DnO 9 – Rampasan Avaritia

Rampasan Avaritia

Part 1: Baunya Busuk

‘Tu hanyalah sebuah rumor tak berdasar.

Bahwa dalam Dunia Iblis yang luas ini, ada seorang Penguasa Iblis saja yang berkuasa atas kekuatan es dan salju, sebuah kuasa yang tidak ada di antara dosa – dosa asal.

Tiada yang seorang pun yang mampu menentangnya, tapi tanpa memedulikan legiun – legiun para Iblis yang dia buat berlutut, dia sekedar menghabiskan eksistensi kekalnya dalam ketiadaan.

Dan tentang Penguasa Iblis agung itu, para Iblis berbisik, dan bercerita tentang kisah – kisah yang dibesar – besarkan.

… Tentang sang Raja Pemalas.

Melihat si Iblis muda bicara dengan gugup seakan – akan setiap kata yang ia katakan benar adanya, aku mendengus.

“Ki ki ki, cerita yang sungguh tak berarti…”

Sebuah piala yang terwarna merah darah.

Aku meminum seluruh cairan kental di dalamnya dalam sekali teguk. Itu adalah sebuah anggur setan yang dibuat untuk menganugerahkan keadaan mabuk kepada Ras Iblis, meskipun ketahanan terhadap abnormalitas status mereka yang tinggi.

Rasanya seakan cairan itu mengeluarkan panas yang membara sembari mengalir turun di kerongkonganku.

Panas itu menjadi kekuatan, sembari mengembang ke setiap sudut tubuhku, keenam tanganku dan semuanya.

“Tetap saja, Deije-san. Aku benar – benar serius di sini. Kau ‘dah dengar tentang bagaimana tanah Penjara Gelap tersegel dalam es, kan? Sungguh, Penguasa Iblis Superbia yang memanjat naik ke peringkat satu itu dikatakan mengalami peningkatan kekuatan untuk menahannya, atau semacamnya…”

“Apa benar… Ki ki ki komandanku benar – benar telah menjadi congkak, ya…”

Tentu saja, bukannya seorang pembelot sepertiku benar – benar menyaksikan apapun.

Tapi dari situasi saat ini, aku memiliki hipotesis yang bagus. Aku mampu memperhitungkannya.

Avaritia-ku nyeri.

Dan seakan untuk menahannya, aku mulai meminum habis isi piala yang disuguhkan padaku lagi.

Seorang Iblis tingkat tinggi, untuk argumen, sepertiku tidak akan menjadi mabuk berat akibat meminum sesuatu seperti ini, dan selama aku menghendakinya, aku bisa menghilangkan keadaan mabukku dalam sekejap.

Mataku yang tercermin di anggur yang dipoles dengan baik itu berkilat penuh hasrat.

Ki ki ki, inilah mengapa Greed tak ada gunanya.

Sesuatu berbau busuk. Busuknya bukan main. Aku mendapat firasat buruk yang mengaduk – aduk bahkan sampai kedalaman jiwaku.

Itu adalah atmosfer yang sama yang kurasakan sebelum perang hitam dan putih yang pecah sepuluh ribu tahun lalu. Hal itu mengalir. Medan akan berubah di depan mataku.

Ini pasti sesuatu yang tak bisa diungkapkan dalam kata – kata, intuisi seorang Iblis yang menghidupi tahun – tahunnya.

Ini adalah bau harta karun, dan bau perang.

Bau kematian, tapi juga bau kejayaan.

Aku memperingatkan juniorku, seorang Iblis yang juga menguasai Greed yang duduk di sampingku.

“Ki ki ki, well jangan kehilangan kesabaran, Zeta Adler. Jangan salah mengenali musuhmu.”

“Salah… mengenali musuhku?”

“Yeah.”

Umumnya, mereka dari ras Iblis semuanya mendahulukan kepentingannya sendiri.

Maka dari itu, kami selalu dikelilingi musuh. Kau bahkan tidak bisa lengah di sekitar pasukan kawan. Itulah tepatnya mengapa kemampuan untuk membedakan teman dan musuh adalah keterampilan yang wajib dimiliki. Tidak peduli seberapa berbakatnya seorang Iblis, mereka akan mati dalam sekejap jika mereka gagal dalam aspek itu.

Musuh kemarin adalah teman hari ini. Teman kemarin, musuh hari ini. Juga penting untuk melihat pihak yang saling bertukar. Mereka yang tak bisa melakukannya, tapi masih bertahan untuk hidup dengan umur panjang antara gila bakatnya, atau mungkin diberkati dengan keberuntungan yang bagus.

“Ki ki ki, tepat sekali. Zeta, bagaimana Raja Pemalas itu terkait dengan kita? Apakah dia… musuh kita?”

“… Bukan, tapi…”

Sebuah naluri untuk berselisih bersemayam dalam watak dasar seorang Iblis. Itu adalah naluri yang kuat. Mungkin itu adalah kekuatan terkuat kedua di dalam kami, setelah dosa kami.

Dan itu terkadang menumpulkan kemampuan untuk membuat keputusan.

“Maka tidak perlu untuk takut padanya, itu saja. Sang Raja Pemalas bukanlah… musuh kita. Aku tidak akan pernah bisa memenuhi Greedku dengan bekerja di tempat yang memusuhiku. Apa aku salah?”

“Kau tidak… salah.”

Zeta mengangguk dengan raut wajah tidak puas.

Tidak apa jika dia belum memahaminya. Jika dia hidup cukup lama, dia akhirnya akan mengerti.

Hanya saja hingga dia menyadarinya, akan baik jika kata – kataku berbekas pada dirinya bahkan jika hanya sedikit.

Meski begitu…

“Raja Pemalas… huh. Apa sih yang kau pikirkan, Boss Leigie… Ki ki ki, ini tak ada gunanya.”

Leigie si Bejat.

Jangankan Kelas Jendral, dia adalah seorang Penguasa berumur panjang yang ada sejak aku bahkan belum menjadi seorang Iblis Kelas Ksatria.

Alasan keberadaannya dapat diringkas ke dalam satu kata. Tiada.

Seorang Penguasa Iblis kukuh yang tak akan mengambil tindakan apapun tanpa mempedulikan zaman. Sebuah eksistensi yang tak berubah. Maka dari itu, tak peduli akan peringkatnya yang tinggi di antara para Penguasa Iblis, hanya beberapa yang mengenalnya, dan mereka yang pernah melihat sosoknya amat terbatas jumlahnya.

Itulah mengapa aku takut.

Lebih dari pengalamannya, aku yakin dia memiliki sesuatu yang tersembunyi pada dirinya.

Dari segala lainnya, dia adalah seorang Penguasa Iblis. Akan aneh baginya untuk tidak memiliki apapun.

Sebelum diberitahu oleh Zeta, aku cukup tahu tentang bagaimana wilayah Boss Leigie telah membeku.

Itu telah menyebar ke seluruh hamparan Dunia Iblis sebagai semacam legenda urban.

Lebih dari setahun telah berlalu, tapi bahkan jika kami masih mendengar tentangnya dari mereka yang bicara dengan tercekat di sudut kedai minum, bagi kami para Iblis yang mengenal eksistensi – eksistensi yang tak dapat dilampaui yang dikenal sebagai Penguasa Iblis, itu benar – benar mustahil.

Itulah mengapa bahkan setelah setahun saja, semua orang bersikap seakan tidak tahu tentang itu.

Juga ada fakta bahwa sebuah ancaman yang lebih pasti menunjukkan dirinya, tapi bukan hanya itu.

Itu mengerikan. Sebuah kekuatan tak dikenal. Bagi mereka yang tahu, dan mereka yang tidak, hanya ada sedikit yang bisa dikatakan tentang kisah itu.

Yang tidak tahu tidak berbicara.

Mereka yang cukup licik untuk mengantisipasi akibatnya menutup mulut. Tentu saja, aku tidak membicarakannya juga.

Di samping Sloth, mayoritas Skill para Iblis sedang mengalami penelitian mendalam. Jika sebuah negeri es dan salju menampakkan diri, maka kemungkinan itu berada dalam Acedia yang belum diteliti besar adanya, dan melihat dari wilayah tempatnya berlangsung, tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa Boss Leigie lah yang melakukannya.

Sebuah Skill skala besar yang dirapal oleh sang penguasa yang diam… perubahan macam apa yang telah terjadi dalam perasaannya, atau keadaan macam apa yang meledak menjadi demikian, aku bahkan tidak ingin tahu.

Mungkin Komandan Tertinggi Heard telah menginjak ekor sang harimau, atau… oh, benar, kini Heard adalah Penguasa Iblis Peringkat Satu, bukan?

Well, hal yang seharusnya kupikirkan bukanlah suatu legenda urban absurd atau apalah. Ada musuh yang jauh lebih pasti di depan mata kami.

Kontras dengan umurnya, Zeta tampak cukup menjanjikan. Berbeda denganku, dia memiliki hasrat yang membuatnya mengambil wujud humanoid. Seorang Iblis laki – laki muda dengan rambut kelabu, dan mata yang berwarna sama.

Meski dia belum mencapai Kelas Jendral, dalam beberapa tahun sejak dia dilahirkan, dia sudah berada dalam peringkat atas Kelas Ksatria. Akalnya menunjukkan prospek yang cukup bagus.

Rekan seorang Avaritia haruslah seorang Avaritia lain, atau seorang Invidia.

Bahkan jika kami memendam dosa yang sama, target kami berbeda. Ada keuntungan dalam berasosiasi. Mungkin afinitas kami bahkan lebih baik daripada dengan Invidia.

“Well, daripada itu, ada sesuatu yang seharusnya kita fokuskan, bukan?”

“Ya… itu benar. Deije-san.”

Zeta melirik ke sekeliling, seakan memperhatikan keadaan sekitar.

Sebuah kedai minum yang sepi pengunjung. Bahkan tanpa musik, hampir tidak ada Iblis lain yang hadir. Sejak awalnya, hanya ada beberapa Iblis di luar sana yang benar – benar minum.

Semua yang ada hanyalah seorang Iblis bartender aneh yang menawari kami minum, dan seorang Iblis kelas rendah menyedihkan yang tidur telentang di atas meja. Keduanya terlalu lemah untuk bahkan dipertimbangkan untuk dibandingkan denganku.

Mungkin karena ketakutan, sebuah senyum congkak timbul di wajah Zeta.

“Para 『Malaikat』 keluar lagi.”

“… Dengan itu jadi berapa kali?”

“Sudah kali ketiga dalam sebulan ini. Jumlah mereka ada lima. Aku mendapat informasi mereka terlihat di Penjara Kirmizi.”

『Malaikat』

Musuh alami seorang Iblis, dan ditakdirkan menjadi musuh bebuyutan mereka.

Garda depan dari percobaan dewa putih itu untuk menginvasi Dunia Iblis.

Kekuatan mereka yang dikhususkan untuk membunuh para Iblis begitu hebat, sehingga dikatakan bahwa mereka terlahir untuk tujuan itu.

Para Iblis menerima kekuatan yang hebat dari tanah Dunia Iblis ini, tapi mereka mampu memberikan perlawanan yang seimbang bahkan dalam miasma ini. Bukannya aku telah jatuh terlalu rendah untuk menumbangkan seorang Malaikat tingkat rendah, tapi itu tidak merubah bagaimana merepotkannya mereka.

Ini karena bawahan – bawahanku tidak sekuat diriku. Mereka akan dimurnikan oleh yang paling rata – rata di antara para Malaikat.

Penjara Kirmizi adalah salah satu wilayah yang dikelola oleh seorang Penguasa yang tunduk pada sang Raja Iblis Agung. Itu adalah sesuatu yang seharusnya sudah menjadi pengetahuan umum bagi para utusan langit itu.

“Jumlah korban jiwa?”

“Mendekati seratus Kelas Ksatria dan kelas lebih rendah…”

“Seratus… ya…”

Kelihatannya para petinggi tidak meluangkan waktu untuk keluar.

Tapi dengan hanya lima yang keluar, aku tidak mengira mereka akan keluar. Para petinggi hanya muncul saat tiba saatnya untuk perang besar untuk pembinasaan.

Waktu itu sepuluh ribu tahun yang lalu juga sama. Awalnya, hanya para Malaikat kelas rendah, kemudian perlahan kelas menengah, dan akhirnya saat para kelas atas diutus, sang Raja memimpin pasukan yang berjumlah beberapa ribu untuk memerangi mereka.

Penguasa Iblis generasi ini bahkan tidak mengetahuinya. Tidak, dia kemungkinan tahu, tapi dia tidak mengalaminya.

Bahkan aku tidak tahu tentang situasi para Malaikat, tapi mungkin mirip. Selang waktu sepuluh ribu tahun bukanlah sesuatu untuk diremehkan.

Bagi Greed, Perang hanyalah sebuah titik balik. Ki ki ki, itu adalah sesuatu yang memunculkan banyak peti harta karun.

Dengan Iblis kelas rendah, dan menengah, dan tinggi, dan bahkan Iblis Kelas Penguasa tewas di sana sini, semuanya mulai mengalir.

Harta karun setingkat itu tersebar di sana sini. Jadi musuh kami bukan hanya para Malaikat. Tepat karena hasrat mereka, Iblis Greed yang serupa bisa menjadi oposisi yang bahkan lebih besar lagi.

Apa yang kuburu… sumber daya yang kuinginkan terbatas. Jika itu memasuki genggamanku, itu tidak akan pergi ke genggaman orang lain. Jika orang lain menjamahnya, itu tidak berakhir di genggamanku.

Ini adalah permainan menjarah. Tentang Malaikat, tentang Iblis, tentang Harta.

Dan kekuatan yang diperlukan adalah sesuatu yang kumiliki.

Libell tidak di sini lagi, tapi sebagai gantinya, aku punya Zeta. Dari sisi pengalaman, Libell datang dari masa yang sama denganku, tapi itu tak bisa dihindari.

Hal pertama yang kami perlukan adalah untuk memahami musuh.

Jumlah malaikat. Kekuatan mereka. Tujuan mereka. Tindakan mereka selalu difokuskan pada tujuan yang lebih besar atau lainnya oleh kehendak Tuhan. Mengetahuinya atau tidak akan merubah kesempatan menang kami.

“Apa jadinya kelima Malaikat itu…?”

“Mereka kabur, kelihatannya. Saat mereka melihat pasukan utama sang Penguasa Iblis, mereka lari.”

“Betapa langkanya bagi sebuah pasukan Tuhan untuk mundur… orang – orang itu seharusnya tetap setia pada doktrin mereka, bahkan jika itu akan berujung pada kematian…”

Malaikat adalah kehidupan kekal yang dibuat dari jiwa. Perasaan mereka tentang hidup tidaklah begitu berbeda dari yang kami miliki, tapi ada satu hukum. Karena mereka hanya mampu bergerak menurut rancangan agung mereka, kekuatan mereka sangat terbatas saat dibandingkan dengan Iblis.

Dan itu semua agar tiap – tiap dari mereka bisa membunuh Iblis sebanyak – banyaknya.

Tapi pola kali ini jelas – jelas berbeda dari biasanya. Betapa merepotkan. Mereka seharusnya hidup saja melihat ke depan.

Apa yang mereka mungkin pikirkan…?

Apakah sebuah tujuan yang lebih penting dari membantai Iblis telah diturunkan pada mereka…?

… Well biarlah. Bagaimanapun, hasilnya sudah ditentukan.

Aku seorang Iblis Greed. Maka hanya ada satu hal yang harus kulakukan.

Kurasa aku bahkan tidak perlu mengatakannya.

Part 2: Makna Greed

Sebagian besar wilayah Dunia Iblis adalah dataran terbuka.

Di samping satu bagian itu, ada beberapa tanjakan dan turunan. Hanya ada tanah yang gersang yang membentang ke segala arah.

Dengan penglihatan seorang Iblis, kita bisa melihat kekosongan yang mengarah ke ufuk tepat di depan mata dengan jelas, tapi di antara kami, hanya ada beberapa yang benar – benar memedulikannya.

Jika kau memiliki waktu luang untuk merenungkan hal semacam itu, lebih baik kau memenuhi hasratmu saja. Itu adalah alasan eksistensi seorang Iblis, dan ukuran kepantasan mereka.

Tapi di saat yang sama, aku mengenal mereka yang telah terlalu lama menguasai wilayah – wilayah ini, memandang bentangan tandus tak berujung. Mungkin itu adalah kedudukan yang akan dituju oleh hidup abadi.

Wilayah Dunia Iblis terbagi oleh kekuatan yang menyinari mereka.

Artinya itu adalah hasil dari pengaruh seorang penguasa yang berkuasa seiring berlalunya waktu, dan wilayah Penjara Kirmizi dulunya di bawah kuasa seorang Penguasa Iblis Wrath yang kuat. Penguasa itu sudah lama binasa, dan disatukan oleh salah satu Penguasa Iblis Pride yang bersekutu dengan Kanon.

Peringkat Empat.

Vanity sang Egois.

Wilayah yang dipimpin oleh sang Iblis botak yang agung, Vanity Seidthroan.

He was a taciturn man, and despite his base Pride, he never bragged. He was also a pure-born soldier who brought others to their knees with his pure might.

Dia adalah seorang pria pendiam, dan kendati dasarnya adalah Pride, dia tidak pernah menyombong. Dia juga seorang prajurit sejati yang membuat orang lain berlutut dengan kekuatannya semata.

Meskipun mereka sama – sama Pride, dibandingkan dengan kedua Penguasa yang dilahap Zebul, dia jauh melampaui mereka dalam kekuatan, dan pelayanan.

Meskipun kami semua adalah bagian dari pasukan Raja Iblis Agung yang sama, aku jarang mendapat kesempatan untuk melihat Penguasa Iblis lain.

Aku hanya pernah melihatnya dari kejauhan, tapi perawakan besarnya yang bahkan melampaui milikku, dan otot – otot hitamnya yang seakan ditempa dari baja… karena Iblis adalah makhluk dari jiwa, penampilan luar dan kekuatan tidaklah proporsional, tapi sayangnya, dengan sekali lirik, aku bisa bilang bahwa dia jelas memiliki bakat untuk menjadi seorang penguasa yang hebat.

Hanya dengan sekali lirik saja, sebagian dari diriku dari dalam jiwaku jatuh ke dalam kekaguman, dan dia adalah tipe yang aku jarang punya kesempatan untuk lihat dalam tahun – tahunku yang melebihi sepuluh ribu tahun. Aku tidak tahu kekuatannya yang sesungguhnya, tapi berdasarkan hawa yang dia bawa, di antara banyak Penguasa yang melayani Raja Iblis Agung, kemungkinan dia di garda terdepan.

Dan sejak awalnya, aslinya dia adalah Penguasa Iblis Peringkat Dua.

Jika ada yang naik peringkat, ada mereka yang jatuh juga.

Fakta bahwa dia turun peringkat saat Boss Leigie naik peringkat tidak terhindarkan, karena pencapaian Boss, tapi secara bersamaan, ada beberapa Iblis yang mempertanyakan apakah dia hanya kalah dibandingkan dengan si Boss.

Peringkat dan kekuatan tidaklah selalu koheren, tapi kekuatannya pasti berada dalam peringkat lima teratas dalam pasukan sang Raja Iblis Agung.

Dengan pride sebagai atributnya, ada kemungkinan bahwa jika hanya soal kekuatan, dia melampaui beberapa yang berada di peringkat yang lebih tinggi darinya.

Jika ada keuntungan dalam memberhentikan pelayanan aktifnya, dia mampu mengumpulkan pencapaian kapan pun dia menginginkannya.

Jika dia memimpin pasukannya secara pribadi, dia akan kehilangan kebebasan bergerak. Sebagai gantinya, dia bisa saja menemukan harta karun yang tak terduga. Kini adalah waktunya mengamati. Dalam konteks itu, mundurnya aku dari pasukan Boss bisa saja menjadi sebuah pilihan yang tak terhindarkan, tapi tidak ada yang bisa kukatakan selain keberuntunganku bagus.

Pasukan sang Raja Iblis Agung adalah kekuatan terkuat dalam Dunia Iblis ini. Bahkan jika seluruh dunia belum disatukan, jika Surga ingin memilih target sebagai fokus perhatian mereka, maka target itu tak lain dari kepala sang Raja Iblis Agung Kanon Iralaude. Itu adalah sesuatu yang pihak kami juga sadari betul.

Tanah Penjara Kirmizi panas.

Seakan – akan amarah Penguasa Iblis Ira yang menguasainya dahulu kala termanifestasikan di dalamnya, suhu udara di wilayah itu mendekati lima puluh kali lebih tinggi dari di wilayah lainnya, dan bahkan jika itu tidak cukup untuk memengaruhi penghidupan seorang Iblis, hanya dengan berdiri di sana akan membuat seseorang bermandikan keringat.

Sembari memandang matahari merah darah yang menyala – nyala, aku menunggu.

Dalam salah satu kota Penjara Kirmizi.

Kota terbakar, 『Batu Kelabu』.

Kota ini adalah sebuah kota kecil yang terletak manis di perbatasan Penjara Kirmizi milik Vanity, dan Penjara Gelap milik Heard Lauder.

Jumlah penduduk sipilnya tidak terlalu tinggi, dan di saat yang sama, dengan mengesampingkan masa lalu, saat kedua Penjara diambil alih ke bawah kendali sang Raja Iblis Agung, kota ini kehilangan seluruh nilai strategisnya. Sebuah kota yang menyedihkan.

Dulu saat Penjara Gelap di bawah rezim suatu Penguasa Iblis lawan, ada sebuah pleton yang ditempatkan di sini, tapi hiruk pikuk tempat ini bukan hanya sesuatu yang telah lama berlalu.

Alasan aku mampir di kota terlupakan ini adalah untuk mengumpulkan informasi mengenai serangan Malaikat.

Bahkan jika aku mengatakannya, dalam mengumpulkan intel, aku tak lebih dari seorang pemula.

Tapi itu bukan masalah. Tidak ada masalah di sini.

Aku hanya mampu mencuri, tapi di antara manusia, dan iblis, dan malaikat, ada hal yang disebut ‘orang yang tepat di tempat yang tepat.’

Teras kafe satu – satunya kota kotor ini begitu tenang. Selain aku, hanya ada satu pelanggan lain. Pelanggan sendirian itu, mungkin karena panas, terkulai di atas mejanya dengan sebuah tudung khaki menutupi kepalanya. Keadaan itu semakin memperjelas suasana gersang tanah ini.

Saat aku duduk kembali ke kursiku, Zeta Adler datang padaku, berlari kecil.

Bagi seorang Iblis laki – laki, Zeta memiliki perawakan yang cukup kecil. Melihatnya dari jauh, akan sulit untuk percaya seseorang dengan sosok anggun seperti dirinya mampu bertarung, tapi jika kau meremehkannya, kau akan berada dalam dunia penuh penderitaan.

Wujud seorang Iblis mewakili watak asli mereka, realita hasrat mereka. Sosok kekanakan Zeta adalah sebuah wujud yang dibuat dengan tujuan untuk memenuhi hasratnya. Itu adalah wujud yang membolehkan Zeta Adler untuk memuaskan Greednya dengan paling baik.

Tapi sebagai seorang Kelas Jendral, ketahananku terhadap panas lumayan lebih tinggi daripada miliknya.

Suhu ini pasti membuatnya kehabisan akal, karena dia terengah – engah, dan mengusap dahinya dengan punggung tangannya sembari melapor.

“Haa, haa, Deije-san. Mereka berkumpul persis seperti yang kau bilang. Seperti kata rumor, pleton pasukan Vanity yang dibinasakan memang menetap sementara di kota ini.”

“… Begitukah…”

Itu adalah laporan terkini tentang meletusnya serbuan malaikat.

Jumlah mereka lima. Korban jiwanya seratus.

Target serbuan mereka adalah pasukan Vanity. Pleton yang diserang binasa. Jumlah mereka seratus. Itu bukan statistik yang tinggi, bukan juga rendah.

Persist karena panas tinggi tanah Penjara Kirmizi, hanya ada sangat sedikit pemukiman. Bahkan jika mereka berjumlah sedikit, membiarkan sebuah pasukan menetap dan siap siaga memerlukan ruang yang cukup besar untuk disiapkan.

Meskipun tidak sebesar Penjara Gelap, tapi Penjara Kirmizi adalah padang tandus yang luas. Bahkan jika menggunakan naga terbang, tidaklah semudah itu untuk menyeberanginya.

“Atas alasan apa mereka berkumpul di sini?”

“Tidak benar – benar ada alasan yang diumumkan, tapi… well, bukankah itu hanya untuk mengekang? Bahkan jika kau bilang pasukan itu berhimpun di sini, pasukan Vanity sang Egois seharusnya berjumlah ribuan… mereka bahkan tidak mengirim seorang Kelas Jendral pun ke sini.”

“Mengekang… Ki ki ki, untuk menjaga Heard Lauder di bawah kendali, ya?”

“Dia memang menyebabkan keributan yang cukup besar… para Penguasa Iblis lain menjadi tegang, kudengar…”

Heard Lauder sang Kaisar Angkuh meremukkan pasukan – pasukan para Penguasa Iblis yang berperingkat lebih tinggi, dan dirinya menjadi Peringkat Satu masih menjadi ingatan segar dalam benakku.

Sejak awalnya, Heard adalah seorang Iblis tua, dan di saat yang sama sebagai seorang Kelas Jendral, namanya adalah nama berpengaruh yang dikenal siapa pun juga.

Sejak menjadi seorang Penguasa Iblis, Pride-nya membuat perubahan peringkat tak terhindarkan lagi.

Dia meremukkan siapa pun yang menentangnya begitu saja, dan dia adalah seorang yang ditakuti oleh sekutunya.

Mereka yang memiliki afinitas terburuk dengannya kemungkinan adalah para Iblis Superbia lain.

Urutan hierarki pride cukup ketat. Terlebih lagi di antara sesama mereka.

Kemungkinan Vanity belum pernah beradu pedang dengan Heard secara langsung.

Ada kesombongannya dan lainnya. Wajar baginya untuk waspada… kurasa.

Tanpa seorang Iblis Kelas Jendral, aku tidak berpikir jumlah sekecil itu akan mampu mengekang Kaisar itu atau apapun, tapi…

Di antara para Penguasa Iblis, Vanity termasuk faksi moderat.

Dia tidak memperlihatkan Pride-nya dengan sembrono. Itu bukanlah kepribadiannya.

Itulah mengapa dia hanya mendapat sedikit kesempatan untuk melakukan pelayanan yang mahsyur, dan peringkat Boss Leigie melampauinya.

Ki ki ki, hal yang penting adalah untuk membuat bidak – bidak berkemampuan untuk bermain.

“Medan perangnya juga di sekitar kota ini. Pasukan itu bangkit untuk melawan para malaikat yang muncul secara tiba – tiba, dan meskipun kedua belah pihak membuat perlawanan yang hebat, perbedaan dalam kekuatan berujung pada binasanya pihak Iblis. Kelihatannya ada beberapa korban jiwa di antara para penduduk sipil juga.”

“… Begitu. Well, bukannya tidak ada sejarah tentang Malaikat menyerang kota Iblis, tapi… jumlah musuhnya lima, bukan? Lima melawan seratus… celahnya pasti cukup besar.”

Pertarungan antar Iblis bukanlah pertarungan jumlah.

Mungkin sudah jelas saat Zebul melahap pasukanku, tapi kualitas lebih ditinggikan dibandingkan kuantitas.

Hal yang sama bisa dikatakan tentang pertarungan antar Malaikat. Dalam konteks itu, kisah lima Malaikat menaklukkan seratus Iblis- meski mungkin keberuntungan mereka buruk- adalah sangat mungkin.

Mereka gagal menahan kekuatan yang menyerang kota, dan binasa… kupikir jumlah korban jiwanya akan lebih rendah jika mereka membiarkan para Malaikat melakukan apa yang mereka inginkan.

Dari apa yang bisa kulihat, populasi di sini tidaklah tinggi. Meskipun populasi Iblis tidak pernah setinggi manusia, bahkan di antara pemukiman kami, Batu Kelabu adalah satu yang sangat kecil.

“Vanity menyadarinya, dan segera mengirimkan pasukan yang lebih besar, tapi pihak lawan berhasil lolos.”

“… Ki ki ki, jadi mereka dipermainkan. Si Penguasa Iblis pasti cukup kesal sekarang.”

“Ada yang bilang dia bersiap untuk mengutus seluruh pasukannya sewaktu – waktu… well, karena mereka tidak tahu ke mana para Malaikat itu kabur, mereka belum bisa mengutus ke luar wilayah, tapi… ada intel seluruh pasukannya telah dikumpulkan di 『Istana Kebenaran Mulia』-nya.”

Istana Kebenaran Mulia adalah kastil Vanity Seidthroan.

Persis seperti markas Boss Leigie adalah Kastil Bayangannya, setiap Penguasa Iblis memiliki benteng mereka sendiri.

Fakta bahwa dia menghimpun pasukannya di istananya sendiri berarti kemungkinan besar dia akan memimpinnya secara pribadi kali berikutnya mereka pergi berperang.

Itulah betapa seriusnya dia. Inilah apa artinya menginjak ekor binatang buas.

Tapi, ada beberapa bagian kisah Zeta yang meninggalkan rasa yang aneh di mulutku.

“… Pukul dan pergi… sejak kapan para Malaikat bisa menggunakan taktik semacam itu…?”

Umumnya, pasukan lebih-suci-dari-engkau pribadi Tuhan tidak akan memiliki keraguan akan kemenangan mereka.

Maka dari itu, mereka tidak merasa memerlukan strategi. Malaikat – malaikat itu adalah sesuatu seperti bom waktu yang dibuat dari pilar – pilar iman. Sekali muncul, mereka akan bertarung hingga seluruh Iblis di sekitar mereka binasa, dan hingga mati, mereka tidak akan menghentikan perjuangan mereka. Tidak, itulah bagaimana seharusnya.

“Ki ki ki, ini benar – benar merepotkan… apakah seorang pemimpin yang kompeten telah memutuskan untuk melangkah maju?”

Aku tidak berpikir sesuatu setingkat pemimpin akan mampu merubah pergerakan seorang malaikat, tapi…

Kemungkinan salah memahami sesuatu, Zeta bertanya malu.

“… Deije-san, mungkinkah kau mengacu pada Valkyrie yang dirumorkan mampu membunuh Penguasa Iblis?”

“Mustahil. Bahkan jika dia kuat, aku tidak bisa memikirkan bahwa seorang Malaikat akan mematuhi perintah seorang Valkyrie, yang mereka anggap sebagai ras yang lebih rendah.”

Tentu saja, aku mengetahui jiwa heroik mulia yang hidup kembali yang mampu membunuh seorang Penguasa Iblis.

Sekitar tiga bulan lalu, topik tentang seorang perawan yang mengayun – ayunkan kekuatannya menjadi semacam pembicaraan seluruh kota, dan dia masih menjadi sebuah eksistensi yang membuat pasukan sang Raja Iblis Agung gemetar.

Jika kau melihat kerusakannya, dia adalah seorang yang jauh lebih ganas dari pasukan ini yang membunuh seratus Iblis semata.

Tapi aku memikirkan kasus ini sebagai urusan yang terpisah. Membunuh seorang Penguasa… jika ada seseorang yang mampu melakukan sesuatu semacam itu, mustahil kota ini masih berdiri seperti ini.

Meskipun mungkin keduanya adalah assassin dari surga… tapi ya hanya itu saja.

“Deije-san, apa sesuatu ini masalahnya?”

“Ki ki ki, tentu saja, kita akan mengejar para Malaikat. Zeta Adler, inilah momen kritisnya.”

Bahkan tidak perlu memikirkannya.

Benar. Inilah pemisahnya.

Hanya lima dari mereka yang telah terlihat sejauh ini. Jadi mengapa tidak membuat mereka menjadi batu loncat ke kejayaanku?

Pelayanan militer tidaklah buruk, tapi hanya mengikuti seorang komandan sepanjang waktu membuat Jack jemu dan menjemukan[1].

Pertama – tama, surga terlalu tenang akhir – akhir ini. Meskipun Malaikat telah terlihat di sana sini, mereka semua sendirian. Beberapa Iblis akan mati kini dan nanti, tapi sudah sangat lama sejak sebuah pleton disapu bersih dari muka bumi.

Inilah suar isyaratnya, dan tidak akan ada kesempatan yang lebih baik dari saat ini.

Sejarah akan bicara.

Itu karena belum ada seorang pun yang telah menjamahnya yang membuat 『Merampas』 memiliki arti.

“Tetap saja… menghadapi sebuah kelompok yang mampu membunuh seratus Iblis, bahkan buatmu…”

“Ki ki ki, memang kenapa? Kita punya kartu truf kita sendiri. Ini akan berhasil pada akhirnya, dan jika kelihatannya kita akan kalah, kita hanya harus lari.”

Ini adalah Dunia Iblis. Sampai akhirnya, ini adalah dunia yang menguntungkan bagi kami.

Jika kami terus mundur, kami tidak akan pernah mampu melakukan apapun. Jika aku tidak akan bisa mendapatkan apapun, maka kematian adalah opsi yang lebih baik.

Keseimbangan. Benar, yang penting adalah keseimbangan.

Aku mengawasi kota ini.

Seperti yang ditunjukkan namanya, pemandangan kota yang tampak dibangun dari batu kelabu sederhana, tapi ia mempertahankan bentuk yang membuatnya tak terpikirkan bahwa para Malaikat telah melancarkan serangan di sini.

“Zeta, kita akan menetap di kota ini untuk sementara.”

“… Eh? Tidak ada apa – apa di sini, tahu?”

Aku menyadarinya.

Aku mulai menjelaskan ke si pemuda, yang mengeluarkan aliran keringat seraya mengarahkan matanya padaku.

Memang panas di sini. Ini bukanlah tempat di mana aku akan senang untuk memperpanjang kunjunganku, tapi ada saat di mana seorang Iblis harus melakukan apa yang harus dilakukan seorang Iblis.

“Ki ki ki, kita akan memahami kekuatan para Malaikat. Mungkin ada sesuatu untuk dipelajari dari bekas yang tertinggal dari pertarungan mereka. Bukannya tidak ada kesempatan mereka menyerang tanah ini lagi, juga. Tujuan akhir mereka tanpa diragukan lagi adalah leher sang Raja Iblis Agung, tapi kita masih tidak tahu alasan serbuan kali ini.”

“… Begitu ya. Tapi apakah seorang Malaikat benar – benar perlu alasan untuk membunuh Iblis?”

“Tidak tahu. Tapi bagaimanapun, hampir tidak ada jejak untuk diikuti. Daripada berangkat untuk melakukan hal yang mustahil, akan beruntung jika kita menemukan petunjuk.”

Sebagai seorang Iblis Kelas Jendral, biarkan aku mengatakannya. Jika kau tidak menggunakan kakimu, kau tak akan mendapat harta karun.

Merampas adalah sebuah perburuan. Kejar, dan ambil. Itulah makna dari keserakahan. Itu adalah buktinya, pengesahannya.

Ki ki ki, mengapa aku tak mengajarkannya saja padamu?

Part 3: … Haruskah Aku Mencurinya?

Kota ini panas.

Ketiadaan petunjuk mengejutkan.

Kedua kenyataan itu perlahan membakar jalan pikiranku.

Sudah seminggu sejak aku mulai menyelidiki Batu Kelabu, dan tanpa menemukan apapun, hanya waktu yang berlalu.

Rasa ketidaksabaran. Tapi tetap saja, tak ada informasi apa pun tentang penampakan kelima malaikat itu di wilayah lain.

Apa mereka kembali ke surga?

Kemungkinannya ada. Jelas ada kesempatan mereka sedang melangsungkan pengintaian singkat.

Kalau begitu, artinya kami telah bekerja dengan sia – sia.

Maksudku, sang Penguasa Iblis Peringkat Empat sedang menunggu di singgasananya dengan segala persiapan untuk menumbangkan mereka. Tidak ada orang normal yang akan menyerang titik yang sama dua kali.

Tapi para Malaikat tidaklah normal. Iustita yang mereka bawa sama berdosanya seperti hasrat yang dibawa oleh seorang Iblis.

Hari ini juga, hanya ada satu orang selain kami dalam kafe.

Di tempat dudukku yang biasa di teras yang biasa, aku menyapu keringat dari dahiku sembari meminum air berwarna jeruk nipis dalam gelas yang bergoyang dalam sekali teguk.

Di depan mataku ada Zeta, yang lebih lemah dariku, dan maka dari itu lebih lesu.

“Ki ki ki, betapa menarik. Untuk benar – benar tidak ada apa – apa setelah semua itu…”

“Seakan – akan tidak ada satu jejak pun… kelihatannya. Bahkan tidak ada sebintik pun kehancuran…”

Sesuai yang diharapkan dari seorang mantan garnisun.

Bukannya itu banyak berguna, dan struktur di sini kelewat kokoh, dengan pelindung sihir yang membentang menutupi segalanya tanpa satu retakan pun.

Aku sudah memeriksa plaza di mana pertarungan itu seharusnya bertempat, tapi hampir tidak ada jejak sebuah pertarungan telah berlangsung.

Dengan ini, aku bahkan tidak bisa mulai membayangkan atribut para Malaikat itu.

Tapi bukannya panen kami tak berbuah. Aku telah menemukan sesuatu.

“Mereka hanya mampu menggunakan serangan yang tak cukup kuat untuk menghancurkan pelindung. Sesuai dugaanku, kemampuan mereka tidaklah setinggi itu. Jika kau memasukkan afinitas ke dalam perhitungan, mereka paling tinggi Kelas Ksatria.”

“Dan kau bilang bahwa lima Ksatria saja mampu menghadapi seratus Iblis?”

Nada Zeta mengindikasikan dia tidak bisa mempercayainya sembari melihatku ragu.

“Itu bukan tugas yang mustahil. Kekuatan seorang Malaikat melemahkan kekuatan seorang Iblis… well, bertarung dalam Dunia Iblis memberikan tambahan kekuatan, jadi pada akhirnya, itu tergantung pada kemampuan pribadi, tapi…”

Mengesampingkan Vanity, pasukannya tidaklah terkenal. Jadi pasukannya yang lemah juga sebuah kemungkinan.

Maksudku, bahkan jika dia sendiri menonjol, kompetensi sebuah pasukan tidaklah berbanding lurus dengan kekuatan Penguasa mereka.

Well, tetap saja, bagaimanapun, kenyataannya tidaklah pasti.

Aku bertanya ke sekitar. Aku memeriksa tempat pertarungan secara pribadi.

… Apa boleh buat. Tidak ada gunanya menghabiskan lebih banyak waktu.

… Haruskah kucuri saja?

Rasa pening panas mengguncang emosiku seakan otakku sedang digoreng.

Aku sedikit enggan melakukan apapun yang terlalu kasar dalam wilayah sang Egois, tapi… bagaimanapun juga, dunia ini adalah di mana yang terkuat yang menang.

“… Ki ki ki, Zeta. Apa boleh buat… apa kau ingat wajah para saksi mata?”

“… Apa kau serius? Kita berada di dalam wilayah pasukan sekutu, tahu…”

“Hey, jika kau bersikap seperti itu, kita tidak akan ke mana – mana. Ini adaptasi. Perubahan untuk menyesuaikan diri dengan situasi. Juga… benar, Zeta?”

Menghabiskan seminggu menyelidiki wilayah ini membawa stress Iblis muda ini ke titik patahnya.

Tapi pada raut wajahnya yang sekarang, aku hampir tidak bisa melihat kelelahan.

Aku memelengkungkan bibirku menjadi senyuman, dan menunjukkannya pada juniorku yang tidak tahu apa – apa.

“… Kau tersenyum begitu mendengar idenya, tahu?”

“… Kufu… well, kalau begitu, kupikir apa boleh buat.”

Menganggapnya sedemikian rupa sehingga membuat dirinya tampak tidak peduli juga, juniorku yang setia tertawa.

Meski aku bilang setia, kesetiaannya tidak terletak padaku, tapi pada hasratnya sendiri, dambaan yang dipendamnya.

Sebuah sifat yang menandakan seorang Iblis kaliber tertinggi. Memang menyenangkan, mengawasi orang – orang berbakat sedang bekerja…

Zeta berdiri dengan santai, dan segala tanda kelelahan telah sirna dari raut wajahnya.

Mata kelabunya yang memancarkan cahaya terang adalah satu – satunya benda yang berkilau di bawah mentari kirmizi yang menyala – nyala.

Meski dia hanya berdiri, kelihatannya seakan sosok langsingnya tiba – tiba membesar untuk sesaat.

Sebuah pertunjukan kekuatan. Dia menghela nafas dalam – dalam, mengeluarkan ekspresi liar yang memuakkan, dan kontras dengan semua itu, dia mulai berbisik dengan suara tenang.

“『Greed Hand』.”

Skill – skill Avaritia didasari hasrat untuk mengambil.

Melihat orang lain di belakang, dan mencemooh, dan mempermalukan, dan mengambil segala ciptaan sesuka hatimu. Kodratnya yang sesungguhnya terletak dalam membawa orang lain pada kerugian.

Ki ki ki.

Ambil semuanya.

Fakta bahwa ada sesuatu untuk diperoleh. Fakta bahwa seseorang akan kehilangan sesuatu.

Lebih menindas dari Invidia, lebih licik dari Gula.

Meski aku belum menjadi seorang Penguasa Iblis, ada alasan aku mampu hidup lebih dari sepuluh ribu tahun lamanya.

Mereka yang kuat tidak meramalkan kerugian mereka.

Mereka hanya akan menyadarinya setelah mereka kehilangannya.

Ngerinya Greed.

Zeta Adler, lengan sang Iblis Greed berpendar hitam redup.

Sebuah Skill Avaritia, 『Greed Hand』.

Kekuatannya tidak setingkat dengan 『Wave of Starvation』 yang dimiliki gluttony, tapi itu jauh lebih mengerikan.

Ki ki ki, tapi semua baik saja. Skill itu tidak mengambil nyawa siapapun. Setidaknya skill itu meninggalkannya.

“Zeta, selesaikan dengan cepat. Ki ki ki, bahkan sebelum kita bertemu para Malaikat, aku benci melawan sesama Iblis. Itu akan sedikit merepotkan.”

Pedang Celeste yang kuterima dari Boss Leigie memang sebuah Pedang Iblis bengis dan tak tertandingi, tapi aku akan tetap akan berada pada keadaan yang tidak menguntungkan saat musuhnya seorang Kelas Penguasa Iblis. Aku tidak berpikir sang Penguasa akan muncul setelah kami mencuri sedikit saja, tapi aku tidak tahu watak Vanity. Paling baik untuk tetap waspada.

“Aku… Aku tahu itu.”

Memahaminya, Zeta mengangguk pelan, sembari mulai mencari targetnya.

Kota ini sempit, dan populasinya tidaklah tinggi, tapi karena saat ini tengah hari, jalan – jalan di kota ini digunakan dengan baik.

Meski para Malaikat muncul, mereka cukup tenang.

Iblis adalah ras dominan Dunia Iblis. Kami hampir tidak memiliki musuh.

Itulah mengapa semakin rendah kelas seseorang sebagai seorang Iblis, semakin mereka mulai merasa sombong dalam kekuatan yang dilahirkan bersama mereka.

Zeta mendekati seorang yang lewat, yang kelihatannya sekedar berjalan santai. Dari segi umur, dia tidak tampak begitu berbeda dari si bocah. Seorang Iblis muda.

Tapi dia terlalu kurang waspada. Dari hidup panjangku yang sebagian besar dihabiskan dalam pelayanan militer, aku mampu melihatnya dengan jelas. Dari caranya berpakaian, gerak geriknya dan lainnya, dia terlalu terlena dengan lingkungan damai di sekitarnya. Aku bahkan terkejut dia mampu bertahan hidup sejauh ini dalam Dunia Iblis yang selalu berperang ini.

Bahkan saat Zeta mendekatinya, dia sekedar membuat wajah ragu – ragu, dan dia tidak kelihatan was – was sama sekali. Mungkin itu karena tinggi badan Zeta lebih rendah dari tinggi badannya sendiri. Maksudku, dia tampak cukup anggun, sehingga kelihatannya tangannya tidak bisa melukai orang lain.

Saat mereka berdua akhirnya berada dalam jangkauan lengan satu sama lain, si Iblis laki – laki muda angkat suara.

“A-apa yang…!?”

“Kufu.”

Pergerakan si lelaki muda terhenti. Meski matanya terpaku pada satu titik tepat di depannya, kelihatannya tidak ada apapun yang memasukinya.

Ujung – ujung jari sekurus tulang Zeta mendarat di dahinya. Ia dengan santai mengulurkan lengannya untuk mengakhirinya dengan cepat.

Kepala lelaki itu tidaklah tertusuk atau apa. Kepalanya hanya disentuh semata. Itu dilakukan dengan lembut, jadi tidak ada sedikit pun luka yang tertinggal.

Zeta membiarkan mulutnya melengkung menjadi senyuman puas sembari menarik kembali tangannya. Semuanya terjadi dalam beberapa detik saja.

Selain mereka yang terlibat langsung, tidak ada saksi mata sama sekali. Atau mungkin meskipun orang menyaksikannya, mereka berpura – pura tidak melihat. Ini adalah di mana yang terkuat yang menang. Makna dari itu seharusnya jelas.

Dambaan Zeta adalah kenangan.

Persis seperti aku mengidamkan harta materiil dari segala tempat dan waktu, dari segala sifat dan ciptaan, dia adalah seorang Iblis Avaritia yang mendambakan pengalaman dan kenangan orang lain.

Tak terhindarkan lagi, sifat dari Skillskillnya dikembangkan ke arah kemampuan untuk mencurinya.

Aku tidak mengerti apanya yang begitu menyenangkan tentang itu, tapi aku ragu aku akan mampu memahami dambaan orang lain. Lakukan saja apa yang kau inginkan.

Jika itu memberikanku keuntungan, maka apa lagi.

“… Sudah selesai… kufu…”

Tawa ganjilnya terlihat seperti terisi dengan humor yang bagus di suatu tempat.

Mungkin itu karena dia mencuri sesuatu yang berkaitan langsung dengan tujuannya.

Skill 『Greed Hand』.

Itu hanyalah sebuah Skill yang merampas target hasrat seseorang.

Dalam kasusku, barang jarahan, dalam kasusnya, pengalaman. Skill itu menanamkan kekuatan jahat untuk merampas dari orang lain pada tangan seseorang, dan skill itu dikenal sebagai skill yang paling sering digunakan. Dan pada saat yang sama, berdasarkan keinginan orang itu, skill itu bisa menjadi Skill terkuat dari segala skill.

Seperti bagaimana seorang Kelas Jendral sepertiku hanya mampu mencuri benda, Kelas Ksatria di depanku ini bisa melakukan hal – hal yang jauh lebih jahat.

Dengan pandangannya yang diambil alih oleh kegairahan, ia berbisik padaku dengan raut wajah mabuk.

Matanya tampak terarah ke depan, tapi dia tidak menatap apa pun.

“Begitu, jadi ini… seorang malaikat… musuh alamiku.”

“Ki ki ki, jadi kau mendapat jackpot pada percobaan pertama? Aku ragu kau bahkan memeriksa untuk mencari tahu apakah dia seorang saksi mata atau bukan, benar?”

“Kau tidak salah… tapi ini berhasil, jadi tidak ada masalah.”

Well yeah. Buatmu, itulah.

Aku akan membolehkannya. Aku akan memberimu sebanyak itu.

Tapi bagi seseorang agar bisa terus mengejar hasrat mereka selamanya, ada sebuah garis yang tak boleh dilanggar.Aku menatap matanya, yang tampak seperti memandang ke suatu negara yang jauh, dengan wajah kuatku sendiri.

“Kau memastikan untuk menahan diri sampai seminimal mungkin, bukan?”

“… Tentu saja. Persis seperti yang kau ajarkan padaku, Deije-san… dia akan segera mampu bergerak lagi.”

Dan seakan dia telah menunggu kata – kata itu, pemuda yang membeku itu mulai bergerak.

Dengan raut wajah terpesona, ia mengawasi sekelilingnya sejenak, tapi setelah beberapa saat, ia mulai berjalan seperti sebelumnya. Langkah kakinya tegas, dan aku tidak bisa mengira dia baru saja menjadi seorang korban pencurian.

Tak ada sedikit pun barang bukti yang tertinggal.

Satu atau dua pertanyaan mungkin akan muncul akibat aberasi ingatan sehari – harinya, tapi hanya itu. Hanya itulah kenangannya. Semakin lama kau hidup, semakin sedikit hidupmu membekas dalam kenanganmu.

Mungkin bahkan kenanganku pernah terhenti sebelumnya. Ki ki ki, itu adalah pemikiran yang melawan.

Dari keadaan setengah sadarnya, Zeta perlahan kembali ke realita. Begitu, dia menurunkan dirinya ke tempat duduknya kembali, dan memulai laporannya.

“Aku bisa mengambil mereka dengan cukup mudah, tapi… kelihatannya tidak ada informasi baru yang bisa ditemukan.”

“… Begitu.”

Bagaimanapun juga aku tidak berpikir dia akan mampu mendapat sesuatu yang baru pada percobaan pertama.

Sejak awalnya, kami telah menghabiskan seminggu penuh di sini tanpa hasil. Kalau tidak, kami tidak akan merasa begitu beruntung untuk benar – benar menemukan sesuatu.

Hidup itu rata – rata. Jika ada naiknya, ada juga turunnya, tapi keduanya saling mengimbangi.

“Setidaknya kelihatannya apa yang telah kita kumpulkan sejauh ini benar adanya. Lima malaikat, ya, memang ada lima malaikat yang mengenakan sayap – sayap surgawi di sini. Mereka masuk melalui langit. Mereka menyerbu kota, dihadang oleh pasukan Vanity yang ditempatkan di sini, dan sisanya adalah sejarah. Sejauh itulah hal yang dilihat oleh pemilik kenangan – kenangan ini.”

“… Begitu. Jadi, tempat apa yang para Malaikat yang begitu penting ini tuju selanjutnya?”

“Siapa yang tahu… Sudah jelas mereka kabur lewat langit, tapi dia tidak melihat arahnya…”

Ini tidak berjalan sesuai harapan kami.

Well, kurasa ada untungnya mengkonfirmasi informasi kami.

Ki ki ki, maksudku, itu baru percobaan pertama.

Dan juga, melihat artinya percaya, dan pada babak pengumpulan informasi, mendapat kenangan dari mereka yang benar – benar menyaksikannya tidak ternilai harganya.

“Bagaimana cara para Malaikat itu menyerang?”

Pada pertanyaanku, Zeta mulai berkedip.

Ia memiringkan kepalanya sejenak, sebelum perlahan membiarkan kata – kata keluar. Merampas ingatan dan membuatnya jadi miliknya berarti dia mengejar pengalaman itu sendiri.

Nadanya terisi ketakutan, seakan dia sedang membicarakan sebuah bencana yang berlangsung tepat di depan matanya sendiri.

“Cahaya… benar, pilar – pilar cahaya. Diameternya beberapa meter, pilar – pilar cahaya raksasa dari langit… kota terbakar, dan para Iblis tergilas.”

Skill Iustitia milik seorang Malaikat… kupikir. Ya, aku yakin ada sesuatu seperti itu.”

Sama seperti Iblis memiliki Tujuh atribut, Malaikat juga memiliki beberapa penggolongan.

Iustitia adalah salah satunya.

Bagaimanapun, aku yakin itu adalah atribut yang mengkhususkan diri dalam penyerangan.

Aku melihatnya sekilas sepuluh ribu tahun lalu, saat sebuah gelombang cahaya mereka membersihkan kegelapan Dunia Iblis, dikatakan sebagai tak tertandingi.

Sebuah serangan Malaikat skala besar… Dengan hanya memiliki Kelas Ksatria dan Kelas yang lebih rendah, pasukan Vanity dalam keadaan yang benar – benar tidak menguntungkan di sana.

Alih – alih pletonnya lemah, mungkin mereka hanya tidak beruntung…?

“… Berapa sayap mereka?”

“… Eh?”

“Sayapnya, kau tahu. Sayap. Merekalah simbol seorang Malaikat. Kau bisa menentukan kekuatan seorang Malaikat dengan jumlah sayap mereka.”

Bagi mereka yang pernah mencoba menentang surga, semua orang mengetahuinya.

Dan sayap mereka adalah kebanggaan mereka, jadi mereka tidak pernah mencoba menyembunyikannya.

“… Begitu. Maka satu. Tidak, mungkin aku harus bilang sepasang.”

Jadi hanya sepasang sayap.

Mereka adalah pasukan sekuat itu. Mungkin dari tingkat rendah hingga menengah. Jika aku menyamakan mereka dengan sistem peringkat milik Iblis, kemungkinan besar mereka berada di level Zeta atau lebih rendah. Well, Iblis memiliki afinitas alami yang buruk dengan Malaikat, jadi Zeta sendiri akan kesulitan…

Dengan Celeste, mereka akan menjadi mangsa yang mudah. Tidak, bahkan tanpanya, kupikir aku akan mampu melaluinya.

Bahkan jika mereka membakar tempat ini dengan pilar – pilar cahaya, tidak ada tanda – tandanya sama sekali di kota ini.

Pada akhirnya, usaha mereka tidaklah cukup untuk menembus pelindungnya…

Selanjutnya, ada kemungkinan mereka memiliki pasukan lebih besar yang sedang menunggu…

Tapi tidak ada yang akan datang dengan memikirkannya sejauh itu.

Tidak ada yang namanya pertarungan yang aman. Setidaknya aku akan meminum habis resiko – resiko dasarnya.

Dari semua hal lainnya, bahkan jika mereka mengutus satu atau dua Malaikat turun, masih ada monster Valkyrie itu berkeliaran.

Ini pasti titik balik era ini. Memikirkan masa depan, bukanlah hal buruk untuk membangun pengalaman bertarung anti-Malaikat di sini.

Mungkin masih mengawasi kenangan yang diperolehnya, Zeta masih memiliki raut wajah linglung dan matanya melihat udara kosong. Aku mengeluarkan beberapa perintah.

“Oy, Zeta. Sekarang waktunya merampas. Untuk saat ini, kita butuh jejak yang lebih kuat. Karena sudah terlanjur, mengapa tidak ambil saja semua kenangan yang kau bisa?”

Part 4: Taruhan yang Tak Menguntungkan

“Sia – sia… tidak mau keluar sama sekali.”

Zeta memasang wajah lelah seraya menarik kembali jemarinya.

Di depannya, seorang Iblis perempuan seumuran Medea berdiri dalam diam dengan ekspresi datar melekat pada wajahnya.

Iblis – Iblis dengan raut wajah beku layaknya boneka adalah sesuatu yang kini sudah biasa kulihat.

Di Batu Kelabu dengan pejalan kaki seadanya, sebuah gang di sebuah tikungan jalan utama ke arah kiri. Bahkan di tengah hari, di sini gelap, dan lebih – lebih Iblis, bahkan tidak ada seekor tikus di sini.

Bahkan jika kami berada dalam wilayah milik Vanity sang Peringkat Empat, kami berada di pinggirannya daerah pinggiran. Maksudku, di sini sunyi, jadi tidaklah sulit untuk mengincar celah.

Zeta telah mengambil kenangan sembilan orang Iblis.

Skill – skill seorang Iblis adalah hasrat mereka sendiri.

Tapi mereka tidak bisa digunakan tanpa batas. Dengan panas dan kelembapan tinggi ini, wilayah ini luar biasa tidak nyaman, dan dengan tugas di tangan, yang sulitnya seperti menggenggam kabut, memberikan tekanan yang besar pada kewarasannya.

Perlahan, sebuah cahaya kemerahan melingkari rambut kelabunya.

“… Gimana?”

“Mengambil kenangan – kenangannya sangatlah mudah, tapi… sekali lagi, dia tak ada gunanya. Dia tidak melihatnya… tidak, dia menyaksikan kejadiannya, tapi tidak melihat apapun setelah itu.”

Itu adalah kalimat yang telah kudengar delapan kali sebelumnya.

Kupikir kami beruntung saat Iblis pertama yang kami cegat telah melihat para Malaikat, tapi itu salah.

Para Malaikat memamerkan kekuatan mereka dengan terlalu mencolok. Tiap – tiap dari kesembilan Iblis yang kami curi kenangannya sampai sejauh ini telah melihat sosok mereka dengan jelas.

Tapi tujuan mereka, dan arah kepergian mereka tetaplah asing.

Seluruh Malaikat mengenakan seragam yang berkilau mencolok. Itu adalah cahaya dengan kekuatan tuhan yang mengerikan itu pada intinya.

Dan itu bagus dalam segala konteks bahwa itu menarik perhatian orang, tapi di saat yang sama, cahaya itu dibenci, dan tidak ada orang yang dengan suka rela ingin melihat mereka beranjak pergi.

Apa boleh buat. Musuhnya adalah para utusan yang secara pribadi menghancurkan pasukan sang Penguasa yang memerintah. Tidaklah aneh bagi para penduduk sipil untuk ingin melarikan diri.

Tidak aneh… tapi…

Beralamat buruk. Sangat beralamat buruk.

Pengalamanku menjerit layaknya alarm kebakaran. Semuanya terlalu tenang. Terlalu banyak yang kurang.

Semuanya terlalu sempurna.

Aslinya, kemunculan para Malaikat itu sendiri akan dicurigai sebagai penipuan belaka, tapi kita bisa menggunakan kekuatan Zeta.

Kenangan tidak berbohong.

“… Oy, Zeta. Apa kau tahu laporan siapa yang bilang bahwa para Malaikat telah menampakkan diri?”

“… Ya, itu laporan anggota Orde Hitam yang menemani Vanity… laporan rutin si inspektur. Maksudku, kemunculan para Malaikat adalah urusan serius… kudengar mereka berpartisipasi dalam pasukan yang Vanity utus untuk mengejar, atau sesuatu.”

Orde Hitam.

Garda depan pribadi sang Raja Iblis Agung, dan pelayan langsungnya.

Jika itu demi Kanon Iralaude, mereka bahkan akan menentang seorang Penguasa Iblis. Mereka adalah kaki tangan sang Raja, juga mata dan telinganya.

Gadis Lize itu sama, tapi kesetiaan yang orde itu tunjukkan pada sang Raja Iblis Agung luar biasa. Karena anggota ini ditugaskan dengan seorang Penguasa yang memerintah Pride, kesetiaan mereka pasti kelas atas. Aku ragu orde itu pernah membuat kesalahan serius dalam mengutus personil.

Jika mungkin, aku ingin mengambil kenangan inspektur itu untuk memastikannya, tapi aku ragu itu akan terjadi.

Sebagai seorang inspektur, tak diragukan lagi mereka adalah seorang Kelas Jendral yang telah melampaui Zeta. Tidak seperti kekayaan materiil, merampas kenangan bergantung pada kehendak si individu, dan ketahanan mental bisa menurunkan tingkat kesuksesannya. Dengan mengesampingkan para Iblis kelas rendah yang telah kami curi ingatannya, seorang Kelas Jendral adalah beban yang terlalu berat bagi si bocah.

Orang yang paling cemas tentang situasi saat ini pastilah Zeta.

Saat dia secara pribadi mengambil pandangan – pandangan itu, dan tidak ada satu pun petunjuk yang ditemukan. Seakan – akan dia dipaksa membuka peti harta yang kosong lagi dan lagi.

Sebagai seorang Iblis muda, dia kurang pengalaman. Situasi dimana instingnya membuatnya merasakan kecemasan yang mencolok kemungkinan sama dengan perasaan yang kupendam puluhan ribu tahun lalu.

Ki ki ki, itu benar.

Maka aku akan mengambil peran orang yang menjagaku dulu.

“… Zeta, tenangkan dirimu. Hasil ini memang di luar perkiraan kita, tapi ini bukanlah kejadian yang mustahil. Bukannya kita belum mendapatkan apapun. Setidaknya… semuanya berbau busuk, itulah apa yang telah kita ketahui.”

“… Begitu…”

Pertama, kau harus menenangkan diri. Dapatkan kembali jalan pikiran yang lurus.

Para Iblis ditakdirkan untuk terlalu percaya diri dengan kemampuan mereka. Itulah mengapa saat kecelakaan terjadi, mereka sering mencoba untuk menyelesaikannya dengan kekerasan.

Pertama, ambil nafas dalam – dalam. Bernafaslah, dan fokus. Itulah kekuatan para Iblis yang tidak hanya memiliki kekuatan, tapi juga kecerdasan.

Berpikirlah dengan kepalamu sendiri. Terkadang itu akan mengubah takdirmu.

Ada saat – saat dimana kau harus mengambil resiko, dan mempertaruhkan nyawamu juga, tapi setidaknya, saat ini bukanlah waktunya.

“Para Malaikat itu, pasti ada yang pintar di antara mereka… tidak, meski begitu, jumlah mereka terlalu kecil, dan kita masih tidak memiliki petunjuk tentang mengapa mereka menyerang kota ini. Mengapa mereka mengincar daerah yang begitu terpencil… apa tujuan mereka?”

Sekedar membantai Iblis?

Seratus Iblis. Dengan pelayanan militer mereka, kekuatan mereka lebih tinggi dari Iblis rata – rata. Kurasa alasan itu cukup bagi para Malaikat untuk menyerang.

Tapi itulah persisnya mengapa aku tidak mengerti. Mengapa hanya lima yang datang?

Bahkan jika kami melawan para Malaikat yang mengkhususkan diri dalam membunuh, tanah ini meningkatkan kemampuan kami secara drastis.

Untungnya bagi mereka, tidak ada seorang Kelas Jendral dalam pasukan itu, jadi mereka mampu menghadapi seratus dengan mudah, tapi jika ada satu di sana, maka mereka berlima pasti berada dalam keadaan yang tak menguntungkan…

Jika itu surga yang sama seperti sebelumnya, jika itu malaikat – malaikat biasa yang akan memutuskan untuk membunuh tepat saat mereka bertemu seorang Iblis, maka itu akan sedikit masuk akal, tapi orang – orang kali ini… mereka mundur.

Semuanya tidak cocok. Itu ada dimana – mana.

Kecerobohan yang mereka lakukan untuk menghadapi dua puluh kali jumlah mereka, dan kebijaksanaan yang mereka miliki saat mereka mundur tepat saat pasukan terlihat. Celah itu melahirkan rasa ketidaknyamanan.

Itu tidak cocok dengan malaikat – malaikat yang telah kulihat hingga kini.

Merasakan keraguanku, Zeta mengusulkan.

“… Sesuai dugaanku, haruskah kita mencuri sedikit lagi?”

“… Bisakah kau melakukannya?”

“Yeah… Kufu, Greed-ku masih… belum terpuaskan, tahu…”

Dengan wajah yang tampak cukup dipaksakan, Zeta tersenyum.

Penyalahgunaan merampas. Kelelahannya yang menumpuk, dan lemasnya fisiknya. Aku bisa melihat semuanya.

Tapi untuk kali ini saja, aku tidak bisa menyalahkannya.

Kita perlu menemukan jejak kami sebelum seseorang menyadari ketidakkonsistenan dalam kenangan mereka, dan meninggalkan kota.

Waktu tidak berada di pihak kami. Kami tidak tahu kapan atau dimana seorang Malaikat akan muncul lagi. Kami harus menyelesaikannya secepat yang kami bisa.

Tapi di saat yang sama, aku mendapat firasat.

Bahwa kami tidak akan menemukan barang satu hal lagi dari para penduduk kota ini.

Aku kembali sekali lagi ke teras kafe tanpa nyawa itu. Saat ada seseorang berperawakan besar sepertiku, para target cenderung waspada.

Peranku adalah sebagai pemikir.

Tak diragukan lagi ada suatu sebab akibat yang sedang berlangsung di negeri ini. Selain Valkyrie itu, tempat ini adalah satu – satunya tempat yang terkena kerusakan yang besar dari para Malaikat akhir – akhir ini.

Setelah berhenti dari pasukan Boss Leigie, aku telah di sini, tapi hanya itulah perubahan sungguhan yang telah kudengar.

“… Seusai dugaanku, memang sia – sia… Hah. Rasanya seperti aku membuka peti harta kosong satu demi satu.”

Setelah melancarkan perampasan lain, Zeta menghela nafas panjang dan meratap.

Anehnya, kata – katanya persis dengan perumpamaan yang kupikirkan sebelumnya.

Seakan sudah menjadi rutinitas belaka, aku memastikannya dengannya.

“Itu yang kesepuluh, kan?”

Dan sama sepertiku, ia memberi jawaban tegas.

“Ya… Mereka yang melihatnya memiliki perbedaan – perbedaan kecil, tapi kesembilan yang lalu kurang lebih… sama…?”

Dalam sekejap, wajah Zeta gemetar.

Dia memucat, dan mulutnya membuka-tutup tanpa suara seraya mencari kata – kata, itu bukanlah ekspresi yang normal.

Aku beranjak secara refleks, dan melihat matanya.

Kedua mata itu terarah ke langit dan mengusut langit rendah yang tergantung di atas Dunia Iblis.

Pikiranku berubah. Dari benang kusut yang berputar – putar, menjadi lurus.

“Deije… sa… itu…”

“… Oy, oy, apa ini sungguhan… tipu daya macam apa ini?”

Ada sebuah sosok.

Sesosok manusia yang memancarkan cahaya putih cemerlang di langit kirmizi. Sepasang sayap besar yang muncul dari punggungnya berwarna putih bersih.

Dicintai oleh Tuhan, dan diproduksi olehnya. Sisi spektrum yang berlawanan dari Roh para Iblis.

『Malaikat』

Dalam sekejap, dia mengembangkan kekuatannya.

Kebalikan dari miasma yang menyelubungi para Iblis, sebuah aura yang bahkan bisa disebut suci disebarkan ke tanah.

Tubuhku gemetar. Ingatan genetikku, rasa takut yang diukir pada jiwa seorang Iblis ketika melihat para algojo mereka.

Tak peduli bagaimana aku melihatnya, si Malaikat bahkan kurang dari seratus meter jauhnya.

Ini aneh. Mengapa aku belum menyadarinya padahal dia sudah sedekat ini?

Malaikat adalah musuh bebuyutan Iblis. Bagaimana mereka memosisikan diri adalah satu hal, tapi jika mereka mendekat, aku seharusnya mampu menyadarinya dalam sekejap..

Aku memulai ulang pikiranku yang beku dengan kekuatan kemauan. Baiklah. Apa yang harus kupikirkan sekarang bukanlah sesuatu semacam itu.

Aku menepuk punggung Zeta untuk mencairkannya.

Aku tertawa terbahak – bahak.

Aku mendengus. Sebuah niatan buruk yang cukup hebat untuk menghempaskan rasa suci ini.

“Ki ki ki, tepat saat kupikir tidak ada jejak yang bisa ditemukan, orangnya muncul sendiri… aku beruntung.”

Untungnya, selain aku dan Zeta, tidak ada orang lain di dekat sini. Sunyinya kota ini mencekam. Ada banyak ruang kosong. Aku bisa bertarung dengan segala kemampuanku.

Aku menghitung jumlah sosok yang menghiasi langit dengan lincah.

“Sepuluh… ya? Mereka menggandakan diri.”

Kekuatan tiap individu, sesuai dugaan, bukanlah sesuatu yang serius. Bahkan dengan memperhitungkan afinitas mereka, mereka jauh lebih lemah dariku. Jika aku mengekang rasa ngeri naluriah dalam jiwaku ini, mereka adalah musuh yang bisa kuratakan dalam sepuluh menit.

Aku menanamkan kakiku ke tanah dengan kukuh, dan mengumpulkan kekuatan. Jadi aku bisa bereaksi tidak peduli kapan atau bagaimana mereka mencoba datang, aku menyiapkan jiwaku.

Kawanan Malaikat itu diam, sembari melihat turun ke arah kami. Apa yang bersemayam dalam mata mereka hanyalah cemoohan murni. Mata milik mereka yang sedang melihat spesies yang inferior.

Ki ki ki, aku sedang diremehkan.

Inikah pasukan utama mereka?

Tidak, kemungkinan bukan begitu. Ini adalah mereka yang sedang mencoba meraba – raba kekuatan lawan.

Fakta bahwa sepuluh keluar setelah lima adalah buktinya. Apakah mereka sedang mengukur kekuatan para Iblis?

Well, keluarlah dalam jumlah sebanyak yang kau mau. Greed memiliki caranya sendiri untuk melakukan hal – hal ini.

Zeta telah membuat dirinya lebih dari berguna.

Kerja keras mental dan fisik.

Penyelidikan dan pertarungan.

Dari sini, ini adalah bagianku.

“Deije… san.”

“Ki ki ki, mundur.”

『Big Pocket』

Aku membuka subruang penyimpanan Greed.

Karena Penguasa Gluttony tidak menyenangkan yang kuperangi setahun lalu itu, ruang penyimpanan ini hampir kosong. Tapi sebuah benda yang luar biasa telah kutinggalkan menggantung di sana.

Itu adalah sebuah pedang api yang dikatakan telah membakar seekor naga api yang kekuatannya menyaingi Penguasa Iblis hingga mati.

Aku menarik pedang yang telah membuatku terbiasa dengan mudah. Seperti biasanya, baja kirmizinya mengeluarkan sejumlah sihir yang meledak – ledak, menyaingi mentari yang membara di atasnya.

Demon Blade Celeste.Pedang Iblis Celeste.

Pada suatu hari, itu adalah sebuah harta agung yang dianugerahkan kepada seorang Raja Pemalas.

Dengan aku yang menjadi kebalikan dari Tuhan, merasakan aku mengeluarkan gelombang yang serupa, raut wajah seperti boneka para Malaikat berubah kejam.

“Ki ki ki, jangan terlalu khawatir tentang itu. Aku seorang Avaritia. Aku tidak akan sampai mengambil nyawa kalian.”

Jika kau mendapatkan satu, kau akan mengharap sepuluh. Sekali kau mengenal sepuluh, kau akan mendambakan seratus.

Aku tidak bisa puas dengan sekedar sepuluh malaikat. Bawakan seratus, seribu, sepuluh ribu.

Kalian bukanlah target hasratku, tapi aku akan tetap menyesap kalian.

Aku melambaikan Celeste dengan ringan. Sihir yang meluap – luap dari bilahnya mengambil bentuk seekor naga berapi, yang melesat untuk menembus sayap salah satu dari mereka.

Dan saat itu terjadi, tubuh si Malaikat terbungkus api. Dia berputar – putar sembari jatuh ke tanah.

Sebuah raungan menggelegar.

Perawakan besar si Malaikat terbentur atap kafe, dan atap kafe itu mengeluarkan suara keras sebelum runtuh.

Terbungkus dalam api legenda, seorang Malaikat tidak bergerak sama sekali, dan aku tidak merasakan sedikit pun kekuatan darinya.

Aku menjilat bibirku. Sesuai dugaanku.

… Hanya sekali pukulan, kelihatannya. Mereka benar – benar bukan sesuatu yang spesial.

Bahkan di bawah Kelas Ksatria. Bahkan jika aku tidak menghunus Celeste, mereka berada pada level yang bisa kutangani.

Aku mengarahkan pedangku ke sisa kawanan. Seakan tertusuk oleh tusukan yang kubuat ke udara, para Malaikat melenggok di udara kosong.

Haruskah aku menahan diri?

Setidaknya, aku harus membiarkan satu tetap hidup, atau kami tidak akan bisa mengambil kenangan mereka.

Tapi apakah aku memiliki kesempatan untuk mencapai sesuatu seperti itu?

Bisakah aku membuat mereka tak berdaya tanpa membunuh mereka? Keuntungan dalam bidang posisi berpihak pada para Malaikat yang menguasai langit.

Keluaran Celeste terlalu besar. Aku akan berakhir membunuh mereka semua.

Haruskah aku melompat, dan memukul jatuh mereka? Bisakah aku melakukannya? Menghindari serangan di udara?

Saat pikiran – pikiran itu berputar dalam kepalaku, kekuatan para Malaikat membengkak dengan meledak – ledak.

Dari badan mereka, seperti uap, kekuatan, sihir, dan ketuhanan mengalir keluar. Aura suci keemasan yang tumbuh, bahkan dari mata seorang Iblis sepertiku, terlihat suci.

Tubuhku merasakan peningkatan kekuatan musuhku yang tiba – tiba, dan aku bisa mengerti dalam sekejap.

Kekuatan mereka kini berada dalam tingkatan atas Kelas Ksatria. Apakah mereka menahan diri hingga kini? Untuk mengukurnya, mereka berlima semuanya berlipat dua. Perbedaannya terlalu besar.

Tapi tetap saja, superioritasku tidak tergoyahkan.

Kesembilan Malaikat mengulurkan tangan mereka, seakan mencari jawaban dari surga.

Mereka menyiapkan serangan dengan cukup jelas. Untuk menyainginya, aku membuat sebuah ayunan besar dengan Celeste.

Api Iblis itu memanggang lengan – lenganku. Itu adalah kompensasi dari meningkatkan keluaran kekuatan pedang ini.

Meningkatkan keluarannya beberapa kali lipat untuk sekali serang, sebuah pilar api menjalar naik dariku.

Aku menahan sakit yang membuat tubuhku serasa seperti sedang dicabik – cabik dan aku membuat kekuatan itu di bawah kendaliku saat sebuah pilar cahaya dari Surga menimpaku.

Intensitas cahaya itu menggelapkan penglihatanku. Kirmizinya Celeste, dan putihnya Malaikat berbentrokan, dan gelombang yang dihasilkan menyebabkan kafe dan rumah – rumah di sekitarnya goyah.

Tiga meja yang dijajarkan al fresco terhempas seketika, dan mereka hancur begitu menyentuh dinding. Bersembunyi di balik tubuhku, Zeta merendahkan tubuhnya seraya melihat bentrokan cahaya dan api.

Seorang Malaikat terkikik mesum.

Sikap itu membuatku tidak bisa melihat mereka benar – benar menguasai Keadilan.

Dan tawa itu adalah yang lebih cepat dari keduanya.

Aku mengerti saat aku pertama melihat Skill mereka. Orang – orang ini… tanpa ragu lagi, mereka bukan apa – apa dibandingkan dengan Penguasa Pelahap itu.

Ki ki ki, tidak kurasa aku mengambil target yang salah untuk dibandingkan.

Dulu saat seranganku berbentrokan dengan serangan Zebul Glaucus itu, itu adalah oposisi murni, aku tidak menahan diri, dan aku tidak punya kelapangan untuk melakukannya.

Tak peduli seberapa banyak kekuatan yang kucurahkan padanya, aku tidak bisa merangsek maju sama sekali, seakan aku sedang berurusan dengan sebuah tembok yang absolut. Rasanya seakan seluruh dunia adalah musuhku, dan aku tidak bisa menghentikan rasa takut dalam hatiku, tapi orang – orang ini berbeda.

“… Well, kurasa yang ada hanya begitu saja.”

Aku mengayunkan Celeste lagi. Hanya dengan itu, kekuatan naga api itu bertambah, dan ia menelan cahaya itu dengan begitu mudahnya untuk membakar surga.

Naga itu melesat menembus tengah – tengah formasi mereka, dan sejumlah Malaikat terbakar hangus seketika sebelum jatuh ke bumi.

Tawa dari langit terhenti.

Sosok seorang Malaikat tidak begitu berbeda dari sosok seorang Iblis. Dengan wujud yang meniru ras manusia, jubah putih gading mereka berkibar disapu angin. Mata bening bak bola kaca mereka mengikuti rekan mereka yang jatuh. Tapi dalam mata itu, tidak ada rasa takut atau ketidaksabaran.

… Bahkan saat setengah dari mereka telah tumbang.

… Perasaan apa ini?

Bahkan para Malaikat seharusnya memiliki emosi. Bagi mereka untuk se-anorganik ini…

Merasakan rasa ngeri yang asing, aku mengangkat Celeste tinggi – tinggi.

Di saat yang sama, para Malaikat menyebar.

Mereka terbang ke segala arah. Aku tidak akan bilang kecepatan mereka lebih tinggi dari kecepatan seorang Iblis, tapi tidak ada jalan yang pasti di udara. Tidak ada hambatan juga.

Udara adalah taman bermain mereka. Mobilitas mereka kelewat tinggi.

Pedang kirmizi itu menjerit.

Pusaran Mana tanpa arah itu berkilat sekali lagi untuk menyelimuti langit.

Celeste meminta bahan bakar. Bahkan jika ia hanya sebuah pedang, ia adalah sebuah benda karya Iblis. Sebuah pedang yang dilahirkan dengan tujuan untuk menentang Tuhan. Kepribadiannya adalah yang terburuk.

Api yang mengamuk ke kiri dan kanan terbang pada kecepatan yang tidak bisa dilampaui sayap – sayap surgawi itu.

Para Malaikat yang menyebar ke lima arah terbakar, dan satu jatuh ke tanah.

Perbedaan kekuatannya terlalu jelas.

Perbedaan peralatan, selama aku memiliki Celeste, kemenangan telak adalah milikku, dan situasi berlangsung dengan keuntungan itu di pihakku.

Saat aku bisa memukul jatuh Skill – skill Iustitia mereka dengan begitu mudahnya, kemenanganku sudah pasti.

Aku mengabaikan umpan balik panas yang menyakitkan dari pedang itu, dan menjilat bibirku.

“… Ada yang salah dengan gambar ini.”

Bukannya tidak ada perlawanan. Dan kehadiran si Malaikat yang terjatuh ke tanah memang telah memudar.

Tapi, tetap saja… benar, jika aku harus mengatakannya, maka aku sekedar tidak puas dengan ini. Aku tidak bisa melihat apa niatan mereka.

Mungkin ini adalah apa yang Zeta rasakan saat dia menangkap seluruh kenangan itu tanpa hasil.

Aku menghalau sebuah panah cahaya dari atas dengan Celeste.

Si Malaikat yang telah menunggu untuk menggunakan sebuah Skill hangus menjadi abu.

… Tersisa tiga dari mereka.

Tubuhku merinding semakin hebat lagi.

“Deije… san… orang – orang ini…”

“… Seriusan, tipu daya macam apa ini…”

Cahaya yang menyilaukan menghalangi langit.

Langit porak poranda. Pada kekuatan yang menentang dasar seorang Iblis, sebuah gelombang sihir surgawi mengguncang dunia, seakan dunia sedang menjerit di bawahnya.

Cukup untuk membuat pertunjukan kekuatan sebelumnya tampak seperti permainan anak kecil belaka. Jika aku harus membandingkan cakupan kekuatannya, aku yakin kekuatannya setidaknya sepuluh kali lipat yang sebelumnya.

Artinya sejak saat aku pertama melihat kelompok yang sebelumnya itu, kali ini dua puluh kali lipat lebih tinggi.

Seakan pasukan sepuluh Malaikat menjadi dua ratus.

Melawan musuh skala ini, bahkan dengan seorang Jendral di sini, aku tidak bisa memutuskan hasilnya dengan pasti.

Tapi bukan di situ masalahnya. Apa yang harus kupedulikan bukanlah sesuatu yang tak berguna semacam itu.

Jangkauan sejauh mana fluktuasi kekuatan mereka dari titik awal berlawanan dengan watak Malaikat.

Itu adalah hal paling aneh yang harus kupikirkan.

“That can’t be… it can grow that much? Were they hiding their true power? No, there shouldn’t be any meaning behind suppressing it all the way up to here…”

“Mustahil… bisakah itu berkembang sebanyak itu? Apakah mereka menyembunyikan kekuatan mereka yang sebenarnya? Tidak, seharusnya tidak ada artinya menekan kekuatan mereka hingga sejauh ini…”

Sisa Malaikat berjumlah tiga. Tapi tiap – tiap dari mereka terbalut ketuhanan yang mengerikan.

Dari segi Peringkat, mereka jauh melampaui Ksatria, dan jika mereka Iblis, mereka akan berada dalam jajaran Jendral tanpa perlu diragukan lagi.

Aku tidak yakin kapan mereka muncul, tapi ketiga Malaikat itu menghunus pedang – pedang putih dari pinggul mereka.

Itu adalah sebuah Skill yang pernah kulihat di suatu tempat dan suatu waktu sebelumnya.

Benar, itu adalah pedang – pedang suci yang digunakan oleh para Malaikat Keadilan dalam perang dulu.

Sebuah Skill Iustitia.

『Sin Breaker』

Itu bukan Skill kelas-Ksatria.

Memancarkan cahaya, sayap – sayap surgawi itu mengepak. Naik, melayang, dan turun.

Kecepatan mereka saat turun cocok dengan istilah Godspeed. Telah dikatakan bahwa para Malaikat peringkat atas bergerak dalam kecepatan cahaya, tapi mereka ini juga cukup cepat.

Mungkin mereka pikir mereka berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam pertarungan jarak jauh. Pedang cahaya pembantai iblis itu memasuki pandanganku.

Seakan – akan serangan itu adalah serangan terkoordinasi. Hanya saja senyuman – senyuman angkuh yang melekat di wajah mereka mengindikasikan bahwa tindakan ini bukanlah sesuatu semacam itu.

Gaya bertarung mereka kasar. Tanpa teknik atau apapun. Tapi hanya dalam kekuatan saja mereka unggul.

Aku bahkan tidak punya waktu untuk menghela nafas.

“… Well, well, ini akan merepotkan.”

Alangkah bodohnya.

Melawan seorang Iblis Avaritia, terlebih lagi, melawan aku, mereka bersaing dengan permainan pedang?

Pedang keadilan yang mendekati mataku padam dalam sekejap.

Di lengan kiri-bawahku, aku mampu merasakan sensasi menggenggam senjata baru. Begitu melihat senjatanya lenyap begitu saja dari tangannya, si Malaikat membeku sejenak, dan aku menebas naik ke arahnya dengan pedang curian.

Bahkan saat berbalik menyerang penggunanya, Sin Breaker memamerkan kekuatannya tanpa sesal.

Aku menaruh kekuatan ke tubuh bagian bawahku untuk menghentikan energi kinetiknya yang seperti peluru. Lengan yang mengayunkan pedang itu merasakan beban yang berat.Karena dia telah mengepakkan sayapnya untuk mundur, meskipun tubuhnya menerima luka tebasan yang dalam, dia tetap kembali ke udara tinggi.

Saat ia melesat naik, aku melancarkan tebasan untuk mengikutinya, dan bahkan dengan cahaya di punggungnya, aku bisa melihat dengan jelas wajah ketakutan terlahir padanya. Tidak seperti yang lain yang dihanguskan oleh Celeste, keputusasaan menyapu wajahnya beberapa kali sebelum dia sirna.

Dengan bunyi gedebuk, tubuh si Malaikat yang tak berdaya berguling di tanah.

Dia memang kuat. Jika aku menghadapi ketuhanan itu secara langsung, mustahil aku bisa lolos tanpa terluka.

Tapi hanya itu. Aku tinggal tidak menghadapinya secara langsung. Umumnya, Malaikat dan Iblis keduanya mengutamakan penyerangan dibandingkan pertahanan.

Artinya di samping pengecualian – pengecualian langka yang mengkhususkan diri dalam pertahanan, seperti Boss Leigie, sisa dari kami harus menghindar untuk bertahan hidup.

Tapi orang – orang ini bahkan tidak punya naluri untuk melakukannya.

Ini benar – benar tidak cocok. Kekuatan mereka tidak cocok dengan pengalaman bertarung mereka.

Mereka bahkan tidak memperhitungkan atribut musuh mereka, dan serangan mereka hanyalah kebodohan belaka.

Itulah mengapa bahkan tanpa senjata, aku seharusnya mampu menumbangkan mereka dengan mudah. Menggunakan senjata jarak dekat melawan Greed kurang lebih berarti meminta senjata mereka untuk dicuri. Itu karena ada cukup banyak Skill semacam itu pada Skill Tree Avaritia.

Bukan berarti adalah hal buruk bagiku jika musuhnya lemah.

Meski aku memiliki naluri bertarung, aku bukanlah seorang penggila pertarungan seperti Heard Lauder itu. Jika aku bisa mendapatkan hasil dengan mudah, maka tidak ada yang lebih baik.

“… Dua tersisa.”

“Deije-san… kau memang kuat…”

“Musuhnya saja yang lemah.”

Aku membalas kata – kata Zeta dengan ringan. Itu adalah perasaanku yang sejujurnya. Mustahil ini adalah semua yang ada dalam perang – perang melawan Surga.

Dua yang tersisa terhenti di udara.

Malaikat – Malaikat laki – laki. Seakan mereka telah diproduksi massal secara mekanis, dua wajah yang serupa, empat mata totalnya, membelalak ke arahku.

Apa yang ada di sana antara kebencian atau kesedihan.

Dua Malaikat kelas atas.

Tapi aku tidak merasa aku akan kalah dengan mereka.

Aku akan menumbangkan yang pertama, dan menangkap yang kedua, dan menyuruh Zeta mengambil kenangannya.

Kelas Jendral atau tidak, kita akan mengambil segalanya.

Apa masalahnya? Ini hanyalah masalah sepele. DIbandingkan dengan lebih dari sepuluh ribu tahun di neraka.

Aku menggenggam erat Celeste lagi.

Lenganku telah cukup terbakar oleh auranya. Kompensasinya. Umpan baliknya kepada sang pengguna.

Mereka yang menggunakan pedang ini ke batasnya ditakdirkan untuk hangus menjadi abu. Itu adalah sebuah legenda tanpa bukti untuk mendasarinya, tapi pedang ini terbalut kekuatan setaniah yang cukup untuk memberinya kredibilitas.

Aku belum jatuh sedalam itu untuk harus mengandalkannya sampai sejauh itu.

Dengan sebuah dengusan seorang Malaikat mengeluarkan suara penertiban.

Itu adalah sebuah jeritan tinggi menjengkelkan yang meraung di belakang telingaku. Tak mampu menahannya, Zeta menutup telinganya, dan berjongkok di titik itu juga.

Dunia berguncang. Bergemuruh. Bergetar.

Tapi tak ada yang benar – benar bergerak. Itu adalah sebuah gelombang ketuhanan yang cukup hebat untuk mengeluarkan ilusi itu.

Udara Dunia Iblis berubah warna. Dari hitam kelam menjadi putih bersih. Gelap menjadi terang.

Kelopak mata Zeta mengejang akibat situasi abnormal itu, sembari melihat sosok salah satu dari Malaikat itu.

Apa – apaan ini… aku belum pernah mendengar tentang ini.

Tidak, mungkinkah…

“Itu bisa meningkat… lebih jauh lagi? Sialan…”

Membuatku melihat ilusi tubuh si Malaikat mengembang, aura suci yang dilepaskan secara pasif dari mereka tidak melampaui dan tidak juga kalah dari pilar cahaya yang mereka lepaskan beberapa waktu lalu.

Kekuatan mereka yang meningkat mengukir langit, dan membelah awan.

Gemetarnya tubuhku yang telah kutahan dengan memikirkan pertarungan mulai sekali lagi, dan aku mengerahkan segala kekuatanku untuk menghentikannya lagi.

Kekuatan yang kurasakan dari si Malaikat telah melampaui kekuatanku sepenuhnya pada titik ini.

『Abyss Zone』 milik Vanity terkikis habis, dan pecah.

Apa yang mengembang menggantikannya adalah hawa murni dan surgawi. Seakan – akan berkat tuhan itu sendiri tertuang ke tanah ini sebagai bola – bola cahaya, dan sebuah angin keperakan menggantikan miasma yang tertinggal.

Akibat peningkatan kekuatan, sifat si Malaikat mengalami perubahan total.

Dari aura suci mereka yang tak ada artinya, dan ekspresi yang memberikan perasaan yang seperti dibuat – buat, menjadi mata yang memendam semangat bertarung yang kuat.

“Ini..”

“… Oy, oy, biarkan aku beristirahat kenapa…”

Kelas Penguasa Iblis tidak ada di antara Malaikat. Tapi untuk mengidentifikasi mereka dengan kekuatan level Penguasa Iblis, para Malaikat tingkat itu disebut sebagai berikut.

『Penguasa Suci』

Iblis dan Malaikat adalah jiwa yang berlawanan.

Hitam dan putih. Gelap dan terang. Jahat dan baik.

Maka dari itu, melalui watak kami ini, kami selalu ditakdirkan untuk menentang satu sama lain.

Eksistensi mereka, di antara musuh – musuh alami kami, adalah lawan yang terburuk dan terbesar.

“Tsk, apa – apaan… seorang Penguasa turun ke Dunia Iblis!!?”

“…”

Para Penguasa memiliki kewajiban. Mereka memiliki tanah. Mereka memiliki bawahan. Itu tidak berbeda di antara Malaikat dan Iblis.

Meski Malaikat terkadang mampir ke Dunia Iblis, hampir tidak ada ingatan yang kumiliki tentang seorang Penguasa turun ke sini.

Aku tak yakin apa mereka bahkan menyimak kata – kataku, karena si Malaikat tidak membalas.

Dia sekedar menunjuk dengan jarinya dalam diam, dan mengumpulkan Mana menjadi satu titik cahaya.

“!?”

Naluriku sebagai seorang prajurit. Pengalamanku hingga sekarang membuat tubuhku melompat minggir secara naluriah.

Sesaat setelah itu, cahaya itu dilepaskan. Kecepatannya mendekati kecepatan cahaya itu sendiri, dan seorang Iblis tingkat tinggi sepertiku dengan persepsi yang lebih tajam bahkan tak bisa mengikuti bayangannya. Bayangan itu terpisah jauh dengan panah cahaya yang diarahkan padaku sebelumnya, sebuah kekuatan yang pantas untuk seorang Penguasa sejati.

Cahaya yang meleset itu mendarat di teras kafe, dan sesaat kemudian, tubuhku diserang oleh cahaya dan bunyinya.

Raungan yang menggelegar mengguncang gendang telingaku, dan kelima indraku yang rusak dipulihkan secara paksa oleh Skill anti-abnormalitas-statusku.

Aku menggunakan naluriku untuk mengarahkan tubuhku yang jatuh.

Medan pandangku berputar.

Aku memastikan sosok tubuh Zeta yang terluka di tanah. Ia baik – baik saja. Sesuatu setingkat itu tak akan membunuh seorang Iblis Kelas Ksatria.

Aku memastikan situasiku sendiri. Aku tidak menerima serangan itu secara langsung, gelombang kejut dari serangan itu sekedar mengenaiku dari belakang, dan luka setingkat ini bukanlah sesuatu yang akan menghambat pergerakanku.

Mengapa, atas alasan apa seorang Penguasa Malaikat turun ke tempat yang begitu terpencil, aku sama sekali tidak ada gambaran. Aku bahkan tidak ingin tahu.

Keberuntunganku adalah bahwa aku tidak melepaskan Celeste pada saat itu.

Skill – skill Greed tidak memiliki kekuatan serang yang besar. Kehilangan Pedang Iblis itu tentu akan menjadi kerugian yang fatal.

Dan jika aku memiliki ini di tanganku, maka aku memiliki kesempatan melawan seorang Penguasa Suci dari Surga.

Pikiranku menjadi terpilin – pilin parah akibat bertemu dengan musuh bebuyutanku. Naluri yang mengguncang jiwaku membersihkan medan pandangku.

Cahaya yang dia tembakkan dari jarinya. Keluaran dan kecepatannya jelas memenuhi syarat untuk Skill seorang penguasa.

Aku menekuk kakiku untuk mengurangi dampaknya, dan membetulkan sikapku.

Tangan kiriku menggenggam 『Sin Breaker』.

Tangan kananku, 『Celeste』.

Saat ujung jari itu tertunjuk ke arahku sekali lagi, aku mengayunkan Pedang Iblis itu.

Seekor naga api melesat untuk melahap si Malaikat.

Cahaya turun untuk membantaiku.

Api Celeste jelas memiliki cakupan yang lebih luas, tapi tembakan – tembakan si Malaikat semuanya dipusatkan ke satu titik.

Cahaya itu melaju dengan mudah sambil merobek jeroan sang naga. Naga itu tak mampu menghentikan serbuannya.

Dan seakan untuk mempertahankan celah di pertahanan si Malaikat, Malaikat yang satunya melangkah maju.

Dalam ketakutanku, kekuatan naga api itu melemah untuk sesaat. Dengan memanfaatkan itu, kecepatan cahaya itu bertambah.

Aku bahkan tak bisa merasakan kehadiran lain yang sebesar itu hingga saat ini, tapi malaikat yang satunya jelas – jelas memberi perasaan yang sama seperti yang pertama.

Mustahil… apa artinya ini? Apa – apaan yang sedang terjadi!?

“Penguasa Malaikat… ada dua!?”

Aku hampir tidak mampu menutup celah kekuatan dengan satu, sudah begitu aku harus menghadapi dua. Para Penguasa yang belum menunjukkan wajah mereka dalam puluhan ribu tahun berjajar seakan aku sedang mengalami mimpi buruk.

Aku tidak bisa melihat apa yang mereka pikirkan dari ekspresi mereka, dan semua yang bisa kulihat adalah mereka bertekad untuk membunuhku.

Semua hanya akan memburuk kalau begini. Aku melompat minggir, dan cahaya itu selesai melaju menembus naga yang tak dapat kukendalikan lagi dan cahaya itu menusuk tanah tempat aku berdiri sebelumnya.

Bahkan saat aku belum menerima satu serangan pun secara langsung, sekujur tubuhku terasa nyeri.

Haruskah aku mundur?

Apakah aku bahkan bisa mundur? Dari monster – monster ini?

Anehnya, aku mulai mengingat saat aku mundur dari pasukan Boss Leigie setahun lalu.

Takdir. Apakah takdirku akan mengusirku pergi dari sini?

Setelah lolos dari Penguasa Iblis Pride itu, Heard Lauder, aku akan mati di sini?

Sebuah sensasi menjalar dari ujung kaki ke ujung kepalaku.

Panas gelap yang mengalir keluar dari jiwaku memberi kekuatan pada tubuhku.

“Ki ki ki, menarik, bukan? Jika kau pikir kau bisa, maka datanglah padaku.”

Aku mengangkat Pedang Iblis itu di atas kepalaku. Kedua Penguasa Malaikat melangkah mundur dengan hati – hati.

Api Celeste tak tertandingi. Tapi pada akhirnya, sebuah Pedang Iblis tetaplah sebuah pedang.

Yang dibuat untuk membelah.

Jiwaku terus mengeluarkan rasa sakit yang tumpul.

Aku menendang tanah dengan kuat, dan menusuk.

Aku memuntir tubuhku. Aku memusatkan seluruh energi kinetik perawakanku ke pedang itu, dan melemparkannya.

Pedang Iblis itu menjadi komet kirmizi yang melesat ke arah para Penguasa Suci. Sihir yang biasanya digunakan untuk membuat api skala besar kini dipusatkan di ujungnya, dan serangan ini adalah serangan terkuat yang bisa kulepaskan pada saat ini.

Tapi tanpa menunggu hasilnya, aku berlari, dan mengambil Zeta dalam lengan – lenganku.

“Hah, hah… gu… apa kita lari?”

“Ki ki ki, hidup hanya bisa dinikmati jika kau bertahan hidup.”

Harta dan kekayaan, kau bisa menimbun sebanyak yang kau inginkan selama kau terus hidup. Bahkan tidak ada gunanya menyamakannya.

Alunan suara bernada tinggi yang kuanggap jeritan para Malaikat menerpa telingaku. Tapi bahkan tanpa mencari tahu apa efek yang seharusnya ia hasilkan, resistensi abnormalitas statusku aktif, dan menghapusnya.

Semua yang tersisa hanyalah berlari. Para Malaikat memiliki mobilitas yang mengerikan, tapi jika aku berlindung di dalam kota, akan sulit untuk mencariku dari langit. Ada banyak tempat untuk sembunyi.

Dan ada beberapa keuntungan dari pertarunganku.

Mustahil Vanity tidak menyadari fakta bahwa seorang Malaikat muncul di sini. Pada kasus ini, zonanya bahkan pecah.

『Abyss Zone』 bukan hanya sebuah Skill untuk memperkuat pasukan sekutu.

Itu adalah perluasan persepsi seorang Penguasa Iblis. Itu membuat mereka bisa merasakan apabila pasukan musuh menginjakkan kaki di tanah mereka.

Jika aku bisa tetap berada di atas kakiku hingga pasukan datang, kemenangan milikku. Jika aku ditemukan, aku kalah.

Ki ki ki, betapa tidak menguntungkannya taruhan ini.

Meski tidak selebar itu, aku akan keluar ke jalan utama yang terbuka. Jika mereka menembakkan cahaya itu ke arahku dari belakang, maka berakhirlah sudah.

Selama minggu yang lalu, aku telah mengukir peta kota ini ke kepalaku. Orang – orang itu seharusnya tidak begitu mengenal tempat ini, dan cukup ironisnya, dari pencurian kenangan kami, kami tahu segala titik dengan sedikit pejalan kaki, dan visibilitas yang buruk. Kami tak pernah berpikir itu akan membantu kami kabur, sih.

Saat aku berbelok ke gang di sisi jalan, aku melihat sebuah sosok ambruk di kakiku.

Dengan mantel khaki yang membalut tubuhnya, seorang Iblis berperawakan kecil. Di saat yang sama, sosok itu adalah sosok yang telah biasa kulihat seminggu ini.

Ia adalah Iblis yang selalu terkulai di atas meja di teras kafe. Aku juga di sana untuk beberapa waktu, jadi meski tidak ada hari di mana aku tidak melihatnya, aku mulai menganggapnya sebagai bagian dari latar belakang.

… Mungkinkah orang ini tadi di teras?

Melihat Iblis itu masih menghadap ke bawah, dan tak bergerak, aku ragu untuk sesaat. Tapi aku tidak punya waktu untuk itu.

Aku meyakinkan diriku, dan mengangkat si Iblis di tengkuknya.

Aku tidak begitu peduli, tapi meninggalkan yang satu ini bukan gayaku.

Aku tak akan menyebutnya niatan baik, tapi jika aku harus bilang, aku terdorong untuk melakukan itu entah mengapa. Dan juga, dengan kekuatanku, membawa satu atau dua orang tidak begitu berbeda, dan karena aku mencampakkan Celeste, aku memiliki satu atau dua lengan yang luang.

Aku menggenggam lehernya seperti seekor anak kucing, dan saat aku mengangkatnya, tudungnya terlepas terbang.

Secara naluriah, aku melempar Iblis di belakangku dengan sekuat tenaga.

Saat mendapati timbunan Khaki itu dilemparkan ke arah mereka, para Malaikat yang mendekat terhenti sejenak.

Di atas pundakku, Zeta menjerit.

“A-apa – apaan tadi!? Tiba – tiba saja…”

“Yang… benar saja… mengapa…”

Bagaimana aku harus mengungkapkan pikiran – pikiran yang berkejaran di kepalaku?

Ketakutan. Keterkejutan. Kebingungan. Kekaguman. Semuanya bercampuraduk, tapi jika aku harus menyingkatnya menjadi satu kata, aku ‘tercengang’.

Dua Malaikat itu yang kehadirannya tak bisa kurasakan.

Dua Penguasa Malaikat itu.

Puncak seluruh peristiwa beruntun ini melampaui impian tergilaku.

Lebih hebat dari para malaikat, sebuah mimpi buruk yang ajaib.

Aku mencoba membuka mulutku untuk menyampaikannya dengan kata – kata, tapi pikiranku tidak mau menyatu. Aku tidak tahu harus bilang apa.

Aku mencoba menggerakkan mulutku dengan ketakutan, dan akhirnya emosiku yang berjungkat – jungkit jatuh pada kelelahan.

“Jadi bahkan Boss Leigie telah… memainkan perannya kali ini…”

Aku tak yakin apa yang disimpulkan pikiranku, tapi satu – satunya kesan yang terpikirkan di sana adalah sosok seorang Penguasa Sloth yang lamban.

 

[1]Diambil dari peribahasa Bahasa Inggris, “All work and no play makes Jack a dull boy.”, yang artinya terus bekerja tanpa bermain akan membuat seseorang merasa jemu dan juga menjemukan

Chapter Sebelumnya | Chapter Selanjutnya