Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 4: Aku Ingin Tambah

Hai,
Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 4: Aku Ingin Tambah

Diterjemahkan dan disunting oleh Aftertolv

Selamat membaca!

Part 4: Aku Ingin Tambah

Sebelum aku menyadarinya, kedai ini telah dikepung oleh pasukan yang tak terhitung jumlahnya. Seperti Vanity, kehadiran mereka tipis, dan situasinya terasa tidak sepenuhnya nyata.

Wajah Deije-kun menegang sembari mengawasi area tanpa terlihat lengah. Sikapnya benar-benar tegang, tapi tidak ada rasa takut pada dirinya.

Pria dan wanita segala usia. Tubuh, kekuatan, dan ukuran mereka sangat bervariasi, tapi hanya dalam satu sisi Legiun itu memiliki sebuah sifat yang membedakannya dari pasukan-pasukan Penguasa Iblis lain.

Tanpa perbedaan gerakan di antara mereka, mereka memaku pandangan mereka padaku.

Boro-boro ekspresi, seluruh wajah mereka terbungkus dalam topeng hitam kelam.

Mereka sedikit menyerupai bawahan-bawahan Vanity saat aku pertama kali melihatnya, tapi mereka juga sedikit berbeda.

Bawahan Vanity sang Egois adalah unit yang unik yang dikenal sebagai Ravus Persona.

Asal usul mereka, alasan mereka, tidak ada yang diketahui tentang mereka.

Bukan karena kekuatan mereka, tapi karena penampilan mereka yang membawa firasat buruk nama mereka dikenal. Sebuah pasukan yang tak dapat dipahami.

Jika kita melihat kekuatan, maka pasukan Leigie yang dulu dikomando oleh Deije-kun jauh melampaui mereka. Selama Vanity tidak bersama mereka, begitulah adanya.

Tapi tetap saja, bahkan tanpa Penguasa mereka, pasukan ini memiliki sesuatu yang tak dapat kuraih.

“Fufu… sapaan yang sesuatu…”

“Waspada itu… wajar… bukan?”

Vanity sampai pada kesimpulannya sendiri, seraya melihat turun ke arahku dari ketinggian yang jauh lebih tinggi dari perawakanku.

Itu sudah wajar. Aku seorang Gula. Aku biasa membuat orang waspada.

Dengan wajah mereka yang tertutup, Iblis-Iblis yang tak bersuara itu tidak mengeluarkan niatan untuk melukaiku sedikit pun, dan mereka sekedar melihat, seakan menunggu perintah dari tuan mereka.

Kesetiaan. Kualitas yang teramat langka untuk ditemukan pada seorang Iblis lebih langka lagi untuk ditemui pada jumlah sebanyak ini.

Fufu… well, aku sudah terbiasa dengan itu dari pengalaman lampau.

Seakan melihat sebuah obyek yang menjijikkan, mata dalam dan gelap Vanity yang penuh hasrat mengawasiku.

“Zebul… pelahap brengsek.”

“Kau menakutiku… fufufu, aku akan lebih senang jika kau tidak memelototiku sebanyak itu.”

Mata itu bukan… mata yang kau arahkan kepada seorang kawan lama, tahu. Maksudku, aku hanya mencoba mencicipi sedikit, bukan?

Tak peduli berapa puluh ribu tahun berlalu, dia adalah seorang yang berpikiran sempit…

Dan seperti biasa, jumlah kata yang ia keluarkan sangat sedikit. Tampaknya itu adalah kebiasaan yang didapatnya saat masih kecil, dan dia tidak bisa meninggalkannya.

Apa sih peribahasa tentang ini…

Si anak adalah ayah dari si pria. Benar, yang itu.

Bahkan tanpa mencoba menyembunyikan rasa jijiknya, Vanity mengeluarkan suara yang parau.

“Mengapa, di sini?”

“Itu… suatu kebetulan, kujamin. Fufu, meskipun aku memang mampir di sini untuk menemuimu.”

“…Jadi aku… terpancing.”

Penjara Kirmizi adalah kerajaan Vanity.

Memasukinya adalah satu hal, tapi saat seorang Penguasa sepertiku masuk, mustahil Vanity tidak menyadarinya.

Seakan untuk mengisi ruang antara mata Vanity dan mataku, Deije-kun membuka mulutnya.

Keberanianmu sendiri patut dipuji… Deije-kun.

“Ki ki ki, dan kalau begitu, mengapa sih kau memutuskan untuk menunjukkan diri pada saat ini, Boss Vanity.”

“… Itu, di sana.”

Vanity menggunakan dagunya untuk menunjukku. Sesuai dugaanku, tak peduli berapa tahun berlalu, dia tetaplah seorang yang kasar.

Puas dengan jawaban itu, Deije-kun mengangguk. Aku ingin sedikit memprotesnya.

“… Kau berencana… memakan… lebih banyak Malaikat?”

“… Kau benar-benar membicarakan hal-hal yang nostalgik.”

Ya, dulu, aku adalah sang Gula yang melahap malaikat, tanpa menyisakan apapun.

Meskipun mereka memang musuh alami Iblis, sebagai bahan makanan, mereka tidak ada kekurangannya. Aku tidak mendiskriminasi makanan. Selain Leigie.

Itulah mengapa Gula yang memakan Malaikat terbanyak sepuluh ribu tahun lalu kemungkinan adalah aku.

Tapi tentu saja, tujuanku kali ini bukanlah sesuatu seperti itu.

Saat pandangan curiga terhadapku mulai muncul, aku angkat bicara dengan nada minta maaf pada si pria yang mengawasiku.

“Tapi tujuan kali ini tidak ada hubungannya dengan itu. Fufu… Vanity. Aku ada urusan dengan Leigie.”

“… Balas dendam… huh.”

Pemikiran yang angkuh. Orang seperti dia pasti selalu memikirkan kekerasan.

“Aku tidak ada keinginan untuk balas dendam. Itu karena aku bahkan tak bisa memakannya. Fufu… kali ini, aku hanya ingin berbincang-bincang kecil. Dengan si Raja Pemalas, itulah.”

Ya. Itu adalah niatanku yang sebenarnya.

Kalau yang kita bicarakan adalah pria itu, yang membawa ketidak-melakukan-apa-apaan sampai tingkat yang ekstrim, maka mungkin dia akan mampu menjelaskan keadaanku saat ini.

Tidak, bahkan jika dia tidak bisa… tak perlu diragukan lagi bahwa pria itulah yang membunuh Penguasa Iblis di dalamku. Untuk mengembalikan hasratku sekali lagi, ini adalah masalah yang harus kubereskan.

Bahkan jika aku hanya akan menerima kekalahan lagi.

Vanity mengangguk pada kata-kataku dengan tenang dan santai.

“Itu… jadi? Lakukanlah yang… kau mau.”

“… Oy, oy, Boss Vanity, kau yakin tentang itu? Si Pelahap, Zebul Glaucus, adalah Penguasa Iblis yang menghunus pedang untuk menentang sang Raja Iblis Agung, bukan? Ki ki ki, kau yakin kau tidak harus membereskan masalah ini?”

Kau benar-benar mengatakan hal yang tidak perlu. Sangat tidak perlu.

Vanity memang seorang bawahan sang Raja Iblis Agung, tapi dia sudah pasti bukan pelayan setianya.

Pertama, Iblis melayani dirinya sendiri. Selain perintah langsung dari Raja, tidak ada aturan yang menyatakan bahwa dua Penguasa Iblis yang kebetulan bertemu harus bertarung satu sama lain.

Karena aku telah berhubungan dengannya untuk sangat lama, aku bisa berkata demikian dengan yakin.

Bahkan jika dia telah meninggalkan tahtanya, jika kau ingin mengelompokkan Penguasa-Penguasa Iblis yang bersekutu dengan Kanon-sama, dia sudah pasti akan berada di faksi anti-Kanon.

“… Jangan… mati… terlalu cepat.”

“Fufufu… apakah aku harus berterimakasih sekarang? Kalau begitu, terimakasih?”

“… fu.”

Vanity mendengus, sebelum segera menunjukkan punggungnya, dan berjalan pergi.

Dan bak ombak yang surut di tepi laut, bawahan-bawahannya merembes keluar kedai.

Rasanya seakan-akan aku habis bermimpi, dan setelah itu, situasinya persis sama seperti sebelumnya.

Vanity hanya di sini untuk sekejap saja. Kehadirannya sama sekali tidak dekat pada saat ini. Menggunakan zonaku, aku nyaris tak mampu menyadari kehadirannya tadi, tapi kini dia lenyap tanpa sisa.

Wajah tegang Deije-kun menghela nafas panjang.

“Apa-apaan… itu tadi? Dia benar-benar seorang yang membawa firasat buruk. Instingku mengirimkan kejut-kejut takut ke sekujur tubuhku… Ki ki ki, dunia ini memang luas. Aku tidak berpikir begini kejadiannya saat terakhir kali aku melihatnya…”

“… Itu karena Vanity sedang bersiap untuk perang. Fufu… artinya hanyalah dia tidaklah setenang yang ditunjukkan raut wajahnya.”

Sejak zaman dulu, pria ini adalah seorang penakut. Pada dosa Superbianya, dia memiliki trauma yang hebat.

Itulah mengapa dia begitu pemalu, dan itulah mengapa dia begitu kuat.

Aku tidak melihatnya selama beberapa waktu, tapi kelihatannya Vanity tidak berubah sama sekali. Tidak, hanya sedikit, keteguhan hatinya bertambah sedikit.

Fufufu… Heard Lauder pasti telah membangkitkan amarahnya.

Zeta-kun memiringkan kepalanya, dan mengajukan pertanyaan pada Deije-kun yang telah mendapat kembali ketenangannya.

“… Tapi mengapa dia bersusah payah jauh-jauh ke sini…? Bahkan sampai membawa pasukannya bersamanya.”

“Kemungkinan dia tadi datang untuk menghajarku… fufufu, itu karena aku mengenalnya cukup baik.”

Kemungkinan, termasuk Kanon-sama, dia adalah Penguasa Iblis yang paling lama kukenal.

Untuk Iblis yang telah kukenal selama itu, kemungkinan hanya Leigie yang mampu menyainginya. Dan juga, mungkin aku kenal Heard Lauder, atau tidak.

“… Menghajar?”

“Benar. Menghajar. Aku tak akan menghalangimu, jadi kau jangan mencampuri urusanku. Hal semacam itu.”

Nafsu membunuh yang mengalir keluar dari Vanity jelas-jelas terarah padaku. Untuk mencoba mengancam seseorang yang, untuk argumen, menguasai Gluttony sepertiku, aku hanya bisa mengaguminya.

Fufu… sama seperti menemui Leigie adalah tujuan tertinggiku saat ini, Vanity pasti memiliki sesuatu semacam itu juga.

Well, aku memiliki gambaran umum, tapi tentu saja, aku tak akan melakukan apapun tentang itu, dan bagaimanapun juga kemungkinan besar itu akan membuahkan hasil yang menguntungkan bagiku.

Saat ini, makan hanya akan merepotkanku. Paling baik jika halangan yang ada semakin sedikit.

Salah paham akan sesuatu, Deije-kun menegangkan wajahnya, dan membiarkan pandangannya melayang-layang ke angkasa.

“Meski begitu, hawa yang memaksa tadi tidaklah normal… apakah si Vanity itu memiliki semacam karma dengan para Malaikat? Kelihatannya memang dia sedikit berhati-hati dengan mereka, tapi…”

Karma. Karma, ya?

Deije-kun setengah tepat sasaran, dan setengah meleset.

Jika kau bertanya apakah dia memiliki karma atau tidak, maka jawabannya kemungkinan iya. Di antara para Iblis berumur panjang, aku ragu kau akan menemukan banyak Iblis yang tidak mempunyai karma dengan para utusan surga itu.

“Fufu, Deije-kun. Iblis itu adalah…”

Haruskah aku mengatakannya atau tidak?

Hmm… aku ragu-ragu untuk sesaat, tapi kelihatannya tidak akan ada masalah yang muncul karena aku mengatakannya.

Aku ingin sok hebat sedikit, jadi aku memutuskan untuk mengajari si kecil tua Deije-kun.

“… seorang mantan 『Malaikat』, tahu?”

Malaikat dan Iblis adalah dua sisi dari koin yang sama. Kami semua sama-sama terbuat dari jiwa, dan perbedaan antara kami hanya terletak pada apakah kami jiwa sampah, atau jiwa yang budiman.

Itulah mengapa, jika seorang Malaikat jatuh, roh mereka bisa berbalik, dan mereka akan menjadi Iblis.

“… Jadi dia telah Jatuh…”

Benar. Seorang Malaikat jatuh menjadi Iblis. Seorang 『Malaikat yang Jatuh』.

Seorang Malaikat yang berbalik. Sebuah jiwa yang murka, dikhianati oleh kasih Tuhan. Fufufu, bahkan, dia jauh lebih berdosa dari aku, dulu saat aku masih seorang Iblis.

Bahkan saat mendengar kata-kataku, Deije-kun lebih tenang dari yang kuduga. Fufu, begitu begitu, kelihatannya dia memang telah makan asam garam kehidupan yang cukup banyak.

Dia berbisik pada dirinya sendiri, untuk mengkonfirmasi arti dari kata-katanya. Setengahnya mungkin bertujuan untuk membuat Zeta-kun bisa mengikuti percakapan kami, karena si pemuda melihat Deije-kun dengan wajah tidak paham.

“Ki ki ki, seorang mantan Malaikat… ya? Tentu itu bukan suatu yang menyenangkan.”

“Well… itu benar. Fufu, dia masih cukup sengit soal itu.”

Tidak menyenangkan. Itu karena jatuhnya dia bukan hal yang menyenangkan pula. Well, itu benar, kurasa.

Tapi mengapa saat ini Vanity menduduki kedudukan seorang Penguasa Iblis? Sebuah eksistensi yang mutlak di antara pangkat-pangkat Iblis?

Inilah mengapa manusia begitu menarik… tidak, Iblis, maksudku.

“… Jadi bisakah Vanity menang melawan Malaikat-Malaikat itu?”

Deije-kun bergumam, tapi seakan tidak mencari jawaban, dia membiarkan kata-katanya menggantung.

“Well, jika hanya Malaikat, dia kemungkinan akan menang. Tapi musuh Vanity kali ini bukanlah Malaikat.”

“… Yeah. Bukan Malaikat biasa, seorang Penguasa Suci. Terlebih lagi, orang-orang itu… mereka bertambah kuat begitu saja dalam pertarungan. Jika itu bukan sesuatu yang mereka sembunyikan, dan kekuatan mereka memang benar bertambah kuat di tengah pertarungan, akan merepotkan.”

Fufu… Deije-kun adalah pengkhawatir.

Tapi kekhawatiran-kekhawatiran itu tidaklah perlu. Paling tidak, jika Malaikatnya selevel yang kuhadapi tadi, dia bukanlah tandingan Vanity, dan itu tadi bahkan tidak benar-benar terasa seperti pertarungan bagiku.

Tapi aku takkan mengatakannya.

Fufufu, apa yang seharusnya kau khawatirkan adalah dirimu sendiri, dan aku perlu mulai mengkhawatirkan diriku sendiri juga.

Aku membalikkan pemikiranku kepadaku.

Hanya padaku.

Sekarang, bagaimana sebaiknya aku menuju Leigie…

Bagaimana sebaiknya aku berangkat…

Akan sulit melewati Heard Lauder. Itulah bagaimana adanya Iblis Pride.

Mereka memiliki kekuatan mutlak, tapi jika aku harus bilang, kekuatan itu berkurang banyak saat dihadapi muka lawan muka.

Tapi dalam pertarungan kejar-kejaran, mereka menunjukkan kekuatan tak tertandingi. Itulah Dosa Asal Superbia.

Tapi pertama, apakah dia bahkan akan melawanku?

Penjara Kegelapan Leigie berada jauh di dalam negeri yang dikenal sebagai Penjara Gelap.

Tak peduli dari arah mana aku berangkat, aku harus menyeberangi wilayah Heard Lauder. Akankah dia memandangku sebagai seorang Iblis yang tak berbahaya?

Tidak, aku meragukannya. Kekuatanku terlalu kuat untuk itu, dan bahkan jika aku mencoba untuk lolos dengan mengandalkan kata-kata, dia semacam maniak pertarungan.

Kalau begitu kejadiannya, aku harus membuat celah.

Jika kami berhadapan, aku tak berpikir aku akan kalah, tapi kemenangan itu tak akan mudah didapat.

Pride pada umumnya adalah atribut yang unggul dalam kecepatan. Pada Level Penguasa Iblis, mereka mampu melihat dunia bergerak bagaikan dunia ini stagnan.

Karena mustahil untuk menerobos dengan lari, pilihan terbaikku adalah untuk menunggu kesempatan yang bagus.

Aku tidak begitu suka menyerahkan diriku pada takdir, tapi untungnya bagiku, tidak akan lama sebelum celah besar muncul pada pertahanan Heard Lauder.

“Fufufu, sebuah kesempatan, ya? Sudah berapa tahun… sejak terakhir kali aku melakukan hal seperti menunggu datangnya kesempatan…”

Buatku, biasanya akan berhasil entah bagaimana jika aku ngotot menerobos.

Perasaan menggembirakan menunggu sesuatu untuk datang ini bukanlah sesuatu yang telah kurasakan untuk waktu yang sangat, sangat lama.

Jadi apa yang harus kukatakan di saat seperti ini… fufu…

“Tambah lagi… mungkin?”

“Hm? Apa kau mengatakan sesuatu?”

“Fufu… bukan apa-apa.”

Aku menghindari tatapan curiga Deije-kun, dan memandang ke arah perginya Vanity.

Bagus. Hasrat itu, emosi itu, cukup bagus. Vanity sang Egois. Dari mata seorang yang mengenalmu begitu lama, aku bahkan tak bisa mempercayai kau dulunya seorang Malaikat.

Waktu dan keberuntungan berpihak padaku.

Fufufu, Leigie. Kemungkinan aku akan menemuimu dalam waktu dekat. Bersenang-senanglah menunggunya.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 3: Ini Sia-Sia… Kurasa Daraku no Ou Chapter 11 – Kelalaian Acedia, Part 1 – Hari Ini Damai→

Leave a Reply