ada alasan kenapa kau telah ditunjuk sebagai pengawas Leigie. Cari tahulah sendiri.”

Itu adalah sesuatu yang tidak kusangka dari mulut sang Raja. Beban yang kurasakan di belakang kepalaku. Tekanan tak terlihat menekanku. Tidak memperbolehkanku mendongakkan kepala..

Mungkin sudah jelas, tapi pada pernyataannya, aku bertanya lebih lanjut adalah tindakan bodoh.

“Ya. Hamba, Lize Bloodcross, undur diri. Semua sesuai dengan yang Kanon-sama inginkan.”

“Bagus. Maka berjalanlah maju. Kau memiliki bakat sebagai seorang penguasa. Jadi belajar. Pelajarilah, pahamilah. Arti dari menjadi seorang Iblis.”

“Ya… tanpa kegagalan.”

Tidak ada candaan dalam kata – kata sang Raja Iblis Agung.

Setiap kata langsungnya terukir dalam Inti Jiwaku.

Tapi aku tidak bisa memahami apa yang dia maksudkan sama sekali.

Sesuatu untuk dipelajari dari Raja Pemalas itu…?

Dari Penguasa Iblis itu… dari Penguasa Iblis yang dosanya sangat kuat yang membuat pendahuluku, seorang Iblis dari Sloth, menelantarkan tanggung jawabnya. Sebagai seseorang dengan sifat yang bertolak belakang, apa sih yang aku harus pelajari?

Mungkin saat aku mempelajarinya, aku akan telah menjawab ekspektasi sang Raja Iblis Agung.

Aku menundukkan kepalaku dalam – dalam, dan pada saat aku melangkah melewati pintu, Kanon-sama bicara.

Suara lain yang tidak sesuai dengan Penguasa Iblis dari Kehancuran. Suara yang lelah.

“Lize, saat kau kembali ke Kastil Bayangan, bilang pada Leigie-Niisama… setidaknya mampirlah sesekali.”

“… Eh!? Niisama!?”

Aku tentunya tidak seharusnya mendengarnya.

Aku berputar panik. Kelihatannya Kanon sadar apa yang baru saja dia katakan, selagi dia meng’klik’ lidahnya. Dengan ekspresi suram, dia menudingkan tongkatnya ke arahku.

Dosa Amarah, yang dikatakan akan mengembalikan segalanya di dunia menjadi abu.

Kilatan di matanya layaknya api yang membara, seakan menangkis keberatan apa pun dariku.

Dengan tekanan ini, aku hanya mampu mengeluarkan beberapa patah kata sebelum hatiku menyerah.

“Kanon, barusan…”

“Maju, Lize Bloodcross! Jangan… menggangguku lagi!”

“Y-ya!”

Seakan mengusirku, dia membanting pintu.

Kata – kata marah dari sang Penguasa Iblis dari Wrath tentu bukanlah sesuatu yang langka. Kedua penjaga yang berdiri di depan ruangan sang Raja Iblis Agung tetap tak bergerak, namun mata mereka terisi dengan simpati padaku. Aku mengangguk pada mereka sebelum beranjak maju.

Begitu… Bahkan jika dia adalah seorang Spesimen Penguasa Iblis Sloth yang langka, jadi inilah mengapa Kanon, yang berkuasa atas Wrath membiarkannya…

Kekuatan serangan langsung Wrath tidak ada duanya, tapi di sisi lain, sulit untuk menjaga pengikutnya agar tidak terluka.

Aku merasa aku baru saja menangkap sekilas dari beberapa sejarah gelap sang Raja Iblis Agung. Itu sedikit mematahkan semangat.

Part 2: Mati Saja!

Hari ini, lagi – lagi, sang Penguasa Iblis, yang aku ditugaskan untuk mengawasinya, sedang dalam kedamaian.

Meski mentari pagi telah terbit, ranjang itu masih terjejali dengan gumpalan tebal yang merupakan Leigie, dan ia tidak bergerak sedikitpun. Pada titik ini, aku mulai mempertanyakan apakah dia masih hidup.

Sejak sang Raja Iblis Agung memberiku beberapa patah kata semangat, aku telah mengawasinya dengan teliti, tapi tidak peduli bagaimana kau melihatnya, Penguasa Iblis ini jauh terlalu malas.

Ada saat di mana seorang Wrath sepertiku tidak marah, tapi Leigie-sama tidak pernah melalaikan tugasnya.

Apakah itu perbedaan antara seorang Iblis biasa dan seorang Penguasa Iblis? Tidak, itu kemungkinan salah. Menurut anggota lain Orde Hitam yang diutus untuk mengawasi Penguasa Iblis, mereka hanya sedikit lebih jauh dari pada Iblis biasa, dan kelihatannya mereka tidak pernah menemui orang lain yang terus mengejar atribut mereka setabah Leigie. Sungguh, dia seharusnya mati saja.

Dalam keadaan jengkel, aku mulai menulis dalam Buku Harian Pengamatan Penguasa Iblisku.

Secara tidak sadar kubuka lebar mataku. Ini mengejutkan. Ini cukup parah.

Tidak… tidak ada satu pun hal untuk dilaporkan.

Dia tidak melatih kemampuannya, dan tanpa latihan, aku ragu dia akan melangkah ke dalam pertempuran. Dia tidak menjalin komunikasi dengan bawahannya, dan dia tidak berpartisipasi dalam dewan perang. Segalanya pekerjaan yang dilakukan orang – orang berputar di luar pengawasannya. Aku di sini menyaksikan sebuah bentuk yang telah disempurnakan dari sebuah tipe monarki. Tapi ini tentunya suatu yang berbeda dari frase 『Sang Raja Berkuasa, tapi Tidak Memerintah』[1].

Tidak, itu karena dia tidak memikirkan apa – apa.

Apakah kau bahkan sadar apa peranmu dalam semua ini, Pe~ Ngu~ A~ Sa~ I~ Blis~ Sa~ Ma~?

Bagaimana pasukan ini bisa tetap utuh? Tidak, serius.

Terlalu menyedihkan bahwa stressku terkumpul, dan itu terkonversi menjadi amarah. Sebagai hasilnya, untukku yang tidak benar – benar pernah memiliki banyak hal untuk membuatku marah dalam hidupku, Skill Tree Wrathku mengalami pertumbuhan tiba – tiba yang ekstrim. Aku tidak senang tentang itu sama sekali.

Aku duduk dengan jengkel di kursiku yang biasanya sembari membelalak penuh cemooh ke arah ranjang.

Bahkan saat aku melepaskan rasa haus darah sebanyak ini, mengapa ia tidak bangun sama sekali…!?

Dan saat itu terjadi, jam telah menunjukkan waktu tertentu, dan sumber dari segala kejahatan muncul dengan sebuah troli di tangannya.

Ia membuka pintu tanpa membuat suara sedikit pun, dan masuk dengan tenang dengan pembawaan elegan. Dalam suara yang lunak, ia memperingatkannya tentang waktu itu.

Itu adalah koneksi terdekat yang dimiliki pasukan Leigie dengan Penguasa Iblis mereka. Itu adalah…

“… Leigie-sama, waktunya makan…”

Si pelayan.

Ia mengenakan pakaian pegawai kantoran lawas, dan ia adalah seorang Iblis cantik yang rapi dan pantas. Aku tidak tahu atributnya, tapi ia tidak terlihat cocok untuk bertarung, jadi kurasa ia tidak punya satu.

Dalam sistem penggolongan yang ditentukan oleh Ras Manusia, golongan Iblis yang dikenal sebagai Wraith[2], telah banyak yang lahir hanya dengan insting untuk melukai orang lain, tapi terkadang, seorang Iblis tanpa keinginan semacam itu terlahir dari mereka.

Dalam kasus itu, apa yang keluar adalah seorang Iblis yang tidak berkuasa atas Dosa Asal manapun. Ada juga anak Iblis yang jiwanya masih belum matang bagi mereka untuk menganut hasrat apa pun, tapi bagi mereka untuk terus tumbuh dalam keadaan itu langka. Aku pernah mendengar bahwa itu bisa terjadi sih.

Jika gadis itu benar – benar menganut suatu dosa, maka tidak mungkin dia akan seberbakti ini pada Leigie-sama. Karena Penguasa Iblis ini sampah.

Namanya Lorna. Dia tidak punya nama belakang. Sejak aku diutus ke sini, dia adalah orang yang harus aku interaksi paling banyak.

Mata biru lebar cantiknya, dan rambut keemasan yang dipotong rata sepanjang bahunya adalah ciri – ciri paling mudah untuk mengenalinya. Dia kemungkinan seumuranku, jika tidak sedikit lebih muda.

Pada saat bersamaan, dia adalah sumber dari semua ini. Karena gadis ini memanjakan Penguasa Iblis itu dalam segala artian kata itu, Leigie-sama tidak akan bekerja tidak peduli berapa waktu berlalu.

Aku sudah memprotes dari waktu ke waktu, tapi tidak ada tanda – tanda ia menghentikan pekerjaannya. Bagi seorang gadis seperti ini untuk tersia – siakan pada seorang iblis yang tidak mengidamkan apa pun selain kelambanan, ini adalah akhir dunia. Jika gadis ini ternyata adalah orang yang menarik seluruh benangnya[3], aku tidak berpikir aku akan terkejut.

Aku sejujurnya berpikir dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik tanpanya. Tapi ia tidak mati. Tidak ada kekhawatiran dia akan tewas dalam pertarungan. Karena ia tidak pergi bertarung.

Pada bisikan makanan Lorna, kepala sang Penguasa Iblis perlahan menjulur keluar dari selimutnya. Matanya setengah tertutup, dan dia masih terbaring dengan muka di bawah. Ini adalah satu – satunya waktu dalam sehari di mana aku bisa secara rutin melihat wajah tercela pria itu. Meski ia tidak bersenjata, jika kau melancarkan serangan, Leigie-sama tidak menerima satu poin damage pun. Aku tahu karena aku telah mencobanya beberapa kali.

Memangnya skill macam apa sih yang Sloth miliki?

Dari seluruh Skill Tree yang dimiliki Kelas Iblis, yang memiliki paling sedikit informasi diketahui tentang itu adalah Skill Tree Sloth tanpa diragukan lagi.

Iblis Sloth tidak biasanya menggunakan skill secara sukarela. Jika kau bertanya mengapa, itu tepatnya karena mereka adalah Sloth. Dan maka, sebagian besar skill Sloth tidak diketahui secara luas. Tentu saja, di antara mereka, tidak ada seorang yang cukup rajin untuk bersusah payah mencatat skill – skill mereka juga. Bukan suatu misteri mengapa itu adalah sebuah misteri. Jangan. Macam. Macam. Dengan. Ku!

Memangnya pikiran apa yang terlintas di kepala mereka sembari mereka terus mengejar kemalasan itu?

Memangnya apa yang mereka coba lakukan dengan memperkuat sekumpulan skill yang tidak akan mereka gunakan?

Setiap kali aku berpikir tentang itu, rasanya seperti aku mengamati semacam binatang asing. Dan aku merasa sekujur tubuhku tertelan oleh perasaan lemah. Mati saja sudah.

Informasi langka yang telah disebarluaskan menyatakan bahwa skill Sloth unggul dalam daya tahan, dan mereka memiliki skill yang membuat mereka mampu melambatkan gerakan orang lain. Juga ada Slaughter Doll yang membuat Leigie-sama begitu terkenal: sebuah skill untuk memberi kehidupan pada boneka – boneka. Tapi hanya itu.

Bisa saja itu semuanya, tapi aku juga berpikir bahwa itu terlalu banyak informasi dalam satu makna. Maksudku, bukan seperti gumpalan di sana akan menggunakan skill.

Dengan mata tertutup, Leigie-sama membuka mulutnya.

Lorna menerima tindakan itu dengan senyum berseri – seri, menyendok makanan dengan sendok, dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ini seperti menyaksikan seorang ibu burung memberi makan anaknya.

Satu hal yang mengejutkan adalah bahwa Penguasa Iblis ini bahkan tidak mengangkat sebuah jarinya untuk makan!

Hentikan saja sudah! Apa – apaan benda ini adalah seorang Penguasa Iblis! Minta maaf pada semua Iblis yang dengan rajin bekerja di luar sana !

Bahkan jika kau berhasil memenuhi hasratmu, MINTA MAAF PADA SELURUH IBLIS YANG TIDAK BISA MENJADI PENGUASA!

Aku menggertakkan gigiku, dan menjerit hanya dalam hatiku. Kewarasan mentalku dalam bahaya. Dalam berbagai cara.

Dan Lorna, kau juga harus berhenti!

Itulah. Semakin banyak aku tahu tentang gaya hidup joroknya, evaluasiku soal Leigie, dan juga mereka, Iblis lain yang tidak bisa menjadi Penguasa Iblis, meskipun benda ini entah bagaimana mencapainya dengan malas – malasan. Termasuk aku. Dan itu membuatku semakin jengkel lagi.

Saat aku berdiri secara refleks, Lorna mengalihkan matanya padaku.

Sembari aku menghela nafas, ia dengan lembut meletakkan sendoknya di atas piring, dan menaruh tangannya di pinggangnya, seakan sudah lelah.

“Hari, demi hari, demi hari. Memangnya karena apa kau benar – benar tidak puas?”

Dengan sikap itu, aku mendengar sesuatu berderak di suatu tempat di kepalaku.

Leigie menguap.

“Apa? Aku, tidak puas? Seharusnya ada batas untuk mempermainkanku!!”

Hanya karena ia seorang Penguasa Iblis, ia meremehkanku…

Aku kehilangan rasionalitasku sesaat, dan Amarahku menyala – nyala. Itu menjalar ke sekujur tubuhku seiring dengan darahku.

Memangnya berapa banyak yang harus kutahan? Mengapa aku harus hidup seperti ini… Jika Kanon-sama tidak mau menyingkirkannya, maka aku akan membereskan ini atas namanya…

Namun, bahkan saat aku mencapai tahap seperti ini… dia tidak peduli padaku.

Dengan mata yang masih tertutup, ia mengayunkan kepalanya maju mundur. Aku mendapat keinginan mendadak untuk menendang kepala itu seperti bola sepak.

Sial… aku telah mencoba yang satu itu dulu. Itu tidak memberinya satu lecet pun.

Maka untuk memberinya sebuah lecet, apa yang tersisa adalah skill – skill 『Ira』ku.

Aku mengambil nafas dalam – dalam, dan mencoba mengatur emosi bengis yang berlarian di kepalaku.

Itu membuka celah yang terlalu besar, jadi aku tidak bisa menggunakannya dalam pertarungan, tapi mari mengambil beberapa waktu yang manis, dan mengumpulkan kekuatan.

Dengan amarahku sebagai bahan bakar, aku akan membinasakan musuh. Itu adalah dasar dari skill – skill 『Ira』.

“Meremehkanku… atas nama Kanon-sama… aku akan menghajarmu hingga tewas…”

Skill 『Ira』 yang kumiliki dengan keluaran tertinggi.

Api yang lahir dari jantung seorang Iblis, Inti Jiwaku, meluap dari kakiku, dan naik ke langit sebagai pilar api.

Dalam Skill Tree, ini adalah skill kelas bagian atas dengan tingkat S. Dari skill yang bisa kugunakan, ini adalah yang terkuat.

『Rage Flame』

Lorna berkedut seraya terpukul dengan suhu tinggi yang datang dengan itu sebagai efek samping.

Ledakannya membuat perabotan beterbangan, dan itu menabrak tembok sebelum hancur berkeping – keping.

Meski hanya efek samping, panasnya melampaui apa yang Iblis biasa dapat tahan. Kulit di lengan Lorna seketika mulai terbakar, dan ruangannya dipenuhi bau daging terpanggang yang tidak sedap. Ia memandang marah, melangkah mundur, dan menutupi kulitnya, tapi ini bukanlah panas yang bisa dihindari dengan sesuatu seperti itu.

“… Lorna, menyingkir. Bukan urusanku jika kau terseret dalam ini.”

“… Sia – sia. Dengan 『Wrath』 selevel itu… kau tidak akan mampu membobol 『Sloth』 Leigie-sama.”

… Meremehkanku.

Aku menahan rasa api yang membakar diriku sendiri, dan meningkatkannya ke tingkat panas yang belum pernah kucapai sebelumnya. Barrier[4] yang melindungi langit – langit pecah, dan batu di atas meleleh sebelum menetes ke lantai.

Kata – kata diambil sebagai bahan bakar, dan isi kepalaku menjadi semakin merah dan merah. Api yang menyelimuti lenganku berubah menjadi merah tua kehitaman.

Pergelangan tangan baju Lorna menyala, dan api itu mulai menyebar.

Tapi tanpa bahkan mencoba mematikannya, ia terus menepuk kepala Leigie. Ia bahkan belum membuka matanya. Mulutnya mendekati telinganya.

Dan ia menyuarakan beberapa patah kata yang tak dapat dipercaya.

“Leigie-sama… aku punya seorang adik perempuan. Jika aku menghilang, sudah ditentukan bahwa ia akan menjadi orang yang merawatmu menggantikanku.”

“Gitu.”

Lorna tidak tampak mempedulikan nyawanya sendiri.

Dan sang Penguasa dari Sloth tidak memiliki setitik pun ketertarikan pada fakta itu. Leigie bahkan tidak membuka matanya… dia bahkan tidak memandang wajah Lorna.

“Idiot… kau berencana untuk mati di sini?”

“Ku… aku tidak punya apa pun untuk memblok apa yang kau punya di situ, Lize. Tidak peduli apa yang kulakukan, itu akan membunuhku pada akhirnya. Itu saja.”

Sembari menahan rasa sakit, kata – katanya keluar dalam nada datar, menambah bahan bakar pada api amarahku.

Apinya menjalar naik ke kain, dan ranjang king size itu tertelan di dalamnya. Lorna tidak berusaha menutupi dirinya. Dengan tubuhnya yang menyala, ia terus menatap ke arah Leigie yang matanya tertutup.

Api itu adalah amarahku itu sendiri. Sifatnya berbeda dengan api fisis sederhana. Mereka memiliki kekuatan yang sesuai bagi mereka untuk disebut api neraka, kemampuan untuk mengubah apa pun menjadi abu. Di dunia yang luas ini, mereka kemungkinan adalah apa yang memiliki kemampuan destruktif terhebat. Mereka bahkan melampaui api sihir yang digunakan oleh Ras Roh.

Informasi tentang target apiku memasuki kepalaku.

Tubuh Lorna yang tersusun atas Jiwa hanya memiliki sedikit resistensi terhadap api dari Tree Iblis dasar. Dia dengan mudah terbakar seraya menjadi makanan bagi api itu.

Alasan dia masih hidup adalah ini hanyalah efek sekunder dengan bahkan tidak sampai secuil dari kekuatan skill itu.

Jika aku melepaskan skill itu, maka bahkan jika aku tidak membidiknya, dia akan dengan mudah… bahkan lebih mudah dari secarik kertas, jiwanya dan semua lainnya akan berubah menjadi abu.

“Minta pada tuanmu untuk menyelamatkanmu.”

“Kau membuat… sebuah kesalahan. Lize Bloodcross.”

Seluruh tubuhnya terbakar sedikit demi sedikit, dan kepalanya terhias dalam arang membuatku merasa takjub ia masih hidup. Dengan rongga mata yang terbakar itu, ia menatapku.

Apa yang ada dalam matanya adalah ketiadaan. Seluruh tubuhnya menghilang, dia tidak mengeluarkan jeritan kesakitan, seakan ia sekedar menunggu untuk menyapa kematian yang tak terhindarkan. Itu lebih memukul mundur dari apa pun yang aku pernah lihat sebelumnya.

Dan begitu, Lorna tersenyum.

“… Sloth adalah… tanpa memikirkan apa pun… tanpa menciptakan apa pun… tanpa menyelamatkan apa pun… tanpa membiarkan perasaanmu tergerakkan… hanya ada sebagaimana kau menginginkannya.”

“!?”

Leigie yang sangat-penting itu, bahkan dengan api neraka yang dikatakan untuk menghancurkan apa pun dan segalanya yang mengelilingi mereka, tidak terusik sama sekali.

Tidak sehelai rambut pun, atau sepotong kulitnya terbakar. Meskipun tidak ada tanda – tanda darinya menggunakan skill apa pun!

Di depan matanya… bahkan saat si Iblis setia yang telah melayaninya dengan taat sampai sekarang sedang terbakar!

Bahkan saat segala sesuatu di dunianya sedang terhanguskan menjadi arang!

Fakta itu membuat pikiranku meninggalkanku.

Rasanya seperti kepalaku akan terbelah, bahwa bahkan membakar segalanya di dunia ini tidaklah cukup. Amarah semacam itu menembus kepalaku. Panas apinya meningkat lebih jauh lagi.

Pada saat itu, Leigie membuka matanya untuk pertama kalinya, dan bergumam.

Untuk pertama kalinya, matanya beralih ke arahku. Ekspresinya tampak kesusahan.

“… Panas.”

Apa – apaan yang dia katakan… dia ini….

Aku bisa melihat wajahnya kaku. Kata – kata yang tak bisa kupahami. Cara hidup yang tak bisa kupahami.

Tanpa se-iota pun keraguan, aku mengaktifkan skillnya.

“… Mati saja! Leigie!”

“… Gitu.”

Dengan ekspresi yang tak menyenangkan, Leigie menghela nafas.

Ia membelokkan telapak tangannya ke arahku… di muka api hitam itu, ia mengucapkan sepatah kata.

“Iyo.”

Itu adalah saat pertama dimana aku telah paham bahwa sang Penguasa Iblis telah mengaktifkan sebuah skill. Bahkan tanpa mengucapkan nama Skillnya.

Tepat sebelum itu mengenainya, dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari skillku sendiri.

Apa yang seharusnya melindungi jiwaku, skill Resistensi Pencemaran Mental seketika tertembus tanpa mampu memberontak sama sekali. Instingku memberitahuku.

Imbasnya cukup hebat untuk mengguncang Inti Jiwaku. Bidang pandangku dalam kekacauan, dan pikiranku ke mana – mana.

Panas di dalam kepalaku seketika terputus.

Seakan perasaan – perasaan itu hanyalah sebuah kebohongan, sebuah lubang telah tertembus melalui jantungku. Apa yang seharusnya di sana adalah batin neraka dari Wrath, tapi kekuatan pendorong yang merupakan amarahku dimatikan, dan mati. Api yang telah mengamuk di sekeliling, api yang telah membakar Lorna, seakan apapun dan segalanya hanyalah sekedar mimpi.

“Apa… yang kau…”

Aku memandang telapak tanganku, yang di situ terdapat api hitam itu telah menghilang.

Aku seharusnya… marah tadi. Aku yakin aku telah memeluk amarah dan kebencian yang cukup hebat untuk membakar segalanya hingga rata dengan tanah.

Ingatanku masih melekat. Sampai beberapa detik yang lalu, aku seharusnya sedang dalam kemarahan, tapi… sekarang aku tidak benar – benar peduli.

Perbedaan antara emosiku dan ingatanku menjadi angin dingin, membuat tulang belakangku menggigil. Sesuatu pasti telah membuat celah kosong dalam benakku.

Lututku menyerah, dan aku berlutut di tanah yang dengan cepat telah mendingin setelah kehilangan panasnya.

Aku tidak paham. Aku tidak paham apa pun. Aku tidak paham emosi amarahku. Bagaimana. Mengapa aku marah? Bagaimana aku menjadi sangat marah? Ingatanku tidak mampu menyediakanku jawaban – jawaban itu.

Tanpa mempedulikan kekhawatiranku, dalam abu, dan dengan ekspresi kesusahan, dalam sprei compang – campingnya, Leigie berguling.

Hanya ada satu teori yang mampu menjelaskan situasi abnormal ini.

… Ini adalah… sebuah Skill dari Sloth.

Berbaring telentang, mata Leigie beralih ke arahku.

“…”

Tapi tanpa mengucapkan apa pun, ia menutupnya.

Kelakuan lancangnya menyalakan percikan lain di dalam diriku.

Katakan sesuatu…

Part 3: Memangnya Dia Pikir Siapa Dia?

“Apa kau tidak akan membunuhku karena menentangmu?”

“… Kalau kau ingin mati, maka lakukan saja sendiri. Ah, tapi sebelumnya, beritahu mereka bahwa mereka sebaiknya mengirim seorang Sloth setelah ini.”

Hah.

Leigie menghela nafas kesusahan.

Dengan kata – kata itu, aku menjadi yakin bahwa tindakanku tidak berpengaruh sama sekali pada Penguasa Iblis ini.

Dia benar – benar seorang pria yang tidak punya harapan untuk diselamatkan. Kata – kata lelah Kanon mengambang di benakku.

Sebuah Skill untuk menimpa hasrat seseorang dengan Sloth.

Itu adalah dugaanku terhadap skill yang digunakan sekali oleh Penguasa Iblis ini. Aku bahkan tidak tahu namanya.

Pada saat itu, jahanam di hatiku sepenuhnya terkubur.

Dan jika perkaranya benar – benar seperti itu, maka itu adalah… skill terkuat bagi seorang Iblis. Maksudku, kemampuan bertarung seorang Iblis meningkat sebanding dengan tingkat keinginan mereka. Sama seperti 『Wrath Flames』ku yang bergantung pada amarahku, untuk dengan cepat meningkatkan keluarannya.

Itu bukan sesuatu yang terbatas pada Wrath, yang lainnya juga sama. Tanpa dahaga akan kepemilikan materi, Skill Greed tidak bisa digunakan, dan tanpa rasa lapar, Skill Gluttony tidak akan punya daya ledak yang mencukupi.

Skill miliknya adalah omong kosong. Normalnya, skill setipe ini akan diblok oleh Resistensi Pencemaran Mental pada Tree Dasar Iblis, tapi Penguasa Iblis ini entah bagaimana menembusnya dalam sekejap. Itu artinya skill itu tidak bisa diblok dengan cara – cara standar, dan bahwa skill – skill yang tidak bisa ditahan olehnya benar – benar ada.

Aku tidak yakin apakah itu akan bekerja bahkan pada seorang Penguasa Iblis, tapi jika iya, maka bahkan para Penguasa Iblis akan dipermainkan seperti anak – anak. Dan aku tidak mau memikirkannya, tapi kemungkinan dia yang memegang singgasana Sang Raja Iblis Agung, Kanon-sama, juga sama.

Tidak, lebih dari itu, sebagian besar Skill Wrath bergantung pada amarah, jadi kekuatannya akan menjadi bahkan lebih berpengaruh terhadapnya.

Saat aku memikirkan tentang amarah yang membara dalam diriku, itu bukan sesuatu yang akan membara untuk selamanya, tapi jika aku berpikir tentang apa yang akan terjadi jika itu tiba – tiba padam dalam pertarungan, aku tidak bisa menghindar dari merasakan takut.

Efeknya? Jangkauannya? Cakupannya? Syarat – syaratnya?

Menantang Penguasa Iblis ini tanpa tahu satupun dari itu… terlalu berbahaya.Terlebih lagi, dia hanya menunjukkanku satu kekuatan. Saat kau berpikir tentang bagaimana aku memiliki lusinan Skill Wrath, sementara ada perbedaan di antara tree – tree, aku tak bisa menghindari asumsi bahwa Penguasa Iblis ini memiliki jauh lebih banyak dari itu.

Leigie-sama itu… berbahaya. Bukan karena perilaku menjengkelkannya adalah racun bagi kewarasanku, kekuatannya itu sendiri berbahaya.

Ada kemungkinan bahwa Kanon-sama mengetahui ini juga. Itulah alasan mengapa aku diutus. Penguasa Iblis ini tidak akan melakukan apa pun yang merepotkan seperti memulai pemberontakan, tapi dalam peluang sejuta banding satu…

Jika aku tidak bisa melenyapkannya dengan Skill skill Wrath… Seri Skill lain yang tertinggal dalam bidang kekuatan ofensif murni tidak akan mampu menembus pertahanannya.

Dia bilang tadi panas. Itu berarti untuk sepersekian detik, kekuatanku pasti berpengaruh pada Penguasa Iblis ini. Ini mustahil untuk diriku yang sekarang, tapi jika aku terus mematangkan diri, mungkin aku akan mendapat kekuatan untuk memberi damage padanya.

Aku perlu menajamkan pedangku.

Sembari melihat ke arah pria ini, yang memiliki kekuatan yang tak terduga, aku akan memperkuat diriku. Itu mungkin adalah …niatan Kanon-sama.

Dan di saat bersamaan, memanfaatkan sumber daya pria ini, untuk menguntungkan pasukan Sang Raja Iblis Agung. Dia mengerikan sebagai musuh, tapi memiliki Skill – skill Sloth ini di sisi kami lebih dari dapat diandalkan.

Mengambil kedua tantangan ini secara bersamaan adalah misiku, dan cobaanku.

Setelah aku mengatasinya, tak ada keraguan bahwa aku akan memperoleh kekuatan yang tak bisa dibandingkan dengan apa yang aku telah gunakan sampai saat ini.

Kami dipindahkan ke ruangan lain, dan di atas ranjang yang sama, Leigie berguling dalam tidurnya.

Di mataku sosoknya sekarang adalah seorang yang aku tidak bisa remehkan.

Kelihatannya kamar tidur yang kuhanguskan sedang di tengah rekonstruksi. Tidak satu pun Iblis di pasukan Leigie bicara sekata pun tentang itu. Katakan sesuatu.

Pada saat itu, pintu membuat suara keras saat ia terbuka, dan seorang Iblis masuk.

Ia adalah seorang gadis yang mengenakan seragam pelayan. Hawanya mirip dengan Lorna, tapi ia sedikit lebih muda.

Dia melihat ke arah Leigi-sama, yang menolak untuk memunculkan wajahnya dari dalam selimut, melihat sekilas ke arahku, dan mendekati tempat tidur. Dengan wajah yang identik dengan Lorna, dia tersenyum.

“Leigie-sama! Tolong~ Bangunlah~!”

Dari segala hal, dia dengan sembrono mulai mengguncang selimut yang mana sang Penguasa Iblis bersembunyi di bawahnya.

Senyum dan hawanya tak salah lagi memang mirip. Gadis yang sepertinya saudari yang ia bicarakan hanya membawa udara yang mirip, dan tindakannya benar – benar berbeda. Ini adalah sebuah penipuan.

Itu bukanlah cara untuk memperlakukan pria itu, maksudku, bukankah ia seharusnya semacam raja?

Pada perlakuan kasarnya, aku secara tak sadar berusaha menahannya saat aku seharusnya berada di pihaknya.

Apa – apaan ini.

“? Ah! Kau pasti si Lize-san yang dibicarakan oneechan! Aku biasa dipanggil Hiero. Aku adalah adik Lorna, yang biasa merawat Leigie-sama!”

“Eh, ah, ya.”

Tanpa menghentikan tangannya, si gadis yang dipanggil Hiero hanya mengalihkan kepalanya untuk melihatku.

Dia tidak menunjukkan sikap yang pantas pada orang yang membakar saudarinya sampai mati. Tidak, terlebih lagi, dia memberi senyum layaknya bunga yang mekar.

Bahkan jika dia seorang Iblis, dia seharusnya punya setidaknya sedikit kasih sayang untuk keluarganya. Seperti aku memiliki semacam kesetiaan kepada Sang Raja Iblis Agung.

Dari segala hal, dia mulai bicara dalam suara tak berdosa.

“Terimakasih banyak! Untuk membunuh Oneechan! Karena itu, akhirnya tiba giliranku! Oneechan tidak mau berhenti bekerja, jadi aku mulai merasa khawatir!”

Perasaannya sangatlah sinting. Tidak adanya kebencian yang bisa dilihat padanya membuatnya terlihat lebih mengancam.

Sejak saat aku bertugas langsung di bawah Sang Raja Iblis Agung, sampai saat aku ditugaskan di sini, aku belum pernah melihat emosi – emosi seperti ini.

“K-kau… apa kata – kata semacam itu yang seharusnya kau lontarkan ke pembunuh saudarimu!?”

“Eh? Well…”

Mendengar kata – kataku, Hiero meletakkan jari telunjuknya di mulutnya, dan mulai berpikir.

Dan jawabannya datang segera. Itu adalah jawaban yang tidak kusangka sama sekali.

“Lize-san, kau terlalu lunak. Jika kau mencoba untuk membunuhnya, kau harus melakukannya dengan benar…”

“Eh…?”

Roknya berkibar saat ia duduk di pinggir ranjang. Dari bawah roknya yang jauh lebih pendek dari milik Lorna, aku melihat kulit sehat yang berwarna sawo matang.

Seakan sesuatu sedang menggelitiknya, ia mengeluarkan tawa yang pantas untuk usianya.

Bagaimana bisa Kakak Perempuan sederhana itu memiliki adik perempuan seperti ini?

“Kusu kusu kusu, dia masih hidup… Menjengkelkan, oneechan tidak tau kapan harus menyerah… keberuntungannya memang hebat. Bahkan jika itu bukan serangan langsung, baginya untuk tidak mati seketika setelah menerima 『Ira』 seorang Iblis Kelas Jendral. Bahkan saat kupikir giliranku akhirnya sudah tiba, aku harus menahan diriku lebih lama!”

Betapa berita mengejutkan. Dia terbakar hangus, tapi masih hidup!?

Tidak, bukan itu. Bukan itu. Iblis ini… apa yang dia baru saja katakan?

“… Menahan dirimu lebih lama… mungkinkah, bahwa kau…”

“Tidaktidaktidak, jangan salah paham! Oneechan masih hidup, tahu? Meski dia sedikit hangus. Maksudku, membunuh saudariku sendiri itu agak… Jika aku melakukan sesuatu seperti itu, kusu kusu kusu, aku akan menjadi 『Invidia』, bukan? Menggenggam dua dosa akan merepotkan.”

Suara ceria yang meresahkan.

Yang satu ini… berbeda. Dia tidak memiliki kecantikan seperti Lorna. Tidak peduli seberapa mirip wajah mereka, tidak peduli seberapa mirip sosok mereka, bocah ini tanpa keraguan adalah dia yang akan menyebarkan niatan buruk hanya dengan hidup, seorang iblis ortodoks. Dia dengan watak yang paling cocok untuk mengejar hasrat, seorang 『Iblis Murni』 .

Aku tidak yakin apakah ia melihat ekspresiku atau tidak, ia berbaring dengan wajah menghadap atas di atas Leigie, dan menatap dekorasi di kanopi.

“Oneechan cantik, bukan? Dia seharusnya sama denganku, tapi dia baik dan langsing, dan tinggi, dan matanya lebar dan jernih, kulitnya putih, dan dia selalu mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi dia tidak pernah mendapatkan sebuah goresan pada tubuhnya, dan rambutnya mengkilap tanpa cela. Suaranya tidak terlalu tinggi atau rendah, pas untuk nyaman di telinga. Dan ukuran payudaranya dua kali milikku… seorang yang cantik yang tidak akan ditinggalkan seorang Iblis laki – laki sendiri, dan kendati kecabulannya, dia tidak membiarkan sebuah jari pun menyentuh tubuhnya, seraya melayani Leigie-sama dalam kesucian… Hatinya kuat, dan dia tidak mundur selangkah pun di depan 『Ira』… Kusu kusu kusu, dia benar – benar wanita yang ideal.”

“Ca…bul?”

“Oh? Kau tak tahu? Bahkan seperti itu, Oneechan adalah seorang iblis 『Luxuria』, tahu? Terlebih lagi, ia telah mengejar hasratnya cukup untuk mendapat skill Kelas A, cukup kuat. Jika kau melihat Tingkatan Iblis, mungkin tingkatan tepat sebelum Jendral… dia memiliki kekuatan sebanyak seorang Ksatria, kurasa.”

Itu adalah sesuatu yang tak bisa kupercaya.

『Luxelia』

Dari ketujuh Dosa yang Iblis bisa miliki, itu terkenal sebagai yang paling tidak cocok untuk pertarungan langsung.

Dan di antara mereka semua, itu dikatakan sebagai yang terlemah dalam menahan serangan juga.

Mereka lemah. Rapuh dan tidak berguna. Terutama melawan Iblis dengan resistensi Pencemaran Mental, sebagian besar kekuatan mereka tidak bekerja.

Tapi jika begitu, maka kenapa…

“Kenapa…:”

“Aku tidak tahu jika Oneechan telah memberitahumu, tapi keluargaku… telah SELALU melayani Raja Iblis dari Sloth, Leigie dari para Slaughterdolls. Kemungkinan dari sekitar sepuluh generasi yang lalu. Dalam keluarga, ada aturan bahwa Iblis yang terkuat akan menjadi dia yang melayani, dan dalam generasi ini, dia adalah… Lorna oneechan. Sampai kemarin, itulah.”

Kemarin, aku membakar Lorna dalam api Wrath. Jika kata – kata Hiero dapat dipercaya, ia bertahan hidup, tapi telah kehilangan kekuatannya.

Dan begitulah generasinya bergeser. Pada saudari arogan ini.

“Aku selalu memiliki sebuah kompleks terhadap Oneechan. Terutama figur itu. Oneechan memiliki sosok idealku, jadi… itulah mengapa aku selalu lebih lemah daripadanya.

“Eh? Fi… gur?”

“Dengan 『Luxuria』, tak peduli Iblis dengan level setinggi apa kau, hanya dengan skill skill Kelas A, kau tidak bisa… menjadi kuat sama sekali. Aku seharusnya jauh lebih kuat. Tapi meski begitu, aku tidak bisa menang. Aku berterimakasih padamu, Lize-san. Terimakasih untuk membakar wajah cantik oneechan.”

Nada suaranya turun untuk sejenak.

Dan si Iblis berkata…

“Karena itu, aku telah mampu… meng-『Overrule』nya…”

Seluruh kepingan puzzle sudah pada tempatnya.

Hiero membuka paksa selimutnya, dan tanpa malu melekatkan diri ke lengan Leigie-sama yang menatapnya dengan pandangan kosong.

“Leigie-sama, senang bertemu denganmu. Kupikir kau mendengarkan, tapi aku akan merawatmu menggantikan oneechan! Aku biasa dipanggil Hiero! Aku akan dengan sepenuh hati mencurahkan waktuku untukmu, jadi kuharap kita akan bisa rukun!”

“… Gitu.”

“Dosa Asal yang kubawa adalah… 『Pride』. Aku adalah Hiero dari 『Superbia』! Harap diingat!”

Sudah kuduga… seorang Iblis Pride!

『Superbia』

Seorang Iblis yang menguasai arogansi dan kompleks superioritas.

Dalam pasukan ini, itu juga atribut dari Komandan Tertinggi Heard Lauder.

Treenya… memuat beberapa skill yang kelewat merepotkan. Afinitasnya dengan Gula dan Ira, yang dibuat untuk menimbulkan damage langsung, cukup buruk.

Dalam percakapan pertamanya dengan sang Penguasa, matanya berkilauan hebat.

Tapi di saat yang sama, aku merasakannya. Gadis ini sama sekali tidak cocok untuk Leigie-sama.

Sang Penguasa Iblis tidak benar – benar berpikir tentang apa pun. Dengan mata tanpa emosi, dia menggumamkan dua kata.

“… Yeah. Iyo.”

“? Apa itu 『Iyo』?”

Pada kata – kata itu, ekspresi Leigie berubah lelah.

Wajahnya menjelaskannya untuk dirinya. Bahwa menjelaskan sangat merepotkan. Dia mengalihkan matanya ke arahku, tapi aku memutuskan untuk mengabaikannya.

Pada awalnya, aku bertanya – tanya apa itu juga. Aku bertanya. Tapi Leigie-sama tidak pernah memberitahuku. Pada akhirnya, aku harus mencari tahu dengan bertanya pada Iblis lain. Itu benar – benar membuang – buang waktu.

Leigie-sama menghela nafas dalam. Seakan dia berkata ini semua adalah salahku.

Dan bersama helaan nafas itu, ekspresi Hiero mengeruh.

Dengan suara berat, Leigie-sama bicara. Dari sudut pandangku, itu sama seperti biasanya, tapi untuk Hiero yang sedang bercakap – cakap dengannya untuk pertama kali, itu kemungkinan berbeda. Suaranya selalu dipenuhi sesuatu yang dapat disebut keputusasaan.

“… Apa yang terjadi pada yang terakhir?”

“… Eh? M-maksudmu oneechan?”

“… Yeah.”

Yeah, dia pastinya tidak mengetahuinya.

Leigie-sama tidak memiliki ketertarikan dalam nama dan asal muasal si pelayan. Dia kemungkinan merasa itu merepotkan, jadi dia menjawab begitu.

Kesombongan Hiero terstimulasi, dan dia menjawab dengan suara bergetar.

“Oneechan telah… dibakar hangus oleh Lize-san itu yang di sana. Itulah mengapa aku…”

Penguasa Iblis, kau kemarin di sana, kan! Dan bukankah ini salahmu!?

Meskipun ia mengabaikannya sepenuhnya, dia bahkan tidak bisa ingat apa yang baru saja terjadi kemarin.

Apa kau yakin tidak ada jamur yang tumbuh di dalam kepala itu?

“Gitu… bawa dia kemari.”

“… he? Leigie-sama, barusan, apa yang…”

Leigie-sama mengerutkan keningnya.

Dia kemungkinan berpikir, ‘Tuhan, ini sangat merepotkan,’ tapi dari seseorang yang tidak mengenalnya, dia pasti terlihat tidak puas.

Ngomong – ngomong, jika Kanon-sama membuat wajah seperti itu, itu adalah sebuah tanda bahwa seluruh wilayah itu akan segera dihanguskan menjadi abu. Tidak ada jalan keluar.

Penguasa Iblis ini adalah seorang pengecut, jadi hal semacam itu tidak pernah terjadi di sini. Aku bahkan akan mempertaruhkan nyawaku untuk itu. Ah, sial. Ini membuatku kesal.

Leigie-sama mengulangi kata – katanya.

“… Bawa dia.”

“… Y-ya… ahaha, tapi dia hanyalah arang, bukan? … y-ya, aku paham. Aku akan membawa Oneechan ke sini.”

Mata Hiero berkaca – kaca, tapi dia segera meninggalkan ruangan, membuat langkah – langkah keras.

Seakan untuk berteriak, ‘Aku sedang bad mood.’

Tapi Leigie-sama kemungkinan tidak menyadarinya sama sekali.

Sang Penguasa Iblis di balik selimut, yang biasanya tidak pernah bergerak telah mengambil tindakan sebesar itu, jadi aku mencoba bertanya.

“Apa yang kau rencanakan?”

“… Yang satu itu tidak bagus.”

“… Hiero, maksudmu?”

“Yeah…”

Tanpa menjelaskan sebuah alasan spesifik, dia hanya bersusah payah mengatakan satu kata itu.

… Tampaknya Lorna yang memanjakannya sampai saat ini telah memiliki sedikit efek. Tampaknya kalian memang yang terbaik di kaki langit dalam mengelabui orang, Luxuria.

Itu karena dia melaksanakan masing – masing dan setiap layanan yang dapat dipikirkan untuknya… meski itu juga merupakan alasan aku marah.

Dengan langkah keras, Hiero membanting pintunya terbuka.

Dia melemparkan sesuatu dengan kasar ke ranjang Leigie-sama.

“… Itu oneechan.”

Apa yang dibawakan Hiero adalah sebuah Inti Jiwa yang bisa muat ke dalam telapak tanganmu.

Kira – kira setengahnya telah terbakar, dan telah hancur. Melihatnya, aku sendiri tidak bisa menyebutnya hidup. Itu karena aku tidak punya alat – alat yang dibutuhkan untuk menentukan apakah ada atau tidaknya kehidupan di dalamnya.

Selama Inti Jiwa seorang Iblis aman, mereka dapat mengambil tahun – tahun yang panjang untuk meregenerasi diri mereka. Tapi dengan kerusakan separah ini, ini kemungkinan akan membusuk sebelum regenerasi apa pun dapat terjadi.

Aku sebenarnya terkejut Hiero mampu menemukan pecahan kecil ini di dalam abu. Mungkinkah dia sebenarnya memiliki perasaan lunak terhadap saudarinya?

Leigie-sama terlihat tidak dapat menahan ketidaksenangannya seraya mengambil inti di tangannya.

Dia menghela nafas pasrah, dan mengucap sepatah kata ke arah Hiero… dan sekali lagi, kata itu.

“… Iyo.”

“… Eh? U-um… aku benar – benar minta maaf. Aku… masih b-belum berpengalaman, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga… akankah kau berbaik hati untuk memberitahuku arti dari 『Iyo』?

Telah ditekan dengan cobaan yang mustahil, seakan senyumnya sebelumnya adalah kebohongan, air mata Hiero berjatuhan di mana – mana.

Membuat seorang pride untuk bilang dia tidak berpengalaman, betapa orang yang mengerikan. Dia kemungkinan tidak berpikir tentang apa pun, sih. Tapi bagi dia yang berkuasa atas Pride, itu adalah aib yang setara dengan kematian.

Mereka hanyalah massa – massa kesombongan, dan mereka pikir mereka adalah pusat dari dunia ini, jadi melukai kesombongan mereka cukup untuk membuat mereka meletakkan diri mereka sendiri di bawah orang lain membuat mereka lemah bukan main.

“… Hah…”

“!? P-penguasa Iblis…”

Dia pikir siapa dia?

Dengan nafas panjang, Leigie-sama menutup matanya.

Pertama – tama, ‘I serahkan pada you’, dan ‘I puas dengan kerja you’ bukanlah instruksi spesifik sedikit pun, kan?

Saat ini, sang Penguasa Iblis tidak benar – benar menginginkan apa pun. Tidak bisakah dia memberitahunya saja?

Hiero melihat ke sekeliling ruangan dengan gugup. Matanya bertemu dengan milikku, tapi aku membencinya, jadi aku mengabaikannya.

Mencoba mendapatkan kembali kedudukannya, dia mengumpulkan keberaniannya untuk bicara lagi. Aku ragu apakah ada penilaian terhadapnya yang telah naik atau jatuh. Pertama – tama, tidak ada artinya dinilai oleh Leigie-sama itu.

Aku mulai memikirkan ini, tapi tidakkah Pride dan Sloth memiliki kecocokan yang terburuk?

Yang satu berusaha menjadi superior dan disembah orang lain, yang satunya tidak benar – benar peduli. Kau tidak bisa memenuhi sebuah kompleks superioritas dengan sang Raja Pemalas.

Bahkan jika ada aturan, kupikir Lorna telah membuat kesalahan besar saat memilih penerusnya. Apakah ini dimaksudkan sebagai suatu bentuk tindakan untuk mempermalukan?

“U-um… aku berspesialisasi dalam kerja rumah! Memasak, dan membersihkan, dan mencuci… aku percaya diri di dalamnya. Jika kau menginginkannya… b-bahkan permintaan seksual…”

“Gitu.”

Wajahnya merah, dan dia pasti memaksa dirinya, tapi Leigie sekedar memberi jawaban biasanya.

Tidak, dia tidak bersikap dingin. Itulah bagaimana dia apa adanya!

Tapi Hiero tidak mengetahuinya. Kau tidak bisa mencoba dan berkomunikasi dengan Penguasa Iblis ini.

Kecuali kau tahu apa dia itu dari awal… itulah mengapa aku sangat kerepotan.

Dan telah tersudut, Hiero terus berbicara.

“Um… jika itu menyenangkanmu, harap beri aku sebuah perintah.”

Mendengarnya, untuk kali pertama, Leigie-sama menyuarakan kehendaknya.

“……………… Sial, ini merepotkan.”

“… Eh!?”

Serius, dia pikir siapa dia?

Leigie-sama menghela nafas terdalam yang pernah dia buat.

Hiero menatap sang Penguasa Iblis dengan ekspresi kosong. Dia tidak mengatakan hal yang salah. Dia tidak membuat ucapan yang ceroboh, dan dia tidak menyatakan keegoisannya.

Melihat adegan ini, seratus dari seratus orang akan berpihak padanya dalam kasus ini. Bahkan aku juga.

Jangan berharap si pelayan yang baru dipekerjakan hari ini untuk bisa memahami semuanya.

Sang Penguasa Iblis mengangkat Inti Jiwa yang rusak itu ke cahaya begitu saja.

Aku bertanya – tanya apa yang terjadi di dalam pikirannya.

Dan saatnya tiba.

Kehadiran yang muncul begitu saja membuatku sesak mencari udara.

Telah merasakannya, wajah yang Hiero akhirnya atur dengan benar seketika terkalahkan oleh rasa takut, dan setelah beberapa ledakan, dia mengambil sebuah langkah besar mundur.

Pride melupakan kesombongannya, dan Wrath melupakan amarahnya. Itu adalah jumlah sihir yang cukup hebat untuk membuat 『Rage Flame』ku terlihat seperti mainan anak – anak, cukup sihir untuk membengkokkan dunia.

Itu adalah. Tanpa keraguan, sebuah gelombang kekuatan yang terkuat yang pernah kusaksikan dalam hidupku.

Tidak ada satu hal pun terlihat berarti sekarang, dan kekuatan terlihat ingin merembes keluar dari tubuhku karena konsentrasi Acedia.

Dengan wajah pada ambang kematian, sang Penguasa Iblis merapal. Itu pasti merupakan semacam Mantra.

“『Ir Ir Rul Arcadia. Segalanya, degradasi dan kebejatan. Hah… Hukum uang, landasan hitam yang menyatukan segala ciptaan, berkumpullah sejenak di dalam namaku. 『Sloth Minugrosz』』Ah, aku salah mengejanya…”

“Wai…”

Sihir yang meluap – luap tunduk kepada rapalan sang Penguasa Iblis, dan mengambil wujud.

Pada umumnya, Skill – skill dapat diaktifkan dengan mantra, atau nama skill. Tanpa mantranya, kesulitannya meningkat, dan keluarannya menurun.

Penguasa Iblis ini tidak pernah merapal, atau bahkan mengatakan nama skillnya sebelumnya, jadi dengan nyanyian sepanjang itu, dari skill – skill yang telah kulihat sebelumnya… Itu tentunya akan menjadi yang bertingkat paling tinggi.

Aku tidak punya sedikitpun gambaran apa yang akan terjadi, tapi perasaan tidak enak menguasai tubuhku. Jam alarm berbunyi dalam kepalaku.

Pengaktifan skill yang biasanya mustahil dirasakan dapat dirasakan dengan jelas.

Merasakan tatanan dunia sedang dibengkokkan, Hiero mengeluarkan sebuah jeritan.

Tapi kesalahan ejaan… itu pasti adalah helaan nafas yang dilemparkannya ke dalamnya, bukan!?

Dia bahkan tidak bisa merapal sebuah Skill dengan benar, Penguasa Iblis ini!

Pikiran yang berkejaran dalam kepalaku hanyalah usahaku untuk lari dari kenyataan.

Meskipun rapalannya gagal, skillnya sudah pasti teraktifkan.

Terlepas dari semuanya. Meski tidak ada yang telah berubah, aku merasakan sesuatu sedang pecah.

Inti Jiwa yang digenggam sang Raja Iblis mulai berubah bentuk pada setengah bagian yang telah terbakar.

Dengan kristalnya di pusatnya, kabut hitam misterius mulai berkumpul, dan mengambil wujud. Warnanya berubah.

Hiero bergumam linglung.

“O nee… chan?”

“… Haa.”

Helaan nafasnya terisi dengan kejengkelan sementara, seakan sebuah klip sedang diputar balik, arang itu mendapat kembali warnanya, dan sebuah wajah yang hangus sepenuhnya terwarna putih dan mendapat kembali kilauannya. Di dalam rongga mata terbuka lebar itu, bola – bola besar terbentuk.

Hanya dalam beberapa detik, sebuah Lorna yang sepenuhnya tidak terluka tercipta. Tentu saja, tubuhnya, tapi bahkan pakaian yang dia kenakan terlahir kembali tanpa goresan.

Dalam sebuah situasi yang telah jauh melampaui ekspektasi, mata Hiero melentur seraya dia mengeluarkan jeritan. Punggungnya mengenai meja di samping ranjang, dan pinggulnya bergetar, tapi dia mundur lebih jauh.

Dan Lorna perlahan membuka matanya.

… Dia hidup.

Apa – apaan… apa apaan skill itu?

Regenerasi? Yang benar saja… seakan regenerasi bisa memulihkan pakaian. Pertama – tama, Lorna seharusnya sudah berakhir sepenuhnya. Dari sebuah Inti Jiwa yang separuh hancur, tidak mungkin dia bisa dibawa kembali sesempurna ini!

“Onee… chan?”

“Hie… ro?”

Hiero berjalan dengan goyah ke arah Lorna, seakan dia telah melihat hantu.

Mata Lorna berkedip berkali – kali seraya dia menatap saudarinya. Dia kelihatannya tidak tahu apa yang sedang terjadi juga.

Well, apa boleh buat. Bahkan aku, yang telah melihat ini dari awal hingga akhir, tidak dapat memahami apa yang telah terjadi.

Pada saat itu, warna wajah Hiero berubah. Dari pucat pasi, menjadi merah panik.

Dia memiringkan kepalanya seraya melihat tubuh Lorna.

Aku juga menyadarinya. Regenerasinya… belum berakhir. Tidak, lukanya sudah hilang, tapi masih saja, waktunya sedang berbalik.

Skillnya masih belum berakhir!

Perasaan bahwa sesuatu sedang pecah terus ada, dan meskipun dia telah kembali normal, tidak ada tanda – tanda itu berakhir.

Tinggi Lorna berkurang sedikit demi sedikit, dan payudaranya mengkerut dengan cara yang hampir sama. Paras wajahnya menjadi sedikit lebih kekanak – kanakan.

Pakaiannya berubah dari seragam pelayan putih murni ke yang lebih kecil dengan hitam sebagai dasarnya. Rok panjangnya berubah menjadi yang lebih pendek seperti yang dikenakan Hiero.

Dengan salah eja, mungkinkah ia…

Jantungku berdetak lebih cepat, seraya melihat tubuhnya perlahan mengecil, selisih tinggi lima belas centimeter antara dia dan Hiero menjadi sepuluh, lalu lima. Dibandingkan dengan itu, tonjolan di payudaranya tidak berubah sebanyak itu, tapi fitur wajahnya perlahan berbalik dari dewasa ke tak berdosa.

Atas alasan yang berbeda, Hiero mengedipkan matanya seraya beralih ke Leigie-sama.

“… Leigie-sama, ini…”

“… Mengembalikannya terlalu jauh.”

Dengan wajah yang menunjukkan dia tidak menyesalinya sama sekali, Leigie-sama menggosokkan kepalanya ke bantal. Meskipun itu adalah salahnya, dia masih tidak memiliki motivasi sama sekali.

Mengembalikannya… terlalu jauh?

Transformasi Lorna berakhir.

Pada saat itu, kurang lebih tidak ada selisih di antaranya dan Hiero. Tentu saja, ada kepribadian, dan wajah Lorna terlihat sedikit lebih dewasa, tapi perbedaan penampilan yang mereka miliki sebelumnya, jika kau mengesampingkan fakta bahwa Lorna sedikit lebih tinggi, dan payudaranya jauh lebih besar, seakan mereka kembar, mereka terlihat sama persis. Perbedaan yang tersisa adalah dari Lust dan Pride… perbedaan yang diakibatkan oleh atribut.

Mata bingung Lorna melihat lengan dan kakinya yang lebih pendek.

Mungkin Hiero tidak tahu bagaimana untuk merespon, tapi dia melihat ke sana – sini seakan untuk melempar tanggung jawab lepas dari dirinya. Aku ingin seseorang untuk membantuku.

Hanya Leigie-sama yang tidak kebingungan, tanpa niatan buruk. Dia melihat ke arah Lorna yang jauh-dipadatkan, terekonstruksi.

“Apa kau punya… ingatan? Tanggal hari ini?”

Pada pertanyaan Leigie-sama, Lorna membuang keraguannya, dan membenarkan sikapnya. Seakan risau akan roknya yang kini-lebih pendek, dia bergerak gelisah seraya memberi sebuah jawaban yang jelas.

“Eh? Ah… ya. Hari ini adalah Tahun Langit 271C8A, Tanggal 11 November Tahun Kanon 310, Leigie-sama.”

Saat pertanyaannya terjawab dengan penuh senyuman, Leigie-sama beralih ke arahku.

Mungkinkah meskipun dia bertanya, dia sendiri tidak tahu tanggalnya?

Telah menguasai dirinya sendiri kembali, Hiero menjawab.

“Oneechan, sekarang tanggal 12.”

“Heh? Tidak, hari ini seharusnya tanggal 11… Hmm? Hiero, apa kau jadi lebih tinggi?”

Tidak, kau mengecil.

Leigie-sama menyapa Lorna, yang sedang memiringkan kepalanya, dan masih tidak memahami situasinya, dengan nada riang.

“Gitu. Aku paham. Iyo.”

“??? Y-ya! Dipahami, tuan…”

Kepalanya tetap miring saat dia menjawab. Dia melihat jam tangannya, dan membandingkannya dengan yang di dinding. Dalam panik, dia menundukkan kepalanya dalam – dalam ke arah Leigie-sama.

“Leigie-sama, aku benar – benar minta maaf. Sedikit… waktu makan tuan akan tertunda sekitar satu jam.”

“Iyo.”

“Terimakasih. Aku benar – benar berterimakasih atas kebaikan tuan.”

Dia dalam sekejap kembali ke siklus hariannya, dan membuat langkah sunyi seraya keluar ruangan. Di belakangnya, dia menarik tangan saudarinya, yang masih tidak memahami apa pun.

Saat aku melihatnya, aku sangat terkejut sehingga aku tidak bisa berkata apa – apa.

Apa – apaan kesetiaan tak berguna itu? Lebih dari tubuhnya, yang telah lenyap, dia mengkhawatirkan waktu makan sang Penguasa Iblis yang mampu melalui abad – abad tanpa makan atau minum?

Aku melihat ke arah Leigie, biang kerok semua ini, tapi tidak ada tanda – tanda darinya merasa puas, atau perasaan keberhasilan, atau bahkan penyesalan.

Penguasa Iblis ini, siapa dia, sungguh…

Dengan semua yang terjadi, aku kehilangan kepercayaan diri dalam 『Wrath』ku sendiri yang aku seharusnya kuasai.

Part 4: Berhenti. Bermain – main. Denganku!

Beri aku istirahat sudah.

Tiap kali ia menunjukkan salah satu skill Slothnya, stressku menumpuk.

Apa yang kupahami adalah bahwa Penguasa Iblis ini sudah cukup hebat untuk pantas sebagai Tingkat Ketiga. Kira – kira seperti itu.

Dan sementara aku tadinya akan senang saat mengetahui fakta semacam itu, tiap kali aku diingatkan tentang itu, aku kehilangan kepercayaan diriku sebagai seorang Iblis.

Seberapa banyak sih aku harus memuaskan Dosaku untuk mendapatkan beberapa skill omong kosong seperti kemampuan untuk memutar balik waktu? Untuk lebih spesifiknya, kelihatannya itu memisahkan pengalaman yang terkumpul, dan memutar balik tubuhnya, tapi itu tidak begitu berarti.

Dibandingkan dengan Wrath, yang semuanya serangan langsung, Sloth terlalu bebas, dan efek – efeknya tidak tentu, atau bagaimana aku harus mengatakannya… mereka sangat menyebalkan.

Dia jarang menggunakan mereka, jadi kerusakan saat dia menggunakannya mencengangkan. Aku yakin dia pasti mencoba membuatku kesal. Ini adalah sebuah konspirasi.

Tempat kerja ini berbahaya… perutku sakit.

Sekarang aku bisa mengerti mengapa pendahulu Slothku menelantarkan seluruh tanggung jawabnya. Saat seorang Iblis Sloth menyerah akan ini, maka tidak mungkin seorang Wrath sepertiku bisa menahannya.

Tidak peduli seberapa banyak kucoba meluapkan amarahku padanya, dia tetap tenang dan damai, jadi stressku tidak pergi kemana – mana.

Ekspektasi Kanon-sama, dan lingkungannya sendiri membuatku terjebak antara sebuah batu dan sebuah tempat keras.

Tapi jika aku membiarkannya, maka tidak ada tempat kerja yang lebih damai daripada yang satu ini.

Maksudku, bahkan jika aku tidak mengawasinya, pada akhirnya, aku yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang semerepotkan pemberontakan, dan bahkan jika kita tidak meminjaminya kekuatan, itu akan bekerja bagaimanapun.

Adalah yang kupikirkan, tapi lihat ini!

Aku memegangi perutku yang sakit seraya beralih ke Leigie-sama yang sedang bersandar dalam – dalam pada sebuah kursi.

“Apa? Apa yang barusan kau bilang?”

“… Tidak ada.”

Dia jelas – jelas membuat wajah yang bilang bahwa mengulangi sangatlah merepotkan, seraya mengalihkan pandangannya. Bagiku untuk hampir memahami Raja yang hampir tanpa ekspresi ini sepenuhnya, apakah itu semacam perkembangan di pihakku? Aku tidak butuh perkembangan semacam ini…

Ini buruk… tidak ada yang bisa kita lakukan tentang yang satu ini.

Aku mengambil nafas – nafas dalam untuk mengendalikan amarahku. Kontrolku telah berkembang pesat dibandingkan saat aku pertama datang ke sini. Aku yakin.

Aku perlu mengendalikan amarahku… bahkan berteriak ke arah pria ini adalah lebih dari yang dia pantas dapatkan.

“… Apa kau ingat dekrit Kerajaan itu?”

“…”

Jangan… jangan tutup matamu. Aku mohon, dengarkan…

Ini… tidak apa – apa… tenang… jika aku marah, aku kalah…

Aku mengambil nafas – nafas dalam, dan perlahan menurunkan suaraku untuk membuatnya lebih mudah didengar oleh Leigie- sama.

“Aku sudah bilang, bukan? Kali ini… musuhnya seorang Penguasa Iblis.”

“… Belum?”

Ku… pria ini…

Aku mengepalkan tinjuku kuat – kuat. Aku meremas begitu kuat sampai kukuku menembus kulitku, dan rasa sakit yang panas menjalar naik ke lenganku.

Apakah ia mempermainkanku? Tidak. Bahkan tanpa berpura – pura bodoh, ingatannya sudah hilang sepenuhnya.

Aku… sudah mengatakannya! Aku yakin sudah mengatakannya! Akulah yang membawa perintah itu dari Kanon, akulah yang bersusah payah menjelaskannya ke Leigie-sama, dan yang bilang bahwa musuhnya adalah seorang Penguasa Iblis yang kuat jadi jika ia sendiri tidak keluar, ia akan mengirim Jendral – Jendralnya untuk mati sia – sia juga aku!

Itu karena jika aku tidak memperingatkannya, aku yakin dia tidak akan pernah keluar!

Amarah membelah kepalaku, dan seraya merasa aku akan menghancurkan wilayah itu, aku entah bagaimana menjaganya tetap terkekang dengan pernafasan perut berulang – ulang.

“Hey, hey, oneechan. Lize-san benar – benar menjadi pendiam akhir – akhir ini.”

“Jangan pedulikan dia, pegang saja ujungnya dengan benar!”

AAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHHH!

Di samping Leigie-sama, kedua bersaudara itu bicara seakan itu adalah masalah orang lain.

Tuan Hiero kemudian mengetahui penampilannya yang tidak enak dilihat, dan mengirimnya ke pelatihan pelayan. Baru – baru ini, mereka berdua mulai datang ke sini bersama.

Si adik yang sombong, yang dengan sengaja menaikkan suaranya sehingga aku bisa dengar, dan si kakak, yang meskipun telah kubunuh secara sepihak, terus sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan padaku. Oleh kombo ampuh itu, stressku membengkak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ini benar – benar yang terburuk.

Sifat Skilltree Pride berada pada memberikan kekuasaan mutlak terhadap musuh yang telah mereka Overrule.

Sederhananya, bagi mereka, pada yang lebih lemah dari mereka, mereka menunjukkan kekuatan mutlak, dan pada mereka yang unggul bahkan hanya sedikit saja dari mereka, mereka menunjukkan ketakberdayaan… skill semacam itu.

Dan begitulah, sejak si kakak Lorna sudah hidup kembali,  kelihatannya Hiero sekali lagi dipaksa untuk menempati tempat kedua. Normalnya, sekali seorang sudah di-Overrule, sulit untuk membalikkannya, tapi sejak Lorna sudah dikembalikan ke usia yang hampir sebaya, kesenjangan jelas dalam penampilan mereka (terutama di bagian dada) memukul turun Hiero sekali lagi, dan sementara dia masih sedikit takut pada Leigie-sama, dia dengan patuh mengikuti kata – kata saudarinya.

Well, untuk sekarang, itu tidak begitu berarti.

Masalahnya adalah Hiero mengambil lirikan – lirikan jahil ke arahku seakan ia telah memasang jebakan selagi berlatih merapikan ranjang.

Ia berkata ke arahku sembari membuat senyum menyebalkan.

“Lize-san, kau tidak marah lagi… mungkinkah kau akhirnya menyerah setelah menyaksikan kekuatan Leigie-sama?”

“Hasil yang tak terhindarkan. Tidak peduli bagaimana kasusnya, menaruh tangan pada seorang Penguasa Iblis… perilakunya yang sebelumnyalah yang lebih aneh!”

AAAAAARRRRRRRGGGGGGHHHH!

Amarah yang sedemikian besarnya hingga kurasa kepalaku bisa meledak kapan saja membengkak, memberi bahan bakar kekuatanku.

Darah mengalir dari telapak tanganku, dan menetes ke tanah.

Aku secara tak sengaja menaruh terlalu banyak kekuatan, dan retakan menjalar di atasnya.

Aku menggunakan seluruh kekuatan batinku untuk melawan emosiku sendiri.

Tenang… tenanglah. Lize Bloodcross.

Pada akhirnya, ini adalah omong kosong seorang anak belaka…

Dibandingkan dengan pria ini, yang tak pernah bergerak sendiri, meski menjadi seorang Penguasa…

Senyum. Buat sebuah senyuman.

“P-Peng uasa Iblis? A-Aku sudah bilang, bukan? Musuhnya adalah… sang Penguasa Iblis Pelahap.”

“… Siapa dia?”

AAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHH

Seseorang lakukan sesuatu tentang pria iniiiiiiiii!

Di antara bawahan Kanon-sama, tidak ada seorang pun yang tidak tahu Zebul Glaucus, sang Pelahap.

Tapi Penguasa Iblis ini kemungkinan, dengan segala kejujuran, tidak tahu. Horeee.

Itulah mengapa. Aku. Menjelaskannya. Karena kupikir dia tidak tahu, Aku menjelaskannya! Aku jelas – jelas sudah melakukannya!

AAAAAAAH, tolong selamatkan aku, Kanon-samaaaaaaaaa!

Aku membenturkan kepalaku dengan sudut ranjang dalam percobaan untuk melupakan amarahku, dan Lorna melihat ke arahku dengan mata jijik.

Ini semua salah Tuanmuuu!

“… Kelima… Sang Tingkat Kelima, seorang Iblis yang berkuasa atas Gula, yang mulia. Dia menaklukkan sang Iblis Tingkat Kelimabelas, dan sang Tingkat Keenambelas hanya dalam tiga hari. Seorang Penguasa Iblis… yang mengerikan.”

“… Apa itu sesuatu yang menakjubkan?”

“Gu… Ya, itu menakjubkan! Dengarkan, Tingkat Kelima berarti bahwa diantara Penguasa Iblis yang setia pada Kanon-sama, dia adalah yang terkuat kelima!”

“… Apa dia lebih kuat darimu?”

Nuuuuuuuuuuuuuuuu!

Kelas Jendral… dan seorang Penguasa Iblis. Jangan bandingkan mereka!

Aku meneteskan air mata menahan diri sembari menjawab. Sial, kenapa aku harus mengalami sesuatu seperti ini?

“W-well… itu benar…”

“… Gitu.”

Kalimat tak tertariknya akhirnya membuatku mutung.

JIKA KAU BAHKAN TAK PEDULI, MAKA JANGAN BERTANYA!

AAAARRRRRRGGGGGGHHHH!

“Wow, itu menakjubkan… Lize-san. Setelah mengalami semua ini, kau masih bisa diam…”

“Tentu saja. Pertama – tama, apa yang aneh adalah cara Lize memperlakukan Penguasa Iblis kita hingga sekarang.”

Dalam kepalaku, berapa ratus ribu kali aku sudah membunuhnya sampai sekarang!?

AAAAAAAAAAHHHH. Ini buruk… aku akan mati.

Bahkan dalam kemarahanku, air mata mulai mengalir. Kenapa aku…

“Uku… dan. Maka. Akan. Buruk. Jadinya. Jika Kau. Tidak. Keluar. Penguasa Iblis! Dalam. Kemungkinan. Terburuknya. Mereka. Akan. Dibantai!”

Pertama – tama, membuat seorang Penguasa Iblis menghadapi seorang Penguasa Iblis lain adalah wajar dalam pertarungan antar Iblis.

Kali ini, kita bahkan sudah tahu bahwa Zebul secara pribadi memimpin pasukannya.

Seorang Penguasa Iblis normal seharusnya tahu arti tentang ini tanpa harus kuberitahu. Tapi kupikir Leigie-sama tidak tahu, jadi aku sudah menjelaskannya padanya!

Kembalikan semua kerja kerasku!

Telah menyimak percakapan yang berkepanjangan, Leigie-sama menguap dengan mata mengantuk.

“… Iyo.”

“Jika pasukan yang dikirimkan Sang Raja Iblis Agung padamu terbantai habis, kau pasti akan dihukum, tahu!? Apa kau mengerti!?”

Tapi melihat perilaku beliau, aku tak yakin tentang Penguasa – Penguasa lain, tapi kurasa Kanon-sama akan membiarkan pria ini.

Tapi tentu saja, aku tidak akan mengatakannya. Jika aku mengatakannya, dia pasti tidak akan keluar.

Kenapa orang tersebut bahkan tidak memikirkan apapun, selagi aku, yang sekedar dikirim untuk mengawasinya, memiliki sangat banyak pikiran di benakku!!!

“…”

Apa. Kau. Seorang Bocah!!?

Aku menarik lengannya saat ia menutup matanya diam – diam.

Dari Lorna, aku mendengar bahwa Deije dan Medea telah melancarkan sebuah serangan, dan sudah beberapa jam sejak kami memberitahu Leigie-sama.

Jika kita tidak buru – buru, mereka semua akan mati. Tidak, tidak aneh jika mereka sudah musnah sekarang.

Dan tunggu, normalnya, tidakkah ia seharusnya mengatakan sesuatu!? Bahwa ia ingin ikut dengan mereka atau sesuatu!?

Dengan Leigie-sama tidak menunjukkan tanda – tanda pergerakan, dan aku hampir akan menyerah, penyelamatku muncul dari tempat yang tak terduga.

Dengan mata penuh keingintahuan, Hiero menarik Leigie-sama.

“Leigie-sama, aku ingin melihatnya! Tempat mereka bertarung!”

Tidaktidak, itu bukan yang aku inginkan, kau tahu?

Hiero bahkan lebih tidak menahan diri dariku saat berurusan dengan Penguasa Iblis ini. Dari segala hal, dia memanjat ke lututnya, dan mulai mengguncang bahunya maju mundur.

Karena kesembronoan si adik yang tiba – tiba, si kakak segera mencoba menghentikannya. Sayangnya, karena bertahun – tahun latihannya terbuang pergi, dia kekurangan kemampuan fisik untuk menariknya menjauh.

“Hey, hentikan itu! Apa yang kau pikir sedang kau lakukan kepada Leigie-sama…”

“Eh? Tidak, tapi bahkan oneechan ingin melihat sosok seorang Penguasa Iblis bertarung sekali dalam hidupmu, bukan?”

“Ya, well…”

Pada pertanyaan langsung di adik, Lorna bimbang untuk sedetik.

Meskipun ini dan itu, Lorna yang melayani seorang Penguasa Iblis yang tidak melakukan apapun pasti memiliki perasaan – perasaan itu. Itu sedikit melegakan.

Seakan ia telah menyadari perubahan dalam perilaku si pelayan yang setia yang telah ia balikkan waktunya, Leigie-sama membuka matanya, dan mengatakan sepatah kata.

Itu benar – benar hanya sepatah kata. Kelihatannya dia akhirnya mulai mengingat namanya akhir – akhir ini.

“Lorna.”

“Hiero, lihat! Leigie-sama lelah. Berhenti memberinya masalah, dan kembali ke sini jadi kita bisa melakukan apa yang seharusnya kita lakukan!”

Lorna memuntahkan opininya tanpa menahan diri. Ia menangkap tubuh Hiero kuat – kuat dengan kedua lengannya, dan menariknya pergi dari Leigie-sama.

Bahkan selagi menariknya pergi, ia terus mengarahkan senyuman yang menawan ke arah Leigie-sama sebelum menundukkan kepalanya dalam – dalam.

Tapi tanpa setitikpun ketertarikan terhadap senyumannya, ia menutup matanya.

Di dalam lengan Lorna, Hiero memberontak, dan berteriak.

“T-tapi oneechan! Tiap malam, pada Leigie-sama, bukannya kau mastur…!”

… Apa?

Saat mendengarnya, dengan pergerakan yang tidak sesuai untuk Lust, Lorna mengunci wajah Hiero dalam sebuah cakar besi dengan kecepatan yang membuatku bertanya – tanya apakah dia telah menggunakan sebuah skill atau tidak.

Ia melihat ke arah adiknya tanpa ekspresi. Matanya benar – benar tidak tertawa. Itu adalah ekspresi dari seseorang yang tengah mempertimbangkan akan memasak ikan hidup yang tergeletak di talenan menjadi apa.

Apa sih yang akan terjadi jika kau memecahkan temperamen kalemnya yang biasa? Rasanya seakan seekor binatang buas yang sedang tidur terbangun.

“Hiero… jika kau meneruskan perkataanmu, fufu… kau bisa menerima sebagian kemarahanku…”

“Hii!? Ha… hahi!!”

Dan tiba – tiba, ada seorang gadis yang mengarahkan nafsu membunuh yang serius ke adiknya.

Hiero menyadari dia telah menginjak ekor sang binatang buas, dan mengangguk patuh dengan wajah pucat.

Wajah Lorna perlahan memerah, sembari beralih ke tuannya, tapi karena ia telah mengambil posisi tidur, tidak mungkin ia mendengarkan. Pertama – tama, bahkan jika ia mendengarkan, aku ragu dia bahkan akan berhenti untuk memikirkannya.

Tapi… begitu. Jadi begitu… Luxuria. Kakak yang cabul… itulah apa yang Hiero coba katakan.

Melihat perilaku Leigie-sama, Lorna menaruh tangannya ke dadanya dalam kelegaan.

Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku tersenyum dari lubuk hatiku.

… Tapi jangan lupa bahwa Leigie-sama bukanlah satu – satunya yang ada di sini. Jangan lupakan aku.

Aku menepuk pelan bahu Lorna.

Ia berbalik, dan menyadari senyumanku, ia memucat.

Di dalam tangannya, Hiero mengeluarkan buih dari mulutnya, kehilangan kesadarannya.

“Li… Lize?”

Aku mengabaikan mata memohon Lorna, dan sambil lalu berbasa – basi.

“Jadi begitu… siapa sangka di bawah wajah rajin itu, kau… haruskah kubilang, seperti yang diharapkan dari Luxeria?”

“Ap…!?”

“Aku memang merasa aneh saat pertama mendengar kau berkuasa atas Lust, tapi aku tidak pernah berpikir dari segala hal, kau akan menggunakan tuan yang kau layani untuk…”

“Tunggu, tunggu, tunggu, time out!”

Dengan ekspresi yang belum pernah kulihat padanya sebelumnya, dia menggenggam kerah bajuku, dan menarikku ke arahnya.

Bahkan jika ia terlihat sedikit lebih tak berdosa, diperlihatkan wajah cantiknya dari jarak dekat, meskipun aku satu jenis kelamin, aku tidak bisa menahan detak jantungku.

Ku ku ku Lust… nafsu… bukan?

Dengan mata berkaca – kaca, ia memalingkan wajahnya.

Apa yang harus kulakukan. Aku sedang bersenang – senang.

“Bahkan jika kau seorang Iblis Lust, apakah kau tidak sedikit terlalu berdosa? Apa kau ingin terlihat sangat tabah, sembari mengembangkan kelas Luxuriamu di dalam hatimu… sesuai yang diharapkan dari gadis yang dipanggil cabul oleh adiknya sendiri. Terlebih lagi, setiap hari… tidakkah kau akan segera menjadi seorang Penguasa Iblis Lust?

“Tunggu, itu salah! Lize! Tidak seperti itu! Benar, ini kesalahpahaman Hiero!”

Ia mengguncangku dengan kasar.

Kau pikir kau punya kekuatan persuasif macam apa saat wajahmu semerah itu, dan matamu berkaca – kaca seperti itu?

Pertama – tama, apakah itu fantasi atau kenyataan, itu tidak begitu berarti buatku.

“Dan aku ragu kau bahkan harus menjadi sangat berahasia tentang itu, seperti Hiero, kenapa kau tidak bilang pada Leigie saja? Untuk menyuruhmu melakukan hal – hal seksual atau apa, yang kau akan terima dengan senang hati. Ku ku ku, kupikir bahkan Leigie-sama akan terkejut. Bahwa Lorna yang selalu memasak dan membersihkan sebenarnya memikirkan hal – hal seperti itu jauh di dalam benaknya.”

“…!!”

Ia mengeluarkan sebuah jeritan tanpa kata saat aku menusukkan serangan terakhirnya.

Kau tidak akan dikasihani. Aku menaruh tanganku di wajahnya yang telah menjadi semerah apel.

“Ah, jika sulit untuk dikatakan, maka apa kau ingin aku untuk memberitahunya untukmu? Sebagai permintaan maaf untuk membunuhmu kali itu? Fufu, Leigie-sama benar – benar seorang Penguasa Iblis yang bahagia. Untuk seorang Iblis Luxeria untuk memikirkannya sampai sejauh itu, dan bahkan memberikan kali pertamanya untuknya.”

“Huu… Uu… salah, tidak seperti… aku…”

Ia kehilangan arah dan kebingungan sembari jatuh ke tanah.

Ngomong – ngomong, meskipun dengan semua kebisingan yang kami buat, Leigie-sama tidak terusik sama sekali.

Selagi ia membuat wajah seakan dunia akan berakhir, aku menepuk pelan bahunya. Kalau begini, aku benar – benar akan membangkitkan sesuatu yang lain di samping Wrath.

“Hey, Lorna. Bagaimana dengan pertukaran?”

“… Pertukaran…?”

Dengan mata seperti anak anjing yang ditelantarkan, ia berbicara sembari melihat naik ke arahku.

Aku punya hal yang harus kulakukan, dan Lorna punya hal yang harus ia lakukan. Untuk memenuhi keduanya, kenapa kita tidak saling menolong sedikit? Ku ku ku, ini namanya saling membantu, bukan?

“Ya… Lorna. Aku ingin… melihat sosok Leigie-sama dalam pertarungan. Mungkin jika aku melihat saat Leigie menaklukkan Zebul, aku akan lupa sepenuhnya dengan segala yang telah berlalu di sini.

“Gu… uu… kau Iblis.”

Apa yang kau katakan, selarut ini dalam permainan.

Bahkan saat aku memberinya harapan di saat terakhir, Lorna terus bimbang. Ia adalah gambaran yang sempurna dari kesetiaan. Meski ia adalah seorang wanita cabul yang melakukan ini dan itu dengan bayangan tuannya setiap malam.

“Ah, jika begitu, kita bisa merekam sosok bertarungnya dalam sebuah kristal memori, tahu? Ku ku ku, bukankah itu akan menjadi bahan yang… bagus?”

“A-Aku paham! Aku paham, jadi t-tolong hentikan!”

Ia menaikkan bendera putih.

Sudah kuduga, enak rasanya untuk menang. Aku bahkan tidak menggunakan Wrathku, tapi ini adalah perasaan yang menyegarkan setelah sekian lama.

Sekarang masalahnya adalah bisa atau tidak Lorna membujuk pria itu…

Mungkinkah itu adalah masalah terbesarnya?

Lorna dengan lembut menarik pergelangan baju Leigie-sama yang sedang tidur dengan segan.

“Leigie-sama…”

“…”

Mungkin karena itu adalah suara yang selalu berbunyi untuk waktu makannya, secara menakjubkan, setelah hanya satu panggilan, Leigie-sama membuka matanya.

Lorna memulai negosiasi dengan wajahnya yang merah padam.

“Ini mungkin sedikit lancang, tapi hamba punya permohonan kecil…”

“Tidak mau.”

… Dia tidak menunjukkan belas kasihan, bahkan pada si pelayan.

Kurasa itu benar. Bahkan jika ia punya mantra pembangkit dari kematian, dia adalah pria yang bahkan tidak menggunakannya sampai Hiero menjadi sangat merepotkan. Tidak mungkin kehadiran Lorna akan menghasilkan apapun.

Tapi mungkin karena ia bahkan lebih terbiasa berurusan dengan Leigie, ia tidak memikirkan penolakannya.

“Bersama dengan Lize… akankah kau membawa kehancuran pada sang Penguasa Iblis yang menentangmu, Zebul?”

“… Kenapa?”

Kenapa?

Kenapa, kau tanya? Karena itu adalah perintah dari Sang Raja Iblis Agung!

Aku mencoba mendekat, tapi Lorna menghentikanku.

Ia meneruskan dengan kesan baik di matanya.

“Leigie-sama, adakah sesuatu yang spesial yang ingin anda makan malam ini?”

“… Nasi Kare.”

“Maka kami akan menghidangkan Nasi Kare malam ini. Leigie-sama, hamba akan menaruh segala kemampuan hamba untuk membuatnya. Itu akan terasa lebih nikmat jika anda berolahraga sedikit dulu.”

“… Tidak perlu.”

“Leigie-sama, bagaimana dengan makanan penutup?”

“… Pai apel.”

Apa kau seorang bocah?

“Maka hamba akan memanggang Pai Apel. Leigie-sama, itu akan sedikit memakan waktu, jadi bagaimana dengan menggerakkan tubuh anda sedikit?”

“Aku membencinya.”

“Bertarung, maksudmu?”

“Aku seorang pasifis.”

Dan apa – apaan dengan seorang Penguasa Iblis pasifistis?

“Itu cukup menakjubkan, Leigie-sama.”

“Terutama jika musuhnya kuat, aku lebih membencinya lagi. Itu merepotkan.”

“… Dibandingkan dengan anda, yang mulia, kekuatan mereka tidak ada apa – apanya.”

Tidaktidak, bukan itu kasusnya, bukan?

Musuhnya Tingkat Kelima. Dibandingkan dengan itu, Leigie-sama baru – baru ini menjadi Tingkat Ketiga.

Tidak diragukan lagi ia di atas Zebul, tapi aku harus bilang bahwa akan sulit untuk menang semudah itu. Ada masalah afinitas, dan aku tidak tahu rincian Skill – skill Sloth.

Leigie-sama memasang wajah kerepotan sembari mengunci mata dengan Lorna.

“… Gitu. Lorna… kau ingin aku bertarung sebegitu hebatnya?”

“… Ya.”

“Untuk siapa?”

“… Untuk hamba. Nanti… hamba akan menyaksikan. Hamba akan menyuruh Lize… mengambil gambar, jadi…”

“Bu…!”

Aku tertawa secara tidak sadar.

Wajah Lorna sewarna dengan gurita rebus saat ia melotot ke arahku. Matanya memberitahuku bahwa ia tidak memaksudkannya seperti itu, tapi dari sudut pandangku, itu tidak bermaksud lain lagi.

Aku paham. Aku paham. Aku akan mengambilnya! Gunakanlah mereka sebagai bahan sesukamu.

“… Gitu…”

“… Hamba benar – benar minta maaf.”

“… Hah…”

“… Hamba benar – benar minta maaf.”

“… Untuk suatu alasan, perutku sakit…”

Dengan wajah tanpa rasa sakit, sang Penguasa Iblis bicara.

Sebegitu hebatnya!? Kau tidak mau bertarung sebegitu hebatnya!? Leigie dari para Slaughterdolls!

Jika kau ingin pura – pura sakit, setidaknya berikan wajah kesakitan!

“… Hamba benar – benar minta maaf, Leigie-sama.”

Sebagai balasannya, Lorna memberi wajah yang benar – benar minta maaf sembari menundukkan kepalanya.

Bahkan setelah melihatnya, ia tidak tampak memikirkan apapun. Ia beralih, dan menggulungkan tubuhnya menjadi bola.

Ini benar – benar mustahil…

“… Sekarang, Lize. Leigie-sama telah memberikan afirmasi.”

“… Eh!? Yang Benarz!?

Dengan itu? Itu cukup?

Apa itu benar – benar tidak apa? Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, ia menolak, tapi…

Di kursi, sang Penguasa Iblis mencoba menyusutkan tubuhnya. Aku benar untuk mencoba meminta di saat ranjangnya sedang ditata. Jika ia sedang di ranjang, ia pasti akan bersembunyi di balik selimut.

Lorna terus mengatakan beberapa hal yang tak bisa dipercaya.

“… Lize, tolong bawa Leigie-sama. Bahkan jika kau tidak bisa melakukan apapun selain itu, maka setidaknya, kau bisa melakukannya, bukan?”

… Bahkan jika aku tidak bisa melakukan apapun? Itu cukup kasar. Seberapa besar masalah yang kau pikir sedang kualami…

Tapi tidak apa. Itu masih baik – baik saja. Masalahnya adalah… akankah ia pergi?

“… Eh? Haruskah aku menggendongnya di punggungku?”

“… Kau akan memindahkan yang mulia. Yang seperti itu sudah jelas.”

Apa yang sudah jelas? … Bergeraklah!

Pertama – tama, Kastil Bayangan adalah pusat dari massa besar tanah yang diberikan kepadanya. Aku paham jarak umumnya ke perbatasannya, tapi aku harus menggendongnya sejauh itu…?

Aku tidak mau memikirkannya. Bahkan jika aku cukup kuat, apakah harga diri sang Penguasa Iblis tetap utuh setelah digendong oelh seorang wanita yang lebih pendek darinya?

… Kemungkinan iya.

Aku menelan amarah yang mulai mendidih. Aku tidak begitu paham kenapa aku harus melakukan sebanyak ini, tapi itu akan memakan waktu. Naga terbang adalah bentuk transportasi utama di dalam Dunia Iblis.

Jadi kali ini juga, bahkan jika aku menggendongnya, itu akan hanya sampai ke Kandang Naga.

“… Aku paham… aku akan menggendongnya, jadi…”

“Itu Cukup. Sekarang, Leigie-sama… aku minta maaf, tapi…”

“… Kenyataannya, jika aku jauh dari ranjang untuk lebih dari satu jam, aku akan mati.”

Pada titik ini, ia masih tidak tahu kapan harus menyerah. Ia tidak memiliki secercahpun harga diri.

Dan tunggu, jangan berbohong dengan wajah datar! Tidak mungkin benda ini adalah seorang Penguasa Iblis!

Pertama – tama, akan memakan lebih dari satu jam untuk ke sana, bahkan dengan Naga.

“… Bahkan jika kita menggunakan seekor naga terbang, akan memakan lebih dari satu jam untuk ke sana…”

“Apa? Lebih dari satu jam… katamu? Kau, apa kau mencoba membunuhku!!?”

Itu adalah suara paling termotivasi yang pernah kudengar darinya sejak saat aku ditempatkan di sini

Apakah ia benar – benar membencinya sebegitu hebatnya… pria ini.

Rasa sakit yang parah datang dari perutku.

“Jangan main – main denganku! Aku akan bersedia dan bertarung… sebanyak itu tidak apa. Karena itu akan berakhir setelah aku menggunakan beberapa skill secara acak atau apa. Tapi jika kau ingin aku bertarung, maka bawa Penguasa Iblis sesuatu sesuatu itu ke kamarku, atau itu tidak akan terjadi!”

“T-tidak mungkin itu akan terjadi! Sekarang mari pergi!”

Aku menarik lengan sang Penguasa Iblis yang merengek sekuat tenaga.

“… Tidak~ Mau~! Aku tidak akan mau bekerja!”

“Jangan egois! Ini adalah perintah dari sang Raja Iblis Agung!”

“Sial, kenapa aku harus mengalami semua ini… Menjadi seorang Penguasa Iblis… Aku berhenti!”

Pria ini… ia serius. Ia tidak ingin bergerak sebegitu hebatnya.

Kau bahkan tidak bekerja!

Dan pada waktu seperti ini, Penguasa Iblis ini masih tidak memiliki ketertarikan sedikit pun terhadap musuhnya.

“… Sekarang, berhenti main – main! Kau bisa tidur di jalan!”

Dengan Wrath sebagai atributku, satu – satunya yang membuatku membuat begitu banyak kelonggaran adalah pria ini.

“… Bisakah aku tidur dalam pertarungan juga?”

Apakah kepalanya berada di tempat yang benar?

Dan tunggu, kau akan mati! Tidak peduli siapa kau pikir kau ini, kau akan mati! Musuhmu bukan Kelas Jendral, dia adalah seorang Penguasa Iblis sepertimu!

Apa pria ini memahaminya!?

“… Ini tidak berguna. Pergi beritahu Kanon. Bertarunglah untuk dirimu sendiri.”

Dengan mata penuh kepercayaan diri yang tak berarti, pria ini tidak menunjukkan rasa takut bahkan terhadap sang Raja Iblis Agung.

Jika salah satu dari bawahan langsung sang Raja Iblis Agung melihatnya sekarang, tidak akan aneh buatnya untuk dihukum karena pengkhianatan.

“Tidak mungkin aku bisa mengatakan sesuatu seperti itu! Dan tidak seperti kita harus naik naga. Aku hanya berpikir itulah yang tercepat. Sekarang menghilang, atau lakukan beberapa gerakan yang seketika, atau apapun itu yang kau mau! Kau masih bertarung, tahu! Itu tanggung jawabmu!

“…Hah…”

Leigie-sama menghela nafas panjang.

Dia benar – benar tidak berguna.

Dan percakapan ini merepotkan.

Adalah apa yang matanya katakan padaku.

Saat kupikir dia akan mengembalikan beberapa keluhan lagi, aku merasakan perasaan melayang seakan tubuhku telah dilambungkan ke udara.

Medan pandangku seketika berubah.

“He…?”

Telah dilempar ke udara sendiri, juga, Leigie-sama tidak mencoba untuk berguling atau bahkan mengangkat suaranya sembari menggeletak di tanah.

Aku segera membenarkan tubuhku, dan mendarat di kakiku.

Sebuah padang pasir kegelapan tanpa satu tempat pun untuk berlindung tergelar sampai ke horison. Bulan biru pucat menerangi bumi yang tandus tanpa sedikitpun vegetasi.

“Heh? Wai… wah… eh?”

Apa aku sedang melihat ilusi?

Aku yakin sedang berada di dalam kastil jadi bagaimana kita…

Dibandingkan denganku yang sedang di puncak kebingungan, sang Penguasa Iblis yang telah terlempar ke tanah tidak panik sama sekali.

Debu yang hitam legam yang terlihat melambangkan kegelapan itu sendiri, sebuah tanda bahwa itu terendam dalam Mana kematian.

“… Zona… lebih banyak, ke sana…”

“Apa? Tunggu…”

Aku mendengar suara yang mengerikan.

Pandanganku bergeser sekali lagi.

Dari sebuah tanah yang kosong, ke sebuah tanah yang dipenuhi bau darah dan daging dan abu.

Leigie-sama berguling di tanah dengan cara yang tidak enak dilihat.

Saat aku menyentuh tanah, instingku merasakannya.

Jauh berbeda dari eksistensi Leigie-sama… tapi sesuatu seagung dia. Dan tunggu, objek yang melepaskannya berada tepat di depan mataku.

Seakan sebuah lubang telah dibuat dalam ruang, sebuah jubah yang terlihat menyedot seluruh cahaya tergantung pada sebuah bayangan kecil.

Wajah kecil yang tertutup dalam rambut hijau melihat dengan ekspresi kebingungan. Tapi jika kau membandingkan, akulah yang lebih kebingungan di antara kami berdua.

Zebul Glaucus.

Sang Raja Pelahap. Penampilan dan sosoknya cocok dengan yang pernah kudengar.

Bagaimana mungkin ini terjadi… apa aku bermimpi!?

Sang Penguasa Iblis mengabaikanku, dan beralih ke Leigie, yang dengan goyah mengangkat tubuhnya.

Di depan Zebul, dengan langkah goyah layaknya bayi rusa, ia jatuh di atas punggungnya, dan menghela nafas panjang.

Tanpa membiarkan suaranya keluar, dan hanya menggerakkan mulutnya, ia mulai mengeluh.

“… Benarkah… mustahil… tak ada gunanya. Yang satu ini kuat… tidak mau… aku tidak bisa mendengar apapun lalalala.”

Pikiran pertama yang terlahir di pikiranku adalah kesimpulan – kesimpulan.

Tunggu, jadi itu kau!

Aku memang bilang kau bisa teleport atau sesuatu, dan aku akan mengakuinya.

Apa ini juga sebuah Skill Sloth? Tidak, ini sempurna untuk Sloth, kan!

Meski begitu, ia menyerah secepat itu!

Leigie-sama mengambil pandangan pada Zebul, dan mengayunkan kepalanya dari sisi ke sisi.

Perutku seketika mengalami kekejangan – kekejangan sakit yang mengerikan. Mungkin aku akan membakar ususku.

Bagaimanapun, Berhenti. Bermain – main. Denganku!

[1]Ini ternyata adalah sebuah kalimat dari doktrin politis dari Commonwealth of the Two Nations
[2]Hantu
[3]Memainkan semuanya, seperti marionet
[4]Lapisan Pelindung

Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya

 

Leave a Reply