Daraku no Ou Chapter 6: Iri Hati Invidia; Part 1: Menjadi Seseorang

Daraku no Ou Chapter 6: Iri Hati Invidia; Part 1: Menjadi Seseorang
Emang pendek sih, hehe.

Diterjemahkan oleh Aftertolv.
Selamat membaca, hehe.

Daraku no Ou Chapter 6: Iri Hati Invidia

Part 1: Menjadi Seseorang

Bukan apa – apa.

Sejak lahir, tak sekali pun aku mendapatkan apa pun, belum pernah aku menginginkan apa pun, belum pernah aku mengetahui apa pun.

Tak diinginkan oleh siapa pun, dikenal oleh siapa pun, dan bahkan tanpa sedikit pun hasrat untuk kehidupan.

Sebuah kehidupan di mana aku bahkan tidak menganut Dosa Asal yang mayoritas Iblis bawa.

Sloth dan Greed dan Lust dan Wrath dan Gluttony dan Pride dan lainnya, tanpa alasan yang mencukupi untuk hidup, dan tanpa kemauan.

Sebelum aku bisa menjadi sebuah Plus, mungkin aku harus menjadi seorang Nol dulu.

Aku hanyalah sebuah eksistensi Minus.

Dalam Dunia Iblis ini, yang diperintah oleh aturan yang terkuat yang bertahan hidup, Iblis tanpa pengetahuan atau kekuatan ditakdirkan untuk sekedar duduk dan menunggu ajal untuk menjemput mereka.

Iblis seperti itu sama sekali tidak langka, dan ibu kota kerajaan serta seluruh kota di pelosok dipenuhi eksistensi – eksistensi semacam itu.

Itulah mengapa aku percaya hanya berkat sebuah kebetulan aku berhasil menghindari takdir semacam itu.

Ada banyak Iblis yang nyawanya bahkan tidak berharga untuk diambil, tapi jika aku harus bilang, keberuntunganku bagus.

Ada seorang pria yang membawaku pergi. Ada seorang yang, dengan ekspresi lamban, tetap diam, seraya membiarkan apa pun yang akan terjadi, terjadi. Mantel hitamnya yang dijahit dengan apik, yang terbuat dari bahan yang seperti beludru terseret sepanjang jalan, dan selalu ternoda putih.

Ada seorang wanita yang membawaku pergi. Ada seorang wanita yang akan melepaskan api yang menyala – nyala yang membuat orang – orang yang ia temui di jalan gemetar, dan menginjak – injak tanah dengan keras seraya berjalan. Tongkat berjalannya memukul tanah, seakan meneriakkan amarahnya mewakili si wanita yang diam.

Ada aku. Ada aku yang, di pinggir jalan, tanpa kemauan, tanpa makna, melihat mereka dengan benar – benar kebetulan dari tepi jalan. Dan di sampingku, ada rekan – rekanku yang sama – sama melihat mereka.

Si pria dan wanita, dan aku, dan mereka yang di sampingku tak pernah berkontak mata, tapi saat berpapasan… si pria meraihkan tangan kirinya, dan tubuhku… tanpa apa pun untuk dimakan sebelumnya, tubuhku yang ringan dan rapuh dibandingkan milik mereka yang seumuran denganku… dipeluk.

Gerakan tangan yang ringan dan jelas seakan ia sekedar mengambil sebuah apel dari kios pinggir jalan.

Dari apa yang ku dengar kemudian, dia menginginkan sebuah bantal. Apa – apaan.

Dan begitulah, kebetulan – kebetulan bertumpuk satu sama lain, dan sang Penguasa Sloth kebetulan sedang mencari sebuah bantal yang persis seukuranku. Karena beberapa sebab dan akibat yang ganjil, aku berakhir masuk ke pasukan Leigie dari para Slaughterdolls.

Ngomong – ngomong, ini sudah jelas, tapi saat ia mendekapku ke tubuhnya, Leigie-sama sudah tertidur.

Apa yang terjadi selanjutnya tidak semenarik itu.

Setelah kembali ke Kastil Bayangan, aku memulai sebuah perjuangan demi eksistensi melawan bantal biasa yang tak hidup yang dia sedang gunakan, dan secara bersamaan, inspektur yang memonitor Leigie-sama, pemimpin Orde Hitam, Kanon Iralaude berkata sesuatu seperti, “kapan kau memungut sesuatu sekotor ini!” dengan suara lelah. Saat aku akan dibereskan dengan cara pembakaran, aku diselamatkan oleh si pelayan Lorna, yang salah memahami 『Iyo』 Leigie-sama dalam cara yang menguntungkanku.

Saat aku menyadarinya, aku didandani dalam pakaian cantik seperti yang boneka akan kenakan, dan punya ‘cadangan’ yang selalu dibuat untuk berjaga – jaga jika dalam satu dari sejuta kemungkinan Leigie-sama akan melakukan sesuatu semerepotkan meminta cadangan dijejalkan dalam tenggorokanku. Pikiranku akhirnya berhasil menyusulku.

Huh? Apa ini, kupikir.

Dambaan seorang Iblis bukanlah sesuatu yang mereka tentukan untuk diri mereka sendiri. Mereka adalah sesuatu yang diperoleh secara otomatis dari menyembunyikan hasrat – hasrat kuat.

Jika kau menyembunyikan banyak Dosa, hasratmu menjadi kabur, dan pertumbuhan Kelasmu sebagai seorang Iblis melambat. Itulah mengapa Iblis pada umumnya secara bawah sadar mengatur diri mereka sendiri untuk tidak mengikuti hasrat apa pun di samping yang mereka kejar.

Tanpa kesenggangan untuk mengejar hasrat berlebih, yang terburuk dari para Iblis, di mana adalah sekedar keajaiban aku hidup. Diberikan sebuah lingkungan di mana kehidupan akhirnya dapat berlangsung, dan akhirnya beberapa waktu untuk memikirkan tentangnya, apa hasrat kuat pertama yang melandaku?

Apa perasaan – perasaan terkuatku?

Bukan sebuah kelegaan bahwa aku terselamatkan, atau doa – doa bahagia penuh syukur, atau melankoli atas rekan – rekanku yang tertinggal atau bahkan kepuasan.

Ini mungkin sudah jelas, tapi pastinya itu bukan Luxuria.

Sederhananya… Envy.

Kedengkian terhadap Iblis – Iblis tipikal yang meneruskan dan menerima kehidupan mereka hingga sekarang seakan itu sudah wajar.

Iri terhadap wajah cantik dari inkarnasi api yang sedang mendekati tingkat Penguasa Iblis dengan sihir kuatnya, dia yang terlahir sebagai putri dari seorang Penguasa Iblis dan memimpin Orde Hitam elit, Kanon.

Iri terhadap dia yang terlahir ke dalam sebuah keluarga untuk melayani Leigie-sama, dan menerima pendidikan tingkat tinggi hanya untuk itu, Lorna.

Iri terhadap tangan kanan sang Penguasa Iblis yang memimpin pasukan, meng-Overrule setiap dan segala macam kekuatan, dan menganggap kekuatan Penguasanya sebagai yang terkuat, Heard Lauder.

Iri hati terhadap segalanya di dunia ini.

“Jika mungkin, aku ingin berubah…”

Itulah asal muasal Dosa Asal Envy-ku.

Karena aku tidak pernah dianugerahi apa pun, aku merasakan iri hati terhadap segalanya sebagai gantinya.

Lebih gelap dari 『Gula』.

Lebih serakah dari 『Avaritia』.

Lebih bengis dari 『Ira』.

Lebih ganjil dari 『Luxuria』.

Dengan lebih sedikit arti dari 『Acedia』.

Lebih keji dari 『Superbia』.

Tak lain sebuah 『Envy』 yang sederhana dan tak sedap dipandang.

Tapi saat aku mendapatkannya, aku berpikir pada diriku sendiri.

Ah, dengan ini, aku akhirnya memiliki alasan untuk ada.

Dengan ini, aku akhirnya bisa menjadi seseorang.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

 

← Daraku no Ou Chapter 5 Part 4: Terimakasih atas Hidangannya Daraku No Ou Chapter 6 Part 2: Menjadi Seseorang→

Leave a Reply