Daraku no Ou Chapter 6 Part 4: Ini Keterlaluan…

Maaf atas keterlambatan rilis, penerjemah sedang ada urusan ke luar kota minggu lalu.

Daraku no Ou Chapter 6 Part 4: Ini Keterlaluan…

Diterjemahkan oleh Aftertolv

Selamat membaca!

Part 4: Ini Keterlaluan…

Bahkan setelah menyerahkan tubuh dan perasaanku, perasaan iriku hanya surut sedikit sekali. Itu kemungkinan adalah bagian iri hatiku yang terarah pada Lorna.

Neraka besar yang membentuk dasarnya tidak terpuaskan sama sekali.

Perasaan tidak sabarku tidak berkurang sama sekali. Dengan limbung, aku membersihkan diriku, dan mengenakan pakaian yang telah kutanggalkan dengan gesit.

“Terima kasih… atas waktumu…”

“…”

Leigie-sama tidak menunjukkan se-iota pun pergerakan. Bahkan selama kejadian, dia nyaris tak bergerak sama sekali.

Bahkan saat aku menundukkan kepalaku dalam – dalam, dia tidak memberikan jawaban. Matanya tetap tertutup. Mataku berkaca – kaca.

Apa Penguasa Iblis ini punya nafsu birahi? Tidak, aku berani taruhan dia punya.

Maksudku, itulah mengapa kita mampu melakukannya.

Sang Raja Gabut.

Mengalami jalan hidup abnormalnya sekali lagi, aku merasakan kehilangan dan keputus asaan yang luar biasa. Aku bahkan tidak mampu mengeluarkan tawa kosong.

Tapi jika bukan itu, maka apa yang menjadi sumber Envy yang kuperoleh?

Aku selalu berpikir itu bercabang dari dambaanku terhadap Leigie-sama. Luxuria yang kuperoleh dengan Envy-ku bertujuan untuk mengambil perhatian Leigie-sama, dan itulah mengapa aku selalu berpura – pura menjadi Luxuria.

Mustahil. Aku tidak bisa mengikuti ini lagi.

Aku tidak bisa menemukan target Envy-ku. Itu pasti sesuatu yang telah melahirkan emosi yang cukup hebat buatku untuk menyadarkanku akan Dosaku.

Apa yang harus kulakukan dari sekarang?

Medan pandangku yang bergoyang. Tanpa diperintah oleh pikiranku, kaki tak yakinku menuju ke pintu.

Aku membuka kunci, dan membuka pintu.

“… Hm. Apa kau sudah selesai?”

“… Ah… Begitu ya…”

Suara itu mencerahkanku.

… Jadi aku sudah kehabisan waktu.

Menyandarkan tubuhnya ke dinding luar, seorang pria berambut hitam menatapku.

Komandan Tertinggi, Heard Lauder.

Pengikut tertinggi Leigie.

Bersamaan dengan saat aku mendapat pencerahan, amarah yang hebat mewarnai merah adegan di depanku.

… Biarlah. Jika kau menghalangi jalanku, maka melihat apakah 『Superbia』mu lebih kuat daripada 『Invidia』ku bukanlah pilihan yang buruk.

Aku telah kehilangan jejak yang telah kuikuti selama bertahun – tahun, dan aku sedang dalam suasana hati ingin melampiaskan amarahku pada seseorang.

Aku mengendalikan nafasku.

“Kusu kusu, Medea-san, apakah kau telah memenuhi hasratmu?”

Di sampingnya berdiri Hiero. Dengan senyum lebar tanpa rasa, dia memandang rendah padaku.

Itu tidak terpenuhi. Mustahil itu bisa terpenuhi.

Aku masih memiliki penyesalan yang tersisa. Tidak, penyesalanku hanya bertambah dalam.

Aku menjilat lidahku. Untungnya, air mataku sudah berhenti. Well, aku yakin aku membuat ekspresi yang mengerikan sekarang.

Aku meluruskan kakiku yang gemetar.

Aku menaikkan pandanganku untuk melihat sang Iblis Pride, yang dua kepala lebih tinggi dariku.

Tentu saja, aku tidak lengah, tapi Iblis Pride pada umumnya tidak melancarkan serangan kejutan. Terlebih lagi apabila musuhnya berstatus lebih rendah.

Untuk berjaga – jaga, aku memastikannya untuk terakhir kali.

“Heard Lauder… apa kau berencana melawanku…?”

“… Untuk mengarahkan nafsu membunuh ke arahku, kau telah tumbuh dengan luar biasa, ya. Melawan? Salah, ini sekedar… penghakiman.”

Nada yang tak tertahankan seperti biasanya.

Tapi di sana, Heard tampak teringat sesuatu dengan tiba – tiba.

“… Hm, tapi kau telah berhasil melakukan perbuatan yang berfaedah dengan merepotkan Leigie-sama, dan dengan demikian melemahkannya.”

“… Apa? Apa yang kau…”

Melemahkan… Leigie-sama?

Berfaedah?

Pria ini… apa yang dia…

Kalimat Deije terngiang dalam pikiranku.

Firasat buruk. Benar, itulah yang dia bilang.

Tekanan yang dapat kurasakan hanya dengan dia berdiri di sana. Perasaan ditindas.

Tekanan yang hebat seakan udara itu sendiri sedang diremukkan, tak berbeda dari saat Zebul berdiri tepat di depan mataku.

Komandan Tertinggi Heard Lauder memang seharusnya Iblis terkuat dalam Pasukan setelah Leigie. Tapi apa dia selalu sekuat ini, udara ini di sekitarnya?

Sang Kaisar Angkuh.

Dahulu, dia menyokong pasukan ini seorang diri, sang veteran terhebat. Diktator pasukan ini.

Dengan mata seakan dia sedang mengamati sebuah batu di sisi jalan, Heard meneliti seluruh tubuhku.

“… Benar, ini sebuah pengecualian. Sesuai dengan pencapaianmu, dan sebagai ampunan terhadap seorang mantan rekan seperjuangan, aku tidak masalah membiarkanmu tetap di sini untuk digunakan untuk relaksasi pasukan.”

“Apa…?”

“Kusu kusu kusu, bukankah itu bagus, Medea-san? Untuk bisa lolos tanpa mati. Kusu kusu, bukankah ini ambisi yang telah lama kau harapkan sebagai seorang 『Luxuria』?”

Hiero tertawa menyebalkan.

Ah, tidak berguna.

Bahkan jika aku bukan Wrath, aku merasakan kebutuhan hebat untuk membunuh orang ini.

Aneh? Rasa tidak nyaman? Kuat?

Aku tahu semua itu.

Tapi jika aku tinggal diam di sini setelah ini, aku akan gagal sebagai seorang Iblis.

Bahkan jika aku tidak memerintah Superbia, aku punya harga diriku.

Bahkan jika aku tidak memerintah Wrath, ada hal yang membuatku marah.

Saat ini, 『Envy』 bahkan tidak terpikirkan olehku.

“… Heard, aku berterimakasih padamu. Dulu saat aku masih seorang Iblis biasa, kau memberiku sebuah pekerjaan.”

“… Hm, aku tidak butuh terimakasih. Aku hanya peduli tentang hasilnya.”

Dan dia tertawa mencemooh, seakan berkata, ‘Dan kau bahkan tidak memberikan hasil apapun.’

Tapi bahkan jika matanya berkilat dengan kesombongan, dia tidak lengah.

Untuk mengeliminasi kesempatan dirinya untuk terpeleset yang bahkan hanya satu dari sejuta, untuk melindungi kesombongannya, dia melakukan seluruh latihan abnormalnya.

Itulah watak dari dia yang terus berkuasa atas Pride, Heard Lauder.

Demikianlah, dia selalu bersinar sebagai Komandan Tertinggi pasukan Leigie-sama.

Dari kedalaman eksistensinya, sihir, dan hasrat keluar.

Sudah sekitar tiga hari sejak berakhirnya Perang Zebul. Dengan mengabaikan keadaan fisikku, sihirku dalam keadaan sempurna.

“… Haruskah kita bertukar tempat?”

Dia kemungkinan tahu aku tidak mengharapkan sebuah ya.

Dengan ekspresi yang tidak tertarik, persis seperti milik Leigie, dia memandang rendah ke arahku.

“Tempat… Hm, tidak perlu. Tidak, terlebih lagi, melakukannya di sini menghemat sedikit tenaga.”

“… Maksudnya?”

“Tidak, aku bicara pada diriku sendiri tadi… Sekarang, Medea Luxeliahart. Datanglah padaku.”

Hiero menepikan dirinya dalam diam.

Heard tampak santai. Tanpa tanda darinya telah memasuki sikap bertarung, wajahnya terus berkuasa dan meremehkan segalanya dengan sama rata.

Aku sedang diremehkan.

… Baiklah. Aku akan ikut taruhanmu.

Tanpa membiarkan diriku lengah, dan sembari memperhatikan pergerakan Heard, aku menghela nafas dalam…

… Aku menggunakan skill 『Imitate』.

Pikiranku berkilat layaknya petir, dan berkejaran di sekujur tubuhku.

Apa yang mengambang di pikiranku adalah seorang gadis berambut hijau. Sendirian, dia memimpin pasukannya, dan mengarahkan pedangnya ke sang Raja Iblis Agung; seorang Penguasa Iblis yang kuat.

Api Envy membara di depan mataku.

Tanpa kekangan, aku menghabiskan persediaan sihir yang telah kukumpulkan.

Lututku gemetar. Tubuhku terdorong mundur untuk sejenak. Harga Mananya sangat mengerikan. Jumlahnya bahkan melampaui jumlah yang digunakan oleh Skill SS dari Penguasa Iblis Lust, 『Phantom Aliquot Dance』.

Ini adalah Skill Penguasa Iblis sejati.

Aslinya, ini adalah puncak yang hanya bisa dicapai oleh para Iblis yang telah menghabiskan ribuan tahun untuk memenuhi hasrat mereka.

Aku iri padanya. Tanpa ada penghargaan atau kehormatan.

Sesuatu memberatkan tanganku.

Ini adalah Skill 『Invidia』 guna mengawetkan Skill Skill milik mereka yang kucemburui dengan sempurna.

『Imitate』.

Sama seperti 『Skill Ruler』 milik 『Avaritia』, skill ini tidak mempedulikan pengalaman yang dibutuhkan untuk mencapainya, sebuah cara khusus milik Envy.

Tidak seperti 『Skill Ruler』, di mana kau bisa memperkuat skill skill yang kau dapat, kau bisa menggunakan Skill – skill dalam keadaan saat mereka diimitasi.

Setingkat dengan saat digunakan yang asli.

『Fang of Origin』.

Ini adalah skill yang dia gunakan saat bertarung dengan Leigie-sama.

Sebuah belati berbentuk bulan sabit berwarna putih bersih termanifestasi di depanku, sebelum terselimuti kabut hitam rasa lapar.

Heard mengernyit. Tapi bahkan setelah melihatku menggunakan sebuah Skill yang jelas – jelas bukan Lust, dia tidak terkejut.

Aku berani taruhan Hiero memberitahunya. Karena sifatnya, para Iblis yang berkuasa atas Pride memiliki sistem hierarki mutlak di antara mereka.

Aku lupa. Tidak, aku tidak menghubungkannya. Sang Komandan Tertinggi, dan si pelayan baru.

Tapi itu tidak berarti. Itu tidak akan mampu memecahkan Skill seorang Penguasa Iblis.

“Itu adalah… Hm, Zebul sang Pelahap… sebuah Skill Gula, ya?”

“…”

Tekanan. Rasa lapar yang mengerikan. Pedang ini menyedot nutrisiku, dan penglihatanku kabur. Kuda – kudaku menjadi goyah.

Tanpa mempedulikannya sama sekali, aku merendahkan tubuhku, dan menjejak lantai. Ujung pedangku menggores lantai seraya membuat ruang hampa dengan ayunannya.

Ini adalah sesuatu yang bahkan Leigie-sama harus hindari. Skill yang Zebul pilih dari keabadian hidupnya khusus untuk menghabisi sang Penguasa Sloth.

Hanya dalam satu langkah, aku mendekatinya, dan mengayun keatas.

Heard, melihat serangan itu, tersenyum dengan penghinaan yang jelas.

Getaran seakan bangunannya sedang bergetar. Lantainya runtuh. Tepat saat sebelum pedang itu mampu menggigit Heard, sosoknya menghilang.

Taring itu dengan mudah menembus dinding yang dilindungi oleh sebuah pelindung.

“… Hm, sesuai dugaanku… betapa tak berguna.”

Dari belakang, aku mendengar suara. Saat aku berbalik dengan buru – buru, panggulku diserang. Sebelum aku bisa merasakan sakit, pandanganku terhalang sebuah tembok.

Sakit. Sebuah tumbukan yang mengguncang seluruh tubuhku. Penghakiman. Kemampuanku untuk tetap hidup berkurang. Rasa sakit yang menusuk di panggulku. Beberapa tulangku hilang.

Bagian belakang kepalaku ditekan dengan keras.

“Bahkan jika kau punya skill skill milik seorang Penguasa Iblis, seorang Invidia rendahan tidak akan pernah bisa menguasainya.”

Tangan kanan yang menggenggam pedang itu diremukkan. Tanganku dibuka dengan paksa. Taring itu berubah menjadi pasir, dan lenyap.

Itu bukanlah teleportasi absurd itu yang ditunjukkan Leigie-sama. Itu adalah pergerakan yang murni berdasar dari kemampuan fisiknya. Itu hanyalah kecepatan semata, tapi bagi level pandangan dinamisku, itu tak ada bedanya dengan pergerakan seketika.

Leigie yang diam.

Heard yang Dinamis.

Kekuatan fisik yang mengagumkan. Naluri bertarungnya tanpa keraguan sesaat pun. Kepalaku ditarik dari dinding sebelum diguncang oleh tumbukan lain.

Sebuah raungan keras. Saluran setengah lingkaranku berguncang. Aku bahkan tidak bisa bilang apa yang terjadi, tapi aku tahu bahwa kerusakan sedang bertumpuk di tubuhku.

Pandanganku terwarna merah.

“… Hm, sesuai dugaanku, kau hanyalah seorang 『Invidia』 rendahan… Bagian mana sih dari orang ini yang menarik perhatian Deije… aku tidak mengerti.”

“… Dei… je…”

Mendengar kata – kata itu, nama itu, kesadaran kaburku merespon.

Aku mengaktifkan 『Imitate』secara naluriah. Targetnya adalah seorang Iblis 『Avaritia』. Sang Perampas, Deije Breindac.

Aku iri. Aku tidak bisa tidak iri.

Pada kemampuan fisiknya.

Kekuatan kembali ke lengan tak berdayaku. Darah merah panas. Pengalaman Deije, yang pernah berbaku hantam dengan seorang Penguasa Iblis.

Aku menggenggam tangan Heard, yang telah menggenggamku di bagian tengkukku. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba untuk meremukkannya.

Tapi tangan Heard tidak goyah sama sekali.

“… Jadi itu kekuatan murni Deije… hm, sayang itu dipinjamkan kepada seseorang sepertimu.”

Tubuhku melayang. Saat aku menyadarinya, aku telah dilempar dengan mudahnya.

Kepalaku mengalami sebuah kejutan. Tapi itu beres seketika dengan menggunakan Resistensi Abnormalitas Statusku. Pandangan dinamisku menangkap dengan sempurna tembok yang bergerak mendekatiku. Tapi aku tak mampu melakukan apapun.

Aku melindungi kepalaku sebelum aku terbentur. Itu adalah sebuah benturan yang menembus tubuhku. Mungkin karena daya tahan Deije, aku tidak menerima luka yang terlalu besar.

Sang Iblis Pride mulai mendekatiku seakan dia sedang berjalan santai.

“Hm… tidak buruk. 『Invidia』, aku akan mengizinkanmu untuk iri pada Leigie-sama.”

“… Apa yang…”

Sebuah senyum sinis muncul di mulut Heard.

“Kau iri padanya, kan? Sambil mengayunkan panggulmu di atasnya. Hm, aku memberitahumu untuk menggunakannya, bodoh.”

Pria ini… sejauh mana dia akan mempermainkanku?

Besarnya amarah yang kurasakan memerahkan kepalaku.

Tiba – tiba, kata – kata Deije bangkit kembali.

『Well, lakukan yang terbaik. Sebagai seorang mantan Komandan Tinggi, untuk argumen, aku berdoa untuk keselamatanmu, cewek.』

Benar, tidak peduli bagaimana pun, aku harus tetap hidup.

… Untuk memenuhi hasratku.

Aku berhenti mengimitasi kemampuan fisiknya.

Kekuatan mengalir keluar dari tubuhku. Tapi setidaknya aku punya cukup tenaga untuk berdiri. Dan aku menggunakan sihirku lagi.

Sebuah kelegaan bagiku bahwa aku tidak mampu memanifestasikan 『Fang of Origin』 secara penuh, jadi aku masih memiliki sisa sihir.

Aku menjilat bibirku. Jangan meremehkan Envy. Aku mendambakan segalanya, menginginkannya, bahkan jika aku tidak mampu merubah diriku sendiri, aku iri.

“… Maka aku akan menunjukkannya padamu. Kekuatan sang Penguasa Sloth!”

Apa yang kubayangkan adalah tuanku. Selalu di ranjang, di lantai, di tanah kasar padang pasir. Selalu tergeletak dengan ekspresi kerepotan di wajahnya, dengan malas menurunkan tangannya seakan untuk melumat sebuah lalat. Satu – satunya Raja Sloth. Sang Raja Tiada Guna.

Berpikir.

Akan kekuatannya. Akan gaya hidupnya.

… Dan aku iri pada Skill itu.

Aku mengayunkan tanganku dengan ringan.

Tubuh Heard tiba – tiba terlempar ke dinding.

Seakan dia telah diremukkan oleh tanganku.

Bagaimana aku harus mengatakannya… betapa gabutnya Skill ini.

Dari tidak adanya perlawanan yang kurasakan, aku melihat tanganku sendiri dengan kagum.

Alamak, tidak ada rasa apapun di tanganku. Semua yang kulakukan hanyalah melambaikannya. Dengan suara keras, retakan menyebar di dinding yang dilindungi pelindung.

Tanpa memikirkan apapun, aku mengepalkan tanganku.

Hanya begitu saja, kerutan menyebar di pakaian hitam Heard seakan ia telah dicengkeram.

『Miracle Wonder Lighthand』

Itu adalah nama Skillnya. Nama Skill yang kuketahui melalui Leigie.

Meskipun itu memang ajaib, atau gemilang, kupikir ada sesuatu yang salah dengan nama itu. Tapi itu memang sangat kuat. Kuat secara sepihak.

Selain hampir tidak memiliki kekurangan, kau bisa menyerang secara sepihak dari jarak jauh.

Tapi bahkan setelah menerima skill yang cukup untuk membantai Zebul, sang Iblis Pride tidak terlihat panik.

“『Sky Hand』, ya… betapa tak berguna.”

Bahkan saat terjerat, Heard memandang rendah ke arahku.

Pada saat itu, skillnya dibatalkan dengan paksa.

Tubuhnya yang sedang melayang terjatuh, dan dia mendarat dengan anggun pada kakinya. Tubuh dan ekspresinya belum menerima luka.

Dia merapikan pakaian kusutnya dengan tangannya. Dengan wajah bosan.

Aku tak percaya… apa yang dia lakukan? Dia membatalkan sebuah skill dari sang Raja Pemalas?

Tidak, bukan itu. Aku kurang lebih bisa memahami apa yang dia lakukan.

Heard Lauder adalah seorang Iblis Pride.

Karena itu, hanya ada satu jawaban yang bisa kucapai.

Ini adalah Skill 『Overrule』 milik 『Superbia』.

Aku yakin itu telah menyeberangi kedalaman hatiku… itu memiliki kemampuan untuk meniadakan Skill yang telah di-Overrule, dan untuk menimbulkan penyesuaian status pada lawan yang telah di-Overrule. Salah satu kemampuan Pride.

Tapi itu tidak mungkin. Bahkan jika dia bisa meng-Overrule kebanyakan skill, ini tidak normal.

“Mustah… bagaimana bisa kau melakukan itu pada milik Leigie-sama…”

“… Hm, tak berguna. Invidia, aku menyuruhmu untuk menggunakannya, bukan? Aku menyuruhmu untuk mengimitasinya, bukan? Kepunyaan Leigie dari Sloth…”

Dia bimbang untuk sejenak.

Dia mendorong telapak kakinya ke tanah, dan menyerang dengan menurunkan kaki lainnya yang terangkat.

Bahkan jika aku menyadarinya, bahkan jika aku mengetahuinya, itu adalah kecepatan secepat kilat yang tidak bisa kuhindari.

Tubuhku terbanting ke tanah.

Kekuatannya yang luar biasa membuatku tak mampu percaya dia adalah sesama Kelas Jenderal.

Sepatunya, yang kemungkinan terbuat dari Kulit Naga menggilas kepalaku seakan dia sedang menginjak – injak sampah.

Bahkan tanpa melihat, aku bisa bilang. Tatapan dinginnya layaknya tamparan ke wajah. Semangat bertarungnya yang menusuk tajam dan terasah.

Heard Lauder bicara seakan sedang memuntahkan kata – katanya.

“…『VIT』nya.”

Ada kekuatan yang terkandung di kata – katanya. Aku paham.

Orang ini… berbeda level.

Bahkan setelah hidup bertahun – tahun, ada banyak Iblis yang tidak memiliki kekuatan yang hebat. Aku telah melihat contoh yang lebih dari cukup. Tapi yang satu ini berbeda.

Aku tidak tahu seberapa tua dia, tapi pengalaman bertarungnya, sihirnya, otoritasnya, seluruhnya bernilai mendekati lamanya waktu yang dia habiskan dalam hidupnya.

Mengapa, bagaimana. Mengapa seorang Iblis Pride setingkat ini merendahkan dirinya sendiri untuk menjadi bawahan seorang Penguasa Iblis?

… Aku tidak bisa menang.

Aku dengan kesulitan menggerakkan kepalaku yang sedang diinjak, dan melihat seorang Heard.

“Kau… apa… yang kau coba lakukan!?”

“… Aku menyuruhmu untuk meng『Imitate』. Aku tidak menyuruhmu untuk membuka mulutmu.”

Setelah mengangkat kakinya dalam sekejap, kakinya turun, dan meremukkan rahangku.

Rasa sakit yang tajam. Darah menyebar di mulutku, dan benda keras yang bisa samar – samar kurasakan kemungkinan adalah gigiku, atau tulangku. Darahku menyebar ke tanah, tapi entah mengapa, pandanganku menjadi jernih.

Dalam kesadaran kaburku, pikiranku tidak bisa mengimbangi.

Penglihatanku terwarna hitam tipis, seseorang sedang meremehkanku.

“… Kusu kusu kusu… Heard-san, bocah ini telah kehilangan kesadaran, kelihatannya.”

“… Hm… well it was my mistake to place expectations on her, I guess. If she could only reproduce a fraction of Leigie-sama’s power, it would still be fine… is what it means.”

“… Hm… well itu adalah kesalahanku untuk menaruh harapan padanya, kurasa. Andai saja dia mampu mereproduksi sebagian kekuatan Leigie-sama saja, maka tidak ada masalah… itulah artinya.”

“… Well kupikir itulah. Kusu kusu kusu, pertama – tama, orang ini dikatakan sebagai yang terlemah di antara para komandan.”

Aku tidak bisa mendengar apapun. Aku tidak bisa melihat apapun.

Aku merasakan Inti Jiwaku kehilangan kekuatan dengan cepat.

Aku telah menerima luka yang terlalu parah. Aku telah menggunakan terlalu banyak skill yang terlalu berat bagiku.

Dan tetap saja, aku bukan tandingannya.

Pandanganku menggelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Aku tidak bisa merasakan apapun.

Pada saat itu, sebuah gambar yang jelas membanjiri pikiranku.

Itu bukanlah gambar beberapa ribu tahun yang kuhabiskan dalam hidupku.

Itu adalah gambar Leigie-sama yang memelukku sebagai pengganti bantalnya, dan membawaku ke sini.

Sensasi itu sangat jelas. Ekspresi bosannya. Lengannya, yang darinya tidak bisa kurasakan kehangatan. Dengan matanya yang masih tertutup, seorang Leigie-sama yang tak bergerak.

Leigie-sama membentangkanku dengan kasar di atas ranjang. Kanon-sama mengernyit saat menemukanku.

Leigie membandingkan opsi dengan mata mengantuk. Itu adalah kali pertama kegelisahan lahir ke dalam hatiku.

Leigie-sama membiarkanku pergi.

Dan apa yang dia genggam alih – alih adalah…

Sebuah tumbukan mengejutkan kepalaku. Aku tidak begitu peduli bahwa aku sedang di ambang kematian.

Aku tidak yakin atas alasan apa, tapi warna mulai kembali ke mataku.

B-bahkan tidak bisa mati saat dibunuh… ini keterlaluan.

Bantal!? … Wai… jangan bilang asal dari….

Aku menjerit tanpa disengaja, tapi mulutku telah dihancurkan jadi suara aneh keluar.

“Faa… hyo…”

“… Huh? Kau masih sadar? Kusu kusu, kau seorang yang tangguh. Terima ini!”

Jari – jari seperti ikan kecil, sebuah tangan runcing menusuk kedua mataku tanpa belas kasihan.

Mataku remuk, dan penglihatanku menjadi hitam legam akibat perbuatan fisik itu. Aku berhasil memeras keluar sebuah jeritan dari tenggorokanku. Jari – jari itu terus menggali – gali dalam mataku.

Rasa sakit luar biasa ini membuatku merasakan kesadaranku meninggalkanku kali ini.

Aku tidak peduli lagi. Bunuh saja aku segera…

Indraku lumpuh.Sensasi jari – jari di mataku. Aku bahkan tidak merasakan sakit lagi. Hanya saja rasa gerakan di sana sangatlah mengganggu.

Saat kesadaranku ditelan oleh kegelapan lagi, aku mendengar suara pelan.

“Kusu kusu, Heard-san. Kau tidak membutuhkan ini lagi, bukan? Bolehkah aku mengambilnya?”

“… Hm, aku tidak membutuhkannya, tapi… akan kau gunakan untuk apa dia…?”

Tubuhku goyah. Sensasiku tidak karuan.

“Ini… kupikir aku akan bisa meng-Overrule-nya. Kupikir ini akan berguna untuk 『Eksperimen』 kecil…”

“… Hm, maka biarlah. Itu adalah cara lain bagi seorang 『Superbia』 untuk maju, tapi biarkan aku menambahkan. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan dengannya, tapi pastikan kau membuangnya setelah kau selesai.”

“Kusu kusu kusu, aku tahu, Heard-san. Serahkan pembersihannya padaku. Heard-san, kau harus… Leigie-sama…”

“… Benar. Aku tidak punya waktu untuk dihabiskan demi masalah sepele… Hm, aku telah menghabiskan beberapa waktu tanpa guna. Leigie si Bejat… ya? Ayahku memang telah jatuh. Aku akan memastikan untuk membuat sapaan terakhir.

Aku melemah, tapi aku masih bisa merasakan denyut lemah di Inti Jiwaku.

Yang lebih penting…

Kata – kata yang kudengar dengan susah payah dari Heard membangkitkan keingintahuanku.

Seraya kehilangan fokus pada kesadaranku sendiri, pikiranku jatuh ke neraka.

Aku buru – buru mengembalikan fokusku.

A…yah? Apa artinya itu?

Ayah Heard Lauder adalah Leigie-sama?

Pertama kalinya aku mendengarnya. Aku telah di sini cukup lama, tapi aku belum pernah mendengar sesuatu semacam itu. Bahkan tidak dalam rumor sekali pun.

Ada yang tidak beres. Membiarkan Heard pergi begitu saja adalah sebuah kesalahan.

Tapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Kesadaranku juga.

Nyawaku yang berkilat di depan mataku meningkatkan frekuensi denyut jantungku, dan pikiranku kembali, tapi aku ada pada batasku.

Lenganku bahkan tidak mau berkedut. Rasanya seperti perasaan tak bergerak adalah satu – satunya yang bisa kurasakan.

Rasanya seperti aku memiliki penyesalan yang tersisa.

“Haa… oneechan sama saja, tapi Medea-san, kau terlalu tahan banting… Apa kau punya penyesalan sebanyak itu dalam hidupmu? Kusu kusu, Lust dan Envy memang terlalu tahan banting… Tapi Leigie-sama beda lagi…”

Tumbukan mengguncang sekujur tubuhku, dan nafasku terhenti seketika.

Sebelum itu terjadi, sebuah cahaya redup kembali ke mataku.

Apa yang berada di depanku adalah sosok Hiero yang menuangkan isi dari sebuah botol kaca kecil.

Tetesan – tetesan air mengalir di wajahku. Rasa sakit yang luar biasa yang mengikuti kebangkitanku yang tiba – tiba membuatku berusaha untuk menjerit, tapi Hiero menjejalkan sebuah sepatu di mulutku.

“Goh…!”

“Well, well, jangan merepotkanku sebanyak itu, Medea-san. Kusu kusu, jika Heard-san tahu, dia akan membunuh kita berdua, bukan? Tidak bisakah kau diam sebentar?”

Seakan ada yang menarik, dia tersenyum sembari menggerakkan sepatu itu lagi dan lagi, sebelum akhirnya melepaskannya.

Setelah itu, dia mengambil botol kaca lain dari sakunya.

Logo pemasaran pada botol itu… itu adalah sebuah Ramuan yang dibuat untuk memulihkan makhluk hidup. Itu adalah sesuatu yang tidak asing kulihat berjejer di ruang penyimpanan pasukan.

Setelah membuka tutupnya, dia mulai memercikkannya padaku dari ketinggian yang sebenarnya tidak perlu.

Ramuan adalah komoditas kelas super tinggi. Mereka adalah obat – obatan ajaib yang bahkan bisa meregenerasi bagian tubuh yang hilang.

Normalnya, seseorang tidak akan sempat untuk meminum satu dalam pertarungan, jadi itu adalah sesuatu yang disimpan untuk keadaan darurat, saat mereka benar – benar dibutuhkan.

Efek sebuah ramuan melingkupi meredakan rasa sakit. Rahangku yang remuk dipulihkan.

“Arara, jadi bahkan dua tidak cukup. HPmu pasti sangatlah tinggi… mau yang ketiga…?”

“A-Aku tidak membutuhkannya… aku sudah baik – baik saja!”

“Kusu kusu, jangan sembrono. Lihat, lihat.”

“Gu…”

Kakinya menginjak tulang rusukku.

Ada rasa sakit seakan sesuatu remuk di dalam perutku.

Aku bahkan tidak bisa bilang apa yang sedang terjadi lagi. Apakah dia mencoba untuk menggangguku, ataukah dia mengobatiku?

Pada detik aku membuka mulutku untuk mengeluh, sebuah botol dijejalkan dalam mulutku.

Cairan mengalir turun langsung di tenggorokanku. Saat kupikir aku akan terbatuk, tangannya menutup mulutku secara paksa.

Dari hidungku, ramuan mengalir. Melihatnya, dia mengeluarkan senyum ringan dan halus.

“Goho, goho, a-apa yang kau rencanakan?”

“Hmm? Rencana? Aku baru saja menyelamatkanmu, jadi kupikir ada sesuatu yang harus kau katakan dulu, bukan?”

Pemilihan kata – kata yang menjengkelkan.

Tapi… menyelamatkan?

Aku buru – buru mengamati sekelilingku. Retakan di dinding, dan lantai yang runtuh. Lokasiku belum berpindah sama sekali sejak saat aku kehilangan kesadaran.

Aku merasa dicurangi entah mengapa.

“Sekarang, sekarang Medea… dimana~ terima~ kasihmu~?”

Dia bicara dengan senyum berseri – seri.

Aku menggertakkan gigiku.

“… Terimakasih. Aku selamat.”

“Kusu kusu, dengan senang hati. Dari sekarang, kau harus tahu tempatmu, dan tahu kapan harus lari, tahu? Mustahil kau akan bisa mengalahkan Heard-san, Medea-san. Pertama – tama,  『Superbia』 memiliki afinitas kuat terhadap 『Invidia』.”

Dia membelai rambutku seakan ia sedang menepuk – nepuk seekor anjing.

Itu menjengkelkanku, tapi fakta bahwa aku masih memiliki nyawaku adalah sebuah keberuntungan.

Yang lebih penting lagi, perasaanku untuk mempertanyakan bagaimana dan mengapa semakin kuat.

Setelah menerima pandanganku, Hiero menghela nafas.

Lorong itu… dia melihat ke sekitar sudut lorong yang menuju kamar Leigie-sama, dan melihat rendah ke arahku dengan mata dermawan.

“Tidak… bukankah ada kemungkinan Leigie-sama akan meminta untuk memeluk Medea-san lagi? Hanya di alam kemungkinan yang hebat, di wilayah satu dalam sejuta, sih… kusu kusu…”

Aku… Aku gagal paham.

Terlalu asing bagiku. Bagaimana bisa Lorna memiliki saudari seperti ini?

Aku tidak mendapat maknanya. Aku gagal paham.

Kekuatan Heard mengerikan, tapi begitu juga mentalitas Hiero.

Karena itu… dia bahkan tidak memindahkan lokasi, tapi mengobatiku apa adanya?

Jika Heard kembali, apa yang kau rencanakan?

Pikiranku berputar – putar. Alasan jauh tingginya membuat aku hanya bisa membalas dengan satu kalimat.

“… Aku tidak berpikir itu akan terjadi.”

“Aku sependapat. Maksudku, tubuhmu begitu langka… jika itu oneechan, aku akan paham, sih…”

Apa kau menantangku bertarung?

“Tidak, tapi, jika Leigie-sama mengundangmu ke ranjangnya, kau akan merespon, bukan? Coba katakan. Aku telah diselamatkan oleh Hiero dari 『Superbia』, jadi tolong nikmati tubuhku yang langka.”

Itu adalah sesuatu dengan kesempatan hampir seratus persen tidak akan terjadi, tapi aku meyakinkan diriku untuk tidak pernah menggunakan kalimat itu jika kesempatan semacam itu muncul.

Ini bukan tentang menyelamatkan nyawaku atau apa, aku hanya tidak mau.

“Kusu kusu kusu, well, mari kita hentikan leluconnya di sini…”

… Jadi itu tadi sebuah lelucon.

Dia selalu tersenyum, jadi aku tidak bisa bilang apakah dia tulus atau bermain – main.

Dengan ekspresi serius, Hiero memandang ke arah lorong itu. Sebuah lirikan sekejap seakan untuk mengindikasi kamar Leigie-sama.

“Heard-san bermaksud untuk membunuh Leigie-sama. Dia akan mengincar celah di mana dia telah dilemahkan dari bertarung dengan si Penguasa Iblis.”

“… Hah? Ap, mengapa… tidak, itu salah… oh begitu.”

Itu tidak waras.

Bahkan jika dia baru saja mengalahkan seorang Penguasa Iblis, Leigie-sama hampir tidak terluka sama sekali, dan dia hampir tidak menggunakan Skill apapun. Dia tidak terlihat dilemahkan sama sekali. Tidak, dia sedang tidur, jadi bukannya aku bisa bilang, tapi…

Meski begitu, jika Heard bermaksud untuk membunuhnya… dia pasti punya rencana.

Pertama – tama, membunuh tuannya sendiri adalah salah satu wujud Pride.

Jika itu adalah arti di balik kata – kata Heard yang tak bisa kupahami, maka aku bisa paham.

Melanjutkan, setelah peregangan tubuh yang besar, Hiero menghela nafas.

Matanya dipenuhi kejengkelan dan terwarna dengan warna yang tidak pantas untuk penampilan mudanya.

“Aku telah bertaruh dengan diriku sendiri, kau lihat. Aku memang seorang Iblis Pride sama sepertinya, tapi tanpa hubungan dengan itu, aku bertaruh Heard-san akan kalah. Well, itu hanya insting, jadi jika Heard-san berhasil mendapatkan kemenangan, maka aku akan membunuh Medea-san di sini. Kusu kusu kusu… sebenarnya, aku adalah seorang rekan yang kuat untuk dimiliki tahu.”

“… Begitu ya.”

Yang satu ini tidak baik. Dia adalah sampah alami.

Tapi dia telah menyelamatkan nyawaku juga merupakan fakta. Aku memutuskan untuk tidak menyuarakan pendapatku.

Aku berdiri, dan menggerakkan tubuhku. Sihirku kurang lebih kosong, tapi rasa sakitnya hilang.

Lukaku telah dipulihkan secara menyeluruh.

“… Maka mengapa kau menyembuhkanku secara total? Kau bisa membuatnya sehingga aku hanya nyaris bertahan hidup, atau semacamnya…”

Bahkan jika dia tidak memulihkan Manaku, seharusnya ada perbedaan kemampuan antara aku dengan Hiero.

Jika dia menyembuhkanku secara total, kemungkinan aku akan kabur tinggi.

Pada pertanyaanku, Hiero melemparkan jawaban riang.

“… Itu~ karena~ dalam delapan dari sembilan kemungkinan, Leigie-sama akan menang! Heard-san memang kuat bukan kepalang, tapi… kekuatan Leigie-sama tidak masuk akal. Pride sangatlah lemah terhadap yang tidak dikenal… jika musuhnya dilemahkan, dia mungkin akan bisa melaluinya, tapi Leigie-sama adalah Penguasa Iblis Tingkat Ketiga. Akan menjadi akhir saat dia memunculkan sebuah skill yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya, bukan? Pastinya.”

Lagi, kata – kata yang pahitnya dapat dikagumi. Tapi sebagai seorang Pride sepertinya, kata – katanya memiliki kekuatan yang meyakinkan.

Aku diremukkan hingga mati dengan kekhawatiran, dan di samping Hiero, aku mengawasi sudut.

… Bantal, hasrat, apa yang harus kulakukan.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 6 Part 3: Aku Ingin Menjadi Dirimu Daraku no Ou Chapter 7: Kesombongan Superbia, Part 1: Kepada sang Penguasa Iblis Agung→

Leave a Reply