Daraku no Ou Chapter 5 Part 3: Mari Menyantap

Daraku no Ou Chapter 5 Part 3: Mari Menyantap
Diterjemahkan oleh Aftertolv

Selamat membaca!

Part 3: Mari Menyantap

Penyesalanku datang terlalu cepat.

Fakta bahwa aku tidak akan bisa makan seorang Penguasa Iblis, dipadukan dengan motivasi Legiunku yang menyusut dengan cepat.

Bukannya aku telah membiarkan diriku lengah. Mungkin aku harus bilang, ‘sesuai yang diharapkan dari seorang Iblis kuno.’

Pada umumnya, Iblis bertambah kuat semakin lama mereka menua. Itu karena mereka punya lebih banyak waktu untuk terus menuruni tree mereka. Tentu saja, kekuatan tidak meningkat jika kau menghabiskan seluruh waktumu tanpa melakukan apapun, Dunia Iblis bukanlah tipe lingkungan di mana kau bisa menghabiskan waktumu tanpa melakukan apapun.

Bahkan tanpa Gluttony, keteraturan Dunia Iblis adalah di mana yang kuat yang bertahan hidup. Dalam dunia seperti ini, adalah langkah yang buruk untuk meremehkan seorang Iblis yang telah mengukir eksistensi mereka tanpa henti.

Mengambil jalur terpendek, lenganku telah lama memasuki wilayah sang Penguasa Sloth.

Dan ada sesuatu yang kusadari.

Gar memasang ekspresi limbung yang jarang, seraya mengalihkan pandangannya ke arahku.

“… Zebul-zama… Zonanya…”

“Yeah, aku tahu… sial, ini tidak mau pecah sama sekali. Apa – apaan ini…”

Kekukuhannya sangat mengerikan, dan udara di sini stagnan.

Itu adalah sifat dari medan yang setiap Iblis yang berpihak pada seorang Penguasa Iblis seharusnya tahu.

『Abyss Zone』.

Sebuah pertarungan atas tanah antar Penguasa Iblis.

Kami dulunya sekutu, tapi sekarang 『Abyss Zone』 Leigie menunjukkan taringnya ke pasukan musuhnya. Karena zonanya bekerja dengan sang Penguasa Iblis sebagai pusatnya, aku tidak terpengaruh, tapi meski begitu, bagi Zonaku untuk tidak mencapai Gar yang berlari tepat di sisiku adalah lebih dari abnormal.

Aku telah makan untuk cukup lama sehingga angka tidak penting lagi, tapi aku tidak ingat apapun semacam ini.

Instingku memberitahuku bahwa kami hanya perlu pergi sedikit lebih jauh lagi… Zona yang sedang kutandingi lebih kuat dari zona mana pun yang pernah kutemui sebelumnya, tapi dengan jaraknya sejauh ini, aku unggul.

Tapi aku hanya sedikit kekurangan dalam kekuatan. Sudah dua hari sejak kami berangkat setelah memakan Penguasa Iblis itu, jadi rasa lapar adalah salah satu masalahku.

Dalam keadaan begini, aku tidak bisa menggunakan kekuatan Gluttonyku sepenuhnya.

“Hanya sedikit lebih jauh lagi… sial, bahkan jika itu membutuhkan waktu, dan kita harus mengambil jalan memutar, aku seharusnya makan Penguasa Iblis lain sebelum datang ke sini…”

Sesuai yang diharapkan dari Tingkat Ketiga. Ia benar – benar memberiku masalah. Dari awal hingga akhir, ia benar – benar berbeda dari mereka berdua.

Bahkan jika itu tidak berpengaruh dalam pertarungan antar Penguasa Iblis, saat pasukan terlibat, 『Abyss Zone』 membuat perbedaan besar. Malah, jika zona sekutu tertembus, pilihan terbaik adalah mundur.

Well, saat itu tertembus biasanya adalah sesaat sebelum kekalahan, jadi itu cukup mustahil.

Setelah meneruskan beberapa saat, aku merasakan bau gelora dan semangat bertarung beterbangan di sana – sini.

Bukan Iblis Rakus. Adalah bau yang jauh lebih manis, wangi yang membangkitkan selera makanku.

Pertarungan sudah ada di depan mata. Aku tak tahu apakah Penguasa Iblis mereka ada di sana, tapi rasanya seakan mereka tak akan membiarkan kami lewat dengan mudah.

Sepertinya benar. Jika mereka melakukan sesuatu seperti membiarkan Penguasa Iblis yang telah memakan dua penguasa lainnya lewat, Penguasa yang memimpin mereka akan dieksekusi oleh Kanon-sama. Itulah mengapa dua penguasa yang dulu itu melancarkan serangan padaku meskipun mereka ketakutan.

Haruskah aku makan mereka saja sekarang?

Aku beralih ke pasukanku sendiri.

Tidak, belum. Bahkan jika aku melakukannya, kekuatan yang akan kuperoleh darinya terbatas. Aku tidak yakin tentang Kelas Jenderal, tapi Iblis manapun di bawahnya akan masuk ke perutku tanpa  guna.

Pertama – tama, menembus Abyss Zone mereka dengan memakan tentara yang seharuskan diperkuat olehnya adalah tindakan sia – sia.

Akankah sang Penguasa Iblis keluar?

Itulah masalah utamanya.

Jika ia tidak di sini, maka dalam kemungkinan terburuknya, aku bisa menggunakan sebuah skill untuk memakan seluruh pasukan mereka… dengan Skill – skill Gluttony, itu mungkin.

Jika sang Penguasa Iblis datang untuk menyerang secara pribadi, aku harus berkonsentrasi padanya, jadi aku harus menyerahkan pasukan Leigie kepada pasukanku sendiri. Untuk memerangi pasukan Leigie tanpa bonus – bonus Zonaku cukup membuat kewalahan, bahkan untuk Pasukan Gula yang berspesialisasi dalam penyerangan.

Dari sudut pandang strategis, musuh seharusnya mengirim Penguasa Iblis mereka. Kecuali jika pasukannya sangat kuat, kau harus mengirim seorang Penguasa Iblis untuk bertarung dengan sesamanya jika kau menginginkan kesempatan untuk menang.

Tapi musuhnya adalah Sloth. Oleh karena itu, mustahil dia akan keluar. Terlebih lagi, dia seharusnya adalah seorang Iblis yang selevel denganku. Pengejaran hasratnya seharusnya telah menjadi eksistensi dirinya sendiri sekarang.

Dan dalam rangka menyokongnya, Leigie belum pernah menginjakkan kaki di medan perang bersama pasukannya. Setidaknya, dalam seluruh ingatanku, Leigie belum pernah bertarung barang sekali.

Aku merasakan taringku dengan lidahku, dan memulai sebuah Skill.

Mari sedikit memamerkan selera makanku pada Leigie.

Sebuah Skill pendukung, 『Fleeting Requiem』.

Denganku sebagai pusatnya, seluruh wilayah dalam beberapa meter dikunjungi oleh 『Night』.

Mereka yang tersentuh olehnya akan mendapati sihir mereka terlahap, sebuah Skill Gluttony. Itu adalah variasi 『Wave of Starvation』, dan itu adalah salah satu yang kuperoleh saat menjadi seorang Penguasa Iblis dahulu kala.

Bagi mereka yang menyentuhnya, itu melukai mereka, dan seluruh sihir dan skill yang mencoba menargetnya terurai, dan digunakan untuk mendukung sihirku sendiri. Itu benar – benar sebuah manifestasi dari nafsu makanku yang tak berujung.

Itu bahkan melahap Abyss Zone milik Leigie, dan sementara itu hanya memiliki radius kecil di sekitarku, aku menyebarkan Zonaku sendiri.

Seperti sebuah tamparan di muka, aku merasakan sensasi kuat yang pahit. Pada sensasi yang tak terduga itu, aku meringis.

Hanya memakan Zonanya terasa seburuk ini… inilah mengapa Sloth…

“Zebul-sama, sesuatu datang.”

Pada saat itu, bawahanku melapor.

Di seberang padang pasir, bayangan seseorang sedang berlari memasuki indraku.

Tidak, salah untuk bilang itu hanya satu. Itu hanya satu, tapi secara bersamaan, banyak.

Bayangan – bayangan yang sama itu, dari seorang Iblis Perempuan yang berukuran hampir sama denganku, membelah menjadi banyak, dan mendekat dengan kecepatan tinggi.

“… Habisi dia!”

Seluruh pasukan terlambat dalam mengikuti perintah – perintahku.

Pihak yang mendekat… hanya terdiri dari satu orang.

Yang lebih penting, sekitar beberapa ratus meter di belakangnya, sebuah pasukan berukuran dua kali lipat pasukan kami sedang mendekat…

Mereka benar – benar meremehkan sebuah pasukan yang dipimpin oleh seorang Penguasa Iblis. Aku kagum ada sebuah skill yang bisa mempermainkan mataku, tapi meski begitu, kekuatan yang kurasakan dari gadis itu tidaklah besar.

Bau pahit yang tipis tercampur dalam bau yang datang dari dirinya. Dia bukanlah seorang Iblis yang murni hanya bertujuan memenuhi satu hasrat saja.

Nafsu membunuh yang tajam keluar bersama – sama dari seluruh tubuh yang membelah itu.

Aku mencari dalam pikiranku untuk mencari tahu skill macam apa itu. Dari banyaknya jumlah Iblis yang telah kumakan, pengalaman bertarungku mengerti.

Kemungkinan itu adalah sebuah Skill Luxuria tingkat tinggi. Aku yakin ada Skill Kelas Penguasa Iblis yang mampu melahirkan banyak ilusi dengan wujud fisik.

Well, itu tidak terlihat seperti datang dari dirinya sendiri.

Fufu… apa kau tidak tahu Tingkatku? tidak tahu Namaku?

Apakah kau seorang 『Ksatria』 atau seorang 『Jenderal』… jika kau pikir itu cukup untuk mengalahkan seorang Penguasa Iblis, maka aku yakin aku sedang diremehkan.

… Well, kau akan punya banyak waktu untuk menyesalinya. Di dalam perutku, itu.

『Wave of Starvation』 milik salah satu Iblis garis depan kami memakan salah satu ilusinya. Terhadap kekuatan yang melahap sihirnya, aku yakin menyaksikan si gadis kecil mengernyitkan alisnya.

Dia tak berpengalaman. Dia belum bertarung cukup lama. Tidak, dia telah dikirim untuk mengkonfirmasi kekuatan kami, jadi begitu.

Fufu, maka biarlah. Bagaimana kalau aku bermain denganmu?

Terhadap kecantikan si gadis muda yang berlalu cepat, tangan si Iblis berhenti sejenak.

Selera makannya dengan cepat kembali, tapi ia sudah terlambat untuk melancarkan serangan. Si gadis menghindar dengan mudah, dan mencungkil tenggorokannya. Benar – benar kemampuan yang menyegarkan.

Dilimbungkan oleh kecantikan… Fufu, betapa hebatnya menjadi muda. Majulah masa muda. Majulah masa muda.

Aku menjulurkan tentakel – tentakelku lewat tanah untuk memakan si Iblis yang telah tumbang. Sihirku bertambah sedikit sekali.

Aku tidak punya waktu untuk menikmati rasanya, tapi pengorbananmu tak akan sia – sia… karena dunia ini adalah tempat di mana yang kuat yang bertahan hidup.

Gar menggunakan taringnya untuk menembus si gadis dari belakang.

Tapi tubuh itu seketika pudar seperti mimpi, dan itu terurai menjadi energi sihir murni.

Tanpa menyisakan apapun, aku menyedotnya. Itu manis. Sihir yang amat manis. Begitu. Lust. Dia setidaknya cukup berpengalaman untuk tahu kapan harus menggunakan dan membatalkan sebuah skill.

Dia bisa saja lebih manis dari perkiraan awalku.

Mungkin aku telah diberkati oleh langit. Saat aku mengambil sihirnya, kekuatanku mencapai sebuah tingkat yang melampaui kekuatan Leigie.

Bersama dengan sensasi sesuatu sedang pecah, Zona milik Leigie pecah, dan milikku meluas. Tepat saat itu sampai padanya, pergerakan si gadis terhenti.

Terlebih lagi, seluruh tubuhnya secara bersamaan.

Fufufu, itulah seberapa kuat Zona miliknya. Dia tak pernah mengalami pecahnya Zona milik Leigie, Aku berani taruhan.

Tapi itu tidak bagus. Kau tidak bisa berhenti bergerak di saat seperti ini…

Aku diam – diam mengularkan perabaku melalui tanah, dan menusuk sepuluh tubuh terdekat. Tubuh – tubuh yang telah ditusuk dari titik buta – titik buta mereka semua terurai menjadi sihir seraya pudar seperti kabut.

Kelihatannya tubuh aslinya tidak ada di antara mereka. Well, dia hanya mengintai situasinya sih.

Tapi, meski begitu, sihirnya cukup hebat. Bahkan jika aku tidak bisa memakan seorang Penguasa Iblis, cita rasa ini juga cukup.

Perutku berbunyi. Gadis ini punya bakat sebagai bahan makanan…

… Baiklah, seorang gourmet sepertiku akan memberimu persiapan terbaik sebelum menyantapmu.

Tepat saat aku telah menentukan pilihanku, aku mendapat firasat yang amat buruk.

Aku langsung menyebarkan 『Wave of Starvation』ku sendiri.

Itu adalah instingku, terlahir dari selama aku hidup sebagai Penguasa Gluttony, dan mengikutinya adalah pilihan yang benar.

Dari kejauhan, sebuah kekuatan yang menyaingi seorang Penguasa Iblis terwujud.

Seekor naga api yang menyedot segala yang di jalannya bertabrakan dengan gelombangku.

Panas dan cahaya yang tidak kalah dari matahari Dunia Iblis beradu dengan Wave of Starvation-ku.

“Zebul-zama, ini…”

“Ku… fu… bisakah kau tidak bicara padaku untuk sejenak saja?”

Itu adalah serbuan cahaya dan api yang mengerikan.

Itu bahkan mampu menyaingi senjata yang prajurit surgawi gunakan. Api langit yang mampu menyaingi Keputusan Langit.

Angin panas yang menerobos gelombangku mengguncang rambutku, tapi rambutku menempel ke dahiku karena keringatku.

Kekuatan macam apa ini!? Bahkan jika perutku kosong, sihirnya begitu luas sehingga Wave of Starvation milik sang Tingkat Kelima tidak mampu melahapnya!?

Wrath? Tidak, ini… bukan api amarah. Rasanya berbeda.

Pada saat itu, aku mengingat gosip yang diangkat almarhum Mizna dulu.

Baru – baru ini, seorang Penguasa Iblis tertentu dianugerahi sebuah Pedang Iblis legendaris.

… Begitu, jadi inilah… Pedang Iblis Celeste. Pedang yang membanggakan nama Naga Kelas L yang telah melampaui Penguasa Iblis!!

Fufufu, aku telah lupa…

Dengarkan baik – baik! Bukankah ia Penguasa Iblis sainganmu?

Wajah kesusahan pemimpin dari para inspektur yang dikirim padaku, Mizna, terlintas dalam benakku.

Begitu, ini benar – benar… sebuah ancaman.

Mizna, tampaknya kau lebih cakap dari apa yang kau pikirkan.

“Apa dia Penguaza Ibliz muzuh!?”

“Fufufu… jika yang menggunakannya adalah sang Penguasa Iblis, kita sudah jadi abu sekarang.”

Panasnya, cahayanya, mereka berubah menjadi bumbu yang indah, sembari mendukungku.

Rasa puas mengembang dalam tubuhku. Rasa yang luar biasa… umami yang amat pekat, yang menghiburmu begitu saja. Luar biasa, jadi inilah kekuatan sebuah Pedang Iblis!

Satu lagi, aku punya satu hal lagi untuk kuharapkan…

Kekuatan wave of Starvationku meningkat, dan itu mulai mendorong balik api sang Pedang Iblis sedikit demi sedikit.

Rasanya kekuatan meluap – luap dalam sekujur tubuhku…

“Betapa lezat…! Jika kekuatan si pedang dapat mengeluarkan rasa sebanyak ini, maka seberapa lezatnya pedang itu sendiri…”

“Zebul-zama, tidak adil!! Merebut semuanya untuk dirimu sendiri…”

“With people of your caliber, you’ll die if you try eating it, you know… Fufu, polish yourselves so we can sit at the same dining table one day.”

“Dengan orang – orang sekaliber kalian, kalian akan mati jika kau mencoba memakannya, tahu… Fufu, poles diri kalian sendiri jadi kita bisa duduk di meja makan yang sama suatu hari nanti.”

Aku memandang pasukan imutku, yang masih sadar akan rasa lapar mereka di saat seperti ini.

Mereka benar – benar telah memberi kami hadiah selamat datang yang lumayan.

Fufu, mereka telah membawa sebuah Pedang Iblis setingkat ini. Apa boleh buat jika mereka salah paham bahwa mereka bisa melakukannya tanpa seorang Penguasa Iblis. Benar – benar tak tertolong lagi.

Sesuai dugaanku, si Sloth tidak di sini. Jika ia turun tangan, satu serangan sudah mengakhiri semua ini.

Tapi Penguasa Iblis Agung itu benar – benar menganugerahkan senjata – senjata berbahaya… dia bisa saja memberikannya padaku…

Bagi Gluttony yang memangsa yang lemah, persaingan antar kekuatan adalah perjamuan yang paling agung.

Aku menjilat bibirku seraya terus memakan kekuatan apinya.

Pada saat itu, gelombang yang tadinya sedang memperoleh kekuatan tiba – tiba terdorong mundur.

Jadi keluarannya bisa meningkat lebih jauh lagi… aku menaruh kekuatanku untuk mengontrol gelombangnya.

Tapi semakin lama waktu berlalu, semakin besar keuntungan yang akan kudapat. Sebanyak ini tidaklah cukup untuk mengisi perutku.

Gluttony memiliki afinitas yang bagus dengan skill – skill yang mengeluarkan kekuatan secara terus – menerus, dan Pedang Iblis.

Apakah itu api atau es, petir atau apapun, aku bisa memakannya.

Pedang Iblis sejenis ini sangat bergantung pada penggunanya.

Dan keluarannya benar – benar… besar. Aku tak yakin tentang seorang Penguasa Iblis biasa, tapi itu kekurangan kekuatan untuk menaklukkanku dalam sekali serang.

Meskipun itu tidak berada pada tingkat sebuah pedang yang mampu memuntahkan api yang tak terbatas, 『Wave of Starvation』 adalah sebuah skill dasar. Aku bisa terus mengeluarkannya selama berjam – jam.

“Fufu, berapa lama mereka akan bisa terus menjaganya? Jika mereka mampu memuaskan rasa laparku, aku bisa saja membiarkan mereka pergi, tahu.”

Jumlah sihir yang menakjubkan, rasa nyaman dari laparku yang sedang dipuaskan, gigil yang berdenyut tersebar ke sekujur tubuhku, dan sebuah gelombang menyapu bersih pikiranku.

Ah, betapa hebatnya. Aku senang kita tidak melakukan sesuatu se-tidak-elegan mengambil jalan memutar!

Aku sedang merasakan apinya dalam keadaan bagaikan mimpi, dan mataku tertutup saat aku terhanyut di dalamnya, saat kekuatan Pedang Iblis itu mulai membengkak dengan hebatnya.

Itu terjadi dalam sepersekian detik.

Gelombang yang tadinya bertarung dengan seimbang seketika tersapu pergi, dan pandanganku tertutup dengan api yang membakar segalanya.

“Ap!?”

“!?”

Dengan setitik perlawanan, dari sebuah kesempatan untuk mengeluarkan jeritan terakhir, Gar yang berdiri di sampingku terbakar habis.

Aku langsung menjulurkan tentakelku, dan memakan sihir itu tepat sebelum itu menghancurkan jiwaku.

Bagiku, itu benar – benar di luar dugaan. KeuntunganKU sendiri telah membuatku lengah.

Meskipun trance yang telah disebabkan olehnya, api dalam perutku menaikkan rasa lapar yang serasa  melahap seluruh tubuhku. Instingku mengamuk.

Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin.

Aku menyapu api yang mengelilingiku dengan tentakelku yang tak terhitung banyaknya. Pasukanku, Para Iblis Gluttony, tanpa diberi kesempatan untuk bernafas, terserap oleh tentakel – tentakelku sebelum api itu mampu menyentuh mereka.

Energi itu. Sihir itu. Semua orang selain aku pasti akan musnah. Aku tidak punya waktu untuk menggunakan sebuah skill. Pertama – tama, Skill – skill Gula tidak cocok untuk bertahan.

Aku telah menentukannya. Tepat saat pasukanku akan musnah… aku akan meneruskan semangat mereka.

Bahwa pasukan yang kulatih, pasukan yang berbagi rasa laparku akan dimakan secara pribadi olehku.

Dengan setiap ayunan, tentakelku menyediakanku energi tak berujung. Alih – alih mengambil sihirnya, aku menggunakannya untuk memperkuat kekuatanku sendiri.

『Fleeting Requiem』 yang membungkusku menghadapi api itu. Keluaran api itu menyaingi atau bahkan melampaui kekuatan yang seorang Penguasa Iblis Wrath mampu lepaskan.

Tapi tak seperti Wave of Starvation, yang sedang kugunakan sekarang adalah sebuah Skill tingkat Penguasa Iblis. Jauh melampaui sebuah Skill tingkat Iblis biasa.

Cakupannya sempit, tapi itu memisahkanku dari api Celeste, dan menyimpan energinya sembari mengirimkannya padaku.

Air mataku mengalir. Kekuatan itu, itu berarti, rasa yang luar biasa itu.

Kemungkinan itu adalah kartu truf Iblis lawan.

Semburan api itu berakhir dalam hanya beberapa detik. Sisa – sisa panasnya menyebabkan angin berhembus hebat, mengacak – acak padang pasir.

Tidak ada… yang tersisa. Pasukanku yang berjumlah mendekati seratus seluruhnya terkonversi menjadi sihir, dan tertempatkan di perutku.

Api Celeste juga sama.

“Haa haa haa, maafkan aku… semuanya…”

Aku menjilat bibirku. Luapan emosi ini membuatku mendongakkan kepala ke langit.

Pasukan musuh masih jauh. Di bentangan padang pasir hitam ini, aku sendiri.

Aku menepukkan kedua tanganku. Aku harus mengucap syukur.

“… Terimakasih atas hidangannya.”

Kekuatan yang kulahap terpecah, dan kekuatanku sendiri meningkat.

Zonaku, yang telah kehilangan artinya melampaui Zona milik Leigie secara penuh, dan menyelimuti seluruh padang pasir.

Kekuatan meluap – luap. Lebih dari yang pernah kurasakan sebelumnya.

Fufufufufufufu. Aku bisa melihat segalanya.

Pasukan Tingkat Ketiga, dan lokasi Iblis Jenderal yang menggunakan Pedang Iblis itu.

Mencakup beberapa kilometer, Zonaku terus memecahkan Zona Leigie.

Persepsiku memberitahuku bahwa itu telah meluas dengan eksplosif.

Sesuai dugaanku, kehadiran Penguasa Iblis itu tidak ada di mana – mana.

“Aku meremehkan kalian semua… Fufufu, untuk berpikir seorang Jenderal biasa mampu mendesakku sejauh ini… tapi sekarang aku telah mencicipi kartu truf kalian.”

Aku menonaktifkan 『Fleeting Requiem』. Kekuatan yang telah dilarutkan oleh skill ini terpusat padaku secara bersamaan.

Dari sini, sekarang giliranku… tidak, giliran kami untuk menyerang.

Bersama dengan suara Jenderal musuh, Iblis dengan jumlah yang jauh melampaui kami menyerbu ke arah kami dengan ekspresi yang membuat bulu kuduk berdiri.

Mereka adalah Iblis yang lebih kuat dari dugaanku. Untuk Iblis di bawah Kelas Jenderal, itu.

Dengan kekuatan kalian, aku akan menunjukkan rasa hormatku dengan bertarung sekuat tenaga.

Aku menjilat bibirku.

Waktunya menyantap.

Aku menjulurkan tentakel – tentakelku dari punggungku, dan menusuk Iblis – Iblis yang datang padaku.

Aku merasakannya saat aku menusuk yang pertama. Lezat…

Fufufu, sesuai dugaanku. Kerja bagus, Leigie dari para Slaughterdolls! Sesuai yang diharapkan dari Iblis generasi lama yang bertahan hidup dari Perang Surgawi! Kau punya pasukan yang bagus di tanganmu!

Aku terbawa suasana dalam makan dengan tentakel – tentakel itu. Sebuah tombak menembus punggungku, dan aku memakannya.

Waktu berlalu bagaikan mimpi. Melawan seorang Penguasa Iblis, semangat bertarung mereka tak mati. Keberanian yang benar – benar gigih. Sebuah Legiun kuat yang tidak kalah dengan milikku sendiri!

Seorang Iblis kekar bertangan enam yang tampak seperti pemimpinnya mengayunkan sebuah pedang ke arahku.

Aku menghunus 『Fang Sabre』ku sendiri untuk menemuinya.

Taring putih gadingku, dan bilah kirmizi si pria besar bertemu.

Saat bilahnya bertemu, aku paham.

Fufufu, begitu. Iblis ini adalah pengguna Celeste. Dia mengeluarkan wangi yang lezat.

Bukan hanya pedangnya, tapi Iblisnya itu sendiri juga.

Aku menahan senyuman yang meledak keluar dari hatiku.

“Pemimpin Musuh…”

The Demon raises a heroic laugh, as he slashes at me with the swords in his other hands. I sense that all of them Demon Blades with considerable power. I used my Tentacles to meet them.

Si Iblis mengeluarkan tawa heroik, sembari menebas ke arahku dengan pedang – pedang di tangan – tangannya yang lain. Aku merasakan mereka semua adalah Pedang Iblis dengan kekuatan yang hebat. Aku menggunakan tentakel – tentakelku untuk menemui mereka.

Bau ini, dan gaya bertarung itu.

Seorang Iblis yang telah mengumpulkan Pedang Iblis sebanyak ini. Dia pasti seorang Iblis Greed.

Dan dia melancarkan sebuah serangan dengan api yang tadi.

Dia benar – benar tahu bagaimana cara menggunakan kekuatannya sendiri.

“Kemampuan yang bagus.”

“Ki ki ki, sebuah kehormatan untuk dipuji olehmu!!”

Api mengalir naik dari pedangnya, tapi tanpa memedulikan pedang yang berkerlip, aku menggunakan Fang Sabre-ku untuk mengincar lehernya. Sesuai yang diharapkan dari sebuah Pedang Iblis yang bahkan aku pernah dengar. Jika aku menerima serangan langsung dari itu, kelihatannya akan buruk. Tapi di antara seorang Penguasa Iblis dan seorang Jenderal, perbedaan dasarnya terlalu jauh.

Tentu saja, bukannya dia lemah. Bukannya dia lemah, tapi tak peduli seberapa banyak ia berlatih… selain 『Superbia』, untuk seorang 『Avaritia』, jurang antara Jenderal dan Penguasa Iblis bukanlah jurang yang kecil.

Tentakel – tentakelku mengincar Iblis kecil yang menyerangku dari belakang, dan aku menghindari serangannya.

Di situlah, si gadis pemberani yang telah mencoba untuk melancarkan serangan pertama.

Sebuah Pedang Iblis es, dan sebuah belati. Fufu, bagi seorang lust untuk bertarung jarak dekat… betapa beraninya.

Aku telah yakin. Kedua orang ini adalah Kelas Jenderal.

Yang pertama adalah Greed-kun, dan yang kedua adalah Lust-kun, dan yang lain hanyalah serangga pengganggu. Aku melihat perbedaan kemampuan bertarung di antara keduanya, tapi di depanku, bukannya itu berarti.

Mereka semua sama – sama makanan.

“Dua dari mereka… sedikit kecil, tapi mereka terlihat lezat.”

Pergerakan si gadis terhenti sejenak. Kelihatannya bocah ini memiliki kebiasaan buruk di mana dia berhenti bergerak saat dia terkejut di medan perang. Dia terlalu tidak berpengalaman.

Aku tak membiarkan kesempatannya lewat, dan menusuknya. Maksudku, itu hanya ilusi. Mataku bilang padaku begitu.

Sesuai dugaanku, sosok si gadis pudar layaknya kabut. Tanpa menyianyiakan sedikit pun, aku menyerapnya, dan menantang  pedang besar yang terayun ke arah punggungku dengan membuka lebar mulutku.

Ekspresi kaget Iblis itu. Fufufu, sesuai dugaanku, untuk benar – benar mengenal cita rasanya, aku harus menggunakan mulutku sendiri.

Yang lainnya yang tersebar di sana – sini tidak memberitahu begitu banyak perbedaan antara Gluttony atau Greed.

“Sebuah Pedang Iblis… belum pernah makan satu sebelumnya. Bisa jadi lezat.”

“Apa!?”

Aku menghentikan pedang yang diturunkannya dengan lengan – lengan kuatnya dengan gigiku.

Logam panas yang kurasakan di lidahku, dan sihir yang tebal. Api yang tumpah menjadi aksen yang sempurna.

Aku akan memakannya… koleksimu.

Maksudku, itulah bagaimana kau memasak Greed.

Aku menghentikan pedang lain yang ia ayunkan dengan tangan lain dengan menaikkan Fang Sabre-ku sembari membuat celah yang jelas pada pertahananku.

Fufufu, aku tahu kau di sana. Luxeria.

Aku tahu segalanya. Karena sekarang… kau dalam wilayahku.

Muda. Muda. Muda. Muda. Lust Muda… Aaaaaaaah, betapa lezatnya ia pasti.

Aku tidak mampu menahannya lebih lama lagi.

“Tubuh utamamu… sihir itu terlihat cukup lezat.”

Aku mengejutkannya, dan dalam celah itu, aku menggunakan lidah dari mulut yang kubuka di punggungku untuk menggenggam pedangnya.

Itu adalah pedang yang dingin dan lezat. Ekspresi Iblis Greed itu berubah untuk sesaat.

“Fufufu, teksturnya tidak buruk…”

Aku menggerakkan lidahnya dengan mencolok, dan menarik pedang itu dari lengan si gadis.

Dia benar – benar tak berdaya. Kau perlu melatih kekuatan fisikmu juga… fufu.

Si Iblis Greed mengayunkan pedang lain dengan panik, dan aku menghentikannya dengan sebuah mulut yang kumanifestasikan pada tanganku, sebelum mengunyahnya.

Segalanya luar biasa.

Pengalaman bertarung yang tinggi. Status sebagai seorang Iblis. Tidak ada darinya yang bahkan menyentuh kakiku.

Tepat saat aku merusak salah satu koleksi si Iblis Greed, ia terbuka lebar.

Inilah mengapa Iblis hari – hari ini… apakah aku mulai terdengar tua lagi?

Aku menggunakan lidahku untuk mengumpulkan serpihan pedang yang kutangkap, dan terus mengunyahnya.

Greed menjerit. Jangan khawatir, pedang yang kau banggakan sungguh lezat.

Tidak, apakah sudah waktunya?

Sesuai dugaan, si Iblis Greed berhenti bergerak, tapi saat aku memanjangkan lidahku ke arahya, itu terhempas dengan kekuatan yang menakjubkan.

Apa!? Apa – apaan ini, dengan begitu tiba – tiba?

Sebuah Pedang Bastard yang kasar jatuh ke tanah.

Seakan telah meledak, kerikil beterbangan ke segala arah. Melanjutkan dengan gerakan aneh, pedangnya datang ke lidah dan tentakel – tentakelku dengan momentum yang dahsyat, dan menghempaskan mereka bersama – sama.

“… Apa kau ini?”

Itu adalah sebuah tengkorak berwarna timah. Tingginya sekitar dua meter. Tanpa tanda – tanda emosi, atau kehadiran apa pun, ia hanya terus mengayunkan lengannya dengan kasar.

Tapi kekuatan fisiknya jauh melebihi Iblis Greed itu.

Itu hanya terlalu tak masuk akal. Itu bukan Iblis. Itu tidak mengeluarkan wangi Iblis.

Aku menjilat Celeste untuk terakhir kalinya, dan melepaskannya. Tidak peduli seberapa lemah musuhnya, aku telah bersikukuh tidak akan pernah lengah.

“… Apa – apaan itu… itu bukan seorang Iblis, itu tidak punya kehadiran.”

“Ki ki ki, ia hanya sebuah wadah lilin, tahu! Boss hanya telah memantrainya sedikit!”

Si tengkorak menjejak tanah, dan menyerbu ke arahku seperti binatang.

Ia mengayunkan pedang raksasa yang lebih tinggi dari tubuhku.

Ia benar – benar cepat, dan ia punya kekuatan, tapi tetap saja, serangan – serangannya tidak begitu berarti bagiku, aku mampu melihat menembusnya, dan jika aku hanya menantang pedang ini secara langsung, aku cukup yakin aku mampu mengatasinya.

Aku terkejut karena wangi yang ia keluarkan bukan wangi makhluk hidup, tapi kira – kira hanya itu.

Tetap saja, yang satu ini… tidak terlihat lezat sama sekali, bukan.

Wadah lilin? Benda yang memegang lilin itu? Kenapa benda seperti itu bisa bergerak?

“… Tidak terlihat begitu lezat. Meski aku terlihat seperti ini, Aku adalah seorang gourmet.”

Aku menangkis pedangnya, dan memutuskan salah satu lengannya.

Tidak ada perubahan dalam ekspresinya. Tidakkah ia merasakan sakit? Dan tunggu, pertama – tama, apakah ia hidup?

Well, kurasa tidak ada diantaranya yang benar – benar berarti.

Dalam pertukaran sebelumnya, aku paham. Greed-kun dan Lust-kun memang kuat, dan Wadah lilin-kun tidaklah buruk, tapi mereka bukan tandinganku.

Celeste adalah satu – satunya cara mereka untuk melukaiku, dan aku ragu mereka punya kartu truf yang lebih hebat dari itu. Bagi seorang Jenderal semata untuk mencoba membinasakan seorang Penguasa Iblis Tingkat Tinggi, itu adalah senjata yang menghina. Lumayan menghina.

Aku mengambil jarak. Sudah hampir waktunya untuk turun dan memasak.

Aku mengaktifkan salah satu skill Penguasa Iblisku, 『Evil Eye』.

Itu adalah sekelompok Mata Iblis yang mampu mengekang pergerakan Iblis yang lebih rendah dariku. Ada batasan bahwa aku tidak bisa bergerak juga, tapi sebagai sebuah skill, itu punya banyak kegunaan.

Dan begitu, aku memulai sebuah Skill Gluttony.

『Over Table』

Aku memakan sihir yang beterbangan di udara.

Dari sekujur tubuhku, bahkan wajah dan kakiku, sejumlah tentakel yang tak bisa dibandingkan dengan sebelumnya berkecambah.

Peraba yang tak terhitung dengan cairan ungu yang menetes – netes.

Mereka adalah lengan – lengan segar yang memiliki banyak nafsu makan di dalam mereka. Fufu, bisakah kalian menahan mereka?

Sebagai hadiah perpisahan, aku akan menjelaskan metode memasaknya, sembari menjulurkan tentakel – tentakelku ke target mereka.

Akan merepotkan jika mereka berpikir mereka sama seperti yang sebelumnya.

Fufufu, ini… bukan kelas Iblis. Ini adalah Skill kelas Penguasa Iblis.

Lust dan Greed menghindar, dan tengkorak mencoba menemuinya dengan pedangnya, yang jatuh berkeping – keping sebagai hasilnya.

Untuk mendapat rasa yang lebih jelas, aku menariknya masuk dengan tentakel – tentakel, dan mengunyahnya dengan mulut normalku, tapi sesuai dugaanku, itu hanya 『benda』 mati. Tanpa konstruksi yang berhati – hati, hanya sebuah obyek. Itu tidak begitu lezat.

Tapi kelihatannya itu adalah salah satu koleksi Greed-kun, jadi ia mengeluarkan jeritan yang cukup bagus.

Fufu, kelihatannya aku telah merampungkan satu langkah dalam proses memasaknya.

“Sialan, untuk mendapatkannya, apa kau tahu berapa banyak masalah yang kulewati? Berapa Iblis yang kubunuh…!?”

“Fufufu, tampaknya aku telah melakukan sesuatu yang tak termaafkan. Jangan khawatir, kalian akan bertemu di perutku tak lama lagi.”

Aku menjulurkan tentakel – tentakelku.

Tentu saja, aku tidak melakukan apa pun sekasar menyentuh hidangan utamanya secara langsung.

Aku ngemil dengan memakan iblis – iblis lain, sembari mengincar senjata – senjata Greed-kun, dan equipment Lust-kun sedikit demi sedikit.

Tentakel – tentakel muda jauh lebih cepat dari yang biasa. Greed-kun menghindari mereka dengan baik, tapi rintangannya terlalu tinggi untuk Lust-kun yang berharga kita, dan kulit yang dia tutupi dengan sangat baik memperlihatkan semakin banyak dan semakin banyak, dan ada sedikit kesenangan dalam melakukannya.

Matanya yang terisi dengan nafsu membunuh cantik. Bahkan sebagai sesama wanita, aku bisa saja menumbuhkan perasaan untuknya.

“Apa yang kau rencanakan…”

“Fufufu, apa kau sampai mengunyah cangkang saat makan?”

Aku mengayunkan tentakel – tentakel itu.

Fufufu, maaf, maaf, aku telah membuat sebuah kesalahpahaman.

Sebagai seorang gourmet, biarkan aku mengakuimu. Kau benar – benar seorang Luxelia. Dan seorang tingkat pertama padanya.

Pencuci mulut yang terbaik. Aku akan mengajarkanmu kenikmatan yang sesungguhnya.

Celeste keras. Tapi bahkan jika itu adalah sebuah Pedang Iblis, jika itu terus beradu dengan kekuatanku, itu akan hancur berantakan.

Kemungkinan dia sudah kehabisan stok sejak beberapa waktu lalu. Greed-kun sekarang hanya mengayunkan Celeste semata.

Dari sini, ini menjadi pekerjaan monoton.

Tapi tak apa. Itu adalah proses yang krusial.

Aku tak henti – hentinya mengganggu Greed-kun. Aku menelanjangi Lust-kun sedikit demi sedikit.

Hal – hal semacam ini menambah nafsu makan seseorang. Tidak ada yang lebih lezat dari makanan yang kubuat untuk diriku sendiri.

Saat Lust-kun telah mencapai pakaian hari lahirnya[1], keduanya mulai mendiskusikan sesuatu.

Aku menghentikan tanganku sejenak, dan melihat mereka. Apa mereka masih punya rencana yang bisa mereka mainkan?

Pasukanku telah diluluhlantakkan juga. Jika aku tidak membuatmu cukup lezat untuk jatah mereka juga, aku akan kerepotan.

Jika mereka menginginkannya, kau harus juga menunjukkan padaku segala yang kau punya. Aku berani taruhan itu akan meningkatkan cita rasanya.

Setelah sampai sejauh ini, kau masih malu? Sembari menyembunyikan payudara dan selangkangannya dengan tangannya, Lust-kun dan Greed-kun memiliki wajah yang cukup suram sembari berbicara.

Tetap saja… untuk berpikir sesuatu seperti itu baik saja dalam kehadiran seorang musuh, mereka benar – benar muda. Sudah berapa lama sejak aku melakukan sesuatu seperti itu…

Selagi aku sedang mengorek beberapa ribu tahun ingatan yang jauh, aku menyadarinya.

Anginku sendiri tertiup oleh angin orang lain.

Beberapa kilometer wilayah yang kuambil segera berbalik, dan diambil oleh Penguasa Iblis lain.

Itu sekedar sihir yang tenang, tak memiliki rasa, dan damainya mencekam, seakan itu hanya di sana untuk ada, dan tak ada tujuan lain.

Dan secara bersamaan, sesuatu yang setara menggantikan kekuatanku yang telah meresap ke tanah.

Bagaimana mungkin… mengapa, di titik ini…

“… Oy, oy, apa yang kalian lakukan? Apa ini bagian dari rencana kalian?”

Tidak mungkin itu kejadiannya. Pada titik ini, kebangkitan Zona mereka tidak akan membalikkan kekalahan pasti mereka.

Perbedaan kami tidak berada pada level serendah itu.

Tapi dalam sekejap, tidak ada darinya yang berarti lagi.

Apa yang di depan mataku, bukanlah Lust-kun atau Greed-kun.

Seakan telah tersambar petir, aku merasakannya di jiwaku.

Kehadiran sebuah sosok yang cukup agung untuk menyaingi diriku sendiri. Sebuah eksistensi kegelapan.

Sebuah rasa peninggian derajat yang membuatnya terasa hanya dengan ia berdiri, sesuatu yang menakjubkan akan terjadi. Rasa dari eksistensi mutlak, di mana bahkan jika kau menambahkan Lust-kun dan Greed-kun bersama – sama, itu bahkan tidak akan bisa mendekatinya.

Begitu… aku sangat beruntung. Kelihatannya bahkan sang Bos Besar akan keluar untuk menemuiku.

Saat ini, aku dalam kondisi yang kelewat baik. Jika aku makan Lust-kun dan Greed-kun, kemungkinan kondisiku akan meningkat lebih tinggi lagi, tapi aku tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan keduanya.

Aku tidak yakin atas niatan apa, tapi si pemuda kurus berambut hitam, dengan ekspresi lesu di wajahnya, melemparkan dirinya ke tanah.

Pergerakan absurdnya telah mendapatkan kekagumanku.

Yang satu ini…

Salah satu dari mereka yang melayani sang Raja Iblis yang Paling Agung.

Seorang Penguasa Iblis, yang berkuasa atas Kelambanan dan Kebejatan.

“… Kau. Siapa kau?”

Pada pertanyaanku, sang Penguasa Iblis bicara dengan ekspresi malas di wajahnya.

“… Gitu.”

[1]Telanjang

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

 

← Daraku no Ou Chapter 5 Part 2: Biarkan Aku Mencicipi Daraku no Ou Chapter 5 Part 4: Terimakasih atas Hidangannya→

Leave a Reply