DnO 8 – Depresi Melancholia

Depresi Melancholia

Part 1: Aku Bertemu seorang Pahlawan

Mungkin ini adalah memori tertua yang kumiliki.

Tentang saat aku bahkan belum menjadi seorang Penguasa Iblis, dan aku hanya seorang Iblis Pemalas.

Aku bertemu seorang Pahlawan. Dia adalah seorang Pahlawan dengan rambut perak yang elok, dan kekuatannya… mengingatnya sekarang, aku bisa bilang dia tidak begitu kuat. Anyway, dia memiliki keberanian yang jernih layaknya berlian, dan matanya memiliki kemauan kuat yang terasah layaknya pedang. Sejak kehidupanku sebelumnya, dia adalah benda paling cantik yang pernah kulihat.

Serge sang Silver Blue. Itulah nama sang Pahlawan.

Hanya sedikit lebih kuat dari orang lain, hanya sedikit lebih berbakat, dan secara kebetulan, sedikit lebih berani. Nama seorang gadis yang hanya memiliki itu pada namanya.

Nama seorang pejuang, yang, meskipun yang terbaik yang bisa dia lakukan adalah mengalahkan Iblis tingkat terendah, dia memendam impian gila, dan dia turun ke Dunia Iblis seorang diri.

Dibandingkan dengan manusia, Iblis dalam Dunia Iblis kuat bukan kepalang.

Maka dari itu, seorang gadis remaja yang menantang Dunia Iblis, tanpa perlu diperdebatkan, adalah bodoh, dan mungkin keberuntungannya kelewat bagus baginya untukku menjadi orang pertama yang dia temui. Aku tidak akan bergerak.

Pertarunganku dengan Serge adalah puncak tertinggi kekerasan.

Melawanku, yang tetap tergeletak lemas, sang Pahlawan yang sendirian terus mengayunkan Pedang Sucinya.

Semangatnya, dan kemauannya sangatlah cukup, tapi perbedaan kekuatan di antara kami layaknya langit dan bumi. Serangan – serangan itu hanya mampu menggoresku, dan luka – luka itu menghilang seketika. Aku tidak memiliki Skill apapun yang mampu membunuh Serge, dan tidak juga memiliki kemauan untuk itu, dan kekuatan Serge hanya mampu sedikit melampaui VITku.

Itu adalah pengulangan konyol hal yang sama secara terus menerus, sebuah pertarungan sampai mati yang tak akan berakhir. Mungkin itu bahkan bukan sesuatu yang bisa disebut pertarungan. Jika aku harus bilang, aku memiliki keunggulan, tapi bahkan dengan itu, aku tidak memiliki cara untuk melancarkan serangan terakhir.

Meski begitu, jalan hidup si gadis yang tidak melangkah mundur bahkan setelah menemui sebuah situasi yang akan berlangsung selamanya memang jalan hidup seorang Pahlawan, dan itu membuatku ingat bahwa ini memang dunia lain.

Dan secara bersamaan, aku berpikir. Jika aku bekerja cukup keras sampai berkeringat darah, jika aku berlatih mati – matian, jika aku menjadi kuat, aku bisa mengalahkan Pahlawan ini.

Mungkin itu baik saja buatku.

Penguasa Iblis pada akhirnya menjadi orang yang harus menundukkan para Pahlawan. Bahkan bagi seseorang yang jarang bermain game dalam kehidupanku sebelumnya, aku setidaknya tahu itu. Bagi sang Penguasa Iblis, itulah Akhir Bahagianya. Bukannya aku hidup di sini karena aku menyukainya. Hanya karena aku membenci kematian aku terus hidup…

… Tapi meski begitu, jika ini demi Pahlawan ini, kupikir aku bisa menahannya.

Reuni kami terjadi lima tahun kemudian. Aku telah menghitung hari, jadi aku ingat dengan jelas.

Serge telah tumbuh.

Dari seorang gadis yang, meskipun kuat untuk ukuran manusia, dibandingkan dengan Iblis, tidak begitu kuat; yang tidak bisa membunuh satu Iblis Sloth, dan di mana satu – satunya yang unggul dalam dirinya adalah keberaniannya, menjadi orang yang, mampu menghadapi seorang Iblis Kelas Jendral yang dilahirkan, dibesarkan dan dilatih dalam era perang besar ini satu lawan satu. Kelas Satu di antara umat manusia… pedang agung mereka.

Dalam istilah game, mungkin dia adalah seorang karakter yang broken.

Tidak, itu akan menjadi sebuah hinaan buatnya. Aku tidak tahu berapa banyak latihan yang dia lakukan. Cukup untuk membuatnya muntah darah, di mana jika seorang individu lemah sepertiku jalankan, aku akan menyerah dalam beberapa menit. Aku yakin dia mengulang – ulang latihan semacam itu. Dalam lima tahun itu, berapa petualangan yang dia jalani? Bagi seseorang yang tidak melakukan apapun selain tidur sepertiku, aku tidak bisa tahu.

Apa yang kuketahui hanyalah dua hal. Dua kebenaran sederhana.

Dia telah menjadi seorang Pahlawan yang mampu bertukar pukulan dengan seorang Iblis Kelas Jendral dengan setara.

Dan aku telah menjadi seorang Penguasa Iblis.

Zaman ini, dunia ini kejam, fana, dan tak berguna.

Dunia Iblis tunduk pada hukum rimba. Slothku telah melampaui usaha Serge. Itu saja.

Semangat bertarung yang Serge abdikan hidupnya padanya, pedang yang dulunya mampu menggoresku sedikit, bahkan tidak bisa memotong sehelai rambutku saat kami berjumpa lagi. Jarak yang tak dapat dilewati telah lahir di antara kami.

Tidak selalu pasti bahwa kerja keras akan berbuah manis.

Hukum menyedihkan dan suram dari kehidupanku sebelumnya itu juga berlaku untuk dunia ini.

Ini adalah sesuatu yang hanya bisa kukatakan setelah melihat hasilnya.

Meskipun Serge hanya mampu menggoresku sedikit di pertarungan pertama, dia tidak merasa dia harus mundur. Bahwa selama dia mampu melukaiku meskipun sedikit, adalah tugasnya untuk membunuhku. Itu adalah kesempatan pertama dan terakhirnya. Dan karena dia adalah manusia, dia tak mampu lari dari kekangan jangka hidupnya. Dia telah kehilangan kesempatan itu untuk selamanya.

Dia meneteskan air mata seraya mengangkat tinggi pedangnya. Mata Pahlawan itu persis seperti saat kami pertama bertemu, cantik dan fana, melihat bilah pedangnya yang berkilau layaknya bintang jatuh, aku mengantuk, dan tertidur.

Saat aku terbangun, apa yang memasuki mataku adalah sesosok Pahlawan yang berlutut dengan air mata mengaliri wajahnya.

Pedang Sucinya telah kehilangan cahayanya, dan setelah menjadi seonggok besi biasa, ia dihujamkan begitu saja ke tanah.

Tidak ada sedikitpun luka pada Serge. Itu sudah jelas. Itu karena aku belum mendaratkan satu jari pun padanya. Tapi sang Pahlawan yang dulunya akan terus bertarung, tidak peduli seberapa serius cedera yang dideritanya, bahkan jika sebuah lengan atau kaki terputus, telah menjadi seorang gadis kecil yang terisak.

Tidak ada sedikit pun semangat bertarung tersisa dalam mata kosongnya.

Seakan aku telah memecahkan sesuatu di dalam dirinya.

Dari saat pertama aku berjumpa dengannya, apa yang kurasakan kemungkinan adalah cinta. Mungkin, aku sudah tidak ingat lagi, tapi mengingat masa lalu, kurasa itu sesuatu semacam itu.

Namun, pada akhirnya, aku tidak bisa ingat apa yang terjadi pada Pahlawan itu. Semua yang kuketahui adalah keberanian milik dia yang disebut bintang kejora harapan dunia atas, Serge sang Silver Blue berakhir pada hari itu.

… Sang Raja Kebejatan.

Itu selalu aneh.

Itu selalu menjadi salah satu pertanyaan yang kumiliki sejak aku mengalami reinkarnasi.

Mengapa iblis – iblis lain memiliki kilauan hitam berapi dalam jiwa mereka? Mengapa mereka mengamuk dan mencari dan merendahkan dan mencabuli dan makan dan iri?

Mengapa mereka tidak bisa tidur dengan tenang saja?

Jika mereka menginginkan kekuatan sebagai seorang Iblis… hanya dengan tidur sudah lebih dari cukup.

Mengapa mereka berusaha begitu keras untuk aktif?

Tubuh seorang Iblis, jika dia tidak melakukan apapun selain tidur, tidak seperti manusia yang mampu hidup paling lama seratus tahun, mampu hidup ratusan dan ribuan dan jutaan tahun lamanya. Waktu tanpa ujung, tampaknya begitu.

Aku sadar itu adalah sebuah kesalahan setelah waktu berlalu lama.

Tahun yang tak terhitung lagi jumlahnya berlalu, aku menidurkan Iblis, Pahlawan dan bahkan Malaikat yang tak terhitung jumlahnya, dan akhirnya, seseorang mulai memanggilku dengan nama tak berguna seperti 『Raja Kebejatan』. Saat aku telah dikenal luas, aku akhirnya menyadarinya.

Ah, ini adalah watak mereka.

Bagi mereka, mengamuk, dan mencari, dan menghina, dan mencabuli, dan iri adalah alasan hidup mereka itu sendiri, dan pembenaran mereka untuk hidup.

Obrolan yang tak berguna. Bukannya mereka tidak bisa tidur. Mereka tidak bisa membiarkan diri mereka tetap tidur. Demi memurnikan jiwa mereka.

Singkatnya, keputusan kami berbeda, dan bagi sang Penguasa Iblis Sloth yang telah hidup tanpa makna, itu mungkin sesuatu yang tidak akan bisa dia pahami selama hidupnya yang kelewat panjang.

Aku tak pernah memikirkan apapun. Kekuatan tidak pernah begitu berarti. Aku tidak pernah berencana untuk membuktikan eksistensiku.

Sejak saat aku hidup di Jepang yang damai, aku hampir tidak memiliki hasrat apapun. Tidak ada hobi. Dalam tempat yang ditinggalkan oleh kekurangan tujuanku, tidur adalah satu – satunya hal yang mampu mengisi hatiku.

Kelihatannya, ini bukanlah cerita yang ganjil bagi para pemuda yang hidup di masyarakat modern. Jika mereka mengalami reinkarnasi ke dunia ini, mereka semua mungkin berakhir sebagai Iblis Sloth sepertiku.

Aku tak pernah memiliki tujuan. Jika kau memaksaku mengatakannya, maka Sloth itu sendiri adalah tujuanku, dan dibandingkan dengan para Iblis yang mendambakan kekuatan yang terbaring di ujung hasrat mereka, mungkin itu adalah alasan aku mampu menjadi seorang Penguasa Iblis dengan lebih cepat.

Sebuah cerita membosankan.

Sebuah dunia di mana kegabutan berubah menjadi kerja keras.

Buatku, yang tidak melakukan apapun selain tidur… Padaku, yang tidak melakukan apapun selain tidur tanpa tujuan, Iblis dan Manusia dan Malaikat berlutut. Di antara mereka, bahkan ada Iblis Sloth lain.

Kebejatan? Salah, bagiku, ini hanyalah gaya hidupku.

Aku adalah dia yang akan melakukan apa yang harus kulakukan saat waktunya tiba. Hanya saja waktunya tak pernah tiba buatku.

Hanya dengan menutup mataku, aku mampu merasakan kekuatanku sendiri perlahan bertambah. Aku tak peduli.

Skill yang bisa kugunakan, hal – hal yang bisa kulakukan perlahan bertambah. Secara proporsional, lingkup aktivitasku perlahan menyempit. Dengan kekuatan Skill – skillku, aku tidak perlu makan atau menggunakan kamar kecil. Bahkan bernafas menjadi tidak perlu. Tapi aku tidak peduli tentang itu juga.

… Tolong, biarkan aku tidur.

Libur seminggu bisa membuat alur waktumu berantakan. Setidaknya, itulah apa yang terjadi padaku.

Seminggu menjadi sehari, dan aku mulai merasakannya menjadi sedetik. Tapi aku tidak perlu waktu. Hanya tahun mulai berlalu. Musuh dan rekan di sekitarku berganti.

Aku tidak menghitung, tapi mungkin sekitar delapan puluh tahun telah berlalu.

Saat tidur bahkan mulai terasa merepotkan, aku menyadari. Tidak, mungkin itu adalah sesuatu yang baru yang kuperoleh saat itu.

Sebuah kekuatan untuk menidurkan diriku sendiri.

Persis seperti Skill Tree Sloth yang bangkit di dalam diriku, seperti pohon yang berdampingan dengan dahan yang saling mengait, sebuah Skill Line baru.

『Melancholia』

Dari Sloth yang menguasai keputusasaan dingin, dan kecemasan, sebuah Subtree.

Dan sekali lagi, si pecundang tanpa makna bisa tergeletak di sana sini layaknya sampah.

Di mana usaha dan latihan dan bahkan emosi tak bermakna, sebuah dunia dilapisi kegelapan murni.

Itu, seperti lapisan tipis es, dingin, fana, dan indah.

Part 2: Aku Belum Puas dengan Dunia ini

“Benar – benar… menyedihkan.”

Membuat suara kecil, udara kehilangan panasnya dan membeku.

Dingin. Hanya dingin, tiada yang lain. Seakan dari kedalaman tubuhku, kedalaman hatiku, panas dirampas pergi.

Tapi secara bersamaan, ketahanan Sloth terhadap dingin tidaklah bisa ditembus oleh suhu selevel ini.

Ini adalah dunia keperakan yang indah.

Segalanya putih dan beku, dan udara yang tidak memiliki setitik debu pun setenang puncak gunung yang tinggi.

Di depan mataku, seorang pria membeku secara menyeluruh.

Seorang pria berperawakan tinggi dan berambut hitam. Bahkan dari luar pakaiannya, aku bisa melihat dengan jelas tubuh dan sihir terlatihnya. Di dalam matanya yang telah terhenti dalam keadaan terbuka, apa yang tercermin adalah kepasrahan dan kegelisahan, dan secara bersamaan, kesenangan yang hebat. Mulutnya telah melengkung menjadi sebuah senyuman.

Aku menjulurkan kedua kakiku dari kursi berlengan, dan berdiri dengan lembut. Dari kakiku, aku merasakan dingin yang menusuk yang belum pernah kurasakan sebelumnya, tapi aku menggertakkan gigiku, dan menahannya.

Kekuatan Slothku telah melemah. Sloth bahkan tidak memperbolehkan berdiri.

Bukannya aku tidak berdiri. Aku tidak bisa berdiri. Aku tidak bisa bergerak. Demikianlah kutukan Sloth.

Tapi bagi seseorang sepertiku yang tidak peduli akan kekuatan, aku tidak peduli akan konsep itu juga.

Mungkin karena asal kekuatanku telah bergeser ke Melancholia, hatiku terasa berat.

Aku menaruh tanganku dengan lembut ke ekspresi keras pria itu.

Wajahnya tidak asing. Dia adalah seorang pria yang telah melekatkan dirinya padaku sejak dahulu kala. Aku tidak ingat namanya, tapi penampilannya telah terpatri di pikiranku.

“… Apa kau sudah puas…”

“…”

Dengan suara retak, melalui jariku, kekuatan dari sebelah kanan dadaku, dari Inti Jiwa kedua yang termanifestasi saat aku mendapatkan Melancholia mengembang.

Di sekitar si pria yang sosoknya telah membeku, air berkumpul, dan dia terkurung dalam balok es.

Ini adalah Skill 『Melancholia』 untuk melahirkan sebuah peti mati dari es.

『Freezing Grave』.

Aku berjalan melewati si pria yang telah menjadi sebuah pilar es.

Kurasa sudah sekitar seratus tahun sejak kelahiranku, dan belum pernah aku bertarung dengan layak atau bahkan berlatih.

Meski begitu, mengapa di dunia ini di mana kekuatan adalah segalanya, aku belum pernah menerima satu pun kekalahan?

Aku suka tidur.

Aku suka berbaring di atas ranjang tanpa tujuan apa pun, dan menghabiskan waktu dalam ketiadaan.

Untuk bisa makan tanpa melakukan apa pun itu menakjubkan, dan aku cukup puas bahwa pembersihan dilakukan tanpa aku.

Itu adalah sesuatu yang aku tidak pernah bisa dapatkan dulu saat aku masih hidup di Jepang.

Meski begitu, aku cukup suka hal yang dinamakan kerja keras. Tidak, lebih dari suka, aku percaya akan itu.

Aku tidak akan melakukannya sih.

Meski begitu, aku bisa percaya apa pun yang kumau, kan?

“Dunia yang tak berharga… Dunia Iblis ini…”

Lebih dari Dunia Iblis, seluruh dunia ini tak berharga.

Dunia ini keras dan kejam.

Bumi memiliki jatah kekejamannya, tapi Dunia Iblis ini jauh lebih brutal.

Aku hanya tidak memedulikannya.

Tidak, aku tidak memaafkannya.

That Serge, who repeated severe training and sharpened her fangs to take down a Demon Lord was defeated by a man who never did anything.

Serge itu, yang mengulang – ulang latihan keras dan menajamkan taringnya untuk menaklukkan seorang Penguasa Iblis dikalahkan oleh seorang pria yang tak pernah melakukan apa – apa.

Inti Jiwa Slothku yang rusak memulihkan dirinya sendiri secara perlahan. Seiring dengan itu, kepalaku menjadi semakin berat.

Ini menyedihkan. Menyedihkan saja.

Kegelapan dingin yang telah tertumpuk di kedalaman hatiku.

Perasaan itu yang terkadang kurasakan saat aku sedang tidur mungkin adalah alasan di balik aku mendapatkan Melancholia. Dulu, aku selalu merasa depresi sebelum melangkah keluar untuk pergi bekerja atau sekolah, jadi mungkin itu adalah sebabnya, tapi aku tidak punya cara untuk memastikannya, dan aku tidak peduli.

Penglihatanku menjadi gelap.

Aku melewati pintu yang telah membeku dalam keadaan membuka.

Pintu yang telah dilapisi sedikit es menjadi terbungkus es dalam sekejap. Dengan suara retakan di bawahku, aku menuruni koridor.

Persepsiku yang membentang ke seluruh wilayahku benar – benar merepotkan, dan tidak peduli seberapa banyak waktu berlalu, aku tidak pernah terbiasa dengannya.

Karena aliran emosiku yang keruh, aku merosot dengan tanganku menempel di dinding. Berpusat di titik yang kusentuh, sebuah kekuatan putih menyebar. Tanpa suara, segalanya ditutupi es tanpa ujung.

Dulu, saat aku pertama mengalami reinkarnasi ke dunia ini, ada seseorang yang mengajarkanku tentang Skill.

Jika kau membolehkanku jujur sebentar, aku tidak tahu apa yang mereka maksud.

Di antara kekuatan yang dimiliki para Iblis, ada mereka yang, di antara Skill – skill itu sendiri, mereka mencuri dan meniru dan meniadakan dan makan dan membantai, dan hal – hal tak dapat dipahami lainnya, kelihatannya begitu. Ada kekuatan – kekuatan tak masuk akal di mana dengan sekali pukulan, segalanya akan berakhir. Ini keterlaluan.

Kupikir itu mustahil.

Omong kosong. Aku belum ingin mati.

Dan seharusnya tidak ada seorang pun di luar sana yang ingin. Maksudku, bukannya dunia neraka sudah pasti lebih mudah dari dunia tempat kita hidup.

Perasaan – perasaan itu adalah yang kurasakan di kehidupanku sebelumnya, setidaknya hingga saat aku mati, dan bahkan setelah hidup panjang sebagai seorang Iblis, mereka tidak berubah sedikitpun.

Dan begitulah, aku tidak kalah. Dan begitulah, aku masih hidup. Tanpa memikirkan apa pun, aku menaklukkan kekuatan – kekuatan tak masuk akal itu.

Terpisahkan dari jalannya waktu, aku menutup diriku dengan hanya Kartu Acedia untuk melindungi tubuhku, dan yang akan terus menghentikan fungsiku dan membawaku ke dunia gelap itu tanpa peduli, Kartu Melancholia.

Aku hanya pernah mengharapkan satu hal dari kedua kartu truf itu.

… Kumohon, biarkan aku tidur. Dalam ketenangan. Dalam kemalasan.

“Ap… Leigie…sama? Apa… yang…”

Orang yang muncul di sekitar sudut adalah si Iblis Ira. Lize Bloodcross.

Dia kemungkinan adalah anti-tesis terhebat terhadap keberadaanku. Sebuah atribut yang menyebarkan api yang berkilat.

Yang tak cocok denganku, yang gemar bersembunyi di tempat lembab dan gelap.

“Mengapa… Leigie-sama… bejalan…”

“Bahkan… ada saat – saat di mana aku ingin berjalan.”

Meski begini, aku umumnya pulang – pergi kerja dengan kereta yang bergoyang tiap hari.

Lebih aneh lagi untuk… berpikir aku tidak bisa berdiri. Pertama – tama, semua orang tahu bahwa setiap Iblis memiliki kemampuan fisik dasar yang melampaui manusia, jadi saat aku yang manusia bisa berjalan, mustahil aku yang Iblis tidak bisa.

Tubuhnya terbungkus zirah api.

Dia menggunakan Kekuatan Wrath misteriusnya untuk bertahan melawan negeri beku ini.

Aku memalingkan pandanganku ke arah kiri. Seorang Iblis berambut keemasan yang berusaha tetap tersembunyi dalam bayangan.

Langkah demi langkah, aku menggerakkan kakiku maju dengan tenang.

Kami terpisah sekitar tiga puluh centimeter. Dalam keadaan seperti setengah sadar, Lize terus melihatku.

“Wai… Lize-san! Berbahay…”

“Eh…?”

Dia terdorong menjauh, dan tanganku menyentuh udara.

Tapi menggantikannya, tanganku menyentuh rambut si Iblis berambut keemasan.

“Mengapa… bergerak… ini sebuah penipuan… kusu kus…”

Dalam sekejap, waktu gadis itu terhenti.

Dengan mata yang berkaca – kaca, dan bibir yang melengkung seakan dia memaksa dirinya tertawa.

“… Gitu.”

Bahkan aku, tergantung bagaimana perasaanku… bahkan ada saat – saat aku berpikir aku akan jalan – jalan.

Apakah itu sebuah penipuan? Mengapa sebuah penipuan?

Siapa di luar sana yang menentukan bahwa tidak baik bagi Iblis Sloth untuk bergerak?

Lize bergegas lari ke arah si Iblis beku.

“Hiero!? Leigie-sama m-mengapa… pada seorang rekan…”

Mengapa? Atas alasan apa? Itu sederhana.

“Karena aku ingin tidur dalam damai.”

“Hah!? Eh? Kau ingin… tidur?”

“… Juga, ini… aku tidak bisa benar – benar mengendalikannya.”

“Eh? Betapa menyebalkan…”

Tangan terulurku menyerempet bahu Lize.

Apinya padam seketika, dan dengan begitu, dia berhenti.

Dengan ekspresi bodoh yang tak terpikirkan bagi seorang yang menguasai Wrath, dia tidak bergerak lagi.

Dan bahkan jika itu adalah sesuatu yang kumunculkan sendiri, aku merasakan duka dan kekosongan tak berujung. Secara bersamaan, aku merasakan Tree Melancholyku terus melaju.

Betapa fananya dunia ini…

Betapa rapuhnya…

Apakah itu alasan mengapa Tree Melancholy di dalamku terus melaju perlahan?

Emosi yang tak sedap dipandang. Bagiku yang hidup dalam kebejatan semata, aku seharusnya tidak punya hak untuk putus asa akan dunia.

Dalam suatu tempat yang tenang, aku hanya ingin sendiri.

Dalam benteng ini, tidak ada lagi Iblis yang bisa bergerak. Tapi bahkan pilar – pilar es keberadaan mereka menyebalkan.

Benar… aku akan memanjat menara.

Tempat tertinggi dalam kastil ini.

Dulu, seseorang membawaku ke puncaknya. Mungkin sekitar sepuluh tahun lalu?

Pemandangan tak terhalang atas benteng hitam yang membentang ke ufuk merah terang di kejauhan.

Jika aku melihatnya sekarang, aku yakin aku akan merasakan perasaan sentimental.

Part 3: Sesuatu yang Baik Pasti akan Terjadi Esok Hari

Entah mengapa, air mata keluar.

Di depan sesuatu yang benar – benar membuat hati mereka tergerak, apakah orang – orang benar – benar hanya bisa membiarkan air mata mereka mengalir keluar?

Bahkan air mata itu menjadi es saat mereka menyentuh kulitku, dan jatuh ke tanah sebagai butiran.

Berlapis di atas tanah hitam, sebuah bangunan yang konyol besarnya. Batu kokoh, kasar, dan sehalus kaca yang tak terhitung jumlahnya ditumpuk untuk membuat benteng, dan bahkan buatku yang tidak mengenal arsitektur sedikit pun, aku bisa tahu bahwa benteng ini tidak dibangun dalam beberapa tahun saja.

Berbeda dengan apa yang telah membuatku terbiasa di Bumi, bulan biru pucat Dunia Iblis, dan langit merahnya begitu menawan, dan sangat indah.

Seakan untuk mengatakan bahwa ini adalah Dunia Fantasi, dan tanpa perlu didiskusikan, aku tahu ia mengatakan yang sebenarnya.

Puncak menaranya dibangun sedemikian rupa sehingga darinya, kau bisa melihat ke segala arah.

Empat jendela dipasang secara melingkar melihat ke bawah ke arah tanah, tapi bagiku, satu jendela sudah lebih dari cukup.

“… Hah…”

Saat bersentuhan dengan nafasku, kaca jendela itu retak tanpa suara.

Benteng tanpa kehadiran satu makhluk hidup pun ini tenang secara kejam, dan kosong secara kejam.

Butiran – butiran putih mulai berjatuhan dari langit.

Bahkan jika aku tidak meraih untuk menangkap satu di tanganku, aku mengerti. Tidak ada salju di Dunia Iblis.

Jadi bagiku, ini adalah salju pertamaku dalam beberapa dekade.

Melihatnya seperti ini, aku terpaksa ingat.

“Aku ingin masuk ke bawah kotatsu…”

Seakan mengikuti perasaanku, kaca itu membeku, dan pecah menjadi kepingan – kepingan yang lebih kecil lagi. Salju mulai turun semakin deras dan badai salju melanda kastil.

… Bukannya aku mengharapkan ini, tahu.

Salju turun. Inti Sloth yang seharusnya telah hancur berkeping – keping sudah pulih hampir seluruhnya.

Bagi seseorang sepertiku yang memiliki Skill – Skill Sloth, sesuatu seperti dinginnya salju tidaklah cukup untuk memengaruhiku. Tapi mungkin fakta bahwa sebuah sensasi dingin melandaku saat aku menyentuhnya adalah akibat ingatanku dari Bumi dulu.

Saat aku memikirkan itu, momentum dari salju semakin bertambah. Awan kelabu dan tak mengenakkan bergelayut di langit, dan sejumlah besar butiran es menumbuk tanah. Dari sini, aku bahkan tidak bisa melihat Benteng lagi.

Dan itu menyedihkan.

Saat aku memikirkan itu, awan menjadi semakin berat, dan kelabu berubah menjadi hitam. Seakan telah terjadi pemadaman listrik, dunia terbungkus kegelapan.

…. Dan karenanya, aku merasakan kesedihan yang amat sangat.

Angin dingin yang menusuk berputar – putar.

Tree Melancholia… apakah orang yang menciptakan dunia ini benar – benar idiot? Ini adalah lingkaran tak berujung, bukan?

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, ini bukanlah hasrat, atau dambaan, atau apapun…

Kekuatan Sloth mulai bercampur dengan Melancholy.

Well, itu juga hal lain yang tidak kupedulikan.

Segala sesuatu yang ada sama merepotkannya, dan segala tindakan tidak bermakna.

Mungkin karena ini adalah kali pertama aku berjalan dengan kakiku sendiri setelah sekian lama, kakiku terasa berat.

Aku duduk di titik itu juga.

Kantuk mulai menguasaiku. Ia adalah, meneruskan sejak saat aku seorang manusia, kawan terbaikku.

Hatiku berat. Kelopak mataku berat.

Saat aku membuka mulutku, sebuah suara kecil keluar.

“… Aku menjadi sedikit mengantuk…”

Kembali ke tempat tidur merepotkan. Dan juga, sebuah ranjang yang tersegel dalam es tidak ada nyamannya sama sekali.

Aku berbaring, dan menguap lebar.

Tidak ada tanda – tanda pergerakan, atau kehadiran di mana pun juga. Untuk sementara, aku akan bisa tidur dengan nyaman.

Aku melipat kedua lenganku, dan menutup mataku.

Kegelapan hitam yang membuatku terbiasa. Jika aku boleh berdoa, maka kuharap bahwa saat aku membuka mataku sekali lagi, kedamaian dan keheningan telah menimpa Dunia Iblis.

Saat niatan – niatan murni dan mulia itu mengisi dadaku, aku mendengar suara aneh.

“… Tanpa ketertarikan pada apapun yang ada, sang Penguasa Kebejatan yang hanya berbaring di puncak… bukan? Penebusan Leigie yang lalu, bukan?

“Ya. Tapi… aku bertanya – tanya mengapa pria itu tidak pernah mematikan Friendly Fire…”

“Itu karena dia adalah Sloth. Lize, aku akan… berbincang dengan Leigie sedikit. Kau pergi periksa yang lainnya. Jika kau menemukan siapapun masih tersegel dalam es, bebaskan mereka. Dengan Ira-mu!”

“… Yes, understood.”

“… Ya, dimengerti.”

Dari kedua kekuatan, yang lebih kecil memisahkan diri.

But that doesn’t matter. What has captured my senses isn’t the large presence before me, but the the countless number of ones appearing within the fortress.

Tapi itu tidak berpengaruh. Apa yang menyita perhatianku bukanlah kehadiran besar di depanku, tapi kehadiran yang tak terhitung jumlah yang muncul di dalam benteng.

Kehadiran yang menyebalkan.

What suddenly appeared before me as if it had abruptly come into being was definitely one I had completely frozen.

Yang tiba – tiba muncul di hadapanku seakan ia tercipta dalam sekejap pasti merupakan salah satu yang telah kubekukan.

Pada suatu titik… tidak, itu tidak berarti juga. Tidak berarti bila itu terjadi.

… Yeah, semuanya menyedihkan.

Mengapa setiap kali aku mencoba untuk tidur, segala hal mencoba menghalangiku?

Semuanya seharusnya berada di neraka yang jauh, di kedalaman es yang tenang.

Aku membuka paksa kelopak mataku yang berat.

Aku terkejut. Aku mengamati sekelilingku dengan perlahan.

… Mustahil…

“… Sudah… pagi…?”

Saat aku menutup mataku, aku yakin saat itu malam. Setidaknya, itu tadi bukan waktu di mana hari bisa menjadi pagi dalam beberapa menit ke depan. Itu tidak berubah dari dunia itu ke dunia ini. Sebuah sistem yang sama.

Bagi malam dan siang untuk berbalik seketika, seseorang yang mampu melakukan tindakan yang absurd seperti ini seharusnya tidak ada di Dunia Iblis yang luas ini.

“… Begitu ya, jadi bahkan di depanku, kau bisa bersikap seperti itu…”

… Raja Iblis Agung, Kanon.

Penguasa Iblis terkuat yang berkuasa atas Wrath dan kehancuran.

Dengan kapasitas ingatanku yang sedikit kalah saat dibandingkan dengan manusia, itu adalah satu dari beberapa nama yang kuingat.

Aku membalikkan badanku dengan punggung di bawah, dan menatap naik ke bayangannya.

“Mungkinkah… kau…”

“… Ku… kau tidak berubah sama sekali, Leigie. Bahkan saat kita bertemu untuk pertama kalinya sejak lama… Well, baiklah. Biarlah. Benar, aku adalah orang yang membebaskan dunia yang kau segel.”

“… Dengan mengubah malam menjadi siang!? … kapan kau mendapat kekuatan semacam…”

Betapa mengerikannya Skill itu…

Meskipun aku akan tidur tanpa peduli siang atau malam, jika aku harus bilang, aku adalah seorang manusia malam. Itu adalah musuh alamiku.

Aku menutupi mataku dengan lenganku untuk menghalangi cahaya mentari.

“T-tunggu. Apa yang sih kau bicarakan?”

Dengan lenganku yang tak cukup untuk menghalangi semuanya, aku menggulingkan tubuhku ke dinding, dan menutup mataku lagi.

Sekarang aku akhirnya bisa beristirahat.

… Tidak, jika kau memikirkannya dengan tenang, aku telah melakukan itu saja cukup lama…

“Tidak, bukan apa – apa…”

“Tidaktidaktidak, mana mungkin bukan apa – apa! Ku mengapa Leigie-niisama selalu seperti ini!”

Suhu ruangan naik seketika.

Cukup panas. Untuk mendapat keteduhan sebanyak – banyaknya, aku menekankan tubuhku ke dinding.

Kanon dengan menjengkelkan menurunkan tongkatnya ke tanah, mengeluarkan suara yang cukup membawa nostalgia.

“… Dan apa urusanmu… Kanon dari Kehancuran?”

Jawaban pertama yang datang untuk pertanyaanku adalah suara lantai yang remuk.

Apa sih yang membuat gadis ini begitu marah…

“Urusan apa… katamu? Leigie, kau… apa kau bahkan mengerti apa yang telah kau perbuat?”

“Tidak.”

Aku Sloth. Mustahil aku akan melakukan apapun.

“Ku… ah, baiklah. Baiklah. Leigie. Pria seperti itulah kau. Biarkan aku memberimu sebuah penjelasan spesial tentang apa yang telah kau langsungkan.”

“Tidak, aku tidak benar – benar tertarik.”

“Diamlah dan dengarkan!”

Bola api seukuran kepalan tangan yang tak terhitung jumlahnya menumbuk tubuhku. Aku tidak terluka sedikitpun.

Entah mengapa, aku cukup sering diserang oleh Iblis Wrath, sehingga dari banyak ketahanan yang kumiliki, ketahananku terhadap api adalah yang terbesar.

“Dengar, Leigie-niisama. Kau… kau membekukan total seluruh wilayah yang telah dianugerahkan padamu! … dalam es abadi yang tak akan pernah mencair secara alami.”

“… Gitu.”

Kesedihanku, keputusasaanku lebih tinggi dari gunung, lebih lebar dari langit, dan lebih dalam dari samudra.

Itulah artinya.

Well, untuk sementara, aku akan minta maaf.

“Itu tidak kusengaja, tolong maafkan aku.”

“… Maaf!? Kau pikir berapa tahun yang diperlukan untuk mencairkan tanah yang membeku?”

“…”

Mana mungkin aku bisa tahu sesuatu seperti itu.

Memikirkan tentangnya tidak berguna, jadi aku menyerah, dan berguling kesana kemari. Aku tidak punya bantal untuk digenggam, jadi lenganku merasa kelewat kesepian.

Tongkat kanon menusuk lengan bajuku. Aku terus berguling kesana kemari tanpa peduli, jadi  tepi bajuku robek.

Aku melihat kosong sang Raja Iblis Agung.

Rambut kirmizi yang menyala – nyala, dan mata merah darah layaknya darah merpati. Raja Kehancuran.

Serius, apa sih tujuannya datang kemari?

“Kanon.”

“… Diamlah. Bicara padamu menguras energiku.”

“… Apakah kau adikku?”

“!? … Ah!”

Wajah Kanon merah padam. Aku merasakan Wrath darinya.

Aku seharusnya tidak memiliki saudara kandung. Sekarang dan dulu.

… Tidak, mungkinkah aku telah melupakan mereka? Kalau dipikir – pikir, mungkin mereka ada.

“L-Leigie… apa yang kau pikirkan sekarang kemungkinan salah.”

“… Gitu.”

Lalu kenapa aku seorang niisama?

Aku menutup mataku, dan mulai berpikir, tapi itu menjadi merepotkan, jadi aku menyerah. Itu tidak begitu berarti.

Panggil aku apapun sesuka hatimu.

“Ahem.”

Kanon membersihkan tenggorokannya dengan canggung, dan menekuk pinggulnya untuk menyamai ketinggian mataku.

“Leigie, aku datang untuk membereskan masalah yang kau buat. Tidak, awalnya, aku datang karena sebuah laporan bahwa Heard akan mencampakkan jendral – jendral pasukanmu, tapi… menemukan seluruh wilayahmu tertutup es tidak kusangka…”

Lebih tidak disangka buatku bahwa kau datang secara pribadi untuk alasan sesepele itu.

Apakah sang Raja Iblis Agung hanya bosan? Tolong bagi keberuntungan baikmu denganku.

“Mengapa kau menyegel wilayahmu, Kastil Bayangan, orang – orangmu dalam es? Mengapa Leigie-niisama, yang menyerahkan segalanya pada Heard Lauder, dan tidak pernah bergerak aktif melangsungkan sesuatu seperti ini pada saat ini?”

“…”

Apapun dan segalanya tidak berarti. Berbicara merepotkan.

Tapi jika kau memaksaku untuk mengatakannya, apa yang menyegel mereka mungkin memang aku, tapi itu bukanlah aku.

Yang kubekukan secara aktif hanyalah Lize, dan kepala-emas itu, dan pria yang satu itu yang telah melayaniku sejak lama.

Sisanya… sekedar menerima efek samping Melancholia.

Mereka membeku begitu saja karenanya. Mereka tidak mampu menahan fakta bahwa aku ada di sini.

Aku tak peduli tentang sekelilingku, tapi kebenaran itu pasti sangatlah menyedihkan.

“Leigie-niisama, kudengar Ayah ada dalam asuhanmu dulu, ayahnya Ayah juga, dan bahkan ayah yang sebelumnya yang ada dalam asuhanmu. Aku sendiri, saat aku masih kecil, aku sadar bahwa kau sering menjagaku. Jadi jika mungkin, aku tidak ingin mencampakkanmu.”

“Terimakasih?”

“Sama sam… s-salah. Aku tidak mencari terimakasihmu! Pasukannya milikmu, niisama, dan bukannya aku datang untuk menanyaimu apa yang akan kau lakukan setelah kehilangan jendralmu atau apa. Pembekuannya, dan skill yang kau gunakan yang aku tidak punya ingatan tentangnya, saat ini, itu tidak begitu berarti. Segala yang ingin kutanyakan hanyalah satu, sebuah pertanyaan sederhana…”

Kanon memiliki ekspresi serius seraya menatap mataku. Seakan jawabannya terbaring di suatu tempat jauh di dalam mataku.

Tapi itu kemungkinan sebuah kesalahan. Aku yakin mataku sekosong biasanya. Mencarinya di dalamnya buang – buang waktu.

“Niisama… apa kau berencana memberontak melawanku, melawan Kanon?”

Kata – kata itu memicu kilas balik yang jelas dari kedalaman kenanganku.

Kanon dari Kehancuran.

Dia yang mampu melukaiku, seorang Iblis Wrath langka yang mengkhususkan diri dalam kekuatan serang.

Tidak peduli musuh atau kawan, semua yang menyentuh Wrathnya hangus menjadi abu; sang Raja Kehancuran.

Dan itu adalah sesuatu dari beberapa waktu lalu. Kekuatannya sekarang seharusnya lebih kuat dari dulu.

Bahkan mungkin cukup hebat untuk menembus Slothku.

Betapa… merepotkan.

Aku putus asa.

“Ap… niisama!?”

Kanon buru – buru mendongakkan wajahnya.

Pada rambut mengkilap indahnya, dan matanya yang seperti batu rubi, dan lainnya, sebuah lapisan tipis es terbentuk.

“Mungkinkah… kau benar – benar berencana melawanku!?”

Api menari, dan membungkus sosoknya. Melalui api kirmizi yang meliuk – liuk, aku melihat ekspresi kaget.

Es itu mencair dan menghilang seketika. Api untuk mencairkan es. Artinya ini adalah apa yang mencairkan es di negeri ini, bukan?

Alis Kanon terangkat sejenak, sebelum kembali turun. Dia bicara, seakan untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Tidak… itu salah. Mustahil seorang Penguasa Sloth akan melakukan sesuatu semerepotkan itu… benar, dari semuanya, niisama tidak akan melakukan apapun yang memerlukan aktivitas sebanyak itu.”

Jalan pikirannya aneh. Mengapa semua orang terus bilang begitu aneh bagi Sloth untuk bergerak.

Itu salah. Alasan aku tidak bergerak adalah, dengan mempertimbangkan manfaat bergerak, dan manfaat tidak bergerak, yang kedua menawarkan keunggulan strategis yang lebih tinggi.

Demikianlah, jika seorang musuh datang, aku akan bertarung, dan jika akhirnya bergerak akan menghilangkan hal – hal merepotkan dengan lebih mudah, aku akan bergerak. Di Tokyo, aku akan mati jika aku tidak bekerja, jadi aku bekerja. Singkatnya, segalanya… bergantung pada situasi.

Kelihatannya di antara Iblis Sloth, banyak yang akan membiarkan diri mereka sendiri dihancurkan dalam diam.

Mungkinkah mereka idiot? Lawan, man. Apa kalian menganggap diri kalian kerang atau semacamnya?

Tidak, bahkan seekor kerang akan melawan.

Khususnya, Melancholia menawarkan kekuatan ofensif kepada Acedia yang defensif. Seakan untuk menawarkan melancholy itu, depresi gelap itu kepada orang lain. Ia menutupi titik lemah Sloth dengan cukup baik.

Aku mengulurkan tanganku, dan menyentuh tangan Kanon.

Pada gerakan itu, gerakan Kanon terhenti.

… Begini saja.

“Freezing Grave.”

“Eh…?”

Kanon mengeluarkan suara bodoh, sebelum tersegel di dalam peti mati es dengan posisi yang sama dengan posisinya sebelum membeku.

Ekspresinya sedikit tak berdosa, dan sulit untuk memikirkannya sebagai sang Raja Iblis Agung, penerima kekaguman semua orang.

Bahkan jika kau memanggilnya sang Raja Iblis Agung, dia hanya selevel ini.

Dan darinya, aku merasakan kesedihan. Aku menghela nafas.

Apa jadinya dunia ini.

“Hah… betapa menyedihkan…”

“Wai… A-apa apaan yang kau lakukan! K-kanon-sama!?”

Lize, yang baru saja masuk melalui pintu, buru – buru lari ke arah Kanon yang tersegel.

Dia menyentuh es transparan berkualitas tinggi yang menyelubungi sang Raja Iblis Agung yang terhenti. Wajahnya yang sesak melihat turun ke arahku.

“Leigie… dari Sloth. Apa – apaan… ini penipuan. Bahkan dia yang menguasai kehancuran dan api, Kanon-sama… bahkan jika itu tadi serangan kejutan, dalam sekali serang!? Penguasa Sloth, mengapa kau terus merendahkan dirimu menjadi Tingkat Ketiga!!?”

“…”

Betapa merepotkan.

Aku tidak menginginkan status. Aku tidak berencana menjadi Raja Iblis Agung, dan aku tidak membutuhkan dunia. Jika aku bisa terus hidup tanpa kekuatan, maka aku bahkan tidak butuh kekuatan.

… I merely ask for a rest deeper than all.

… Aku sekedar meminta istirahat yang lebih dalam dari segalanya.

Suasana hatiku menurun. Tiada yang berarti.

Adalah Sloth berdampingan dengan Melancholy. Kekosongan adalah kebenaran, dan depresi.

Itulah dambaan yang kukuasai.

Kebejatan dan kepasrahan, pelarian dan kebusukan, penangguhan dan stagnasi, kelembaman dan patah hati.

Inti Jiwa Melancholy yang telah tumbuh di dalamku suatu hari atau lainnya menutupi tubuhku dalam kekuatan dingin dan mengerikan.

Sesuatu seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Apa karena Slothku telah meredup, atau mereka tidak seimbang? Well, itu adalah hal lain yang tak berarti.

Apa yang sudah maka sudah. Kekuatan yang telah mengalir keluar sekali, seakan bendungannya telah jebol, menenggelamkan segalanya ke dalam neraka depresi.

Menjawab perasaanku, es menyebar, dan benteng yang telah dicairkan Kanon membeku sekali lagi. Uap lembap memadat, dan udara menjadi dingin.

Api Wrath yang buru – buru Lize keluarkan membungkus tubuhku, tapi tanpa mampu menembus ketahanan Slothku, mereka lenyap tanpa memberiku satu luka pun.

Dalam dunia menyebalkan ini, setidaknya sedikit ketenangan dan kedamaian.

Aku memanifestasikan sebuah bola cahaya putih seukuran kepalan tangan di telapak tanganku.

Ini adalah Skill yang kupakai untuk pertama kalinya, tapi aku bisa mengerti. Kekuatan yang datang darinya tidak bisa dibandingkan dengan yang sebelumnya. Skill – skill Melancholy bahkan tidak bisa menyelamatkan Penggunanya dari menjadi bagian dari target mereka.

Kupikir bahkan aku akan terkunci dalam es yang takkan pernah mencair. Tapi aku tidak akan mati karenanya. Mungkin itu baik, dalam dan dari dirinya sendiri.

Oh dunia, jatuhlah ke dalam penangguhan bejat.

Bola cahaya itu mengeluarkan kilatan keperakan seraya menyebar.

Sekarang silakan tidur.

『Absolute Requiem』

“Tunggu… ti…”

Lize, yang mencoba menyebarkan api, tersedot masuk oleh kekuatan, dan membeku dalam sikap yang sama.

Anak – anak panah yang mengalir keluar dari bola cahaya yang bergerak naik menyebar ke dunia layaknya bintang jatuh. Jangkauannya jauh melampaui bentangan Zonaku.

Di mana pun panah itu menempel, udara dingin yang tersebar di sekitarnya secara otomatis mengambil alih wilayah itu tanpa suara, dan merubahnya menjadi sebuah dunia putih.

Tidak memakan waktu lama bagi semua benda bergerak untuk hilang dari dunia.

Bukannya aku bisa merasakan di luar Zonaku, sih, tapi pengaruhnya seharusnya terbentang melampauinya.

Satu – satunya hal yang tidak kuduga adalah…

“… Jadi ketahanan Slothku adalah yang lebih kuat di antara keduanya…”

… Dalam sebuah dunia dimana segala ciptaan ditidurkan tanpa pandang bulu, aku adalah satu – satunya yang tidak mengalami efeknya.

Well, maka biarlah.

Kalau begitu, maka aku hanya akan tidur seperti biasa.

Sendirian, dalam kesunyian, aku akan tidur dengan tenang.

Saat aku akan menutup kedua mataku, aku menyadari.

Kelihatannya dunia tidak akan membiarkanku tidur semudah itu.

“… Aku. Paham… aku paham, aku mengerti, niisama. Tujuanmu adalah…”

“…”

Es yang mengunci Kanon telah mencair dalam diam. Sosok langsing sang Raja Iblis Agung terbungkus selapis panas membara yang tipis. Itu adalah panas yang bahkan melampaui Melancholy-ku.

Tapi di matanya, tidak ada amarah. Wrath Kanon hanya ditujukan pada musuh.

Apa dia belum melihatku sebagai seorang musuh? Well, itu benar. Aku tidak punya musuh.

… Tidak punya kawan juga.

Untuk lari dari kenyataan, aku memalingkan wajahku.

Tapi betapa merepotkan.

Dia memecahkannya. Segel es itu.

Jadi dia bisa memecahkannya sendiri. Kekuatanku.

Sesuai dugaanku, Wrath adalah kekuatan untuk berurusan dengan Sloth dan Melancholy. Aku sendiri tidak punya musuh, tapi Wrath bisa dibilang sebagai musuh alami dari kedua Dosa yang kukuasai, kurasa.

“Niisama… kau hanya ingin tidur, bukan?”

Kedua mata itu terisi dengan belas kasihan. Sebuah suara jernih.

Tiada yang begitu berarti.

Dan niisama, niisamanya mulai menyebalkan. Dia tidak punya niatan untuk menghilangkan kebiasaan itu, ya.

“… Niisama…?”

“I-itu tidak berarti sekarang, bukan!? Ah, sial. Mengapa setelah semua ini, aku tidak merasakan kebencian atau nafsu membunuh sedikit pun darinya!? Niisama selalu… menumpulkan Ira-ku.”

“… Gitu.”

Jika rasanya seperti itu buatmu, maka itu karena aku tidak memiliki kebencian atau nafsu membunuh saja.

Hingga sekarang, aku belum pernah membunuh orang lain atas kehendak nyataku. Mungkin, seharusnya begitu.

Maksudku, untuk menghabiskan hari – hariku dalam Sloth, aku tidak perlu membunuh orang lain.

Setelah pulih total, Kanon menusukkan tongkatnya ke tanah. Tubuhnya tidak memiliki cedera.

Dan setelah ragu sejenak, dia membuat sebuah pengumuman dengan suara jernih.

Nadanya memiliki kemauan yang kuat di dalamnya. Seperti Api Wrath yang dia kuasai, dengan energi terang benderang, kekuatan selevel yang aku bisa mengerti mengapa dia adalah sang Raja Iblis Agung.

Dan ajaibnya, itu adalah apa yang Serge miliki, dahulu kala.

“… Leigie dari para Slaughterdolls… Sebagai sang Raja Iblis Agung, aku nyatakan. Kau adalah seorang Penguasa Iblis yang gagal. Meskipun kau seorang Iblis, melakukan sesuatu sekotor membekukan wilayahmu sendiri, dan menutupinya dalam es dan salju adalah sesuatu yang sulit dimaafkan.”

“… Gitu.”

“Sebagai hukuman… peringkat niisama akan diturunkan ke tingkat terendah.”

“… Gitu.”

“Wilayahmu juga akan disita. Semua yang akan tetap kau miliki adalah Kastil Bayangan ini.”

“… Gitu.”

Sejak awal, itu semua tidak perlu buatku. Aku tidak memiliki perasaan khusus buatnya.

Peringkat dan tempat, berikan itu kepada seseorang yang pantas yang benar – benar menginginkannya.

Tanpa suara, api keemasan mengalir keluar dari tongkatnya. Apinya tidak panas. Tapi es di Benteng mencair, dan ia menyentuh semua tanah seraya menyebar. Volume kekuatannya pantas sebagai sang Raja Iblis Agung. Aku merasakan kekuatan yang menyamai atau melampaui si Penguasa Iblis yang kuperangi beberapa waktu lalu.

Dalam suara yang diwarnai dengan kelelahan, tapi tanpa membiarkannya menyebar ke ekspresinya, Kanon meneruskan.

“Wilayah yang disita akan menjadi milik Penguasa Iblis baru, Heard Lauder… Sang Kaisar Angkuh… kupikir tidak akan aneh jika dia menjadi seorang Penguasa Iblis sewaktu – waktu, tapi memang membutuhkan waktu yang cukup lama ya. Itulah seberapa kuat dia bangun 『Superbia』nya, kurasa…”

“… Yeah…”

Tepat sekali. Itulah bagaimana seharusnya. Bukannya aku benar – benar tahu.

Dia adalah seorang Iblis yang mampu mengimbangiku tahun demi tahun. Tidak ragu lagi jalan hidupnya di atas Iblis – Iblis lain.

“Jadi tidurlah dalam keheningan, Penguasa Sloth.”

“Yeah.”

Aku akan melakukan persis seperti yang kau bilang.

Dan di sana, aku menutup mataku dengan tenang. Dalam kesadaranku yang tenggelam, rasanya seperti aku mendengar suara sang Raja Iblis Agung…

… Sesuatu yang baik pasti akan terjadi esok hari.

Part 4: Iyo

Dan sekali lagi, kehidupan sehari – hariku berlanjut.

“Leigie-sama, waktunya makan.”

“Yeah…”

Aku memakan hidangan yang dibuat Lorna, dan membiarkannya membersihkan kamar.

Setelah kamar sudah dibersihkan, dia merapikan tempat tidur, dan sementara itu, aku tidur sejenak di kursi berlengan.

Jiwaku damai, dan aku hampir tidak memiliki stres sama sekali.

Tanpa perlu bekerja, bahkan musuh yang dulunya menginvasi secara rutin berhenti datang. Benar – benar bagus.

“Eh? Hya…? L-Leigie-sama… ini…”

Tapi hari ini, Lorna mengeluarkan jeritan yang langka.

Dia telah membuka selimut, dan raut wajahnya menjadi kaku. Tubuhnya telah membatu dalam posisi itu.

Tidak, ini bukan kerjaan Melancholy-ku.

Di atas ranjang terdapat seorang gadis kecil. Sudah begitu telanjang bulat.

Sembari memeluk bantalku, dia tidur dengan raut wajah damai.

Aku tidak tahu namanya.

“M-mengapa Medea… dalam ranjang Leigie-sama…”

“… Mana kutahu.”

Tidak, aku punya ingatan samar tentang dia masuk, tapi aku tidak tertarik, jadi kubiarkan saja dia.

Bukannya dia akan melukaiku, atau melakukan apapun, dan besar ranjangnya lebih dari cukup. Aku tidak punya alasan untuk menolak. Tidak, tunggu, itu merepotkan.

Aku tidak tahu alasannya, tapi pergilah kemana pun kau suka.

“Medea? Medea! Wai… bangun!!”

“Nyaa…”

Setelah diguncang ke kiri dan kanan, si Iblis perempuan bernama Medea membuka matanya dengan susah payah.

Matanya cukup keruh dan stagnan. Ia mengusapnya dengan mengantuk.

“… A … apa?”

“J… jangan apa-kan aku! M-m-mengapa kau berada di kamar Leigie-sama…”

“Aku sebuah bantal. Itu saja. Ngantuk. Malam.”

“Hah? Wai… bangun~!”

Sosoknya yang memeluk bantal kembali seraya mencoba tidur tak lagi memiliki sekeping pun harga dirinya sebagai seorang Iblis.

Lorna mencoba mengguncangnya lagi, tapi kali ini dia tidak menunjukkan tanda – tanda akan bangun. Dan dari tubuhnya, aku merasakan kehadiran yang dalam dan tenang.

Itu adalah satu yang sangat kukenal.

Itu tak lain dari kekuatan 『Acedia』.

Dan selama itu benar, aku ragu Medea akan bangun dalam waktu dekat.

Sloth memberikan bonus pada tidur. Tidak, bukan Ketahanan, hanya saja…

“Lorna, biarkan saja dia.”

“Eh? A-apa kau serius?”

“… Yeah.”

Aku mampu memahami perasaan Iblis Sloth dengan terlalu baik.

Membangunkannya secara paksa tidak akan berhasil. Dan bukannya dia menyebabkan masalah apapun.

Setelah mengalihkan pandangannya di antara aku dan Medea untuk beberapa saat, Lorna akhirnya menghela nafas dalam.

Itu adalah ekspresi yang cukup langka darinya.

“Dimengerti. Leigie-sama… tapi saya pikir, bagi seorang pria dan wanita yang tidak menjalin hubungan untuk tidur dalam ranjang yang sama, saya tidak bisa merekomendasikannya…”

“Gitu.”

Iblis ini benar – benar mengatakan hal – hal etis.

Well, aku tidak memiliki keberatan tertentu terhadap kata – kata itu. Aku tidak mengiyakan juga, tapi bagiku, sebenarnya itu adalah sesuatu yang tak begitu berarti.

“Aku akan membawa Medea ke ranjang kamar lain. Apakah boleh?”

“… Yeah.”

Itu adalah ekspresi yang mendirikan bulu kuduk yang tidak bisa kubilang berasal dari makhluk hidup.

Dia tidak mengeluarkan kemarahan bagaimana pun juga, tapi kata – kata langkanya yang didasari sebuah kemauan kuat membuatku mengangguk saat itu juga.

Seperti membawa sebuah bungkusan besar, dia memanggul Medea yang tak bergerak, dan membungkuk sebelum meninggalkan ruangan.

Pasti sulit, menjadi seorang pelayan.

Sembari mempertimbangkan hal – hal semacam itu, aku menenggelamkan diriku ke kursi.

Ini adalah kursi baru yang dikirim oleh Kanon. Yang sebelumnya terlalu banyak mengalami kerusakan terkait es, dan menjadi tak bisa digunakan, tapi yang satu ini tidak buruk juga.

Dan pada saat itu, pintu terbuka, dan Iblis lain lagi melangkah masuk. Ini adalah kejadian sehari – hari.

Seorang Iblis yang menguasai Wrath, dan yang kelihatannya mengawasiku: Lize Bloodcross.

Aku tidak mengerti apa yang begitu menyenangkan tentang mengawasiku, tapi jika kau hanya akan mengawasi dengan tenang, maka awasilah sesuka hatimu.

“Leigie-sama, jadi kau bangun…”

“Yeah.”

Dia biasanya bergerak kesana kemari dengan semangat yang besarnya mengejutkan, tapi kini, di wajahnya, terdapat tanda – tanda kelelahan yang langka.

Dan seakan tubuhnya roboh, dia menurunkan tubuhnya ke kursi di samping meja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia merosot turun.

“… Kau tampak lelah.”

“… Ya. Mengawasimu dan Heard Lauder sekaligus akan mematahkan tulang – tulangku suatu hari nanti…”

Gitu. Kelihatannya dia ditugaskan dengan dua subyek kali ini.

Turut berduka cita.

“… Bolehkah aku mengeluh?”

Lakukan apapun yang kau inginkan. Aku ragu ada artinya mengeluh padaku, tapi setidaknya aku akan diam dan menyimak kata – katamu.

Bukannya akan kuambil hati, dan alih – alih menyimak, kata – kata itu hanya akan memasuki telingaku, sih.

“Heard Lauder itu adalah seorang monster. Mungkin lebih dari Leigie-sama… dan sudah begitu, dia terlalu banyak bergerak kesana kemari. Meskipun dia baru saja menjadi seorang Penguasa Iblis, dia telah berhasil membinasakan seluruh Penguasa Iblis yang menginjakkan kaki di wilayahnya tanpa kegagalan… Bahkan jika mereka mungkin hanya berniat untuk mengusiknya sedikit, dia secara pribadi berangkat ke markas musuh, dan meluluhlantakkan mereka.”

“…”

“Sudah begitu, dia kelihatannya asyik mencari kesempatan untuk mengincar leher Kanon-sama… dia tidak pernah memberiku sesaat pun untuk beristirahat. Apa kau tahu berapa inspektur yang telah diutus ke tempatnya? Sepuluh. Sepuluh orang! Bahkan jika Pride adalah yang paling berbahaya dari sifatnya… ini keterlaluan. Seakan – akan aku bisa melihat kecemasan di wajah Kanon-sama sendiri…”

“…”

“Dan dia sangat berisik, memprotes untuk membuatnya meningkatkan peringkat Leigie-sama.”

“…”

“Maksudku, dalam sekejap, dia meng-overrule seluruh Iblis di atasnya, dan dia sudah menjadi Peringkat Satu.”

“…”

“Untuk Leigie-sama yang tak bergerak, hanya ada sedikit sekali yang bisa kulakukan untuk menginspeksi, tapi mempunyai sebanyak ini untuk dilakukan benar – benar merepotkan…”

“…”

“…”

Gitu. Kau kesusahan.

Maka kau tidak benar – benar wajib untuk datang mengawasi di sini, tahu.

Maksudku, aku tidak memiliki musuh, dan aku tidak melakukan apapun selain tidur. Aku bahkan tidak bergerak.

Meskipun aku tidak mengatakannya, seakan dia merasakan kemauanku, dia mengarahkan senyum lelah dan kaku ke arahku.

Kekuatan yang kurasakan dari tubuhnya tidak bisa ditandingi oleh Lize dari ingatan tertuaku akan dirinya. Kekuatannya benar – benar bertambah.

“… Tidak, aku hanya di sini untuk beristirahat sejenak, jadi…”

“… Gitu.”

Maka lakukanlah apapun yang kau mau.

Jika kau tidak akan menghalangi tidurku, maka aku tidak peduli apapun yang kau lakukan.

Tidak, jika ada sesuatu yang kau miliki yang bisa menghalangiku, maka coba saja.

“… Aku akan bertanya untuk berjaga – jaga, tapi apakah ada masalah di sisimu?”

“… Tidak.”

“Begitu… kedengarannya benar.”

Wajahnya lega.

Itu adalah sebuah kebohongan. Hanya ada satu, sebenarnya bukan masalah sungguhan, tapi sedikit perubahan. Sebuah perubahan telah terjadi kepada diriku yang stagnan.

Aku baru menyadarinya baru – baru ini. Aku tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi, tapi kemungkinan itu terjadi setelah aku dilucuti dari wilayahku, dan aku kembali ke kehidupan tenangku.

Kenyataannya, aku bukan seorang Penguasa Iblis lagi.

Kelas: 『Dewa Jahat』

Kelas Penguasa Iblisku telah berganti, dan itu adalah yang menggantikannya.

Aku tidak pernah terpikir itu yang muncul setelah Penguasa, dan Dewa Jahat bahkan bukan sebuah posisi pemerintahan lagi.

Well, bahkan jika kelasku berubah, apa yang akan kulakukan tetap sama.

Aku hanya hidup dengan ada sebagai diriku apa adanya. Hingga kini, dan mungkin sejak saat ini juga.

Sampai suatu hari seseorang membinasakanku.

Untuk mengalihkan topik, Lize bicara.

“… Ngomong – ngomong, baru – baru ini ada seorang yang kuat di antara para Assassin yang dikirim oleh Surga untuk memprovokasi Dunia Iblis.”

“…?”

Terus?

Seakan merasakan perubahan dalam pemikiranku, Lize menggelengkan kepalanya.

Aku bahkan tidak perlu mengeluarkan kata – kata lagi. Kemampuan persepsi untuk memahami segalanya. Lize adalah eksistensi yang cukup sulit-didapat buatku.

“Tidak, well… kelihatannya mereka memiliki kekuatan yang mengerikan untuk bahkan mampu membinasakan mereka dari Kelas Penguasa Iblis… ditambah lagi, mereka bisa menggunakan sayap mereka untuk melayang menembus langit. Mobilitas mereka tinggi, jadi mungkin bahkan Heard yang itu akan membiarkan mereka lolos. Saat ini, Kanon-sama sedang menyiapkan tindakan untuk berjaga – jaga, tapi kupikir setidaknya aku akan menyebarkan apa yang telah menjadi pengetahuan umum…”

“Seorang malaikat yang cukup kuat untuk membunuh Penguasa Iblis…”

Itu memang eksistensi yang mengerikan.

Pertama, kekuatan seorang Malaikat adalah musuh alami para Iblis. Sihir yang berhembus di Dunia Iblis dikatakan memberikan peningkatan kemampuan seorang Iblis secara drastis, tapi meski begitu, ada malaikat – malaikat yang cukup kuat untuk membunuh para Iblis berulang kali. Itu merepotkan. Itu juga alasan mengapa, meskipun Surga terkadang menginvasi Dunia Iblis, para Iblis jarang naik dan menyerbu Surga.

Pada kata – kataku, Lize memerosotkan tubuhnya ke meja, dan mengalihkan kepalanya untuk melihatku.

“Bukan, bukan Malaikat… Well, mereka masih digolongkan sebagai malaikat, tapi… apa kau tahu tentang 『Valkyrie』?”

Tidak. Belum pernah dengar.

Well, aku mungkin pernah mendengar kata itu sekali dua kali di kehidupanku sebelumnya, tapi… itu adalah istilah dari genre fantasi, kupikir.

Pada tingkah lakuku, Lize menghela nafas.

“『Valkyrie』adalah satu wujud Malaikat, dan sebuah unit tipe khusus yang datang saat sang 『Einherjar』 dipanggil ke Surga untuk mengalami aberasi. Dibandingkan dengan para Iblis dan Malaikat yang mengumpulkan kekuatan tahun demi tahun, mereka terlahir dengan pengalaman bertarung yang sangat banyak, jadi mereka bisa jadi cukup merepotkan… well, seharusnya pejuang gugur yang mampu merobohkan seorang Penguasa Iblis tidak sebanyak itu, sih…”

Hmm, jadi ada hal – hal seperti itu.

Bagus buat mereka.

Melihatku tidak memiliki motivasi sama sekali, Lize mengangkat bahunya.

“Sang Pedang Silver Blue, Serge Serenade. Dia dipastikan sebagai 『Valkyrie』 terkuat hingga kini. Kupikir akan baik jika kau setidaknya menyimpan nama itu di memorimu.”

“… Yeah.”

Nama yang tak terduga. Aku mencoba mengangkat tubuhku untuk sesaat, tapi tubuhku tak mau bergerak, jadi aku menyerah.

Tapi jalannya berbagai pertarungan yang telah lalu timbul kembali di kepalaku sekaligus.

Aku tak percaya. Mengapa dia masih hidup?

Sialan. Jadi tidak seperti Jepang, yang Mati bisa kembali untuk menghantuimu di dunia ini.

Bahkan kematian bisa dibalikkan. Tidak, kali ini mungkin sedikit berbeda dari pembalikan, tapi bagaimana pun kejadiannya, Fantasi apa ini.

Aku melihat kelasku sekali lagi.

『Evil God』

Kemungkinan itu adalah kelas tertinggi yang mampu diraih seorang Iblis.

“? Kau tampak senang.”

“… Tidak.”

Tapi biarlah.

Aku akan menunggumu di sini tak peduli berapa lamanya. Itu adalah bidang keahlianku, dan mungkin, sebagai seorang Penguasa Iblis, sebagai Boss Terakhir, kewajibanku.

Bisakah kau menandingi sang Dewa Jahat?

Tunjukan padaku sosok gagah beranimu.

Iyo.

Puas, aku menutup mataku. Aku segera terlelap.

Aku adalah sang Penguasa Kebejatan.

Yang hidup hanya dengan berada di sana, seorang Raja Tiada Guna.

Dan aku membawa Kebejatan kepada orang lain, sebuah inkarnasi kejahatan yang akan menenggelamkan seluruh ciptaan tuhan ke dalam jurang keputusasaan.

Saat aku menyadarinya, aku telah mengalami reinkarnasi ke dunia lain.

Aku tetap tidur, dan sampai suatu titik aku menjadi Penguasa Iblis.

Meskipun aku tidak pernah mengharapkannya.

Tetapi karena aku tidak perlu bekerja, dunia ini adalah yang terbaik. Memang benar bahwa hal baik terjadi pada orang baik.

Rasa dari Kemalasan semanis madu. Kejayaan, ketekunan, kebajikan, atau kehormatan. Aku tidak memiliki ketertarikan pada hal – hal semacam itu.

Apa yang harus disembunyikan? Raja pemalas…. tidak lain adalah aku.

Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya