Daraku no Ou Chapter 4 Part 4: Berhenti. Bermain – main. Denganku!

Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan!

Daraku no Ou Chapter 4 Part 4: Berhenti. Bermain – main. Denganku!
Diterjemahkan oleh Aftertolv
Disunting oleh KenMashiro

Selamat membaca!

Part 4: Berhenti. Bermain – main. Denganku!

Beri aku istirahat sudah.

Tiap kali ia menunjukkan salah satu skill Slothnya, stressku menumpuk.

Apa yang kupahami adalah bahwa Penguasa Iblis ini sudah cukup hebat untuk pantas sebagai Tingkat Ketiga. Kira – kira seperti itu.

Dan sementara aku tadinya akan senang saat mengetahui fakta semacam itu, tiap kali aku diingatkan tentang itu, aku kehilangan kepercayaan diriku sebagai seorang Iblis.

Seberapa banyak sih aku harus memuaskan Dosaku untuk mendapatkan beberapa skill omong kosong seperti kemampuan untuk memutar balik waktu? Untuk lebih spesifiknya, kelihatannya itu memisahkan pengalaman yang terkumpul, dan memutar balik tubuhnya, tapi itu tidak begitu berarti.

Dibandingkan dengan Wrath, yang semuanya serangan langsung, Sloth terlalu bebas, dan efek – efeknya tidak tentu, atau bagaimana aku harus mengatakannya… mereka sangat menyebalkan.

Dia jarang menggunakan mereka, jadi kerusakan saat dia menggunakannya mencengangkan. Aku yakin dia pasti mencoba membuatku kesal. Ini adalah sebuah konspirasi.

Tempat kerja ini berbahaya… perutku sakit.

Sekarang aku bisa mengerti mengapa pendahulu Slothku menelantarkan seluruh tanggung jawabnya. Saat seorang Iblis Sloth menyerah akan ini, maka tidak mungkin seorang Wrath sepertiku bisa menahannya.

Tidak peduli seberapa banyak kucoba meluapkan amarahku padanya, dia tetap tenang dan damai, jadi stressku tidak pergi kemana – mana.

Ekspektasi Kanon-sama, dan lingkungannya sendiri membuatku terjebak antara sebuah batu dan sebuah tempat keras.

Tapi jika aku membiarkannya, maka tidak ada tempat kerja yang lebih damai daripada yang satu ini.

Maksudku, bahkan jika aku tidak mengawasinya, pada akhirnya, aku yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang semerepotkan pemberontakan, dan bahkan jika kita tidak meminjaminya kekuatan, itu akan bekerja bagaimanapun.

Adalah yang kupikirkan, tapi lihat ini!

Aku memegangi perutku yang sakit seraya beralih ke Leigie-sama yang sedang bersandar dalam – dalam pada sebuah kursi.

“Apa? Apa yang barusan kau bilang?”

“… Tidak ada.”

Dia jelas – jelas membuat wajah yang bilang bahwa mengulangi sangatlah merepotkan, seraya mengalihkan pandangannya. Bagiku untuk hampir memahami Raja yang hampir tanpa ekspresi ini sepenuhnya, apakah itu semacam perkembangan di pihakku? Aku tidak butuh perkembangan semacam ini…

Ini buruk… tidak ada yang bisa kita lakukan tentang yang satu ini.

Aku mengambil nafas – nafas dalam untuk mengendalikan amarahku. Kontrolku telah berkembang pesat dibandingkan saat aku pertama datang ke sini. Aku yakin.

Aku perlu mengendalikan amarahku… bahkan berteriak ke arah pria ini adalah lebih dari yang dia pantas dapatkan.

“… Apa kau ingat dekrit Kerajaan itu?”

“…”

Jangan… jangan tutup matamu. Aku mohon, dengarkan…

Ini… tidak apa – apa… tenang… jika aku marah, aku kalah…

Aku mengambil nafas – nafas dalam, dan perlahan menurunkan suaraku untuk membuatnya lebih mudah didengar oleh Leigie- sama.

“Aku sudah bilang, bukan? Kali ini… musuhnya seorang Penguasa Iblis.”

“… Belum?”

Ku… pria ini…

Aku mengepalkan tinjuku kuat – kuat. Aku meremas begitu kuat sampai kukuku menembus kulitku, dan rasa sakit yang panas menjalar naik ke lenganku.

Apakah ia mempermainkanku? Tidak. Bahkan tanpa berpura – pura bodoh, ingatannya sudah hilang sepenuhnya.

Aku… sudah mengatakannya! Aku yakin sudah mengatakannya! Akulah yang membawa perintah itu dari Kanon, akulah yang bersusah payah menjelaskannya ke Leigie-sama, dan yang bilang bahwa musuhnya adalah seorang Penguasa Iblis yang kuat jadi jika ia sendiri tidak keluar, ia akan mengirim Jendral – Jendralnya untuk mati sia – sia juga aku!

Itu karena jika aku tidak memperingatkannya, aku yakin dia tidak akan pernah keluar!

Amarah membelah kepalaku, dan seraya merasa aku akan menghancurkan wilayah itu, aku entah bagaimana menjaganya tetap terkekang dengan pernafasan perut berulang – ulang.

“Hey, hey, oneechan. Lize-san benar – benar menjadi pendiam akhir – akhir ini.”

“Jangan pedulikan dia, pegang saja ujungnya dengan benar!”

AAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHHH!

Di samping Leigie-sama, kedua bersaudara itu bicara seakan itu adalah masalah orang lain.

Tuan Hiero kemudian mengetahui penampilannya yang tidak enak dilihat, dan mengirimnya ke pelatihan pelayan. Baru – baru ini, mereka berdua mulai datang ke sini bersama.

Si adik yang sombong, yang dengan sengaja menaikkan suaranya sehingga aku bisa dengar, dan si kakak, yang meskipun telah kubunuh secara sepihak, terus sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan padaku. Oleh kombo ampuh itu, stressku membengkak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ini benar – benar yang terburuk.

Sifat Skilltree Pride berada pada memberikan kekuasaan mutlak terhadap musuh yang telah mereka Overrule.

Sederhananya, bagi mereka, pada yang lebih lemah dari mereka, mereka menunjukkan kekuatan mutlak, dan pada mereka yang unggul bahkan hanya sedikit saja dari mereka, mereka menunjukkan ketakberdayaan… skill semacam itu.

Dan begitulah, sejak si kakak Lorna sudah hidup kembali,  kelihatannya Hiero sekali lagi dipaksa untuk menempati tempat kedua. Normalnya, sekali seorang sudah di-Overrule, sulit untuk membalikkannya, tapi sejak Lorna sudah dikembalikan ke usia yang hampir sebaya, kesenjangan jelas dalam penampilan mereka (terutama di bagian dada) memukul turun Hiero sekali lagi, dan sementara dia masih sedikit takut pada Leigie-sama, dia dengan patuh mengikuti kata – kata saudarinya.

Well, untuk sekarang, itu tidak begitu berarti.

Masalahnya adalah Hiero mengambil lirikan – lirikan jahil ke arahku seakan ia telah memasang jebakan selagi berlatih merapikan ranjang.

Ia berkata ke arahku sembari membuat senyum menyebalkan.

“Lize-san, kau tidak marah lagi… mungkinkah kau akhirnya menyerah setelah menyaksikan kekuatan Leigie-sama?”

“Hasil yang tak terhindarkan. Tidak peduli bagaimana kasusnya, menaruh tangan pada seorang Penguasa Iblis… perilakunya yang sebelumnyalah yang lebih aneh!”

AAAAAARRRRRRRGGGGGGHHHH!

Amarah yang sedemikian besarnya hingga kurasa kepalaku bisa meledak kapan saja membengkak, memberi bahan bakar kekuatanku.

Darah mengalir dari telapak tanganku, dan menetes ke tanah.

Aku secara tak sengaja menaruh terlalu banyak kekuatan, dan retakan menjalar di atasnya.

Aku menggunakan seluruh kekuatan batinku untuk melawan emosiku sendiri.

Tenang… tenanglah. Lize Bloodcross.

Pada akhirnya, ini adalah omong kosong seorang anak belaka…

Dibandingkan dengan pria ini, yang tak pernah bergerak sendiri, meski menjadi seorang Penguasa…

Senyum. Buat sebuah senyuman.

“P-Peng uasa Iblis? A-Aku sudah bilang, bukan? Musuhnya adalah… sang Penguasa Iblis Pelahap.”

“… Siapa dia?”

AAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGHHHH

Seseorang lakukan sesuatu tentang pria iniiiiiiiii!

Di antara bawahan Kanon-sama, tidak ada seorang pun yang tidak tahu Zebul Glaucus, sang Pelahap.

Tapi Penguasa Iblis ini kemungkinan, dengan segala kejujuran, tidak tahu. Horeee.

Itulah mengapa. Aku. Menjelaskannya. Karena kupikir dia tidak tahu, Aku menjelaskannya! Aku jelas – jelas sudah melakukannya!

AAAAAAAH, tolong selamatkan aku, Kanon-samaaaaaaaaa!

Aku membenturkan kepalaku dengan sudut ranjang dalam percobaan untuk melupakan amarahku, dan Lorna melihat ke arahku dengan mata jijik.

Ini semua salah Tuanmuuu!

“… Kelima… Sang Tingkat Kelima, seorang Iblis yang berkuasa atas Gula, yang mulia. Dia menaklukkan sang Iblis Tingkat Kelimabelas, dan sang Tingkat Keenambelas hanya dalam tiga hari. Seorang Penguasa Iblis… yang mengerikan.”

“… Apa itu sesuatu yang menakjubkan?”

“Gu… Ya, itu menakjubkan! Dengarkan, Tingkat Kelima berarti bahwa diantara Penguasa Iblis yang setia pada Kanon-sama, dia adalah yang terkuat kelima!”

“… Apa dia lebih kuat darimu?”

Nuuuuuuuuuuuuuuuu!

Kelas Jendral… dan seorang Penguasa Iblis. Jangan bandingkan mereka!

Aku meneteskan air mata menahan diri sembari menjawab. Sial, kenapa aku harus mengalami sesuatu seperti ini?

“W-well… itu benar…”

“… Gitu.”

Kalimat tak tertariknya akhirnya membuatku mutung.

JIKA KAU BAHKAN TAK PEDULI, MAKA JANGAN BERTANYA!

AAAARRRRRRGGGGGGHHHH!

“Wow, itu menakjubkan… Lize-san. Setelah mengalami semua ini, kau masih bisa diam…”

“Tentu saja. Pertama – tama, apa yang aneh adalah cara Lize memperlakukan Penguasa Iblis kita hingga sekarang.”

Dalam kepalaku, berapa ratus ribu kali aku sudah membunuhnya sampai sekarang!?

AAAAAAAAAAHHHH. Ini buruk… aku akan mati.

Bahkan dalam kemarahanku, air mata mulai mengalir. Kenapa aku…

“Uku… dan. Maka. Akan. Buruk. Jadinya. Jika Kau. Tidak. Keluar. Penguasa Iblis! Dalam. Kemungkinan. Terburuknya. Mereka. Akan. Dibantai!”

Pertama – tama, membuat seorang Penguasa Iblis menghadapi seorang Penguasa Iblis lain adalah wajar dalam pertarungan antar Iblis.

Kali ini, kita bahkan sudah tahu bahwa Zebul secara pribadi memimpin pasukannya.

Seorang Penguasa Iblis normal seharusnya tahu arti tentang ini tanpa harus kuberitahu. Tapi kupikir Leigie-sama tidak tahu, jadi aku sudah menjelaskannya padanya!

Kembalikan semua kerja kerasku!

Telah menyimak percakapan yang berkepanjangan, Leigie-sama menguap dengan mata mengantuk.

“… Iyo.”

“Jika pasukan yang dikirimkan Sang Raja Iblis Agung padamu terbantai habis, kau pasti akan dihukum, tahu!? Apa kau mengerti!?”

Tapi melihat perilaku beliau, aku tak yakin tentang Penguasa – Penguasa lain, tapi kurasa Kanon-sama akan membiarkan pria ini.

Tapi tentu saja, aku tidak akan mengatakannya. Jika aku mengatakannya, dia pasti tidak akan keluar.

Kenapa orang tersebut bahkan tidak memikirkan apapun, selagi aku, yang sekedar dikirim untuk mengawasinya, memiliki sangat banyak pikiran di benakku!!!

“…”

Apa. Kau. Seorang Bocah!!?

Aku menarik lengannya saat ia menutup matanya diam – diam.

Dari Lorna, aku mendengar bahwa Deije dan Medea telah melancarkan sebuah serangan, dan sudah beberapa jam sejak kami memberitahu Leigie-sama.

Jika kita tidak buru – buru, mereka semua akan mati. Tidak, tidak aneh jika mereka sudah musnah sekarang.

Dan tunggu, normalnya, tidakkah ia seharusnya mengatakan sesuatu!? Bahwa ia ingin ikut dengan mereka atau sesuatu!?

Dengan Leigie-sama tidak menunjukkan tanda – tanda pergerakan, dan aku hampir akan menyerah, penyelamatku muncul dari tempat yang tak terduga.

Dengan mata penuh keingintahuan, Hiero menarik Leigie-sama.

“Leigie-sama, aku ingin melihatnya! Tempat mereka bertarung!”

Tidaktidak, itu bukan yang aku inginkan, kau tahu?

Hiero bahkan lebih tidak menahan diri dariku saat berurusan dengan Penguasa Iblis ini. Dari segala hal, dia memanjat ke lututnya, dan mulai mengguncang bahunya maju mundur.

Karena kesembronoan si adik yang tiba – tiba, si kakak segera mencoba menghentikannya. Sayangnya, karena bertahun – tahun latihannya terbuang pergi, dia kekurangan kemampuan fisik untuk menariknya menjauh.

“Hey, hentikan itu! Apa yang kau pikir sedang kau lakukan kepada Leigie-sama…”

“Eh? Tidak, tapi bahkan oneechan ingin melihat sosok seorang Penguasa Iblis bertarung sekali dalam hidupmu, bukan?”

“Ya, well…”

Pada pertanyaan langsung di adik, Lorna bimbang untuk sedetik.

Meskipun ini dan itu, Lorna yang melayani seorang Penguasa Iblis yang tidak melakukan apapun pasti memiliki perasaan – perasaan itu. Itu sedikit melegakan.

Seakan ia telah menyadari perubahan dalam perilaku si pelayan yang setia yang telah ia balikkan waktunya, Leigie-sama membuka matanya, dan mengatakan sepatah kata.

Itu benar – benar hanya sepatah kata. Kelihatannya dia akhirnya mulai mengingat namanya akhir – akhir ini.

“Lorna.”

“Hiero, lihat! Leigie-sama lelah. Berhenti memberinya masalah, dan kembali ke sini jadi kita bisa melakukan apa yang seharusnya kita lakukan!”

Lorna memuntahkan opininya tanpa menahan diri. Ia menangkap tubuh Hiero kuat – kuat dengan kedua lengannya, dan menariknya pergi dari Leigie-sama.

Bahkan selagi menariknya pergi, ia terus mengarahkan senyuman yang menawan ke arah Leigie-sama sebelum menundukkan kepalanya dalam – dalam.

Tapi tanpa setitikpun ketertarikan terhadap senyumannya, ia menutup matanya.

Di dalam lengan Lorna, Hiero memberontak, dan berteriak.

“T-tapi oneechan! Tiap malam, pada Leigie-sama, bukannya kau mastur…!”

… Apa?

Saat mendengarnya, dengan pergerakan yang tidak sesuai untuk Lust, Lorna mengunci wajah Hiero dalam sebuah cakar besi dengan kecepatan yang membuatku bertanya – tanya apakah dia telah menggunakan sebuah skill atau tidak.

Ia melihat ke arah adiknya tanpa ekspresi. Matanya benar – benar tidak tertawa. Itu adalah ekspresi dari seseorang yang tengah mempertimbangkan akan memasak ikan hidup yang tergeletak di talenan menjadi apa.

Apa sih yang akan terjadi jika kau memecahkan temperamen kalemnya yang biasa? Rasanya seakan seekor binatang buas yang sedang tidur terbangun.

“Hiero… jika kau meneruskan perkataanmu, fufu… kau bisa menerima sebagian kemarahanku…”

“Hii!? Ha… hahi!!”

Dan tiba – tiba, ada seorang gadis yang mengarahkan nafsu membunuh yang serius ke adiknya.

Hiero menyadari dia telah menginjak ekor sang binatang buas, dan mengangguk patuh dengan wajah pucat.

Wajah Lorna perlahan memerah, sembari beralih ke tuannya, tapi karena ia telah mengambil posisi tidur, tidak mungkin ia mendengarkan. Pertama – tama, bahkan jika ia mendengarkan, aku ragu dia bahkan akan berhenti untuk memikirkannya.

Tapi… begitu. Jadi begitu… Luxuria. Kakak yang cabul… itulah apa yang Hiero coba katakan.

Melihat perilaku Leigie-sama, Lorna menaruh tangannya ke dadanya dalam kelegaan.

Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku tersenyum dari lubuk hatiku.

… Tapi jangan lupa bahwa Leigie-sama bukanlah satu – satunya yang ada di sini. Jangan lupakan aku.

Aku menepuk pelan bahu Lorna.

Ia berbalik, dan menyadari senyumanku, ia memucat.

Di dalam tangannya, Hiero mengeluarkan buih dari mulutnya, kehilangan kesadarannya.

“Li… Lize?”

Aku mengabaikan mata memohon Lorna, dan sambil lalu berbasa – basi.

“Jadi begitu… siapa sangka di bawah wajah rajin itu, kau… haruskah kubilang, seperti yang diharapkan dari Luxeria?”

“Ap…!?”

“Aku memang merasa aneh saat pertama mendengar kau berkuasa atas Lust, tapi aku tidak pernah berpikir dari segala hal, kau akan menggunakan tuan yang kau layani untuk…”

“Tunggu, tunggu, tunggu, time out!”

Dengan ekspresi yang belum pernah kulihat padanya sebelumnya, dia menggenggam kerah bajuku, dan menarikku ke arahnya.

Bahkan jika ia terlihat sedikit lebih tak berdosa, diperlihatkan wajah cantiknya dari jarak dekat, meskipun aku satu jenis kelamin, aku tidak bisa menahan detak jantungku.

Ku ku ku Lust… nafsu… bukan?

Dengan mata berkaca – kaca, ia memalingkan wajahnya.

Apa yang harus kulakukan. Aku sedang bersenang – senang.

“Bahkan jika kau seorang Iblis Lust, apakah kau tidak sedikit terlalu berdosa? Apa kau ingin terlihat sangat tabah, sembari mengembangkan kelas Luxuriamu di dalam hatimu… sesuai yang diharapkan dari gadis yang dipanggil cabul oleh adiknya sendiri. Terlebih lagi, setiap hari… tidakkah kau akan segera menjadi seorang Penguasa Iblis Lust?

“Tunggu, itu salah! Lize! Tidak seperti itu! Benar, ini kesalahpahaman Hiero!”

Ia mengguncangku dengan kasar.

Kau pikir kau punya kekuatan persuasif macam apa saat wajahmu semerah itu, dan matamu berkaca – kaca seperti itu?

Pertama – tama, apakah itu fantasi atau kenyataan, itu tidak begitu berarti buatku.

“Dan aku ragu kau bahkan harus menjadi sangat berahasia tentang itu, seperti Hiero, kenapa kau tidak bilang pada Leigie saja? Untuk menyuruhmu melakukan hal – hal seksual atau apa, yang kau akan terima dengan senang hati. Ku ku ku, kupikir bahkan Leigie-sama akan terkejut. Bahwa Lorna yang selalu memasak dan membersihkan sebenarnya memikirkan hal – hal seperti itu jauh di dalam benaknya.”

“…!!”

Ia mengeluarkan sebuah jeritan tanpa kata saat aku menusukkan serangan terakhirnya.

Kau tidak akan dikasihani. Aku menaruh tanganku di wajahnya yang telah menjadi semerah apel.

“Ah, jika sulit untuk dikatakan, maka apa kau ingin aku untuk memberitahunya untukmu? Sebagai permintaan maaf untuk membunuhmu kali itu? Fufu, Leigie-sama benar – benar seorang Penguasa Iblis yang bahagia. Untuk seorang Iblis Luxeria untuk memikirkannya sampai sejauh itu, dan bahkan memberikan kali pertamanya untuknya.”

“Huu… Uu… salah, tidak seperti… aku…”

Ia kehilangan arah dan kebingungan sembari jatuh ke tanah.

Ngomong – ngomong, meskipun dengan semua kebisingan yang kami buat, Leigie-sama tidak terusik sama sekali.

Selagi ia membuat wajah seakan dunia akan berakhir, aku menepuk pelan bahunya. Kalau begini, aku benar – benar akan membangkitkan sesuatu yang lain di samping Wrath.

“Hey, Lorna. Bagaimana dengan pertukaran?”

“… Pertukaran…?”

Dengan mata seperti anak anjing yang ditelantarkan, ia berbicara sembari melihat naik ke arahku.

Aku punya hal yang harus kulakukan, dan Lorna punya hal yang harus ia lakukan. Untuk memenuhi keduanya, kenapa kita tidak saling menolong sedikit? Ku ku ku, ini namanya saling membantu, bukan?

“Ya… Lorna. Aku ingin… melihat sosok Leigie-sama dalam pertarungan. Mungkin jika aku melihat saat Leigie menaklukkan Zebul, aku akan lupa sepenuhnya dengan segala yang telah berlalu di sini.

“Gu… uu… kau Iblis.”

Apa yang kau katakan, selarut ini dalam permainan.

Bahkan saat aku memberinya harapan di saat terakhir, Lorna terus bimbang. Ia adalah gambaran yang sempurna dari kesetiaan. Meski ia adalah seorang wanita cabul yang melakukan ini dan itu dengan bayangan tuannya setiap malam.

“Ah, jika begitu, kita bisa merekam sosok bertarungnya dalam sebuah kristal memori, tahu? Ku ku ku, bukankah itu akan menjadi bahan yang… bagus?”

“A-Aku paham! Aku paham, jadi t-tolong hentikan!”

Ia menaikkan bendera putih.

Sudah kuduga, enak rasanya untuk menang. Aku bahkan tidak menggunakan Wrathku, tapi ini adalah perasaan yang menyegarkan setelah sekian lama.

Sekarang masalahnya adalah bisa atau tidak Lorna membujuk pria itu…

Mungkinkah itu adalah masalah terbesarnya?

Lorna dengan lembut menarik pergelangan baju Leigie-sama yang sedang tidur dengan segan.

“Leigie-sama…”

“…”

Mungkin karena itu adalah suara yang selalu berbunyi untuk waktu makannya, secara menakjubkan, setelah hanya satu panggilan, Leigie-sama membuka matanya.

Lorna memulai negosiasi dengan wajahnya yang merah padam.

“Ini mungkin sedikit lancang, tapi hamba punya permohonan kecil…”

“Tidak mau.”

… Dia tidak menunjukkan belas kasihan, bahkan pada si pelayan.

Kurasa itu benar. Bahkan jika ia punya mantra pembangkit dari kematian, dia adalah pria yang bahkan tidak menggunakannya sampai Hiero menjadi sangat merepotkan. Tidak mungkin kehadiran Lorna akan menghasilkan apapun.

Tapi mungkin karena ia bahkan lebih terbiasa berurusan dengan Leigie, ia tidak memikirkan penolakannya.

“Bersama dengan Lize… akankah kau membawa kehancuran pada sang Penguasa Iblis yang menentangmu, Zebul?”

“… Kenapa?”

Kenapa?

Kenapa, kau tanya? Karena itu adalah perintah dari Sang Raja Iblis Agung!

Aku mencoba mendekat, tapi Lorna menghentikanku.

Ia meneruskan dengan kesan baik di matanya.

“Leigie-sama, adakah sesuatu yang spesial yang ingin anda makan malam ini?”

“… Nasi Kare.”

“Maka kami akan menghidangkan Nasi Kare malam ini. Leigie-sama, hamba akan menaruh segala kemampuan hamba untuk membuatnya. Itu akan terasa lebih nikmat jika anda berolahraga sedikit dulu.”

“… Tidak perlu.”

“Leigie-sama, bagaimana dengan makanan penutup?”

“… Pai apel.”

Apa kau seorang bocah?

“Maka hamba akan memanggang Pai Apel. Leigie-sama, itu akan sedikit memakan waktu, jadi bagaimana dengan menggerakkan tubuh anda sedikit?”

“Aku membencinya.”

“Bertarung, maksudmu?”

“Aku seorang pasifis.”

Dan apa – apaan dengan seorang Penguasa Iblis pasifistis?

“Itu cukup menakjubkan, Leigie-sama.”

“Terutama jika musuhnya kuat, aku lebih membencinya lagi. Itu merepotkan.”

“… Dibandingkan dengan anda, yang mulia, kekuatan mereka tidak ada apa – apanya.”

Tidaktidak, bukan itu kasusnya, bukan?

Musuhnya Tingkat Kelima. Dibandingkan dengan itu, Leigie-sama baru – baru ini menjadi Tingkat Ketiga.

Tidak diragukan lagi ia di atas Zebul, tapi aku harus bilang bahwa akan sulit untuk menang semudah itu. Ada masalah afinitas, dan aku tidak tahu rincian Skill – skill Sloth.

Leigie-sama memasang wajah kerepotan sembari mengunci mata dengan Lorna.

“… Gitu. Lorna… kau ingin aku bertarung sebegitu hebatnya?”

“… Ya.”

“Untuk siapa?”

“… Untuk hamba. Nanti… hamba akan menyaksikan. Hamba akan menyuruh Lize… mengambil gambar, jadi…”

“Bu…!”

Aku tertawa secara tidak sadar.

Wajah Lorna sewarna dengan gurita rebus saat ia melotot ke arahku. Matanya memberitahuku bahwa ia tidak memaksudkannya seperti itu, tapi dari sudut pandangku, itu tidak bermaksud lain lagi.

Aku paham. Aku paham. Aku akan mengambilnya! Gunakanlah mereka sebagai bahan sesukamu.

“… Gitu…”

“… Hamba benar – benar minta maaf.”

“… Hah…”

“… Hamba benar – benar minta maaf.”

“… Untuk suatu alasan, perutku sakit…”

Dengan wajah tanpa rasa sakit, sang Penguasa Iblis bicara.

Sebegitu hebatnya!? Kau tidak mau bertarung sebegitu hebatnya!? Leigie dari para Slaughterdolls!

Jika kau ingin pura – pura sakit, setidaknya berikan wajah kesakitan!

“… Hamba benar – benar minta maaf, Leigie-sama.”

Sebagai balasannya, Lorna memberi wajah yang benar – benar minta maaf sembari menundukkan kepalanya.

Bahkan setelah melihatnya, ia tidak tampak memikirkan apapun. Ia beralih, dan menggulungkan tubuhnya menjadi bola.

Ini benar – benar mustahil…

“… Sekarang, Lize. Leigie-sama telah memberikan afirmasi.”

“… Eh!? Yang Benarz!?

Dengan itu? Itu cukup?

Apa itu benar – benar tidak apa? Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, ia menolak, tapi…

Di kursi, sang Penguasa Iblis mencoba menyusutkan tubuhnya. Aku benar untuk mencoba meminta di saat ranjangnya sedang ditata. Jika ia sedang di ranjang, ia pasti akan bersembunyi di balik selimut.

Lorna terus mengatakan beberapa hal yang tak bisa dipercaya.

“… Lize, tolong bawa Leigie-sama. Bahkan jika kau tidak bisa melakukan apapun selain itu, maka setidaknya, kau bisa melakukannya, bukan?”

… Bahkan jika aku tidak bisa melakukan apapun? Itu cukup kasar. Seberapa besar masalah yang kau pikir sedang kualami…

Tapi tidak apa. Itu masih baik – baik saja. Masalahnya adalah… akankah ia pergi?

“… Eh? Haruskah aku menggendongnya di punggungku?”

“… Kau akan memindahkan yang mulia. Yang seperti itu sudah jelas.”

Apa yang sudah jelas? … Bergeraklah!

Pertama – tama, Kastil Bayangan adalah pusat dari massa besar tanah yang diberikan kepadanya. Aku paham jarak umumnya ke perbatasannya, tapi aku harus menggendongnya sejauh itu…?

Aku tidak mau memikirkannya. Bahkan jika aku cukup kuat, apakah harga diri sang Penguasa Iblis tetap utuh setelah digendong oelh seorang wanita yang lebih pendek darinya?

… Kemungkinan iya.

Aku menelan amarah yang mulai mendidih. Aku tidak begitu paham kenapa aku harus melakukan sebanyak ini, tapi itu akan memakan waktu. Naga terbang adalah bentuk transportasi utama di dalam Dunia Iblis.

Jadi kali ini juga, bahkan jika aku menggendongnya, itu akan hanya sampai ke Kandang Naga.

“… Aku paham… aku akan menggendongnya, jadi…”

“Itu Cukup. Sekarang, Leigie-sama… aku minta maaf, tapi…”

“… Kenyataannya, jika aku jauh dari ranjang untuk lebih dari satu jam, aku akan mati.”

Pada titik ini, ia masih tidak tahu kapan harus menyerah. Ia tidak memiliki secercahpun harga diri.

Dan tunggu, jangan berbohong dengan wajah datar! Tidak mungkin benda ini adalah seorang Penguasa Iblis!

Pertama – tama, akan memakan lebih dari satu jam untuk ke sana, bahkan dengan Naga.

“… Bahkan jika kita menggunakan seekor naga terbang, akan memakan lebih dari satu jam untuk ke sana…”

“Apa? Lebih dari satu jam… katamu? Kau, apa kau mencoba membunuhku!!?”

Itu adalah suara paling termotivasi yang pernah kudengar darinya sejak saat aku ditempatkan di sini

Apakah ia benar – benar membencinya sebegitu hebatnya… pria ini.

Rasa sakit yang parah datang dari perutku.

“Jangan main – main denganku! Aku akan bersedia dan bertarung… sebanyak itu tidak apa. Karena itu akan berakhir setelah aku menggunakan beberapa skill secara acak atau apa. Tapi jika kau ingin aku bertarung, maka bawa Penguasa Iblis sesuatu sesuatu itu ke kamarku, atau itu tidak akan terjadi!”

“T-tidak mungkin itu akan terjadi! Sekarang mari pergi!”

Aku menarik lengan sang Penguasa Iblis yang merengek sekuat tenaga.

“… Tidak~ Mau~! Aku tidak akan mau bekerja!”

“Jangan egois! Ini adalah perintah dari sang Raja Iblis Agung!”

“Sial, kenapa aku harus mengalami semua ini… Menjadi seorang Penguasa Iblis… Aku berhenti!”

Pria ini… ia serius. Ia tidak ingin bergerak sebegitu hebatnya.

Kau bahkan tidak bekerja!

Dan pada waktu seperti ini, Penguasa Iblis ini masih tidak memiliki ketertarikan sedikit pun terhadap musuhnya.

“… Sekarang, berhenti main – main! Kau bisa tidur di jalan!”

Dengan Wrath sebagai atributku, satu – satunya yang membuatku membuat begitu banyak kelonggaran adalah pria ini.

“… Bisakah aku tidur dalam pertarungan juga?”

Apakah kepalanya berada di tempat yang benar?

Dan tunggu, kau akan mati! Tidak peduli siapa kau pikir kau ini, kau akan mati! Musuhmu bukan Kelas Jendral, dia adalah seorang Penguasa Iblis sepertimu!

Apa pria ini memahaminya!?

“… Ini tidak berguna. Pergi beritahu Kanon. Bertarunglah untuk dirimu sendiri.”

Dengan mata penuh kepercayaan diri yang tak berarti, pria ini tidak menunjukkan rasa takut bahkan terhadap sang Raja Iblis Agung.

Jika salah satu dari bawahan langsung sang Raja Iblis Agung melihatnya sekarang, tidak akan aneh buatnya untuk dihukum karena pengkhianatan.

“Tidak mungkin aku bisa mengatakan sesuatu seperti itu! Dan tidak seperti kita harus naik naga. Aku hanya berpikir itulah yang tercepat. Sekarang menghilang, atau lakukan beberapa gerakan yang seketika, atau apapun itu yang kau mau! Kau masih bertarung, tahu! Itu tanggung jawabmu!

“…Hah…”

Leigie-sama menghela nafas panjang.

Dia benar – benar tidak berguna.

Dan percakapan ini merepotkan.

Adalah apa yang matanya katakan padaku.

Saat kupikir dia akan mengembalikan beberapa keluhan lagi, aku merasakan perasaan melayang seakan tubuhku telah dilambungkan ke udara.

Medan pandangku seketika berubah.

“He…?”

Telah dilempar ke udara sendiri, juga, Leigie-sama tidak mencoba untuk berguling atau bahkan mengangkat suaranya sembari menggeletak di tanah.

Aku segera membenarkan tubuhku, dan mendarat di kakiku.

Sebuah padang pasir kegelapan tanpa satu tempat pun untuk berlindung tergelar sampai ke horison. Bulan biru pucat menerangi bumi yang tandus tanpa sedikitpun vegetasi.

“Heh? Wai… wah… eh?”

Apa aku sedang melihat ilusi?

Aku yakin sedang berada di dalam kastil jadi bagaimana kita…

Dibandingkan denganku yang sedang di puncak kebingungan, sang Penguasa Iblis yang telah terlempar ke tanah tidak panik sama sekali.

Debu yang hitam legam yang terlihat melambangkan kegelapan itu sendiri, sebuah tanda bahwa itu terendam dalam Mana kematian.

“… Zona… lebih banyak, ke sana…”

“Apa? Tunggu…”

Aku mendengar suara yang mengerikan.

Pandanganku bergeser sekali lagi.

Dari sebuah tanah yang kosong, ke sebuah tanah yang dipenuhi bau darah dan daging dan abu.

Leigie-sama berguling di tanah dengan cara yang tidak enak dilihat.

Saat aku menyentuh tanah, instingku merasakannya.

Jauh berbeda dari eksistensi Leigie-sama… tapi sesuatu seagung dia. Dan tunggu, objek yang melepaskannya berada tepat di depan mataku.

Seakan sebuah lubang telah dibuat dalam ruang, sebuah jubah yang terlihat menyedot seluruh cahaya tergantung pada sebuah bayangan kecil.

Wajah kecil yang tertutup dalam rambut hijau melihat dengan ekspresi kebingungan. Tapi jika kau membandingkan, akulah yang lebih kebingungan di antara kami berdua.

Zebul Glaucus.

Sang Raja Pelahap. Penampilan dan sosoknya cocok dengan yang pernah kudengar.

Bagaimana mungkin ini terjadi… apa aku bermimpi!?

Sang Penguasa Iblis mengabaikanku, dan beralih ke Leigie, yang dengan goyah mengangkat tubuhnya.

Di depan Zebul, dengan langkah goyah layaknya bayi rusa, ia jatuh di atas punggungnya, dan menghela nafas panjang.

Tanpa membiarkan suaranya keluar, dan hanya menggerakkan mulutnya, ia mulai mengeluh.

“… Benarkah… mustahil… tak ada gunanya. Yang satu ini kuat… tidak mau… aku tidak bisa mendengar apapun lalalala.”

Pikiran pertama yang terlahir di pikiranku adalah kesimpulan – kesimpulan.

Tunggu, jadi itu kau!

Aku memang bilang kau bisa teleport atau sesuatu, dan aku akan mengakuinya.

Apa ini juga sebuah Skill Sloth? Tidak, ini sempurna untuk Sloth, kan!

Meski begitu, ia menyerah secepat itu!

Leigie-sama mengambil pandangan pada Zebul, dan mengayunkan kepalanya dari sisi ke sisi.

Perutku seketika mengalami kekejangan – kekejangan sakit yang mengerikan. Mungkin aku akan membakar ususku.

Bagaimanapun, Berhenti. Bermain – main. Denganku!

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

 

← Daraku no Ou Chapter 4 Part 3: Memangnya Dia Pikir Siapa Dia? Daraku no Ou Chapter 5 Part 1: Dunia Ini Adalah… Neraka→

Leave a Reply