DnO 5 – Kerakusan Gula

Kerakusan Gula

Part 1: Dunia Ini Adalah… Neraka

Di dalam seluruh dunia, kupikir yang paling sulit untuk ditahan adalah 『Lapar』.

Dunia Iblis itu luasnya bukan main, tapi aku ragu ada hasrat yang melampaui dahaga ini.

Jadi, sejak diberikan nyawa sebagai seorang Iblis, saat aku dipilih di bawah Gula, kupikir ini akan menjadi hal yang wajar tentu saja.

Bulan – bulan dan tahun – tahun berlalu dengan baik, dan saat aku hidup dan tidak memikirkan apapun selain bagaimana memuaskan rasa laparku, kelas yang dibebankan padaku telah berubah menjadi 『Penguasa Iblis』 saat aku tidak melihat.

Jika kau bertanya apakah sesuatu berubah setelah aku menjadi seorang Penguasa Iblis, tak ada yang berubah sama sekali. Satu – satunya hal yang aku mampu lakukan adalah makan, dan aku lebih dari puas dengan itu saja.

Mungkin perubahan untuk dibicarakan adalah aku menjadi salah satu yang kuat, dan maka, banyaknya hal yang mampu kumakan telah bertambah.

Itu merupakan yang terkuatlah yang menang dalam arti sebenarnya ungkapan itu. Karena kita sedikit lebih kuat, kita makan, dan hasilnya, kelas kita berkembang.

Tidak butuh waktu lama bagi target dari hasrat itu untuk bergeser dari apa yang Iblis lain panggil ‘Makanan’, ke materi anorganik, dan akhirnya mereka dari ras yang sama.

Fakta bahwa Iblis lain rasanya enak adalah hal yang umum diketahui di antara mereka yang membawa Gula. Memakan mereka memerlukan usaha yang terlalu besar, jadi hanya ada beberapa yang benar – benar melakukannya… artinya selama kau dapat mengurus satu hal itu, tidak perlu untuk ragu – ragu.

Aku sudah hidup untuk waktu yang lama.

Aku dilahirkan sebagai seorang Iblis, menjadi seorang Penguasa Iblis, menjadi bawahan sang Raja Iblis Agung, dan memakan semua Penguasa Iblis musuh.

Semakin kuat targetnya, semakin baik rasa mereka di lidahku.

Di antara Iblis, ada kira – kira lima tingkat.

Artinya, mulai dari 『Tanpa Tingkat』, berlanjut ke

『Pion』

『Ksatria』

『Jendral』

『Penguasa』

Kelima ini.

Tanpa Tingkat berasa paling hambar, dan Penguasa adalah makanan mewah.

Sebagai tambahan, rasa mereka berubah berdasarkan atribut yang mereka bawa. Jika kau bertanya padaku apa makanan yang paling lezat, aku pasti akan menjawab 『Iblis』.

Bagi Gluttony, yang dikutuk dengan rasa lapar yang tak terbatas, tidak peduli berapa banyak makanan yang kau punya, itu tidak pernah cukup.

Terlahir sebagai predator murni, para Gluttony tidak pernah dicintai oleh ras mereka. Karena sifat mereka yang dengan gegabah unggul dalam kekuatan serang, jika mereka bertindak terlalu tanpa pandang bulu, selalu ada ketakutan bahwa lingkungan mereka akan bekerja untuk mengeliminasi mereka.

Ketertiban diperlukan, jadi solusi tercepat adalah untuk menaruh mereka di bawah lindungan seorang yang berpangkat tinggi.

Dan itu adalah sang Penguasa Iblis Agung. Itu saja.

Tanpa alasan yang benar – benar sulit, dan tanpa keadaan tertentu. Untuk alasan sesederhana itu, aku menjadi seorang Iblis yang mengikuti sang Raja Iblis Agung, dan aku mendapat pembantu, dan wilayah, dan… hak untuk melahap Iblis – Iblis yang menentang kami.

Bahkan lebih banyak waktu yang berlalu.

Kekuatanku sebagai seorang Iblis terus meningkat, dan rasa laparku bersamanya.

Lidahku semakin matang, dan makanan biasa tidak bisa lagi memuaskan rasa laparku sama sekali.

Sang Raja Iblis Agung berganti generasi tiga kali, dan dia yang bahkan belum ada saat aku lahir, Kanon dari Kehancuran, mengambil alih.

Dia adalah seorang Iblis kirmizi gelap, personifikasi cantik dari nyala api purgatorium.

Aku masih ingat pertemuan yang kualami dengannya saat ia naik menjabat.

Sihir yang kurasakan dari tubuhnya menyala dalam cara yang pantas untuk Ira, dan udara di sekeliling terlihat membakar dengan panas yang dahsyat karena kekuatan yang mengisinya. Aku merasa aku akan bersujud kapan saja di depan kekuatan itu.

Aku berpikir tentang betapa Iblis cantik dan kuatnya ia.

Dan di dalamnya, kharisma yang meluap – luap.

Jika itu dengan Raja Iblis Agung ini, maka aku akan mampu memuaskan rasa laparku ke tingkat yang belum pernah kurasakan.

Aku akan dapat merasakan rasa yang belum pernah kuketahui.

Dan pada saat bersamaan, kupikir.

Jika aku bisa mencicipinya… sensasinya akan cukup bagus untuk mengirimku ke surga.

Orangtuaku, dan teman – temanku, dan pelayan – pelayanku bahkan memakan Gluttony lain.

Mereka memakan Sloth, dan Greed, dan Lust, dan Wrath, dan Gluttony, dan Pride, dan Envy.

Dalam air mata, dalam amarah, dalam tawa, dalam terimakasih, mereka dimakan.

Tidak ada tingkatan di antara makanan, dan maka, segalanya di dunia ini bernilai sama.

Apakah menjijikkan, atau lezat, meski aku tahu itu tidak akan mengisi perutku, aku makan.

Dunia ini adalah… neraka.

Itu mengembang. Itu menyusut. Itu berubah. Perang dimulai. Perang berakhir. Hal – hal jatuh. Hal – hal bangkit. Segalanya dalam perubahan yang terus – menerus, dan apa yang sedang makmur harus membusuk. Tapi di dalam semua itu, satu – satunya yang tak berubah sama sekali adalah rasa laparku.

Hanya rasa lapar yang tetap sama.

Bersama dengan euforia tak berujung yang kualami saat memuaskannya.

Jadi aku memulai pemberontakan terhadap sang Raja Iblis Agung, Kanon Iralaude kemungkinan bukan masalah persediaan makanan atau apapun. Kemungkinan itu hanya masalah waktu.

Karena aku seorang Iblis. Seorang Iblis Gluttony.

Part 2: Biarkan Aku Mencicipi

Sihir selevel ini tidak mampu memuaskan Inti Jiwaku sama sekali.

Sungguh indah hari – hari dulu. Dunia Iblis dilimpahi dengan iblis – iblis kuat yang telah menghabiskan bertahun – tahun memuaskan hasrat mereka.

Mungkin aku hanya hidup terlalu lama. Mungkin aku hanya telah makan terlalu banyak hal lezat. Dan dalam sumber daya terbatas kami, untuk memuaskan lidah kami yang telah matang, kami terus berjuang layaknya anak – anak.

Fufufu, sungguh indah hari – hari dulu… bukan? Aku mulai terdengar seperti orang tua.

Sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu, sebagian besar Iblis yang kuat… dalam perang skala besar dengan pasukan yang menyerbu dari Surga, sebagian besar dari mereka sirna.

Apa yang tersisa dari para iblis sekarang. Para Penguasa Iblis semuanya adalah anak – anak muda yang bahkan belum hidup sepuluh ribu tahun.

“Zebul-zama, aku lapar.”

Seorang Iblis dengan kepala Serigala bicara.

Dia seorang Iblis Kelas Jendral, yang juga berkuasa atas Gluttony. Untuk seseorang yang masih belum mencapai status Penguasa Iblis, aku lebih dari memahami deritanya.

“Fufufufufu, tentu saja… aku juga sama. Tahanlah. Hidangan yang dimakan setelah menahan sampai batas terjauh rasa lapar adalah kebahagiaan yang terbesar. Mereka bilang rasa lapar adalah bumbu yang terbaik, bukan?”

“Makanan… aku ingin… makanan.”

Wangi manis darah dan daging dan jiwa menggelitik hidungku.

Meskipun aku bisa dipanggil sesuatu seperti Pelahap Bangkai, aku adalah seorang pelajar dalam perjalanan demi cita rasa tertinggi, dan aku tidak melahap apapun yang ada. Aku tak tahu dari mana nama itu muncul.

Aku melangkahkan kakiku ke singgasana putih bersih dari marmer. Jeritan – jeritan yang teredam datang dari mulut makanan yang menopang singgasana.

Untuk Iblis Pride… menghancurkan kesombongan mereka sebelum memakan mereka menciptakan rasa yang terhebat.

Tapi apapun kasusnya, bagaimanapun aku tidak merasakan banyak kekuatan darinya. Kurasa setidaknya rasanya akan lumayan.

Tentu saja, perutku tak berujung, jadi aku tak akan melakukan sesuatu sebodoh menyianyiakan makanan. Aku tidak pernah melupakan doaku sebelum dan sesudah makan.

Darah mengucur keluar seperti air mancur, dan menodai wajahku. Pada saat bersamaan, singgasananya mulai goyah.

“H-hey! Jangan makan mereka begitu saja sesukamu!”

“Gu?”

Saat aku buru – buru melihat ke bawahnya, aku melihat sosok bawahanku menggerogoti kepala orang lain dengan rahang besarnya.

Aaaaaah, tepat saat aku sedang di tengah persiapan makanan…

Bahkan jika bahannya buruk, mereka tidak memahami niatanku untuk membuat mereka selezat mungkin.

Tapi senyuman yang timbul pada wajah serigala itu saat ia mengeluarkan suara kunyahan membuatku merasa itu tidak berarti lagi. Itu karena aku bisa memahami bagaimana perasaannya.

Ya ampun, betapa tak berdayanya anak – anak ini.

Aku melompat turun dari Singgasana, mengambil lengan kanan mayat yang telah kehilangan kesegarannya, dan menaruhnya di mulutku.

Jiwa yang ranum itu hanya mengeluarkan rasa manis untuk sekejap saja. Dalam beberapa kunyahan, itu menghilang dalam sekejap mata.

Well, wel, ya ampun. Ini tidak berpengaruh pada rasa laparku.

Saat aku sedang merobek lengan kirinya, si kepala serigala bicara.

“Gu.. Zebul-zama… kau cepatz…”

“Yeah, aku… seorang yang bisa makan lumayan banyak.”

“Bukankah kau baruzan makans seorang Penguasa Ibliz…”

“Yep, itu lezat.”

Sesuai dugaanku, Penguasa Iblis berbeda. Kedalaman citarasanya berbeda. Teksturnya berbeda. Aku bisa bilang dengan yakin bahwa tubuhku senang saat aku memakan mereka.

Bahkan jika mereka pendatang baru, sihir yang mereka punyai benar – benar tak bisa ditandingi oleh Kelas Jenderal di bawah mereka.

Si Serigala menghabiskan kepalanya, tapi saat ia melihat sisa – sisanya untuk sesuatu yang lain, tulang rusuknya telah hilang.

Dia mengarahkan pandangan menuduh padaku.

“Tidak adil…”

Well, well.

Hal – hal yang anak – anak katakan belakangan ini.

Hasrat tak berujung yang ia miliki dalam hal makanan membuatku bicara dengan penuh kekaguman.

“Bukan tidak adil, bukan tidak adil. Kau harus mengambil makananmu sendiri… sendiri. Orang yang bertarung dengan Claud Astal adalah aku, bukan? Maka sudah wajar bila aku yang memakannya. Mungkinkah kau melakukan apapun?”

“Ibliz itu baruzan… aku yang membunuhnya…”

“… Benarkah? Apakah seperti itu kejadiannya? Fufufu, well, pencapaian para pengikut adalah pencapaian sang Raja, benar? Jika kau membencinya… kau harus bangkit di dunia ini.”

Jika kau lakukan itu, kau suatu hari akan mengenal citarasa seorang Penguasa Iblis. Well, mungkin kau akan hidup lebih bahagia jika kau tidak pernah mengenalnya.

Aku mengaktifkan sebuah Skill Gluttony.

Aku menggunakan sihirku, dan perutku berguncang lebih hebat lagi dengan kelaparan.

『Million Dish』

Tentakel – tentakel yang tumbuh dari punggungku menusuk tubuh yang tadinya milik seorang Iblis Pride yang telah kehilangan kepala dan kaki tangannya.

Si kepala serigala menjerit.

“Tunggu…”

“Fufufu, well, aku akan menyisakan sedikit untukmu.”

Skill – skill Gluttony hanya digunakan saat makan.

Tiap tentakel bergerak sendiri – sendiri, dan tubuh si Iblis Pride ludes dalam kurang dari sedetik.

Si kepala serigala buru – buru mencoba menggigitnya, tapi giginya mengatup tanpa hasil di udara kosong.

Fufufu… mencoba mengganggu orang makan, adab makan yang buruk, nak.

“Aaaaaaaah, kau bilang kau akan… menyizakan zedikit…”

“Fufufu… terimakasih atas makanannya… rasanya lumayan.”

Bahkan jika ia kelas Jenderal, kurasa itulah semua yang ia punya. Sudah kuduga, dulu…

Tidak, itu hanya Penguasa Iblis Tingkat Kelimabelas. Iblis – iblis yang ia kumpulkan hanya selevel itu.

“… Zebul-zama…”

“Fufu, lihat, aku menyisakannya, bukan?”

Serigala dengan mata berkaca – kaca ini… ia adalah seorang Iblis Kelas Jendral dari pasukanku, Gar Luxeed. Aku menunjuk ke singgasana putih bersih, dan menawarkannya padanya.

“… Singgasana itu.”

“Aku tidak… butuhs piring.”

Ya ampun, sebagai seorang Kelas Jenderal, ia kekurangan martabat… bukankah seharusnya Iblis tingkat lebih tinggi memiliki keanggunan yang lebih?

Ahaha, well, serigala adalah karnivora, benar? Itu… aku telah melakukan sesuatu yang buruk.

Tapi kau tidak seharusnya pilih – pilih makanan.

“Begitu… fufu, maka kurasa aku akan memakannya…”

“… Hal yang dapat dimakanz dapat dimakan.”

“Saat diperlukan, terkadang kau harus terjun dan makan debu dan bebatuan juga.”

Mulut pada tangan yang kupakai menunjuk… taring – taringnya menggerogoti marmer itu.

Rasanya tidak buruk. Tapi bahkan jika itu dibuat dari material berkualitas tinggi, pada akhirnya, itu hanyalah sebuah piring. Tidak masalah untuk membodohi rasa laparku, tapi sesuai dugaanku, itu tidak bisa menyaingi apa yang seharusnya ada di atas piring.

Perang sudah lama berakhir, dan inilah perjamuan kemenangannya.

Pasukan Pride telah tumbang, dan seluruh tentara musuh menjadi makanan.

Mereka sudah jelas bukan tandinganku sama sekali. Meskipun dengan Penguasa Iblis mereka di antara mereka, hanya dalam dua jam, kekalahan mereka sudah ditentukan.

Pasukan kami hanya memiliki Iblis Gluttony, tapi Gluttony unggul dalam kekuatan serang, dan Skill Gluttony yang paling dasar, 『Wave of Starvation』 memiliki area of effect yang besar.

Selama aku di sini, seluruh Iblis di bawah level kemampuan tertentu sekedar tertangkap di dalam skill itu, dan berakhir sebagai makanan.

Tentu saja, aku memastikan untuk menahan diri, tapi mereka adalah gerombolan yang tak tegas sejak awalnya.

Fufufu, tidak ada artinya seorang Iblis Superbia yang tidak tegas. Pada akhirnya, dia hanyalah seorang pecundang yang menyerahkan dirinya sendiri ke Kanon Iralaude.

Pride itu… semakin kuat dengan bertambahnya kecongkakan yang seseorang miliki. Dan itu juga menambah rasanya.

Juga ada fakta bahwa perbedaan tingkat di antara kami terlalu besar, tapi 『Overrule』 yang si Penguasa Iblis gunakan bukanlah sesuatu yang spesial juga.

Jeritan – jeritan putus asanya tidaklah buruk sebagai bumbu, sih.

Telah selesai memakan singgasananya, aku menepuk perutku.

Aku cukup langsing. Seluruh nutrisi digunakan untuk memberi makan Skill – skill Gluttony-ku.

“Zebul-zama… aku lapar.”

“Hmm? Secepat ini? … kurasa ini karena hanya ada kuantitas tanpa kualitas…”

Dengan ini, aku hampir tidak sempat beristirahat bahkan dengan apa yang dihabiskan skill – skillku.

Aku memindai sekelilingku, tapi segala sesuatu yang bisa kugerogoti telah menghilang ke dalam perut seseorang atau lainnya, dan semua yang kulihat adalah mata – mata yang berkilau lapar.

Well, well, makan secara rutin seharusnya memberi rasa kenyang yang lebih baik, tapi… well, apa boleh buat jika mereka tidak bisa menahannya.

Karena aku baru saja memakan seorang Penguasa Iblis, aku masih bisa menahannya untuk beberapa saat, tapi menjawab ekspektasi rakyatnya juga tugas seorang Raja, bukan?

Aku menepukkan kedua telapak tanganku, dan memandang wajah – wajah rakyatku, yang sedang bergelora dalam hasrat – hasrat dasar mereka.

“Sekarang, mari mencari lebih banyak makanan…”

“YEEEEEEEEEEEEAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!!”

Bawahan – bawahanku berteriak. Tanah berguncang di bawah rasa lapar mereka, dan jeritan – jeritan binatang terdengar membelah udara.

Mereka punya motivasi lebih dari cukup. Mayoritas pengikut rakusku berbentuk binatang. Bagi mereka, yang tidak memiliki kekuatan menggigit menembus segala hal, itu adalah sosok yang mereka ambil agar setidaknya dapat mengunyah benda – benda keras.

Dan maka, anggota pasukanku… tidak begitu baik dalam menggunakan kepala mereka. Well, untuk tidak melakukan apapun selain makan, itu tidak terlalu diperlukan.

Di antara mereka, satu yang sebenarnya dikenal sebagai seorang Jenderal yang cukup banyak akal, Gar, memiliki air liur yang menetes dari mulutnya seraya membentangkan sebuah peta.

Kastil Sang Raja Iblis Agung, Istana Api yang Menyayat dikelilingi oleh wilayah Penguasa Iblis lain, dan kelihatannya kita tidak akan bisa mencapainya dengan semudah itu.

Jadi sebelum memakan Kanon-sama, menghidangkan Penguasa Iblis – Penguasa Iblis lainnya sebagai hidangan pembuka sambil melanjutkan ke arah Istananya adalah rencana yang menakjubkan kalau kubilang.

Fufufu, bahkan aku… menghadapi beberapa Penguasa Iblis secara bersamaan akan sulit. Mari memakan mereka secara berurutan saja.

Selama sang Raja Iblis Agung masuk ke perutku, kemampuanku akan meningkat lebih jauh lagi. Aku bahkan bisa menjadi Raja menggantikannya.

Itu karena seluruh Penguasa Iblis memiliki ambisi yang meluap – luap. Tidak akan ada yang peduli tentang seorang Raja yang cukup lemah untuk termakan.

Di rute yang ditunjukkan Gar, ada sebuah wilayah yang terbagi oleh sebuah garis.

Tanah yang luas di jalur dengan jarak terdekat menuju sang Raja Iblis Agung. Lebarnya begitu lebar sehingga bahkan dengan tanah para Penguasa Iblis yang kumakan kemarin dan hari ini digabungkan tidaklah cukup untuk menyamainya. Bentangan yang akan memerlukan lebih dari sehari untuk diseberangi, bahkan dengan seekor Naga Terbang. Jika kita ingin menghindari tanah ini, kita harus mengambil jalan memutar.

Saat melihat nama yang tertanda di atasnya, aku mengernyitkan alisku.

“Ya tuhan… kesalahan navigasi macam apa. Mengapa dengan hampir dua puluh Penguasa Iblis yang ada, nama orang ini yang harus muncul?”

“Hmm? Apa ada mazalah?”

“Masalah besar. Masalah BESAR. Demi tuhan, apa yang Mizna dan yang lain pikirkan saat mereka memikirkan rute ini…”

“Zebul-zama… Mizna tak lagi di sini. Setter dan Grad juga.”

“Tidak, aku tahu. Mereka lezat.”

Aku paham, tapi, kau tahu, aku ingin mengajukan satu atau dua keluhan.

Aku ingat ketiga orang yang Kanon-sama utus untuk mengawasiku.

Orang – orangku tidak membantu dalam membuat rencana, jadi rencana invasiku digarap dengan ahli oleh mereka bertiga. Tentu saja, aku tidak sejujur itu untuk memberi tahu mereka bahwa ini semua bertujuan untuk memakan Kanon-sama.

Semua yang mereka pikirkan adalah rutenya. Tentu saja, karena mereka di bawah kontrol langsung Kanon-sama, mereka hanya akan menghalangi setelah itu, jadi setelah mereka menyusun sebuah rencana, mereka menjadi hidangan pembuka makan malamku.

Pada akhirnya, seorang Kelas Jenderal, terlebih lagi yang sedang lengah, bukanlah tandinganku.

Well, aku menikmati rasanya. Fakta bahwa mereka jauh lebih lezat dari jenderal – jenderal pasukan Pride itu pasti karena perbedaan di kualitas dasarnya.

Tapi tetap saja, untuk itu untuk menjadi seperti ini…

Untuk pertama kali sejak lama sekali, sebuah emosi selain rasa lapar naik ke permukaan. Aku menyentuh namanya di peta.

Sejujurnya… aku tidak begitu merasa siap untuk yang satu ini.

“… You, could it be you don’t know of the Demon Lord of Acedia, Leigie of the Slaughterdolls?”

Mantan Tingkat Keempat. Setelah beberapa pencapaian belakangan ini, dia telah dipromosikan ke Tingkat Ketiga; seorang Penguasa Iblis Sloth tingkat tinggi.

Bukannya kekuatan seorang Penguasa Iblis dapat ditentukan hanya dengan tingkatan, dan bukannya aku takut akan kekuatannya. Dia bukanlah pendatang baru, seperti aku, ia adalah seorang Penguasa Iblis berumur yang tetap hidup setelah Perang Surgawi sepuluh ribu tahun lalu. Tapi itu tidak begitu mengerikan buatku.

Tentu saja, aku belum pernah bertarung dengannya, tapi fakta bahwa ia melekat pada kehidupan untuk selama ini juga berarti bahwa ia telah menimbun kekuatan sebanyak itu. Maka, benar bahwa ia tidak akan semudah Penguasa Tingkat Kelimabelas dan Tingkat Keenambelas itu, tapi inti dari masalahnya berada di tempat yang benar – benar lain.

Aku menghela nafas dalam – dalam.

Dan kepada bawahan imutku, yang tidak memahami apapun, aku menyampaikan kebenaran yang mengejutkan.

“Iblis Sloth itu… pahit, bukan?”

“Pahit…?”

“Yeah, aku selalu menghormati siapa pun yang kukalahkan dengan memakan mereka apapun wujud mereka, namun… bahkan buatku, aku tidak mau memakan seorang Iblis Sloth.”

“Eeeeeeeeeh?”

Gar melompat kaget.

Kau berlebihan… kupikir seraya meneliti sekelilingku, hanya untuk menemukan bawahan – bawahanku, yang tidak pernah memikirkan apapun selain makan, dan tidak pernah menunjukkan sekeping pun kecerdasan menatap seakan mereka baru saja melihat sesuatu yang tak dapat dipercaya.

Tidaktidaktidaktidak.

Aku mencoba untuk memberi penjelasan sederhana. Ini adalah pengetahuan Gluttony.

“Tidak, bukan, well… Iblis – iblis tingkat rendah baik saja, paham. Tapi semakin mereka membawa Kemalasan mereka ke tingkat ekstrim, cara – cara agar mereka dapat melaksanakannya bertambah… Di antaranya, untuk mencegah dimakan, ada skill ini untuk menjatuhkan rasa daging dan jiwa mereka, jadi…”

Itu berbahaya.

Itu adalah skill individual, dan cukup Tingkat Tinggi, tapi itu adalah ekspresi citarasa yang mengerikan.

Rasanya, rasanya itu sendiri cukup pahit untuk memberi trauma mental permanen dengan sekali gigit. Itu bukan pada tingkat di mana beberapa orang yang menyukai makanan pahit dapat menyantapnya. Itu bukan masalah suka, atau tidak suka. Itu hanyalah sangat buruk.

Bahkan untuk seseorang yang dijuluki sang Pelahap, dalam makan, aku hanya ingin makan makanan yang terbaik, dan dari seorang yang telah makan segala macam racun untuk mencoba mengisi perutku… itu buruk. Itu cukup mengerikan untuk membunuh. Itu adalah hal pertama, dan satu – satunya dalam hidupku untuk memberiku sakit perut.

Lalu ada opsi untuk menelan mereka bulat – bulat, kau boleh pikir begitu, tapi itu salah. Rasa mereka bergema di dalam jiwa mereka. Bahkan jika kau mengirimnya langsung ke lambungmu, itu tidak salah lagi sangat buruk.

Untuk merubah rasa agar tidak dimakan, itu seperti sifat sejenis buah.

“Sloth level rendah… memiliki afinitas yang baik, dan mereka tidak bergerak, jadi mereka mudah diburu, dan rasa mereka unik, tapi tidak buruk… tapi dari segalanya yang satu ini harus seorang Penguasa Iblis.

“Artinya?”

Dalam satu detak, aku menaruh kekuatan ke dalam kata – kataku, dan menyatakan.

“Hal dengan rasa terburuk di dunia ini. Tidak perlu dipertanyakan lagi.”

“Oooooooooooh.”

Aku tak yakin apa yang telah mereka salah pahami, tapi mereka mulai bertepuk tangan.

… Kalian, kalian tidak memahaminya sama sekali. Kurasa itu benar. Pandangan Gluttony terhadap makanan kelewat terbuka… jadi tidak lezat adalah satu hal, tapi aku berani taruhan mereka belum pernah mencicipi arti sebenarnya dari Mengerikan.

Aku tak bisa apa – apa selain memberkati mereka karena keberuntungan mereka yang baik. Dalam kehidupan ribuan tahunku, itu adalah sebuah trauma yang langsung masuk ke jajaran tiga teratasku.

Well, kau tidak sering berkesempatan memakan seorang Iblis Sloth, dan saat mereka melampaui Kelas Jenderal, mereka semakin jarang dan jarang tampak di medan perang, jadi aku berani taruhan kita tidak akan bertemu satu pun.

… Hmm?

“… Begitu… Kau mengantisipasi bahwa ia tidak akan menampakkan diri. Mizna…”

“Hm?”

Begitu. Jika kau menaruhnya seperti itu, maka aku paham.

Sungguh, seorang Penguasa Iblis Sloth berpartisipasi secara pribadi adalah mustahil.

Jika kau tanya mengapa, tidak seperti Gluttony, hasrat mereka tidak mengharuskan mereka untuk melukai orang lain, dan sang Penguasa Iblis Sloth seharusnya adalah eksistensi paling malas di seluruh Dunia Iblis.

Mustahil ia akan mengikuti sesuatu semerepotkan perang. Bahkan jika sang Raja Iblis Agung memerintahkannya, itu mustahil.

Aku mencoba mencari di ingatanku untuk wajah Leigie, tapi aku tidak bisa menemukannya.

Telah melayani di bawah kekuasaan tiga Raja Iblis Agung yang berbeda, aku seharusnya adalah veteran tertua dalam pasukan Kanon-sama, tapi tak peduli seberapa jauh aku mengorek ingatanku, aku tidak mampu menggambarkan citra Leigie dari para Slaughterdolls.

Aku mengerutkan wajahku, seraya memusatkan nutrisi ke otakku. Dan akhirnya aku mampu menarik keluar sebuah ingatan.

Memang samar, tapi aku ingat.

Aku yakin dia di sana saat festival di mana Raja Iblis Agung Kanon-sama naik menjabat. Ditarik ke sana kemari oleh inspekturnya.

Dia memiliki rambut hitam, dan perawakan langsing yang tak bisa diandalkan. Bagaimana bisa orang itu seorang… Aku ingat Penguasa Iblis lain mengucapkan hal – hal semacam itu.

“Ada apa? Zebul-zama…”

“… Tunggu dulu. Huh? Kupikir dia juga di sana untuk Raja Ferris Craun yang sebelumnya juga…”

Ingatanku menyusur lebih jauh ke belakang.

Festival di mana Penguasa Iblis sebelumnya ditetapkan.

Ingatanku kabur, dan segala sesuatu terlihat seakan tertutup kabut, tapi aku yakin ia di sana.

Seorang berambut hitam, dan tampak payah, digendong di punggung bawahannya. Bagaimana bisa orang itu seorang… aku ingat Penguasa Iblis lain mengatakan itu. Samar – samar.

Aku memiringkan kepalaku.

“… Huh? Tunggu dulu, berapa lama dia telah di sana… Ferris Craun menjabat cukup lama, bukan…”

Ferris dilantik sebagai sang Raja Iblis Agung lebih dari dua puluh ribu tahun lalu.

Bahkan aku tidak bisa mengingat sang Raja Iblis Agung sebelum itu, tapi saat aku pertama menjadi seorang Penguasa Iblis, apakah pria itu di sana? Atau tidak?

Masa hidup seorang Iblis kelewat panjang, tapi baginya untuk hidup selama ini, ia pasti memiliki kekuatan yang hebat.

Kupikir dia tidak ada selama itu. Tapi aku tak punya begitu banyak keyakinan padanya.

Mungkin karena apakah ia di sana atau tidak tidak akan mengubah apapun…

“Zebul-zama, apa yang haruz kita lakukans?”

“Hmm… Bahkan jika kau menanyakanku itu. Karena kita telah sampai sejauh ini, kita tidak punya pilihan selain melanjutkan.”

Kami telah membakar jembatan – jembatan kami dalam perjalanan ke sini, jadi semuanya bergantung pada seberapa cepat kami dapat menaklukkan Kanon-sama.

Mengambil jalan memutar itu… tidak baik. Kita harus maju dengan keyakinan dan kebulatan tekad.

Untungnya, Sloth dikatakan untuk unggul dalam daya tahan. Ia memiliki afinitas yang kelewat baik dengan Gluttony. Selama aku dapat menahan rasanya.

Tidak, untuk rasanya… sudah sangat lama sejak aku terakhir makan seorang Sloth tingkat tinggi. Ingatanku samar, dan bisa jadi hanya dampaknya yang tersisa di situ, dan jika aku  mencoba makan satu sekarang, itu tidak akan sebegitu buruknya.

Yeah. Itu benar. Tanpa memedulikan masa lalu, mustahil aku yang sekarang bisa makan sesuatu dan merasa jijik karenanya.

Terlebih lagi, mustahil Sloth itu akan benar – benar muncul. Jika mereka memberontak, paling banter itu hanya pasukan sang Sloth. Pasukan Leigie memang terkenal kuat, tapi paling banter, mereka dipenuhi Jenderal. Bukan tandinganku.

Malahan, aku tidak sabar untuk memakan mereka.

“Baiklah, maka kita akan pergi langsung ke arah Istana Api yang Menyayat!”

“YEEEEEEEEEEAAAAAAAAHHHHHH!”

Kanon-sama… tunggu aku.

Aku, sebagai perwakilan seluruh Iblis Gluttony, akan mencicipimu.

Part 3: Mari Menyantap

Penyesalanku datang terlalu cepat.

Fakta bahwa aku tidak akan bisa makan seorang Penguasa Iblis, dipadukan dengan motivasi Legiunku yang menyusut dengan cepat.

Bukannya aku telah membiarkan diriku lengah. Mungkin aku harus bilang, ‘sesuai yang diharapkan dari seorang Iblis kuno.’

Pada umumnya, Iblis bertambah kuat semakin lama mereka menua. Itu karena mereka punya lebih banyak waktu untuk terus menuruni tree mereka. Tentu saja, kekuatan tidak meningkat jika kau menghabiskan seluruh waktumu tanpa melakukan apapun, Dunia Iblis bukanlah tipe lingkungan di mana kau bisa menghabiskan waktumu tanpa melakukan apapun.

Bahkan tanpa Gluttony, keteraturan Dunia Iblis adalah di mana yang kuat yang bertahan hidup. Dalam dunia seperti ini, adalah langkah yang buruk untuk meremehkan seorang Iblis yang telah mengukir eksistensi mereka tanpa henti.

Mengambil jalur terpendek, lenganku telah lama memasuki wilayah sang Penguasa Sloth.

Dan ada sesuatu yang kusadari.

Gar memasang ekspresi limbung yang jarang, seraya mengalihkan pandangannya ke arahku.

“… Zebul-zama… Zonanya…”

“Yeah, aku tahu… sial, ini tidak mau pecah sama sekali. Apa – apaan ini…”

Kekukuhannya sangat mengerikan, dan udara di sini stagnan.

Itu adalah sifat dari medan yang setiap Iblis yang berpihak pada seorang Penguasa Iblis seharusnya tahu.

『Abyss Zone』.

Sebuah pertarungan atas tanah antar Penguasa Iblis.

Kami dulunya sekutu, tapi sekarang 『Abyss Zone』 Leigie menunjukkan taringnya ke pasukan musuhnya. Karena zonanya bekerja dengan sang Penguasa Iblis sebagai pusatnya, aku tidak terpengaruh, tapi meski begitu, bagi Zonaku untuk tidak mencapai Gar yang berlari tepat di sisiku adalah lebih dari abnormal.

Aku telah makan untuk cukup lama sehingga angka tidak penting lagi, tapi aku tidak ingat apapun semacam ini.

Instingku memberitahuku bahwa kami hanya perlu pergi sedikit lebih jauh lagi… Zona yang sedang kutandingi lebih kuat dari zona mana pun yang pernah kutemui sebelumnya, tapi dengan jaraknya sejauh ini, aku unggul.

Tapi aku hanya sedikit kekurangan dalam kekuatan. Sudah dua hari sejak kami berangkat setelah memakan Penguasa Iblis itu, jadi rasa lapar adalah salah satu masalahku.

Dalam keadaan begini, aku tidak bisa menggunakan kekuatan Gluttonyku sepenuhnya.

“Hanya sedikit lebih jauh lagi… sial, bahkan jika itu membutuhkan waktu, dan kita harus mengambil jalan memutar, aku seharusnya makan Penguasa Iblis lain sebelum datang ke sini…”

Sesuai yang diharapkan dari Tingkat Ketiga. Ia benar – benar memberiku masalah. Dari awal hingga akhir, ia benar – benar berbeda dari mereka berdua.

Bahkan jika itu tidak berpengaruh dalam pertarungan antar Penguasa Iblis, saat pasukan terlibat, 『Abyss Zone』 membuat perbedaan besar. Malah, jika zona sekutu tertembus, pilihan terbaik adalah mundur.

Well, saat itu tertembus biasanya adalah sesaat sebelum kekalahan, jadi itu cukup mustahil.

Setelah meneruskan beberapa saat, aku merasakan bau gelora dan semangat bertarung beterbangan di sana – sini.

Bukan Iblis Rakus. Adalah bau yang jauh lebih manis, wangi yang membangkitkan selera makanku.

Pertarungan sudah ada di depan mata. Aku tak tahu apakah Penguasa Iblis mereka ada di sana, tapi rasanya seakan mereka tak akan membiarkan kami lewat dengan mudah.

Sepertinya benar. Jika mereka melakukan sesuatu seperti membiarkan Penguasa Iblis yang telah memakan dua penguasa lainnya lewat, Penguasa yang memimpin mereka akan dieksekusi oleh Kanon-sama. Itulah mengapa dua penguasa yang dulu itu melancarkan serangan padaku meskipun mereka ketakutan.

Haruskah aku makan mereka saja sekarang?

Aku beralih ke pasukanku sendiri.

Tidak, belum. Bahkan jika aku melakukannya, kekuatan yang akan kuperoleh darinya terbatas. Aku tidak yakin tentang Kelas Jenderal, tapi Iblis manapun di bawahnya akan masuk ke perutku tanpa guna.

Pertama – tama, menembus Abyss Zone mereka dengan memakan tentara yang seharuskan diperkuat olehnya adalah tindakan sia – sia.

Akankah sang Penguasa Iblis keluar?

Itulah masalah utamanya.

Jika ia tidak di sini, maka dalam kemungkinan terburuknya, aku bisa menggunakan sebuah skill untuk memakan seluruh pasukan mereka… dengan Skill – skill Gluttony, itu mungkin.

Jika sang Penguasa Iblis datang untuk menyerang secara pribadi, aku harus berkonsentrasi padanya, jadi aku harus menyerahkan pasukan Leigie kepada pasukanku sendiri. Untuk memerangi pasukan Leigie tanpa bonus – bonus Zonaku cukup membuat kewalahan, bahkan untuk Pasukan Gula yang berspesialisasi dalam penyerangan.

Dari sudut pandang strategis, musuh seharusnya mengirim Penguasa Iblis mereka. Kecuali jika pasukannya sangat kuat, kau harus mengirim seorang Penguasa Iblis untuk bertarung dengan sesamanya jika kau menginginkan kesempatan untuk menang.

Tapi musuhnya adalah Sloth. Oleh karena itu, mustahil dia akan keluar. Terlebih lagi, dia seharusnya adalah seorang Iblis yang selevel denganku. Pengejaran hasratnya seharusnya telah menjadi eksistensi dirinya sendiri sekarang.

Dan dalam rangka menyokongnya, Leigie belum pernah menginjakkan kaki di medan perang bersama pasukannya. Setidaknya, dalam seluruh ingatanku, Leigie belum pernah bertarung barang sekali.

Aku merasakan taringku dengan lidahku, dan memulai sebuah Skill.

Mari sedikit memamerkan selera makanku pada Leigie.

Sebuah Skill pendukung, 『Fleeting Requiem』.

Denganku sebagai pusatnya, seluruh wilayah dalam beberapa meter dikunjungi oleh 『Night』.

Mereka yang tersentuh olehnya akan mendapati sihir mereka terlahap, sebuah Skill Gluttony. Itu adalah variasi 『Wave of Starvation』, dan itu adalah salah satu yang kuperoleh saat menjadi seorang Penguasa Iblis dahulu kala.

Bagi mereka yang menyentuhnya, itu melukai mereka, dan seluruh sihir dan skill yang mencoba menargetnya terurai, dan digunakan untuk mendukung sihirku sendiri. Itu benar – benar sebuah manifestasi dari nafsu makanku yang tak berujung.

Itu bahkan melahap Abyss Zone milik Leigie, dan sementara itu hanya memiliki radius kecil di sekitarku, aku menyebarkan Zonaku sendiri.

Seperti sebuah tamparan di muka, aku merasakan sensasi kuat yang pahit. Pada sensasi yang tak terduga itu, aku meringis.

Hanya memakan Zonanya terasa seburuk ini… inilah mengapa Sloth…

“Zebul-sama, sesuatu datang.”

Pada saat itu, bawahanku melapor.

Di seberang padang pasir, bayangan seseorang sedang berlari memasuki indraku.

Tidak, salah untuk bilang itu hanya satu. Itu hanya satu, tapi secara bersamaan, banyak.

Bayangan – bayangan yang sama itu, dari seorang Iblis Perempuan yang berukuran hampir sama denganku, membelah menjadi banyak, dan mendekat dengan kecepatan tinggi.

“… Habisi dia!”

Seluruh pasukan terlambat dalam mengikuti perintah – perintahku.

Pihak yang mendekat… hanya terdiri dari satu orang.

Yang lebih penting, sekitar beberapa ratus meter di belakangnya, sebuah pasukan berukuran dua kali lipat pasukan kami sedang mendekat…

Mereka benar – benar meremehkan sebuah pasukan yang dipimpin oleh seorang Penguasa Iblis. Aku kagum ada sebuah skill yang bisa mempermainkan mataku, tapi meski begitu, kekuatan yang kurasakan dari gadis itu tidaklah besar.

Bau pahit yang tipis tercampur dalam bau yang datang dari dirinya. Dia bukanlah seorang Iblis yang murni hanya bertujuan memenuhi satu hasrat saja.

Nafsu membunuh yang tajam keluar bersama – sama dari seluruh tubuh yang membelah itu.

Aku mencari dalam pikiranku untuk mencari tahu skill macam apa itu. Dari banyaknya jumlah Iblis yang telah kumakan, pengalaman bertarungku mengerti.

Kemungkinan itu adalah sebuah Skill Luxuria tingkat tinggi. Aku yakin ada Skill Kelas Penguasa Iblis yang mampu melahirkan banyak ilusi dengan wujud fisik.

Well, itu tidak terlihat seperti datang dari dirinya sendiri.

Fufu… apa kau tidak tahu Tingkatku? tidak tahu Namaku?

Apakah kau seorang 『Ksatria』 atau seorang 『Jenderal』… jika kau pikir itu cukup untuk mengalahkan seorang Penguasa Iblis, maka aku yakin aku sedang diremehkan.

… Well, kau akan punya banyak waktu untuk menyesalinya. Di dalam perutku, itu.

『Wave of Starvation』 milik salah satu Iblis garis depan kami memakan salah satu ilusinya. Terhadap kekuatan yang melahap sihirnya, aku yakin menyaksikan si gadis kecil mengernyitkan alisnya.

Dia tak berpengalaman. Dia belum bertarung cukup lama. Tidak, dia telah dikirim untuk mengkonfirmasi kekuatan kami, jadi begitu.

Fufu, maka biarlah. Bagaimana kalau aku bermain denganmu?

Terhadap kecantikan si gadis muda yang berlalu cepat, tangan si Iblis berhenti sejenak.

Selera makannya dengan cepat kembali, tapi ia sudah terlambat untuk melancarkan serangan. Si gadis menghindar dengan mudah, dan mencungkil tenggorokannya. Benar – benar kemampuan yang menyegarkan.

Dilimbungkan oleh kecantikan… Fufu, betapa hebatnya menjadi muda. Majulah masa muda. Majulah masa muda.

Aku menjulurkan tentakel – tentakelku lewat tanah untuk memakan si Iblis yang telah tumbang. Sihirku bertambah sedikit sekali.

Aku tidak punya waktu untuk menikmati rasanya, tapi pengorbananmu tak akan sia – sia… karena dunia ini adalah tempat di mana yang kuat yang bertahan hidup.

Gar menggunakan taringnya untuk menembus si gadis dari belakang.

Tapi tubuh itu seketika pudar seperti mimpi, dan itu terurai menjadi energi sihir murni.

Tanpa menyisakan apapun, aku menyedotnya. Itu manis. Sihir yang amat manis. Begitu. Lust. Dia setidaknya cukup berpengalaman untuk tahu kapan harus menggunakan dan membatalkan sebuah skill.

Dia bisa saja lebih manis dari perkiraan awalku.

Mungkin aku telah diberkati oleh langit. Saat aku mengambil sihirnya, kekuatanku mencapai sebuah tingkat yang melampaui kekuatan Leigie.

Bersama dengan sensasi sesuatu sedang pecah, Zona milik Leigie pecah, dan milikku meluas. Tepat saat itu sampai padanya, pergerakan si gadis terhenti.

Terlebih lagi, seluruh tubuhnya secara bersamaan.

Fufufu, itulah seberapa kuat Zona miliknya. Dia tak pernah mengalami pecahnya Zona milik Leigie, Aku berani taruhan.

Tapi itu tidak bagus. Kau tidak bisa berhenti bergerak di saat seperti ini…

Aku diam – diam mengularkan perabaku melalui tanah, dan menusuk sepuluh tubuh terdekat. Tubuh – tubuh yang telah ditusuk dari titik buta – titik buta mereka semua terurai menjadi sihir seraya pudar seperti kabut.

Kelihatannya tubuh aslinya tidak ada di antara mereka. Well, dia hanya mengintai situasinya sih.

Tapi, meski begitu, sihirnya cukup hebat. Bahkan jika aku tidak bisa memakan seorang Penguasa Iblis, cita rasa ini juga cukup.

Perutku berbunyi. Gadis ini punya bakat sebagai bahan makanan…

… Baiklah, seorang gourmet sepertiku akan memberimu persiapan terbaik sebelum menyantapmu.

Tepat saat aku telah menentukan pilihanku, aku mendapat firasat yang amat buruk.

Aku langsung menyebarkan 『Wave of Starvation』ku sendiri.

Itu adalah instingku, terlahir dari selama aku hidup sebagai Penguasa Gluttony, dan mengikutinya adalah pilihan yang benar.

Dari kejauhan, sebuah kekuatan yang menyaingi seorang Penguasa Iblis terwujud.

Seekor naga api yang menyedot segala yang di jalannya bertabrakan dengan gelombangku.

Panas dan cahaya yang tidak kalah dari matahari Dunia Iblis beradu dengan Wave of Starvation-ku.

“Zebul-zama, ini…”

“Ku… fu… bisakah kau tidak bicara padaku untuk sejenak saja?”

Itu adalah serbuan cahaya dan api yang mengerikan.

Itu bahkan mampu menyaingi senjata yang prajurit surgawi gunakan. Api langit yang mampu menyaingi Keputusan Langit.

Angin panas yang menerobos gelombangku mengguncang rambutku, tapi rambutku menempel ke dahiku karena keringatku.

Kekuatan macam apa ini!? Bahkan jika perutku kosong, sihirnya begitu luas sehingga Wave of Starvation milik sang Tingkat Kelima tidak mampu melahapnya!?

Wrath? Tidak, ini… bukan api amarah. Rasanya berbeda.

Pada saat itu, aku mengingat gosip yang diangkat almarhum Mizna dulu.

Baru – baru ini, seorang Penguasa Iblis tertentu dianugerahi sebuah Pedang Iblis legendaris.

… Begitu, jadi inilah… Pedang Iblis Celeste. Pedang yang membanggakan nama Naga Kelas L yang telah melampaui Penguasa Iblis!!

Fufufu, aku telah lupa…

Dengarkan baik – baik! Bukankah ia Penguasa Iblis sainganmu?

Wajah kesusahan pemimpin dari para inspektur yang dikirim padaku, Mizna, terlintas dalam benakku.

Begitu, ini benar – benar… sebuah ancaman.

Mizna, tampaknya kau lebih cakap dari apa yang kau pikirkan.

“Apa dia Penguaza Ibliz muzuh!?”

“Fufufu… jika yang menggunakannya adalah sang Penguasa Iblis, kita sudah jadi abu sekarang.”

Panasnya, cahayanya, mereka berubah menjadi bumbu yang indah, sembari mendukungku.

Rasa puas mengembang dalam tubuhku. Rasa yang luar biasa… umami yang amat pekat, yang menghiburmu begitu saja. Luar biasa, jadi inilah kekuatan sebuah Pedang Iblis!

Satu lagi, aku punya satu hal lagi untuk kuharapkan…

Kekuatan wave of Starvationku meningkat, dan itu mulai mendorong balik api sang Pedang Iblis sedikit demi sedikit.

Rasanya kekuatan meluap – luap dalam sekujur tubuhku…

“Betapa lezat…! Jika kekuatan si pedang dapat mengeluarkan rasa sebanyak ini, maka seberapa lezatnya pedang itu sendiri…”

“Zebul-zama, tidak adil!! Merebut semuanya untuk dirimu sendiri…”

“With people of your caliber, you’ll die if you try eating it, you know… Fufu, polish yourselves so we can sit at the same dining table one day.”

“Dengan orang – orang sekaliber kalian, kalian akan mati jika kau mencoba memakannya, tahu… Fufu, poles diri kalian sendiri jadi kita bisa duduk di meja makan yang sama suatu hari nanti.”

Aku memandang pasukan imutku, yang masih sadar akan rasa lapar mereka di saat seperti ini.

Mereka benar – benar telah memberi kami hadiah selamat datang yang lumayan.

Fufu, mereka telah membawa sebuah Pedang Iblis setingkat ini. Apa boleh buat jika mereka salah paham bahwa mereka bisa melakukannya tanpa seorang Penguasa Iblis. Benar – benar tak tertolong lagi.

Sesuai dugaanku, si Sloth tidak di sini. Jika ia turun tangan, satu serangan sudah mengakhiri semua ini.

Tapi Penguasa Iblis Agung itu benar – benar menganugerahkan senjata – senjata berbahaya… dia bisa saja memberikannya padaku…

Bagi Gluttony yang memangsa yang lemah, persaingan antar kekuatan adalah perjamuan yang paling agung.

Aku menjilat bibirku seraya terus memakan kekuatan apinya.

Pada saat itu, gelombang yang tadinya sedang memperoleh kekuatan tiba – tiba terdorong mundur.

Jadi keluarannya bisa meningkat lebih jauh lagi… aku menaruh kekuatanku untuk mengontrol gelombangnya.

Tapi semakin lama waktu berlalu, semakin besar keuntungan yang akan kudapat. Sebanyak ini tidaklah cukup untuk mengisi perutku.

Gluttony memiliki afinitas yang bagus dengan skill – skill yang mengeluarkan kekuatan secara terus – menerus, dan Pedang Iblis.

Apakah itu api atau es, petir atau apapun, aku bisa memakannya.

Pedang Iblis sejenis ini sangat bergantung pada penggunanya.

Dan keluarannya benar – benar… besar. Aku tak yakin tentang seorang Penguasa Iblis biasa, tapi itu kekurangan kekuatan untuk menaklukkanku dalam sekali serang.

Meskipun itu tidak berada pada tingkat sebuah pedang yang mampu memuntahkan api yang tak terbatas, 『Wave of Starvation』 adalah sebuah skill dasar. Aku bisa terus mengeluarkannya selama berjam – jam.

“Fufu, berapa lama mereka akan bisa terus menjaganya? Jika mereka mampu memuaskan rasa laparku, aku bisa saja membiarkan mereka pergi, tahu.”

Jumlah sihir yang menakjubkan, rasa nyaman dari laparku yang sedang dipuaskan, gigil yang berdenyut tersebar ke sekujur tubuhku, dan sebuah gelombang menyapu bersih pikiranku.

Ah, betapa hebatnya. Aku senang kita tidak melakukan sesuatu se-tidak-elegan mengambil jalan memutar!

Aku sedang merasakan apinya dalam keadaan bagaikan mimpi, dan mataku tertutup saat aku terhanyut di dalamnya, saat kekuatan Pedang Iblis itu mulai membengkak dengan hebatnya.

Itu terjadi dalam sepersekian detik.

Gelombang yang tadinya bertarung dengan seimbang seketika tersapu pergi, dan pandanganku tertutup dengan api yang membakar segalanya.

“Ap!?”

“!?”

Dengan setitik perlawanan, dari sebuah kesempatan untuk mengeluarkan jeritan terakhir, Gar yang berdiri di sampingku terbakar habis.

Aku langsung menjulurkan tentakelku, dan memakan sihir itu tepat sebelum itu menghancurkan jiwaku.

Bagiku, itu benar – benar di luar dugaan. KeuntunganKU sendiri telah membuatku lengah.

Meskipun trance yang telah disebabkan olehnya, api dalam perutku menaikkan rasa lapar yang serasa melahap seluruh tubuhku. Instingku mengamuk.

Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin.

Aku menyapu api yang mengelilingiku dengan tentakelku yang tak terhitung banyaknya. Pasukanku, Para Iblis Gluttony, tanpa diberi kesempatan untuk bernafas, terserap oleh tentakel – tentakelku sebelum api itu mampu menyentuh mereka.

Energi itu. Sihir itu. Semua orang selain aku pasti akan musnah. Aku tidak punya waktu untuk menggunakan sebuah skill. Pertama – tama, Skill – skill Gula tidak cocok untuk bertahan.

Aku telah menentukannya. Tepat saat pasukanku akan musnah… aku akan meneruskan semangat mereka.

Bahwa pasukan yang kulatih, pasukan yang berbagi rasa laparku akan dimakan secara pribadi olehku.

Dengan setiap ayunan, tentakelku menyediakanku energi tak berujung. Alih – alih mengambil sihirnya, aku menggunakannya untuk memperkuat kekuatanku sendiri.

『Fleeting Requiem』 yang membungkusku menghadapi api itu. Keluaran api itu menyaingi atau bahkan melampaui kekuatan yang seorang Penguasa Iblis Wrath mampu lepaskan.

Tapi tak seperti Wave of Starvation, yang sedang kugunakan sekarang adalah sebuah Skill tingkat Penguasa Iblis. Jauh melampaui sebuah Skill tingkat Iblis biasa.

Cakupannya sempit, tapi itu memisahkanku dari api Celeste, dan menyimpan energinya sembari mengirimkannya padaku.

Air mataku mengalir. Kekuatan itu, itu berarti, rasa yang luar biasa itu.

Kemungkinan itu adalah kartu truf Iblis lawan.

Semburan api itu berakhir dalam hanya beberapa detik. Sisa – sisa panasnya menyebabkan angin berhembus hebat, mengacak – acak padang pasir.

Tidak ada… yang tersisa. Pasukanku yang berjumlah mendekati seratus seluruhnya terkonversi menjadi sihir, dan tertempatkan di perutku.

Api Celeste juga sama.

“Haa haa haa, maafkan aku… semuanya…”

Aku menjilat bibirku. Luapan emosi ini membuatku mendongakkan kepala ke langit.

Pasukan musuh masih jauh. Di bentangan padang pasir hitam ini, aku sendiri.

Aku menepukkan kedua tanganku. Aku harus mengucap syukur.

“… Terimakasih atas hidangannya.”

Kekuatan yang kulahap terpecah, dan kekuatanku sendiri meningkat.

Zonaku, yang telah kehilangan artinya melampaui Zona milik Leigie secara penuh, dan menyelimuti seluruh padang pasir.

Kekuatan meluap – luap. Lebih dari yang pernah kurasakan sebelumnya.

Fufufufufufufu. Aku bisa melihat segalanya.

Pasukan Tingkat Ketiga, dan lokasi Iblis Jenderal yang menggunakan Pedang Iblis itu.

Mencakup beberapa kilometer, Zonaku terus memecahkan Zona Leigie.

Persepsiku memberitahuku bahwa itu telah meluas dengan eksplosif.

Sesuai dugaanku, kehadiran Penguasa Iblis itu tidak ada di mana – mana.

“Aku meremehkan kalian semua… Fufufu, untuk berpikir seorang Jenderal biasa mampu mendesakku sejauh ini… tapi sekarang aku telah mencicipi kartu truf kalian.”

Aku menonaktifkan 『Fleeting Requiem』. Kekuatan yang telah dilarutkan oleh skill ini terpusat padaku secara bersamaan.

Dari sini, sekarang giliranku… tidak, giliran kami untuk menyerang.

Bersama dengan suara Jenderal musuh, Iblis dengan jumlah yang jauh melampaui kami menyerbu ke arah kami dengan ekspresi yang membuat bulu kuduk berdiri.

Mereka adalah Iblis yang lebih kuat dari dugaanku. Untuk Iblis di bawah Kelas Jenderal, itu.

Dengan kekuatan kalian, aku akan menunjukkan rasa hormatku dengan bertarung sekuat tenaga.

Aku menjilat bibirku.

Waktunya menyantap.

Aku menjulurkan tentakel – tentakelku dari punggungku, dan menusuk Iblis – Iblis yang datang padaku.

Aku merasakannya saat aku menusuk yang pertama. Lezat…

Fufufu, sesuai dugaanku. Kerja bagus, Leigie dari para Slaughterdolls! Sesuai yang diharapkan dari Iblis generasi lama yang bertahan hidup dari Perang Surgawi! Kau punya pasukan yang bagus di tanganmu!

Aku terbawa suasana dalam makan dengan tentakel – tentakel itu. Sebuah tombak menembus punggungku, dan aku memakannya.

Waktu berlalu bagaikan mimpi. Melawan seorang Penguasa Iblis, semangat bertarung mereka tak mati. Keberanian yang benar – benar gigih. Sebuah Legiun kuat yang tidak kalah dengan milikku sendiri!

Seorang Iblis kekar bertangan enam yang tampak seperti pemimpinnya mengayunkan sebuah pedang ke arahku.

Aku menghunus 『Fang Sabre』ku sendiri untuk menemuinya.

Taring putih gadingku, dan bilah kirmizi si pria besar bertemu.

Saat bilahnya bertemu, aku paham.

Fufufu, begitu. Iblis ini adalah pengguna Celeste. Dia mengeluarkan wangi yang lezat.

Bukan hanya pedangnya, tapi Iblisnya itu sendiri juga.

Aku menahan senyuman yang meledak keluar dari hatiku.

“Pemimpin Musuh…”

The Demon raises a heroic laugh, as he slashes at me with the swords in his other hands. I sense that all of them Demon Blades with considerable power. I used my Tentacles to meet them.

Si Iblis mengeluarkan tawa heroik, sembari menebas ke arahku dengan pedang – pedang di tangan – tangannya yang lain. Aku merasakan mereka semua adalah Pedang Iblis dengan kekuatan yang hebat. Aku menggunakan tentakel – tentakelku untuk menemui mereka.

Bau ini, dan gaya bertarung itu.

Seorang Iblis yang telah mengumpulkan Pedang Iblis sebanyak ini. Dia pasti seorang Iblis Greed.

Dan dia melancarkan sebuah serangan dengan api yang tadi.

Dia benar – benar tahu bagaimana cara menggunakan kekuatannya sendiri.

“Kemampuan yang bagus.”

“Ki ki ki, sebuah kehormatan untuk dipuji olehmu!!”

Api mengalir naik dari pedangnya, tapi tanpa memedulikan pedang yang berkerlip, aku menggunakan Fang Sabre-ku untuk mengincar lehernya. Sesuai yang diharapkan dari sebuah Pedang Iblis yang bahkan aku pernah dengar. Jika aku menerima serangan langsung dari itu, kelihatannya akan buruk. Tapi di antara seorang Penguasa Iblis dan seorang Jenderal, perbedaan dasarnya terlalu jauh.

Tentu saja, bukannya dia lemah. Bukannya dia lemah, tapi tak peduli seberapa banyak ia berlatih… selain 『Superbia』, untuk seorang 『Avaritia』, jurang antara Jenderal dan Penguasa Iblis bukanlah jurang yang kecil.

Tentakel – tentakelku mengincar Iblis kecil yang menyerangku dari belakang, dan aku menghindari serangannya.

Di situlah, si gadis pemberani yang telah mencoba untuk melancarkan serangan pertama.

Sebuah Pedang Iblis es, dan sebuah belati. Fufu, bagi seorang lust untuk bertarung jarak dekat… betapa beraninya.

Aku telah yakin. Kedua orang ini adalah Kelas Jenderal.

Yang pertama adalah Greed-kun, dan yang kedua adalah Lust-kun, dan yang lain hanyalah serangga pengganggu. Aku melihat perbedaan kemampuan bertarung di antara keduanya, tapi di depanku, bukannya itu berarti.

Mereka semua sama – sama makanan.

“Dua dari mereka… sedikit kecil, tapi mereka terlihat lezat.”

Pergerakan si gadis terhenti sejenak. Kelihatannya bocah ini memiliki kebiasaan buruk di mana dia berhenti bergerak saat dia terkejut di medan perang. Dia terlalu tidak berpengalaman.

Aku tak membiarkan kesempatannya lewat, dan menusuknya. Maksudku, itu hanya ilusi. Mataku bilang padaku begitu.

Sesuai dugaanku, sosok si gadis pudar layaknya kabut. Tanpa menyianyiakan sedikit pun, aku menyerapnya, dan menantang pedang besar yang terayun ke arah punggungku dengan membuka lebar mulutku.

Ekspresi kaget Iblis itu. Fufufu, sesuai dugaanku, untuk benar – benar mengenal cita rasanya, aku harus menggunakan mulutku sendiri.

Yang lainnya yang tersebar di sana – sini tidak memberitahu begitu banyak perbedaan antara Gluttony atau Greed.

“Sebuah Pedang Iblis… belum pernah makan satu sebelumnya. Bisa jadi lezat.”

“Apa!?”

Aku menghentikan pedang yang diturunkannya dengan lengan – lengan kuatnya dengan gigiku.

Logam panas yang kurasakan di lidahku, dan sihir yang tebal. Api yang tumpah menjadi aksen yang sempurna.

Aku akan memakannya… koleksimu.

Maksudku, itulah bagaimana kau memasak Greed.

Aku menghentikan pedang lain yang ia ayunkan dengan tangan lain dengan menaikkan Fang Sabre-ku sembari membuat celah yang jelas pada pertahananku.

Fufufu, aku tahu kau di sana. Luxeria.

Aku tahu segalanya. Karena sekarang… kau dalam wilayahku.

Muda. Muda. Muda. Muda. Lust Muda… Aaaaaaaah, betapa lezatnya ia pasti.

Aku tidak mampu menahannya lebih lama lagi.

“Tubuh utamamu… sihir itu terlihat cukup lezat.”

Aku mengejutkannya, dan dalam celah itu, aku menggunakan lidah dari mulut yang kubuka di punggungku untuk menggenggam pedangnya.

Itu adalah pedang yang dingin dan lezat. Ekspresi Iblis Greed itu berubah untuk sesaat.

“Fufufu, teksturnya tidak buruk…”

Aku menggerakkan lidahnya dengan mencolok, dan menarik pedang itu dari lengan si gadis.

Dia benar – benar tak berdaya. Kau perlu melatih kekuatan fisikmu juga… fufu.

Si Iblis Greed mengayunkan pedang lain dengan panik, dan aku menghentikannya dengan sebuah mulut yang kumanifestasikan pada tanganku, sebelum mengunyahnya.

Segalanya luar biasa.

Pengalaman bertarung yang tinggi. Status sebagai seorang Iblis. Tidak ada darinya yang bahkan menyentuh kakiku.

Tepat saat aku merusak salah satu koleksi si Iblis Greed, ia terbuka lebar.

Inilah mengapa Iblis hari – hari ini… apakah aku mulai terdengar tua lagi?

Aku menggunakan lidahku untuk mengumpulkan serpihan pedang yang kutangkap, dan terus mengunyahnya.

Greed menjerit. Jangan khawatir, pedang yang kau banggakan sungguh lezat.

Tidak, apakah sudah waktunya?

Sesuai dugaan, si Iblis Greed berhenti bergerak, tapi saat aku memanjangkan lidahku ke arahya, itu terhempas dengan kekuatan yang menakjubkan.

Apa!? Apa – apaan ini, dengan begitu tiba – tiba?

Sebuah Pedang Bastard yang kasar jatuh ke tanah.

Seakan telah meledak, kerikil beterbangan ke segala arah. Melanjutkan dengan gerakan aneh, pedangnya datang ke lidah dan tentakel – tentakelku dengan momentum yang dahsyat, dan menghempaskan mereka bersama – sama.

“… Apa kau ini?”

Itu adalah sebuah tengkorak berwarna timah. Tingginya sekitar dua meter. Tanpa tanda – tanda emosi, atau kehadiran apa pun, ia hanya terus mengayunkan lengannya dengan kasar.

Tapi kekuatan fisiknya jauh melebihi Iblis Greed itu.

Itu hanya terlalu tak masuk akal. Itu bukan Iblis. Itu tidak mengeluarkan wangi Iblis.

Aku menjilat Celeste untuk terakhir kalinya, dan melepaskannya. Tidak peduli seberapa lemah musuhnya, aku telah bersikukuh tidak akan pernah lengah.

“… Apa – apaan itu… itu bukan seorang Iblis, itu tidak punya kehadiran.”

“Ki ki ki, ia hanya sebuah wadah lilin, tahu! Boss hanya telah memantrainya sedikit!”

Si tengkorak menjejak tanah, dan menyerbu ke arahku seperti binatang.

Ia mengayunkan pedang raksasa yang lebih tinggi dari tubuhku.

Ia benar – benar cepat, dan ia punya kekuatan, tapi tetap saja, serangan – serangannya tidak begitu berarti bagiku, aku mampu melihat menembusnya, dan jika aku hanya menantang pedang ini secara langsung, aku cukup yakin aku mampu mengatasinya.

Aku terkejut karena wangi yang ia keluarkan bukan wangi makhluk hidup, tapi kira – kira hanya itu.

Tetap saja, yang satu ini… tidak terlihat lezat sama sekali, bukan.

Wadah lilin? Benda yang memegang lilin itu? Kenapa benda seperti itu bisa bergerak?

“… Tidak terlihat begitu lezat. Meski aku terlihat seperti ini, Aku adalah seorang gourmet.”

Aku menangkis pedangnya, dan memutuskan salah satu lengannya.

Tidak ada perubahan dalam ekspresinya. Tidakkah ia merasakan sakit? Dan tunggu, pertama – tama, apakah ia hidup?

Well, kurasa tidak ada diantaranya yang benar – benar berarti.

Dalam pertukaran sebelumnya, aku paham. Greed-kun dan Lust-kun memang kuat, dan Wadah lilin-kun tidaklah buruk, tapi mereka bukan tandinganku.

Celeste adalah satu – satunya cara mereka untuk melukaiku, dan aku ragu mereka punya kartu truf yang lebih hebat dari itu. Bagi seorang Jenderal semata untuk mencoba membinasakan seorang Penguasa Iblis Tingkat Tinggi, itu adalah senjata yang menghina. Lumayan menghina.

Aku mengambil jarak. Sudah hampir waktunya untuk turun dan memasak.

Aku mengaktifkan salah satu skill Penguasa Iblisku, 『Evil Eye』.

Itu adalah sekelompok Mata Iblis yang mampu mengekang pergerakan Iblis yang lebih rendah dariku. Ada batasan bahwa aku tidak bisa bergerak juga, tapi sebagai sebuah skill, itu punya banyak kegunaan.

Dan begitu, aku memulai sebuah Skill Gluttony.

『Over Table』

Aku memakan sihir yang beterbangan di udara.

Dari sekujur tubuhku, bahkan wajah dan kakiku, sejumlah tentakel yang tak bisa dibandingkan dengan sebelumnya berkecambah.

Peraba yang tak terhitung dengan cairan ungu yang menetes – netes.

Mereka adalah lengan – lengan segar yang memiliki banyak nafsu makan di dalam mereka. Fufu, bisakah kalian menahan mereka?

Sebagai hadiah perpisahan, aku akan menjelaskan metode memasaknya, sembari menjulurkan tentakel – tentakelku ke target mereka.

Akan merepotkan jika mereka berpikir mereka sama seperti yang sebelumnya.

Fufufu, ini… bukan kelas Iblis. Ini adalah Skill kelas Penguasa Iblis.

Lust dan Greed menghindar, dan tengkorak mencoba menemuinya dengan pedangnya, yang jatuh berkeping – keping sebagai hasilnya.

Untuk mendapat rasa yang lebih jelas, aku menariknya masuk dengan tentakel – tentakel, dan mengunyahnya dengan mulut normalku, tapi sesuai dugaanku, itu hanya 『benda』 mati. Tanpa konstruksi yang berhati – hati, hanya sebuah obyek. Itu tidak begitu lezat.

Tapi kelihatannya itu adalah salah satu koleksi Greed-kun, jadi ia mengeluarkan jeritan yang cukup bagus.

Fufu, kelihatannya aku telah merampungkan satu langkah dalam proses memasaknya.

“Sialan, untuk mendapatkannya, apa kau tahu berapa banyak masalah yang kulewati? Berapa Iblis yang kubunuh…!?”

“Fufufu, tampaknya aku telah melakukan sesuatu yang tak termaafkan. Jangan khawatir, kalian akan bertemu di perutku tak lama lagi.”

Aku menjulurkan tentakel – tentakelku.

Tentu saja, aku tidak melakukan apa pun sekasar menyentuh hidangan utamanya secara langsung.

Aku ngemil dengan memakan iblis – iblis lain, sembari mengincar senjata – senjata Greed-kun, dan equipment Lust-kun sedikit demi sedikit.

Tentakel – tentakel muda jauh lebih cepat dari yang biasa. Greed-kun menghindari mereka dengan baik, tapi rintangannya terlalu tinggi untuk Lust-kun yang berharga kita, dan kulit yang dia tutupi dengan sangat baik memperlihatkan semakin banyak dan semakin banyak, dan ada sedikit kesenangan dalam melakukannya.

Matanya yang terisi dengan nafsu membunuh cantik. Bahkan sebagai sesama wanita, aku bisa saja menumbuhkan perasaan untuknya.

“Apa yang kau rencanakan…”

“Fufufu, apa kau sampai mengunyah cangkang saat makan?”

Aku mengayunkan tentakel – tentakel itu.

Fufufu, maaf, maaf, aku telah membuat sebuah kesalahpahaman.

Sebagai seorang gourmet, biarkan aku mengakuimu. Kau benar – benar seorang Luxelia. Dan seorang tingkat pertama padanya.

Pencuci mulut yang terbaik. Aku akan mengajarkanmu kenikmatan yang sesungguhnya.

Celeste keras. Tapi bahkan jika itu adalah sebuah Pedang Iblis, jika itu terus beradu dengan kekuatanku, itu akan hancur berantakan.

Kemungkinan dia sudah kehabisan stok sejak beberapa waktu lalu. Greed-kun sekarang hanya mengayunkan Celeste semata.

Dari sini, ini menjadi pekerjaan monoton.

Tapi tak apa. Itu adalah proses yang krusial.

Aku tak henti – hentinya mengganggu Greed-kun. Aku menelanjangi Lust-kun sedikit demi sedikit.

Hal – hal semacam ini menambah nafsu makan seseorang. Tidak ada yang lebih lezat dari makanan yang kubuat untuk diriku sendiri.

Saat Lust-kun telah mencapai pakaian hari lahirnya[1], keduanya mulai mendiskusikan sesuatu.

Aku menghentikan tanganku sejenak, dan melihat mereka. Apa mereka masih punya rencana yang bisa mereka mainkan?

Pasukanku telah diluluhlantakkan juga. Jika aku tidak membuatmu cukup lezat untuk jatah mereka juga, aku akan kerepotan.

Jika mereka menginginkannya, kau harus juga menunjukkan padaku segala yang kau punya. Aku berani taruhan itu akan meningkatkan cita rasanya.

Setelah sampai sejauh ini, kau masih malu? Sembari menyembunyikan payudara dan selangkangannya dengan tangannya, Lust-kun dan Greed-kun memiliki wajah yang cukup suram sembari berbicara.

Tetap saja… untuk berpikir sesuatu seperti itu baik saja dalam kehadiran seorang musuh, mereka benar – benar muda. Sudah berapa lama sejak aku melakukan sesuatu seperti itu…

Selagi aku sedang mengorek beberapa ribu tahun ingatan yang jauh, aku menyadarinya.

Anginku sendiri tertiup oleh angin orang lain.

Beberapa kilometer wilayah yang kuambil segera berbalik, dan diambil oleh Penguasa Iblis lain.

Itu sekedar sihir yang tenang, tak memiliki rasa, dan damainya mencekam, seakan itu hanya di sana untuk ada, dan tak ada tujuan lain.

Dan secara bersamaan, sesuatu yang setara menggantikan kekuatanku yang telah meresap ke tanah.

Bagaimana mungkin… mengapa, di titik ini…

“… Oy, oy, apa yang kalian lakukan? Apa ini bagian dari rencana kalian?”

Tidak mungkin itu kejadiannya. Pada titik ini, kebangkitan Zona mereka tidak akan membalikkan kekalahan pasti mereka.

Perbedaan kami tidak berada pada level serendah itu.

Tapi dalam sekejap, tidak ada darinya yang berarti lagi.

Apa yang di depan mataku, bukanlah Lust-kun atau Greed-kun.

Seakan telah tersambar petir, aku merasakannya di jiwaku.

Kehadiran sebuah sosok yang cukup agung untuk menyaingi diriku sendiri. Sebuah eksistensi kegelapan.

Sebuah rasa peninggian derajat yang membuatnya terasa hanya dengan ia berdiri, sesuatu yang menakjubkan akan terjadi. Rasa dari eksistensi mutlak, di mana bahkan jika kau menambahkan Lust-kun dan Greed-kun bersama – sama, itu bahkan tidak akan bisa mendekatinya.

Begitu… aku sangat beruntung. Kelihatannya bahkan sang Bos Besar akan keluar untuk menemuiku.

Saat ini, aku dalam kondisi yang kelewat baik. Jika aku makan Lust-kun dan Greed-kun, kemungkinan kondisiku akan meningkat lebih tinggi lagi, tapi aku tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan keduanya.

Aku tidak yakin atas niatan apa, tapi si pemuda kurus berambut hitam, dengan ekspresi lesu di wajahnya, melemparkan dirinya ke tanah.

Pergerakan absurdnya telah mendapatkan kekagumanku.

Yang satu ini…

Salah satu dari mereka yang melayani sang Raja Iblis yang Paling Agung.

Seorang Penguasa Iblis, yang berkuasa atas Kelambanan dan Kebejatan.

“… Kau. Siapa kau?”

Pada pertanyaanku, sang Penguasa Iblis bicara dengan ekspresi malas di wajahnya.

“… Gitu.”

Part 4: Terimakasih Atas Hidangannya

“Fufufufufu, begitu… jadi ini adalah rencana rahasia kalian. Kalian tidak buruk. Aku tidak menyadarinya sama sekali.”

“… Eh? Ah, tidak…”

Lust-kun berekspresi bingung sembari melihat Raja Sloth yang horizontal.

Ekspresi wajahnya tidak dibuat – buat. Eh? Sebuah kebetulan? Tidaktidak, mustahil…

Mustahil sang Penguasa Kemalasan hanya lewat secara sembarang begitu saja.

Tapi mata Lust-kun dan Greed-kun keduanya sedang hanyut dalam kebingungan.

“Mengapa aku…”

“… Eh? Kau masih mengatakan itu sekarang!?”

Eksistensi yang termaterialisasi kira – kira bersamaan dengan Leigie, seorang gadis dengan rambut kirmizi, memandang marah dengan sekuat tenaga.

Seragamnya, dengan hitam sebagai dasarnya, sama dengan apa yang Mirna dan lainnya kenakan. Dia dari Orde Hitam.

Dia menarik Leigie, dan bersusah payah mencoba membuatnya berdiri. Situasi ini sama persis dengan gambaran yang kumiliki tentang dia ditarik ke sana kemari pada salah satu upacara pelantikan sang Raja Iblis Agung atau lainnya.

… Begitu, jadi dia menyeret si Penguasa Sloth ke medan perang. Ira yang benar – benar terampil.

Kelihatannya aku benar – benar banyak menyia – nyiakan. Mizna… seharusnya aku memasakmu dengan benar sebelum memakanmu. Maaf.

Tapi meski sedang ditarik, Leigie tidak menunjukkan tanda – tanda akan bangun. Ia menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi dengan sikap yang amat sangat enggan. Tindakan ini adalah Sloth, tidak salah lagi. Seakan – akan tidak ada semangat di kedua matanya.

Aku hanya bisa berpikir bahwa ia sedang menungguku untuk memakannya. Secara bersamaan, itu adalah kodrat dari Iblis – Iblis Sloth.

Orang – orang itu sangat keras, tapi pada waktu yang sama, mereka tidak benar – benar bergerak.

Fufufu, betapa menarik. Ini benar – benar menarik. Mencoba bertarung denganku seperti itu…

Di muka pertarungan antar Penguasa Iblis yang kuat, semangat bertarungku berkobar, bersama dengan rasa laparku.

Kurasa aku harus memberi salam yang pantas untuk memulai semuanya.

“Penguasa Sloth. Senang bertemu denganmu… Tidak, sudah sekian lama. Namaku adalah Zebul Glaucus… seorang Penguasa Iblis yang menguasai Gluttony.”

“Gitu.”

Pada perkenalan diriku, Leigie menjawab dengan ketertarikan yang sama sedikitnya dengan sebelumnya. Terlebih lagi, hanya dengan satu kata.

Tapi aku tidak boleh terkecoh oleh penampilan atau kelakuannya.

Zona milik Leigie lebih kuat dari milikku.

Dia hanya malas, dan sama sekali tidak lemah. Bahkan setelah ia terang – terangan menunjukkan jumlah sihir yang tak masuk akal, entah mengapa, nafsu makanku tidak terangsang. Artinya, kupikir Gluttony punya afinitas yang buruk dengannya.

“Leigie-sama! Kau akhirnya datang jauh – jauh ke sini, jadi cepat bertarunglah!”

“… Tapi yang satu itu… Kuat…”

Pada kata – kata Wrath-kun, Leigie mengarahkan wajah enggan yang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Ekspresi Wrath-kun diwarnai dengan amarah, dan keputusasaan. Sihir panas membaranya seperti parfum yang menggelitik hidungku. Itu benar – benar bau yang lezat.

Fufufufufufu, AHAHAHAHAHAHAHAHAHA, mungkinkah bahwa bahkan saat ia sedang menghadapiku, ia pikir ia dapat menghancurkanku dengan mudahnya?

“Kupikir kau terlalu meremehkanku, Leigie.”

“Yeah… Kare tidak cukup untuk ini…”

Bersama dengan beberapa kalimat bodoh yang tak dapat dimengerti, pertarungan dimulai tanpa peringatan.

Untuk menguji, aku mengirim lengan mudaku untuk menyerangnya dari segala arah. Aku menyimpan satu dari mereka dan mengirimkannya kepada Wrath-kun.

Meskipun ia mengeluh, Leigie kemungkinan tidak membiarkan dirinya lengah. Wrath-kun melangkah mundur untuk menghindari tentakelnya, sebelum memuntahkan api dari telapak tangannya.

Tentakelnya meminum habis api itu, tapi tak mampu menampung semuanya. Ujungnya sedikit terbakar. Yang satu itu adalah pembawa Ira yang cukup kuat.

Tapi itu adalah rasa yang cukup hebat… aku muntah.

“Uoo, GUEEEEEEEEH!”

Aku berlutut, memanggil kembali tentakel – tentakelku, dan menekankan kedua tanganku ke tanah.

Rasanya seakan, dengan semangat yang mengerikan, perutku menguras seluruh isinya yang tersisa.

Kepalaku terguncang hebat, seraya terisi dengan bau busuk yang tajam. Kejang tubuhku tidak mau berhenti. Sementara itu terasa demikian, tidak ada yang benar – benar meninggalkan mulutku, sih.

Merasakan penderitaan mendalam untuk pertama kalinya sejak lama, air mata menggenangi mataku.

A-apa – apaan ini!?

Dengan pandangan yang kabur karena air mata, aku melihat.

Aib macam apa yang kutunjukkan dalam pertarungan? Tapi di sisi lawan, tidak ada dari mereka yang tampak mengerti apa yang sedang terjadi juga. Setelah aku tiba – tiba mencoba memuntahkan sesuatu, mereka sekedar melihat ke arahku dengan mata curiga. Mereka bahkan tidak melancarkan serangan apa pun.

Dalam dunia yang kabur, aku melihat ke arah orang yang, berkebalikan dengan Wrath-kun yang lincah, belum menggerakkan satu otot pun. Ia juga dialiri air mata seraya berbicara.

“… Sakit.”

Melihat dengan teliti, di seluruh titik yang seharusnya ditembus oleh tentakel – tentakel, bajunya robek. Dari kulit yang dapat ku lihat di celah – celahnya, sejumlah kecil darah menetes.

Jadi inilah kehebatan 『Acedia』, yang dikatakan unggul dalam daya tahan.

Sang Raja Sloth… betapa kerasnya…

VIT luar biasa yang tak bisa dibandingkan dengan Sloth Kelas Jenderal yang kukalahkan dulu. Bahkan untuk lengan – lengan yang mampu melahap Pedang Iblis dengan mudah, mereka tidak cukup kuat.

Gufu… fufufu, m-menarik, bukan!!

Aku menyapu air mataku, dan menggunakan Evil Eyes. Selain Leigie, Iblis – Iblis lainnya terikat. Kalau boleh menambahkan, Leigie juga tidak bergerak, tapi itu atas kemauannya sendiri.

Aku entah bagaimana menahan rasa mual ini, tapi tepat saat aku berusaha menggunakan sebuah skill, aku menyadari sebuah aroma yang sangat mengerikan busuknya menusuk hidungku. Dari seluruh Iblis Sloth yang telah kuperangi di masa lalu, efeknya jauh melampaui semuanya. Ini adalah bau yang begitu mengerikan sehingga aku tidak percaya bahwa bau ini berasal dari dunia ini.

Aku terlalu berkonsentrasi kepada rasa mual yang hebat itu, dan aku belum menyadarinya sama sekali…

Saat aku memeriksa Sihirku, aku melihat ada sebagian kecil darinya telah terpulihkan.

Itu terlalu banyak untuk hanya berasal dari memakan api Wrath-kun tadi.

Aku putus asa. Tidak adakah Tuhan di dunia ini!?

Traumaku tertulis ulang di sini sekarang.

Aku melotot ke arah Leigie. Kuseka mulutku dengan lengan bajuku, dan kulayangkan keluhan.

“… Kau, kau terasa mengerikan… Aku bahkan tidak bisa percaya rasa ini datang dari dunia ini.”

“… Sakit.”

Dengan gerakan lamban, Leigie mengusap titik – titik yang robek. Darahnya sudah menghilang. Dan tunggu, bahkan jika ia berdarah, itu tidak pada level di mana dia benar – benar terluka olehnya!!

Wrath-kun sedang melihat ke arah Leigie dengan keputus asaan di matanya, tapi akulah yang seharusnya sedang berputus asa.

Ini buruk. Rasa macam apa itu…

Sloth Kelas Jenderal itu bahkan tidak mencapai dasarnya, rasa itu adalah rasa yang memfitnah dan menodai konsep makanan.

It really is out of this world. Just what divine providence gave birth to something like that? Up until now, I thought that any and every item in this vast world was edible, but I must take that back with all due haste. It’s a taste that even changes my outlook on life.

Itu benar – benar dari dunia lain. Takdir langit macam apa sih yang melahirkan sesuatu semacam itu? Sampai saat ini, aku berpikir tiap – tiap dan masing – masing benda di dunia yang luas ini dapat dimakan, tapi aku harus menariknya kembali dengan segera. Rasa itu adalah rasa yang bahkan mengubah pandanganku terhadap kehidupan.

Itu jauh melampaui apa yang bisa ditahan. Aku tak akan pernah mau merasakannya lagi.

… Yang artinya aku tak akan bisa menyerap kekuatan dari Leigie.

Jika aku mencoba menahannya, dan menyedotnya, kemungkinan aku akan menggulung diriku sendiri dan mati sebelum aku mampu melakukan apa pun padanya.

Hahaha, apa artinya seorang Gula yang tak bisa makan!!

Singkatnya, betapa atribut yang benar – benar menjengkelkan.

Dengan mata yang dikaburkan oleh air mata, Leigie tiba – tiba berujar.

“Aku menyerah.”

“Hah? Mengapa?”

“Aku benci rasa sakit.”

“Haaaaaaaaaaah?”

B-bagaimana caranya yang satu ini bisa menjadi seorang Penguasa Iblis… tidak, bagaimana caranya dia bisa bertahan hidup sejauh ini?

Dalam suatu artian, kata – katanya lebih berdampak daripada rasanya, dan pikiranku menjadi kosong untuk sesaat.

Saat aku menyadarinya, aku menyadari Leigie telah menembakkan sebuah kekuatan aneh, sebuah Skill. Skill itu dinetralkan oleh salah satu skill pasifku, Resistensi Pencemaran Mentalku. Ekspresi Leigie menjeritkan ‘ini begitu merepotkan’ dengan putus asanya sambil mendecakkan lidahnya.

Rasa laparku menjadi rasa haus darah, dan mengacak angin yang kemudian menyapu padang pasir.

… Fu. Fu. Fu. Kau benar – benar meremehkanku, Untuk melancarkan serangan kejutan saat aku sedang lengah, itu benar – benar sebuah aib bagi seluruh Iblis…

Maka biarlah. Kanon boleh pergi ke neraka saja. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membunuhmu. Di dunia ini, seharusnya tidak ada benda yang tak bisa dimakan.

Mayoritas Skill Gula berfokus untuk memakan musuh.

Jika kau mengesampingkannya, skill-ku yang dapat kupakai cukup terbatas.

Aku mengepalkan tanganku dengan kuat, dan mengharapkan taring. Taring – taring untuk mengunyah dan mengurai apa pun menjadi dasarnya.

Leigie, dengan gerakan yang lebih lambat dari orang yang paling malas, dengan ekspresi yang lebih sulit dibaca dari orang lamban yang paling lamban, mencari – cari di sakunya, sebelum tangannya kehilangan kekuatan, dan tangannya terjatuh ke tanah.

“… Aku melupakan pionku… apa kau kebetulan punya satu? Boleh Catur atau apalah…”

“Hah? Catur? M-mustahil aku punya sesuatu seperti itu!”

Wrath-kun berekspresi jengkel sembari mengomelinya.

Apa pun dan segala yang mereka lakukan. Aku hanya bisa melihatnya sebagai bentuk mereka meremehkanku.

Ah, ini buruk.

Baiklah, aku akan menghancurkan kalian.

Aku akan menunjukkan pada kalian sejauh apa batas – batas Gluttony.

Jangan pikir Gula tidak bisa apa – apa selain makan.

Aku mengonsumsi sejumlah sihir yang jauh lebih besar dari saat aku memanggil lengan – lengan muda itu, dan rasa laparku hampir tak bisa ditahan lagi.

Begitu hebatnya sehingga perutku terasa memiliki kehendak sendiri, dan mulai memakanku.

Dan aku menggunakan skill itu untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun.

『Fang of Origin』

Mengabaikan atribut musuh sepenuhnya untuk memakan apa pun dan segalanya, sebuah Skill Gula yang memanifestasikan taring – taring seorang Dewa Iblis.

Tidak mengubah dagingku, dan tidak juga memanggil sesuatu untuk kumanipulasi. Alat murni, itu membangkitkan sebuah pedang. Salah satu skill yang dikenal sebagai Phantasm Armaments.

Pedang kegelapan, terlahir dari asal muasal Gluttony terwujud dalam balutan jariku.

Sebuah longsword dengan hulu dan pedang dan lainnya berwarna hitam. Tingginya satu setengah meter.

Tapi jangkauannya tidak berarti. Ini adalah taringku, dan secara bersamaan, sebuah eksistensi yang mewakili rasa lapar dunia yang tak bisa dipuaskan.

Aku membuang pedang yang telah kugunakan saat bertarung dengan Greed-kun itu. Dengan kedua tangan, aku mengambil sikap dengan longsword itu. Aku menyerap kembali semua tentakelku.

Sloth bodoh yang gagal membuat satu gerakan pun, aku memelototi Sloth yang gagal memuaskan nafsu makanku.

“… Fu… fufu… maka mari kita mulai pertarungan antar Penguasa Iblis.”

“… Haa…”

Leigie menghela nafas panjang.

Sialan kau… mengolok – olokku!

Aku mengambil langkah maju. Menggunakan kekuatan fisik seorang Penguasa Iblis, aku mendorong diriku dengan eksplosif, dan seketika mendekatkan jarak antara kami berdua…

Tubuhku menjadi kaku secara tiba – tiba. Dalam kepalaku, sebuah Mantra Pemulihan Pencemaran Mental aktif secara otomatis, dan kekakuannya hilang, tapi pada waktu itu, segalanya menjadi sangat lambat.

Aku merasa berat. Tak mampu menahan beban besar yang tiba – tiba ditempatkan di atasku, aku berlutut.

Tekanan? Tidak, aku yakin ini sesuatu yang berbeda. Beratku telah bertambah secara fisik.

Aku tidak bisa melanjutkan sambil menggenggam pedang itu.

Sejak saat ia muncul, Leigie baru hampir bergerak setengah langkah, tapi ia mengarahkan mata putus asa padaku saat aku jatuh ke tanah.

“Kau… apa yang kau perbuat…”

“… Haa…”

Leigie menghela nafas panjang sekali lagi.

Tidak, aku paham. Aku sudah pernah terkena sebuah Skill Sloth sebelumnya.

Sloth seharusnya punya beberapa skill yang merintangi gerakan musuh.

Tapi… sebuah skill yang cukup hebat untuk mengekangku? Mustahil!

“Gu… wai, Leigie-sama…”

“Fu… ya…”

“Gugu… B-boss!?”

Ketiga lainnya menjerit sendiri – sendiri.

Aku entah bagaimana mengalihkan kepalaku yang tak mau bergerak, dan melihat bahwa, entah mengapa, pasukan Leigie juga di tanah.

Yang satu ini… ia dengan tenang ikut menyeret pasukannya sendiri.

Tidak, itu salah.

Setelah mengambil keputusan sesaat, aku memanjangkan tentakel – tentakelku, dan menggunakan mereka untuk menopang tubuhku.

Dan setelah akhirnya berdiri, aku memandang turun ke sang Penguasa Sloth. Dalam matanya, lupakan rasa haus darah, tidak ada bahkan sedikitpun semangat bertarung.

Ini… bukan sembarang skill rintangan. Ia meningkatkan gravitasi.

Aku memahaminya. Aku mengalaminya sendiri. Leigie dari Sloth. Mungkin ada masalah afinitas, tapi kekuatan orang ini… dia melampauiku.

Dengan tanganku yang bergetar, aku mengangkat pedangku, dan menodongkannya padanya.

Berapa kilo sih, berapa ton beratku telah ditambahnya? Mengapa saat seberat ini sampai bahkan aku tidak bisa bergerak, pasukannya sendiri tidak jadi remuk sampai mati?

Aku akan kalah pada seorang Penguasa yang bahkan tidak punya kemauan bertarung?

“… Fu fu fu. Sudah cukup lama… sejak seseorang terakhir membuatku berlutut.”

“Gitu.”

Leigie memberikan komentarnya.

Pada saat yang bersamaan, aku menerima dorongan secara tiba – tiba dari samping.

Apa? Apa yang sedang terjadi sekarang?

Karena dia tidak punya keinginan bertarung atau membunuh, reaksiku terlambat.

Sebuah kekuatan yang cukup hebat untuk membuat seluruh tubuhku berderak. Tubuhku, yang ditopang seadanya oleh tentakel – tentakelku, dengan mudah terhembas.

Medan pandanganku berguncang. Tapi rasa pusing itu segera lenyap oleh sebuah resistensi akan abnormalitas status Level Penguasa Iblis.

Tidak ada tanda kehadiran sedikitpun yang di sampingku. Leigie tidak bergerak satu langkah pun juga.

Aku menghujamkan pedang itu ke tanah, yang bergerak di sebelahku dengan kecepatan yang luar biasa. Aku memanjangkan lebih dari seratus tentakel, dan menghujamkan mereka juga.

Aku merasakan diriku sendiri menggores tanah. Gesekannya memanaskan ujung tentakel – tentakel, dan asap mulai membumbung dari tanah.

Itu adalah serangan fisik. Aku tidak menerima begitu banyak luka. Tapi aku tidak bisa memahami apa yang telah terjadi.

Kegagalan untuk paham adalah salah satu hal paling mengerikan yang dapat menimpamu di medan perang.

Mungkin karena kini kami terpisah sejauh beberapa ratus meter, beban di tubuhku menghilang.

Aku punya kesempatan!

Kaum Iblis sama sekali tidak mahakuasa.

Sloth adalah sebuah Skill Tree yang unggul dalam daya tahan. Jika kau melihatnya dari sisi lain, mereka tidak membanggakan kekuatan ofensif yang cukup tinggi.

Bahkan saat menghadapiku dengan serangan kejutan, dia tidak berhasil memberiku luka yang signifikan.

Itu tidak memuaskan rasa laparku, tapi emosi lain mulai muncul.

Menarik. Sudah berapa millennia sejak aku bertarung dengan seorang musuh yang setara denganku?

Ratusan tentakelku menghujam ke tanah di belakangku.

Aku menggenggam pedang itu dengan sikap rendah, dan memusatkan sihir pada kakiku untuk memperkuat mereka.

Gravitasi terlalu hebat untuk ditahan? Maka aku akan menghabisimu dengan sekali serang sebelum itu memengaruhiku.

Leigie memang keras, tapi jika aku membelahnya menjadi dua, dia tidak akan bisa menggunakan sebuah Skill.

Saat aku mengambil selangkah maju, alarm berbunyi di kepalaku.

Peringatan firasatku memengaruhi keseluruhan insting terlatihku sebagai seorang pejuang. Aku buru – buru melompat ke samping, sebelum sebuah suara menggelegar datang dari tempat di mana aku tadi berdiri, dan sebuah lekukan besar muncul di tanah.

Aku tak bisa melihat. Aku tak bisa melihatnya, tapi… sesuatu ada di sana.

Kecepatan dan berat yang mengerikan.

Aku paham. Inilah yang membuatku melayang sebelumnya.

Aku merasakannya datang ke arahku dari samping dengan aliran udara, dan melompat menghindarinya. Kelemahan bahwa kau tidak bisa bergerak di udara tidak ada bagiku, saat aku punya tentakel yang tak terhitung untuk mendorong diriku sendiri. Aku tiba – tiba berubah arah, dan memanjangkan tentakel – tentakelku untuk menyerang apa pun itu.

Tentakel – tentakel itu tertanam ke dalam sesuatu yang tak kasat mata, dan aku mulai muntah – muntah di udara.

Gerakanku terhenti total. Ke arahku, benda itu turun.

“Guoee… gu… wai… tidak adi…”

Bukan tumbukan kecil seperti sebelumnya, seakan langit itu sendiri sedang runtuh, sebuah dorongan meremukkan tubuhku tanpa belas kasihan.

Tengkorakku membuat suara – suara berderak, dan tangan yang kuraihkan ke atas karena insting sedang membuat suara – suara retakan yang mengerikan sambil tertekuk ke arah yang salah.

Itu tidak pada tingkat di mana aku bisa mengabaikan dampaknya seperti sebelumnya, aku tertekan ke tanah begitu kerasnya sampai – sampai jiwaku serasa akan keluar.

Tapi saat ini, rasa sakitnya tidak penting. Kepahitannya mengerikan. Seraya merangkak di tanah, aku mengeluarkan air mata sambil muntah, tapi benda itu terus menjatuhiku tanpa henti.

Cakupannya bahkan lebih lebar dari sebelumnya.

Wave of Starvation?

Fleeting Requiem?

Jangan bodoh… jika aku menggunakan sesuatu semacam itu, aku akan berakhir memakannya. Aku akan dipaksa menyerapnya.

Rasa itu datang dari sesuatu di luar dunia ini.

Melewati Dunia Iblis, sebuah tempat yang lebih rendah lagi. Dasar terdalam neraka, sebuah tempat di mana tidak ada yang dapat kabur, di bawah bayang – bayang di mana segala hal yang tak terpikirkan berkumpul, di mana lumpur keputus asaan yang ternoda menumpuk, rasa ini adalah rasa makhluk yang seorang Iblis tidak dapat pahami sebagai Iblis lain…

Dorongan itu datang untuk kedua dan ketiga kalinya tanpa jeda, menghajar tubuhku, dan memukulku ke tanah. Kesadaranku meninggalkanku untuk sesaat. Pandanganku berguncang, dan Resistensi Abnormalitas Status-ku bekerja terus menerus. Jika aku tidak memilikinya, aku harusnya sudah lama dilumpuhkan oleh rasa pusingnya.

Tiap skill yang dia gunakan kalah dari skill – skill sekali-serang-mati yang para Penguasa Iblis biasa banggakan, tapi itu hanya membuat segalanya lebih menyebalkan. Seakan ia sedang bermain denganku, dorongan yang identitasnya belum kuketahui terus menerus menyerbu tubuhku, dan rasanya sama seperti Leigie, membuatnya musuh terbesarku seumur hidupku. Sungguh.

Leigie yang dipertanyakan belum mengganti lokasinya sama sekali.

Dia sedang mempermainkanku.

Aku mengantisipasi saat benda itu akan menyerang lagi, menusukkan tentakel – tentakelku ke dalam tanah, dan melempar tubuhku ke samping dengan paksa. Benda itu tidak kuat. Kemampuan melukai milik benda itu tidak begitu tinggi, tapi menghadapinya lagi dan lagi itu buruk.

Aku membetulkan tanganku yang patah dengan paksa. Menggunakan nutrisi yang kusimpan, aku mampu memulihkannya secara penuh.

Tapi tanpa menikmatinya, aku menjejak tanah.

Dorongannya mengenai tempatku berdiri barusan.

Mari berpikir.

Apa… Skill ini?

Sebuah Skill serangan mengejar? Angin? Energi tanpa atribut?

Tiap – tiap dan masing – masing Skill seorang Iblis memiliki makna. Umumnya, mereka berubah berdasarkan hasrat seorang Iblis.

Sama seperti bagaimana Gluttony berspesialisasi dalam memakan yang lain, Sloth seharusnya punya beberapa spesialisasi.

Apa itu?

Membuat orang lain menjadi Sloth? Salah. Tidak, mungkin tidak jauh berbeda, tapi itu bukanlah sifat dasarnya.

Jauh di arah itu, aku melihat Leigie dengan malas menurunkan kepalanya ke tanah.

Itu dia!

Sebuah Skill untuk… mengirimkan serangan dari jarak jauh.

Artinya sebuah skill 『Acedia』 untuk memukul mundur musuh asing tanpa bergerak.

Aku menghindari serangan berjangkauan lebar yang datang padaku dari atas. Di tanah, ada cetakan tangan yang besar, lima meter dari satu ujung ke ujung lainnya.

Betapa skill yang bodoh. Tapi adalah fakta bahwa aku telah dibuat sebuah olahraga oleh skill tak berharga itu.

Aku menjaga mataku terpusat pada pergerakan tangan Leigie, dan aku menyerbu maju. Detik saat itu mulai turun, aku mengambil lompatan besar ke samping.

Aku mencoba menangkap kepalan yang diturunkan dengan pedangku. Tangan tak kasat mata itu dengan mudah tertebas, tapi kelihatannya Leigie tidak terluka karenanya. Bahkan jika aku melukai tangan – tangan ini, dia tidak mendapat umpan balik apa pun… Itu tidak memiliki kekuatan untuk menghabisiku, tapi itu tidak memiliki kekurangan yang terang – terangan juga. Hanya fakta bahwa dia tidak bisa menggunakan tangannya untuk hal lain, kurasa. Betapa Skill yang berguna.

Aku menangani serangan yang ditujukan padaku secara horizontal dengan pedang itu. Jari – jari tak kasat mata… Hanya dengan itu, sihir yang melampaui sihir milik seorang Jenderal terpencar dan mengambang di udara. Benar – benar sayang aku tidak bisa memakannya.

… Tidak, apakah sekarang waktunya untuk berpikir apakah itu dapat dimakan atau tidak?

Aku harus meraih kemenangan terhadap Kanon-sama apa pun yang terjadi. Aku punya kebutuhan untuk berhasil, dan mengkonfirmasi rasanya. Demi mendiang orang – orangku juga.

Demi itu, sihir eksplosif yang dimiliki Leigie akan menjadi senjata yang hebat.

Aku yakin. Jika kau hanya membandingkan sihir, dia jauh di atasku.

Sial, sudah berapa lama bajingan ini hidup?

Tapi jika aku terus memakannya, dia pasti akan mati. Aku akan jatuh sakit dari rasa yang mengerikan itu, dan mati. Sebagai seorang Penguasa Iblis Gluttony, itu cukup disesalkan.

Tapi… tapi jika hanya sekali lagi…!

Benar. Yakinkan diriku sendiri. Itu adalah satu – satunya jalan menuju kemenangan.

Mengerikan? Lalu kenapa?

Bekas – bekas bau busuk yang ganas di hidungku masih menginjak – injak kewarasanku.

Baik atau buruk, itu tidak berpengaruh.

Buat diriku yakin, dan lihat ke arah musuh.

Demi diriku dan hanya aku. Untuk kekuatanku dan hanya kekuatanku. Leigie, aku akan…

“… Memakanmu.”

“… Tolong beri aku istirahat sudah.”

Tidak ada istirahat di…

Pada saat aku jengkel akibat suara mengejeknya, tubuhku terhempas melayang ke samping.

Serangannya benar – benar tidak punya motivasi dalam bentuk apa pun.

Saat aku makan, seraya Wrath mengamuk, dan Greed mencari, Leigie bermalas – malasan begitu saja tanpa makna.

Itu benar – benar tidak membangkitkan selera makanku sama sekali, tapi konsistensinya sungguh layak dipuji.

Penguasa Sloth… Begitu, aku sedikit paham tentangnya.

Skill yang beraneka ragam yang bisa melambungkan bahkan seorang Penguasa Iblis sepertiku kesana kemari.

Inilah orang yang menyelami sampai ke palung Acedia, dan mempelajarinya sampai ke asal muasalnya?

… Maka biarlah. Sebagai gantinya aku akan menunjukkanmu. Hasil dari pengejaran agungku terhadap Gula, kekuatan yang telah kuperoleh.

Aku menggunakan Evil Eyes. Aku mengarahkannya ke serangan Leigie, dan dengan mudah menghentikannya.

Aku menggunakan Wave of Starvation-ku untuk menyerap api Wrath yang datang dari orang yang mencoba untuk menyergapku dari belakang. Aku tidak selemah itu untuk tumbang dari serangan kejutan dari seseorang yang bahkan bukan seorang Penguasa Iblis.

Sihir yang dapat dimakan pertama sejak beberapa lama menyapu pergi sisa – sisa kepahitan dalam tubuhku.

Aku tidak peduli tentang lukanya. Wrath-kun dan Lust-kun dan Greed-kun tidak berarti bagiku saat ini.

Aku memusatkan pikiranku.

Aku mengangkat tangan kiriku, dan berdoa. Kepada dewanya jiwa – jiwa yang lapar.

Tekanan angin menyerbuku dari kiri dan kanan. Dengan suara erangan, tulang rusukku remuk. Otakku paham bahwa aku sedang diremukkan di antara tangan pria itu.

Aku tidak melepaskan pedang yang tergenggam di tangan kananku. Itu adalah kartu trufku. Tanganku patah. Aku tidak melepaskannya. Penyembuhan bawaanku bekerja. Tubuhku kembali normal. Tiap kali tubuhku pulih, itu rusak sekali lagi.

Leigie menutup tangannya. Dari sekeliling tubuhku, aku merasakan berat yang luar biasa. Tulangku sedang dipatahkan seakan mereka adalah tusuk gigi. Tubuhku menjerit pada rasa sakit yang tidak kurasakan sejak lama.

Aku tidak bisa menggunakan skill defensif apa pun. Mereka akan berujung memakan Leigie.

Dalam panas yang merayapi tubuhku, dan gelombang – gelombang rasa sakit, aku mengambil nafas dalam, dan mempersiapkan diri.

Aku mengisi taringku dengan nafsu membunuh. Aku menggunakan seluruh kekuatanku untuk mengaktifkan skill itu.

『Eater’s Plate』

Dengan suara raungan, tanah robek, padang pasir terkoyak. Terhadap sihir luar biasa, yang seorang yang normal dari ras manusia tidak akan bisa menahannya hanya dengan hadir di depannya, surga bergemuruh, dan ruang membelok.

Dengan buru – buru, Lust-kun dan Greed-kun kabur. Sang Penguasa Iblis hanya duduk dalam badai dengan damai. Tidak, dia berbaring.

Apa yang kupanggil adalah Eaters Plate.

Sebuah ruang dengan lebar beberapa ratus meter. Tanpa taring, atau lidah, hanya rasa lapar tak berujung. Sebuah ruang yang tidak berspesialisasi selain untuk memuaskan rasa lapar yang tak tertahankan. Jika kau melihat dari langit, kau mungkin akan melihat celah setengah lingkaran yang besar di tanah.

Dan aku terkejut.

Ke dalam lubang yang tiba – tiba terbuka di tanah, dia yang kutetapkan sebagai targetnya, Leigie, jatuh dengan tenang. Dia menguap dengan ekspresi mengantuk.

Sloth memiliki afinitas yang buruk dengan Wrath, Gluttony, dan Pride. Iblis dengan kekuatan serang yang tinggi. Alasan untuk ini adalah mereka pada umumnya tidak bergerak – gerak. Tidak mungkin seorang Iblis yang tak bergerak adalah musuh yang bagus. Kau bisa dengan santai menyiapkan skill skillmu, dan selama mereka tidak begitu kuat, mereka ditakdirkan untuk diburu.

Tapi meski begitu, akhir ini di luar ekspektasiku.

Eh? Apa? Apakah begitu jadinya?

Atas alasan apa aku bertarung begitu keras sampai saat ini?

Aku berencana mencabiknya dengan pedang itu saat ia melompat minggir untuk menghindar, tapi…

Aku mengalihkan mataku ke longsword hitam di tanganku. Phantasm Armaments tidak memiliki jangkauan yang tetap. Dengan kehendakku, aku bisa memanjangkannya dengan bebas hingga ke titik tertentu. Saat aku punya kesempatan, itu tadinya akan menjadi kartu trufku yang tertinggi.

Mulut raksasa itu menutup.

I relax the power wrapped around my body, and release myself.

Dengan tangan kananku, aku menggaruk wajahku.

“… Itu sedikit anti-klimaks.”

“… Gitu.”

Aku mendengar sesuatu yang seharusnya tak kudengar dari belakangku.

Aku buru – buru berbalik, dan menodongkan pedangku. Seorang Leigie yang tanpa luka tergeletak sembarangan di tanah.

Bahkan setelah mendapatkan punggungku, dia tidak menunjukkan tanda – tanda mencoba meraih apa pun.

Wai…

Aku mengayunkan pedang itu secara naluriah. Aku bahkan tidak perlu memanjangkannya, ia cukup dekat. Dengan sikap seperti itu, ini bukanlah sesuatu yang dapat ia hindari. Tapi tepat saat sebelum ia terbelah dua, sosok Leigie menghilang.

Bulu kudukku berdiri.

Jadi inilah bagaimana ia menghindari Eater’s Plate!?

… Teleportasi!? APAKAH itu bahkan mungkin? Tidak, pada saat ia tiba – tiba muncul seperti itu, aku seharusnya sudah menteorikannya.

Itu adalah kesalahanku sepenuhnya.

Pengelakan dan Sloth terlalu jauh buatku untuk berpikir mereka akan bersama.

Dan tunggu, ini terlalu tidak adil.

Mustahil. Mustahil. Mustahil. Mustahil!

Antara Tingkat Ketiga dan Kelima, ada perbedaan sebesar ini!?

Apa Kanon-sama berpikir sejauh ini saat ia mengirim Leigie melawanku!?

Aku memposisikan pedang di belakangku untuk menggoyangkan jatuh serangan yang ia lemparkan padaku.

Di belakang, lengan kiriman Leigie menyerempet pedangnya. Darah mengucur layaknya air mancur. Karena bau yang datang darinya, aku mundur beberapa langkah.

Leigie menangis. Kemungkinan karena rasa sakitnya. Tapi pada saat itu, darahnya sudah berhenti, dan dia telah beregenerasi seakan tidak ada yang telah terjadi. Betapa mengagumkannya kekuatan regenerasinya. Dia mengabdikan dirinya ke sifat keras kepala. Dan di atasnya, dia begitu lemah terhadap rasa sakit.

Saat aku mencoba menyerbu ke arahnya lagi, tubuhku membeku sekali lagi.

Aku tertangkap oleh gravitasinya lagi. Aku menyadarinya. Pada saat tubuhku membeku tadi… ini adalah Evil Eyes miliknya.

Leigie mengekangku dengan Mata Iblisnya. Skill yang seharusnya hanya bekerja pada makhluk yang lebih rendah.

Itu membuat celah kekuatan di antara kami terlalu jelas.

“Ah, haha, hahaha… Lei… gie. Berapa tahun sih… kau telah hidup?”

“… Mungkin sekitar seratus.”

Apa apaan!

Aku punya, denganmu, ingatan – ingatan yang membentang lebih dari sepuluh ribu tahun!!

Dia… pasti telah melupakannya.

Hahahahaha, hanya bertarung dengannya mulai terasa bodoh.

Bahkan rasa laparku yang aku tahu tidak akan pernah terpuaskan secara penuh tidak peduli seberapa banyak aku makan mulai terasa tidak berarti.

Tanpa mengatakan apa pun, Leigie setengah menutup matanya.

Aku mencoba memikirkan alasan Penguasa Iblis ini dapat memperoleh kekuatan yang tak tertandingi semacam ini.

Tidak seperti Kanon-sama, yang telah maju menjadi seorang Penguasa Iblis dalam kurang dari sepuluh ribu tahun dengan kemampuan dan keyakinan, Leigie sang Sloth sekedar menimbun kekuatan secara alami setelah hidup hampir kekal, dan akhirnya tumbuh menjadi seorang Penguasa Iblis.

Tanpa apa pun yang dapat disebut ambisi, dan tanpa tujuan sama sekali. Sang raja kegabutan.

Keinginan orang lain tidaklah penting, dan dia kemungkinan akan segera melupakan pertarungannya denganku. Betapa irinya aku padanya.

Sebelum aku menyadarinya, tangan Leigie terkepal begitu rapatnya sehingga buku – buku jarinya memutih.

Tubuhku sedang diperas dari segala arah. Aku merasakan sesuatu patah di dalamku, tapi tidak ada rasa sakit lagi. Aku bahkan tidak punya motivasi untuk melawan. Tidak ada artinya. Aku tidak punya selera makan.

Hasil dariku yang hidup mendekati seratus ribu tahun, 『Fang of Origin』ku berubah menjadi pasir di tanganku, dan lenyap.

Di depan mataku, adalah Sloth, dia membuka matanya sedikit. Matanya yang tidak melakukan apa pun kecuali menjerit bahwa semuanya sangat merepotkan.

“… Fu… fufu. Selamat… tinggal, Acedia. Tadi menyenangkan.”

“… Gitu.”

Jika mungkin, aku ingin memintainya tolong untuk mengalahkan Kanon-sama menggantikanku, tapi aku ragu dia akan melakukan sesuatu semerepotkan ini.

Dalam bukaan di atas tangannya yang terkepal, ia dengan susah payah memberikan tekanan dengan jari telunjuknya yang lain.

Sembari kepalaku diremukkan dengan paksa di bawah kekuatannya, aku berpikir pada diriku sendiri…

Terimakasih atas hidangannya.

[1]Telanjang

Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya