Daraku no Ou Chapter 5 Part 2: Biarkan Aku Mencicipi

Daraku no Ou Chapter 5 Part 1: Biarkan Aku Mencicipi
Diterjemahkan oleh Aftertolv
Disunting oleh KenMashiro

Mulai sekarang, kami akan mengupdate setiap hari Senin malam,

Selamat membaca!

Part 2: Biarkan Aku Mencicipi

Sihir selevel ini tidak mampu memuaskan Inti Jiwaku sama sekali.

Sungguh indah hari – hari dulu. Dunia Iblis dilimpahi dengan iblis – iblis kuat yang telah menghabiskan bertahun – tahun memuaskan hasrat mereka.

Mungkin aku hanya hidup terlalu lama. Mungkin aku hanya telah makan terlalu banyak hal lezat. Dan dalam sumber daya terbatas kami, untuk memuaskan lidah kami yang telah matang, kami terus berjuang layaknya anak – anak.

Fufufu, sungguh indah hari – hari dulu… bukan? Aku mulai terdengar seperti orang tua.

Sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu, sebagian besar Iblis yang kuat… dalam perang skala besar dengan pasukan yang menyerbu dari Surga, sebagian besar dari mereka sirna.

Apa yang tersisa dari para iblis sekarang. Para Penguasa Iblis semuanya adalah anak – anak muda yang bahkan belum hidup sepuluh ribu tahun.

“Zebul-zama, aku lapar.”

Seorang Iblis dengan kepala Serigala bicara.

Dia seorang Iblis Kelas Jendral, yang juga berkuasa atas Gluttony. Untuk seseorang yang masih belum mencapai status Penguasa Iblis, aku lebih dari memahami deritanya.

“Fufufufufu, tentu saja… aku juga sama. Tahanlah. Hidangan yang dimakan setelah menahan sampai batas terjauh rasa lapar adalah kebahagiaan yang terbesar. Mereka bilang rasa lapar adalah bumbu yang terbaik, bukan?”

“Makanan… aku ingin… makanan.”

Wangi manis darah dan daging dan jiwa menggelitik hidungku.

Meskipun aku bisa dipanggil sesuatu seperti Pelahap Bangkai, aku adalah seorang pelajar dalam perjalanan demi cita rasa tertinggi, dan aku tidak melahap apapun yang ada. Aku tak tahu dari mana nama itu muncul.

Aku melangkahkan kakiku ke singgasana putih bersih dari marmer. Jeritan – jeritan yang teredam datang dari mulut makanan yang menopang singgasana.

Untuk Iblis Pride… menghancurkan kesombongan mereka sebelum memakan mereka menciptakan rasa yang terhebat.

Tapi apapun kasusnya, bagaimanapun aku tidak merasakan banyak kekuatan darinya. Kurasa setidaknya rasanya akan lumayan.

Tentu saja, perutku tak berujung, jadi aku tak akan melakukan sesuatu sebodoh menyianyiakan makanan. Aku tidak pernah melupakan doaku sebelum dan sesudah makan.

Darah mengucur keluar seperti air mancur, dan menodai wajahku. Pada saat bersamaan, singgasananya mulai goyah.

“H-hey! Jangan makan mereka begitu saja sesukamu!”

“Gu?”

Saat aku buru – buru melihat ke bawahnya, aku melihat sosok bawahanku menggerogoti kepala orang lain dengan rahang besarnya.

Aaaaaah, tepat saat aku sedang di tengah persiapan makanan…

Bahkan jika bahannya buruk, mereka tidak memahami niatanku untuk membuat mereka selezat mungkin.

Tapi senyuman yang timbul pada wajah serigala itu saat ia mengeluarkan suara kunyahan membuatku merasa itu tidak berarti lagi. Itu karena aku bisa memahami bagaimana perasaannya.

Ya ampun, betapa tak berdayanya anak – anak ini.

Aku melompat turun dari Singgasana, mengambil lengan kanan mayat yang telah kehilangan kesegarannya, dan menaruhnya di mulutku.

Jiwa yang ranum itu hanya mengeluarkan rasa manis untuk sekejap saja. Dalam beberapa kunyahan, itu menghilang dalam sekejap mata.

Well, wel, ya ampun. Ini tidak berpengaruh pada rasa laparku.

Saat aku sedang merobek lengan kirinya, si kepala serigala bicara.

“Gu.. Zebul-zama… kau cepatz…”

“Yeah, aku… seorang yang bisa makan lumayan banyak.”

“Bukankah kau baruzan makans seorang Penguasa Ibliz…”

“Yep, itu lezat.”

Sesuai dugaanku, Penguasa Iblis berbeda. Kedalaman citarasanya berbeda. Teksturnya berbeda. Aku bisa bilang dengan yakin bahwa tubuhku senang saat aku memakan mereka.

Bahkan jika mereka pendatang baru, sihir yang mereka punyai benar – benar tak bisa ditandingi oleh Kelas Jenderal di bawah mereka.

Si Serigala menghabiskan kepalanya, tapi saat ia melihat sisa – sisanya untuk sesuatu yang lain, tulang rusuknya telah hilang.

Dia mengarahkan pandangan menuduh padaku.

“Tidak adil…”

Well, well.

Hal – hal yang anak – anak katakan belakangan ini.

Hasrat tak berujung yang ia miliki dalam hal makanan membuatku bicara dengan penuh kekaguman.

“Bukan tidak adil, bukan tidak adil. Kau harus mengambil makananmu sendiri… sendiri. Orang yang bertarung dengan Claud Astal adalah aku, bukan? Maka sudah wajar bila aku yang memakannya. Mungkinkah kau melakukan apapun?”

“Ibliz itu baruzan… aku yang membunuhnya…”

“… Benarkah? Apakah seperti itu kejadiannya? Fufufu, well, pencapaian para pengikut adalah pencapaian sang Raja, benar? Jika kau membencinya… kau harus bangkit di dunia ini.”

Jika kau lakukan itu, kau suatu hari akan mengenal citarasa seorang Penguasa Iblis. Well, mungkin kau akan hidup lebih bahagia jika kau tidak pernah mengenalnya.

Aku mengaktifkan sebuah Skill Gluttony.

Aku menggunakan sihirku, dan perutku berguncang lebih hebat lagi dengan kelaparan.

『Million Dish』

Tentakel – tentakel yang tumbuh dari punggungku menusuk tubuh yang tadinya milik seorang Iblis Pride yang telah kehilangan kepala dan kaki tangannya.

Si kepala serigala menjerit.

“Tunggu…”

“Fufufu, well, aku akan menyisakan sedikit untukmu.”

Skill – skill Gluttony hanya digunakan saat makan.

Tiap tentakel bergerak sendiri – sendiri, dan tubuh si Iblis Pride ludes dalam kurang dari sedetik.

Si kepala serigala buru – buru mencoba menggigitnya, tapi giginya mengatup tanpa hasil di udara kosong.

Fufufu… mencoba mengganggu orang makan, adab makan yang buruk, nak.

“Aaaaaaaah, kau bilang kau akan… menyizakan zedikit…”

“Fufufu… terimakasih atas makanannya… rasanya lumayan.”

Bahkan jika ia kelas Jenderal, kurasa itulah semua yang ia punya. Sudah kuduga, dulu…

Tidak, itu hanya Penguasa Iblis Tingkat Kelimabelas. Iblis – iblis yang ia kumpulkan hanya selevel itu.

“… Zebul-zama…”

“Fufu, lihat, aku menyisakannya, bukan?”

Serigala dengan mata berkaca – kaca ini… ia adalah seorang Iblis Kelas Jendral dari pasukanku, Gar Luxeed. Aku menunjuk ke singgasana putih bersih, dan menawarkannya padanya.

“… Singgasana itu.”

“Aku tidak… butuhs piring.”

Ya ampun, sebagai seorang Kelas Jenderal, ia kekurangan martabat… bukankah seharusnya Iblis tingkat lebih tinggi memiliki keanggunan yang lebih?

Ahaha, well, serigala adalah karnivora, benar? Itu… aku telah melakukan sesuatu yang buruk.

Tapi kau tidak seharusnya pilih – pilih makanan.

“Begitu… fufu, maka kurasa aku akan memakannya…”

“… Hal yang dapat dimakanz dapat dimakan.”

“Saat diperlukan, terkadang kau harus terjun dan makan debu dan bebatuan juga.”

Mulut pada tangan yang kupakai menunjuk… taring – taringnya menggerogoti marmer itu.

Rasanya tidak buruk. Tapi bahkan jika itu dibuat dari material berkualitas tinggi, pada akhirnya, itu hanyalah sebuah piring. Tidak masalah untuk membodohi rasa laparku, tapi sesuai dugaanku, itu tidak bisa menyaingi apa yang seharusnya ada di atas piring.

Perang sudah lama berakhir, dan inilah perjamuan kemenangannya.

Pasukan Pride telah tumbang, dan seluruh tentara musuh menjadi makanan.

Mereka sudah jelas bukan tandinganku sama sekali. Meskipun dengan Penguasa Iblis mereka di antara mereka, hanya dalam dua jam, kekalahan mereka sudah ditentukan.

Pasukan kami hanya memiliki Iblis Gluttony, tapi Gluttony unggul dalam kekuatan serang, dan Skill Gluttony yang paling dasar, 『Wave of Starvation』 memiliki area of effect yang besar.

Selama aku di sini, seluruh Iblis di bawah level kemampuan tertentu sekedar tertangkap di dalam skill itu, dan berakhir sebagai makanan.

Tentu saja, aku memastikan untuk menahan diri, tapi mereka adalah gerombolan yang tak tegas sejak awalnya.

Fufufu, tidak ada artinya seorang Iblis Superbia yang tidak tegas. Pada akhirnya, dia hanyalah seorang pecundang yang menyerahkan dirinya sendiri ke Kanon Iralaude.

Pride itu… semakin kuat dengan bertambahnya kecongkakan yang seseorang miliki. Dan itu juga menambah rasanya.

Juga ada fakta bahwa perbedaan tingkat di antara kami terlalu besar, tapi 『Overrule』 yang si Penguasa Iblis gunakan bukanlah sesuatu yang spesial juga.

Jeritan – jeritan putus asanya tidaklah buruk sebagai bumbu, sih.

Telah selesai memakan singgasananya, aku menepuk perutku.

Aku cukup langsing. Seluruh nutrisi digunakan untuk memberi makan Skill – skill Gluttony-ku.

“Zebul-zama… aku lapar.”

“Hmm? Secepat ini? … kurasa ini karena hanya ada kuantitas tanpa kualitas…”

Dengan ini, aku hampir tidak sempat beristirahat bahkan dengan apa yang dihabiskan skill – skillku.

Aku memindai sekelilingku, tapi segala sesuatu yang bisa kugerogoti telah menghilang ke dalam perut seseorang atau lainnya, dan semua yang kulihat adalah mata – mata yang berkilau lapar.

Well, well, makan secara rutin seharusnya memberi rasa kenyang yang lebih baik, tapi… well, apa boleh buat jika mereka tidak bisa menahannya.

Karena aku baru saja memakan seorang Penguasa Iblis, aku masih bisa menahannya untuk beberapa saat, tapi menjawab ekspektasi rakyatnya juga tugas seorang Raja, bukan?

Aku menepukkan kedua telapak tanganku, dan memandang wajah – wajah rakyatku, yang sedang bergelora dalam hasrat – hasrat dasar mereka.

“Sekarang, mari mencari lebih banyak makanan…”

“YEEEEEEEEEEEEAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!!”

Bawahan – bawahanku berteriak. Tanah berguncang di bawah rasa lapar mereka, dan jeritan – jeritan binatang terdengar membelah udara.

Mereka punya motivasi lebih dari cukup. Mayoritas pengikut rakusku berbentuk binatang. Bagi mereka, yang tidak memiliki kekuatan menggigit menembus segala hal, itu adalah sosok yang mereka ambil agar setidaknya dapat mengunyah benda – benda keras.

Dan maka, anggota pasukanku… tidak begitu baik dalam menggunakan kepala mereka. Well, untuk tidak melakukan apapun selain makan, itu tidak terlalu diperlukan.

Di antara mereka, satu yang sebenarnya dikenal sebagai seorang Jenderal yang cukup banyak akal, Gar, memiliki air liur yang menetes dari mulutnya seraya membentangkan sebuah peta.

Kastil Sang Raja Iblis Agung, Istana Api yang Menyayat dikelilingi oleh wilayah Penguasa Iblis lain, dan kelihatannya kita tidak akan bisa mencapainya dengan semudah itu.

Jadi sebelum memakan Kanon-sama, menghidangkan Penguasa Iblis – Penguasa Iblis lainnya sebagai hidangan pembuka sambil melanjutkan ke arah Istananya adalah rencana yang menakjubkan kalau kubilang.

Fufufu, bahkan aku… menghadapi beberapa Penguasa Iblis secara bersamaan akan sulit. Mari memakan mereka secara berurutan saja.

Selama sang Raja Iblis Agung masuk ke perutku, kemampuanku akan meningkat lebih jauh lagi. Aku bahkan bisa menjadi Raja menggantikannya.

Itu karena seluruh Penguasa Iblis memiliki ambisi yang meluap – luap. Tidak akan ada yang peduli tentang seorang Raja yang cukup lemah untuk termakan.

Di rute yang ditunjukkan Gar, ada sebuah wilayah yang terbagi oleh sebuah garis.

Tanah yang luas di jalur dengan jarak terdekat menuju sang Raja Iblis Agung. Lebarnya begitu lebar sehingga bahkan dengan tanah para Penguasa Iblis yang kumakan kemarin dan hari ini digabungkan tidaklah cukup untuk menyamainya. Bentangan yang akan memerlukan lebih dari sehari untuk diseberangi, bahkan dengan seekor Naga Terbang. Jika kita ingin menghindari tanah ini, kita harus mengambil jalan memutar.

Saat melihat nama yang tertanda di atasnya, aku mengernyitkan alisku.

“Ya tuhan… kesalahan navigasi macam apa. Mengapa dengan hampir dua puluh Penguasa Iblis yang ada, nama orang ini yang harus muncul?”

“Hmm? Apa ada mazalah?”

“Masalah besar. Masalah BESAR. Demi tuhan, apa yang Mizna dan yang lain pikirkan saat mereka memikirkan rute ini…”

“Zebul-zama… Mizna tak lagi di sini. Setter dan Grad juga.”

“Tidak, aku tahu. Mereka lezat.”

Aku paham, tapi, kau tahu, aku ingin mengajukan satu atau dua keluhan.

Aku ingat ketiga orang yang Kanon-sama utus untuk mengawasiku.

Orang – orangku tidak membantu dalam membuat rencana, jadi rencana invasiku digarap dengan ahli oleh mereka bertiga. Tentu saja, aku tidak sejujur itu untuk memberi tahu mereka bahwa ini semua bertujuan untuk memakan Kanon-sama.

Semua yang mereka pikirkan adalah rutenya. Tentu saja, karena mereka di bawah kontrol langsung Kanon-sama, mereka hanya akan menghalangi setelah itu, jadi setelah mereka menyusun sebuah rencana, mereka menjadi hidangan pembuka makan malamku.

Pada akhirnya, seorang Kelas Jenderal, terlebih lagi yang sedang lengah, bukanlah tandinganku.

Well, aku menikmati rasanya. Fakta bahwa mereka jauh lebih lezat dari jenderal – jenderal pasukan Pride itu pasti karena perbedaan di kualitas dasarnya.

Tapi tetap saja, untuk itu untuk menjadi seperti ini…

Untuk pertama kali sejak lama sekali, sebuah emosi selain rasa lapar naik ke permukaan. Aku menyentuh namanya di peta.

Sejujurnya… aku tidak begitu merasa siap untuk yang satu ini.

“… You, could it be you don’t know of the Demon Lord of Acedia, Leigie of the Slaughterdolls?”

Mantan Tingkat Keempat. Setelah beberapa pencapaian belakangan ini, dia telah dipromosikan ke Tingkat Ketiga; seorang Penguasa Iblis Sloth tingkat tinggi.

Bukannya kekuatan seorang Penguasa Iblis dapat ditentukan hanya dengan tingkatan, dan bukannya aku takut akan kekuatannya. Dia bukanlah pendatang baru, seperti aku, ia adalah seorang Penguasa Iblis berumur yang tetap hidup setelah Perang Surgawi sepuluh ribu tahun lalu. Tapi itu tidak begitu mengerikan buatku.

Tentu saja, aku belum pernah bertarung dengannya, tapi fakta bahwa ia melekat pada kehidupan untuk selama ini juga berarti bahwa ia telah menimbun kekuatan sebanyak itu. Maka, benar bahwa ia tidak akan semudah Penguasa Tingkat Kelimabelas dan Tingkat Keenambelas itu, tapi inti dari masalahnya berada di tempat yang benar – benar lain.

Aku menghela nafas dalam – dalam.

Dan kepada bawahan imutku, yang tidak memahami apapun, aku menyampaikan kebenaran yang mengejutkan.

“Iblis Sloth itu… pahit, bukan?”

“Pahit…?”

“Yeah, aku selalu menghormati siapa pun yang kukalahkan dengan memakan mereka apapun wujud mereka, namun… bahkan buatku, aku tidak mau memakan seorang Iblis Sloth.”

“Eeeeeeeeeh?”

Gar melompat kaget.

Kau berlebihan… kupikir seraya meneliti sekelilingku, hanya untuk menemukan bawahan – bawahanku, yang tidak pernah memikirkan apapun selain makan, dan tidak pernah menunjukkan sekeping pun kecerdasan menatap seakan mereka baru saja melihat sesuatu yang tak dapat dipercaya.

Tidaktidaktidaktidak.

Aku mencoba untuk memberi penjelasan sederhana. Ini adalah pengetahuan Gluttony.

“Tidak, bukan, well… Iblis – iblis tingkat rendah baik saja, paham. Tapi semakin mereka membawa Kemalasan mereka ke tingkat ekstrim, cara – cara agar mereka dapat melaksanakannya bertambah… Di antaranya, untuk mencegah dimakan, ada skill ini untuk menjatuhkan rasa daging dan jiwa mereka, jadi…”

Itu berbahaya.

Itu adalah skill individual, dan cukup Tingkat Tinggi, tapi itu adalah ekspresi citarasa yang mengerikan.

Rasanya, rasanya itu sendiri cukup pahit untuk memberi trauma mental permanen dengan sekali gigit. Itu bukan pada tingkat di mana beberapa orang yang menyukai makanan pahit dapat menyantapnya. Itu bukan masalah suka, atau tidak suka. Itu hanyalah sangat buruk.

Bahkan untuk seseorang yang dijuluki sang Pelahap, dalam makan, aku hanya ingin makan makanan yang terbaik, dan dari seorang yang telah makan segala macam racun untuk mencoba mengisi perutku… itu buruk. Itu cukup mengerikan untuk membunuh. Itu adalah hal pertama, dan satu – satunya dalam hidupku untuk memberiku sakit perut.

Lalu ada opsi untuk menelan mereka bulat – bulat, kau boleh pikir begitu, tapi itu salah. Rasa mereka bergema di dalam jiwa mereka. Bahkan jika kau mengirimnya langsung ke lambungmu, itu tidak salah lagi sangat buruk.

Untuk merubah rasa agar tidak dimakan, itu seperti sifat sejenis buah.

“Sloth level rendah… memiliki afinitas yang baik, dan mereka tidak bergerak, jadi mereka mudah diburu, dan rasa mereka unik, tapi tidak buruk… tapi dari segalanya yang satu ini harus seorang Penguasa Iblis.

“Artinya?”

Dalam satu detak, aku menaruh kekuatan ke dalam kata – kataku, dan menyatakan.

“Hal dengan rasa terburuk di dunia ini. Tidak perlu dipertanyakan lagi.”

“Oooooooooooh.”

Aku tak yakin apa yang telah mereka salah pahami, tapi mereka mulai bertepuk tangan.

… Kalian, kalian tidak memahaminya sama sekali. Kurasa itu benar. Pandangan Gluttony terhadap makanan kelewat terbuka… jadi tidak lezat adalah satu hal, tapi aku berani taruhan mereka belum pernah mencicipi arti sebenarnya dari Mengerikan.

Aku tak bisa apa – apa selain memberkati mereka karena keberuntungan mereka yang baik. Dalam kehidupan ribuan tahunku, itu adalah sebuah trauma yang langsung masuk ke jajaran tiga teratasku.

Well, kau tidak sering berkesempatan memakan seorang Iblis Sloth, dan saat mereka melampaui Kelas Jenderal, mereka semakin jarang dan jarang tampak di medan perang, jadi aku berani taruhan kita tidak akan bertemu satu pun.

… Hmm?

“… Begitu… Kau mengantisipasi bahwa ia tidak akan menampakkan diri. Mizna…”

“Hm?”

Begitu. Jika kau menaruhnya seperti itu, maka aku paham.

Sungguh, seorang Penguasa Iblis Sloth berpartisipasi secara pribadi adalah mustahil.

Jika kau tanya mengapa, tidak seperti Gluttony, hasrat mereka tidak mengharuskan mereka untuk melukai orang lain, dan sang Penguasa Iblis Sloth seharusnya adalah eksistensi paling malas di seluruh Dunia Iblis.

Mustahil ia akan mengikuti sesuatu semerepotkan perang. Bahkan jika sang Raja Iblis Agung memerintahkannya, itu mustahil.

Aku mencoba mencari di ingatanku untuk wajah Leigie, tapi aku tidak bisa menemukannya.

Telah melayani di bawah kekuasaan tiga Raja Iblis Agung yang berbeda, aku seharusnya adalah veteran tertua dalam pasukan Kanon-sama, tapi tak peduli seberapa jauh aku mengorek ingatanku, aku tidak mampu menggambarkan citra Leigie dari para Slaughterdolls.

Aku mengerutkan wajahku, seraya memusatkan nutrisi ke otakku. Dan akhirnya aku mampu menarik keluar sebuah ingatan.

Memang samar, tapi aku ingat.

Aku yakin dia di sana saat festival di mana Raja Iblis Agung Kanon-sama naik menjabat. Ditarik ke sana kemari oleh inspekturnya.

Dia memiliki rambut hitam, dan perawakan langsing yang tak bisa diandalkan. Bagaimana bisa orang itu seorang… Aku ingat Penguasa Iblis lain mengucapkan hal – hal semacam itu.

“Ada apa? Zebul-zama…”

“… Tunggu dulu. Huh? Kupikir dia juga di sana untuk Raja Ferris Craun yang sebelumnya juga…”

Ingatanku menyusur lebih jauh ke belakang.

Festival di mana Penguasa Iblis sebelumnya ditetapkan.

Ingatanku kabur, dan segala sesuatu terlihat seakan tertutup kabut, tapi aku yakin ia di sana.

Seorang berambut hitam, dan tampak payah, digendong di punggung bawahannya. Bagaimana bisa orang itu seorang… aku ingat Penguasa Iblis lain mengatakan itu. Samar – samar.

Aku memiringkan kepalaku.

“… Huh? Tunggu dulu, berapa lama dia telah di sana… Ferris Craun menjabat cukup lama, bukan…”

Ferris dilantik sebagai sang Raja Iblis Agung lebih dari dua puluh ribu tahun lalu.

Bahkan aku tidak bisa mengingat sang Raja Iblis Agung sebelum itu, tapi saat aku pertama menjadi seorang Penguasa Iblis, apakah pria itu di sana? Atau tidak?

Masa hidup seorang Iblis kelewat panjang, tapi baginya untuk hidup selama ini, ia pasti memiliki kekuatan yang hebat.

Kupikir dia tidak ada selama itu. Tapi aku tak punya begitu banyak keyakinan padanya.

Mungkin karena apakah ia di sana atau tidak tidak akan mengubah apapun…

“Zebul-zama, apa yang haruz kita lakukans?”

“Hmm… Bahkan jika kau menanyakanku itu. Karena kita telah sampai sejauh ini, kita tidak punya pilihan selain melanjutkan.”

Kami telah membakar jembatan – jembatan kami dalam perjalanan ke sini, jadi semuanya bergantung pada seberapa cepat kami dapat menaklukkan Kanon-sama.

Mengambil jalan memutar itu… tidak baik. Kita harus maju dengan keyakinan dan kebulatan tekad.

Untungnya, Sloth dikatakan untuk unggul dalam daya tahan. Ia memiliki afinitas yang kelewat baik dengan Gluttony. Selama aku dapat menahan rasanya.

Tidak, untuk rasanya… sudah sangat lama sejak aku terakhir makan seorang Sloth tingkat tinggi. Ingatanku samar, dan bisa jadi hanya dampaknya yang tersisa di situ, dan jika aku  mencoba makan satu sekarang, itu tidak akan sebegitu buruknya.

Yeah. Itu benar. Tanpa memedulikan masa lalu, mustahil aku yang sekarang bisa makan sesuatu dan merasa jijik karenanya.

Terlebih lagi, mustahil Sloth itu akan benar – benar muncul. Jika mereka memberontak, paling banter itu hanya pasukan sang Sloth. Pasukan Leigie memang terkenal kuat, tapi paling banter, mereka dipenuhi Jenderal. Bukan tandinganku.

Malahan, aku tidak sabar untuk memakan mereka.

“Baiklah, maka kita akan pergi langsung ke arah Istana Api yang Menyayat!”

“YEEEEEEEEEEAAAAAAAAHHHHHH!”

Kanon-sama… tunggu aku.

Aku, sebagai perwakilan seluruh Iblis Gluttony, akan mencicipimu.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

 

← Daraku no Ou Chapter 5 Part 1: Dunia Ini Adalah… Neraka Daraku no Ou Chapter 5 Part 3: Mari Menyantap→

Leave a Reply