Daraku no Ou Chapter 5 Part 4: Terimakasih atas Hidangannya

Daraku no Ou Chapter 5 Part 4: Terimakasih atas Hidangannya
Diterjemahkan oleh Aftertolv

Maaf terlambat update,
Selamat membaca!

Part 4: Terimakasih Atas Hidangannya

“Fufufufufu, begitu… jadi ini adalah rencana rahasia kalian. Kalian tidak buruk. Aku tidak menyadarinya sama sekali.”

“… Eh? Ah, tidak…”

Lust-kun berekspresi bingung sembari melihat Raja Sloth yang horizontal.

Ekspresi wajahnya tidak dibuat – buat. Eh? Sebuah kebetulan? Tidaktidak, mustahil…

Mustahil sang Penguasa Kemalasan hanya lewat secara sembarang begitu saja.

Tapi mata Lust-kun dan Greed-kun keduanya sedang hanyut dalam kebingungan.

“Mengapa aku…”

“… Eh? Kau masih mengatakan itu sekarang!?”

Eksistensi yang termaterialisasi kira – kira bersamaan dengan Leigie, seorang gadis dengan rambut kirmizi, memandang marah dengan sekuat tenaga.

Seragamnya, dengan hitam sebagai dasarnya, sama dengan apa yang Mirna dan lainnya kenakan. Dia dari Orde Hitam.

Dia menarik Leigie, dan bersusah payah mencoba membuatnya berdiri. Situasi ini sama persis dengan gambaran yang kumiliki tentang dia ditarik ke sana kemari pada salah satu upacara pelantikan sang Raja Iblis Agung atau lainnya.

… Begitu, jadi dia menyeret si Penguasa Sloth ke medan perang. Ira yang benar – benar terampil.

Kelihatannya aku benar – benar banyak menyia – nyiakan. Mizna… seharusnya aku memasakmu dengan benar sebelum memakanmu. Maaf.

Tapi meski sedang ditarik, Leigie tidak menunjukkan tanda – tanda akan bangun. Ia menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi dengan sikap yang amat sangat enggan. Tindakan ini adalah Sloth, tidak salah lagi. Seakan – akan tidak ada semangat di kedua matanya.

Aku hanya bisa berpikir bahwa ia sedang menungguku untuk memakannya. Secara bersamaan, itu adalah kodrat dari Iblis – Iblis Sloth.

Orang – orang itu sangat keras, tapi pada waktu yang sama, mereka tidak benar – benar bergerak.

Fufufu, betapa menarik. Ini benar – benar menarik. Mencoba bertarung denganku seperti itu…

Di muka pertarungan antar Penguasa Iblis yang kuat, semangat bertarungku berkobar, bersama dengan rasa laparku.

Kurasa aku harus memberi salam yang pantas untuk memulai semuanya.

“Penguasa Sloth. Senang bertemu denganmu… Tidak, sudah sekian lama. Namaku adalah Zebul Glaucus… seorang Penguasa Iblis yang menguasai Gluttony.”

“Gitu.”

Pada perkenalan diriku, Leigie menjawab dengan ketertarikan yang sama sedikitnya dengan sebelumnya. Terlebih lagi, hanya dengan satu kata.

Tapi aku tidak boleh terkecoh oleh penampilan atau kelakuannya.

Zona milik Leigie lebih kuat dari milikku.

Dia hanya malas, dan sama sekali tidak lemah. Bahkan setelah ia terang – terangan menunjukkan jumlah sihir yang tak masuk akal, entah mengapa, nafsu makanku tidak terangsang. Artinya, kupikir Gluttony punya afinitas yang buruk dengannya.

“Leigie-sama! Kau akhirnya datang jauh – jauh ke sini, jadi cepat bertarunglah!”

“… Tapi yang satu itu… Kuat…”

Pada kata – kata Wrath-kun, Leigie mengarahkan wajah enggan yang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Ekspresi Wrath-kun diwarnai dengan amarah, dan keputusasaan. Sihir panas membaranya seperti parfum yang menggelitik hidungku. Itu benar – benar bau yang lezat.

Fufufufufufu, AHAHAHAHAHAHAHAHAHA, mungkinkah bahwa bahkan saat ia sedang menghadapiku, ia pikir ia dapat menghancurkanku dengan mudahnya?

“Kupikir kau terlalu meremehkanku, Leigie.”

“Yeah… Kare tidak cukup untuk ini…”

Bersama dengan beberapa kalimat bodoh yang tak dapat dimengerti, pertarungan dimulai tanpa peringatan.

Untuk menguji, aku mengirim lengan mudaku untuk menyerangnya dari segala arah. Aku menyimpan satu dari mereka dan mengirimkannya kepada Wrath-kun.

Meskipun ia mengeluh, Leigie kemungkinan tidak membiarkan dirinya lengah. Wrath-kun melangkah mundur untuk menghindari tentakelnya, sebelum memuntahkan api dari telapak tangannya.

Tentakelnya meminum habis api itu, tapi tak mampu menampung semuanya. Ujungnya sedikit terbakar. Yang satu itu adalah pembawa Ira yang cukup kuat.

Tapi itu adalah rasa yang cukup hebat… aku muntah.

“Uoo, GUEEEEEEEEH!”

Aku berlutut, memanggil kembali tentakel – tentakelku, dan menekankan kedua tanganku ke tanah.

Rasanya seakan, dengan semangat yang mengerikan, perutku menguras seluruh isinya yang tersisa.

Kepalaku terguncang hebat, seraya terisi dengan bau busuk yang tajam. Kejang tubuhku tidak mau berhenti. Sementara itu terasa demikian, tidak ada yang benar – benar meninggalkan mulutku, sih.

Merasakan penderitaan mendalam untuk pertama kalinya sejak lama, air mata menggenangi mataku.

A-apa – apaan ini!?

Dengan pandangan yang kabur karena air mata, aku melihat.

Aib macam apa yang kutunjukkan dalam pertarungan? Tapi di sisi lawan, tidak ada dari mereka yang tampak mengerti apa yang sedang terjadi juga. Setelah aku tiba – tiba mencoba memuntahkan sesuatu, mereka sekedar melihat ke arahku dengan mata curiga. Mereka bahkan tidak melancarkan serangan apa pun.

Dalam dunia yang kabur, aku melihat ke arah orang yang, berkebalikan dengan Wrath-kun yang lincah, belum menggerakkan satu otot pun. Ia juga dialiri air mata seraya berbicara.

“… Sakit.”

Melihat dengan teliti, di seluruh titik yang seharusnya ditembus oleh tentakel – tentakel, bajunya robek. Dari kulit yang dapat ku lihat di celah – celahnya, sejumlah kecil darah menetes.

Jadi inilah kehebatan 『Acedia』, yang dikatakan unggul dalam daya tahan.

Sang Raja Sloth… betapa kerasnya…

VIT luar biasa yang tak bisa dibandingkan dengan Sloth Kelas Jenderal yang kukalahkan dulu. Bahkan untuk lengan – lengan yang mampu melahap Pedang Iblis dengan mudah, mereka tidak cukup kuat.

Gufu… fufufu, m-menarik, bukan!!

Aku menyapu air mataku, dan menggunakan Evil Eyes. Selain Leigie, Iblis – Iblis lainnya terikat. Kalau boleh menambahkan, Leigie juga tidak bergerak, tapi itu atas kemauannya sendiri.

Aku entah bagaimana menahan rasa mual ini, tapi tepat saat aku berusaha menggunakan sebuah skill, aku menyadari sebuah aroma yang sangat mengerikan busuknya menusuk hidungku. Dari seluruh Iblis Sloth yang telah kuperangi di masa lalu, efeknya jauh melampaui semuanya. Ini adalah bau yang begitu mengerikan sehingga aku tidak percaya bahwa bau ini berasal dari dunia ini.

Aku terlalu berkonsentrasi kepada rasa mual yang hebat itu, dan aku belum menyadarinya sama sekali…

Saat aku memeriksa Sihirku, aku melihat ada sebagian kecil darinya telah terpulihkan.

Itu terlalu banyak untuk hanya berasal dari memakan api Wrath-kun tadi.

Aku putus asa. Tidak adakah Tuhan di dunia ini!?

Traumaku tertulis ulang di sini sekarang.

Aku melotot ke arah Leigie. Kuseka mulutku dengan lengan bajuku, dan kulayangkan keluhan.

“… Kau, kau terasa mengerikan… Aku bahkan tidak bisa percaya rasa ini datang dari dunia ini.”

“… Sakit.”

Dengan gerakan lamban, Leigie mengusap titik – titik yang robek. Darahnya sudah menghilang. Dan tunggu, bahkan jika ia berdarah, itu tidak pada level di mana dia benar – benar terluka olehnya!!

Wrath-kun sedang melihat ke arah Leigie dengan keputus asaan di matanya, tapi akulah yang seharusnya sedang berputus asa.

Ini buruk. Rasa macam apa itu…

Sloth Kelas Jenderal itu bahkan tidak mencapai dasarnya, rasa itu adalah rasa yang memfitnah dan menodai konsep makanan.

It really is out of this world. Just what divine providence gave birth to something like that? Up until now, I thought that any and every item in this vast world was edible, but I must take that back with all due haste. It’s a taste that even changes my outlook on life.

Itu benar – benar dari dunia lain. Takdir langit macam apa sih yang melahirkan sesuatu semacam itu? Sampai saat ini, aku berpikir tiap – tiap dan masing – masing benda di dunia yang luas ini dapat dimakan, tapi aku harus menariknya kembali dengan segera. Rasa itu adalah rasa yang bahkan mengubah pandanganku terhadap kehidupan.

Itu jauh melampaui apa yang bisa ditahan. Aku tak akan pernah mau merasakannya lagi.

… Yang artinya aku tak akan bisa menyerap kekuatan dari Leigie.

Jika aku mencoba menahannya, dan menyedotnya, kemungkinan aku akan menggulung diriku sendiri dan mati sebelum aku mampu melakukan apa pun padanya.

Hahaha, apa artinya seorang Gula yang tak bisa makan!!

Singkatnya, betapa atribut yang benar – benar menjengkelkan.

Dengan mata yang dikaburkan oleh air mata, Leigie tiba – tiba berujar.

“Aku menyerah.”

“Hah? Mengapa?”

“Aku benci rasa sakit.”

“Haaaaaaaaaaah?”

B-bagaimana caranya yang satu ini bisa menjadi seorang Penguasa Iblis… tidak, bagaimana caranya dia bisa bertahan hidup sejauh ini?

Dalam suatu artian, kata – katanya lebih berdampak daripada rasanya, dan pikiranku menjadi kosong untuk sesaat.

Saat aku menyadarinya, aku menyadari Leigie telah menembakkan sebuah kekuatan aneh, sebuah Skill. Skill itu dinetralkan oleh salah satu skill pasifku, Resistensi Pencemaran Mentalku. Ekspresi Leigie menjeritkan ‘ini begitu merepotkan’ dengan putus asanya sambil mendecakkan lidahnya.

Rasa laparku menjadi rasa haus darah, dan mengacak angin yang kemudian menyapu padang pasir.

… Fu. Fu. Fu. Kau benar – benar meremehkanku, Untuk melancarkan serangan kejutan saat aku sedang lengah, itu benar – benar sebuah aib bagi seluruh Iblis…

Maka biarlah. Kanon boleh pergi ke neraka saja. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membunuhmu. Di dunia ini, seharusnya tidak ada benda yang tak bisa dimakan.

Mayoritas Skill Gula berfokus untuk memakan musuh.

Jika kau mengesampingkannya, skill-ku yang dapat kupakai cukup terbatas.

Aku mengepalkan tanganku dengan kuat, dan mengharapkan taring. Taring – taring untuk mengunyah dan mengurai apa pun menjadi dasarnya.

Leigie, dengan gerakan yang lebih lambat dari orang yang paling malas, dengan ekspresi yang lebih sulit dibaca dari orang lamban yang paling lamban, mencari – cari di sakunya, sebelum tangannya kehilangan kekuatan, dan tangannya terjatuh ke tanah.

“… Aku melupakan pionku… apa kau kebetulan punya satu? Boleh Catur atau apalah…”

“Hah? Catur? M-mustahil aku punya sesuatu seperti itu!”

Wrath-kun berekspresi jengkel sembari mengomelinya.

Apa pun dan segala yang mereka lakukan. Aku hanya bisa melihatnya sebagai bentuk mereka meremehkanku.

Ah, ini buruk.

Baiklah, aku akan menghancurkan kalian.

Aku akan menunjukkan pada kalian sejauh apa batas – batas Gluttony.

Jangan pikir Gula tidak bisa apa – apa selain makan.

Aku mengonsumsi sejumlah sihir yang jauh lebih besar dari saat aku memanggil lengan – lengan muda itu, dan rasa laparku hampir tak bisa ditahan lagi.

Begitu hebatnya sehingga perutku terasa memiliki kehendak sendiri, dan mulai memakanku.

Dan aku menggunakan skill itu untuk pertama kalinya dalam sepuluh ribu tahun.

『Fang of Origin』

Mengabaikan atribut musuh sepenuhnya untuk memakan apa pun dan segalanya, sebuah Skill Gula yang memanifestasikan taring – taring seorang Dewa Iblis.

Tidak mengubah dagingku, dan tidak juga memanggil sesuatu untuk kumanipulasi. Alat murni, itu membangkitkan sebuah pedang. Salah satu skill yang dikenal sebagai Phantasm Armaments.

Pedang kegelapan, terlahir dari asal muasal Gluttony terwujud dalam balutan jariku.

Sebuah longsword dengan hulu dan pedang dan lainnya berwarna hitam. Tingginya satu setengah meter.

Tapi jangkauannya tidak berarti. Ini adalah taringku, dan secara bersamaan, sebuah eksistensi yang mewakili rasa lapar dunia yang tak bisa dipuaskan.

Aku membuang pedang yang telah kugunakan saat bertarung dengan Greed-kun itu. Dengan kedua tangan, aku mengambil sikap dengan longsword itu. Aku menyerap kembali semua tentakelku.

Sloth bodoh yang gagal membuat satu gerakan pun, aku memelototi Sloth yang gagal memuaskan nafsu makanku.

“… Fu… fufu… maka mari kita mulai pertarungan antar Penguasa Iblis.”

“… Haa…”

Leigie menghela nafas panjang.

Sialan kau… mengolok – olokku!

Aku mengambil langkah maju. Menggunakan kekuatan fisik seorang Penguasa Iblis, aku mendorong diriku dengan eksplosif, dan seketika mendekatkan jarak antara kami berdua…

Tubuhku menjadi kaku secara tiba – tiba. Dalam kepalaku, sebuah Mantra Pemulihan Pencemaran Mental aktif secara otomatis, dan kekakuannya hilang, tapi pada waktu itu, segalanya menjadi sangat lambat.

Aku merasa berat. Tak mampu menahan beban besar yang tiba – tiba ditempatkan di atasku, aku berlutut.

Tekanan? Tidak, aku yakin ini sesuatu yang berbeda. Beratku telah bertambah secara fisik.

Aku tidak bisa melanjutkan sambil menggenggam pedang itu.

Sejak saat ia muncul, Leigie baru hampir bergerak setengah langkah, tapi ia mengarahkan mata putus asa padaku saat aku jatuh ke tanah.

“Kau… apa yang kau perbuat…”

“… Haa…”

Leigie menghela nafas panjang sekali lagi.

Tidak, aku paham. Aku sudah pernah terkena sebuah Skill Sloth sebelumnya.

Sloth seharusnya punya beberapa skill yang merintangi gerakan musuh.

Tapi… sebuah skill yang cukup hebat untuk mengekangku? Mustahil!

“Gu… wai, Leigie-sama…”

“Fu… ya…”

“Gugu… B-boss!?”

Ketiga lainnya menjerit sendiri – sendiri.

Aku entah bagaimana mengalihkan kepalaku yang tak mau bergerak, dan melihat bahwa, entah mengapa, pasukan Leigie juga di tanah.

Yang satu ini… ia dengan tenang ikut menyeret pasukannya sendiri.

Tidak, itu salah.

Setelah mengambil keputusan sesaat, aku memanjangkan tentakel – tentakelku, dan menggunakan mereka untuk menopang tubuhku.

Dan setelah akhirnya berdiri, aku memandang turun ke sang Penguasa Sloth. Dalam matanya, lupakan rasa haus darah, tidak ada bahkan sedikitpun semangat bertarung.

Ini… bukan sembarang skill rintangan. Ia meningkatkan gravitasi.

Aku memahaminya. Aku mengalaminya sendiri. Leigie dari Sloth. Mungkin ada masalah afinitas, tapi kekuatan orang ini… dia melampauiku.

Dengan tanganku yang bergetar, aku mengangkat pedangku, dan menodongkannya padanya.

Berapa kilo sih, berapa ton beratku telah ditambahnya? Mengapa saat seberat ini sampai bahkan aku tidak bisa bergerak, pasukannya sendiri tidak jadi remuk sampai mati?

Aku akan kalah pada seorang Penguasa yang bahkan tidak punya kemauan bertarung?

“… Fu fu fu. Sudah cukup lama… sejak seseorang terakhir membuatku berlutut.”

“Gitu.”

Leigie memberikan komentarnya.

Pada saat yang bersamaan, aku menerima dorongan secara tiba – tiba dari samping.

Apa? Apa yang sedang terjadi sekarang?

Karena dia tidak punya keinginan bertarung atau membunuh, reaksiku terlambat.

Sebuah kekuatan yang cukup hebat untuk membuat seluruh tubuhku berderak. Tubuhku, yang ditopang seadanya oleh tentakel – tentakelku, dengan mudah terhembas.

Medan pandanganku berguncang. Tapi rasa pusing itu segera lenyap oleh sebuah resistensi akan abnormalitas status Level Penguasa Iblis.

Tidak ada tanda kehadiran sedikitpun yang di sampingku. Leigie tidak bergerak satu langkah pun juga.

Aku menghujamkan pedang itu ke tanah, yang bergerak di sebelahku dengan kecepatan yang luar biasa. Aku memanjangkan lebih dari seratus tentakel, dan menghujamkan mereka juga.

Aku merasakan diriku sendiri menggores tanah. Gesekannya memanaskan ujung tentakel – tentakel, dan asap mulai membumbung dari tanah.

Itu adalah serangan fisik. Aku tidak menerima begitu banyak luka. Tapi aku tidak bisa memahami apa yang telah terjadi.

Kegagalan untuk paham adalah salah satu hal paling mengerikan yang dapat menimpamu di medan perang.

Mungkin karena kini kami terpisah sejauh beberapa ratus meter, beban di tubuhku menghilang.

Aku punya kesempatan!

Kaum Iblis sama sekali tidak mahakuasa.

Sloth adalah sebuah Skill Tree yang unggul dalam daya tahan. Jika kau melihatnya dari sisi lain, mereka tidak membanggakan kekuatan ofensif yang cukup tinggi.

Bahkan saat menghadapiku dengan serangan kejutan, dia tidak berhasil memberiku luka yang signifikan.

Itu tidak memuaskan rasa laparku, tapi emosi lain mulai muncul.

Menarik. Sudah berapa millennia sejak aku bertarung dengan seorang musuh yang setara denganku?

Ratusan tentakelku menghujam ke tanah di belakangku.

Aku menggenggam pedang itu dengan sikap rendah, dan memusatkan sihir pada kakiku untuk memperkuat mereka.

Gravitasi terlalu hebat untuk ditahan? Maka aku akan menghabisimu dengan sekali serang sebelum itu memengaruhiku.

Leigie memang keras, tapi jika aku membelahnya menjadi dua, dia tidak akan bisa menggunakan sebuah Skill.

Saat aku mengambil selangkah maju, alarm berbunyi di kepalaku.

Peringatan firasatku memengaruhi keseluruhan insting terlatihku sebagai seorang pejuang. Aku buru – buru melompat ke samping, sebelum sebuah suara menggelegar datang dari tempat di mana aku tadi berdiri, dan sebuah lekukan besar muncul di tanah.

Aku tak bisa melihat. Aku tak bisa melihatnya, tapi… sesuatu ada di sana.

Kecepatan dan berat yang mengerikan.

Aku paham. Inilah yang membuatku melayang sebelumnya.

Aku merasakannya datang ke arahku dari samping dengan aliran udara, dan melompat menghindarinya. Kelemahan bahwa kau tidak bisa bergerak di udara tidak ada bagiku, saat aku punya tentakel yang tak terhitung untuk mendorong diriku sendiri. Aku tiba – tiba berubah arah, dan memanjangkan tentakel – tentakelku untuk menyerang apa pun itu.

Tentakel – tentakel itu tertanam ke dalam sesuatu yang tak kasat mata, dan aku mulai muntah – muntah di udara.

Gerakanku terhenti total. Ke arahku, benda itu turun.

“Guoee… gu… wai… tidak adi…”

Bukan tumbukan kecil seperti sebelumnya, seakan langit itu sendiri sedang runtuh, sebuah dorongan meremukkan tubuhku tanpa belas kasihan.

Tengkorakku membuat suara – suara berderak, dan tangan yang kuraihkan ke atas karena insting sedang membuat suara – suara retakan yang mengerikan sambil tertekuk ke arah yang salah.

Itu tidak pada tingkat di mana aku bisa mengabaikan dampaknya seperti sebelumnya, aku tertekan ke tanah begitu kerasnya sampai – sampai jiwaku serasa akan keluar.

Tapi saat ini, rasa sakitnya tidak penting. Kepahitannya mengerikan. Seraya merangkak di tanah, aku mengeluarkan air mata sambil muntah, tapi benda itu terus menjatuhiku tanpa henti.

Cakupannya bahkan lebih lebar dari sebelumnya.

Wave of Starvation?

Fleeting Requiem?

Jangan bodoh… jika aku menggunakan sesuatu semacam itu, aku akan berakhir memakannya. Aku akan dipaksa menyerapnya.

Rasa itu datang dari sesuatu di luar dunia ini.

Melewati Dunia Iblis, sebuah tempat yang lebih rendah lagi. Dasar terdalam neraka, sebuah tempat di mana tidak ada yang dapat kabur, di bawah bayang – bayang di mana segala hal yang tak terpikirkan berkumpul, di mana lumpur keputus asaan yang ternoda menumpuk, rasa ini adalah rasa makhluk yang seorang Iblis tidak dapat pahami sebagai Iblis lain…

Dorongan itu datang untuk kedua dan ketiga kalinya tanpa jeda, menghajar tubuhku, dan memukulku ke tanah. Kesadaranku meninggalkanku untuk sesaat. Pandanganku berguncang, dan Resistensi Abnormalitas Status-ku bekerja terus menerus. Jika aku tidak memilikinya, aku harusnya sudah lama dilumpuhkan oleh rasa pusingnya.

Tiap skill yang dia gunakan kalah dari skill – skill sekali-serang-mati yang para Penguasa Iblis biasa banggakan, tapi itu hanya membuat segalanya lebih menyebalkan. Seakan ia sedang bermain denganku, dorongan yang identitasnya belum kuketahui terus menerus menyerbu tubuhku, dan rasanya sama seperti Leigie, membuatnya musuh terbesarku seumur hidupku. Sungguh.

Leigie yang dipertanyakan belum mengganti lokasinya sama sekali.

Dia sedang mempermainkanku.

Aku mengantisipasi saat benda itu akan menyerang lagi, menusukkan tentakel – tentakelku ke dalam tanah, dan melempar tubuhku ke samping dengan paksa. Benda itu tidak kuat. Kemampuan melukai milik benda itu tidak begitu tinggi, tapi menghadapinya lagi dan lagi itu buruk.

Aku membetulkan tanganku yang patah dengan paksa. Menggunakan nutrisi yang kusimpan, aku mampu memulihkannya secara penuh.

Tapi tanpa menikmatinya, aku menjejak tanah.

Dorongannya mengenai tempatku berdiri barusan.

Mari berpikir.

Apa… Skill ini?

Sebuah Skill serangan mengejar? Angin? Energi tanpa atribut?

Tiap – tiap dan masing – masing Skill seorang Iblis memiliki makna. Umumnya, mereka berubah berdasarkan hasrat seorang Iblis.

Sama seperti bagaimana Gluttony berspesialisasi dalam memakan yang lain, Sloth seharusnya punya beberapa spesialisasi.

Apa itu?

Membuat orang lain menjadi Sloth? Salah. Tidak, mungkin tidak jauh berbeda, tapi itu bukanlah sifat dasarnya.

Jauh di arah itu, aku melihat Leigie dengan malas menurunkan kepalanya ke tanah.

Itu dia!

Sebuah Skill untuk… mengirimkan serangan dari jarak jauh.

Artinya sebuah skill 『Acedia』 untuk memukul mundur musuh asing tanpa bergerak.

Aku menghindari serangan berjangkauan lebar yang datang padaku dari atas. Di tanah, ada cetakan tangan yang besar, lima meter dari satu ujung ke ujung lainnya.

Betapa skill yang bodoh. Tapi adalah fakta bahwa aku telah dibuat sebuah olahraga oleh skill tak berharga itu.

Aku menjaga mataku terpusat pada pergerakan tangan Leigie, dan aku menyerbu maju. Detik saat itu mulai turun, aku mengambil lompatan besar ke samping.

Aku mencoba menangkap kepalan yang diturunkan dengan pedangku. Tangan tak kasat mata itu dengan mudah tertebas, tapi kelihatannya Leigie tidak terluka karenanya. Bahkan jika aku melukai tangan – tangan ini, dia tidak mendapat umpan balik apa pun… Itu tidak memiliki kekuatan untuk menghabisiku, tapi itu tidak memiliki kekurangan yang terang – terangan juga. Hanya fakta bahwa dia tidak bisa menggunakan tangannya untuk hal lain, kurasa. Betapa Skill yang berguna.

Aku menangani serangan yang ditujukan padaku secara horizontal dengan pedang itu. Jari – jari tak kasat mata… Hanya dengan itu, sihir yang melampaui sihir milik seorang Jenderal terpencar dan mengambang di udara. Benar – benar sayang aku tidak bisa memakannya.

… Tidak, apakah sekarang waktunya untuk berpikir apakah itu dapat dimakan atau tidak?

Aku harus meraih kemenangan terhadap Kanon-sama apa pun yang terjadi. Aku punya kebutuhan untuk berhasil, dan mengkonfirmasi rasanya. Demi mendiang orang – orangku juga.

Demi itu, sihir eksplosif yang dimiliki Leigie akan menjadi senjata yang hebat.

Aku yakin. Jika kau hanya membandingkan sihir, dia jauh di atasku.

Sial, sudah berapa lama bajingan ini hidup?

Tapi jika aku terus memakannya, dia pasti akan mati. Aku akan jatuh sakit dari rasa yang mengerikan itu, dan mati. Sebagai seorang Penguasa Iblis Gluttony, itu cukup disesalkan.

Tapi… tapi jika hanya sekali lagi…!

Benar. Yakinkan diriku sendiri. Itu adalah satu – satunya jalan menuju kemenangan.

Mengerikan? Lalu kenapa?

Bekas – bekas bau busuk yang ganas di hidungku masih menginjak – injak kewarasanku.

Baik atau buruk, itu tidak berpengaruh.

Buat diriku yakin, dan lihat ke arah musuh.

Demi diriku dan hanya aku. Untuk kekuatanku dan hanya kekuatanku. Leigie, aku akan…

“… Memakanmu.”

“… Tolong beri aku istirahat sudah.”

Tidak ada istirahat di…

Pada saat aku jengkel akibat suara mengejeknya, tubuhku terhempas melayang ke samping.

Serangannya benar – benar tidak punya motivasi dalam bentuk apa pun.

Saat aku makan, seraya Wrath mengamuk, dan Greed mencari, Leigie bermalas – malasan begitu saja tanpa makna.

Itu benar – benar tidak membangkitkan selera makanku sama sekali, tapi konsistensinya sungguh layak dipuji.

Penguasa Sloth… Begitu, aku sedikit paham tentangnya.

Skill yang beraneka ragam yang bisa melambungkan bahkan seorang Penguasa Iblis sepertiku kesana kemari.

Inilah orang yang menyelami sampai ke palung Acedia, dan mempelajarinya sampai ke asal muasalnya?

… Maka biarlah. Sebagai gantinya aku akan menunjukkanmu. Hasil dari pengejaran agungku terhadap Gula, kekuatan yang telah kuperoleh.

Aku menggunakan Evil Eyes. Aku mengarahkannya ke serangan Leigie, dan dengan mudah menghentikannya.

Aku menggunakan Wave of Starvation-ku untuk menyerap api Wrath yang datang dari orang yang mencoba untuk menyergapku dari belakang. Aku tidak selemah itu untuk tumbang dari serangan kejutan dari seseorang yang bahkan bukan seorang Penguasa Iblis.

Sihir yang dapat dimakan pertama sejak beberapa lama menyapu pergi sisa – sisa kepahitan dalam tubuhku.

Aku tidak peduli tentang lukanya. Wrath-kun dan Lust-kun dan Greed-kun tidak berarti bagiku saat ini.

Aku memusatkan pikiranku.

Aku mengangkat tangan kiriku, dan berdoa. Kepada dewanya jiwa – jiwa yang lapar.

Tekanan angin menyerbuku dari kiri dan kanan. Dengan suara erangan, tulang rusukku remuk. Otakku paham bahwa aku sedang diremukkan di antara tangan pria itu.

Aku tidak melepaskan pedang yang tergenggam di tangan kananku. Itu adalah kartu trufku. Tanganku patah. Aku tidak melepaskannya. Penyembuhan bawaanku bekerja. Tubuhku kembali normal. Tiap kali tubuhku pulih, itu rusak sekali lagi.

Leigie menutup tangannya. Dari sekeliling tubuhku, aku merasakan berat yang luar biasa. Tulangku sedang dipatahkan seakan mereka adalah tusuk gigi. Tubuhku menjerit pada rasa sakit yang tidak kurasakan sejak lama.

Aku tidak bisa menggunakan skill defensif apa pun. Mereka akan berujung memakan Leigie.

Dalam panas yang merayapi tubuhku, dan gelombang – gelombang rasa sakit, aku mengambil nafas dalam, dan mempersiapkan diri.

Aku mengisi taringku dengan nafsu membunuh. Aku menggunakan seluruh kekuatanku untuk mengaktifkan skill itu.

『Eater’s Plate』

Dengan suara raungan, tanah robek, padang pasir terkoyak. Terhadap sihir luar biasa, yang seorang yang normal dari ras manusia tidak akan bisa menahannya hanya dengan hadir di depannya, surga bergemuruh, dan ruang membelok.

Dengan buru – buru, Lust-kun dan Greed-kun kabur. Sang Penguasa Iblis hanya duduk dalam badai dengan damai. Tidak, dia berbaring.

Apa yang kupanggil adalah Eaters Plate.

Sebuah ruang dengan lebar beberapa ratus meter. Tanpa taring, atau lidah, hanya rasa lapar tak berujung. Sebuah ruang yang tidak berspesialisasi selain untuk memuaskan rasa lapar yang tak tertahankan. Jika kau melihat dari langit, kau mungkin akan melihat celah setengah lingkaran yang besar di tanah.

Dan aku terkejut.

Ke dalam lubang yang tiba – tiba terbuka di tanah, dia yang kutetapkan sebagai targetnya, Leigie, jatuh dengan tenang. Dia menguap dengan ekspresi mengantuk.

Sloth memiliki afinitas yang buruk dengan Wrath, Gluttony, dan Pride. Iblis dengan kekuatan serang yang tinggi. Alasan untuk ini adalah mereka pada umumnya tidak bergerak – gerak. Tidak mungkin seorang Iblis yang tak bergerak adalah musuh yang bagus. Kau bisa dengan santai menyiapkan skill skillmu, dan selama mereka tidak begitu kuat, mereka ditakdirkan untuk diburu.

Tapi meski begitu, akhir ini di luar ekspektasiku.

Eh? Apa? Apakah begitu jadinya?

Atas alasan apa aku bertarung begitu keras sampai saat ini?

Aku berencana mencabiknya dengan pedang itu saat ia melompat minggir untuk menghindar, tapi…

Aku mengalihkan mataku ke longsword hitam di tanganku. Phantasm Armaments tidak memiliki jangkauan yang tetap. Dengan kehendakku, aku bisa memanjangkannya dengan bebas hingga ke titik tertentu. Saat aku punya kesempatan, itu tadinya akan menjadi kartu trufku yang tertinggi.

Mulut raksasa itu menutup.

I relax the power wrapped around my body, and release myself.

Dengan tangan kananku, aku menggaruk wajahku.

“… Itu sedikit anti-klimaks.”

“… Gitu.”

Aku mendengar sesuatu yang seharusnya tak kudengar dari belakangku.

Aku buru – buru berbalik, dan menodongkan pedangku. Seorang Leigie yang tanpa luka tergeletak sembarangan di tanah.

Bahkan setelah mendapatkan punggungku, dia tidak menunjukkan tanda – tanda mencoba meraih apa pun.

Wai…

Aku mengayunkan pedang itu secara naluriah. Aku bahkan tidak perlu memanjangkannya, ia cukup dekat. Dengan sikap seperti itu, ini bukanlah sesuatu yang dapat ia hindari. Tapi tepat saat sebelum ia terbelah dua, sosok Leigie menghilang.

Bulu kudukku berdiri.

Jadi inilah bagaimana ia menghindari Eater’s Plate!?

… Teleportasi!? APAKAH itu bahkan mungkin? Tidak, pada saat ia tiba – tiba muncul seperti itu, aku seharusnya sudah menteorikannya.

Itu adalah kesalahanku sepenuhnya.

Pengelakan dan Sloth terlalu jauh buatku untuk berpikir mereka akan bersama.

Dan tunggu, ini terlalu tidak adil.

Mustahil. Mustahil. Mustahil. Mustahil!

Antara Tingkat Ketiga dan Kelima, ada perbedaan sebesar ini!?

Apa Kanon-sama berpikir sejauh ini saat ia mengirim Leigie melawanku!?

Aku memposisikan pedang di belakangku untuk menggoyangkan jatuh serangan yang ia lemparkan padaku.

Di belakang, lengan kiriman Leigie menyerempet pedangnya. Darah mengucur layaknya air mancur. Karena bau yang datang darinya, aku mundur beberapa langkah.

Leigie menangis. Kemungkinan karena rasa sakitnya. Tapi pada saat itu, darahnya sudah berhenti, dan dia telah beregenerasi seakan tidak ada yang telah terjadi. Betapa mengagumkannya kekuatan regenerasinya. Dia mengabdikan dirinya ke sifat keras kepala. Dan di atasnya, dia begitu lemah terhadap rasa sakit.

Saat aku mencoba menyerbu ke arahnya lagi, tubuhku membeku sekali lagi.

Aku tertangkap oleh gravitasinya lagi. Aku menyadarinya. Pada saat tubuhku membeku tadi… ini adalah Evil Eyes miliknya.

Leigie mengekangku dengan Mata Iblisnya. Skill yang seharusnya hanya bekerja pada makhluk yang lebih rendah.

Itu membuat celah kekuatan di antara kami terlalu jelas.

“Ah, haha, hahaha… Lei… gie. Berapa tahun sih… kau telah hidup?”

“… Mungkin sekitar seratus.”

Apa apaan!

Aku punya, denganmu, ingatan – ingatan yang membentang lebih dari sepuluh ribu tahun!!

Dia… pasti telah melupakannya.

Hahahahaha, hanya bertarung dengannya mulai terasa bodoh.

Bahkan rasa laparku yang aku tahu tidak akan pernah terpuaskan secara penuh tidak peduli seberapa banyak aku makan mulai terasa tidak berarti.

Tanpa mengatakan apa pun, Leigie setengah menutup matanya.

Aku mencoba memikirkan alasan Penguasa Iblis ini dapat memperoleh kekuatan yang tak tertandingi semacam ini.

Tidak seperti Kanon-sama, yang telah maju menjadi seorang Penguasa Iblis dalam kurang dari sepuluh ribu tahun dengan kemampuan dan keyakinan, Leigie sang Sloth sekedar menimbun kekuatan secara alami setelah hidup hampir kekal, dan akhirnya tumbuh menjadi seorang Penguasa Iblis.

Tanpa apa pun yang dapat disebut ambisi, dan tanpa tujuan sama sekali. Sang raja kegabutan.

Keinginan orang lain tidaklah penting, dan dia kemungkinan akan segera melupakan pertarungannya denganku. Betapa irinya aku padanya.

Sebelum aku menyadarinya, tangan Leigie terkepal begitu rapatnya sehingga buku – buku jarinya memutih.

Tubuhku sedang diperas dari segala arah. Aku merasakan sesuatu patah di dalamku, tapi tidak ada rasa sakit lagi. Aku bahkan tidak punya motivasi untuk melawan. Tidak ada artinya. Aku tidak punya selera makan.

Hasil dariku yang hidup mendekati seratus ribu tahun, 『Fang of Origin』ku berubah menjadi pasir di tanganku, dan lenyap.

Di depan mataku, adalah Sloth, dia membuka matanya sedikit. Matanya yang tidak melakukan apa pun kecuali menjerit bahwa semuanya sangat merepotkan.

“… Fu… fufu. Selamat… tinggal, Acedia. Tadi menyenangkan.”

“… Gitu.”

Jika mungkin, aku ingin memintainya tolong untuk mengalahkan Kanon-sama menggantikanku, tapi aku ragu dia akan melakukan sesuatu semerepotkan ini.

Dalam bukaan di atas tangannya yang terkepal, ia dengan susah payah memberikan tekanan dengan jari telunjuknya yang lain.

Sembari kepalaku diremukkan dengan paksa di bawah kekuatannya, aku berpikir pada diriku sendiri…

Terimakasih atas hidangannya.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

 

← Daraku no Ou Chapter 5 Part 3: Mari Menyantap Daraku no Ou Chapter 6: Iri Hati Invidia; Part 1: Menjadi Seseorang→

Leave a Reply