Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 1: Aku Kenyang

Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 1: Aku Kenyang
Diterjemahkan oleh Aftertolv

Selamat membaca! 🙂

Rasa Lapar Gula

Part 1: Aku Kenyang

Mengapa aku bertindak sejauh itu hanya untuk mengonsumsi hal – hal semacam itu?

Aku telah menerima pertanyaan yang demikian bodohnya waktu demi waktu demi waktu…

Itu adalah dialog yang cukup tak berguna untuk membuatku menahan tawa.

Aku berani taruhan tidak ada satu hal pun di dunia ini yang lebih tak berarti dari hasrat seorang Iblis.

Hasrat – hasrat ini bukan ada karena kami, Iblis.

Sebaliknya, karena hasrat – hasrat ini ada para Iblis tetap hidup. Itulah mengapa kau tidak bisa memanggil seorang Iblis yang tanpa dosa seorang Iblis.

… Dan… dan karena aku telah menjadi orang yang tak bisa memberikan jawaban langsung pada pertanyaan tak masuk akal itu, kurasa aku bukan lagi sesuatu yang bisa kau panggil seorang Iblis juga.

Kebangkitanku adalah sebuah kebetulan, tapi juga tak terhindarkan.

Jiwaku memang padam sekali, tapi seakan masih memiliki penyesalan yang tertinggal, jiwaku menunjukkan kemauan rakusnya, dan kembali.

Dengan kabur, seakan muncul ke permukaan dari sumur air yang dalam, kesadaranku muncul, dan tentu saja, pikiran pertama yang muncul di benakku adalah ‘mengapa?’

Bahkan jika aku seorang Penguasa Iblis yang telah menimbun banyak kekuatan seiring berjalannya waktu yang tak berujung, sebuah jiwa yang telah padam tak akan pernah bisa kembali. Tidak ada yang namanya kehidupan kedua. Seharusnya tidak ada.

Tapi aku segera menemukan jawabanku.

Yang tercermin dalam pandanganku yang sedang menyesuaikan diri dengan lamban adalah padang kerikil yang membentang tanpa ujung.

Tak bisa memahami apa yang telah terjadi, tak bisa mengerti apa yang harus dilakukan, aku sekedar mengawasi lingkungan sekitarku dengan santai.

Aku seharusnya berada tepat di jantung pertarungan, tapi di atas tanah yang hitam itu tidak terlihat sang Penguasa Sloth maupun bawahan – bawahannya, dan dari fakta bahwa bahkan tidak ada jejak api yang tersisa dari Pedang Iblis itu, aku memutuskan bahwa waktu yang cukup lama telah berlalu.

Dalam kelinglunganku, aku beralih ke telapak tanganku. Tubuhku praktis sama dengan tubuh yang kubanggakan dulu. Kaki dan tangan yang telah membuatku terbiasa, bahkan setelah menerima kerusakan yang begitu besar dari Penguasa malas itu, berakhir tanpa lecet sama sekali, dan aku bisa membuat gerakan – gerakan halus tanpa perlu dibantu. Seakan – akan kerumitan patahnya tulang – tulangku yang kurasakan dalam pertarungan hanyalah mimpi belaka.

Dengan begitu saja, di tanah yang begitu luasnya, bintang – bintang Dunia Iblis yang tak berubah dalam beberapa puluh ribu tahun menyinariku.

Kata – kata tanpa makna yang datang ke mulutku keruh dengan air mata.

“Haa… haa… dia tidak menghancurkan intiku… Leigie, bukankah kau… seorang idiot?”

Alasan aku mampu bangkit dari kematian dengan sukses kemungkinan ada tiga.

Pertama. Skill milik Leigie memang menghancurkan tubuhku dengan cukup menyeluruh, tapi tidak berhasil meremukkan jantung seorang Iblis, inti jiwaku.

Kedua. Bawahan – bawahannya bahkan tidak meragukan kematianku, dan mereka tidak memeriksa inti tersebut.

Ketiga. Tanah Penjara Kegelapan luas, dan dalam selang waktu yang dihabiskan inti jiwaku untuk melakukan regenerasi, tidak ada pasukan lawan yang kebetulan lewat.

Jika satu saja dari itu tidak terjadi, kesadaranku akan hanyut ke neraka abadi, ke kedalaman Penjara Kegelapan yang sebenarnya, dan tak akan pernah muncul lagi.

… Well, aku akan mengesampingkan apakah itu hal yang baik atau bukan.

Bagaimanapun, aku memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan tubuhku. Kalaupun ada, maka itu pasti berkaitan dengan jantungku.

Merebahkan diriku di tanah Penjara Kegelapan, yang berwarna gelap seperti bubuk mesiu, aku menatap naik ke langit.

Masih dalam trance. Bahkan saat aku belum mulai memikirkan tentang itu, kata – kata mengalir keluar.

“Fufu… jadi aku harus… hidup dalam rasa malu.”

Aku ragu ini terjadi atas kehendak sang Penguasa Sloth. Pria itu bukanlah orang yang akan melakukan apapun yang merepotkan.

Tapi, tetap saja, cukup jelas bahwa aku telah kalah. Sembari membawa nama sang Penguasa Pelahap, aku menemui zat yang tak bisa dimakan untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Dan rasa puas yang kurasakan pada akhirnya akhir cukup untuk membuatku kenyang.

“Aku sudah kenyang…”

Aku puas. Tidak se-iota pun kelaparanku tersisa.

Momen saat aku menetapkan hatiku untuk kematian adalah satu hal, tapi kini itu telah diperluas ke kehidupanku, itu adalah sensasi yang cukup mengerikan.

Rasa laparku adalah musuhku, tapi juga temanku. Itu hanya karena ia ada di sana saat aku seorang Penguasa Iblis, saat aku mampu memakan segala ciptaan.

Dengan hilangnya itu, aku yang sekarang bahkan bukan seorang Iblis, dan meski ini sudah jelas, aku sudah pasti bukan Malaikat. Aku pasti satu kepingan yang cukup besar dari sebuah eksistensi.

“Leigie, kenyataannya adalah… kau membuatku memikirkannya untuk pertama kalinya.”

Terimakasih atas hidangannya.

Jamuan terakhirku telah berlanjut untuk waktu yang lama sampai akhirnya berakhri. Maka bagaimana situasi saat ini?

Tidak ada dewa di neraka. Jika ada, maka dengan logika apa dia bekerja untuk menaruhku di tanah ini sekali lagi?

Rekan – rekan dan pengikutku sudah tiada. Aku telah memakan segalanya. Bahkan keluargaku.

Dan kali ini, kali ini, teman terdekatku dari lebih dari seratus ribu tahun lalu, rasa laparku, telah tiada.

Benar – benar hilang. Kendati puasnya aku, sebuah jurang rasa lapar yang tak tertandingi telah terbuka dalam perutku.

Setelah mati sekali, dan bangkit di sini, mungkin itu adalah kompensasiku.

“Fufu… well, baiklah. Jika begitu adanya, aku akan bermain sedikit lebih lama.”

Tanpa tujuan atau kemauan, aku akan menghabiskan hidupku dengan sekedar terus menuruni jalan tak berujung ini. Alangkah kejamnya ini.

Bahkan jika aku tidak memiliki tujuan, karena aku telah berada pada jalannya, karena aku telah menghadapi kekalahan, aku perlu terus mengikuti jalan ini.

Jika aku melakukannya, maka mungkin aku akan tahu alasan hilangnya rasa laparku.

“Well, mungkin berkelana di Dunia Iblis tanpa tujuan untuk beberapa waktu tidak akan begitu buruk…”

Dulu aku selalu bertarung. Dulu aku selalu melahap.

Semuanya hanya untuk memuaskan rasa laparku.

Hari – hari itu memang absurd, manis, dan menyenangkan, tapi jika aku melihat balik sekarang, dulu aku hanya didorong kesana kemari oleh hasratku. Setelah diputuskan dari rasa laparku, aku menyadarinya untuk pertama kalinya.

Maka jika itu sekarang, dengan hilangnya rasa laparku, dengan aku yang bahkan bukan seorang Iblis…

Pemandangan Dunia Iblis ini pasti menjadi sedikit berbeda dibandingkan dengan dulu saat aku menjadi seorang Penguasa Iblis.

Mari tinggalkan dunia yang dulu kusebut meja makanku, dan temukan yang baru.

Menggerakkan kaki dan tanganku untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, aku menyokong naik tubuhku, dan berdiri.

Angin yang suam suam kuku menyapu tubuhku. Menyadari bahwa aku tidak mengenakan apapun, aku menghela nafas.

Telanjang itu melakukan… itu adalah sebuah sentimen yang telah lama hilang dariku, tapi ditinggalkan dalam keadaan tidak senonoh ini tidaklah baik. Akan tidak termaafkan buat mereka yang telah menghilang ke dalam perutku, Iblis – iblis Gluttony yang telah melayaniku hingga akhir.

Well, mungkin kesempatan kedua untuk hidup ini akan lebih menghina buat mereka daripada apapun, sih…

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku menggunakan sebuah Skill.

Aku hanya sedikit gelisah, tapi bahkan tanpa rasa laparku, aku mampu mengoperasikan Skill – skill Gula tanpa masalah.

Manifestasi rasa lapar. Kegelapan yang luar biasa dalam terkumpul, dan membungkus tubuhku. Bagiku, ini adalah pakaianku untuk bertarung, dan di saat yang sama, garmen seremonialku.

Skill – skill Gluttony mengkhususkan diri dalam penyerangan, jadi mereka tidak akan begitu berguna sebagai sebuah zirah, tapi itu jauh lebih baik daripada telanjang.

Untuk argumen, aku mencari pedang yang kusukai, tapi kelihatannya itu tak tergeletak di sekitar sini.

Yang satu itu adalah kesukaanku, dan kemungkinan itu berada di tangan salah satu bawahan Leigie pada saat ini. Ada seorang Iblis Greed di antara mereka, jadi mungkin pedang itu bersamanya.

Well, semua itu tidak begitu berarti. Bahkan Greed-kun itu yang membangkitkan selera makanku hingga sejauh itu, sekarang karena aku kehilangan nafsu makanku, sama tidak berartinya buatku dengan bahan – bahan makanan yang tak terhitung banyaknya yang berserakan di tanah berdebu ini.

“… Kurasa aku harus beranjak…”

Aku berbisik.

Aku sudah tahu apa yang akan kulakukan.

Aku akan menemui Leigie lagi. Untuk alasan itu, aku mulai melangkah maju. Itulah satu – satunya alasan. Saat gadis yang seharusnya telah dia bunuh muncul di depan matanya, wajah macam apa yang akan pria itu buat? Aku sedikit mengharapkannya.

Aku memberi perintah pada tubuhku, yang terasa lebih berat dari sebelumnya, dan melangkahkan satu kaki ke depan.

Betapa tandusnya realita ini tanpa rasa lapar?

Aku tidak terluka sama sekali. Otot – ototku juga tidak melemah sama sekali.

Sekedar karena fakta bahwa aku tidak memeluk sebuah hasrat dengan benar, karena fakta bahwa aku tidak memiliki kemauan yang kuat lagi, kelihatannya tubuhku menjadi sesulit ini untuk digerakkan.

Peta Dunia Iblis memiliki nama yang melekat padanya berdasarkan warna tanahnya, dan atmosfer yang mengelilinginya. Bahkan jika aku tidak tahu lokasi tepatku, aku punya gambaran umum.

Kawasan yang mengelilingiku, jauh sampai ke ufuk, terisi dengan kerikil hitam, dan beberapa warna abu tercampur di sana sini, mengambil cahaya mentari tanpa akhir.

Dan sesuai dengan nama Penguasa negeri ini, udara tak bermakna yang terisi dengan mana suram seakan untuk menurunkan semangat seseorang.

Itu adalah bukti dari bagaimana, selama bertahun – tahun, membangkitkan kekuatan Penguasa Sloth, lingkungan ini mengalami perubahan.

Bahkan dengan memikirkan ke kenangan tertuaku, tidaklah sulit untuk mengingat bagaimana ini selalu Penjara Kegelapan yang dikuasai Leigie dari Acedia.

Artinya jika aku meneruskan ke arah ini, maka benteng Leigie… aku akan sampai di Kastil Bayangan.

Tapi apakah itu benar – benar baik saja?

Bukankah itu seperti melewatkan kisahnya, dan langsung pergi menantang boss terakhirnya?

Dengan perkiraanku, kekuatanku sendiri belum melemah, tapi itu hanyalah keganjilan lain.

Kekuatan seorang Iblis adalah hasrat mereka. Mustahil aku yang sekarang yang tidak memeluk rasa lapar sama kuatnya dengan aku yang penuh nafsu makan yang baik dan sehat.

Aku bimbang untuk beberapa saat, dan memutuskan untuk menggeser tujuanku.

Pada saat ini, aku tidak memiliki kemauan untuk menentang sang Raja Pemalas. Aku memang tidak memiliki kemauan dari awalnya.

Akan buruk untuk langsung mengincarnya. Setidaknya, memahami situasiku sendiri, dan situasi terkini Dunia Iblis harus didahulukan. Aku belum pernah mengalami regenerasi dari inti jiwaku sebelumnya, tapi aku bisa menebak bahwa itu tidak memerlukan waktu yang singkat.

Maksudku, aku punya segala waktu yang kubutuhkan. Dengan hilangnya kebutuhanku untuk makan, melihat kembali, waktu yang kuhabiskan mengerikan panjangnya.

Sebuah peta muncul di kepalaku.

Aku memikirkan tanah yang terdekat dengan tanah yang dipersatukan oleh Leigie.

Sang Egois, Vanity Seidthroan. Penjara Kirmizi yang dikuasai seorang Penguasa Superbia.

Tyler Gredmore. Penjara Keemasan yang dikuasai seorang Penguasa Avaritia.

Yang memiliki kekuatan lebih adalah Vanity, tapi aku yang sekarang tidak tega menghadapi seorang Iblis Greed. Untuk membariskan jamuan di depanku saat aku bahkan tidak lapar, bayangan tentang itu saja membuatku merinding.

Kesombongan Vanity, anehnya, tidaklah kasar. Dengan mempertimbangkan itu, untuk saat ini mungkin paling baik untuk beranjak ke Penjara Kirmizi. Kualitas pasukannya tidaklah setinggi itu, jadi bahkan jika eksistensi terpeliharaku ketahuan, aku ragu mereka akan mengejarku terlalu jauh.

Setelah memikirkan sejauh itu, aku sadar. Bahkan tanpa tujuan yang megah, bahkan saat rasa laparku tiada, aku mencoba terus hidup.

Itu terlalu aneh, dan akhirnya aku memberi senyuman getir.

“… Fufu… fu bagi insting bertahan hidupku untuk terus berfungsi tanpa hasrat…”

Kelihatannya aku harus sedikit merubah opiniku tentang hidup.

Aku menghela nafas sedih, dan mulai berjalan menyeberangi tanah hitam ini, yang kelihatannya membentang tanpa ujung.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 9 Part 4: Taruhan yang Tak Menguntungkan Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 2: Mungkin Jika Nafsu Makanku Kembali→

Leave a Reply