Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 2: Mungkin Jika Nafsu Makanku Kembali

Hai, tebak siapa yang kembali!
Mungkin rilis-rilis selanjutnya akan sedikit tidak rutin karena berbagai masalah IRL, tapi akan kuusahakan.

Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 2: Mungkin Jika Nafsu Makanku Kembali
Diterjemahkan dan disunting oleh Aftertolv

Selamat membaca!

Part 2: Mungkin jika Nafsu Makanku Kembali

Perubahan situasi selalu datang tiba – tiba.

Bahkan bagi seorang Penguasa Iblis dengan persepsi yang begitu konyol lebarnya, kami tidak bisa menerawang masa depan.

Aku dari tahun lalu tidak akan pernah membayangkan bahwa aku akan kehilangan rasa laparku, dan aku juga tidak pernah terpikir akan jadi sesulit ini untuk bergerak.

Bagi para Iblis yang memeluk dambaan mereka, dambaan – dambaan itulah alasan mereka untuk hidup. Mungkin aku tak pernah benar – benar memahami apa artinya itu hingga aku bangkit dari kematian.

Dunia tanpa rasa lapar, seperti dalam mimpi, tak terasa nyata.

Meski aku telah mendapati diriku di sebuah dunia baru, bagiku, dunia ini tak kalah dari kedalaman neraka.

Aku berada di sebuah kota kecil di Penjara Kirmizi yang kusinggahi secara kebetulan. Dan di sana, aku kehabisan tenaga. Aku kehilangan kemauan untuk melakukan apapun, dan aku terkapar entah berapa lama di sebuah kafe atau sesuatu, melupakan hal yang tak terhitung jumlahnya.

Aku yakin aku telah memiliki rencana. Tapi lubang hitam yang menembus pusat jantungku tak akan memperbolehkanku mewujudkannya.

Segala hal hanyalah urusan sepele. Bagiku, nafsu makanku adalah sebuah hasrat yang tak tertahankan, sekaligus menjadi wujud kenikmatan tertinggi.

Di meja kafe kotor sederhana, aku terkapar. Itu adalah sebuah tindakan yang begitu tak berguna hingga aku bahkan tak mampu menertawakan sang Penguasa Sloth lagi.

Awalnya, seseorang mencoba bicara padaku, tapi mungkin karena lelah denganku yang tidak memberikan balasan sama sekali, semua itu berakhir dengan cepat. Aku juga merasa aku menerima beberapa Skill yang diarahkan ke tubuhku, tapi berlawanan dengan keadaanku, Skill – skill Gluttony yang telah kuasah sepanjang hidupku menangkal semuanya.

Aku sama sekali tidak lapar. Tapi tetap saja, kekuatanku tidak menunjukkan tanda – tanda akan padam. Kekuatanku tidak mau berkurang. Tidak, terlebih lagi, bahkan saat aku tidak memakan apapun, aku merasa kekuatanku terus meningkat.

Itu adalah satu dari beberapa kebenaran yang kuketahui setelah kembali dari jurang kematian, dan itu juga sesuatu yang seharusnya mengejutkanku.

Bukannya aku makan hanya untuk mendapatkan kekuatan, tapi saat aku menjadi lebih kuat tanpa melakukan apapun, entah mengapa aku merasa semua yang telah kulakukan hingga saat ini percuma.

Aku duduk, dan dalam kegelapan yang sunyi, aku memikirkan maknanya. Tanpa hasrat yang dulu selalu mengguncang eksistensiku, aku punya cukup waktu berpikir hingga otakku membusuk.

Aku bahkan mendapat firasat bahwa aku akan bisa memahami sesuatu jika aku menghabiskan waktu sedikit lebih lama lagi.

Tapi entah mengapa, hari ini cukup ribut.

Suara – suara. Cahaya – cahaya. Gelombang sihir yang sedikit nostalgik mewarnai duniaku. Tak peduli aku menyukainya atau tidak, aku merasakannya di segala tempat di sekitarku.

Aku bertanya – tanya apakah semacam kecelakaan terjadi. Bahkan bagi Iblis, pada masa damai, kota – kota seharusnya bersuasana damai dan tenang. Terutama karena tempat aku berada bukanlah sebuah kota besar. Kota ini adalah pemukiman terpencil. Jika aku di wilayah seorang Penguasa Iblis lawan, itu lain cerita, tapi tempat ini bukan garda depan atau apapun. Aku tidak bisa membayangkan siapa yang akan menyerang siapa di tempat ini.

Tapi jika kau membalikkannya, jika ini kejadian yang jarang terjadi, artinya hal ini bisa terjadi sewaktu – waktu. Mereka yang cukup sembrono untuk menyerang kota – kota para Penguasa Iblis yang bersekutu dengan sang Raja Iblis Agung muncul secara rutin.

Informasi yang datang melalui kelima indraku memberitahuku bahwa kota ini telah terseret ke dalam suatu peperangan.

Tapi kekuatan yang berdering di sekitarku, sosok – sosok, dan suara – suaranya, dengan beban yang kurasakan di tubuhku, semua itu hanyalah rangsangan tanpa makna.

Mereka tidak pada tingkat dimana mereka akan mampu melukai seorang Penguasa Iblis sepertiku, dan bagaimanapun juga…

… Bagaimanapun juga aku tidak akan bisa memakan mereka.

Kurasa seseorang tewas. Beberapa sumber kekuatan padam, dan beberapa dari mereka membengkak.

Mungkin ini efek samping dari ledakan – ledakan itu. Meja yang menyokong tubuhku terhempas, dan tubuhku terlempar ke tanah. Lagi, aku tidak tertarik.

Setelah terbanting ke tanah, aku menjulurkan lidahku yang sempurna, dan kucicipi rasa tanah.

… Tidak buruk. Memang tidak buruk, tapi nafsu makanku tidak terangsang sama sekali.

Sejak kebangkitanku, aku telah mencoba menaruh segala macam makanan di hadapanku. Tapi tetap saja, tidak ada tanda – tanda apapun akan kembali.

Bukannya tidak bisa dimakan, tapi aku tidak ingin memakannya. Perasaan itu termasuk salah satu variasi perasaan yang, sejak kelahiranku, amat jarang kurasakan.

Itu juka bukan sesuatu yang kurasakan saat aku menghadapi sang Penguasa Sloth. Yang dulu itu adalah sensasi negatif, tapi aku yakin apa yang kurasakan saat ini adalah nol.

Rupanya, bahkan Iblis non-Gluttony akan merasa lapar seiring berjalannya waktu. Informasi itu telah memberiku suatu optimisme tentang kondisiku sekarang, tapi kini aku bisa bilang bahwa keadaanku sekarang adalah sebuah masalah yang melampaui level itu.

“… Hah, apa sih yang terjadi… bagiku untuk tidak merasakan apapun hingga separah ini…”

Pada titik ini, firasat bahwa aku mungkin bukan lagi seorang Iblis mulai berubah menjadi keyakinan.

Apa ini hal semacam ‘kebenaran dari sebuah kebohongan’…

Tapi tetap saja, apa – apaan ini…

Selagi aku memikirkan sesuatu semacam itu, tengkukku digenggam, kemudian tubuhku dipanggul. Perawakanku tidak terlalu tinggi, jadi aku tidak berpikir Iblis besar manapun akan merasa kesulitan melakukan itu, tapi cukup mengagumkan bahwa mereka mampu melakukannya tanpa mengatakan sepatah kata pun padaku.

Tudung yang tadinya menghalangi cahaya mentari melayang, dan aku melihat wajah orang yang mengangkatku.

Tanduk – tanduk melengkung yang tumbuh di kepalanya, dan enam mata adalah ciri khas sang Iblis. Dan bagiku, yang telah kehilangan seluruh rekan seperjuanganku, itu adalah wajah familiar pertama yang kulihat sejak lama.

Greed-kun bawahan Leigie. Satu dari beberapa eksistensi di dunia ini yang kucoba dan gagal untuk kumakan.

Tapi bahkan dengan seorang yang dulunya kupikir lezat di depan mataku, aku tidak benar – benar merasakan apapun.

Mata – mata Greed-kun melintasi wajahku tanpa ekspresi untuk sesaat. Tatapan keenam pupilnya bertemu dengan tatapanku.

Dan dalam sekejap, tanpa mengatakan apapun, masih tanpa emosi di wajahnya, Greed-kun melemparkanku dengan sekuat tenaga.

Aku dilempar. Seperti melempar bola, begitu saja, tanpa ragu – ragu.

Kejamnya… untuk melemparku setelah bersusah payah mengangkatku…

Mungkin dia menambahkan pelintiran ke lemparannya, karena pandanganku berputar – putar ke segala arah. Di atas angin yang luar biasa, dan sebuah benturan yang cukup hebat untuk mengguncang saluran setengah lingkaranku, tanpa perasaan sungguhan, aku menaruh kekuatan ke tubuhku sesekali, menunggu saat yang tepat, dan mendarat di tanah.

Bahkan jika aku telah kehilangan hasratku, itu urusan yang tak ada hubungannya dengan Greed-kun.

Hey, setidaknya biarkan aku menjaga kehormatanku. Aku mencoba untuk tidak menunjukkan wajahku yang tak sedap dipandang, dan mencoba untuk menekan suaraku, tapi saat suaraku keluar, kupikir suaraku sedikit bernada lelah.

“… Well, well, well, kau benar – benar telah melakukan hal yang kejam barusan… terlebih lagi pada seorang kenalan…”

“M-m-mengapa kau ada di tempat semacam ini!!?”

“Fufu… kenapa ya?”

Kebingungannya cukup untuk membuatku tersenyum.

Reaksi yang bagus. Raut wajah yang kau buat bagus. Seperti biasa, penampilannya pantas untuk seorang yang dipanggil Iblis. Perawakan Greed-kun, tentu, tapi gerak – geriknya juga belum berubah sama sekali sejak terakhir kali aku melihatnya.

Akan bagus jika Leigie juga memberi reaksi seperti itu, tapi…

“Bukan yang lainnya, tapi akulah yang bertanya – tanya mengapa kau ada di tempat semacam ini, Greed-kun… betapa kebetulan.”

“Kebetulan semacam ini… aku tidak membutuhkannya. Boss, tolong biarkan aku beristirahat…”

Kelihatannya aku cukup dibenci. Fufu, bahkan saat aku hanya sedikit melahap koleksinya… Benar – benar bocah yang berpikiran sempit.

Well, aku ragu aku bahkan bisa melakukan sesuatu semacam itu saat ini.

Karena reaksinya, tensiku yang telah menurun ke tingkat yang paling rendah meningkat sedikit.

Akhirnya aku bisa memastikan situasi.

Aku mencium wangi yang membuat hidungku berkedut.

Greed-kun, dan satu bocah Iblis laki – laki yang ia pikul… yang juga seorang Greed-kun. Fufu, dia berbau seperti tipe Iblis yang mencuri emosi. Tidak ada Iblis lain di sekitar sini. Seperti sebuah gelembung udara, seluruh kawasan ini menjadi kosong.

Tapi lebih dari itu, masalahnya adalah musuh.

Musuh… mangsa. Kedengarannya tidak asing.

Aku mengalihkan pandanganku ke samping.

Dua pria bagaikan patung. Mengenakan jubah putih bersih, perawakan besar mereka dihiasi sepasang sayap putih dari cahaya di punggung mereka. Para utusan Surga. Sambil memamerkan nafsu membunuh mereka yang gelap di mata keperakan mereka, musuh-musuh alami bangsa Iblis ini berjajar tepat di tengah Dunia Iblis tanpa keraguan barang sesaat.

Mereka berdua bak pinang dibelah dua, seakan salah satu dari mereka direplikasi. Aura besar yang mereka kenakan disekitar tubuh mereka adalah simbol rasa takut yang nyata bagi bangsa kami.

Jika kau berbuat nakal, para Malaikat akan mendatangimu, kata para orang tua… Fufu.

“Dua Malaikat… Fufu, sudah beberapa lama sejak terakhir kali aku melihat sosok Malaikat… benar – benar disesalkan aku tak bisa memakan mereka.”

Aura ringan mereka yang hanya memiliki sedikit sekali ketidakmurnian di dalamnya mulai terasa ganjil.

Bahkan bagi seorang yang telah hidup sepanjang zaman sepertiku, sebuah kekuatan yang jarang sempat aku temui: Malaikat tingkat tinggi. Terlebih lagi, atasan para Malaikat tingkat tinggi itu.

Kelas 『Penguasa Suci』.

Cahaya putih yang melahap segala yang di sekitarnya ini adalah kebalikan dari 『Abyss Zone』 milik para Penguasa Iblis.

Itu tak lain lagi dari Skill Paradise Field』 yang hanya dimiliki para Penguasa Malaikat.

Ketuhanan mereka memiliki sifat keji yang menghilangkan Mana yang dimiliki para Iblis.

Dalam wilayah di bawah kekuasaan para Malaikat, kami tak bisa menggunakan kekuatan kami sesuka hati.

Mata kedua Malaikat terarah padaku, sang penyelinap yang tak terduga.

Bahkan jika kau melihatku seperti itu… ini tak terjadi atas kemauanku, tahu. Fufu, aku hanya semacam terlempar, tahu.

Yeah, aku baru saja dilempar kesana kemari. Jika kau ingin seseorang di sini untuk disalahkan, maka kejarlah Greed-kun itu, oke?

Nafsu membunuh para Malaikat yang cukup untuk mengguncang jiwa seseorang itu menyentak naluriku. Bukan nafsu makanku, tapi ini pasti naluri bertarung yang para Iblis lain bicarakan.

Greed-kun berteriak.

“Zebul, aku akan memperingatkanmu karena masa lalu kita. Paling baik jika kau lari! Ki ki ki, menghadapi dua akan sulit, bahkan bagimu.”

Bahkan saat kau baru saja menggunakanku sebagai proyektil, itu cukup menyakitkan.

Tapi itu bisa saja hanya kekesalanku yang salah arah.

“Fu fu… kau pikir kau bicara pada siapa?”

Aku adalah seorang Penguasa yang tak terkalahkan. Tidak, tunggu, aku kalah pada Leigie, jadi aku adalah seorang Penguasa yang kalah sekali.

Dalam seratus ribu tahun hidup, satu kekalahan. Aku bahkan tak bisa mengingat jumlah hal yang telah kumakan. Tanpa pernah lari, tanpa pernah kalah.

Jika kau ingin menyebutnya keberuntungan yang bagus, maka sebut saja, tapi lebih dari itu, kecenderungan Gula-ku membuatku bisa berspesialisasi dalam penyerangan.

Penggunaan Skill skill-ku ditemani oleh semacam perasaan yang menggembirakan. Tanpa mengatakan apa – apa, aku mulai menggunakan mereka untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu.

… Fufufu, salahku, Vanity. Aku akan mengambil yang dua ini.

Aura hitam kegelapan yang berkumpul dengan aku sebagai pusatnya menodai aura ketuhanan itu.

Hitam tanpa dasar yang tampak melahap segala warna di sekitarnya, kekuatan gelap yang tampak mewakili rasa lapar itu berada dalam keadaan prima bahkan saat penggunanya telah kehilangan hasratnya.

Aku menyapu bersih hawa suci menjengkelkan yang dimuntahkan Malaikat – malaikat itu sekaligus, dan mewarnai putih mereka dengan hitamku.

Kekuatan yang begitu hebatnya hingga membuat lawan tak berdaya ini adalah, meskipun aku telah kehilangan rasa laparku, bukti bahwa aku masih seorang Penguasa.

Untuk memakan dan mencemari segala ciptaan, kebenaran seorang Iblis Gula.

“Aku tak percaya… kau memakan Paradise Field mereka!?”

“Fu… aku belum memakan apa – apa. Hanya saja kekuatanku lebih kuat dari mereka. Itu saja.”

Karena hancurnya Field mereka, mata keperakan para Malaikat itu berkilat berbahaya.

Itu bukan rasa takut. Tapi sekedar kemauan baru mereka untuk bertarung denganku yang mengeluarkan cahaya. Itu tidak terlalu berbeda dengan apa yang para Malaikat biasa anut saat mereka membantai Iblis.

Cahaya yang kuat terkumpul di telapak tangan mereka. Tidak seperti cahaya yang dipancarkan oleh mentari kirmizi Dunia Iblis, cahaya kuat itu berwarna putih. Tanpa mantra pun, kecepatan mereka bagaikan petir, dan gerakan mereka yang mengalir halus memberi kesan bahwa mereka terbiasa menembakkan kilat – kilat seperti ini.

Tapi aku sudah hafal dengan semua itu. Ingatan tentang perang Putih dan Hitam masih segar dalam ingatanku. Bahkan jika mereka tak pernah muncul akhir – akhir ini, sifat hal – hal ini bukanlah sesuatu yang bisa kulupakan dengan semudah itu.

Ah, itu…

Aku menjilat bibirku. Bahkan saat aku tidak memiliki nafsu makan, aku meneteskan air liur.

… Masa – masa itu memang menyenangkan.

Gemetar kegembiraan menjalar naik dari ujung kakiku hingga ke ujung kepalaku. Seluruh ingatanku dapat dirangkum dengan satu kata, ‘Lezat.’

Masa – masa itu begitu indah. Sangat disesalkan masa itu harus berakhir.

“Fufu… jadi kalian ini Malaikat 『Iustitia』?”

“……!?”

Waktu yang diperlukan sejak mengumpulkan hingga menembakkan energi mereka hanyalah hitungan detik. Atribut mereka didesain untuk menembak dengan cepat, dan juga membanggakan kekuatan serang yang tinggi untuk membinasakan para Iblis.

Mereka menembakkan cahaya yang begitu terangnya hingga aku tidak bisa tetap membuka mata.

Dan tanpa kesempatan untuk menghindar, tumbukan yang hebat menerpa tubuhku.

Kekuatan seorang malaikat sangatlah berbeda dari kekuatan seorang Iblis. Bagaimanapun juga, mereka cepat.

Kecepatan mereka benar – benar menyaingi cahaya. Tak peduli sederapa cepat dirimu, kau tak akan bisa mengalahkan kecepatannya; itu memang pantas menyandang nama Heavenly Retribution.

Yep, kurasa memang pantas.

Yep,

Memang benar.

“…!?”

“Fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu

fufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufufu”

Cahayanya padam.

Aku tak bisa menghentikan tawaku.

Bersama nafsu membunuh itu, ekspresi wajah para malaikat tampak terkejut untuk sesaat. Entah mengapa, tanpa melarikan diri, Greed-kun yang tengah bersembunyi di ujung gang menatapku dengan mata terbelalak.

Tubuhku tak terluka sedikitpun.

“Kalian ini… mungkinkah kalian ini idiot? Melancarkan serangan energi pada seorang Gula… fufu, itu sesuatu yang layak disebut kebodohan hakiki.”

Aku melemparkan mantelku, yang sekarang berlubang besar.

Pakaian hitam legam yang kukenakan di bawahnay adalah 『Gobbling Garments』 yang kubuat dengan sebuah Skill Gluttony.

Semuanya ada hubungannya dengan afinitas. Gluttony relatif lemah terhadap serangan fisik, tapi terhadap serangan magis, Gluttony amatlah kuat. Bahkan melawan sesuatu yang terbuat dari pembunuh alami kami, 『Cahaya』, pernyataan itu tetap berlaku.

Pakaian hitam ini menyerap segala cahaya bagaikan sebuah lubang hitam. Bahkan di bawah cahaya mentari, pakaian ini tampak hitam legam.

Tetap saja… rasanya tidak sedap sama sekali. Aku cukup yakin dulu rasanya cukup lezat saat aku terakhir menyantapnya sepuluh ribu tahun lalu, tapi…

Betapa disayangkan, tapi apa boleh buat.

Bahkan jika aku tak ingin makan, Malaikat dan Iblis adalah sisi yang berlawanan.

Fufu, bagaimana jika aku meminjam teori itu saja untuk sementara?

Aku memalingkan telapak tanganku ke arah kedua malaikat.

“Aku akan menunjukkanmu kegelapan yang melahap segala cahaya.”

Seakan terpicu oleh kata – kata itu, sayap-sayap para Malaikat itu kembali mulai memancarkan cahaya.

Tapi pada saat itu, aku telah menembakkan Wave of Starvation-ku. Gelombang yang perlahan menggerogoti mereka adalah rasa lapar yang tumbuh subur dalam jiwaku itu sendiri. Untuk selang waktu yang cukup lama, rasa lapar itu adalah kutukan yang mematuhi perintahku.

Saat cahaya itu melewati dalamnya kegelapan, cahaya itu terlahap habis, dan memudar.

Rasa hambar itu berubah menjadi energi murni kemudian mengisi tubuhku. Aku tidak selemah itu untuk bisa dihabisi dengan Skill-skill dasar.

Aku menciptakan 『Tentakel』 yang tak terhitung jumlahnya dari tubuhku. Karena kedua tanganku telah terbukti kurang, aku menjadi bisa menciptakan mereka. Merekalah tangan-tanganku.

Jumlah mereka seratus. Tentu saja, jumlah itu jauh melebihi jumlah tangan-kaki kedua Malaikat itu, dan juga tangan-tangan Greed-kun.

Raut wajah kedua Malaikat itu berubah jijik. Ekspresi yang bagus. Kalian membuat wajah yang bagus.

“Kalau begitu, aku akan mulai.”

Sepuluh untuk bergerak. Sembilan puluh lainnya untuk menyerang.

Aku menggerakkan tentakel-tentakelku seperti cambuk untuk membabat kedua malaikat itu dari samping.

Mungkin karena sedang tidak mood untuk disentuh tentakelku, kedua Malaikat itu bergerak bersama. Sayap-sayap mereka memancarkan cahaya, dan mereka terbang naik ke atas untuk menghindarinya.

Itu adalah salah satu nilai jual mereka. Sesuatu yang bahkan dimiliki Malaikat kelas rendah tanpa kecuali- sayap-sayap surgawi mereka… mobilitas mereka.

Dan sebagai seorang Iblis Gula dengan berbagai opsi cara menyerang, tanpa peduli jarak, aku memiliki afinitas yang bagus di sini.

Sembari mengayunkan satu tentakel secara horizontal, aku melesatkan satu lainnya tinggi, dan menimpakannya pada mereka.

Dan aku memanjangkan lainnya lagi. Saat kau mencapai levelku, jumlah dan panjang tentakel dapat diubah dan dimanipulasi dengan bebas.

Kedua Malaikat menghindari tentakel yang mengincar mereka dari atas dengan tipis.

Sambil menghindar, dari telapak tangan mereka, mereka menambakkan Nova-nova besar yang beberapa kali lebih kuat dari serangan mereka sebelumnya.

Bola – bola cahaya itu berjumlah beberapa lusin. Gumpalan – gumpalan energi destruktif menyebabkan lanskap kota berubah. Mereka menembakkannya tanpa membidik dengan benar, jadi bola – bola cahaya itu satu demi satu mengenai bangunan-bangunan, menyebabkannya runtuh.

Tanah berguncang hebat. Kekuatannya cukup hebat untuk mengubah medan pertarungan. Tapi dengan bertambahnya kekuatan destruktif, kecepatan mereka menurun. Mereka melesat ke arahku dengan kecepatan yang jauh lebih rendah daripada cahaya mereka, tidak ada ruang bagiku untuk menghindar.

Aku menyalurkan kekuatan ke tentakel di kakiku, dan menusukkan mereka ke dalam tanah.

Dan aku menghindari mereka semua. Dalam Zonaku, aku mampu melihat segalanya. Aku memahami medan, dan tentang bola cahaya dengan kecepatan yang tidak tinggi-tinggi amat, aku bisa menghindari mereka bahkan dengan mata tertutup.

Dan begitu saja, dengan menerima kekuatan dari gundukan otot yang merupakan tentakel-tentakelku, dalam satu langkah saja, aku telah sampai tepat di bawah kedua Malaikat yang melayang di langit itu. Tentu saja, sementara itu, aku juga tidak menghentikan tentakel-tentakel yang mengejar mereka.

Langit bukan hanya milik kalian semata. Jika aku menginginkannya, maka seperti jaring laba-laba, aku bisa memanjangkan tangan-tanganku.

Tak ada yang bisa kabur dari piring makanku.

“Uge… kau sungguh gegabah…”

Aku mendengar Greed-kun berbisik dengan samar-samar pada dirinya sendiri dengan ekspresi kaku.

Gegabah?

Fufufu… bukan gegabah, tapi memang begitulah jalannya pertarungan seorang Penguasa.

Kupikir Penguasamulah yang ada dimana-mana! Bahkan jika aku mencoba melupakannya, aku tak akan mampu mengeluarkan rasa itu dari pikiranku!

Pada saat perhatian para Malaikat terfokus pada lengan-lengan yang mengincar mereka dari ketinggian, aku menjejak tanah dengan mantap.

Aku menggunakan tentakel-tentakel yang tadinya untuk bergerak menjadi untuk menyerang. Saat sejumlah besar tentakel melesat ke arah mereka dari bawah, satu dari mereka mencoba menghalaunya, dan yang satunya mengarahkan telapak tangannya padaku.

Fufu, mereka masih bergantung pada Skill-skill sihir sampai titik ini…

Tentu saja, bukan hakku untuk protes. Yang bertanggung jawab atas hal ini adalah kalian sendiri.

Seakan untuk mengimbanginya, aku juga merentangkan kedua tanganku.

Judgement Rain.”

The Skyeater’s Darkness.”

Dan cahaya dan kegelapan berbentrokan sekali lagi.

Cahaya mencoba menusuk menembus kegelapan, dan kegelapan mencoba menghisap habis cahaya. Jika kau melihatnya, itu seperti perwakilan mini perselisihan abadi kami.

Energi yang kurasakan dari cahaya itu tanpa ragu lagi adalah energi Kelas Penguasa.

Maka dari itu, kekuatan yang kudapat dari melenyapkannya juga besar.

Dengan meminum cahaya itu, si kegelapan makin bertambah kuat.

Kalau Avaritia yang terhebat di bawah langit dalam hal mencuri, maka tidak ada yang mampu menyaingi kemampuan Gula dalam makan.

Meski begitu, aku ragu aku akan bisa menelan seluruh energi ini. Tak peduli bagaimanapun juga, kekuatan kegelapan selalu selangkah di belakang cahaya.

Saat Penguasa-penguasa yang selevel saling beradu, tak terelakkan lagi bahwa pihak Iblislah yang akan binasa. Aku sangat memahami hal itu.

Itulah mengapa aku menggoda mereka. Dengan tentakel-tentakel.

“Fufu… tidak baik memalingkan muka seperti itu.”

Aku menusuk tangan si Malaikat dengan tentakel yang kugerakkan mengelilinginya dari samping. Pada saat bersamaan, cahaya yang dia pancarkan kepadaku berubah arah, dan melayang jauh.

Untuk sesaat, aku bisa melihat keterkejutan di wajah si Malaikat, dan sebelum itu pudar, si Malaikat telah ditelan oleh kegelapanku.

Jeritan yang tak terlukiskan keluar dari bibirnya.

Sebuah teriakan yang cukup untuk membuatku bergidik. Kekuatan sang Malaikat yang mengalir melalui kegelapan itu mengalir kepadaku. Kemungkinan pada saat itu, dia sedang mengalami penderitaan akibat tubuhnya yang sedang larut.

Malaikat itu mengalir terus, dan menggenggam wajahku dengan telapak tangannya.

Aku tak mampu melihat raut wajahnya. Tapi itu cukup mudah dibayangkan. Pasti itu raut wajah yang selalu diarahkan padaku.

Dan itulah mengapa, seperti biasanya, aku mengucap terimakasih.

“Terimakasih atas hidangannya.”

Dalam sekejap, tubuh si Malaikat bersemayam di dalam tubuhku sepenuhnya. Hanya sisa – sisa sihirnya mengalir ke bibirku.

Sesuai dugaanku, rasanya tawar. Kelihatannya dia memang telah menaikkan tingkat kekuatannya dengan benar, tapi ini terlalu hambar, tahu…

Mematuhi hukum gravitasi, aku mendarat di tanah. Selama aku mengenakan Gobbling Garments ini, aku bahkan tidak membuat debu beterbangan, tapi karena kebiasaan, aku menepuk-nepuk celana panjangku.

Malaikat yang satunya tak lagi di sini. Aku tahu.

Pada saat yang satu mencoba menembakkan serangan ‘Judgement Rain’ itu, malaikat yang satunya terbang pergi. Mungkin jika yang satunya tetap di sini, aku tak akan mampu menusuk tangan Malaikat itu. Dan bahkan setelah ditinggalkan oleh rekannya, emosi si Malaikat yang menembakkan putusannya padaku tak berubah sama sekali.

Maka bisa dibilang itu adalah rencana mereka sejak awal.

“Fu… mereka terlalu memahami. Betapa membosankan…”

Jika mereka hanya melayang – layang, itu lain lagi, tapi aku tak mungkin bisa mengejar seorang Malaikat yang terbang lurus menjauhiku.

Pertama, tidak adanya rasa membuatku tak memiliki hasrat untuk mengejar. Insting untuk bertarung, insting untuk berselisih yang terbakar pada tubuhku terkekang saat memakan yang pertama tadi.

Dulu, tak terpikirkan buatku untuk membiarkan seorang bahan kabur di depan mataku, tapi… well, kupikir ini tidak begitu buruk juga.

Aku melihat kota yang telah menjadi gunungan puing-puing, dan mendapati Greed-kun melihatku dari suatu sudut.

Seperti biasa, keberaniannya cukup mengagumkan. Dengan seorang mantan musuh, seorang mantan Penguasa Iblis di depan matanya, untuknya yang tak takut sama sekali, bahkan buat seorang Iblis Kelas Jendral, itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

Well, meski begitu, pada akhirnya, hanya itulah dia bagiku…

“Ki ki ki, seperti biasa, kekuatan yang kau miliki tak masuk akal…”

“Fufu… bahkan jika kau menyebut mereka Penguasa, mereka bukan apa-apa.”

Sama seperti Penguasa Iblis yang berbeda dari awal hingga akhir, para Penguasa Suci juga berbeda jauh antara yang di atas dan di bawah.

Bahkan di antara mereka, para Penguasa yang barusan kutemui hanyalah… ampas.

Well, meski begitu, mereka adalah stok makanan yang sulit ditemui di Dunia Iblis yang luas ini.

Aku menghela nafas dalam, dan menepuk perutku.

Ah… mungkin jika nafsu makanku kembali…

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 1: Aku Kenyang Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 3: Ini Sia-Sia… Kurasa→

Leave a Reply