Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 3: Ini Sia-Sia… Kurasa

Hai, maaf atas keterlambatannya. Laptop yang kugunakan buat translate rusak.
Bagaimanapun juga,

Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 3: Ini Sia-Sia… Kurasa

Diterjemahkan dan disunting oleh Aftertolv

Selamat membaca!

Part 3: Ini Sia-Sia… Kurasa

Aku menciumnya.

Meja di depan mataku dipenuhi berbagai macam makanan.

Selain di satu wilayah, seluruh Dunia Iblis berada dalam kemiskinan. Itulah mengapa jarang terlihat hidangan sebanyak ini berserakan, tapi aku adalah jenis orang yang tidak memedulikan penampakan fisik, jadi itu tak begitu berarti.

… Sepanjang itu memuaskan rasa laparku.

Di atas piring putih mengkilap terdapat sepotong daging yang meneteskan darah segar.

Sebagai seorang Iblis Gluttony, aku mengerti. Itu adalah daging Naga.

Daging mentah satu dari beberapa ras di Dunia Iblis ini yang mampu bertarung menyamai Iblis. Tentu saja, ini adalah hidangan langka, dan rasanya seharusnya cukup ciamik untuk menyamai rasa Iblis.

Sembari mengawasi gundukan daging yang dibagikan di piring – piring dalam diam, Iblis berperawakan besar yang telah membawanya bertanya takut-takut.

Dia tampaknya seorang Pride atau Greed. Aku tak tahu namanya, atau kekuatannya. Hasratnya untuk menjadi pusat perhatian adalah kelas satu, dan dia adalah pria menyedihkan yang telah mencoba menyerangku saat aku mengerutkan alisku dan berjalan perlahan sendirian.

Bagi seorang Penguasa Iblis, kebanyakan Iblis di bawah Kelas Jendral hanyalah bagian dari gerombolan Iblis rendahan. Paling tidak, bagi seorang yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai seorang Penguasa sepertiku, bahkan setelah aku kehilangan hasratku, aku hanya bisa menganggapnya sebagai ‘salah satu Iblis kebanyakan.’

“… A-apakah itu sesuai selera anda? Itu adalah daging Naga Kirmizi yang kami taklukkan tempo hari. Daging itu tak akan kalah dari daging Iblis… Bagi seseorang seperti anda yang menguasai Gula, pasti itu persembahan yang lebih dari cocok, bukan?”

“… Hah…”

Si Iblis mencoba mengecilkan tubuhnya dengan ketakutan, dan suara paraunya bergetar. Tak ada yang lebih tak enak dipandang dari ini.

Aku memainkan garpu perak di tanganku, dan memandang daging Naga itu.

Betapa merepotkan. Sesuai dugaanku, itu tak membangkitkan selera makanku. Aku tidak mood untuk memakannya.

Baunya sama sekali tidak buruk, dan kekuatan yang dipancarkan oleh daging itu cukup jelas. Kalau membicarakan Kelasnya, itu mungkin bahkan melampaui seorang Iblis Kelas Jendral. Meski daging itu mampu melampaui segala hal lain, daging itu tak mampu melampaui seorang Penguasa Iblis. Tapi meski begitu, tanpa diragukan lagi, daging itu adalah makanan kelas satu.

Bagi si pria menyedihkan yang berlutut di hadapanku, pasti cukup sulit untuk mendapatkannya.

Normalnya, aku akan langsung melahapnya tanpa pikir panjang, tapi sekarang semua sia-sia. Perasaanku tak tergerak.

Bahkan konsep rasa lapar itu sendiri mulai menghilang di seberang ufuk memoriku.

Pertama, saat seorang Iblis menjadi seorang Penguasa Iblis, mereka mampu bertahan beberapa tahun tanpa makan atau minum. Itulah mengapa kami tak perlu mengkhawatirkan kematian, dan bagi seorang sepertiku, yang dulunya akan merasa amat gatal hanya karena melalui satu hari tanpa makanan, keadaan ini adalah keadaan paling aneh yang pernah kualami.

Pada akhirnya, aku tak mampu membangkitkan seleraku untuk memakannya bagaimanapun caranya, dan tanpa mengotori ujung garpu sama sekali, aku meninggalkannya di meja.

“… Tidak, aku baik-baik saja.”

“… Eh? Anda bahkan belum menyentuhnya, bukankah…”

“… Kau bisa memakannya kalau kau mau.”

Ah……………………

Ini bukanlah aku. Ini jelas-jelas bukanlah karakterku. Bagaimana caranya aku bisa menghadapi bawahan-bawahanku yang menungguku di alam sana coba!?

Normalnya, makanannya, piringnya, dan peralatan makan peraknya, dan si Iblis yang menyajikannya semua seharusnya telah berada di perutku sekarang. Akulah sang Pelahap, dasar sialan!

Aku menuruni kursi, dan melewati si Iblis yang menatapku linglung.

Dan pada akhirnya, tanpa memakan apapun, aku meninggalkan kedai itu.

Di pintu masuknya, seorang Greed-kun yang kelewat was-was tengah menungguku.

Oh, dia bukanlah Greed-kun, dia itu… benar, Deije.

Deije Breindac. Mantan jendral pasukan Leigie Slaughterdoll.

Well, pada saat ini, dia hanyalah seorang Iblis penyendiri yang memburu harta karun di negeri asing, sepertinya begitu.

Fufu, itulah yang kau sebut pengangguran, tahu. Pengangguran.

“… Oy, oy, jadi kau benar-benar kehilangan hasratmu…”

“Yeah. Itulah apa yang telah kucoba katakan padamu.”

Ludes. Tak bersisa. Yang tersisa dalam diriku hanyalah perasaan kehilangan nan dalam.

Aku tak tahu apa yang kubutuhkan untuk mengisinya. Tak ada yang mahir kulakukan selain makan.

Deije-kun mengernyitkan alisnya dan membentuk ekspresi sulit, dan melipat lengan-lengannya.

“… Aku belum pernah mendengar sesuatu seperti itu…”

“Yeah, itu karena akulah yang pertama.”

Bahkan jika dia berumur panjang, setidaknya, dia kemungkinan lebih muda dariku.

Well, bagi si individu yang kehilangan hasrat mereka, itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dibicarakan, dan bahkan jika kasus ini pernah muncul di masa lalu, ada kemungkinan bahwa beritanya tak pernah menyebar jauh.

Jika aku berhenti melihat Deije-kun sebagai bahan makanan, dia adalah temuan langka di antara para Iblis, seorang ‘individu berbakat.’

Biasanya, semakin dalam hasrat seorang Iblis, semakin sulit untuk bercakap-cakap dengan mereka. Dari sudut pandang itu, dengan hasratnya yang dangkal, mungkin dia adalah seorang Iblis yang masih pemula, tapi sebagai kawan mengembara, dia tidaklah buruk.

Berlawanan dengan penampilannya yang seperti monster, dia adalah orang yang cukup terus terang. Pria itu.

Well, itu adalah sesuatu yang bahkan bisa kusadari saat aku bertarung dengannya setahun lalu.

“Well, begitulah adanya, jadi aku yang sekarang tidak memiliki kemauan untuk memakanmu.”

“Ki ki ki, begitukah? Aku merasa senang dan damai kalau begitu…”

Melihatnya menghela nafas dalam-dalam memberiku kesan bahwa dia cukup pesimis.

Overthinking tidaklah baik, tahu. Jika kau mau berpikir begitu keras tentang sesuatu maka buatlah pemikiran itu pemikiran tentang bagaimana kau berencana memuaskan hasratmu sendiri.

Terpikir sesuatu, aku mencoba menanyainya.

“… Kau, mungkinkah kau telah merampas nafsu makanku?”

“Ap… mana mungkin. Bahkan jika kau memohon padaku, aku tak akan mau mengambilnya.”

Well, kedengarannya benar.

Kemungkinan besar sasaran pencuriannya adalah harta. Kau bisa menyebutnya tipe Greed yang paling populer.

Pertama, aku ragu seseorang yang menginginkan sesuatu seperti nafsu makanku akan menjadi seorang Avaritia. Jika memang ada Iblis seperti itu, maka dia pasti menguasai Gula bukan Avaritia.

Wajah jijik Deije-kun tidaklah dibuat-buat. Fufu, kau tidak harus membencinya separah itu…

Deije-kun dan si Zeta-kun itu sepertinya sedikit menderita, tapi setelah kau menjadi seorang Penguasa Iblis, panas selevel ini tidaklah cukup untuk memengaruhimu barang sedikitpun.

Setelah memastikan bahwa tidak setitikpun rasa laparku kembali, walaupun aku telah memakan Malaikat itu, aku menurunkan diriku ke sebuah kursi di kafe.

Tentu saja, bukan kedai yang telah kurobohkan sebelumnya. Kedai itu telah hancur akibat gelombang kejut serangan para Malaikat.

Kedai yang terpilih untuk menyemarakkan reuni kami sedikit lebih baru dari yang satunya, tapi keduanya tidak begitu berbeda. Kedai ini semacam kedai makan kecil.

Mungkin karena jauh dari medan perang, hawanya begitu tenang seakan-akan kejadian yang tadi hanyalah mimpi.

Itu cukup untuk membuat orang mengantuk.

Dengan Deije-kun duduk di seberangku, dan Zeta-kun diposisikan untuk mengawasi tiap gerakanku, aku berbincang. Mereka tidak kelihatan ingin menyembunyikan apapun, dan mereka menjelaskan keadaan terkini Dunia Iblis dengan lancar.

Kelihatannya keadaan Dunia Iblis telah berubah drastis di saat aku pergi.

Benar bagiku untuk berangkat ke Penjara Kirmizi. Namaku kemungkinan telah menyebar ke seluruh negeri. Sebagai si Iblis bodoh yang mencoba menarik busur melawan Kanon-sama.

Itulah mengapa bertemu seseorang yang mengenal wajahku seperti Deije-kun adalah suatu keberuntungan. Yep, aku memang beruntung. Bukannya kami telah menjadi rekan seperjuangan atau apa, tapi ada banyak Iblis di luar sana yang tak akan mendengarkan apa yang kau harus katakan.

Juga, saat aku sendirian, perasaan kosong itu mengambil alih tubuhku, dan menghambat fungsi sehari-hariku, jadi dengan mempertimbangkan itu, ketegangan level sedang ini tidaklah buruk.

Malaikat dan Valkyrie.

Turunnya pangkat Leigie, dan tentang bagaimana Heard Lauder menjadi seorang Penguasa Iblis.

Kisah-kisah lawas ini semuanya berita baru buatku.

Dari semuanya, jatuhnya Leigie terdengar ganjil. Aku bertanya-tanya apa yang telah terjadi.

Paling tidak, pencapaiannya karena menghancurkanku seharusnya membantunya naik pangkat, bukan sebaliknya.

Fakta bahwa si Iblis Kuno yang menggerakkan pasukan di bawah namanya, Heard Lauder, menjadi seorang Penguasa Iblis membuat kemungkinan bahwa Heard telah meng-Overrule Leigie jadi opsi yang paling mungkin, tapi…

Bagaimanapun kejadiannya, kelihatannya kematianku adalah permulaan sesuatu.

Seorang Iblis Pride, dan aku yang dari Gluttony tidak memiliki afinitas yang begitu baik. Mereka bukanlah musuh yang ingin kuperangi, tapi… jika binasanya aku memulai sesuatu, maka jika aku ketahuan masih hidup, aku mendapat firasat dia akan mengincarku. Itu cukup merepotkan.

Tapi dengan mengesampingkanku, kedua Greed-kun fokus pada bahasan sebelumnya.

Masa depan ketimbang masa lalu. Well, bukannya aku tidak melihat dari mana mereka datang. Masalah dengan Leigie adalah masalahku, dan Deije-kun tidak ada hubungannya.

Meski Deije-kun sudah cukup ramah, Zeta-kun terus melirik curiga ke arahku, jadi aku memutuskan untuk ikut saja.

“Hmm… Malaikat, ya? Kurasa bulan-bulan biru benar-benar terbit.”

“Terlebih lagi, Kelas Penguasa Suci. Ki ki ki, pasti akan terjadi sesuatu.”

Sambil mengatakannya, mata Deije-kun berkilat dengan hasrat seakan dia sedang menatap mangsanya.

Semua orang tahu bahwa Malaikat terkadang turun, tapi frekuensinya rendah, dan mereka yang di atas kompetensi tertentu tak akan berpikir untuk turun.

Bagi kelas Penguasa Suci, jika kau mengesampingkan Perang Hitam dan Putih sepuluh ribu tahun lalu, turunnya mereka adalah kisah yang belum kudengar akhir-akhir ini.

Kata-kata Deije-kun cukup tepat sasaran.

… Tapi hanya itulah mereka.

Rasanya tidak menyenangkan untuk meredupkan nyala api hasrat Deije-kun yang tulus, tapi ini bukan cerita semacam itu. Ini tak akan menjadi jalan menuju kejayaannya.

Dari sudut pandangku, semua terlalu jelas, tapi seorang Jendral memiliki sudut pandang seorang Jendral, dan seorang Penguasa, sudut pandang seorang Penguasa.

“Fufu… Deije-kun, kau terlalu banyak memikirkannya. Fufu… jika kau menginginkan kejayaan, maka berhentilah mengejar-ngejar sesuatu seperti malaikat, dan mulailah berusaha untuk menjadi seorang Penguasa Iblis.”

Itu adalah persimpangan jalan yang pertama.

Bagi seorang Iblis yang bahkan tak bisa melakukannya, tidak ada kejayaan yang bisa ditemukannya.

Dan mengejar Malaikat buang-buang waktu. Mengasah pikiran dan tubuh di jalan untuk menjadi seorang Penguasa Iblis bukanlah sesuatu yang dilakukan untuk menghancurkan Malaikat dan Iblis.

Semua hanya tentang menengok kedalaman hasratmu. Itu saja.

Lain halnya kalau pertarungan berhubungan secara langsung dengan hasrat tersebut, tapi Dosamu bukan sesuatu seperti itu, bukan?

Fufu, inilah apa yang mereka sebut lari dari kenyataan, bukan?

Deije merengut, dan menggelengkan kepalanya penuh sesal.

“Ki ki ki, mencapai level itu bukanlah sesuatu yang bisa kubayangkan terjadi pada diriku. Aku akan menjalaninya saja.”

Fufu… lakukanlah apa yang kau mau.

Tentu saja, bahkan jika untuk pasukan teman, Avaritia manapun yang mau meminjamkan target hasrat mereka (harta) tak akan pernah menjadi seorang Penguasa Iblis, tahu…

Benar, dosanya… terlalu dangkal. Aku mengenal keserakahan yang menyala jauh lebih terang.

Bagi Deije-kun yang memilih untuk membuang hartanya, dari semua hal, bisa saja itu karena sifat dasarnya, tapi ini cukup parah.

Zeta-kun menanyai Deije-kun. Kelihatannya mereka rekan, dan punya hubungan semacam guru dengan muridnya.

Ekspresi si Iblis muda memang memiliki warna kepercayaan terhadapnya.

“Jadi, Deije-san. Apa yang harus kita lakukan? Kita akhirnya membiarkan satu dari mereka lolos…”

“… Kini karena ada seorang Penguasa di antaranya, kita tidak bisa melanjutkan begini. Aku memang berencana mengejar, tapi di level itu, sejujurnya, ini di luar kemampuanku.”

Musuh alami kami, para Malaikat.

Dan perbedaan Tingkat.

Kata-kata Deije-kun benar. Tergantung situasinya, Avaritia mampu menunjukkan kekuatan yang tak tertandingi, tapi dalam kekuatan bertarung semata, kekuatannya kalah selangkah dibandingkan Ira dan Gula.

Jika dia memiliki Pedang Iblis yang tadi itu, aku berani taruhan dia akan bisa bertarung cukup seimbang dengan Penguasa Suci selevel itu, sih.

Makhluk itu hanya omong besar saja.

“Ki ki ki, sekarang, setidaknya mari menulis sebuah laporan kepada sang Raja Iblis Agung… bahkan sesuatu selevel itu seharusnya memberikan ganjaran yang cukup besar.”

Fufufu… manisnya. Betapa manisnya. Memiliki Iblis Lust untuk kemanisan itu sudah lebih dari cukup.

Kemanisan dan ketegasan. Dia menekan rem dengan terlalu keras. Ada saatnya tipu daya kalah dengan keberanian. Itu adalah fenomena yang kami para Iblis tua jarang saksikan.

Kanon-sama adalah seorang Penguasa yang menguasai Wrath, tapi juga seorang Raja yang baik hati.

Itulah mengapa, bahkan hanya dengan laporan sederhana, kemungkinan akan ada ganjarannya. Tapi Deije-kun, kalau kau terus begitu, maka apa yang kau cari tak akan pernah jatuh ke tanganmu.

“Jadi, Zebul. Apa yang akan kau lakukan?”

“… Well, itu pertanyaan yang bagus.”

Malaikat itu tidak lezat sama sekali, tapi tetap saja, ada sesuatu yang bisa didapat.

Kondisi fisikku tidaklah buruk… tidak, nyatanya aku mengerti aku dalam kondisi prima. Aku yang sekarang kemungkinan bahkan bisa bertarung lebih sengit dengan Leigie itu. Sekali lagi, aku akan mencari pengalaman bertarung dengan Penguasa Sloth itu. Aku tak akan kalah semudah itu lagi sekarang.

Salah satunya karena aku yang sekarang tak merasakan apapun tak peduli apa yang kumakan. Itulah mengapa mungkin aku akan bisa memakannya kali ini. Melawan racun dengan racun… kupikir itulah istilahnya.

Ini adalah nyawa yang telah kukumpulkan kembali, jadi menantangnya lagi tidak terdengar buruk. Aku seorang penantang… fufufu, saat aku memikirkannya demikian, hatiku menari sedikit.

Mungkin karena merasakan sesuatu dari ekspresiku, Deije membuka hanya satu dari keenam matanya, dan bertanya.

“Zebul, maukah kau pergi bersamaku? Dulu, kita memang saling bermusuhan, tapi karena itulah aku mampu memahami kekuatanmu. Ki ki ki, menghajar Malaikat alih-alih Iblis bukanlah pergantian suasana yang buruk, sesekali, kan?”

“Fu… aku harus menolak.”

Usulnya adalah usul yang layak dihormati, bahkan mengejutkan untuk mendengarnya dari seorang Iblis. Mengundang seseorang yang dulu menerorku di masa lalu tak terbayangkan bagiku.

Tapi bahkan jika aku telah kehilangan hasratku, aku masih memiliki harga diriku sebagai mantan Iblis. Dan juga, keuntungan dari menerima undangannya terlalu rendah.

Rasa seorang Malaikat terlalu tak berharga bagiku.

“Mengapa?”

“Fufufu… aku harus pergi dan menemui… memakan si Leigie itu.”

Itu adalah kewajibanku sebagai seorang penantang kepada seorang yang telah mengalahkanku sekali sebelumnya.

Wajah Deije-kun berubah sedikit, dan dia memandangku seolah melihat monster.

“… Dari mana coba kau menemukan energi sebanyak itu setelah kau dihancurleburkan seperti itu…”

“Itu sudah jelas… Jika aku meneruskan hidupku tanpa makan, aku tak bisa memanggil diriku seorang Gula lagi.”

Bahkan jika aku tak lapar sama sekali. Aku ragu kau akan memahaminya.

Ini urusan harga diri.

“… Well, well, well, kurasa semua Penguasa Iblis di luar sana sedikit sinting.”

“Dan itulah tepatnya mengapa mereka lezat.”

“Deije-san… apakah orang ini waras?”

Wajah Zeta-kun terlihat mengeras dengan cukup jelas sembari menunjuk ke arahku.

Betapa tidak sopannya bocah ini.

Well, bagaimanapun juga, aku tidak mengharapkannya untuk memahami jalan pikiranku. Ini adalah milikku, dan hanya milikku sendiri.

Fufu… bahkan jika kau seorang Greed, aku tak akan membiarkanmu mengambilnya dariku dengan semudah itu.

“… Jadi kau akan menuju Penjara Gelap, kalau begitu… Ki ki ki, kepemilikan negeri itu sudah berpindah tangan. Heard Lauder adalah seorang yang kuat, tahu? Maksudku, bahwa ada seorang Superbia yang telah mengikuti Boss Leigie sejak zaman kuno. Bahkan dia adalah Penguasa Iblis Peringkat Satu saat ini. Kau boleh saja sang Pelahap, tapi bebannya terlalu berat.”

“Fufu.”

Kau benar-benar tak mengerti.

Ya, seluruh perkataanmu benar.

Begitulah adanya, Pride bertambah kuat seiring berjalannya zaman. Jika waktu yang berlalu itu sampai hampir sama lamanya dengan lamanya keberadaan Leigie, maka tidak akan ada Penguasa Iblis biasa yang mampu mendaratkan jarinya pada diri mereka. Peringkat bukanlah dekorasi semata, dan sebagai seorang Gluttony, afinitasku terhadapnya buruk.

… Tapi alasan itu tidaklah cukup bagiku untuk tidak makan.

Fufu… Pride Peringkat Satu.

Heard Lauder. Benar-benar disayangkan bahwa aku tak akan bisa mencicipi rasamu saat matang nanti.

Tapi apa boleh buat. Kau mungkin sedikit berat untuk hidangan pembuka, tapi aku akan tetap memakanmu.

“… Keh, kelihatannya kau tidak berpikiran untuk mengubah rencanamu.”

“Mungkinkah kau meremehkanku, Deije-kun? Fufu… bahkan jika aku seperti ini, aku ini seorang mantan Penguasa Iblis, tahu.”

“Tidak, tentu saja, aku tahu itu, tapi…”

Deije menghela nafas tak puas.

Kemungkinan hasrat dangkalnyalah yang mencegahnya dari berempati terhadapku.

Kami berdua adalah makhluk hidup yang berbeda. Jiwa yang menyusun dasar kami, dan pangkat kami berbeda. Kekuatanku termasuk kelas atas bahkan dibandingkan dengan Penguasa Iblis lain, dan tak peduli Deije-kun menjadi seberapa kuat, tak peduli berapa banyak Pedang Iblis yang ia genggam, celah antara kami hampir tak bisa diseberangit.

Aku bertanya-tanya apakah ia menyadarinya.

Bahwa dalam mata yang ia gunakan untuk menatapku, ada secercah kekaguman tercampur di dalamnya.

“Yep… dan terlalu sulit untuk berurusan dengan setiap dan masing-masing dari kalian para Penguasa. Apa boleh buat. Aku akan melakukan apa yang kumau saja, kalau begitu.”

“Dan aku tak berencana menghentikanmu. Turuti hasratmu sesuka hatimu. Fufufu… pastikan kau tidak menyesalinya saat ia menghilang.”

“Aku bahkan tak bisa membayangkan perasaan-perasaan di dalamku padam. Ki ki ki, di mataku, Zebul sang Pelahap… aku tidak bisa melihat milikmu padam juga.”

Sembari menggumamkan itu dengan melebih-lebihkan, dia mengeluarkan tawa yang ganjil.

Matanya, dan suaranya tidak memberiku kesan bahwa dia bermain-main.

Well, hasrat adalah sesuatu yang kau simpan di dalam dirimu sendiri. Hanya pemiliknya yang benar-benar mampu memahami sifatnya.

Seakan untuk menjawabnya, aku menjilat bibirku.

Setelah sedikit gemetar, Deije-kun beranjak. Dia memiliki tujuannya sendiri. Aku tidak memiliki hak ataupun motivasi untuk menghentikannya.

“Jadi kau akan segera berangkat? Dari sini aku berencana menuju Istana Api yang Menyayat secepat yang aku bisa.”

“Fufu… mungkin aku akan menemui seorang kawan lama dulu. Berhenti untuk berbincang sekali-kali tidaklah buruk.”

Sejak awalnya, adalah suatu kebetulan aku memutuskan untuk menginjakkan kaki di Penjara Kirmizi.

Aku datang kemari tanpa mengambil jalan memutar, jadi aku bahkan belum mendengar sedikitpun rumor seorang Malaikat telah turun, dan aku bahkan tak pernah membayangkan akan menemui seseorang yang kukenal.

Tapi pada akhirnya, aku bertemu para Malaikat, dan aku bertemu dengan Deije-kun. Itu boleh saja menyimpang dari tujuanku, tapi karena sudah terlanjur, satu atau dua pertemuan lagi tidaklah buruk

Manusia adalah makhluk yang menarik… tidak, aku cukup yakin maksudku Iblis.

“Seorang… teman lama?”

“Yeah… aku telah hidup cukup lama… bahkan jika aku terlihat seperti ini, aku sudah ada untuk beberapa lama.”

Tentu saja, sebagian besar kenalan itu telah tinggal di perutku…

Jika kau melihatnya dari sudut pandang lain, kau bisa memikirkan orang yang akan kutemui sebagai salah satu kenalan langka yang tidak bersemayam di bawah sana.

Juga ada fakta bahwa aku tak bisa memakannya karena kami dulunya bagian pasukan yang sama di bawah sang Raja Iblis Agung, tapi alasan yang lebih besar terletak pada kekuatan Iblis tersebut.

Fufufu…

Well, bukan berarti kami akrab. Kami adalah rekan untuk waktu yang lama, jadi ada hal simpati itu atau semacamnya.

Mencurigai sesuatu, Deije-kun membuka keenam matanya, dan menatap dengan cukup kuat untuk melubangi wajahku.

“Oy, oy, jangan-jangan maksudmu…”

“Fufufu… well, bagaimanapun juga, kami berteman…”

“… Itu berita bagiku.”

Suara itu suram seberat timah.

Seakan terpukul oleh suara itu, Deije-kun dan Zeta-kun meloncat mundur. Aku sudah menyadarinya sedari tadi, jadi aku tak terkejut, tapi kehadiran itu memang mengerikan.

Cukup kuat hingga bahkan dengan kekuatan Kelas Jendral, kau tak akan mampu merasakannya.

Jika aku tak memiliki Abyss Zone-ku, auranya begitu tipis hingga aku bisa saja kehilangan jejaknya, dan kehadiran yang begitu besar itu, adalah milik seorang Iblis langka yang tidak memamerkan secercah pun kekuatan yang ditimbunnya sejak zaman yang melampaui ingatan.

Itu adalah dasar Pride yang dikuasai Iblis ini.

Zeta-kun melihat naik perawakan besarnya dengan ekspresi kaku.

“A-apa… kau… sejak kapan…”

“… Tsk.”

Dia kira-kira dua kepala lebih tinggi dari Deije-kun, membuat orang berpikir dia salah satu dari 『Greip Giants』 yang dulunya menghuni Dunia Iblis ini.

Otot-ototnya menonjol bagaikan batu, dan mereka menutupi sekujur tubuhnya bagaikan baju zirah. Celah antara harga dirinya dan kehadiran tipisnya membuat orang merasakan sensasi yang begitu membuat bergidik ngeri.

Vanity Seidthroan.

Seorang Penguasa Iblis yang meninggalkan tahta.

Dia adalah seorang yang cukup kasar, yang pertama menyapaku dengan decakan lidahnya. Penguasa Iblis hebat yang membanggakan julukan Sang Egois, menggunakan suara menggelegarnya yang bergema hingga ke langit untuk melontarkan ratapan.

“Mengapa kau hidup… si Penguasa Pemalas itu… tak menghancurkanmu… dengan cukup sempurna.”

“Fufu… betapa tidak sopan. Untuk melontarkan kata-kata itu dalam reuni yang telah lama kita nantikan ini.”

Bersama dengan senyuman yang meluap-luap, keputusasaan yang dalam mulai bergetaran di sekelilingku layaknya percikan api.

Sesuai dugaanku… ini sia-sia.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 2: Mungkin Jika Nafsu Makanku Kembali Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 4: Aku Ingin Tambah→

Leave a Reply