DnO 6 – Iri Hati Invidia

Iri Hati Invidia

Part 1: Menjadi Seseorang

Bukan apa – apa.

Sejak lahir, tak sekali pun aku mendapatkan apa pun, belum pernah aku menginginkan apa pun, belum pernah aku mengetahui apa pun.

Tak diinginkan oleh siapa pun, dikenal oleh siapa pun, dan bahkan tanpa sedikit pun hasrat untuk kehidupan.

Sebuah kehidupan di mana aku bahkan tidak menganut Dosa Asal yang mayoritas Iblis bawa.

Sloth dan Greed dan Lust dan Wrath dan Gluttony dan Pride dan lainnya, tanpa alasan yang mencukupi untuk hidup, dan tanpa kemauan.

Sebelum aku bisa menjadi sebuah Plus, mungkin aku harus menjadi seorang Nol dulu.

Aku hanyalah sebuah eksistensi Minus.

Dalam Dunia Iblis ini, yang diperintah oleh aturan yang terkuat yang bertahan hidup, Iblis tanpa pengetahuan atau kekuatan ditakdirkan untuk sekedar duduk dan menunggu ajal untuk menjemput mereka.

Iblis seperti itu sama sekali tidak langka, dan ibu kota kerajaan serta seluruh kota di pelosok dipenuhi eksistensi – eksistensi semacam itu.

Itulah mengapa aku percaya hanya berkat sebuah kebetulan aku berhasil menghindari takdir semacam itu.

Ada banyak Iblis yang nyawanya bahkan tidak berharga untuk diambil, tapi jika aku harus bilang, keberuntunganku bagus.

Ada seorang pria yang membawaku pergi. Ada seorang yang, dengan ekspresi lamban, tetap diam, seraya membiarkan apa pun yang akan terjadi, terjadi. Mantel hitamnya yang dijahit dengan apik, yang terbuat dari bahan yang seperti beludru terseret sepanjang jalan, dan selalu ternoda putih.

Ada seorang wanita yang membawaku pergi. Ada seorang wanita yang akan melepaskan api yang menyala – nyala yang membuat orang – orang yang ia temui di jalan gemetar, dan menginjak – injak tanah dengan keras seraya berjalan. Tongkat berjalannya memukul tanah, seakan meneriakkan amarahnya mewakili si wanita yang diam.

Ada aku. Ada aku yang, di pinggir jalan, tanpa kemauan, tanpa makna, melihat mereka dengan benar – benar kebetulan dari tepi jalan. Dan di sampingku, ada rekan – rekanku yang sama – sama melihat mereka.

Si pria dan wanita, dan aku, dan mereka yang di sampingku tak pernah berkontak mata, tapi saat berpapasan… si pria meraihkan tangan kirinya, dan tubuhku… tanpa apa pun untuk dimakan sebelumnya, tubuhku yang ringan dan rapuh dibandingkan milik mereka yang seumuran denganku… dipeluk.

Gerakan tangan yang ringan dan jelas seakan ia sekedar mengambil sebuah apel dari kios pinggir jalan.

Dari apa yang ku dengar kemudian, dia menginginkan sebuah bantal. Apa – apaan.

Dan begitulah, kebetulan – kebetulan bertumpuk satu sama lain, dan sang Penguasa Sloth kebetulan sedang mencari sebuah bantal yang persis seukuranku. Karena beberapa sebab dan akibat yang ganjil, aku berakhir masuk ke pasukan Leigie dari para Slaughterdolls.

Ngomong – ngomong, ini sudah jelas, tapi saat ia mendekapku ke tubuhnya, Leigie-sama sudah tertidur.

Apa yang terjadi selanjutnya tidak semenarik itu.

Setelah kembali ke Kastil Bayangan, aku memulai sebuah perjuangan demi eksistensi melawan bantal biasa yang tak hidup yang dia sedang gunakan, dan secara bersamaan, inspektur yang memonitor Leigie-sama, pemimpin Orde Hitam, Kanon Iralaude berkata sesuatu seperti, “kapan kau memungut sesuatu sekotor ini!” dengan suara lelah. Saat aku akan dibereskan dengan cara pembakaran, aku diselamatkan oleh si pelayan Lorna, yang salah memahami 『Iyo』 Leigie-sama dalam cara yang menguntungkanku.

Saat aku menyadarinya, aku didandani dalam pakaian cantik seperti yang boneka akan kenakan, dan punya ‘cadangan’ yang selalu dibuat untuk berjaga – jaga jika dalam satu dari sejuta kemungkinan Leigie-sama akan melakukan sesuatu semerepotkan meminta cadangan dijejalkan dalam tenggorokanku. Pikiranku akhirnya berhasil menyusulku.

Huh? Apa ini, kupikir.

Dambaan seorang Iblis bukanlah sesuatu yang mereka tentukan untuk diri mereka sendiri. Mereka adalah sesuatu yang diperoleh secara otomatis dari menyembunyikan hasrat – hasrat kuat.

Jika kau menyembunyikan banyak Dosa, hasratmu menjadi kabur, dan pertumbuhan Kelasmu sebagai seorang Iblis melambat. Itulah mengapa Iblis pada umumnya secara bawah sadar mengatur diri mereka sendiri untuk tidak mengikuti hasrat apa pun di samping yang mereka kejar.

Tanpa kesenggangan untuk mengejar hasrat berlebih, yang terburuk dari para Iblis, di mana adalah sekedar keajaiban aku hidup. Diberikan sebuah lingkungan di mana kehidupan akhirnya dapat berlangsung, dan akhirnya beberapa waktu untuk memikirkan tentangnya, apa hasrat kuat pertama yang melandaku?

Apa perasaan – perasaan terkuatku?

Bukan sebuah kelegaan bahwa aku terselamatkan, atau doa – doa bahagia penuh syukur, atau melankoli atas rekan – rekanku yang tertinggal atau bahkan kepuasan.

Ini mungkin sudah jelas, tapi pastinya itu bukan Luxuria.

Sederhananya… Envy.

Kedengkian terhadap Iblis – Iblis tipikal yang meneruskan dan menerima kehidupan mereka hingga sekarang seakan itu sudah wajar.

Iri terhadap wajah cantik dari inkarnasi api yang sedang mendekati tingkat Penguasa Iblis dengan sihir kuatnya, dia yang terlahir sebagai putri dari seorang Penguasa Iblis dan memimpin Orde Hitam elit, Kanon.

Iri terhadap dia yang terlahir ke dalam sebuah keluarga untuk melayani Leigie-sama, dan menerima pendidikan tingkat tinggi hanya untuk itu, Lorna.

Iri terhadap tangan kanan sang Penguasa Iblis yang memimpin pasukan, meng-Overrule setiap dan segala macam kekuatan, dan menganggap kekuatan Penguasanya sebagai yang terkuat, Heard Lauder.

Iri hati terhadap segalanya di dunia ini.

“Jika mungkin, aku ingin berubah…”

Itulah asal muasal Dosa Asal Envy-ku.

Karena aku tidak pernah dianugerahi apa pun, aku merasakan iri hati terhadap segalanya sebagai gantinya.

Lebih gelap dari 『Gula』.

Lebih serakah dari 『Avaritia』.

Lebih bengis dari 『Ira』.

Lebih ganjil dari 『Luxuria』.

Dengan lebih sedikit arti dari 『Acedia』.

Lebih keji dari 『Superbia』.

Tak lain sebuah 『Envy』 yang sederhana dan tak sedap dipandang.

Tapi saat aku mendapatkannya, aku berpikir pada diriku sendiri.

Ah, dengan ini, aku akhirnya memiliki alasan untuk ada.

Dengan ini, aku akhirnya bisa menjadi seseorang.

Part 2: Mari Berjumpa Lagi

“Well, well, setelah mengutus sebanyak dua komandan, betapa menyedihkannya keadaan kalian saat kembali… untuk membawa masalah ke tangan Leigie-sama… betapa tak tahu malu.”

Si pemuda bicara dengan mata dingin, seakan ia sedang melihat sampah dapur yang telah jatuh ke tanah.

Ia adalah seorang pemuda tampan dengan mata sehitam dalamnya neraka. Ia duduk dalam – dalam di kursinya layaknya raja. Dengan satu kaki tersilang di atas yang satunya, mungkin ia kekurangan sopan santun, tapi ia benar – benar tampak seperti raja. Jika Leigie-sama dan pria ini berdiri berdampingan, sepuluh dari sepuluh orang akan bilang orang inilah yang Penguasa Iblis di antara keduanya.

Secara bersamaan, ia mengikuti hasratnya, dan menghabiskan waktunya dengan latihan dan memperbaiki dirinya tanpa henti. Seorang pria militer sejati.

Heard Lauder. Tangan kanan sang Sloth. Seorang Iblis yang memerintah Pride.

Kepalaku mulai sakit.

Tapi yang pasti bukan karena amarah terhadap pria sombong ini.

“Tidak, tidak… Zebul Glaucus itu adalah seorang Penguasa Iblis yang kuat dan menonjol di antara pengikut Kanon-sama… Dia adalah lawan yang terlalu sulit untuk ditangani tanpa kehadiran Penguasa Iblis lainnya.”

Dia yang mengerjakan perbuatan kurang ajar dengan menarik keluar Leigie-sama, utusan Kanon, bicara dalam nada tinggi.

Cara arogannya memang berujung menyelamatkan nyawa kami, jadi aku tidak bisa bilang apa – apa, tapi…

Dari kedalaman yang paling dalam otakku, aku merasakan rasa sakit seperti ditusuk. Untuk meredakannya, aku mengusap dahiku sekali lagi.

Heard menjawab tatapannya dengan senyum sinis. Kata – katanya, seperti biasanya, dipenuhi dengan dirinya sendiri.

“Hmm… itu hal yang sering terjadi bagi tipikal Iblis rendahan, benar? Apa yang aku coba katakan, adalah bagi mereka yang seharusnya memimpin pasukan Penguasa Agung Acedia, itu terlalu memalukan, Lize Bloodcross.”

“… Well kau memang tahu bagaimana caranya omong besar. Terutama saat kau adalah satu – satunya Jendral yang tidak berpartisipasi dalam pertarungan itu.”

“Itu benar. Aku benar – benar tak pernah berpikir dua lainnya akan setidak berguna ini. Kali selanjutnya seorang Penguasa Iblis terpikir untuk menginvasi, aku akan pergi sendiri.”

Meskipun nadanya terdengar jengkel, dia memberi jawaban langsung.

Tidak ada sedikitpun senda gurau di wajah Heard. Sebuah pasukan yang dipimpin oleh dua Jendral dengan mudah diporakporandakan oleh seorang Penguasa Iblis, tapi tidak ada ketidak sabaran di matanya, tidak ada kegugupan.

Hanya keanggunan. Lebih angkuh dari segalanya.

Iblis Superbia sangatlah kuat.

Pada kenyataannya, dikatakan bahwa dari seluruh Iblis yang mencapai Kelas Penguasa, sekitar tujuh puluh persennya adalah Pride.

Yang kalah lebih buruk daripada sampah, para pemenang setara dengan Tuhan. Dan dirinya sendiri sudah jauh melampaui Tuhan.

Itulah Dosa Asal Superbia. Kekuatan dalam kelemahan, dan kelemahan dalam yang kuat, sifat yang amat tidak stabil. Meski begitu, mereka disebut sebagai yang terkuat di antara para Iblis.

Semua yang mereka tuntut adalah hasil, dan tak peduli apa langkah dari proses yang berujung kekalahan, mereka akan menunjukkan penghinaan.

Dan persis seperti hasrat Dosa lain, semakin kuat mereka, semakin besar kecenderungan mereka.

Dari keempat Iblis yang mengelilingi meja bundar, yang terakhir… yang telah kehilangan sebagian besar miliknya, dan bahkan pasukannya, si korban terbesar, Deije memeriksa Celeste yang babak belur seraya bicara.

“… Meski begitu, Komandan Tertinggi Heard, itu persis seperti yang dikatakan gadis Lize itu. Zebul sang Pelahap termasuk kelas top di antara para Penguasa Iblis, dan dia punya kekuatan yang besarnya tak masuk akal, tahu? Bahkan untuk seseorang seangkuh dirimu, Komandan Tertinggi, aku berani taruhan akan sulit untuk meng『Overrule』nya.”

“Hmm… dengan itu, apa kau membandingkan dengan para Penguasa Iblis yang telah kau layani hingga sekarang?”

“Ki ki ki, yeah. Jika kau mencoba untuk mencari eksistensi yang lebih kuat daripada dia… aku hanya bisa memikirkan Boss Leigie, dan sang Raja Iblis Agung.”

Dia menjawab dengan senyum pahit.

Kata – kata seorang Iblis tua layaknya Deije memiliki kekuatan persuasif.

Pertama – tama, sang Pelahap Zebul Glaucus menempati tiga tempat teratas untuk Penguasa Iblis yang paling mengerikan yang pernah kutemui. Sihir, kemampuan, dan pengarahannya membuatnya seorang petarung sejati, dimana Iblis biasa akan gagal bahkan untuk sekedar mencapai kakinya. Dia adalah seorang 『Gula』 yang begitu kuat yang bahkan aku tidak bisa menertawakan rumor bahwa dia memakan Pasukan Langit dalam perang dengan Surga sepuluh ribu tahun yang lalu.

Andai saja aku sekuat itu…

Persis seperti pasir yang menemani waktu seraya jatuh menuruni jam pasir, aku merasakan sesuatu seperti lumpur terkumpul di kedalaman jiwaku.

Beratnya membuatku pusing.

Sejak mencapai Kelas Jendral, aku belum pernah menemui kekalahan barang sekali. Perang ini adalah yang pertama.

Karena kegagalan pertamaku sejak lama, aku tidak bisa mengontrol keinginanku.

“Hmm, tapi kudengar Penguasa kita membantainya dengan mudahnya, bukan?”

“Ki ki ki, well, apa yang aku bisa bilang adalah, sesuai yang diharapkan dari Tingkat Ketiga. Boss Leigie adalah… seorang monster. Dia memegang kendali penuh atas sang Penguasa Pelahap sepanjang pertarungan. Maksudku, Boss… bahkan tidak bergerak sama sekali”

Pada kata – kata Deije, pertarungan antara Penguasa Iblis itu, dan Leigie-sama terputar kembali di kepalaku.

Ya, Leigie-sama bahkan tidak berdiri sama sekali… meskipun ia menggunakan semacam skill yang belum pernah kulihat sebelumnya untuk teleportasi.

Heard, dengan wajah paham… mengangguk dengan mata tajam, dan angkuh.

“… Hmm, Skill – Skill Sloth menjadi semakin kuat semakin jarang seseorang memilih untuk bergerak… sebuah keputusan yang sangat Leigie-sama-esque.”

“Tidak, aku ragu pria itu benar – benar memikirkan sesuatu seperti itu…”

“Akankah kau berbaik hati untuk memberitahuku skill – skill lain apa yang digunakan Kepala kita, Deije?”

Bagaimana mungkin Heard bisa mempertahankan kesombongannya?

Hanya dengan berada di sini, aku bisa dengan mudah merasakan kekuatan sihir yang luar biasa milik Leigie, yang seharusnya berada di ruang pribadinya jauh di sana. Kekuatan sebesar ini, dan kualitasnya aku yakin berada pada tingkat yang mustahil dicapai seorang Iblis. Bagi seorang Kelas Jendral sepertiku… jika aku membandingkannya dengan Deije dan Heard yang seharusnya lebih kuat dariku, selisihnya kemungkinan tidak sekecil sepuluh atau dua puluh kali lipat.

“Ki ki ki, bahkan aku tidak tahu rinciannya. Maksudku, bahkan Libell dimakan…”

“… Jadi Libell sang Pengejar dimakan… aku telah memperhatikannya, tapi… Hmm.”

Heard menutup matanya, seakan berkata, ‘betapa tak berguna’.

Dia bukanlah orang yang meratapi kematian. Melihat mata – mata itu, ekspresi itu, dan postur itu, wajah Deije tidak berubah.

Bahkan jika ekspresi Lize tersamarkan, Wajah Deije, yang telah kehilangan teman sehidup sematinya Libell Aijens, tidak berubah.

Ini pasti kekuatan Deije, dia yang telah bertahan hidup dari perang dengan Surga.

… Karena kekuatannya, aku tidak bisa tidak iri.

Deije bilang Heard Lauder adalah Iblis yang mengerikan. Aku bertanya – tanya apakah dia melihat sesuatu yang tak kasat mata bagi mataku.

Di antara kami, akulah Iblis yang termuda. Pada umumnya, semakin tua umur Iblis, semakin intens hasrat mereka, dan kekuatan mereka. Dikatakan bahwa Deije mengalami Perang Surgawi sepuluh ribu tahun yang lalu, dan Heard Lauder dikatakan sebagai seorang Iblis kuno yang pertama mengikuti pimpinan Leigie-sama.

Bagiku, yang baru lahir beberapa ribu tahun lalu, itu bukanlah selang waktu yang bisa kukejar.

… Dan karena itu, aku tidak bisa tidak iri.

Aku menggenggam kuat tanganku yang bergetar.

Tanpa menanggapi kata – kata Heard, Deije mengembalikan Celeste ke sarungnya, dan memasukkannya ke ruang penyimpanan hartanya. Pedang Iblis level Tinggi itu hidup. Sekedar goresan dan retakan akan mengalami regenerasi dengan sendirinya.

“Apa yang kulihat adalah… sebuah Skill untuk menambah gravitasi, sebuah Skill pergerakan seketika… juga ada satu yang tidak dikenal yang dia gunakan untuk menghempaskan Zebul.”

“… Hmm… dia cukup menahan diri kalau begitu.”

Pada kata – kata Deije, Heard mengernyitkan alisnya, dan mengambil nafas dalam. Itu adalah sejenis emosi yang aslinya tidak akan pernah muncul pada wajah seorang Iblis Pride.

Dia menempelkan sikunya ke meja, dan menyentuhkan tangannya ke dagunya seakan hanyut dalam lautan pemikiran. Sosoknya, bahkan jika dilihat dari jauh, begitu indah sehingga bisa dibuat menjadi sebuah lukisan begitu saja.

Sambil melipat keenam tangannya dengan mahir, Deije bertanya dengan nada penuh keraguan.

“Menahan diri…?”

“… Hm. Kaliber kekuatan Leigie-sama yang kukenal tidak sekecil itu. Pertama – tama, dia bahkan tidak menggunakan 『Slaughter Dolls』nya yang terkenal, bukan?”

“Ki ki ki, itu benar. Tapi bahkan jika dia Boss, aku ragu sebuah Boneka mampu melakukannya. Pada kenyataannya, Boneka yang dia berikan padaku dirobek dan dimakan.”

“… Deije, jangan samakan Boneka yang dia beri padamu dengan yang lainnya. Slaughter Doll asli Leigie-sama… sangatlah kuat.”

Heard tertawa. Pada Deije. Pada Lize. Padaku.

Mungkin itu adalah sebuah fakta yang hanya dia yang tahu, setelah melayani Leigie-sama jauh lebih lama dariku.

Dan Heard angkat bicara.

“… Bahkan lebih kuat dari orangnya sendiri.”

“Hah… Membuat sebuah Boneka lebih kuat dari orangnya sendiri mustahil, bukan?”

“… Hm. Untuk Iblis biasa, itulah.”

Skill Slaughter Doll adalah skill yang dimiliki para Penguasa Iblis Sloth, jadi hampir tidak ada pendahulunya untuk dibandingkan.

Tapi meski begitu, untuk bisa membuat sebuah entitas dengan kekuatan melampaui seorang Penguasa Iblis begitu saja berada jauh di luar nalar.

Wajah Lize terlihat seakan kata ‘Bohong’ tertulis di atasnya seraya memandang Heard dengan kaget.

Heard Lauder adalah pria yang jujur. Paling tidak, meskipun dia angkuh, kekuatannya sungguhan. Dia tidak hanya mengandalkan kemampuan, tapi juga kebijaksanaan, dan dia benar – benar memiliki kharisma yang sungguhan. Jika tidak, mustahil dia bisa memimpin Brigade Pertama yang membanggakan jumlah anggota yang terbanyak.

“Ki ki ki, jika itu benar maka itu sangat menakjubkan. Bagaimanapun caranya aku ingin yang lainnya. Tapi, well, bahkan walau begitu.. Kali ini musuhnya adalah seorang Penguasa Iblis pada level dimana dia bahkan bisa melukai Boss, tahu? Kupikir itu akan sedikit terlalu berat bagi sebuah Boneka tanpa skill – skill Dosa Asal.

Mendengar kata – kata itu, Heard membuka matanya lebar.

Dia mencondongkan badannya maju, dan menatap Deije dengan mata kuat. Itu adalah sebuah manifestasi emosi yang cukup hebat untuk mengguncang jiwa seseorang.

“… Mustahil… Leigie-sama terluka… katamu!?”

“… Yeah. Well, itu hanya sedikit darah, dan dia memulihkan diri dengan cukup cepat.”

“… Itu cukup… Begitu, jadi dia mampu melukai Leigie si Bejat. Zebul sang Pelahap… Hm, begitu…”

“Apakah seaneh itu? Tidak peduli seberapa kuat seorang Penguasa Iblis, selama musuhnya juga Penguasa Iblis, dia setidaknya akan lecet sedikit… maksudku, segera setelah dia membawaku ke sana, dia mulai menjerit.”

Pada pertanyaan Lize, Heard menghela nafas panjang seraya bersandar di kursinya, sebelum kembali ke posisinya sebelumnya. Seakan dia sedang berpikir dalam – dalam, perhatiannya berkelana di udara.

“… Hm, itu adalah sesuatu yang wajar. Tapi tetap saja, bagi seseorang untuk mampu memberi Leigie dari Sloth bahkan lecet yang kecil… sudah dua ribu tahun lamanya.”

“Dua ribu… jadi dua ribu tahun yang lalu, ada seseorang yang bisa melakukannya?”

“Yeah… bahkan dia adalah seseorang yang cukup kau kenal. Tapi… itu tidak begitu berarti.”

Seakan untuk mengakhiri percakapan, Heard berdiri.

Aura menindas terpancar dari tubuhnya… sihir Superbia mulai mengental seketika.

Mata dinginnya menguasaiku dan Deije. Kekuatan yang mengikis dunia yang cukup hebat untuk membekukan tubuhku.

Pada perubahan atmosfer, Lize mengerutkan wajah, dan setelah memandang marah dan kasar secara terang – terangan, dia juga berdiri. Jika ini adalah saat dia baru saja diutus, dia pasti akan mengamuk. Dia telah belajar bagaimana mengatur amarahnya di kemudian hari, dan dia jarang membakar ruangan akhir – akhir ini.

“Wai…”

“… Hm. Tidak ada masalah dengan hasil akhirnya, tapi aku akan membuatmu membayar kompensasi atas aib yang kalian tunjukkan. Putusannya akan turun segera. Bersenang – senanglah menunggunya.”

“Ki ki ki, tolong bersikap lembut padaku.”

“… Hm.”

Dengan suara keras, dia menutup pintu di belakangnya.

Udaranya kembali normal, dan Lize bicara dalam amarah. Nyala merah berkerlap di sekitar rambut merahnya.

“Ap, pria itu… bagaimanapun, untuk memperlakukan pasukan kawan seperti itu…”

“Ki ki ki, Lize, kau memang benar – benar muda. Seorang komandan yang angkuh kira – kira selalu seperti itu. Malahan, fakta bahwa kami tidak dieksekusi di tempat… berarti kami masih memiliki sedikit keberuntungan yang tersisa.”

Deije tertawa sembari berdiri.

Dia adalah seorang Iblis yang telah hidup jauh lebih lama dariku, dan kata – katanya memiliki bobot yang didasari pengalaman.

Keenam matanya mengawasiku. Emosi yang tersimpan di dalamnya adalah sesuatu yang tak mampu kupahami.

“Medea, aku… akan mengundurkan diri dari pasukan ini.”

Dalam satu artian, kata – katanya sesuai yang sudah kuduga.

Walaupun sosoknya begitu, Deije adalah seorang Iblis yang rasional. Dambaannya, hasratnya, karena dari dasarnya mereka tertuju pada objek selain manusia, dia jauh lebih layak dipercaya dari banyak Iblis lain.

Mungkin Lize tidak menduganya, karena begitua dia mendengar kata – kata itu, dia melonjak dari kursinya sekali lagi.

“Ap… Kau serius, Deije?”

“Yeah… jika aku bertahan di sini, Komandan Tertinggi Heard akan mencampakkanku kalau begini. Tangan kanan Leigie dari Sloth, angkuh dan congkak… Ki ki ki, betapa merepotkan.”

“Betapa bodohnya… apa kau pikir Komandan Tertinggi akan mengizinkan hal semacam itu?”

“Mungkin. Maksudku, dosaku itu… bukan sesuatu yang mengharuskanku berada di sini dari segala tempat untuk dipenuhi. Aku tidak yakin tentang si Cewek dan Heard, sih.”

Sebuah keputusan seketika. Ketajaman yang bagus.

Kata – kata Deije langsung ke intinya. Hasrat seorang Avaritia adalah sesuatu yang dapat dipenuhi tak peduli atas nama apa mereka bertarung. Dengan kaliber Deije, tidak peduli Penguasa Iblis mana yang dia layani, dia akan mendapat evaluasi yang memuaskan. Dia bahkan memiliki sebuah Pedang Iblis yang dipuji mengerikan oleh Zebul.

Bagian selanjutnya juga cukup langsung.

Hasratku adalah… 『Invidia』 hanya bisa dipenuhi selama aku di sini.

Seakan otakku terluka, kepalaku mulai sakit.

Deije tahu kapan harus mundur. Itulah mengapa dia mampu bertahan hidup dari perang dengan Surga. Tubuhnya yang telah dilatih bagaikan baja, rasionalitasnya, pola pikir, hasrat. Ah, semuanya… betapa membuat irinya.

Dalam ki ki ki yang sudah biasa kudengar, dia tertawa.

Dan dia mengeluarkan beberapa kata yang belum pernah terpikir olehku.

“Ki ki ki, aku akan menanyaimu sebagai seorang yang telah bertahan hidup dari Perang Zebul di sisiku. Untuk berjaga – jaga saja. Cewek, apa kau mau pergi denganku?”

“Apa… itu…”

“Tidak hanya ada satu halaman dalam buku hasrat. Ki ki ki, cewek, kau masih muda. Daripada dibereskan oleh Komandan Tertinggi Heard, kau seharusnya bisa memulai hidup yang lumayan…”

Lize mengawasiku dan Deije dengan panik. Ketidaksetujuan dan perselisihan dalam pasukan seorang Penguasa Iblis masuk dalam tipe yurisdiksinya. Aku bertanya – tanya apakah Amarah sang Raja Iblis Agung akan menimpanya. Bahkan jika itu bukan salahnya sendiri, bukannya Amarah seorang monster memiliki arah. Tidak, dia jauh lebih mengerikan dari monster manapun.

“… Biarkan aku membujuk Heard Lauder. Aku tidak bisa membiarkan pasukan sang Raja Iblis Agung menyusut.”

“Ki ki ki, aku berterima kasih untuk sentimenmu, tapi beberapa hal mustahil. Heard… lebih kuat dari Amarahmu. Maksudku, dulu saat aku masih seorang Iblis rata – rata yang tidak mencolok… dia adalah seorang Iblis yang telah hidup sejak masa kuno. Semakin lama seorang Superbia hidup, semakin kuat 『Overrule』 mereka.”

“Perintahku adalah perintah sang Raja Iblis Agung, dan kata – kataku adalah titahnya. Bahkan jika begitu, akankah ia mengabaikanku?”

“Bagaimana aku bisa tahu?”

Deije mundur.

“… Tapi… aku punya firasat buruk tentang itu. Ki ki ki, paling baik jika kau tidak menganggapnya seorang Iblis biasa. Ini adalah… beberapa nasihat dari orang yang lebih tua darimu.”

Aku sejujurnya berterimakasih atas sarannya.

Kata – katanya kemungkinan benar. Jika aku bertahan di sini, maka dalam waktu dekat, aku akan dibereskan oleh Komandan Tertinggi Heard.

Tapi, tetap saja, meski begitu… aku punya alasan mengapa aku harus bertahan. Tidak, aku harus punya alasan.

Aku meneguhkan hatiku, dan kulihat ke arah Deije dengan jelas. Meski hanya dalam waktu yang singkat, dia adalah seorang prajurit yang mampu bertukar pukulan dengan layak dengan Zebul.

“… Terimakasih. Tapi hasratku… hanya bisa dipenuhi di sini.”

“… Ki ki ki, sudah kuduga kau akan bilang begitu. Well, lakukan yang terbaik. Sebagai seorang mantan Komandan Tinggi, untuk argumen, aku berdoa untuk keselamatanmu, cewek.”

Seakan menawarkan jabat tangan, Deije mengulurkan tangan kanan tengahnya.

Tangannya kasar, dan terbungkus otot. Aku tidak tahu sebanyak apa kekuatannya. Tapi dari itu, aku bisa merasakan akumulasi bertahun – tahun.

Karena itu, aku iri. Karena penimbunan waktu.

Jika kau membandingkan sifat seorang Iblis dengan berlalunya waktu, itu tidak terlalu berubah, tapi watak pria ini jauh lebih menyenangkan daripada Heard.

Akhirnya, seakan dia tiba – tiba teringat sesuatu, Deije bertanya…

“Cewek… ngomong – ngomong, ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Apa kau mengenal seorang Penguasa Iblis 『Luxuria』?”

“… Ya. Aku pernah bertemu satu sebelumnya.”

Sejak Penguasa Iblis 『Luxuria』 itu hancur, sudah lebih dari seribu tahun.

Tapi hanya dari bertemu dengannya sekali, Iri Hati intens yang kurasakan untuk Penguasa itu, membuatku mengingat kejadiannya seakan itu baru terjadi kemarin.

Deije menghela nafas panjang yang tidak cocok baginya.

“… Sesuai yang kuduga, kau kekurangan daya tarik seksual. Tidak mungkin aku bisa mencurimu pergi… benar? Well, aku berterimakasih atas nasib baik itu.”

“…”

“Lain kali, traktir aku sesuatu yang bagus.”

Dengan kata – kata itu, aku sudah yakin.

Ah, pria ini… dia menyadarinya. Bahwa aku bukanlah seorang  『Luxuria』, tetapi seorang 『Invidia』.

Mungkin memang wajar baginya untuk menyadarinya. Karena di depan matanya, aku iri terhadap Celeste.

Tapi aku tidak mengeluarkan kata – kataku. Aku berani taruhan dia berpikir bahwa keinginan kami tidak akan berbentrokan, tapi secara bersamaan, mungkin Iblis Greed ini menunjukkan kebaikan.

Tidak, mungkin akulah yang menginginkannya demikian.

Dan persis seperti yang Deije katakan, aku iri padanya.

Aku menjadi dirinya.

“Ki ki ki, Leigie dari Sloth dan Kebejatan… dia memang benar – benar seorang Penguasa Iblis yang menarik. Dan seorang yang mengerikan… aku tidak bisa merasakan ambisi apapun padanya. Well, kali selanjutnya kita bertemu, aku berharap kita akan menjadi rekan.”

Yeah, tepat sekali. Aku berdoa kami tidak akan pernah berbentrokan lagi.

Aku melihat lurus ke arah Deije.

“… Benar, mari bertemu lagi, 『Avaritia』.”

“Ki ki ki, sampai jumpa, 『Luxuria』.”

Part 3: Aku Ingin Menjadi Dirimu

Bahkan jika alasan membolehkannya, perasaan tidak semudah itu tuk memaafkan.

Itu adalah sifat yang dimiliki para Iblis.

Demikianlah, Heard merendahkan karena dia Superbia, dan Leigie bermalas – malsan karena dia Acedia. Lize marah karena dia Wrath, Deije mencari karena dia Avaritia, dan Zebul makan karena dia Gluttony. Tidak ada yang aneh tentang itu.

Lorna adalah Luxuria, jadi bernafsu akan Leigie-sama tidak akan… aneh.

Dan karena aku Invidia, aku harus iri.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menggigit bibirku… rasa darah menyebar di mulutku. Aku bisa mencium bau menjengkelkan itu di kedalaman hidungku.

Sebuah adegan yang tidak ingin kulihat, kata – kata yang tidak ingin kudengar.

Cukup berbeda dengan api Wrath yang terang, api keruh 『Envy』 menjilati bagian dalam kepalaku.

『Envy Vision』

Sebuah Skill di Tree Envy. Kekuatan untuk melihat gerak gerik mereka yang kucemburui. Bukan hanya penglihatan saja, bahkan mungkin untuk mendengar suara mereka.

Seakan adegan – adegan itu terhampar di depan mataku, penglihatanku jernih, dan pendengaranku terisi dengan suara lunak Lorna.

Bukannya aku merasakan nafsu birahi terhadap Leigie-sama, aku hanya iri.

Pada Lorna, yang bernafsu terhadap Tuannya sendiri.

Pada Deije yang mengikuti hasrat – hasratnya, dan terus mengejarnya.

Pada Heard, yang memiliki keyakinan yang meluap – luap untuk memandang rendah bahkan pada Penguasa Gluttony.

Sampai saat ini, aku hanya menggunakan skill – skill Envy di dalam kamarku.

Kedokku selalu 『Luxuria』.

Dianugerahi dengan kecerdasan dan kecantikan, dia yang berdiri di ujung tombak pasukan. Seorang wanita yang memerintah Lust.

Dulu aku pernah iri pada Penguasa Iblis Lust, Lilith Luxeliahart, dan skill – skill yang kujamah di atas skill – skill Iblis Lust kebanyakan.

Demikianlah, aku adalah… Medea Luxeliahart.

Sosokku yang terpantul di cermin besar ternodai dengan emosi Envy yang tak enak dipandang, dan air mata darah mengalir dari mataku.

Benakku terwarna hitam, sebuah emosi menjijikkan yang jelas.

Berlawanan dengan perasaanku, aku sedang menuruni Skill Tree Envyku dengan baik.

“Haa… haa…”

Meskipun aku belum bergerak selangkah pun, dadaku terasa sesak.

Nafas yang kuhembuskan panas, dan lembab.

Aku mencoba mengingat kata – kata Deije.

Sesuai dugaanku, tidak ada gunanya. Jika aku tidak melaksanakan iri hatiku di sini, aku tidak punya masa depan.

Bahkan jika aku akan dibunuh oleh Heard Lauder…

Tidak ada… seorang pun yang bisa menghalangi jalan kecemburuanku.

Jika dia datang padaku dengan niatan untuk membereskanku, aku hanya harus mengalahkannya dalam permainannya sendiri.

Skill – skill Avaritia yang kudapat dengan iri pada Deije.

Skill – skill Luxuria yang kudapat dengan iri pada Penguasa Iblis Lust, Lilith.

Skill – skill yang kudapat sendiri dengan mengejar Invidia.

Skill – skill Gula yang kudapat dari mayat remuk Zebul.

Sebagai seorang Kelas Jenderal, jumlah kekuatan yang bisa kucemburui jauh melebihi milik Libell sang Pengejar, Iblis tangan kanan Deije.

But that is of no importance to me.

Tapi itu tidak penting bagiku.

Iri hatiku… apa yang memicunya? Hal yang menjadi sumber semua ini pasti ada di suatu tempat di luar sana.

Aku iri.

Aku cemburu.

Aku ingin… menjadi dirimu.

『Leigie-sama, waktunya makan. 』

Dengan raut wajah lembut, Lorna mengingatkan Leigie.

Dia adalah pelayan yang telah melayaninya selama bertahun – tahun. Dia adalah pelayan yang paling sering berhubungan dengan Leigie-sama, dan secara bersamaan, dia adalah Iblis yang telah menyelamatkanku.

Penampilannya, sifatnya, kemampuannya, kesetiaannya. Segala tentangnya membuatku iri.

… Andai saja kau tidak di sana, akulah yang akan berada di tempatmu.

Dan lagi, sebuah panas yang hitam membara di kepalaku.

Bagaimana, mengapa, apa yang kudambakan akan jatuh ke tanganku hanya dalam satu langkah?

Siapa yang bersalah? Apa yang salah?

Andai saja aku bisa menangani Zebul, andai saja aku mengumpulkan beberapa pencapaian, kehidupan sehari – hariku seharusnya berlanjut seperti biasanya, tetapi…

Tapi kini, apa yang paling sedikit kupunya adalah waktu. Heard akan tentunya mencoba membunuhku. Iblis seperti itulah dia.

Hanya dengan mencemburu dari jauh, aku tidak akan sempat mencapainya. Kehidupanku akan kehilangan maknanya. Aku akan kehilangan segalanya.

Rasa yang telah kucoba untuk kutahan hingga kini telah melampaui batas di mana aku bisa menahannya dengan kekuatanku.

Lenganku, kakiku, bahkan saat tidak dingin, mereka bergetar.

『Leigie-sama, rambut anda kusut.』

『… Gitu.』

Dia selalu meringkuk di ranjangnya, jadi mustahil rambutnya bisa rapi.

Dalam nada seakan itu hanyalah dalih, Lorna menyentuh rambut hitam legam Leigie-sama. Matanya tetap tertutup, dan dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Saat dia menyentuhnya, aku melihat wajah Lorna terwarna merah merona.

Dia belum bilang apa – apa. Dia belum bilang apa – apa, tapi aku iri.

Aku mendengar kabar burung. Bahwa Leigie-sama telah mengingat nama Lorna. Pelayannya yang selalu diam kemungkinan besar adalah alasannya pergi keluar tempo hari juga.

… Meskipun mungkin dia belum mengingat namaku.

Tak berguna. Tak berguna lagi. Aku yakin ini tidak berguna.

Aku mengambil nafas kasar sembari mengusap mataku dengan sebuah sapu tangan. Kain putih itu, setelah menyeka mataku sekali saja, berubah menjadi merah yang teramat gelap.

Ah, kau adalah… dambaanku.

Aku mengerti bahwa itu adalah sesuatu tanpa makna.

Tapi andai saja aku… andai saja aku seorang Penguasa Iblis, aku akan bisa meniru sosok Lorna dengan sempurna!

Ambisi – ambisi tak berarti itu mengelilingi kepalaku.

Tak peduli berapa kali mereka berputar, tak ada tanda – tanda aliran air mata tak berujungku ini akan berhenti. Berat sapu tangan yang menyerap iri hatiku mengerikan.

Aku tak punya waktu. Apakah aku bisa menang melawan Heard, sejujurnya aku tidak tahu.

Mengingat peringatan Deije, kemungkinannya cukup rendah. Dia adalah seseorang yang sifatnya tidak kupahami sepenuhnya. Aku tak yakin apakah ia menyembunyikan sesuatu atau tidak.

Maka sebelum itu, aku akan memenuhi hasratku.

Aku menyerah menyapu air mataku.

Aku membuka kunci pintu, dan meninggalkan ruangan.

Kakiku bergetar, dan aku menaruh tanganku di dinding untuk memantapkan diriku, sembari menuju ke kamar Leigie-sama. Dalam perjalanan, aku berpapasan dengan salah satu bawahanku.

Dia mencoba menyapaku, tapi begitu melihat wajahku, dia membuka lebar matanya dengan ekspresi terkejut.

Kau tidak perlu khawatir tentang itu. Hasratku tidak tertuju padamu.

Untuk mencoba menyampaikan itu, aku mencoba memaksakan sebuah senyuman ke wajahku, tapi begitu melihatnya, wajahnya memucat, dan dia kabur.

Ah… andai saja aku bisa tersenyum seperti Lorna, dia tidak akan lari, bukan?

Tapi itu juga hanya masalah sepele.

Sebelumnya, aku punya seluruh waktu yang kubutuhkan di dunia, tapi sampai waktu mulai habis, aku tidak mampu memperkuat Envy-ku. Aku pasti seorang Iblis yang tak sedap dipandang.

Ada banyak Iblis yang telah menyerah menuruti hasrat mereka, tapi karena pernah merasakan menjadi seorang Minus, aku tidak bisa berhenti.

Aku menggertakkan gigiku.

“Semua ini tak berguna, pastinya…”

“Kusu kusu kusu… apanya yang tak berguna?”

Aku seharusnya bicara pada diriku sendiri di sana.

Dari sekitar tikungan lorong, sebuah bayangan menunjukkan dirinya.

Rambut keemasan, mata biru. Seorang Iblis yang mengenakan seragam pelayan dilengkapi dengan rok yang lebih pendek dari milik Lorna.

Hiero. Saudari Lorna. Nomor dua dalam keluarga yang melayani Leigie-sama.

Dia mengeluarkan tawa yang menjengkelkan. Kendati dia memiliki penampilan yang serupa dengan Lorna, dia memiliki atmosfer yang berbeda.

Secara bersamaan, dia adalah Iblis Superbia seperti Heard, tapi dia adalah seorang yang spesial yang tidak pergi bertarung.

Kenapa pride harus meninggikan suara yang menjengkelkan semacam itu? Ekspresinya, nadanya, setiap bagiannya membuatku naik darah.

“Aku baru saja diusir oleh oneechan, tapi sebagai gantinya, aku menemukan sesuatu yang cukup menarik.”

“…Aku tidak ada urusan denganmu.”

“Kusu kusu kusu, Medea-san, kedokmu lepas, tahu?”

Mendengar kata – katanya, aku tiba – tiba sadar.

Aura 『Luxuria』 tiruan yang selalu kukenakan dengan sebuah skill telah lepas.

Aku mengambil nafas – nafas dalam, dan menyelubungi kembali diriku dalam Lust.

Dengan mata tertarik, dia mengawasiku.

“… Begitu, aku selalu memikirkannya. Bagaimanapun, impresimu jauh terlalu dangkal untuk Lust. Kusu kusu kusu…”

Masa bodoh.

Aku tidak perlu menyembunyikannya lagi. Sejak awal, aku tidak tertarik pada seseorang seperti Hiero.

Sejak awal, aku hanya ingin bersembunyi dari… Leigie seorang.

Hiero mengeluarkan sebuah sapu tangan untuk menyeka mataku, dan sembari melihat kain hitam itu, dia tersenyum cerah.

Tanpa khawatir mengotori dirinya sendiri, dia menaruh sapu tangan itu ke dalam sakunya.

“Dan apa yang kau rencanakan? Dengan tampang seperti itu?”

“… Seperti kau harus tau saja.”

“Kusu kusu kusu, kau tidak asyik. Aku bertanya – tanya apa yang harus kulakukan… jika aku menghentikanmu, akankah oneechan memujiku?”

Orang ini… apa dia ingin bertarung?

Melawan seorang Jenderal sepertiku?

Memang benar bahwa Skill – skill Envy tidak punya daya serang yang tinggi. Tapi aku punya seluruh Skill yang telah ku-Envy sejauh ini.

Aku berkemungkinan akan menang. Aku tidak selemah itu untuk kalah melawan Iblis rata- rata.

Tapi bahkan saat menerima rasa haus darahku, Hiero tersenyum dengan wajah tak berdosa.

“… Itu hanya sebuah lelucon. Sebuah lelucon! Tolong jangan buat wajah berbahaya semacam itu hanya karena sekedar lelucon. Kusu kusu, baiklah, aku akan membiarkanmu lewat. Oneechan… masih di dalam kamar, tapi dia seharusnya akan keluar segera. Ya ampun, dia benar – benar menikmati waktunya…”

“… Apa tujuanmu?”

Aku tidak bisa memahami apa yang gadis ini pikirkan.

Dia belum hidup selama itu, dan dia seharusnya belum menuruni Tree Pride sejauh itu, tapi dari ekspresinya, meski itu bisa saja berbeda tipe, aku merasakan kesombongan seperti milik Heard.

Bukannya dia mempermainkanku, tapi dia memandang rendah padaku karena sifatnya.

Dan ekspresinya memiliki kebijaksanaan yang jumlahnya tidak pantas buatnya.

“Tidak ada~? Aku tidak punya tujuan. Maksudku Medea-san akan dibunuh dalam waktu dekat jadi kupikir setidaknya, aku akan membiarkanmu mencapai hasrat – hasratmu, itu saja.”

Hey, bukannya kau berpikir demikian juga, Medea-san?

Hiero meninggikan suaranya dan tertawa.

Ada rasa sakit yang menusuk di kepalaku. Api Envy yang seharusnya kukekang sedang meluap – luap.

“Well, kupikir kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan. Leigie-sama… kusu kusu, tak akan mencoba menghentikanmu, apalagi peduli.”

“…”

Tidak berguna, aku tidak punya waktu.

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menghabisi yang satu ini? Semenit? Sepuluh? Atau mungkin lebih?

Aku tidak punya waktu untuk mempedulikan Hiero.

Saat dia membuka jalan, aku mengalihkan mataku padanya sekali lagi saja, sebelum mengarahkannya kembali ke depan.

Darah menetes, menodai karpet.

“Kusu kusu. Ah, jika kau akhirnya membunuh oneechan, tolong beritahu aku, ‘kay? Selanjutnya giliranku.”

“…”

Aku tidak bisa menanganinya.

Bahkan setelah Hiero pergi, tawa menjengkelkannya bergema di telingaku.

Apa yang begitu aneh? Apa yang begitu lucu?

… Tidak ada diantara keduanya yang berarti.

Aku hanya punya satu penyesalan yang tersisa di sini.

Kamar Leigie-sama terlihat. Lorna telah meninggalkannya.

Sejak awal, aku tidak pernah punya rencana untuk membunuhnya. Aku tak yakin apa yang akan terjadi jika dia menghalangiku, tapi dia jauh lebih sibuk dari tentara rata – rata, dan dia selalu rendah hati di depan mata Leigie-sama. Bahkan saat dia begitu mengejutkan intensnya saat malam.

Aku mengetuk pintu besar itu sekali, sebelum perlahan membukanya.

Dari apa yang aku bisa lihat dengan mataku, kamar Leigie-sama, setelah dibakar oleh Lize beberapa kali, berbeda dari apa yang kumasuki dahulu kala, tapi atmosfer yang kurasakan sama persis.

Tak bisa ditandingi oleh Envy atau Greed atau Wrath atau Gluttony, udara Acedia yang pekat.

“Permisi… Maaf mengganggu… Leigie-sama.”

Mendengar suaraku, Leigie-sama tidak akan menjawab, aku tahu itu sejak awal.

Aku mengunci pintu di belakang punggungku, dan mendekati ranjang yang tempat Leigie-sama terkubur.

Seakan dia sudah mati, matanya terkatup ringan. Roman mukanya tak memiliki satu ekspresi pun yang tertinggal di wajahnya, dan aku tidak mampu menentukan apakah dia sadar atau tidak.

Bahkan saat dia tepat di depan mataku, aku tidak merasakan apa – apa. Raja Sloth tanpa satu hal pun bagiku untuk kucemburui

Saat aku iri pada apa pun yang tidak bisa kudapatkan, aku tidak bisa menemukan satu hal pun pada Leigie-sama untuk membuatku iri.

Wajar. Apa yang kucemburui bukanlah Leigie-sama sendiri, tapi sekelilingnya.

Aku menggerakkan telapak tanganku ke wajah Leigie-sama. Dia hidup.

Air mata darahku yang tak sedap dipandang menetes, dan menodai wajah itu.

“Leigie-sama… apa sih… yang harus kudamba… Mengapa aku tidak pernah bisa puas…”

“…”

Leigie-sama membuka matanya pelan, dan pandangan transparannya, tanpa setitik pun kecongkakan, melihat menembusku.

Tapi dia tak mengatakan apa pun. Itu benar – benar mengecilkan hati.

Hanya ada satu petunjuk.

Dari semua yang kulihat, dalam memoriku, Lorna adalah orang yang paling membuatku iri.

… Itulah mengapa jika aku bisa mencapai sesuatu yang Lorna tidak bisa lakukan, kecemburuanku harusnya terbersihkan sedikit.

“Leigie-sama… apa kau ingat namaku?”

“… Yeah.”

“Eh? Benarkah!? Apakah boleh jika aku memintamu mengatakannya?”

“…”

Matanya bertanya, ‘siapa ini?’

… Insting macam apa sih yang dihidupi Leigie-sama?

Bahkan saat melihat aliran air mata darahku, bahkan saat wajahnya ternoda, dia tidak tergerak sedikit pun. Aku tidak mampu menggerakkan hati Leigie-sama.

Itu adalah sesuatu yang sudah kuketahui, sejak dulu.

Aku mengangkat ujung jubahku, dan memberi hormat yang sopan.

Maka pada akhirnya, aku akan menghias diriku dengan kesan kecantikan yang sempurna.

“Leigie-sama… Aku dipanggil Medea Luxeliahart. Dosa yang kuperintah adalah 『Luxuria』. Senang melayani anda.”

“… Gitu.”

Dia mengeluarkan suara suram.

Inti jiwaku berdegup kencang.

Tapi ini aneh. Bahkan saat di depan pria itu sendiri, Envy-ku tidak terpuaskan sama sekali. Aku… apa sih yang kulewatkan?

Apa pun itu, aku tidak punya waktu.

“Leigie-sama…”

Aku membuka ikatan pita yang menahan jubahku tertutup di leher, dan meninggalkan pita merah itu di meja samping ranjang.

Satu demi satu, kancing – kancing kayu itu dibuka oleh tangan gemetarku.

Aku menarik tanganku, dan jubah itu jatuh ke kakiku. Bahu telanjangku merasakan sensasi dingin yang nyaman saat bersentuhan dengan udara.

Yang melindungi tubuhku hanyalah baju terusan tipis, dan pakaian dalam yang kukenakan di bawahnya. Aku bahkan tidak mengenakan seragam militerku. Tidak ada yang melindungiku.

Berbeda dengan saat Zebul menanggalkan semuanya. Melepasnya sendiri jauh lebih memalukan dari yang kukira. Iblis Lust memang menakjubkan.

Bibirku gemetar. Dalam suara berguncang, aku menyatakan pada Leigie-sama.

“… Maka… aku akan mencabulimu.”

“… Gitu.”

“… Artinya, aku akan mengabaikan kehendakmu sepenuhnya, dan memaksa melakukan perbuatan seksual denganmu.”

“… Gitu.”

Bahkan setelah mendeklarasikan dengan memalukan sebanyak itu, ekspresi di wajah Leigie-sama belum berganti sama sekali, dan alisnya bahkan tidak bergerak satu milimeter pun.

Tidak ada secercah pun emosi manusia. Tidak ada rasa malu atau rasa takut. Sambil menguap, pandangan tak pedulinya bergeser membuatku bahkan tidak yakin apakah dia melihat ke arahku.

Sembari mengkonfirmasi bahwa aliran air mataku semakin deras, tangan bergetarku bergerak untuk membuka kancing paling atas baju terusan ku.

Part 4: Ini Keterlaluan…

Bahkan setelah menyerahkan tubuh dan perasaanku, perasaan iriku hanya surut sedikit sekali. Itu kemungkinan adalah bagian iri hatiku yang terarah pada Lorna.

Neraka besar yang membentuk dasarnya tidak terpuaskan sama sekali.

Perasaan tidak sabarku tidak berkurang sama sekali. Dengan limbung, aku membersihkan diriku, dan mengenakan pakaian yang telah kutanggalkan dengan gesit.

“Terima kasih… atas waktumu…”

“…”

Leigie-sama tidak menunjukkan se-iota pun pergerakan. Bahkan selama kejadian, dia nyaris tak bergerak sama sekali.

Bahkan saat aku menundukkan kepalaku dalam – dalam, dia tidak memberikan jawaban. Matanya tetap tertutup. Mataku berkaca – kaca.

Apa Penguasa Iblis ini punya nafsu birahi? Tidak, aku berani taruhan dia punya.

Maksudku, itulah mengapa kita mampu melakukannya.

Sang Raja Gabut.

Mengalami jalan hidup abnormalnya sekali lagi, aku merasakan kehilangan dan keputus asaan yang luar biasa. Aku bahkan tidak mampu mengeluarkan tawa kosong.

Tapi jika bukan itu, maka apa yang menjadi sumber Envy yang kuperoleh?

Aku selalu berpikir itu bercabang dari dambaanku terhadap Leigie-sama. Luxuria yang kuperoleh dengan Envy-ku bertujuan untuk mengambil perhatian Leigie-sama, dan itulah mengapa aku selalu berpura – pura menjadi Luxuria.

Mustahil. Aku tidak bisa mengikuti ini lagi.

Aku tidak bisa menemukan target Envy-ku. Itu pasti sesuatu yang telah melahirkan emosi yang cukup hebat buatku untuk menyadarkanku akan Dosaku.

Apa yang harus kulakukan dari sekarang?

Medan pandangku yang bergoyang. Tanpa diperintah oleh pikiranku, kaki tak yakinku menuju ke pintu.

Aku membuka kunci, dan membuka pintu.

“… Hm. Apa kau sudah selesai?”

“… Ah… Begitu ya…”

Suara itu mencerahkanku.

… Jadi aku sudah kehabisan waktu.

Menyandarkan tubuhnya ke dinding luar, seorang pria berambut hitam menatapku.

Komandan Tertinggi, Heard Lauder.

Pengikut tertinggi Leigie.

Bersamaan dengan saat aku mendapat pencerahan, amarah yang hebat mewarnai merah adegan di depanku.

… Biarlah. Jika kau menghalangi jalanku, maka melihat apakah 『Superbia』mu lebih kuat daripada 『Invidia』ku bukanlah pilihan yang buruk.

Aku telah kehilangan jejak yang telah kuikuti selama bertahun – tahun, dan aku sedang dalam suasana hati ingin melampiaskan amarahku pada seseorang.

Aku mengendalikan nafasku.

“Kusu kusu, Medea-san, apakah kau telah memenuhi hasratmu?”

Di sampingnya berdiri Hiero. Dengan senyum lebar tanpa rasa, dia memandang rendah padaku.

Itu tidak terpenuhi. Mustahil itu bisa terpenuhi.

Aku masih memiliki penyesalan yang tersisa. Tidak, penyesalanku hanya bertambah dalam.

Aku menjilat lidahku. Untungnya, air mataku sudah berhenti. Well, aku yakin aku membuat ekspresi yang mengerikan sekarang.

Aku meluruskan kakiku yang gemetar.

Aku menaikkan pandanganku untuk melihat sang Iblis Pride, yang dua kepala lebih tinggi dariku.

Tentu saja, aku tidak lengah, tapi Iblis Pride pada umumnya tidak melancarkan serangan kejutan. Terlebih lagi apabila musuhnya berstatus lebih rendah.

Untuk berjaga – jaga, aku memastikannya untuk terakhir kali.

“Heard Lauder… apa kau berencana melawanku…?”

“… Untuk mengarahkan nafsu membunuh ke arahku, kau telah tumbuh dengan luar biasa, ya. Melawan? Salah, ini sekedar… penghakiman.”

Nada yang tak tertahankan seperti biasanya.

Tapi di sana, Heard tampak teringat sesuatu dengan tiba – tiba.

“… Hm, tapi kau telah berhasil melakukan perbuatan yang berfaedah dengan merepotkan Leigie-sama, dan dengan demikian melemahkannya.”

“… Apa? Apa yang kau…”

Melemahkan… Leigie-sama?

Berfaedah?

Pria ini… apa yang dia…

Kalimat Deije terngiang dalam pikiranku.

Firasat buruk. Benar, itulah yang dia bilang.

Tekanan yang dapat kurasakan hanya dengan dia berdiri di sana. Perasaan ditindas.

Tekanan yang hebat seakan udara itu sendiri sedang diremukkan, tak berbeda dari saat Zebul berdiri tepat di depan mataku.

Komandan Tertinggi Heard Lauder memang seharusnya Iblis terkuat dalam Pasukan setelah Leigie. Tapi apa dia selalu sekuat ini, udara ini di sekitarnya?

Sang Kaisar Angkuh.

Dahulu, dia menyokong pasukan ini seorang diri, sang veteran terhebat. Diktator pasukan ini.

Dengan mata seakan dia sedang mengamati sebuah batu di sisi jalan, Heard meneliti seluruh tubuhku.

“… Benar, ini sebuah pengecualian. Sesuai dengan pencapaianmu, dan sebagai ampunan terhadap seorang mantan rekan seperjuangan, aku tidak masalah membiarkanmu tetap di sini untuk digunakan untuk relaksasi pasukan.”

“Apa…?”

“Kusu kusu kusu, bukankah itu bagus, Medea-san? Untuk bisa lolos tanpa mati. Kusu kusu, bukankah ini ambisi yang telah lama kau harapkan sebagai seorang 『Luxuria』?”

Hiero tertawa menyebalkan.

Ah, tidak berguna.

Bahkan jika aku bukan Wrath, aku merasakan kebutuhan hebat untuk membunuh orang ini.

Aneh? Rasa tidak nyaman? Kuat?

Aku tahu semua itu.

Tapi jika aku tinggal diam di sini setelah ini, aku akan gagal sebagai seorang Iblis.

Bahkan jika aku tidak memerintah Superbia, aku punya harga diriku.

Bahkan jika aku tidak memerintah Wrath, ada hal yang membuatku marah.

Saat ini, 『Envy』 bahkan tidak terpikirkan olehku.

“… Heard, aku berterimakasih padamu. Dulu saat aku masih seorang Iblis biasa, kau memberiku sebuah pekerjaan.”

“… Hm, aku tidak butuh terimakasih. Aku hanya peduli tentang hasilnya.”

Dan dia tertawa mencemooh, seakan berkata, ‘Dan kau bahkan tidak memberikan hasil apapun.’

Tapi bahkan jika matanya berkilat dengan kesombongan, dia tidak lengah.

Untuk mengeliminasi kesempatan dirinya untuk terpeleset yang bahkan hanya satu dari sejuta, untuk melindungi kesombongannya, dia melakukan seluruh latihan abnormalnya.

Itulah watak dari dia yang terus berkuasa atas Pride, Heard Lauder.

Demikianlah, dia selalu bersinar sebagai Komandan Tertinggi pasukan Leigie-sama.

Dari kedalaman eksistensinya, sihir, dan hasrat keluar.

Sudah sekitar tiga hari sejak berakhirnya Perang Zebul. Dengan mengabaikan keadaan fisikku, sihirku dalam keadaan sempurna.

“… Haruskah kita bertukar tempat?”

Dia kemungkinan tahu aku tidak mengharapkan sebuah ya.

Dengan ekspresi yang tidak tertarik, persis seperti milik Leigie, dia memandang rendah ke arahku.

“Tempat… Hm, tidak perlu. Tidak, terlebih lagi, melakukannya di sini menghemat sedikit tenaga.”

“… Maksudnya?”

“Tidak, aku bicara pada diriku sendiri tadi… Sekarang, Medea Luxeliahart. Datanglah padaku.”

Hiero menepikan dirinya dalam diam.

Heard tampak santai. Tanpa tanda darinya telah memasuki sikap bertarung, wajahnya terus berkuasa dan meremehkan segalanya dengan sama rata.

Aku sedang diremehkan.

… Baiklah. Aku akan ikut taruhanmu.

Tanpa membiarkan diriku lengah, dan sembari memperhatikan pergerakan Heard, aku menghela nafas dalam…

… Aku menggunakan skill 『Imitate』.

Pikiranku berkilat layaknya petir, dan berkejaran di sekujur tubuhku.

Apa yang mengambang di pikiranku adalah seorang gadis berambut hijau. Sendirian, dia memimpin pasukannya, dan mengarahkan pedangnya ke sang Raja Iblis Agung; seorang Penguasa Iblis yang kuat.

Api Envy membara di depan mataku.

Tanpa kekangan, aku menghabiskan persediaan sihir yang telah kukumpulkan.

Lututku gemetar. Tubuhku terdorong mundur untuk sejenak. Harga Mananya sangat mengerikan. Jumlahnya bahkan melampaui jumlah yang digunakan oleh Skill SS dari Penguasa Iblis Lust, 『Phantom Aliquot Dance』.

Ini adalah Skill Penguasa Iblis sejati.

Aslinya, ini adalah puncak yang hanya bisa dicapai oleh para Iblis yang telah menghabiskan ribuan tahun untuk memenuhi hasrat mereka.

Aku iri padanya. Tanpa ada penghargaan atau kehormatan.

Sesuatu memberatkan tanganku.

Ini adalah Skill 『Invidia』 guna mengawetkan Skill Skill milik mereka yang kucemburui dengan sempurna.

『Imitate』.

Sama seperti 『Skill Ruler』 milik 『Avaritia』, skill ini tidak mempedulikan pengalaman yang dibutuhkan untuk mencapainya, sebuah cara khusus milik Envy.

Tidak seperti 『Skill Ruler』, di mana kau bisa memperkuat skill skill yang kau dapat, kau bisa menggunakan Skill – skill dalam keadaan saat mereka diimitasi.

Setingkat dengan saat digunakan yang asli.

『Fang of Origin』.

Ini adalah skill yang dia gunakan saat bertarung dengan Leigie-sama.

Sebuah belati berbentuk bulan sabit berwarna putih bersih termanifestasi di depanku, sebelum terselimuti kabut hitam rasa lapar.

Heard mengernyit. Tapi bahkan setelah melihatku menggunakan sebuah Skill yang jelas – jelas bukan Lust, dia tidak terkejut.

Aku berani taruhan Hiero memberitahunya. Karena sifatnya, para Iblis yang berkuasa atas Pride memiliki sistem hierarki mutlak di antara mereka.

Aku lupa. Tidak, aku tidak menghubungkannya. Sang Komandan Tertinggi, dan si pelayan baru.

Tapi itu tidak berarti. Itu tidak akan mampu memecahkan Skill seorang Penguasa Iblis.

“Itu adalah… Hm, Zebul sang Pelahap… sebuah Skill Gula, ya?”

“…”

Tekanan. Rasa lapar yang mengerikan. Pedang ini menyedot nutrisiku, dan penglihatanku kabur. Kuda – kudaku menjadi goyah.

Tanpa mempedulikannya sama sekali, aku merendahkan tubuhku, dan menjejak lantai. Ujung pedangku menggores lantai seraya membuat ruang hampa dengan ayunannya.

Ini adalah sesuatu yang bahkan Leigie-sama harus hindari. Skill yang Zebul pilih dari keabadian hidupnya khusus untuk menghabisi sang Penguasa Sloth.

Hanya dalam satu langkah, aku mendekatinya, dan mengayun keatas.

Heard, melihat serangan itu, tersenyum dengan penghinaan yang jelas.

Getaran seakan bangunannya sedang bergetar. Lantainya runtuh. Tepat saat sebelum pedang itu mampu menggigit Heard, sosoknya menghilang.

Taring itu dengan mudah menembus dinding yang dilindungi oleh sebuah pelindung.

“… Hm, sesuai dugaanku… betapa tak berguna.”

Dari belakang, aku mendengar suara. Saat aku berbalik dengan buru – buru, panggulku diserang. Sebelum aku bisa merasakan sakit, pandanganku terhalang sebuah tembok.

Sakit. Sebuah tumbukan yang mengguncang seluruh tubuhku. Penghakiman. Kemampuanku untuk tetap hidup berkurang. Rasa sakit yang menusuk di panggulku. Beberapa tulangku hilang.

Bagian belakang kepalaku ditekan dengan keras.

“Bahkan jika kau punya skill skill milik seorang Penguasa Iblis, seorang Invidia rendahan tidak akan pernah bisa menguasainya.”

Tangan kanan yang menggenggam pedang itu diremukkan. Tanganku dibuka dengan paksa. Taring itu berubah menjadi pasir, dan lenyap.

Itu bukanlah teleportasi absurd itu yang ditunjukkan Leigie-sama. Itu adalah pergerakan yang murni berdasar dari kemampuan fisiknya. Itu hanyalah kecepatan semata, tapi bagi level pandangan dinamisku, itu tak ada bedanya dengan pergerakan seketika.

Leigie yang diam.

Heard yang Dinamis.

Kekuatan fisik yang mengagumkan. Naluri bertarungnya tanpa keraguan sesaat pun. Kepalaku ditarik dari dinding sebelum diguncang oleh tumbukan lain.

Sebuah raungan keras. Saluran setengah lingkaranku berguncang. Aku bahkan tidak bisa bilang apa yang terjadi, tapi aku tahu bahwa kerusakan sedang bertumpuk di tubuhku.

Pandanganku terwarna merah.

“… Hm, sesuai dugaanku, kau hanyalah seorang 『Invidia』 rendahan… Bagian mana sih dari orang ini yang menarik perhatian Deije… aku tidak mengerti.”

“… Dei… je…”

Mendengar kata – kata itu, nama itu, kesadaran kaburku merespon.

Aku mengaktifkan 『Imitate』secara naluriah. Targetnya adalah seorang Iblis 『Avaritia』. Sang Perampas, Deije Breindac.

Aku iri. Aku tidak bisa tidak iri.

Pada kemampuan fisiknya.

Kekuatan kembali ke lengan tak berdayaku. Darah merah panas. Pengalaman Deije, yang pernah berbaku hantam dengan seorang Penguasa Iblis.

Aku menggenggam tangan Heard, yang telah menggenggamku di bagian tengkukku. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba untuk meremukkannya.

Tapi tangan Heard tidak goyah sama sekali.

“… Jadi itu kekuatan murni Deije… hm, sayang itu dipinjamkan kepada seseorang sepertimu.”

Tubuhku melayang. Saat aku menyadarinya, aku telah dilempar dengan mudahnya.

Kepalaku mengalami sebuah kejutan. Tapi itu beres seketika dengan menggunakan Resistensi Abnormalitas Statusku. Pandangan dinamisku menangkap dengan sempurna tembok yang bergerak mendekatiku. Tapi aku tak mampu melakukan apapun.

Aku melindungi kepalaku sebelum aku terbentur. Itu adalah sebuah benturan yang menembus tubuhku. Mungkin karena daya tahan Deije, aku tidak menerima luka yang terlalu besar.

Sang Iblis Pride mulai mendekatiku seakan dia sedang berjalan santai.

“Hm… tidak buruk. 『Invidia』, aku akan mengizinkanmu untuk iri pada Leigie-sama.”

“… Apa yang…”

Sebuah senyum sinis muncul di mulut Heard.

“Kau iri padanya, kan? Sambil mengayunkan panggulmu di atasnya. Hm, aku memberitahumu untuk menggunakannya, bodoh.”

Pria ini… sejauh mana dia akan mempermainkanku?

Besarnya amarah yang kurasakan memerahkan kepalaku.

Tiba – tiba, kata – kata Deije bangkit kembali.

『Well, lakukan yang terbaik. Sebagai seorang mantan Komandan Tinggi, untuk argumen, aku berdoa untuk keselamatanmu, cewek.』

Benar, tidak peduli bagaimana pun, aku harus tetap hidup.

… Untuk memenuhi hasratku.

Aku berhenti mengimitasi kemampuan fisiknya.

Kekuatan mengalir keluar dari tubuhku. Tapi setidaknya aku punya cukup tenaga untuk berdiri. Dan aku menggunakan sihirku lagi.

Sebuah kelegaan bagiku bahwa aku tidak mampu memanifestasikan 『Fang of Origin』 secara penuh, jadi aku masih memiliki sisa sihir.

Aku menjilat bibirku. Jangan meremehkan Envy. Aku mendambakan segalanya, menginginkannya, bahkan jika aku tidak mampu merubah diriku sendiri, aku iri.

“… Maka aku akan menunjukkannya padamu. Kekuatan sang Penguasa Sloth!”

Apa yang kubayangkan adalah tuanku. Selalu di ranjang, di lantai, di tanah kasar padang pasir. Selalu tergeletak dengan ekspresi kerepotan di wajahnya, dengan malas menurunkan tangannya seakan untuk melumat sebuah lalat. Satu – satunya Raja Sloth. Sang Raja Tiada Guna.

Berpikir.

Akan kekuatannya. Akan gaya hidupnya.

… Dan aku iri pada Skill itu.

Aku mengayunkan tanganku dengan ringan.

Tubuh Heard tiba – tiba terlempar ke dinding.

Seakan dia telah diremukkan oleh tanganku.

Bagaimana aku harus mengatakannya… betapa gabutnya Skill ini.

Dari tidak adanya perlawanan yang kurasakan, aku melihat tanganku sendiri dengan kagum.

Alamak, tidak ada rasa apapun di tanganku. Semua yang kulakukan hanyalah melambaikannya. Dengan suara keras, retakan menyebar di dinding yang dilindungi pelindung.

Tanpa memikirkan apapun, aku mengepalkan tanganku.

Hanya begitu saja, kerutan menyebar di pakaian hitam Heard seakan ia telah dicengkeram.

『Miracle Wonder Lighthand』

Itu adalah nama Skillnya. Nama Skill yang kuketahui melalui Leigie.

Meskipun itu memang ajaib, atau gemilang, kupikir ada sesuatu yang salah dengan nama itu. Tapi itu memang sangat kuat. Kuat secara sepihak.

Selain hampir tidak memiliki kekurangan, kau bisa menyerang secara sepihak dari jarak jauh.

Tapi bahkan setelah menerima skill yang cukup untuk membantai Zebul, sang Iblis Pride tidak terlihat panik.

“『Sky Hand』, ya… betapa tak berguna.”

Bahkan saat terjerat, Heard memandang rendah ke arahku.

Pada saat itu, skillnya dibatalkan dengan paksa.

Tubuhnya yang sedang melayang terjatuh, dan dia mendarat dengan anggun pada kakinya. Tubuh dan ekspresinya belum menerima luka.

Dia merapikan pakaian kusutnya dengan tangannya. Dengan wajah bosan.

Aku tak percaya… apa yang dia lakukan? Dia membatalkan sebuah skill dari sang Raja Pemalas?

Tidak, bukan itu. Aku kurang lebih bisa memahami apa yang dia lakukan.

Heard Lauder adalah seorang Iblis Pride.

Karena itu, hanya ada satu jawaban yang bisa kucapai.

Ini adalah Skill 『Overrule』 milik 『Superbia』.

Aku yakin itu telah menyeberangi kedalaman hatiku… itu memiliki kemampuan untuk meniadakan Skill yang telah di-Overrule, dan untuk menimbulkan penyesuaian status pada lawan yang telah di-Overrule. Salah satu kemampuan Pride.

Tapi itu tidak mungkin. Bahkan jika dia bisa meng-Overrule kebanyakan skill, ini tidak normal.

“Mustah… bagaimana bisa kau melakukan itu pada milik Leigie-sama…”

“… Hm, tak berguna. Invidia, aku menyuruhmu untuk menggunakannya, bukan? Aku menyuruhmu untuk mengimitasinya, bukan? Kepunyaan Leigie dari Sloth…”

Dia bimbang untuk sejenak.

Dia mendorong telapak kakinya ke tanah, dan menyerang dengan menurunkan kaki lainnya yang terangkat.

Bahkan jika aku menyadarinya, bahkan jika aku mengetahuinya, itu adalah kecepatan secepat kilat yang tidak bisa kuhindari.

Tubuhku terbanting ke tanah.

Kekuatannya yang luar biasa membuatku tak mampu percaya dia adalah sesama Kelas Jenderal.

Sepatunya, yang kemungkinan terbuat dari Kulit Naga menggilas kepalaku seakan dia sedang menginjak – injak sampah.

Bahkan tanpa melihat, aku bisa bilang. Tatapan dinginnya layaknya tamparan ke wajah. Semangat bertarungnya yang menusuk tajam dan terasah.

Heard Lauder bicara seakan sedang memuntahkan kata – katanya.

“…『VIT』nya.”

Ada kekuatan yang terkandung di kata – katanya. Aku paham.

Orang ini… berbeda level.

Bahkan setelah hidup bertahun – tahun, ada banyak Iblis yang tidak memiliki kekuatan yang hebat. Aku telah melihat contoh yang lebih dari cukup. Tapi yang satu ini berbeda.

Aku tidak tahu seberapa tua dia, tapi pengalaman bertarungnya, sihirnya, otoritasnya, seluruhnya bernilai mendekati lamanya waktu yang dia habiskan dalam hidupnya.

Mengapa, bagaimana. Mengapa seorang Iblis Pride setingkat ini merendahkan dirinya sendiri untuk menjadi bawahan seorang Penguasa Iblis?

… Aku tidak bisa menang.

Aku dengan kesulitan menggerakkan kepalaku yang sedang diinjak, dan melihat seorang Heard.

“Kau… apa… yang kau coba lakukan!?”

“… Aku menyuruhmu untuk meng『Imitate』. Aku tidak menyuruhmu untuk membuka mulutmu.”

Setelah mengangkat kakinya dalam sekejap, kakinya turun, dan meremukkan rahangku.

Rasa sakit yang tajam. Darah menyebar di mulutku, dan benda keras yang bisa samar – samar kurasakan kemungkinan adalah gigiku, atau tulangku. Darahku menyebar ke tanah, tapi entah mengapa, pandanganku menjadi jernih.

Dalam kesadaran kaburku, pikiranku tidak bisa mengimbangi.

Penglihatanku terwarna hitam tipis, seseorang sedang meremehkanku.

“… Kusu kusu kusu… Heard-san, bocah ini telah kehilangan kesadaran, kelihatannya.”

“… Hm… well it was my mistake to place expectations on her, I guess. If she could only reproduce a fraction of Leigie-sama’s power, it would still be fine… is what it means.”

“… Hm… well itu adalah kesalahanku untuk menaruh harapan padanya, kurasa. Andai saja dia mampu mereproduksi sebagian kekuatan Leigie-sama saja, maka tidak ada masalah… itulah artinya.”

“… Well kupikir itulah. Kusu kusu kusu, pertama – tama, orang ini dikatakan sebagai yang terlemah di antara para komandan.”

Aku tidak bisa mendengar apapun. Aku tidak bisa melihat apapun.

Aku merasakan Inti Jiwaku kehilangan kekuatan dengan cepat.

Aku telah menerima luka yang terlalu parah. Aku telah menggunakan terlalu banyak skill yang terlalu berat bagiku.

Dan tetap saja, aku bukan tandingannya.

Pandanganku menggelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Aku tidak bisa merasakan apapun.

Pada saat itu, sebuah gambar yang jelas membanjiri pikiranku.

Itu bukanlah gambar beberapa ribu tahun yang kuhabiskan dalam hidupku.

Itu adalah gambar Leigie-sama yang memelukku sebagai pengganti bantalnya, dan membawaku ke sini.

Sensasi itu sangat jelas. Ekspresi bosannya. Lengannya, yang darinya tidak bisa kurasakan kehangatan. Dengan matanya yang masih tertutup, seorang Leigie-sama yang tak bergerak.

Leigie-sama membentangkanku dengan kasar di atas ranjang. Kanon-sama mengernyit saat menemukanku.

Leigie membandingkan opsi dengan mata mengantuk. Itu adalah kali pertama kegelisahan lahir ke dalam hatiku.

Leigie-sama membiarkanku pergi.

Dan apa yang dia genggam alih – alih adalah…

Sebuah tumbukan mengejutkan kepalaku. Aku tidak begitu peduli bahwa aku sedang di ambang kematian.

Aku tidak yakin atas alasan apa, tapi warna mulai kembali ke mataku.

B-bahkan tidak bisa mati saat dibunuh… ini keterlaluan.

Bantal!? … Wai… jangan bilang asal dari….

Aku menjerit tanpa disengaja, tapi mulutku telah dihancurkan jadi suara aneh keluar.

“Faa… hyo…”

“… Huh? Kau masih sadar? Kusu kusu, kau seorang yang tangguh. Terima ini!”

Jari – jari seperti ikan kecil, sebuah tangan runcing menusuk kedua mataku tanpa belas kasihan.

Mataku remuk, dan penglihatanku menjadi hitam legam akibat perbuatan fisik itu. Aku berhasil memeras keluar sebuah jeritan dari tenggorokanku. Jari – jari itu terus menggali – gali dalam mataku.

Rasa sakit luar biasa ini membuatku merasakan kesadaranku meninggalkanku kali ini.

Aku tidak peduli lagi. Bunuh saja aku segera…

Indraku lumpuh.Sensasi jari – jari di mataku. Aku bahkan tidak merasakan sakit lagi. Hanya saja rasa gerakan di sana sangatlah mengganggu.

Saat kesadaranku ditelan oleh kegelapan lagi, aku mendengar suara pelan.

“Kusu kusu, Heard-san. Kau tidak membutuhkan ini lagi, bukan? Bolehkah aku mengambilnya?”

“… Hm, aku tidak membutuhkannya, tapi… akan kau gunakan untuk apa dia…?”

Tubuhku goyah. Sensasiku tidak karuan.

“Ini… kupikir aku akan bisa meng-Overrule-nya. Kupikir ini akan berguna untuk 『Eksperimen』 kecil…”

“… Hm, maka biarlah. Itu adalah cara lain bagi seorang 『Superbia』 untuk maju, tapi biarkan aku menambahkan. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan dengannya, tapi pastikan kau membuangnya setelah kau selesai.”

“Kusu kusu kusu, aku tahu, Heard-san. Serahkan pembersihannya padaku. Heard-san, kau harus… Leigie-sama…”

“… Benar. Aku tidak punya waktu untuk dihabiskan demi masalah sepele… Hm, aku telah menghabiskan beberapa waktu tanpa guna. Leigie si Bejat… ya? Ayahku memang telah jatuh. Aku akan memastikan untuk membuat sapaan terakhir.

Aku melemah, tapi aku masih bisa merasakan denyut lemah di Inti Jiwaku.

Yang lebih penting…

Kata – kata yang kudengar dengan susah payah dari Heard membangkitkan keingintahuanku.

Seraya kehilangan fokus pada kesadaranku sendiri, pikiranku jatuh ke neraka.

Aku buru – buru mengembalikan fokusku.

A…yah? Apa artinya itu?

Ayah Heard Lauder adalah Leigie-sama?

Pertama kalinya aku mendengarnya. Aku telah di sini cukup lama, tapi aku belum pernah mendengar sesuatu semacam itu. Bahkan tidak dalam rumor sekali pun.

Ada yang tidak beres. Membiarkan Heard pergi begitu saja adalah sebuah kesalahan.

Tapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Kesadaranku juga.

Nyawaku yang berkilat di depan mataku meningkatkan frekuensi denyut jantungku, dan pikiranku kembali, tapi aku ada pada batasku.

Lenganku bahkan tidak mau berkedut. Rasanya seperti perasaan tak bergerak adalah satu – satunya yang bisa kurasakan.

Rasanya seperti aku memiliki penyesalan yang tersisa.

“Haa… oneechan sama saja, tapi Medea-san, kau terlalu tahan banting… Apa kau punya penyesalan sebanyak itu dalam hidupmu? Kusu kusu, Lust dan Envy memang terlalu tahan banting… Tapi Leigie-sama beda lagi…”

Tumbukan mengguncang sekujur tubuhku, dan nafasku terhenti seketika.

Sebelum itu terjadi, sebuah cahaya redup kembali ke mataku.

Apa yang berada di depanku adalah sosok Hiero yang menuangkan isi dari sebuah botol kaca kecil.

Tetesan – tetesan air mengalir di wajahku. Rasa sakit yang luar biasa yang mengikuti kebangkitanku yang tiba – tiba membuatku berusaha untuk menjerit, tapi Hiero menjejalkan sebuah sepatu di mulutku.

“Goh…!”

“Well, well, jangan merepotkanku sebanyak itu, Medea-san. Kusu kusu, jika Heard-san tahu, dia akan membunuh kita berdua, bukan? Tidak bisakah kau diam sebentar?”

Seakan ada yang menarik, dia tersenyum sembari menggerakkan sepatu itu lagi dan lagi, sebelum akhirnya melepaskannya.

Setelah itu, dia mengambil botol kaca lain dari sakunya.

Logo pemasaran pada botol itu… itu adalah sebuah Ramuan yang dibuat untuk memulihkan makhluk hidup. Itu adalah sesuatu yang tidak asing kulihat berjejer di ruang penyimpanan pasukan.

Setelah membuka tutupnya, dia mulai memercikkannya padaku dari ketinggian yang sebenarnya tidak perlu.

Ramuan adalah komoditas kelas super tinggi. Mereka adalah obat – obatan ajaib yang bahkan bisa meregenerasi bagian tubuh yang hilang.

Normalnya, seseorang tidak akan sempat untuk meminum satu dalam pertarungan, jadi itu adalah sesuatu yang disimpan untuk keadaan darurat, saat mereka benar – benar dibutuhkan.

Efek sebuah ramuan melingkupi meredakan rasa sakit. Rahangku yang remuk dipulihkan.

“Arara, jadi bahkan dua tidak cukup. HPmu pasti sangatlah tinggi… mau yang ketiga…?”

“A-Aku tidak membutuhkannya… aku sudah baik – baik saja!”

“Kusu kusu, jangan sembrono. Lihat, lihat.”

“Gu…”

Kakinya menginjak tulang rusukku.

Ada rasa sakit seakan sesuatu remuk di dalam perutku.

Aku bahkan tidak bisa bilang apa yang sedang terjadi lagi. Apakah dia mencoba untuk menggangguku, ataukah dia mengobatiku?

Pada detik aku membuka mulutku untuk mengeluh, sebuah botol dijejalkan dalam mulutku.

Cairan mengalir turun langsung di tenggorokanku. Saat kupikir aku akan terbatuk, tangannya menutup mulutku secara paksa.

Dari hidungku, ramuan mengalir. Melihatnya, dia mengeluarkan senyum ringan dan halus.

“Goho, goho, a-apa yang kau rencanakan?”

“Hmm? Rencana? Aku baru saja menyelamatkanmu, jadi kupikir ada sesuatu yang harus kau katakan dulu, bukan?”

Pemilihan kata – kata yang menjengkelkan.

Tapi… menyelamatkan?

Aku buru – buru mengamati sekelilingku. Retakan di dinding, dan lantai yang runtuh. Lokasiku belum berpindah sama sekali sejak saat aku kehilangan kesadaran.

Aku merasa dicurangi entah mengapa.

“Sekarang, sekarang Medea… dimana~ terima~ kasihmu~?”

Dia bicara dengan senyum berseri – seri.

Aku menggertakkan gigiku.

“… Terimakasih. Aku selamat.”

“Kusu kusu, dengan senang hati. Dari sekarang, kau harus tahu tempatmu, dan tahu kapan harus lari, tahu? Mustahil kau akan bisa mengalahkan Heard-san, Medea-san. Pertama – tama,  『Superbia』 memiliki afinitas kuat terhadap 『Invidia』.”

Dia membelai rambutku seakan ia sedang menepuk – nepuk seekor anjing.

Itu menjengkelkanku, tapi fakta bahwa aku masih memiliki nyawaku adalah sebuah keberuntungan.

Yang lebih penting lagi, perasaanku untuk mempertanyakan bagaimana dan mengapa semakin kuat.

Setelah menerima pandanganku, Hiero menghela nafas.

Lorong itu… dia melihat ke sekitar sudut lorong yang menuju kamar Leigie-sama, dan melihat rendah ke arahku dengan mata dermawan.

“Tidak… bukankah ada kemungkinan Leigie-sama akan meminta untuk memeluk Medea-san lagi? Hanya di alam kemungkinan yang hebat, di wilayah satu dalam sejuta, sih… kusu kusu…”

Aku… Aku gagal paham.

Terlalu asing bagiku. Bagaimana bisa Lorna memiliki saudari seperti ini?

Aku tidak mendapat maknanya. Aku gagal paham.

Kekuatan Heard mengerikan, tapi begitu juga mentalitas Hiero.

Karena itu… dia bahkan tidak memindahkan lokasi, tapi mengobatiku apa adanya?

Jika Heard kembali, apa yang kau rencanakan?

Pikiranku berputar – putar. Alasan jauh tingginya membuat aku hanya bisa membalas dengan satu kalimat.

“… Aku tidak berpikir itu akan terjadi.”

“Aku sependapat. Maksudku, tubuhmu begitu langka… jika itu oneechan, aku akan paham, sih…”

Apa kau menantangku bertarung?

“Tidak, tapi, jika Leigie-sama mengundangmu ke ranjangnya, kau akan merespon, bukan? Coba katakan. Aku telah diselamatkan oleh Hiero dari 『Superbia』, jadi tolong nikmati tubuhku yang langka.”

Itu adalah sesuatu dengan kesempatan hampir seratus persen tidak akan terjadi, tapi aku meyakinkan diriku untuk tidak pernah menggunakan kalimat itu jika kesempatan semacam itu muncul.

Ini bukan tentang menyelamatkan nyawaku atau apa, aku hanya tidak mau.

“Kusu kusu kusu, well, mari kita hentikan leluconnya di sini…”

… Jadi itu tadi sebuah lelucon.

Dia selalu tersenyum, jadi aku tidak bisa bilang apakah dia tulus atau bermain – main.

Dengan ekspresi serius, Hiero memandang ke arah lorong itu. Sebuah lirikan sekejap seakan untuk mengindikasi kamar Leigie-sama.

“Heard-san bermaksud untuk membunuh Leigie-sama. Dia akan mengincar celah di mana dia telah dilemahkan dari bertarung dengan si Penguasa Iblis.”

“… Hah? Ap, mengapa… tidak, itu salah… oh begitu.”

Itu tidak waras.

Bahkan jika dia baru saja mengalahkan seorang Penguasa Iblis, Leigie-sama hampir tidak terluka sama sekali, dan dia hampir tidak menggunakan Skill apapun. Dia tidak terlihat dilemahkan sama sekali. Tidak, dia sedang tidur, jadi bukannya aku bisa bilang, tapi…

Meski begitu, jika Heard bermaksud untuk membunuhnya… dia pasti punya rencana.

Pertama – tama, membunuh tuannya sendiri adalah salah satu wujud Pride.

Jika itu adalah arti di balik kata – kata Heard yang tak bisa kupahami, maka aku bisa paham.

Melanjutkan, setelah peregangan tubuh yang besar, Hiero menghela nafas.

Matanya dipenuhi kejengkelan dan terwarna dengan warna yang tidak pantas untuk penampilan mudanya.

“Aku telah bertaruh dengan diriku sendiri, kau lihat. Aku memang seorang Iblis Pride sama sepertinya, tapi tanpa hubungan dengan itu, aku bertaruh Heard-san akan kalah. Well, itu hanya insting, jadi jika Heard-san berhasil mendapatkan kemenangan, maka aku akan membunuh Medea-san di sini. Kusu kusu kusu… sebenarnya, aku adalah seorang rekan yang kuat untuk dimiliki tahu.”

“… Begitu ya.”

Yang satu ini tidak baik. Dia adalah sampah alami.

Tapi dia telah menyelamatkan nyawaku juga merupakan fakta. Aku memutuskan untuk tidak menyuarakan pendapatku.

Aku berdiri, dan menggerakkan tubuhku. Sihirku kurang lebih kosong, tapi rasa sakitnya hilang.

Lukaku telah dipulihkan secara menyeluruh.

“… Maka mengapa kau menyembuhkanku secara total? Kau bisa membuatnya sehingga aku hanya nyaris bertahan hidup, atau semacamnya…”

Bahkan jika dia tidak memulihkan Manaku, seharusnya ada perbedaan kemampuan antara aku dengan Hiero.

Jika dia menyembuhkanku secara total, kemungkinan aku akan kabur tinggi.

Pada pertanyaanku, Hiero melemparkan jawaban riang.

“… Itu~ karena~ dalam delapan dari sembilan kemungkinan, Leigie-sama akan menang! Heard-san memang kuat bukan kepalang, tapi… kekuatan Leigie-sama tidak masuk akal. Pride sangatlah lemah terhadap yang tidak dikenal… jika musuhnya dilemahkan, dia mungkin akan bisa melaluinya, tapi Leigie-sama adalah Penguasa Iblis Tingkat Ketiga. Akan menjadi akhir saat dia memunculkan sebuah skill yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya, bukan? Pastinya.”

Lagi, kata – kata yang pahitnya dapat dikagumi. Tapi sebagai seorang Pride sepertinya, kata – katanya memiliki kekuatan yang meyakinkan.

Aku diremukkan hingga mati dengan kekhawatiran, dan di samping Hiero, aku mengawasi sudut.

… Bantal, hasrat, apa yang harus kulakukan.

Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya