Daraku no Ou Chapter 4 Part 3: Memangnya Dia Pikir Siapa Dia?

Maaf updatenya agak sporadis.

Daraku no Ou Chapter 4 Part 3: Memangnya Dia Pikir Siapa Dia?
Diterjemahkan oleh Aftertolv
Disunting oleh KenMashiro

Part 3: Memangnya Dia Pikir Siapa Dia?

“Apa kau tidak akan membunuhku karena menentangmu?”

“… Kalau kau ingin mati, maka lakukan saja sendiri. Ah, tapi sebelumnya, beritahu mereka bahwa mereka sebaiknya mengirim seorang Sloth setelah ini.”

Hah.

Leigie menghela nafas kesusahan.

Dengan kata – kata itu, aku menjadi yakin bahwa tindakanku tidak berpengaruh sama sekali pada Penguasa Iblis ini.

Dia benar – benar seorang pria yang tidak punya harapan untuk diselamatkan. Kata – kata lelah Kanon mengambang di benakku.

Sebuah Skill untuk menimpa hasrat seseorang dengan Sloth.

Itu adalah dugaanku terhadap skill yang digunakan sekali oleh Penguasa Iblis ini. Aku bahkan tidak tahu namanya.

Pada saat itu, jahanam di hatiku sepenuhnya terkubur.

Dan jika perkaranya benar – benar seperti itu, maka itu adalah… skill terkuat bagi seorang Iblis. Maksudku, kemampuan bertarung seorang Iblis meningkat sebanding dengan tingkat keinginan mereka. Sama seperti 『Wrath Flames』ku yang bergantung pada amarahku, untuk dengan cepat meningkatkan keluarannya.

Itu bukan sesuatu yang terbatas pada Wrath, yang lainnya juga sama. Tanpa dahaga akan kepemilikan materi, Skill Greed tidak bisa digunakan, dan tanpa rasa lapar, Skill Gluttony tidak akan punya daya ledak yang mencukupi.

Skill miliknya adalah omong kosong. Normalnya, skill setipe ini akan diblok oleh Resistensi Pencemaran Mental pada Tree Dasar Iblis, tapi Penguasa Iblis ini entah bagaimana menembusnya dalam sekejap. Itu artinya skill itu tidak bisa diblok dengan cara – cara standar, dan bahwa skill – skill yang tidak bisa ditahan olehnya benar – benar ada.

Aku tidak yakin apakah itu akan bekerja bahkan pada seorang Penguasa Iblis, tapi jika iya, maka bahkan para Penguasa Iblis akan dipermainkan seperti anak – anak. Dan aku tidak mau memikirkannya, tapi kemungkinan dia yang memegang singgasana Sang Raja Iblis Agung, Kanon-sama, juga sama.

Tidak, lebih dari itu, sebagian besar Skill Wrath bergantung pada amarah, jadi kekuatannya akan menjadi bahkan lebih berpengaruh terhadapnya.

Saat aku memikirkan tentang amarah yang membara dalam diriku, itu bukan sesuatu yang akan membara untuk selamanya, tapi jika aku berpikir tentang apa yang akan terjadi jika itu tiba – tiba padam dalam pertarungan, aku tidak bisa menghindar dari merasakan takut.

Efeknya? Jangkauannya? Cakupannya? Syarat – syaratnya?

Menantang Penguasa Iblis ini tanpa tahu satupun dari itu… terlalu berbahaya.Terlebih lagi, dia hanya menunjukkanku satu kekuatan. Saat kau berpikir tentang bagaimana aku memiliki lusinan Skill Wrath, sementara ada perbedaan di antara tree – tree, aku tak bisa menghindari asumsi bahwa Penguasa Iblis ini memiliki jauh lebih banyak dari itu.

Leigie-sama itu… berbahaya. Bukan karena perilaku menjengkelkannya adalah racun bagi kewarasanku, kekuatannya itu sendiri berbahaya.

Ada kemungkinan bahwa Kanon-sama mengetahui ini juga. Itulah alasan mengapa aku diutus. Penguasa Iblis ini tidak akan melakukan apa pun yang merepotkan seperti memulai pemberontakan, tapi dalam peluang sejuta banding satu…

Jika aku tidak bisa melenyapkannya dengan Skill skill Wrath… Seri Skill lain yang tertinggal dalam bidang kekuatan ofensif murni tidak akan mampu menembus pertahanannya.

Dia bilang tadi panas. Itu berarti untuk sepersekian detik, kekuatanku pasti berpengaruh pada Penguasa Iblis ini. Ini mustahil untuk diriku yang sekarang, tapi jika aku terus mematangkan diri, mungkin aku akan mendapat kekuatan untuk memberi damage padanya.

Aku perlu menajamkan pedangku.

Sembari melihat ke arah pria ini, yang memiliki kekuatan yang tak terduga, aku akan memperkuat diriku. Itu mungkin adalah …niatan Kanon-sama.

Dan di saat bersamaan, memanfaatkan sumber daya pria ini, untuk menguntungkan pasukan Sang Raja Iblis Agung. Dia mengerikan sebagai musuh, tapi memiliki Skill – skill Sloth ini di sisi kami lebih dari dapat diandalkan.

Mengambil kedua tantangan ini secara bersamaan adalah misiku, dan cobaanku.

Setelah aku mengatasinya, tak ada keraguan bahwa aku akan memperoleh kekuatan yang tak bisa dibandingkan dengan apa yang aku telah gunakan sampai saat ini.

Kami dipindahkan ke ruangan lain, dan di atas ranjang yang sama, Leigie berguling dalam tidurnya.

Di mataku sosoknya sekarang adalah seorang yang aku tidak bisa remehkan.

Kelihatannya kamar tidur yang kuhanguskan sedang di tengah rekonstruksi. Tidak satu pun Iblis di pasukan Leigie bicara sekata pun tentang itu. Katakan sesuatu.

Pada saat itu, pintu membuat suara keras saat ia terbuka, dan seorang Iblis masuk.

Ia adalah seorang gadis yang mengenakan seragam pelayan. Hawanya mirip dengan Lorna, tapi ia sedikit lebih muda.

Dia melihat ke arah Leigi-sama, yang menolak untuk memunculkan wajahnya dari dalam selimut, melihat sekilas ke arahku, dan mendekati tempat tidur. Dengan wajah yang identik dengan Lorna, dia tersenyum.

“Leigie-sama! Tolong~ Bangunlah~!”

Dari segala hal, dia dengan sembrono mulai mengguncang selimut yang mana sang Penguasa Iblis bersembunyi di bawahnya.

Senyum dan hawanya tak salah lagi memang mirip. Gadis yang sepertinya saudari yang ia bicarakan hanya membawa udara yang mirip, dan tindakannya benar – benar berbeda. Ini adalah sebuah penipuan.

Itu bukanlah cara untuk memperlakukan pria itu, maksudku, bukankah ia seharusnya semacam raja?

Pada perlakuan kasarnya, aku secara tak sadar berusaha menahannya saat aku seharusnya berada di pihaknya.

Apa – apaan ini.

“? Ah! Kau pasti si Lize-san yang dibicarakan oneechan! Aku biasa dipanggil Hiero. Aku adalah adik Lorna, yang biasa merawat Leigie-sama!”

“Eh, ah, ya.”

Tanpa menghentikan tangannya, si gadis yang dipanggil Hiero hanya mengalihkan kepalanya untuk melihatku.

Dia tidak menunjukkan sikap yang pantas pada orang yang membakar saudarinya sampai mati. Tidak, terlebih lagi, dia memberi senyum layaknya bunga yang mekar.

Bahkan jika dia seorang Iblis, dia seharusnya punya setidaknya sedikit kasih sayang untuk keluarganya. Seperti aku memiliki semacam kesetiaan kepada Sang Raja Iblis Agung.

Dari segala hal, dia mulai bicara dalam suara tak berdosa.

“Terimakasih banyak! Untuk membunuh Oneechan! Karena itu, akhirnya tiba giliranku! Oneechan tidak mau berhenti bekerja, jadi aku mulai merasa khawatir!”

Perasaannya sangatlah sinting. Tidak adanya kebencian yang bisa dilihat padanya membuatnya terlihat lebih mengancam.

Sejak saat aku bertugas langsung di bawah Sang Raja Iblis Agung, sampai saat aku ditugaskan di sini, aku belum pernah melihat emosi – emosi seperti ini.

“K-kau… apa kata – kata semacam itu yang seharusnya kau lontarkan ke pembunuh saudarimu!?”

“Eh? Well…”

Mendengar kata – kataku, Hiero meletakkan jari telunjuknya di mulutnya, dan mulai berpikir.

Dan jawabannya datang segera. Itu adalah jawaban yang tidak kusangka sama sekali.

“Lize-san, kau terlalu lunak. Jika kau mencoba untuk membunuhnya, kau harus melakukannya dengan benar…”

“Eh…?”

Roknya berkibar saat ia duduk di pinggir ranjang. Dari bawah roknya yang jauh lebih pendek dari milik Lorna, aku melihat kulit sehat yang berwarna sawo matang.

Seakan sesuatu sedang menggelitiknya, ia mengeluarkan tawa yang pantas untuk usianya.

Bagaimana bisa Kakak Perempuan sederhana itu memiliki adik perempuan seperti ini?

“Kusu kusu kusu, dia masih hidup… Menjengkelkan, oneechan tidak tau kapan harus menyerah… keberuntungannya memang hebat. Bahkan jika itu bukan serangan langsung, baginya untuk tidak mati seketika setelah menerima 『Ira』 seorang Iblis Kelas Jendral. Bahkan saat kupikir giliranku akhirnya sudah tiba, aku harus menahan diriku lebih lama!”

Betapa berita mengejutkan. Dia terbakar hangus, tapi masih hidup!?

Tidak, bukan itu. Bukan itu. Iblis ini… apa yang dia baru saja katakan?

“… Menahan dirimu lebih lama… mungkinkah, bahwa kau…”

“Tidaktidaktidak, jangan salah paham! Oneechan masih hidup, tahu? Meski dia sedikit hangus. Maksudku, membunuh saudariku sendiri itu agak… Jika aku melakukan sesuatu seperti itu, kusu kusu kusu, aku akan menjadi 『Invidia』, bukan? Menggenggam dua dosa akan merepotkan.”

Suara ceria yang meresahkan.

Yang satu ini… berbeda. Dia tidak memiliki kecantikan seperti Lorna. Tidak peduli seberapa mirip wajah mereka, tidak peduli seberapa mirip sosok mereka, bocah ini tanpa keraguan adalah dia yang akan menyebarkan niatan buruk hanya dengan hidup, seorang iblis ortodoks. Dia dengan watak yang paling cocok untuk mengejar hasrat, seorang 『Iblis Murni』 .

Aku tidak yakin apakah ia melihat ekspresiku atau tidak, ia berbaring dengan wajah menghadap atas di atas Leigie, dan menatap dekorasi di kanopi.

“Oneechan cantik, bukan? Dia seharusnya sama denganku, tapi dia baik dan langsing, dan tinggi, dan matanya lebar dan jernih, kulitnya putih, dan dia selalu mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi dia tidak pernah mendapatkan sebuah goresan pada tubuhnya, dan rambutnya mengkilap tanpa cela. Suaranya tidak terlalu tinggi atau rendah, pas untuk nyaman di telinga. Dan ukuran payudaranya dua kali milikku… seorang yang cantik yang tidak akan ditinggalkan seorang Iblis laki – laki sendiri, dan kendati kecabulannya, dia tidak membiarkan sebuah jari pun menyentuh tubuhnya, seraya melayani Leigie-sama dalam kesucian… Hatinya kuat, dan dia tidak mundur selangkah pun di depan 『Ira』… Kusu kusu kusu, dia benar – benar wanita yang ideal.”

“Ca…bul?”

“Oh? Kau tak tahu? Bahkan seperti itu, Oneechan adalah seorang iblis 『Luxuria』, tahu? Terlebih lagi, ia telah mengejar hasratnya cukup untuk mendapat skill Kelas A, cukup kuat. Jika kau melihat Tingkatan Iblis, mungkin tingkatan tepat sebelum Jendral… dia memiliki kekuatan sebanyak seorang Ksatria, kurasa.”

Itu adalah sesuatu yang tak bisa kupercaya.

『Luxelia』

Dari ketujuh Dosa yang Iblis bisa miliki, itu terkenal sebagai yang paling tidak cocok untuk pertarungan langsung.

Dan di antara mereka semua, itu dikatakan sebagai yang terlemah dalam menahan serangan juga.

Mereka lemah. Rapuh dan tidak berguna. Terutama melawan Iblis dengan resistensi Pencemaran Mental, sebagian besar kekuatan mereka tidak bekerja.

Tapi jika begitu, maka kenapa…

“Kenapa…:”

“Aku tidak tahu jika Oneechan telah memberitahumu, tapi keluargaku… telah SELALU melayani Raja Iblis dari Sloth, Leigie dari para Slaughterdolls. Kemungkinan dari sekitar sepuluh generasi yang lalu. Dalam keluarga, ada aturan bahwa Iblis yang terkuat akan menjadi dia yang melayani, dan dalam generasi ini, dia adalah… Lorna oneechan. Sampai kemarin, itulah.”

Kemarin, aku membakar Lorna dalam api Wrath. Jika kata – kata Hiero dapat dipercaya, ia bertahan hidup, tapi telah kehilangan kekuatannya.

Dan begitulah generasinya bergeser. Pada saudari arogan ini.

“Aku selalu memiliki sebuah kompleks terhadap Oneechan. Terutama figur itu. Oneechan memiliki sosok idealku, jadi… itulah mengapa aku selalu lebih lemah daripadanya.

“Eh? Fi… gur?”

“Dengan 『Luxuria』, tak peduli Iblis dengan level setinggi apa kau, hanya dengan skill skill Kelas A, kau tidak bisa… menjadi kuat sama sekali. Aku seharusnya jauh lebih kuat. Tapi meski begitu, aku tidak bisa menang. Aku berterimakasih padamu, Lize-san. Terimakasih untuk membakar wajah cantik oneechan.”

Nada suaranya turun untuk sejenak.

Dan si Iblis berkata…

“Karena itu, aku telah mampu… meng-『Overrule』nya…”

Seluruh kepingan puzzle sudah pada tempatnya.

Hiero membuka paksa selimutnya, dan tanpa malu melekatkan diri ke lengan Leigie-sama yang menatapnya dengan pandangan kosong.

“Leigie-sama, senang bertemu denganmu. Kupikir kau mendengarkan, tapi aku akan merawatmu menggantikan oneechan! Aku biasa dipanggil Hiero! Aku akan dengan sepenuh hati mencurahkan waktuku untukmu, jadi kuharap kita akan bisa rukun!”

“… Gitu.”

“Dosa Asal yang kubawa adalah… 『Pride』. Aku adalah Hiero dari 『Superbia』! Harap diingat!”

Sudah kuduga… seorang Iblis Pride!

『Superbia』

Seorang Iblis yang menguasai arogansi dan kompleks superioritas.

Dalam pasukan ini, itu juga atribut dari Komandan Tertinggi Heard Lauder.

Treenya… memuat beberapa skill yang kelewat merepotkan. Afinitasnya dengan Gula dan Ira, yang dibuat untuk menimbulkan damage langsung, cukup buruk.

Dalam percakapan pertamanya dengan sang Penguasa, matanya berkilauan hebat.

Tapi di saat yang sama, aku merasakannya. Gadis ini sama sekali tidak cocok untuk Leigie-sama.

Sang Penguasa Iblis tidak benar – benar berpikir tentang apa pun. Dengan mata tanpa emosi, dia menggumamkan dua kata.

“… Yeah. Iyo.”

“? Apa itu 『Iyo』?”

Pada kata – kata itu, ekspresi Leigie berubah lelah.

Wajahnya menjelaskannya untuk dirinya. Bahwa menjelaskan sangat merepotkan. Dia mengalihkan matanya ke arahku, tapi aku memutuskan untuk mengabaikannya.

Pada awalnya, aku bertanya – tanya apa itu juga. Aku bertanya. Tapi Leigie-sama tidak pernah memberitahuku. Pada akhirnya, aku harus mencari tahu dengan bertanya pada Iblis lain. Itu benar – benar membuang – buang waktu.

Leigie-sama menghela nafas dalam. Seakan dia berkata ini semua adalah salahku.

Dan bersama helaan nafas itu, ekspresi Hiero mengeruh.

Dengan suara berat, Leigie-sama bicara. Dari sudut pandangku, itu sama seperti biasanya, tapi untuk Hiero yang sedang bercakap – cakap dengannya untuk pertama kali, itu kemungkinan berbeda. Suaranya selalu dipenuhi sesuatu yang dapat disebut keputusasaan.

“… Apa yang terjadi pada yang terakhir?”

“… Eh? M-maksudmu oneechan?”

“… Yeah.”

Yeah, dia pastinya tidak mengetahuinya.

Leigie-sama tidak memiliki ketertarikan dalam nama dan asal muasal si pelayan. Dia kemungkinan merasa itu merepotkan, jadi dia menjawab begitu.

Kesombongan Hiero terstimulasi, dan dia menjawab dengan suara bergetar.

“Oneechan telah… dibakar hangus oleh Lize-san itu yang di sana. Itulah mengapa aku…”

Penguasa Iblis, kau kemarin di sana, kan! Dan bukankah ini salahmu!?

Meskipun ia mengabaikannya sepenuhnya, dia bahkan tidak bisa ingat apa yang baru saja terjadi kemarin.

Apa kau yakin tidak ada jamur yang tumbuh di dalam kepala itu?

“Gitu… bawa dia kemari.”

“… he? Leigie-sama, barusan, apa yang…”

Leigie-sama mengerutkan keningnya.

Dia kemungkinan berpikir, ‘Tuhan, ini sangat merepotkan,’ tapi dari seseorang yang tidak mengenalnya, dia pasti terlihat tidak puas.

Ngomong – ngomong, jika Kanon-sama membuat wajah seperti itu, itu adalah sebuah tanda bahwa seluruh wilayah itu akan segera dihanguskan menjadi abu. Tidak ada jalan keluar.

Penguasa Iblis ini adalah seorang pengecut, jadi hal semacam itu tidak pernah terjadi di sini. Aku bahkan akan mempertaruhkan nyawaku untuk itu. Ah, sial. Ini membuatku kesal.

Leigie-sama mengulangi kata – katanya.

“… Bawa dia.”

“… Y-ya… ahaha, tapi dia hanyalah arang, bukan? … y-ya, aku paham. Aku akan membawa Oneechan ke sini.”

Mata Hiero berkaca – kaca, tapi dia segera meninggalkan ruangan, membuat langkah – langkah keras.

Seakan untuk berteriak, ‘Aku sedang bad mood.’

Tapi Leigie-sama kemungkinan tidak menyadarinya sama sekali.

Sang Penguasa Iblis di balik selimut, yang biasanya tidak pernah bergerak telah mengambil tindakan sebesar itu, jadi aku mencoba bertanya.

“Apa yang kau rencanakan?”

“… Yang satu itu tidak bagus.”

“… Hiero, maksudmu?”

“Yeah…”

Tanpa menjelaskan sebuah alasan spesifik, dia hanya bersusah payah mengatakan satu kata itu.

… Tampaknya Lorna yang memanjakannya sampai saat ini telah memiliki sedikit efek. Tampaknya kalian memang yang terbaik di kaki langit dalam mengelabui orang, Luxuria.

Itu karena dia melaksanakan masing – masing dan setiap layanan yang dapat dipikirkan untuknya… meski itu juga merupakan alasan aku marah.

Dengan langkah keras, Hiero membanting pintunya terbuka.

Dia melemparkan sesuatu dengan kasar ke ranjang Leigie-sama.

“… Itu oneechan.”

Apa yang dibawakan Hiero adalah sebuah Inti Jiwa yang bisa muat ke dalam telapak tanganmu.

Kira – kira setengahnya telah terbakar, dan telah hancur. Melihatnya, aku sendiri tidak bisa menyebutnya hidup. Itu karena aku tidak punya alat – alat yang dibutuhkan untuk menentukan apakah ada atau tidaknya kehidupan di dalamnya.

Selama Inti Jiwa seorang Iblis aman, mereka dapat mengambil tahun – tahun yang panjang untuk meregenerasi diri mereka. Tapi dengan kerusakan separah ini, ini kemungkinan akan membusuk sebelum regenerasi apa pun dapat terjadi.

Aku sebenarnya terkejut Hiero mampu menemukan pecahan kecil ini di dalam abu. Mungkinkah dia sebenarnya memiliki perasaan lunak terhadap saudarinya?

Leigie-sama terlihat tidak dapat menahan ketidaksenangannya seraya mengambil inti di tangannya.

Dia menghela nafas pasrah, dan mengucap sepatah kata ke arah Hiero… dan sekali lagi, kata itu.

“… Iyo.”

“… Eh? U-um… aku benar – benar minta maaf. Aku… masih b-belum berpengalaman, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga… akankah kau berbaik hati untuk memberitahuku arti dari 『Iyo』?

Telah ditekan dengan cobaan yang mustahil, seakan senyumnya sebelumnya adalah kebohongan, air mata Hiero berjatuhan di mana – mana.

Membuat seorang pride untuk bilang dia tidak berpengalaman, betapa orang yang mengerikan. Dia kemungkinan tidak berpikir tentang apa pun, sih. Tapi bagi dia yang berkuasa atas Pride, itu adalah aib yang setara dengan kematian.

Mereka hanyalah massa – massa kesombongan, dan mereka pikir mereka adalah pusat dari dunia ini, jadi melukai kesombongan mereka cukup untuk membuat mereka meletakkan diri mereka sendiri di bawah orang lain membuat mereka lemah bukan main.

“… Hah…”

“!? P-penguasa Iblis…”

Dia pikir siapa dia?

Dengan nafas panjang, Leigie-sama menutup matanya.

Pertama – tama, ‘I serahkan pada you’, dan ‘I puas dengan kerja you’ bukanlah instruksi spesifik sedikit pun, kan?

Saat ini, sang Penguasa Iblis tidak benar – benar menginginkan apa pun. Tidak bisakah dia memberitahunya saja?

Hiero melihat ke sekeliling ruangan dengan gugup. Matanya bertemu dengan milikku, tapi aku membencinya, jadi aku mengabaikannya.

Mencoba mendapatkan kembali kedudukannya, dia mengumpulkan keberaniannya untuk bicara lagi. Aku ragu apakah ada penilaian terhadapnya yang telah naik atau jatuh. Pertama – tama, tidak ada artinya dinilai oleh Leigie-sama itu.

Aku mulai memikirkan ini, tapi tidakkah Pride dan Sloth memiliki kecocokan yang terburuk?

Yang satu berusaha menjadi superior dan disembah orang lain, yang satunya tidak benar – benar peduli. Kau tidak bisa memenuhi sebuah kompleks superioritas dengan sang Raja Pemalas.

Bahkan jika ada aturan, kupikir Lorna telah membuat kesalahan besar saat memilih penerusnya. Apakah ini dimaksudkan sebagai suatu bentuk tindakan untuk mempermalukan?

“U-um… aku berspesialisasi dalam kerja rumah! Memasak, dan membersihkan, dan mencuci… aku percaya diri di dalamnya. Jika kau menginginkannya… b-bahkan permintaan seksual…”

“Gitu.”

Wajahnya merah, dan dia pasti memaksa dirinya, tapi Leigie sekedar memberi jawaban biasanya.

Tidak, dia tidak bersikap dingin. Itulah bagaimana dia apa adanya!

Tapi Hiero tidak mengetahuinya. Kau tidak bisa mencoba dan berkomunikasi dengan Penguasa Iblis ini.

Kecuali kau tahu apa dia itu dari awal… itulah mengapa aku sangat kerepotan.

Dan telah tersudut, Hiero terus berbicara.

“Um… jika itu menyenangkanmu, harap beri aku sebuah perintah.”

Mendengarnya, untuk kali pertama, Leigie-sama menyuarakan kehendaknya.

“……………… Sial, ini merepotkan.”

“… Eh!?”

Serius, dia pikir siapa dia?

Leigie-sama menghela nafas terdalam yang pernah dia buat.

Hiero menatap sang Penguasa Iblis dengan ekspresi kosong. Dia tidak mengatakan hal yang salah. Dia tidak membuat ucapan yang ceroboh, dan dia tidak menyatakan keegoisannya.

Melihat adegan ini, seratus dari seratus orang akan berpihak padanya dalam kasus ini. Bahkan aku juga.

Jangan berharap si pelayan yang baru dipekerjakan hari ini untuk bisa memahami semuanya.

Sang Penguasa Iblis mengangkat Inti Jiwa yang rusak itu ke cahaya begitu saja.

Aku bertanya – tanya apa yang terjadi di dalam pikirannya.

Dan saatnya tiba.

Kehadiran yang muncul begitu saja membuatku sesak mencari udara.

Telah merasakannya, wajah yang Hiero akhirnya atur dengan benar seketika terkalahkan oleh rasa takut, dan setelah beberapa ledakan, dia mengambil sebuah langkah besar mundur.

Pride melupakan kesombongannya, dan Wrath melupakan amarahnya. Itu adalah jumlah sihir yang cukup hebat untuk membuat 『Rage Flame』ku terlihat seperti mainan anak – anak, cukup sihir untuk membengkokkan dunia.

Itu adalah. Tanpa keraguan, sebuah gelombang kekuatan yang terkuat yang pernah kusaksikan dalam hidupku.

Tidak ada satu hal pun terlihat berarti sekarang, dan kekuatan terlihat ingin merembes keluar dari tubuhku karena konsentrasi Acedia.

Dengan wajah pada ambang kematian, sang Penguasa Iblis merapal. Itu pasti merupakan semacam Mantra.

“『Ir Ir Rul Arcadia. Segalanya, degradasi dan kebejatan. Hah… Hukum uang, landasan hitam yang menyatukan segala ciptaan, berkumpullah sejenak di dalam namaku. 『Sloth Minugrosz』』Ah, aku salah mengejanya…”

“Wai…”

Sihir yang meluap – luap tunduk kepada rapalan sang Penguasa Iblis, dan mengambil wujud.

Pada umumnya, Skill – skill dapat diaktifkan dengan mantra, atau nama skill. Tanpa mantranya, kesulitannya meningkat, dan keluarannya menurun.

Penguasa Iblis ini tidak pernah merapal, atau bahkan mengatakan nama skillnya sebelumnya, jadi dengan nyanyian sepanjang itu, dari skill – skill yang telah kulihat sebelumnya… Itu tentunya akan menjadi yang bertingkat paling tinggi.

Aku tidak punya sedikitpun gambaran apa yang akan terjadi, tapi perasaan tidak enak menguasai tubuhku. Jam alarm berbunyi dalam kepalaku.

Pengaktifan skill yang biasanya mustahil dirasakan dapat dirasakan dengan jelas.

Merasakan tatanan dunia sedang dibengkokkan, Hiero mengeluarkan sebuah jeritan.

Tapi kesalahan ejaan… itu pasti adalah helaan nafas yang dilemparkannya ke dalamnya, bukan!?

Dia bahkan tidak bisa merapal sebuah Skill dengan benar, Penguasa Iblis ini!

Pikiran yang berkejaran dalam kepalaku hanyalah usahaku untuk lari dari kenyataan.

Meskipun rapalannya gagal, skillnya sudah pasti teraktifkan.

Terlepas dari semuanya. Meski tidak ada yang telah berubah, aku merasakan sesuatu sedang pecah.

Inti Jiwa yang digenggam sang Raja Iblis mulai berubah bentuk pada setengah bagian yang telah terbakar.

Dengan kristalnya di pusatnya, kabut hitam misterius mulai berkumpul, dan mengambil wujud. Warnanya berubah.

Hiero bergumam linglung.

“O nee… chan?”

“… Haa.”

Helaan nafasnya terisi dengan kejengkelan sementara, seakan sebuah klip sedang diputar balik, arang itu mendapat kembali warnanya, dan sebuah wajah yang hangus sepenuhnya terwarna putih dan mendapat kembali kilauannya. Di dalam rongga mata terbuka lebar itu, bola – bola besar terbentuk.

Hanya dalam beberapa detik, sebuah Lorna yang sepenuhnya tidak terluka tercipta. Tentu saja, tubuhnya, tapi bahkan pakaian yang dia kenakan terlahir kembali tanpa goresan.

Dalam sebuah situasi yang telah jauh melampaui ekspektasi, mata Hiero melentur seraya dia mengeluarkan jeritan. Punggungnya mengenai meja di samping ranjang, dan pinggulnya bergetar, tapi dia mundur lebih jauh.

Dan Lorna perlahan membuka matanya.

… Dia hidup.

Apa – apaan… apa apaan skill itu?

Regenerasi? Yang benar saja… seakan regenerasi bisa memulihkan pakaian. Pertama – tama, Lorna seharusnya sudah berakhir sepenuhnya. Dari sebuah Inti Jiwa yang separuh hancur, tidak mungkin dia bisa dibawa kembali sesempurna ini!

“Onee… chan?”

“Hie… ro?”

Hiero berjalan dengan goyah ke arah Lorna, seakan dia telah melihat hantu.

Mata Lorna berkedip berkali – kali seraya dia menatap saudarinya. Dia kelihatannya tidak tahu apa yang sedang terjadi juga.

Well, apa boleh buat. Bahkan aku, yang telah melihat ini dari awal hingga akhir, tidak dapat memahami apa yang telah terjadi.

Pada saat itu, warna wajah Hiero berubah. Dari pucat pasi, menjadi merah panik.

Dia memiringkan kepalanya seraya melihat tubuh Lorna.

Aku juga menyadarinya. Regenerasinya… belum berakhir. Tidak, lukanya sudah hilang, tapi masih saja, waktunya sedang berbalik.

Skillnya masih belum berakhir!

Perasaan bahwa sesuatu sedang pecah terus ada, dan meskipun dia telah kembali normal, tidak ada tanda – tanda itu berakhir.

Tinggi Lorna berkurang sedikit demi sedikit, dan payudaranya mengkerut dengan cara yang hampir sama. Paras wajahnya menjadi sedikit lebih kekanak – kanakan.

Pakaiannya berubah dari seragam pelayan putih murni ke yang lebih kecil dengan hitam sebagai dasarnya. Rok panjangnya berubah menjadi yang lebih pendek seperti yang dikenakan Hiero.

Dengan salah eja, mungkinkah ia…

Jantungku berdetak lebih cepat, seraya melihat tubuhnya perlahan mengecil, selisih tinggi lima belas centimeter antara dia dan Hiero menjadi sepuluh, lalu lima. Dibandingkan dengan itu, tonjolan di payudaranya tidak berubah sebanyak itu, tapi fitur wajahnya perlahan berbalik dari dewasa ke tak berdosa.

Atas alasan yang berbeda, Hiero mengedipkan matanya seraya beralih ke Leigie-sama.

“… Leigie-sama, ini…”

“… Mengembalikannya terlalu jauh.”

Dengan wajah yang menunjukkan dia tidak menyesalinya sama sekali, Leigie-sama menggosokkan kepalanya ke bantal. Meskipun itu adalah salahnya, dia masih tidak memiliki motivasi sama sekali.

Mengembalikannya… terlalu jauh?

Transformasi Lorna berakhir.

Pada saat itu, kurang lebih tidak ada selisih di antaranya dan Hiero. Tentu saja, ada kepribadian, dan wajah Lorna terlihat sedikit lebih dewasa, tapi perbedaan penampilan yang mereka miliki sebelumnya, jika kau mengesampingkan fakta bahwa Lorna sedikit lebih tinggi, dan payudaranya jauh lebih besar, seakan mereka kembar, mereka terlihat sama persis. Perbedaan yang tersisa adalah dari Lust dan Pride… perbedaan yang diakibatkan oleh atribut.

Mata bingung Lorna melihat lengan dan kakinya yang lebih pendek.

Mungkin Hiero tidak tahu bagaimana untuk merespon, tapi dia melihat ke sana – sini seakan untuk melempar tanggung jawab lepas dari dirinya. Aku ingin seseorang untuk membantuku.

Hanya Leigie-sama yang tidak kebingungan, tanpa niatan buruk. Dia melihat ke arah Lorna yang jauh-dipadatkan, terekonstruksi.

“Apa kau punya… ingatan? Tanggal hari ini?”

Pada pertanyaan Leigie-sama, Lorna membuang keraguannya, dan membenarkan sikapnya. Seakan risau akan roknya yang kini-lebih pendek, dia bergerak gelisah seraya memberi sebuah jawaban yang jelas.

“Eh? Ah… ya. Hari ini adalah Tahun Langit 271C8A, Tanggal 11 November Tahun Kanon 310, Leigie-sama.”

Saat pertanyaannya terjawab dengan penuh senyuman, Leigie-sama beralih ke arahku.

Mungkinkah meskipun dia bertanya, dia sendiri tidak tahu tanggalnya?

Telah menguasai dirinya sendiri kembali, Hiero menjawab.

“Oneechan, sekarang tanggal 12.”

“Heh? Tidak, hari ini seharusnya tanggal 11… Hmm? Hiero, apa kau jadi lebih tinggi?”

Tidak, kau mengecil.

Leigie-sama menyapa Lorna, yang sedang memiringkan kepalanya, dan masih tidak memahami situasinya, dengan nada riang.

“Gitu. Aku paham. Iyo.”

“??? Y-ya! Dipahami, tuan…”

Kepalanya tetap miring saat dia menjawab. Dia melihat jam tangannya, dan membandingkannya dengan yang di dinding. Dalam panik, dia menundukkan kepalanya dalam – dalam ke arah Leigie-sama.

“Leigie-sama, aku benar – benar minta maaf. Sedikit… waktu makan tuan akan tertunda sekitar satu jam.”

“Iyo.”

“Terimakasih. Aku benar – benar berterimakasih atas kebaikan tuan.”

Dia dalam sekejap kembali ke siklus hariannya, dan membuat langkah sunyi seraya keluar ruangan. Di belakangnya, dia menarik tangan saudarinya, yang masih tidak memahami apa pun.

Saat aku melihatnya, aku sangat terkejut sehingga aku tidak bisa berkata apa – apa.

Apa – apaan kesetiaan tak berguna itu? Lebih dari tubuhnya, yang telah lenyap, dia mengkhawatirkan waktu makan sang Penguasa Iblis yang mampu melalui abad – abad tanpa makan atau minum?

Aku melihat ke arah Leigie, biang kerok semua ini, tapi tidak ada tanda – tanda darinya merasa puas, atau perasaan keberhasilan, atau bahkan penyesalan.

Penguasa Iblis ini, siapa dia, sungguh…

Dengan semua yang terjadi, aku kehilangan kepercayaan diri dalam 『Wrath』ku sendiri yang aku seharusnya kuasai.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

 

← Daraku no Ou Chapter 4 Part 2: Mati Saja! Daraku no Ou Chapter 4 Part 4: Berhenti. Bermain – main. Denganku!→

1 comment

haha ceritanya gokil, tapi karna sudut pandangnya sering berubah-ubah jadi rada aneh juga
tapi tetep semangat updatenya gan karna ane tetep penasaran sama ceritanya

Leave a Reply