DnO 7 – Kesombongan Superbia

Kesombongan Superbia

Part 1: Kepada sang Penguasa Iblis Agung

Saat dibandingkan dengan ras manusia, umur seorang Iblis benar – benar panjang.

Masa hidup mereka sama dengan keabadian, dan menua akibat berlalunya waktu adalah sebuah konsep yang asing bagi mereka.

Bentuk jiwa mereka, bentuk kehendak mereka, dan bentuk hasrat mereka adalah apa yang menetapkan adanya mereka, dan benih – benih dari jalan ketetapan keadaan itu adalah faktor terbesar yang memengaruhi Dunia Iblis yang konyol besarnya ini.

Pada saat bersamaan, saat Iblis terus menggunakan umur tak berujung mereka untuk menyelami hasrat mereka, kekuatan mereka bisa tumbuh tanpa batas yang terlihat… saat mereka menjadi Penguasa Iblis, mereka memiliki kekuatan yang cukup untuk mencemari Surga yang itu yang akan menjadi musuh alami mereka.

Hal pertama yang memasuki mataku pada saat aku bangkit, adalah seorang pria tanpa semangat dalam pakaian kusut. Rambutnya yang dipotong tanpa mengindahkan seni rontok di atas pakaian kotor yang ternodai oleh debu. Apa yang menopang tubuhnya adalah sebuah kursi tangan reyot dengan warna yang pudar.

Tanpa nyawa, energi atau kehendak, tapi apa yang dia miliki adalah kekuatan yang luar biasa besar.

Bahkan bagi naluriku yang belum matang, aku bisa merasakannya mengisi dunia, hanya dalam dan gelap, seakan itu adalah udara itu sendiri, sebuah sihir yang alami dan tenang.

… Sang Raja Kebejatan.

Yang terkuat yang menang. Dalam dunia di mana Penguasa Iblis bersaing satu sama lain dengan anggun, ada seorang yang tidak ikut campur, dan hanya dengan berada di sana, dia telah memanjat naik menjadi Penguasa Iblis. Seorang Iblis yang perkasa.

Tanpa membuat darah mengalir, seorang Iblis yang menyedihkan yang bahkan telah ditinggalkan oleh jalannya waktu.

Leigie si 『Bejat』.

Tidak pasti bahwa dia mampu menganugerahkan kekuatan pada mereka yang menginginkannya.

Tapi kebalikannya juga benar.

Bahkan jika dia memiliki kekuatan, tidak pasti jika dia mampu menggunakannya secara praktis, dan sebagai Sloth, bahkan tidak pasti jika dia mampu menggunakannya sama sekali.

Sang Penguasa Iblis yang mengejar 『Acedia』 memandangku. Tanpa mengatakan apapun, tanpa memikirkan apapun.

Tidak, sementara matanya mengarah ke arahku, mungkin dia bahkan tidak melihat ke arahku. Pandangan kosong dan tidak tetapnya tidak memiliki makna, dan semua yang aku yakin adalah pikiran yang berdiam di kedua mata itu adalah pikiran yang seorang sepertiku tidak akan mampu untuk pahami.

Mungkin… asal muasalku adalah sebuah keajaiban.

Untuk bermain – main, dia telah mencoba untuk menggunakan kekuatan yang dia telah dapatkan untuk pertama kalinya, dan untuk sebuah alasan yang sesederhana itu, aku terlahir.

Tentu saja, aku menyadarinya setelah banyak waktu berlalu… Setelah, tanpa makna, dan tanpa pernah sekalipun diperintah sejak kelahiranku, aku terus menyedot Mana yang Iblis bernama Leigie itu pancarkan tanpa sadar. Setelah aku mendapatkan kesadaran diriku sendiri, dan bahkan hasratku sendiri.

Bahkan setelah melihatku mulai bergerak tanpa perintahnya, Leigie tidak bicara apapun.

Alasan keberadaanku, alasan kelahiranku adalah sesuatu yang tak mampu kupahami.

Itu bahkan bukan kehendak sang Penguasa Iblis. Tujuannya hanyalah untuk menggunakan kekuatannya, dan dia bahkan tidak memiliki ketertarikan sedikit pun terhadap hasilnya.

Aku memandang tuanku.

Melegakan kehendak Slothnya,

Melihat ke arah legiun menyedihkan dari sang Penguasa Iblis yang tidak memiliki satu pengikut pun.

Yang bahkan tidak memakan makanan, dan hanya mondar – mandir di antara kursi jorok yang dia ambil di suatu tempat dengan begitu saja dan sebuah ranjang lembap. Aku melihat sosok tuanku.

Meski begitu, segala macam Pahlawan, Pertapa, Iblis, Malaikat, dan bahkan Penguasa Iblis tidak memicu ketertarikannya saat mereka datang mencarinya. Melihat gaya hidupnya…

“… Hm… jadi inilah bagaimana seorang 『Penguasa』 seharusnya…”

Bahkan sekarang, aku bisa mengingatnya dengan jelas.

Itu adalah, itu adalah kata – kata pertama yang kusuarakan.

Betapa tak berguna. Betapa tak berarti.

Tanpa tujuan apapun, hidup panjang ketiadaannya terbangun dengan sendirinya, dan berubah menjadi kekuatan yang luar biasa.

Betapa tak sedap dipandang, betapa tak tertahankan.

Itulah Dambaan yang kukuasai.

Demikianlah, aku memperoleh Dosa Asal 『Superbia』.

Sosok penciptaku yang tercela dan sosok penantang yang jumlahnya terus bertambah yang telah menerima kekalahan di tangannya, telah lama melampaui lelucon manapun.

Dan pada saat bersamaan, aku memendam rasa iri yang luar biasa.

Kekuatan luar biasa besarnya yang tumbuh bersama dengan jalannya waktu bahkan tidak pernah dipoles dengan bentuk latihan apa pun, tapi benih – benih lain… Penguasa Iblis lain tersingkir begitu saja dengan kekuatan yang luar biasa.

Kekuatan itu hanya pantas untuk penciptaku, dan secara bersamaan, jika aku mampu meng『Overrule』nya, aku bertanya – tanya apakah aku akan benar – benar menjadi eksistensi tertinggi, yang mampu berdiri di atas tidak hanya orang, tapi segala yang ada.

Itulah apa yang kupikirkan.

Itulah apa yang tak bisa kuhindari untuk kupikirkan.

Tidak ada peringkat di antara kekuatan.

Tapi bahkan di dalam kepalaku yang biasanya stagnan, aku merasakannya. Kekuatannya lebih tinggi dan lebih mulia dibandingkan segalanya.

Pada laju aku berjalan, aku tahu aku tidak akan pernah melampauinya.

Aku mendapat nyawa sebagai Iblis. Telah menghabiskan waktu hidup lebih lama dari yang bahkan aku bisa bayangkan, makhluk yang mencapai tingkat Penguasa Iblis adalah, tanpa mempertimbangkan gaya hidup, terlalu kuat.

Aku bisa meng『Overrule』. Sikap – sikap jorok itu, watak, dan jalan yang tidak pantas untuk seorang penguasa agung, mudah untuk menganggap mereka lebih rendah dariku.

Tapi aku tidak bisa menang. Ini bukan pada tingkat di mana afinitas bagus atau apapun berpengaruh, tapi sebuah celah pada kehidupan, pengalaman, bahkan eksistensi.

Meng-Overrule bisa meningkatkan kemampuan bertarung, dan memunculkan kekuatan yang cukup untuk membalikkan celah di antara Tingkatan Iblis 『Jendral』 dan 『Penguasa』. Itu adalah skill yang superior, tapi bahkan itu tidaklah cukup.

Aku paham secara naluriah. Celah yang tak bisa diatasi ini terlalu besar, aku tidak bisa menghindari memahaminya secara naluriah.

… Belum.

Bahkan sambil melihatku memandang rendah padanya, sang Penguasa Sloth tidak mengatakan apapun. Selalu diam.

“… Hm. Tapi jika tuanku seperti ini, maka orang akan mulai melihatku sama dengannya.”

“… Oh gitu.”

Si Raja Pemalas mengeluarkan suara bosan dari balik selimut. Dia tidak menunjukkan variasi nada dari emosinya.

Matanya melihat ke arahku, tapi bahkan sekarang, dia tidak memiliki sedikit pun keinginan.

Aku menyatakan. Ini semua demi kepentinganku sendiri.

Itu juga seperti sebuah sumpah. Demi mengukir eksistensiku ke dunia.

“Pada nama dan hakekatnya, aku akan membuat Ayah menjadi sang Penguasa Iblis Agung.”

“… Gak mau.”

“… Hm, aku akan menjadikanmu satu, Raja Pemalas. Dari segala lainnya, untuk… kepentinganku.”

“… Oh gitu.”

Lakukan saja apa yang kau inginkan.

Tanpa mengeluarkan suaranya, si Raja Pemalas menggumamkan kata – kata itu, sebelum dia tenggelam dalam selimutnya dengan gerakan lamban.

Aku selalu mengamati. Sejak dulu saat aku tidak memiliki kesadaran yang cukup.

Itu adalah reaksi nyatanya.

Tapi biarlah.

… Sebagai permulaan, mari taklukkan wilayah ini.

Aku menundukkan semua Iblis bodoh yang menghakimi, merendahkan, dan mengabaikan Tuanku sebagai sesuatu yang tak berbahaya, semua untuk membuat wilayah yang luas ini menjadi mausoleum tuanku yang mahamulia.

Dan pada saat aku telah meng-Overrule segalanya, mungkin aku akan menjadi sebuah eksistensi yang melampaui bahkan para Penguasa Iblis neraka ini.

Part 2: Setidaknya Tetaplah Agung

Dunia Iblis.

Di mana yang kuat lebih dihormati dari apapun, Iblis bekerja untuk memenuhi hasratnya, dan para Penguasa bertarung memperebutkan dan mencuri sumber daya yang terbatas.

Tanpa debat, semuanya tak berharga.

Greed

Lust

Wrath

Gluttony

Envy

Pride

Dan… Sloth.

Aku hanya memiliki satu tujuan.

Sembari berlatih, meng-Overrule dan berusaha, aku memahaminya dengan jelas.

Wilayah bertambah. Sihir yang kukenakan bertambah. Tree Prideku melaju.

Seperti memotong rumput, sebuah tugas yang sederhana.

Para Iblis tentu saja, juga para Assassin Surgawi, dan terkadang para pejuang bodoh yang datang dari dunia luar untuk menaklukkan seorang Penguasa Iblis.

Segalanya tunduk padaku. Pada kekuatanku. Dan pada kekuatan tuanku.

Kemampuan dasarku sudah tinggi dari awalnya.

Mustahil seseorang yang diciptakan oleh Penguasa Sloth, yang pada dasarnya hanyalah seonggok kekuatan, bisa lemah.

Dan aku berlatih terus menerus.

Aku menempa kekuatanku sendiri. Kekuatan fisik, sihir, kebijaksanaan, kepemimpinan. Untuk menghilangkan kesempatan satu dalam sejuta di mana aku akan merasakan kekalahan karena beberapa alasan konyol.

Itu adalah tujuan pertamaku, dan faktor utama yang meningkatkan kekuatanku dengan Pride pada dasarnya.

Hasrat Penguasa lain adalah rapuh saat dibandingkan dengan Sloth milik tuanku.

Seperti panah yang melayang, waktu berlalu.

Pada akhirnya, sebuah kastil berhasil dibangun.

Di sekitar rumah yang terlalu kecil untuk disebut rumah di mana Tuanku dulu tinggal, benteng membentang bermil – mil jauhnya.

Menara yang dibangun di tengahnya menembus bahkan sampai ke surga.

Dinamai Kastil Bayangan, kamar tidur sang Penguasa Sloth membanggakan lebar yang luar biasa dan kemegahan yang jauh melampaui kastil segala jenis Penguasa Iblis.

Kastil Tuanku. Aku tidak puas. Jika dia adalah orang yang akan berdiri di atasku bahkan walau hanya sementara, sebuah kastil setingkat ini belumlah cukup.

Para Iblis berkumpul.

Para Iblis yang tunduk, para Iblis yang kupaksa tunduk.

Aku memimpin rakyat jelata yang tak berguna ini, dan membariskan sebuah pasukan dalam keteraturan. Para tentara agung yang akan melampaui pasukan Penguasa Iblis manapun.

Sembari berjalannya waktu, mereka menjadi terkenal.

Legiun Terkuat milik Leigie dari Sloth.

Bahkan jika aku tidak memaksa mereka untuk tunduk secara pribadi, Iblis – Iblis bodoh yang merendahkan kepala mereka sendiri pada kami berkumpul.

Jumlah mereka bertambah, dan pasukannya berkembang. Brigade Pertama, Brigade Kedua, Brigade Ketiga.

Tapi tak peduli Iblis macam apa yang datang, tidak ada dari mereka yang bahkan mampu mencapai kakiku.

Lemah. Jauh terlalu lemah.

Bahkan tanpa aku meng『Overrule』 mereka, mereka telah meng-Overrule diri mereka sendiri, dan mereka semua terlalu lemah untuk berkumpul menjadi lawan bagiku.

Tak kalah dan mutlak.

Aku tidak pernah kalah, dan demikian, tuanku juga belum pernah menerima kekalahan.

Semakin banyak yang kukalahkan, semakin tinggi aku melambung, semakin banyak tahun yang berlalu, semakin kuat kekuatanku menjadi.

Kekuatan seorang Iblis Pride berbanding lurus dengan pengalaman bertarung mereka.

Kekuatan adalah bukti telah mengalahkan. Pada mereka yang pernah kau kalahkan sekali, kau tidak akan pernah kalah lagi.

Semakin kau belajar, semakin kau paham, semakin jauh kelihatannya kekalahan.

Semakin banyak tahun berlalu, semakin jauh jadinya kekalahan. Tidak peduli seberapa banyak hasrat yang mereka timbun, aku belum pernah jatuh begitu rendah untuk kalah pada Iblis muda manapun. Aku mengakumulasi kepercayaan diri mutlak pada diriku sendiri.

… Tapi secara bersamaan, itu berarti aku memberi waktu pada sang Penguasa Sloth.

Pada akhirnya, sang Raja Iblis Agung datang, meminta kami menyerah.

Tidak seperti celah yang jelas antara Iblis dan Penguasa Iblis, sang Raja Iblis Agung hanyalah sekedar titel yang diberikan kepada Penguasa Iblis yang memiliki wilayah terbesar.

Tapi fakta bahwa mereka memimpin kekuatan yang besar dalam Dunia Iblis ini berarti mereka memiliki hasrat sampai ke tingkat yang hebat.

Aku menemuinya. Tuanku tidak perlu keluar.

Dosa yang Raja ini kuasai adalah Pride. Seorang Iblis seperti aku dengan Overruling sebagai fondasinya. Dan secara bersamaan, tujuannya adalah menaklukkan Dunia Iblis. Menaruh Dunia Iblis yang sedang berperang dalam keteraturan, dan memimpinnya, dia akan menaklukkan dunia di atas, dan bahkan Surga. Seorang pria dengan ambisi yang besar yang tak pantas untuk tingkat kekuatannya.

Setelah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku menyimpulkan. Dia bukan siapa – siapa.

Pada saat aku menemuinya, aku meng『Overrule』 Raja itu. Artinya dia bukanlah tandingan untuk Leigie dari Sloth.

Kelihatannya sudah lama sejak pertama dia ada; tapi Raja itu bodoh, dan dia bahkan tidak mencapai levelku. Pada akhirnya, dia hanyalah seorang Penguasa Iblis yang sedikit kompeten.

Jika aku membuatnya tunduk, akankah posisi Tuanku meningkat?

Itu adalah sebuah gagasan yang tak berguna. Untuk seorang Penguasa Iblis setingkat ini, bahkan tidak ada gunanya membantainya.

Sebagai seorang Penguasa Iblis Pride, jika aku membuatnya tunduk, tingkat kekuatannya akan menurun. Bahkan tidak ada gunanya menariknya ke dalam pasukan…

Keadaan kebejatan Tuanku hanya bertambah dalam saja.

Otoritasnya tidak tumbuh sama sekali, tapi kekuatannya terus tumbuh, dan sosok itu benar – benar pantas bagi seorang Penguasa segala Iblis.

Aku menanyakan padanya berbagai Pertanyaan.

Dia selalu membalas dengan balasan biasanya.

Tidak peduli berapa tahun berlalu, balasannya tak pernah berubah dari satu kata itu.

Sang Raja Iblis Agung memohon pertemuan dengan Tuanku.

Dan setelah mereka bertemu, dia kehilangan kekuatan, dan tahta sang Raja Iblis bergeser.

Celahnya terlalu besar antara dia dan sesama Penguasa Iblis. Keinginan dari makhluk besar yang tergeletak begitu saja seperti batu tak bisa dipahami oleh mereka di sekitarnya.

Sang Raja Iblis Agung berganti. Itu berganti dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya, Dunia Iblis tidak pernah menunjukkan tanda – tanda bersatu.

Penguasa Iblis terlahir, dan Penguasa Iblis tewas.

Nama – nama Pahlawan yang terkenal berganti, sembari mereka terus mencoba untuk menginvasi Dunia Iblis.

Sebuah invasi besar – besaran dilancarkan oleh Surga. Sebagian besar Iblis tewas.

… Tapi Kastil Bayangan terus tertidur.

Tuanku terus hidup dalam tidur panjangnya. Tak pernah bergerak, dan dengan itu, kekuatannya terus bertumbuh. Ke tingkat yang tidak ada Iblis atau Penguasa Iblis akan pernah capai.

Secara bersamaan, dia yang terlahir darinya, kekuatanku terus meningkat. Tanpa aku mampu memenuhi hasrat Prideku yang telah lama kudambakan.

Sang Penguasa Sloth yang tak bisa digores sedikit pun.

Boneka yang terlahir dari skillnya tak tertandingi.

Dengan berlalunya bulan – bulan dan tahun – tahun, boneka – boneka yang dia buat untuk mengisi waktu tersebar di seluruh Dunia Iblis. Tanpa mengetahui nama tuannya, Boneka – Boneka itu bergerak begitu saja menyeberangi berbagai medan perang asing.

Leigie si Bejat akhirnya dikenal sebagai Leigie dari para 『Slaughterdolls』.

Dari kepantasan tubuh aslinya.

Sebuah klan Iblis yang melayani Tuanku muncul. Aku tidak bisa memahami mereka. Tapi biarlah.

Bagi tuanku, memiliki sebuah klan seperti itu tidaklah buruk. Tidak, sudah sewajarnya ada satu.

Inspektur dari Orde Hitam mulai diutus.

Biarlah. Amati Tuanku sesuka hatimu. Pada akhirnya, orang – orang dengan kekuatan level rendahan seperti kalian tidak akan bisa menggores Leigie si Bejat.

Bawahan – bawahan mati. Mereka mati satu demi satu, dan personel – personel kami terus bergeser.

Karena sedikit kelalaian, pria yang tadinya tangan kananku tewas. Seorang yang bodoh. Tidak boleh ada kelalaian di medan perang.

Bahkan tanpa usia lanjut, ada banyak korban jiwa di antara para Iblis dengan naluri alamiah untuk bertarung.

Para Penguasa Iblis yang terkenal akan kekuatan mereka dihabisi oleh Penguasa Iblis lain, dan yang lemah memanjat naik menjadi Penguasa.

Segala yang makmur harus runtuh.

Musuh dan rekan, satu demi satu, wajah – wajah mulai berganti. Informasi tentang berbagai Iblis dan Penguasa membanjiri perpustakaan, dan perpustakaan kedua dan ketiga dibangun.

Sebagian besar dari mereka telah ku-Overrule sejak lama, dokumen – dokumen tak berguna.

Sekali dalam setahun, simbol yang diukir di dinding mengisi ruangan, dan menutupi lorong.

Aku merasakan rasanya menjadi sebuah batu.

Semua yang tak berubah adalah eksistensi Tuanku, dan bulan biru pucat Dunia Iblis.

Meski tetap saja, aku bukan tandingannya. Aku tak bisa melihat ujungnya.

Aku memilih Iblis – Iblis Sloth, dan melancarkan serangan – serangan.

Kebanyakan dari mereka adalah Iblis biasa. Mereka tak pantas dibicarakan. Mereka tidak menggunakan skill apapun yang pantas dicatat.

Tak peduli berapa dekade, abad, milenia berlalu, Penguasa Iblis Sloth lain tidak muncul.

Apakah mereka beristirahat di suatu tempat di bawah bumi seperti Leigie si Bejat dulu?

Atau mungkinkah Iblis Sloth sekedar tidak bisa mencapai status Penguasa Iblis?

Itu tetap tidak diketahui.

Timbunan tubuh, aliran darah.

Menjadi merepotkan untuk menghitung jumlah mayat Iblis yang telah kutimbun, tapi kesan yang kurasakan saat aku pertama melihat Leigie dari Sloth tidak pernah pudar, tidak peduli berapa keabadian berlalu.

Inferioritas. Itulah musuh terbesar Iblis 『Superbia』.

Bahkan lebih banyak bulan berlalu.

Informasi terkumpul. Aku memoles diriku. Aku menghalau benih – benih musuh.

Saat aku menyadarinya, ada banyak mangsa di luar sana, tapi tidak ada yang menjadi tandinganku.

Selama tidak ada orang untuk ku-Overrule, kekuatan Pride tidak akan berkembang. Pride tanpa fondasinya mendekati tak berharga.

Aku telah mencapai puncak. Aku menguasai skill – skillku, mendorong tubuhku ke batasnya, dan mengasah sihirku, tapi Tree Prideku berhenti satu langkah sebelum mencapai level Penguasa Iblis.

Dinding terakhir dan terbesarku. Dinding yang dikenal sebagai Leigie.

… Tapi itu berakhir hari ini.

Pemberesan Medea bahkan tidak menjadi pemanasan, apalagi gladi bersih.

Pada akhirnya, dia hanyalah seorang Invidia, yang tidak bisa apa – apa selain meniru orang lain.

Mencoba mengimitasi skill Tuanku adalah murni kebodohan. Untuk sebuah Skill Sloth dengan kekuatan ofensif rendah, itu memiliki kekuatan yang hampir tidak ada saat seorang Iblis Greed atau Envy mengambil dan menggunakannya.

Aku menghela nafas. Jiwa dan peralatanku telah ditingkatkan ke kelas tertinggi. Bahkan pengalaman bertarung dari sudut – sudut pikiranku pasti telah terakumulasi di tempat yang tak kuketahui.

Aku membuka pintu.

Karena sering dibakar hangus oleh bawahan gadis Kanon itu, kamar yang sering berganti ini telah diperbarui. Kamar ini mengeluarkan bau cabul yang samar.

Sementara aku tahu dari sebelumnya, sementara dia seharusnya sudah merasakan kehadiranku, Ayah tidak mengeluarkan sepatah kata pun, atau bergerak satu inchi pun.

Dia tertidur pulas seakan dia sudah mati.

Kau memang sudah jatuh… Leigie si Bejat.

Kau menggunakan sebuah skill hanya untuk menolong seorang pelayan rendahan.

Selain pergi bertarung sendiri, kau mendapatkan goresan dari orang semacam Zebul.

Terlebih lagi, kau membiarkan dirimu dicabuli.

Perbuatanmu akhir – akhir ini jauh terlalu malang bagi Tuanku.

… Tidak, mungkin waktumu sudah hampir tiba.

Sudah benar – benar lama. Lamanya benar – benar konyol.

Dan Ayah seharusnya memiliki pengalaman hidup yang lebih lama. Bahkan jika aku menimbun segala pengalamanku, aku tidak bisa memprediksinya.

Saat ini, ada berapa di luar sana yang mengenal Dunia Iblis yang sama denganmu?

Sihir yang kurasakan dari tubuhnya luar biasa besar.

Bahkan jika kau mengumpulkan semua Penguasa Iblis biasa, mereka tidak akan menjadi tandingannya. Tapi aku tahu pasti.

… Leigie si Bejat sedang melemah.

Sebuah pemandangan langka dalam ribuan, puluhan ribu tahun yang kuhabiskan bersamanya.

Dia menentang 『Acedia』 yang dia kuasai.

Segalanya… seperti dugaanku.

Semakin lama waktu yang seorang 『Sloth』 habiskan bermalas – malsan, semakin kuat mereka. Sebaliknya, semakin banyak mereka memutuskan untuk bergerak atas keinginan mereka sendiri, semakin banyak kekuatan mereka akan melemah.

Aku berdiri di samping ranjang. Pada wajah tuanku, dengan matanya yang tertutup seakan dia sudah mati, aku tidak melihat apapun selain ketiadaan.

Aku mengangkat tangan lemasnya. Pada jarinya yang bertulang di mana aku bahkan tidak bisa merasakan L dari Latihan, kulit putih transparan layaknya mayatnya memiliki pembuluh darah biru muda disekujurnya.

“Ayah… sudah bertahun – tahun, bukan.”

“…”

Leigie tidak memberi balasan. Tapi aku tahu.

Ayah tidak tidur sekarang. Bagi sang Penguasa Sloth, apakah dia terjaga atau tertidur, segalanya tak lain hanyalah mimpi yang fana.

Demikianlah, aku meneruskan.

Itu benar – benar percakapan kami yang pertama sejak lama.

Kau telah jatuh, dengan cara yang pantas untuk kusebut sesuatu yang mengecewakan. Leigie-sama kemungkinan tidak memiliki ketertarikan dalam alasannya, sih.

Pertama – tama, ini adalah sesuatu yang tak terhindarkan sejak aku terlahir di sini, dulu, dulu kala.

Ayah adalah seorang yang tajam. Sementara ia menguasai Sloth, dia juga memiliki bagian – bagian dalam dirinya selain itu.

Itu adalah perbedaan jelas antara dia dengan Iblis Sloth lain, dan itu kemungkinan adalah alasan Leigie dari Sloth mampu hidup terus menerus.

Aku memiliki banyak yang ingin kukatakan, tapi aku tidak memerlukan kata – kata.

Tentang bagaimana aku menambah pengikutnya, dan membuatnya kekuatan terhebat dalam pasukan sang Penguasa Iblis Agung.

Tentang bagaimana dia menggagalkan rencana pembunuhan yang tak terhitung berapa kali dari Surga, dan membuat para assassin itu jatuh menjadi Iblis.

Tentang bagaimana sambil tertidur, dia menghalau serbuan yang dilancarkan lusinan Pahlawan Manusia.

Tentang bagaimana putri mantan sang Raja Iblis Agung, si gadis kecil yang bahkan tidak memendam hasrat apapun, Kanon, naik tahta menjadi sang Raja Iblis Agung.

Tentang bagaimana aku mengumpulkan puluhan ribu kematian, dan terpisah dari aliran waktu.

Tentang bagaimana tidak ada seorang Penguasa Iblis dari saat aku diciptakan masih hidup.

Tentang bagaimana teman, rekan, dan musuh mati, dan yang baru terlahir, hanya untuk mati juga.

Tanpa emosi, dan tanpa peduli dengan jalannya waktu, ayah adalah seorang Raja Bejat yang sempurna dari dasarnya.

Dan telah lahir dari sang Penguasa Iblis Agung, aku hanya bisa menjadi Penguasa Iblis terkuat.

Di samping ayah, aku berlutut, dan menundukkan kepalaku.

Ini adalah keputusan. Hari ini, aku akan menjadi seorang Penguasa Iblis, dan tak akan pernah merasakan kekalahan untuk sisa hidupku. Tidak, bahkan jika aku dikalahkan…

… Berlutut tidak diperlukan.

Tapi ini adalah satu – satunya kompenasi yang bisa kuberikan pada ayah sebagai Kaisar Angkuh, Heard Lauder.

“Kau telah cukup berjasa. Biarkan aku mengakhirinya. Meski mungkin terdengar arogan, aku akan mengantarkanmu ke akhirmu secara pribadi.”

“… Gitu.”

… Jadi setidaknya tetaplah Agung sampai kau jatuh, Leigie si Bejat.

Part 3: Betapa Pas untuk Curtain Call[1]

Skill – skill Sloth membanggakan kekuatan dengan ruang lingkup yang luas.

Tapi di saat yang sama, juga dikatakan bahwa sangatlah sulit untuk mendapatkan dosa Sloth.

Pertama – tama, selama mereka bisa memenuhi Dosa mereka tanpa bertarung, skill – skill yang mereka peroleh hampir tidak akan pernah sesuai untuk bertarung.

Aku mengisi tubuhku dengan kekuatan. Fakta bahwa Leigie telah menghancurkan sang Raja Gluttony dengan mudah hanya semakin meningkatkan kekuatanku.

Kaki yang menyokong ranjang besar berkanopi itu patah.

Pada saat ranjang itu goyah karena kehilangan keseimbangan, aku mengeluarkan sebuah teriakan yang menyayat seraya menusuk maju.

Tinjuku mendarat di kepala Leigie dengan mudahnya. Suara retakan sesuatu yang sedang patah terdengar.

Benturan itu membuat pilar – pilar yang menyokong kanopi ranjang melayang, dan tubuh Leigie terhempas layaknya secarik kertas.

Suara menggelegar.

Seluruh bangunan berguncang hebat. Seakan Kastil Bayangan sedang menjerit.

Kekuatan ekstra pelindung anti-Lize hancur dengan mudah, dan bahkan dinding itu sendiri hancur. Terlebih lagi, bukan hanya satu atau dua dinding.Dalam lubang yang menganga, aku melihat kegelapan yang tak terhalang. Di sekitar kamar Leigie, tidak ada ruang piribadi lain.

Aku memainkan sisa – sisa ranjang dengan kakiku.

Kondisiku sempurna. Tidak ada yang menghalangiku dari memenuhi Pride-ku. Kekuatan yang membengkak di sekujur tubuhku adalah kompilasi seluruh penelitianku sendiri, juga sejarah yang kuhabiskan bersama Tuanku yang terkumpul.

Aku mengambil nafas dalam, dan menghembuskannya.

Aku tidak boleh memberi Sloth watku.

Aku menjejak lantai. Kecepatanku mencapai klimaksnya dalam sekejap.

Kecepatan yang lebih cepat dari siapa pun juga.

Kekuatan yang lebih kuat dari siapa pun juga.

… Demi terbang lebih tinggi dari siapa pun juga.

Demikianlah Dosa Asal Superbia.

Senjata tidaklah diperlukan. Tubuhku sendiri adalah kesempurnaan.

Gambar – gambar mengalir melalui penglihatanku dalam kecepatan suara.

Butuh tidak sampai sedetik bagiku untuk mencapai Leigie yang tergeletak di lantai yang jauh.

Dengan momentumku, aku menendang kepalanya. Tidak ada perlawanan. Dia menghindar. Tidak, dia menghilang.

Skill Teleportasi yang dimiliki oleh Sloth. Sebuah skill yang membuatnya mampu memindahkan dirinya sendiri kemanapun dalam wilayahnya sendiri.

Keberadaannya di belakangku. Sebelum aku bahkan merasakannya, tubuhku bergerak.

Sebuah tendangan atas yang membawa seluruh momentumku maju. Ujung kakiku bertumbukan dengan kepala Leigie.

Aku paham. Pikiranku paham. Berapa tahun, milenium, megaannum. Sebagai hasil pelayananku kepadanya, membaca pergerakan Raja Pemalas yang tak dapat dipahami sudah menjadi mungkin buatku.

Teori yang tak bisa dibaca dibalik tindakannya hanya diketahui olehku.

Kekuatan fisikku menghancurkan langit – langit, dan sebuah lubang besar terbuka. Puing – puing sebesar kepalaku mulai berjatuhan.

Tubuhku menjadi berat. Ini adalah sebuah skill untuk mengubah Dambaan seorang Iblis menjadi berat, dan mengikatnya. Sebuah Skill Sloth.

Aku sudah tahu itu. Aku mengaktifkan 『Overrule』, dan menjebolnya tanpa ada masalah.

Apa yang mengerikan adalah kekukuhannya, daya tahannya.

Aku seharusnya telah memberi kerusakan yang cukup sehingga tidak aneh jika seorang Penguasa Iblis biasa terbunuh karenanya, tapi VITnya yang membuatnya bisa mengaktifkan sebuah skill tanpa masalah adalah ciri khas Sloth.

Maka aku hanya harus memukulnya dengan kekuatan yang bahkan lebih besar lagi secara langsung.

“… Sakit…”

Sebuah suara pelan keluar dari lubang yang terbuka.

Aku memusatkan kekuatanku.

Terlibat dalam pertempuran jarak jauh dengannya adalah hal bodoh. Aku menusuk tanah dengan kakiku, dan memusatkan kekuatan di intiku.

“Aku datang.”

Dengan lompatanku, pelindungnya hancur, dan lantai runtuh di bawahku.

Aku memuati tubuhku dengan kekuatan ledak, dan meloncat melalui lubang di langit – langit.

Apa yang memasuki mataku adalah sosok Leigie yang terkubur dalam sebuah gunung puing – puing. Dia mengeluarkan air mata, seraya memegangi kepalanya. Cederanya telah pulih.

Melihatku mendekat dalam sekejap, dia menunjukkan raut wajah terkejut. Seperti biasanya, nafsu membunuh, rasa haus darah, atau apapun yang bisa disebut semangat bertarung benar – benar tidak ada padanya.

“HaaAAAAAAAH!”

“Ku…”

Teriak. Raung.

Menggunakan seluruh kekuatan dalam tubuhku, aku melancarkan sebuah serangan.

Raut wajah Leigie berubah untuk pertama kalinya. Secara bersamaan, sebuah dinding yang tak terlihat muncul di sekitar tubuhnya.

Sebuah Skill Sloth untuk mendirikan sebuah pelindung yang meningkatkan pertahanan.

Tak berguna. Aku sudah tahu yang satu itu.

Saat tinjuku mengenainya, tanpa perlawanan, pelindung itu pecah layaknya kaca.

Selama aku telah meng-Overrule-nya sebelumnya, menggunakan sebuah pelindung adalah puncak kebodohan.

Jantungku mensirkulasi panas di sekujur tubuhku.

Sebelum tinjuku mampu menyentuh dagu Leigie, sosoknya lenyap.

Betapa merepotkannya Skill ini. Tapi seorang Sloth yang bergerak adalah sebuah kontradiksi.

Penggunaannya adalah salah satu faktor yang membuat Slothnya melemah.

“… Apa aku melakukan sesuatu padamu?”

Tidak perlu bertanya. Mustahil percakapan kita akan nyambung.

Aku mengayunkan tanganku naik pada suara yang datang dari sisiku.

Leigie menggunakan tangannya untuk bertahan.

Aku mendengar tulang – tulangnya berdecit.

Di antara Skill – skill Sloth, ada satu skill untuk mematikan reaksi mereka terhadap rasa sakit yang sudah lambat sejak awal. Raut wajah Leigie tidak terlihat tersakiti lagi.

Dan bahkan jika aku memang melukainya, dengan daya tahan Leigie-sama, dia akan memulihkannya dalam sekejap.

“Ayah, tolong istirahat saja sudah.”

“… Yeah.”

Dengan mata yang mengatakan, ‘Apa – apaan yang dibicarakan pria ini,’ dia mengangguk.

Dia tidak mendengarkan. Kita tidak bisa berkomunikasi.

Dengan pijakan yang tidak stabil ini, menendang akan sulit. Pada tinjuku yang terkepal, aku menggunakan sebuah Skill penguat tubuh sebelum melayangkannya.

Leigie menyiapkan lengannya untuk menerimanya.

Tidak ada teori bertarung di balik Leigie dari Sloth. Kesederhanaan teknik serangannya menggelikan.

Itu adalah… penekanan dengan kekuatan murni.

Kekuatan yang cukup kuat untuk merobek seorang Penguasa Iblis biasa… sebuah onggokan Jiwa.

Di dalamnya, teknik biasa tidak ada artinya, dan dia tidak berpikiran untuk menggunakan teknik – teknik semacam itu.

Dengan setiap pukulan, lengan Leigie mengeluarkan bunyi yang mengerikan.

Aku mendesaknya mundur.

Tapi tidak ada derita di wajahnya, dan meski aku bisa memaksanya menggunakan kekuatan dengan pukulan selevel ini, ini tidaklah cukup untuk melancarkan pukulan yang menentukan.

Dia terlalu keras. Tapi aku sudah tahu itu sejak awal.

Fakta bahwa aku mendesak sang Penguasa Sloth mundur membantuku memeperkuat 『Overrule』ku lebih jauh lagi. Kekuatan mengalir naik dari kedalaman tubuhku.

Dan akhirnya, tendanganku menjebol pertahanannya, dan Leigie terhempas melalui lapisan terakhir langit – langit.

Langit merah darah, dan struktur hitam Kastil Bayangan… benteng membentang sejauh pandanganku.

Sekali sehari, aku meluangkan waktu untuk mengawasi dari puncak menara. Kita tidak berada setinggi menara sekarang, tapi pemandangan dari atas sini bukanlah sesuatu untuk ditertawakan.

Aku selalu merasakan kepasrahan pada fakta bahwa pemandangan ini akan runtuh suatu hari nanti.

Para prajurit yang sedang berjaga buru – buru datang berlarian kepadaku setelah mendapati langit – langit jebol.

“A-apa yang tejradi, Heard-sama?”

“Tidak perlu bagi kalian untuk mencemaskannya. Kembali ke pos kalian.”

“Y-ya. Siap, jelas pak!”

Semuanya hanya obrolan kecil semata.

Aku mengawasi benteng tanpa tergesa – gesa, sembari mendekat ke arah Leigie yang sedang jatuh.

“Ayah, tidakkah kau pikir ini begitu indah?”

“… Yeah.”

Tanpa bahkan melirik sekelilingnya, alasan di balik jawaban – jawabannya adalah sesuatu yang tak akan pernah kupahami.

Jadi ini hanyalah kepuasan diri.

Mata curiganya, pupil keruh hitamnya menatap naik ke arahku.

Mata tanpa ekspresi. Mata seekor ikan mati.

Aku mengeraskan telapak tanganku untuk membuat bentuk pisau dengannya.

“Selanjutnya, aku akan memotong.”

“… Aku menyerah.”

“……”

Semua ini adalah sesuatu yang terlalu sering kulihat.

Kelakuan itu, dibodohi oleh sikap lemahnya, lusinan Penguasa Iblis telah tumbang.

Tapi untukku, Aku, putranya, adalah satu – satunya yang paham. Pria ini benar – benar mampu entah bagaimana melalui kesulitan saat dibutuhkan.

Dia tidak membutuhkan semangat bertarung atau nafsu membunuh. Hanya agar dia bisa bermalas – malasan lagi, Leigie menggunakan kekuatannya.

Maka dari itu, dia belum kabur. Meskipun dia bisa saja melompat jauh dengan teleportasinya sekarang.

… Itu karena dia pikir lari dariku tidak ada artinya.

Biarlah.

Demikianlah apa yang menandainya sebagai sang Penguasa Sloth.

Dia tak ingin bertarung, tapi aku merepotkan, jadi dia akan mencoba untuk meremukkanku.

Tujuan busuknya yang mengalahkan Semangat Bertarung kebanyakan Iblis adalah bukti hasratnya.

Perbedaan antara dia dengan apa yang sebagian besar orang pikirkan tentang Sloth adalah apa yang telah membuat banyak Iblis, Penguasa Iblis tumbang. Aku selalu memperhatikan aspek itu darinya dengan sangat teliti.

Bahkan saat ini, kekuatan Leigie sedang menurun perlahan. Dia telah mengumpulkan cadangan yang luar biasa besar, sehingga sulit untuk disadari, tapi meskipun kekuatannya terlihat hampir tak terbatas, kekuatannya sama sekali tidak tidak terbatas.

Jika aku mundur di titik ini, dan menantangnya lagi setelah kondisiku sempurna sekali lagi, aku berani taruhan aku akan mampu mendapat keunggulan yang bahkan lebih besar lagi terhadapnya.

Tapi pilihan itu mustahil. Pergi untuk mendapat keunggulan?

Mengapa aku harus mundur untuk alasan remeh seperti itu!?

“… Hm, kau tidak perlu menawariku pelayanan itu. Mustahil aku akan kalah bagaimanapun juga.”

“… Yeah, kaulah yang terkuat.”

Matahari Dunia Iblis yang berapi – api menyinari kami dengan cahaya merah darahnya.

Itu adalah pemandangan yang sudah ada sejak saat aku diciptakan, dan secara bersamaan, itu adalah adegan yang Leigie telah pandang jauh sebelum itu.

Leigie bicara dengan suara kepayahan.

Secara bersamaan, gumpalan kekuatan menimpaku dari langit.

『Sky Right Hand』 dan 『Sky Left Hand』.

Sebuah kekuatan telekinesis yang bekerja berdampingan dengan lengannya. Itu adalah skill tak berguna yang digunakan untuk mengambil benda tanpa harus bergerak, tapi daya ledaknya adalah suatu ancaman saat mereka mencoba untuk meremukkanku.

Tapi gumpalan kekuatan itu terurai. Aku telah meng-『Overrule』 skill itu sejak lama. Persiapanku sempurna.

Leigie mengernyit secara terang – terangan.

“… Ini merepotkan.”

“… Hm, kupikir kau terlalu main – main dengan hidupmu, Ayah.”

Sepertinya dalam hidupnya yang tak terukur panjangnya, ini adalah salah satu kali pertama dia mendapati salah satu Skillnya ditiadakan.

Aku sebaliknya. Karena 『Superbia』 adalah urusan kesombongan, aku sudah tahu kebanyakan skill. Musuh yang kulawan sering mencoba membuat rencana untuk melawanku, tapi aku mampu menghancurkan mereka semua secara langsung.

Ayah telah menghidupi kehidupan begitu saja tanpa tujuan. Kebenaran yang begitu tak berguna.

Hanya dalam satu langkah, aku membuat kontak dengannya. Aku menginjak kepalanya. Ada perlawan. Ada, tapi dia masih belum remuk.

Aku menempelkan tanganku ke bahunya.

Rasanya tumpul, seakan aku sedang memotong logam. Tingkat kekerasannya membuat telapak tangankulah yang retak kali ini.

Sebuah sensasi yang basah dan dingin. Leigie menatapku dengan mata tanpa makna, dan melihat bahunya, dia mengeluarkan jeritan pendek.

Berhasil. Aku mampu menembus pertahanannya.

Aku mengangkat tanganku dari lubang di bahunya, dan mengibaskan darah di tanganku sebelum memulai rentetan serangan beruntun.

Leigie menghilang, tapi jiwaku yang ditempa melalui pertarungan membuatku merasakan lokasinya selanjutnya dalam sekejap.

Sepuluh meter di belakang. Itu adalah jarak yang bisa kutempuh dalam sekejap mata.

Sambil berbalik, aku menerjang dengan tangan pedangku.

Tanganku menembus lengan siap Leigie, dan darah segar beterbangan.

Lamban, Terlalu lamban.

Dia mungkin bisa mengikutiku dengan matanya. Tapi tubuhnya yang jarang ia gerakkan tak mampu menghindar.

Selama dia tidak menggunakan teleportasi dengan harga energi yang tinggi itu.

Aku meniadakan 『Sky Hand』 yang dia kirim tepat kepadaku.

Untuk masih mencoba menggunakannya setelah sampai di titik ini, apa dia benar – benar tidak punya skill ofensif lain?

Sepertinya benar. Skill seorang Iblis memiliki aturan. Mustahil untuk berspesialisasi dalam penyerangan dan pertahanan secara bersamaan.

Dan skill – skill Sloth dibuat untuk menghabiskan waktu bermalas – malasan. Sebagian besar darinya adalah pasif, dan beberapa bisa dipanggil secara aktif.

Bahkan tanpa merasakan sakit, berpikir bahwa buruk untuk menerima serangan beruntun, Leigie menghilang kembali.

Aku merasakannya. Sejumlah luar biasa banyak kekuatan berpindah ke puncak menara.

Di puncak bangunan tertinggi di Kastil Bayangan.

Tergeletak di puncak atap kerucut, mata Leigie yang memandang turun ke arahku mengantuk, yang artinya dia tidak meninggalkan celah dalam pertahanannya.

Jaraknya beberapa ratus meter. Tapi bagiku, jarak itu mendekati Nol.

Detik aku akan meloncat ke arahnya, suara pecah aneh terdengar ke seluruh penjuru benteng.

Sebuah benda coklat berdiri.

Apalagi ekspresi, kepala coklatnya bahkan tidak memiliki mata, hidung atau mulut.

Badan panjang dan rampingnya, juga tangan kaki panjangnya semuanya terbuat dari bahan semacam debu, dan dengan melihat tubuhnya sekilas, mudah untuk dilihat bahwa benda itu dibuat untuk menyerupai sosok manusia.

Tak peduli seberapa luas Dunia Iblis, aku ragu ada seorang Iblis yang berbentuk seperti ini.

Sebuah Skill untuk menciptakan sebuah Boneka yang tumbuh.

The skill that constitutes the reason Leigie’s title is Slaughterdolls.

Skill yang merupakan alasan julukan Leigie adalah Slaughterdolls.

『Slaughter Doll』.

Aku mengingat diriku sendiri saat aku baru saja terlahir, dan mengernyit.

“… Hm, tak berguna.”

Mustahil sebuah Boneka baru lahir yang dibuat oleh Leigie yang terdesak akan menjadi tandinganku.

Bahkan jika…

Aku mengawasi pasukan boneka sedang dibuat di sekitarku tanpa emosi atau rasa sakit apapun.

… jumlah mereka melampaui seratus.

Aku menghujamkan tanganku ke Boneka terdekat, dan membelahnya menjadi dua.

Ada sedikit perlawanan, tapi aku bahkan tidak perlu menghindar melawan benda – benda setingkat ini.

Aku memastikan zat coklat yang tersisa di tanganku.

“… Debu… tidak, sebuah Boneka dengan pasir sebagai dasarnya…”

Dia kemungkinan menggunakan bekas – bekas pasir yang telah menumpuk di puncak benteng sebagai dasar untuk menciptakan mereka.

Sungguh, untuk bisa melahirkan sebanyak ini sekaligus adalah sebuah ancaman.

Tapi baginya untuk menghabiskan kekuatannya untuk sebuah skill yang begitu tak berguna adalah sebuah opsi yang kupikir tidak akan dia pilih.

Bahkan jika skill inilah satu – satunya yang tersisa buatnya.

Aku melihat naik ke arah Ayah yang berdiri di langit yang tinggi.

“… Ayah, apakah ini perjuangan terakhirmu…?”

Telah dilahirkan duluan, mustahil aku akan kalah.

Jika kau menambahkan sifat 『Superbia』, maka apalagi.

Boneka tanah liat yang menyerbuku benar – benar cepat, dan kekuatan mereka tidaklah lemah.

Tapi itu saja. Tanpa hasrat apapun, dan tanpa pengalaman.

Tapi tetap saja, meremukkan sebanyak ini sungguh merepotkan.

Aku menutup mataku, dan mengaktifkan sebuah skill.

『Hard Pressure』

Sebuah skill Pride kelas atas.

Ini adalah skill tidak berguna untuk memaksa orang lain berlutut. Tapi ini berguna untuk menghabisi yang lemah.

Tak mampu menahan tekanannya, Boneka – boneka yang tak terhitung jumlahnya jatuh ke tanah.

Aku menginjak kepala Boneka terdekat, dan meremukkannya.

Betapa tak bergunanya. Ataukah dia pikir jumlah itu akan mampu mengalahkanku?

“… Aku akan ke atas sebentar lagi, Ayah.”

Aku menaruh kekuatan ke kakiku. Aku mensirkulasi sihirku. Aku melancarkan tendangan kuat ke jalan batu.

Kemampuan fisik yang perkasa. Boneka – boneka tanah liat menyedihkan yang bersujud di tanah dan segala lainnya di bumi meninggalkanku, dan pandanganku melayang dalam sekejap.

… Dahulu kala, aku berhasil membuat diriku mampu terbang kemana saja.

Bahkan jika Ayah tidak membantuku.

Aku menggenggam ujung runcing menara, untuk menghabiskan momentumku dan menempelkan kakiku ke genteng.

Leigie yang tergeletak menyerang ke arahku dengan pergerakan cepat yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tapi bahkan itu terlalu lamban.

Pada saat itu, tanganku telah menembus dada kiri ayah… jantung seorang Iblis, tempat di mana Inti Jiwanya bersemayam.

Mata Leigie membelalak kaget, seraya melihat dadanya.

“Selamat malam, Ayah. Serahkan sisanya padaku.”

“… Yeah…”

Tanganku telah meremukkan jantungnya.

Abyss Zone-nya pudar.

Saat aku melepaskan tanganku, sang Penguasa Kebejatan jatuh ke tanah.

Dan seperti daun kering, dia mulai jatuh ke dasar menara.

Aku telah meng-Overrule-nya. Tapi aku tidak merasakan keberhasilan sedikitpun.

Setelah memenuhi bagian terakhir 『Pride』ku, naluriku memberitahuku bahwa aku akhirnya telah mencapai Level Penguasa Iblis.

Setidaknya, sekarang, biarkan aku mendoakan sang Raja Pemalas yang Agung.

Demikianlah, aku akan menguasai segalanya, dan mempersembahkannya kepada mendiang Tuanku.

Tidak ada yang lebih pantas untuk curtain call.

Part 4: … Betapa Tak Berguna

Di dunia ini, segalanya hanyalah masalah sepele.

Gadis kecil Kanon itu menjadi sang Raja Iblis Agung pasti merupakan akhir dunia, dan dengan dia mencoba untuk menekan bukan hanya Surga, tapi bahkan juga Dunia Iblis, situasi ini benar – benar yang terburuk.

Bagiku, yang bahkan menumbangkan Tuanku yang Agung, mereka bukan tandinganku. Sudah jelas.

Kalau sekarang, maka bahkan Tuhan bisa tumbang di tanganku.

Aku mengepalkan telapak tanganku. Kekuatanku telah bertambah.

Tree Prideku yang telah berhenti karena aku tak mampu menjadi seorang Penguasa Iblis tiba – tiba mengalami pertumbuhan yang mengerikan.

Memperbesar persepsi. Skill baru yang kuperoleh, 『Abyss Zone』 seketika menyebar untuk melingkupi Kastil Bayangan yang telah kehilangan tuannya.

Berbeda dengan Acedia yang Ayah lepaskan, sebuah kekuatan Superbia yang seakan mendesak orang dari atas.

Tapi di dalamnya, aku tidak merasakan kemuliaan atau apapun. Bahkan tidak ada perasaan berhasil.

Meskipun seharusnya tidak ada yang berdiri di atasku lagi.

“… Hm, segalanya tak berguna, begitu ya.”

Dalam Dunia Iblis ini, tidak ada satupun tandingan bagiku.

Bahkan yang terpilih sebagai Penguasa Iblis terkuat, Kanon dari Kehancuran… buatku yang telah mengenalnya sejak dia kecil, aku ragu dia mampu menyaingiku. Untuk Prideku, itu adalah sebuah keunggulan yang besar.

Iblis – Iblis yang kulewati menatapku, dan berlutut seraya menundukkan kepala mereka.

Gerombolan tak berguna. Bahkan tanpa meneruskan hasrat – hasrat mereka, mereka adalah orang – orang bodoh yang memuaskan diri mereka hanya dengan apa yang diberikan pada mereka oleh orang lain.

Setelah memenuhi keangkuhanku, aku hanya punya satu tempat untuk dituju.

Aku berjalan ke Ruang Tahta sang Penguasa. Singgasana yang belum pernah diduduki siapapun sebelumnya berdiri di sana dalam diam.

Logam yang benar – benar langka, bahkan dalam Dunia Iblis telah dikerjakan dengan mahir oleh para seniman selama berbulan – bulan dan bertahun – tahun untuk mendirikan singgasana hitam legam itu.

Aku berani taruhan singgasana ini dibersihkan secara rutin. Di tempat itu tanpa setitikpun debu, seakan ia sedang tidur seperti ayah, udara dipenuhi suasana yang tenang dan sunyi.

Tanpa ragu – ragu, aku mendudukkan diriku ke singgasana yang belum pernah diduduki sama sekali. Singgasana itu hanya keras, dan dingin.

Aku tidak memiliki musuh yang seimbang dalam Dunia Iblis ini. Aku juga tidak punya niatan untuk membully si gadis kecil Kanon itu.

Aku menaruh sikuku di sandaran lengan, dan berpikir.

“Jika tidak ada apa – apa buatku di Dunia Iblis ini… maka haruskah aku menginvasi Surga…”

Aku mengingat sayap putih bersih, kecil, dan penuh kebencian milik garda depan Tuhan.

Dari dasarnya, mereka memiliki superiority complex terhadap para Iblis. Aku akan menghancurkan mereka secara langsung. Setidaknya itu akan membantuku mengisi waktu.

Dan bahkan di Surga, itu akan berkumandang ke segala penjuru.

Namaku. Dan nama sang Raja Agung dari Kebejatan.

Pintu terbuka dengan kasar.

Yang masuk adalah seorang Iblis berambut kirmizi dengan nama Lize Bloodcross. Secara bersamaan, seperti Kanon dulunya, dia adalah wanita yang merupakan inspektor Ayah.

Tatapan berapi – apinya seperti inkarnasi api yang mengamuk, dan penampilannya seperti jiwa yang marah.

Dia adalah seorang Iblis perempuan bodoh yang, dari segala hal, meminta seorang Superbia sepertiku untuk mengampuni nyawa Deije dan Medea, yang telah gagal dalam misi mereka.

“…! Heard Lauder. Apa artinya…”

“… Hm, Ayah telah binasa.”

“Binasa!? Leigie dari Sloth!? Apa yang mungkin…”

Dia adalah wanita yang mengatakan hal – hal tak berguna.

Mustahil ayah bisa ditaklukkan oleh eksistensi selain diriku.

“Aku membunuhnya. Beritahu gadis kecil Kanon itu. Otoritas Leigie-sama… akan diteruskan olehku.”

Aku menggunakan Evil Eye.

Tubuh Lize menjadi kaku.

Begitu, jadi ini 『Evil Eye』. Ini adalah kali pertama aku menggunakannya, tapi betapa tidak bergunanya Skill ini.

Menundukkan pasukan lawan hanya berarti jika dilakukan dengan tangan sendiri.

“Kau… seorang Penguasa Iblis!? Gu… Heard Lauder. Mungkinkah dengan membunuh Tuanmu…”

Membunuh tuannya sendiri. Itulah hasrat terpendam Superbia.

Pride menjadi pride dengan menundukkan segala yang superior bagi mereka.

“Kau adalah seorang wanita lamban, ya. Itulah yang baru saja kubilang padamu. Tidak akan ada kali kedua. Pergi beritahu Kanon. Jangan bawa masalah ke tanganku.”

“… Mengapa Leigie-sama… pada orang semacam kau…”

Betapa keras kepalanya wanita ini.

Aku berdiri, dan menggunakan sebuah Skill.

Skill skill yang kuperoleh begitu mencapai Kelas Penguasa pasti akan berguna dalam perang yang akan datang. Tidak ada ruginya berlatih menggunakan mereka.

Pikiranku semakin cepat. Dunia berhenti sejenak.

Tubuhku ringan.

Dalam satu langkah, aku mendekatinya, menggenggam lehernya, dan mengangkatnya.

Baru pada saat lehernya tercekik Lize menunjukkan keterkejutannya untuk pertama kalinya.

“Gu… ap… per…”

“Aku bilang padamu tidak ada kali kedua… Hm, untuk menjadi inspektur kepala pada tingkat ini, kualitas mereka pasti telah menurun seiring berjalannya waktu.”

Rapuh. Jauh terlalu rapuh. Dibandingkan dengan Leigie-sama, betapa rapuhnya dunia ini?

Jika aku menaruh sedikit kekuatan saja, rasanya segalanya akan remuk.

Wajah Lize terwarna ungu. Api Wrathnya menjilat lenganku, tapi bagiku yang bahkan telah meng-Overrule api Kanon, mustahil itu akan bekerja.

… Hm, tak berguna. Bahkan tak ada nilainya membunuhnya.

Dengan satu tangan, aku melemparkannya ke dinding. Aku memastikan untuk menahan diri. Aku ragu dia akan mati karena itu.

Kau masih memiliki tugas penting untuk melaporkan kata – kataku kepada Kanon.

Segalanya bergerak lamban.

Ini adalah salah satu Skill milik Penguasa Iblis Pride.

『The Only Lord』

Skill ini meningkatkan kecepatan persepsi seseorang secara drastis, untuk membuat dunia menjadi milikmu.

Itu adalah wilayah terjauh pride yang berarti karena aku telah melatih tubuhku sampai ke level ini.

Aku duduk kembali ke singgasana, dan Lize membentur dinding terjadi hampir bersamaan.

Ruangan berguncang hebat, dan kerikil berjatuhan dari atas.

Kastil Bayangan adalah, dalam dirinya, mausoleum milik ayah.

Aku harus memperbaiki dan merenovasinya. Menggantikan sebuah benteng, sebuah istana yang megah.

Aku juga harus mengatur ulang pasukan.

Medea dan Deije tidak di sini lagi.

Tentu saja, juga ada opsi aku meneruskan seorang diri.

Alasan adanya tiga brigade adalah karena ayah tidak pernah pergi sendiri.

“… Dunia ada di tanganku, bukan?”

Seberapa berharganya dunia?

Jika aku mendapatkan segalanya, akankah aku memahaminya? Apa sih yang dipikirkan Raja Iblis Agung Superbia tua saat dia mencoba mendapatkannya?

Kedengarannya bagiku seperti gagasan yang benar – benar tak berharga, tapi biarlah.

Menguasai seluruh dunia, dan membuat namaku terkenal di seluruh penjurunya tidak terdengar buruk sebagai tujuan sementara.

“… Heard-sama…”

“Masuk.”

Sebuah ketukan pelan datang dari pintu. Aku sudah mengenal eksistensi ini. Persepsi seorang Penguasa Iblis jauh lebih luas dari milik seorang Iblis biasa. Tapi bahkan jika aku bukan seorang Penguasa Iblis, aku kemungkinan sudah menyadarinya.

Itulah seberapa gembiranya kehadiran itu.

Yang masuk dengan wajah sedikit kaku adalah Hiero.

Seorang Iblis Pride. Adik perempuan Lorna dari Lust, dan seorang wanita yang mengejar pride dengan jalan yang berbeda dariku.

Mungkin karena pintu terbuka, atau karena sebuah lubang telah dibuat di dinding, udara dingin merayap masuk.

“… Kau menghancurkan Leigie-sama, bukan?”

“Yeah, Leigie-sama kuat.”

“… Selamat, Yang Mulia Penguasa Iblis. Hamba, Hiero melayani yang mulia dengan segala kemampuan hamba.”

“… Hm, sudahi omong kosongnya. Ada urusan apa kau denganku?”

“Y… ya!”

Ekspresinya pucat seraya dia berlutut, dan ada air mata tergenang di matanya. Bahkan tanpa melihatnya, aku bisa bilang tangan dan kakinya gemetar.

Ketakutan… ya?

Iblis yang tak berguna. Bahkan jika kau menghormati yang kuat, jika kau tetap takut, kau tidak akan pernah bisa meng-Overrule mereka.

Itu adalah satu – satunya tabu dalam Pride.

“Kenyataannya… well…”

“Buat menjadi singkat. Kau tidak akan mendapat kesempatan lain.”

“… Medea kabur.”

“… Begitu.”

Aku memelototi Hiero. Betapa tak bergunanya wanita ini.

Untuk membiarkan seorang Iblis Envy yang telah dilemahkan sampai sedemikian rupa kabur, betapa rusaknya dia?

Aib. Itu adalah amalan yang paling tak termaafkan bagiku. Ini tidak berubah bahkan jika orang itu adalah seorang Iblis Pride sepertiku.

Aku berdiri di depannya.

Aku memahami arti sebenarnya ketakutan di wajahnya.

Aku telah melihatnya tak terhitung berapa kali dalam hidup panjangku… mata mangsa saat mereka melihat sang predator.

Seorang wanita pintar.

Dia berpikir jauh lebih baik dari saudarinya.

Dan dia kemungkinan benar.

Jika dia mencoba untuk kabur karena kegagalannya, bahkan jika dia melarikan diri ke neraka yang paling dalam, aku akan mengejarnya dan membunuhnya.

Membunuhnya dengan segala niatanku. Membantainya dengan mengerikan. Membuatnya menyesal telah dilahirkan.

Tapi karena dia melaporkannya sendiri, aku akan menguburnya dalam sekali pukul.

“Mari dengarkan kata – kata terakhirmu.”

Apa yang kembali dari bibir Hiero bukanlah permohonan untuk diampuni.

Dengan suara gemetar, dia melihat ke arahku.

“… Tolong beritahu aku satu hal saja. Setelah meng-overrule bahkan Leigie-sama, apa yang tersisa untuk anda lakukan, Heard-sama.”

“… Hm, sudah jelas, bukan? Aku akan…”

… Mengambil dunia di tanganku, dan membuat nama Leigie-sama terdengar jelas di segala penjurunya.

Saat aku akan mengatakannya, Hiero mengeluarkan bersin ringan.

Aku mengerutkan alisku. Melihat ekspresiku, dia buru – buru minta maaf.

“A-aku benar – benar minta maaf. Hanya saja… sekarang sangat dingin…”

Hiero menggenggam lengannya, dan bukan karena ketakutannya padaku, tubuhnya bergemetar.

Memang dingin. Sebelum aku menyadarinya, es sudah mulai melapisi lantai. Suhu ruangan sudah jauh di bawah titik beku.

Lubang di dinding cukup jauh, dan sampai beberapa saat yang lalu, seharusnya tidak sedingin ini.

Ini jelas – jelas sebuah situasi yang abnormal.

“… Aneh. Apa yang terjadi.”

Aku melihat mundur ke beberapa juta tahun eksistensiku, aku tidak berpikir sesuatu seperti ini pernah terjadi sebelumnya.

Tidak seperti Hiero, sebagai seorang Penguasa Iblis, aku memiliki ketahanan terhadap dingin. Tingkat ini bukan masalah.

Tapi meresahkan jika aku tidak tahu sebabnya.

Hiero bersin sekali lagi, dan melontarkan alasan lain.

“… H-hari ini benar – benar dingin, ya…”

“… Jangan bodoh, mustahil suhu bisa turun serendah ini saat tengah hari.”

Pertama, bahkan Iblis biasa seharusnya memiliki ketahanan yang cukup bagi mereka untuk tidak memedulikan perubahan suhu pada tingkat kejadian alami.

Aku memeriksa ke segala arah dalam Zonaku.

Tapi mencari dengan Skill yang kugunakan untuk pertama kalinya tidak terasa benar bagiku. Semakin jauh aku mencoba mencari, semakin tumpul indraku menjadi.

Cuaca Abnormal? Memang sekarang musim dingin, tapi ini…

Lize akhirnya bangkit dari dinding yang remuk. Rambutnya menempel ke wajahnya karena darah yang mengalir darinya, tapi aku bisa melihat tatapan tajam datang dari sela – selanya.

“Heard Lauder. Aku takkan menerimanya. Untuk membunuh tuanmu sendiri…”

“… Hm, aku tidak pernah berniat membuatmu menerimanya.”

Hak untuk memutuskan ada pada Kanon sendiri.

Dan bahkan jika Kanon tidak menerimaku, maka aku hanya harus menguasai segalanya dan semua akan beres.

Tubuh Lize terbungkus dalam api kirmizi. Es di tanah menguap seketika, dan menghilang ke udara.

Itu adalah Skill Ira Kelas Tinggi.

『Breath of Flame』.

Kekuatan yang tak berguna. Bagimu, yang bahkan belum menjadi seorang Penguasa Iblis, kau bahkan tidak akan bisa menggoresku.

Itulah celah sederhana di antara sihir kita. Kecuali perbedaannya cukup besar, kau tidak bisa membalikkan sebuah Overrule.

Mata kami bertemu. Dibandingkan Kanon, betapa tipisnya Wrath miliknya. Sepele. Wrathmu sangat kekurangan sesuatu yang disebut bobot.

Ke sisi Lize yang Mengamuk, Hiero gemetar seraya berjalan.

Karena posisinya, kukira dia akan meminta bantuan, tapi dia mulai menghangatkan dirinya.

Aku tercengang melihatnya. Lize juga sama. Mata Hiero terbuka lebar, dan dia berjongkok.

“… Apa – apaan yang kau lakukan?”

“… Uu… dingin…”

Sosoknya yang gemetar seraya mengangkat telapak tangannya ke arah api hanya bisa dilihat sebagai lelucon, melihat situasinya, tapi orang ini cukup putus asa.

Meski begitu… suhunya telah turun bahkan lebih rendah lagi dari sebelumnya.

Lize tidak berarti lagi. Aku bisa membunuhnya dalam sekejap, dan serangannya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Kanon yang telah melemah. Aku mampu meng-Overrule-nya.

Tapi hawa dingin ini berbahaya. Itulah apa yang timbunan pengalamanku yang telah dipertajam katakan.

Seraya bergetar, Hiero melihatku.

“… Heard-sama, apa kau melayangkan serangan terakhir dengan benar pada Leigie-sama?”

“Aku meremukkan Inti Jiwanya. Aku yakin dia telah binasa.”

Saat Inti Jiwa jantung mereka telah dihancurkan, seorang Iblis tidak bisa terus hidup.

“Maka mengapa sekarang begitu dingin… pasti ada hubungannya entah bagaimana…”

Aku paham apa yang dia coba katakan.

Biarlah.

Dengan pemilihan waktu ini, tidak mungkin tidak ada korelasinya.

Tapi seharusnya tidak ada Skill Sloth untuk menurunkan suhu. Setidaknya, aku tidak pernah menyaksikan satu selama bertahun – tahun hidupku. Pertama – tama, Hasrat seorang Iblis bisa mengambil wujud Api Wrath, tapi tidak ada varian yang mengontrol es.

Saat aku mulai merengut, aku merasakan sesuatu yang tak dapat dipercaya terjadi.

Seakan sebuah pilar es telah dimasukkan ke tulang belakangku, sebuah tumbukan dingin menjalar naik di tubuhku.

“… 『Zone』ku dipecahkan, katamu…”

“… Kusu kusu, benar kan~ ini karena kau tidak mengantarkan Leigie-sama pergi hingga akhir… achoo.”

“… Kau, aku terkejut kau bisa tertawa pada saat seperti ini…”

Atmosfernya dicat ulang.

Dari udara berat yang menekan… menjadi udara yang beku, gelap dan suram.

Ini tentu bukan 『Acedia』 ayahku yang lazim.

Ini bukan Greed atau Lust atau Wrath atau Gluttony atau Envy atau bahkan Pride.

Wajah Lize berubah.

“A pa… kehadiran ini…”

“Penguasa Iblis apa ini… tidak, apakah dia bahkan seorang Penguasa Iblis?”

Saat aku merasakannya, kakiku mulai berlari ke arahnya dengan sendirinya.

Pandanganku berlalu dengan kecepatan tinggi.

Aku tidak tertarik pada Lize atau Hiero.

Mustahil ketertarikan bisa muncul pada eksistensi yang bisa kubunuh begitu saja.

Tirai keperakan telah diturunkan di Kastil Bayangan.

Salju putih yang menumpuk, dan pilar – pilar es besar yang menjulang bahkan sampai ke langit – langit.

Dan… sosok para pelayan yang diam.

Dengan ekspresi takut yang pucat, tubuh pelayan yang mengeras berguncang.

Dingin… dia telah membeku secara menyeluruh.

“… Hm, ini tidak alami.”

Sihir yang mengintai di sini sama dengan apa yang memecahkan Zonaku.

Sloth dan Greed dan Lust dan Gluttony dan Pride, dan bahkan Wrath yang memiliki api yang sesuai untuk berurusan dengannya, segalanya telah membeku tanpa pandang bulu.

Semakin dekat aku ke gundukan kekuatan itu, semakin rendah suhunya.

Di jalan, aku mengenali seorang Iblis yang tidak asing, dan berhenti sejenak.

Lorna telah membeku dengan ekspresi damai seraya mendorong sebuah troli.

TIdak ada ketakutan di wajahnya. Tanpa diberi waktu untuk takut, dia telah membeku seketika.

Kekuatan yang mengerikan.

Keluaran ini menyaingi api Ira.

Jangkauan ini menyaingi gelombang Gula.

Menarik.

Betapa pantas untuk lawan pertamaku sebagai seorang Penguasa Iblis.

Aku mulai melihat masa depan yang dimiliki kekuatan baruku.

Aku tidak bisa tidak mulai melihatnya berbentuk.

Hiero telah mengatakannya, tapi bagi seorang musuh untuk mampu menggunakan skill dengan keluaran ini, jika kau mengabaikan kemungkinan penyerbu dari luar, hanya ada satu dalam Kastil Bayangan.

Tidak… seharusnya hanya ada satu.

Pintunya yang tertutup telah membeku dengan es biru pucat.

Aku membuka paksa pintu ke kamar Ayah.

Seakan waktu dalam ruangan itu telah berhenti.

Pada pandangan yang memasuki mataku, aku merasakan hatiku sendiri menjadi teraduk – aduk.

Segalanya dilapisi es, dan suhunya bahkan menembus ketahanan dinginku. Dalam negeri beku itu, seorang pria duduk di kursi berlengan dengan lututnya dipeluk erat ke tubuhnya.

Dia adalah ayahku, yang Inti Jiwanya seharusnya sudah hancur. Di sini begitu tenang sehingga aku tidak bisa bilang apakah dia hidup atau mati.

… Aku mencoba melangkah maju, dan secara naluriah menarik kakiku.

Aku melihat turun ke kakiku, dan mataku terbuka lebar.

“… Apa… ini…”

Kakiku telah membeku seluruhnya.

Aku tidak bisa merasakannya. Bahkan tidak ada rasa sakit. Seakan telah diciutkan menjadi materi anorganik, permukaan halus dan berkilauannya menangkap cahaya dalam cara yang tak dapat dipercaya.

Aku mencoba menaruh telapak tanganku di sana. Benar – benar keras, dan dingin. Rasa sakit redup menjalar naik ke tanganku.

Skill tipe ketahanan pada umumnya tumbuh semakin banyak kau menerima luka dari atribut itu. Aku memiliki ketahanan terhadap api Wrath, tapi aku hanya memiliki ketahanan level satu yang rendah untuk es.

Jika kau tanya kenapa… dari skill – skill yang dimungkinkan pada Iblis dari ke-Tujuh Dosa Asal, dari awalnya, tidak ada serangan atribut es.

Aku menghela nafas tanpa kukehendaki.

“Ayah… bagimu untuk menyembunyikan kartu truf separah ini…”

Ini adalah sebuah kekuatan yang tak pernah kuantisipasi.

Nafasku membeku di udara, dan suara pelan terdengar seraya nafas itu jatuh sebagai butiran – butiran kecil es.

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Sebuah dunia keperakan mendekati nol mutlak. Tanpa suara, atau debu atau apapun yang ada untuk menodai udara murni.

Pada saat kaki setengah membekuku telah melangkah maju, es mulai merayap di tubuhku.

Sesuai dugaanku. Suhu di ruangan ini berbeda level dari yang di luar. Wilayah di depan kelihatannya disegel dengan sebuah pelindung.

“… Tapi tidak ada yang lebih cocok bagi dia yang merupakan Tuanku.”

Itu benar. Kupikir aku telah menang dengan terlalu mudah. Kupikir mustahil itu adalah semua yang dia miliki.

Maksudku, saat kelihatannya sudah berakhir, tidak ada satupun luka di tubuhku.

Es yang merayap berhenti.

Seperti aku akan dihabisi oleh sesuatu seperti pelindung saja.

Keangkuhanku saja adalah satu – satunya hal yang telah kubawa denganku ke dunia mati ini.

Tiap kali aku melangkah maju, sebuah gelombang kekuatan membakar kulitku.

Keluarannya tidak kalah sama sekali dari Wrath. Zonanya tidak memperbolehkan perlawanan, dan dunia beku stagnan ini tidak lain adalah dunia sempurna Ayah.

Sebuah dunia kejam di mana kecepatanku atau kekuatanku tidak berarti.

Jika aku tidak mengerahkan seluruh kekuatanku, aku akan berubah menjadi es dalam sekejap. Sama seperti para Iblis di luar.

“… Well, well… betapa tak bergunanya aku…”

Tapi memecahkan segalanya secara langsung adalah Superbiaku.

Rencana tidak diperlukan di depan Prideku.

Ingatanku kembali timbul.

Selalu sendirian, dia yang berdiri di atasku. Pencipta mutlakku.

Tidak peduli seberapa Sloth tindakan dan penampilannya, semuanya tidak relevan.

Ah, betapa kuatnya, betapa cantiknya.

Dalam Dunia Iblis yang luas, dan bahkan surga, mustahil ada sesuatu selengkap ini, secantik ini.

Dan itulah tepatnya mengapa aku memiliki arti.

“… Aku akan melampaui ini.”

Aku benar – benar tidak tahu kapan harus menyerah.

Aku tidak tahu dengan teori apa dia masih hidup saat Inti Jiwanya remuk, tapi sekali lagi, aku akan menenggelamkanmu ke kedalaman Sheol.

Aku menyatakan kepada Tuanku, yang kepalanya ditundukkan ke lutut yang dia peluk erat.

Tangan tak bergeraknya, yang sudah putih, telah melampauinya, dan mereka telah menjadi transparan layaknya es.

Es putih telah turun di rambutnya yang sehitam milikku.

Sosoknya sangat tidak hidup, aku hampir kehilangan ketertarikan untuk menyerang.

Jaraknya setengah meter. Jika aku mengulurkan tanganku, aku bisa mencapainya dengan mudah. Tapi eksistensi fananya adalah eksistensi yang serasa akan hancur jika kusentuh.

Pada saat itu, wajah ayah perlahan naik.

Seperti bola kaca, mata tanpa emosinya melihatku tanpa makna. Kilatan di dalamnya memiliki jauh lebih banyak warna dari sebelumnya, dan matanya terisi keputusasaan yang jauh lebih gelap.

Bahkan buatku yang telah melayaninya selamanya, ini adalah kali pertama aku melihat ekspresi itu.

Dan mulut ayah yang hampir tidak pernah bekerja terbuka sedikit, dan mulai bergerak.

[1]Bagian akhir dari pentas di mana para pemain teater muncul kembali.

Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya