Daraku no Ou Chapter 7 Part 3: Betapa Pas untuk Curtain Call

Rilis rutin hari Senin Selasa, maaf atas keterlambatannya, kemarin internet bermasalah entah kenapa.

Daraku no Ou Chapter 7 Part 3: Betapa Pas untuk Curtain Call

Diterjemahkan oleh Aftertolv

Disunting oleh KenMashiro

Selamat membaca!

Part 3: Betapa Pas untuk Curtain Call[1]

Skill – skill Sloth membanggakan kekuatan dengan ruang lingkup yang luas.

Tapi di saat yang sama, juga dikatakan bahwa sangatlah sulit untuk mendapatkan dosa Sloth.

Pertama – tama, selama mereka bisa memenuhi Dosa mereka tanpa bertarung, skill – skill yang mereka peroleh hampir tidak akan pernah sesuai untuk bertarung.

Aku mengisi tubuhku dengan kekuatan. Fakta bahwa Leigie telah menghancurkan sang Raja Gluttony dengan mudah hanya semakin meningkatkan kekuatanku.

Kaki yang menyokong ranjang besar berkanopi itu patah.

Pada saat ranjang itu goyah karena kehilangan keseimbangan, aku mengeluarkan sebuah teriakan yang menyayat seraya menusuk maju.

Tinjuku mendarat di kepala Leigie dengan mudahnya. Suara retakan sesuatu yang sedang patah terdengar.

Benturan itu membuat pilar – pilar yang menyokong kanopi ranjang melayang, dan tubuh Leigie terhempas layaknya secarik kertas.

Suara menggelegar.

Seluruh bangunan berguncang hebat. Seakan Kastil Bayangan sedang menjerit.

Kekuatan ekstra pelindung anti-Lize hancur dengan mudah, dan bahkan dinding itu sendiri hancur. Terlebih lagi, bukan hanya satu atau dua dinding.Dalam lubang yang menganga, aku melihat kegelapan yang tak terhalang. Di sekitar kamar Leigie, tidak ada ruang piribadi lain.

Aku memainkan sisa – sisa ranjang dengan kakiku.

Kondisiku sempurna. Tidak ada yang menghalangiku dari memenuhi Pride-ku. Kekuatan yang membengkak di sekujur tubuhku adalah kompilasi seluruh penelitianku sendiri, juga sejarah yang kuhabiskan bersama Tuanku yang terkumpul.

Aku mengambil nafas dalam, dan menghembuskannya.

Aku tidak boleh memberi Sloth watku.

Aku menjejak lantai. Kecepatanku mencapai klimaksnya dalam sekejap.

Kecepatan yang lebih cepat dari siapa pun juga.

Kekuatan yang lebih kuat dari siapa pun juga.

… Demi terbang lebih tinggi dari siapa pun juga.

Demikianlah Dosa Asal Superbia.

Senjata tidaklah diperlukan. Tubuhku sendiri adalah kesempurnaan.

Gambar – gambar mengalir melalui penglihatanku dalam kecepatan suara.

Butuh tidak sampai sedetik bagiku untuk mencapai Leigie yang tergeletak di lantai yang jauh.

Dengan momentumku, aku menendang kepalanya. Tidak ada perlawanan. Dia menghindar. Tidak, dia menghilang.

Skill Teleportasi yang dimiliki oleh Sloth. Sebuah skill yang membuatnya mampu memindahkan dirinya sendiri kemanapun dalam wilayahnya sendiri.

Keberadaannya di belakangku. Sebelum aku bahkan merasakannya, tubuhku bergerak.

Sebuah tendangan atas yang membawa seluruh momentumku maju. Ujung kakiku bertumbukan dengan kepala Leigie.

Aku paham. Pikiranku paham. Berapa tahun, milenium, megaannum. Sebagai hasil pelayananku kepadanya, membaca pergerakan Raja Pemalas yang tak dapat dipahami sudah menjadi mungkin buatku.

Teori yang tak bisa dibaca dibalik tindakannya hanya diketahui olehku.

Kekuatan fisikku menghancurkan langit – langit, dan sebuah lubang besar terbuka. Puing – puing sebesar kepalaku mulai berjatuhan.

Tubuhku menjadi berat. Ini adalah sebuah skill untuk mengubah Dambaan seorang Iblis menjadi berat, dan mengikatnya. Sebuah Skill Sloth.

Aku sudah tahu itu. Aku mengaktifkan 『Overrule』, dan menjebolnya tanpa ada masalah.

Apa yang mengerikan adalah kekukuhannya, daya tahannya.

Aku seharusnya telah memberi kerusakan yang cukup sehingga tidak aneh jika seorang Penguasa Iblis biasa terbunuh karenanya, tapi VITnya yang membuatnya bisa mengaktifkan sebuah skill tanpa masalah adalah ciri khas Sloth.

Maka aku hanya harus memukulnya dengan kekuatan yang bahkan lebih besar lagi secara langsung.

“… Sakit…”

Sebuah suara pelan keluar dari lubang yang terbuka.

Aku memusatkan kekuatanku.

Terlibat dalam pertempuran jarak jauh dengannya adalah hal bodoh. Aku menusuk tanah dengan kakiku, dan memusatkan kekuatan di intiku.

“Aku datang.”

Dengan lompatanku, pelindungnya hancur, dan lantai runtuh di bawahku.

Aku memuati tubuhku dengan kekuatan ledak, dan meloncat melalui lubang di langit – langit.

Apa yang memasuki mataku adalah sosok Leigie yang terkubur dalam sebuah gunung puing – puing. Dia mengeluarkan air mata, seraya memegangi kepalanya. Cederanya telah pulih.

Melihatku mendekat dalam sekejap, dia menunjukkan raut wajah terkejut. Seperti biasanya, nafsu membunuh, rasa haus darah, atau apapun yang bisa disebut semangat bertarung benar – benar tidak ada padanya.

“HaaAAAAAAAH!”

“Ku…”

Teriak. Raung.

Menggunakan seluruh kekuatan dalam tubuhku, aku melancarkan sebuah serangan.

Raut wajah Leigie berubah untuk pertama kalinya. Secara bersamaan, sebuah dinding yang tak terlihat muncul di sekitar tubuhnya.

Sebuah Skill Sloth untuk mendirikan sebuah pelindung yang meningkatkan pertahanan.

Tak berguna. Aku sudah tahu yang satu itu.

Saat tinjuku mengenainya, tanpa perlawanan, pelindung itu pecah layaknya kaca.

Selama aku telah meng-Overrule-nya sebelumnya, menggunakan sebuah pelindung adalah puncak kebodohan.

Jantungku mensirkulasi panas di sekujur tubuhku.

Sebelum tinjuku mampu menyentuh dagu Leigie, sosoknya lenyap.

Betapa merepotkannya Skill ini. Tapi seorang Sloth yang bergerak adalah sebuah kontradiksi.

Penggunaannya adalah salah satu faktor yang membuat Slothnya melemah.

“… Apa aku melakukan sesuatu padamu?”

Tidak perlu bertanya. Mustahil percakapan kita akan nyambung.

Aku mengayunkan tanganku naik pada suara yang datang dari sisiku.

Leigie menggunakan tangannya untuk bertahan.

Aku mendengar tulang – tulangnya berdecit.

Di antara Skill – skill Sloth, ada satu skill untuk mematikan reaksi mereka terhadap rasa sakit yang sudah lambat sejak awal. Raut wajah Leigie tidak terlihat tersakiti lagi.

Dan bahkan jika aku memang melukainya, dengan daya tahan Leigie-sama, dia akan memulihkannya dalam sekejap.

“Ayah, tolong istirahat saja sudah.”

“… Yeah.”

Dengan mata yang mengatakan, ‘Apa – apaan yang dibicarakan pria ini,’ dia mengangguk.

Dia tidak mendengarkan. Kita tidak bisa berkomunikasi.

Dengan pijakan yang tidak stabil ini, menendang akan sulit. Pada tinjuku yang terkepal, aku menggunakan sebuah Skill penguat tubuh sebelum melayangkannya.

Leigie menyiapkan lengannya untuk menerimanya.

Tidak ada teori bertarung di balik Leigie dari Sloth. Kesederhanaan teknik serangannya menggelikan.

Itu adalah… penekanan dengan kekuatan murni.

Kekuatan yang cukup kuat untuk merobek seorang Penguasa Iblis biasa… sebuah onggokan Jiwa.

Di dalamnya, teknik biasa tidak ada artinya, dan dia tidak berpikiran untuk menggunakan teknik – teknik semacam itu.

Dengan setiap pukulan, lengan Leigie mengeluarkan bunyi yang mengerikan.

Aku mendesaknya mundur.

Tapi tidak ada derita di wajahnya, dan meski aku bisa memaksanya menggunakan kekuatan dengan pukulan selevel ini, ini tidaklah cukup untuk melancarkan pukulan yang menentukan.

Dia terlalu keras. Tapi aku sudah tahu itu sejak awal.

Fakta bahwa aku mendesak sang Penguasa Sloth mundur membantuku memeperkuat 『Overrule』ku lebih jauh lagi. Kekuatan mengalir naik dari kedalaman tubuhku.

Dan akhirnya, tendanganku menjebol pertahanannya, dan Leigie terhempas melalui lapisan terakhir langit – langit.

Langit merah darah, dan struktur hitam Kastil Bayangan… benteng membentang sejauh pandanganku.

Sekali sehari, aku meluangkan waktu untuk mengawasi dari puncak menara. Kita tidak berada setinggi menara sekarang, tapi pemandangan dari atas sini bukanlah sesuatu untuk ditertawakan.

Aku selalu merasakan kepasrahan pada fakta bahwa pemandangan ini akan runtuh suatu hari nanti.

Para prajurit yang sedang berjaga buru – buru datang berlarian kepadaku setelah mendapati langit – langit jebol.

“A-apa yang tejradi, Heard-sama?”

“Tidak perlu bagi kalian untuk mencemaskannya. Kembali ke pos kalian.”

“Y-ya. Siap, jelas pak!”

Semuanya hanya obrolan kecil semata.

Aku mengawasi benteng tanpa tergesa – gesa, sembari mendekat ke arah Leigie yang sedang jatuh.

“Ayah, tidakkah kau pikir ini begitu indah?”

“… Yeah.”

Tanpa bahkan melirik sekelilingnya, alasan di balik jawaban – jawabannya adalah sesuatu yang tak akan pernah kupahami.

Jadi ini hanyalah kepuasan diri.

Mata curiganya, pupil keruh hitamnya menatap naik ke arahku.

Mata tanpa ekspresi. Mata seekor ikan mati.

Aku mengeraskan telapak tanganku untuk membuat bentuk pisau dengannya.

“Selanjutnya, aku akan memotong.”

“… Aku menyerah.”

“……”

Semua ini adalah sesuatu yang terlalu sering kulihat.

Kelakuan itu, dibodohi oleh sikap lemahnya, lusinan Penguasa Iblis telah tumbang.

Tapi untukku, Aku, putranya, adalah satu – satunya yang paham. Pria ini benar – benar mampu entah bagaimana melalui kesulitan saat dibutuhkan.

Dia tidak membutuhkan semangat bertarung atau nafsu membunuh. Hanya agar dia bisa bermalas – malasan lagi, Leigie menggunakan kekuatannya.

Maka dari itu, dia belum kabur. Meskipun dia bisa saja melompat jauh dengan teleportasinya sekarang.

… Itu karena dia pikir lari dariku tidak ada artinya.

Biarlah.

Demikianlah apa yang menandainya sebagai sang Penguasa Sloth.

Dia tak ingin bertarung, tapi aku merepotkan, jadi dia akan mencoba untuk meremukkanku.

Tujuan busuknya yang mengalahkan Semangat Bertarung kebanyakan Iblis adalah bukti hasratnya.

Perbedaan antara dia dengan apa yang sebagian besar orang pikirkan tentang Sloth adalah apa yang telah membuat banyak Iblis, Penguasa Iblis tumbang. Aku selalu memperhatikan aspek itu darinya dengan sangat teliti.

Bahkan saat ini, kekuatan Leigie sedang menurun perlahan. Dia telah mengumpulkan cadangan yang luar biasa besar, sehingga sulit untuk disadari, tapi meskipun kekuatannya terlihat hampir tak terbatas, kekuatannya sama sekali tidak tidak terbatas.

Jika aku mundur di titik ini, dan menantangnya lagi setelah kondisiku sempurna sekali lagi, aku berani taruhan aku akan mampu mendapat keunggulan yang bahkan lebih besar lagi terhadapnya.

Tapi pilihan itu mustahil. Pergi untuk mendapat keunggulan?

Mengapa aku harus mundur untuk alasan remeh seperti itu!?

“… Hm, kau tidak perlu menawariku pelayanan itu. Mustahil aku akan kalah bagaimanapun juga.”

“… Yeah, kaulah yang terkuat.”

Matahari Dunia Iblis yang berapi – api menyinari kami dengan cahaya merah darahnya.

Itu adalah pemandangan yang sudah ada sejak saat aku diciptakan, dan secara bersamaan, itu adalah adegan yang Leigie telah pandang jauh sebelum itu.

Leigie bicara dengan suara kepayahan.

Secara bersamaan, gumpalan kekuatan menimpaku dari langit.

『Sky Right Hand』 dan 『Sky Left Hand』.

Sebuah kekuatan telekinesis yang bekerja berdampingan dengan lengannya. Itu adalah skill tak berguna yang digunakan untuk mengambil benda tanpa harus bergerak, tapi daya ledaknya adalah suatu ancaman saat mereka mencoba untuk meremukkanku.

Tapi gumpalan kekuatan itu terurai. Aku telah meng-『Overrule』 skill itu sejak lama. Persiapanku sempurna.

Leigie mengernyit secara terang – terangan.

“… Ini merepotkan.”

“… Hm, kupikir kau terlalu main – main dengan hidupmu, Ayah.”

Sepertinya dalam hidupnya yang tak terukur panjangnya, ini adalah salah satu kali pertama dia mendapati salah satu Skillnya ditiadakan.

Aku sebaliknya. Karena 『Superbia』 adalah urusan kesombongan, aku sudah tahu kebanyakan skill. Musuh yang kulawan sering mencoba membuat rencana untuk melawanku, tapi aku mampu menghancurkan mereka semua secara langsung.

Ayah telah menghidupi kehidupan begitu saja tanpa tujuan. Kebenaran yang begitu tak berguna.

Hanya dalam satu langkah, aku membuat kontak dengannya. Aku menginjak kepalanya. Ada perlawan. Ada, tapi dia masih belum remuk.

Aku menempelkan tanganku ke bahunya.

Rasanya tumpul, seakan aku sedang memotong logam. Tingkat kekerasannya membuat telapak tangankulah yang retak kali ini.

Sebuah sensasi yang basah dan dingin. Leigie menatapku dengan mata tanpa makna, dan melihat bahunya, dia mengeluarkan jeritan pendek.

Berhasil. Aku mampu menembus pertahanannya.

Aku mengangkat tanganku dari lubang di bahunya, dan mengibaskan darah di tanganku sebelum memulai rentetan serangan beruntun.

Leigie menghilang, tapi jiwaku yang ditempa melalui pertarungan membuatku merasakan lokasinya selanjutnya dalam sekejap.

Sepuluh meter di belakang. Itu adalah jarak yang bisa kutempuh dalam sekejap mata.

Sambil berbalik, aku menerjang dengan tangan pedangku.

Tanganku menembus lengan siap Leigie, dan darah segar beterbangan.

Lamban, Terlalu lamban.

Dia mungkin bisa mengikutiku dengan matanya. Tapi tubuhnya yang jarang ia gerakkan tak mampu menghindar.

Selama dia tidak menggunakan teleportasi dengan harga energi yang tinggi itu.

Aku meniadakan 『Sky Hand』 yang dia kirim tepat kepadaku.

Untuk masih mencoba menggunakannya setelah sampai di titik ini, apa dia benar – benar tidak punya skill ofensif lain?

Sepertinya benar. Skill seorang Iblis memiliki aturan. Mustahil untuk berspesialisasi dalam penyerangan dan pertahanan secara bersamaan.

Dan skill – skill Sloth dibuat untuk menghabiskan waktu bermalas – malasan. Sebagian besar darinya adalah pasif, dan beberapa bisa dipanggil secara aktif.

Bahkan tanpa merasakan sakit, berpikir bahwa buruk untuk menerima serangan beruntun, Leigie menghilang kembali.

Aku merasakannya. Sejumlah luar biasa banyak kekuatan berpindah ke puncak menara.

Di puncak bangunan tertinggi di Kastil Bayangan.

Tergeletak di puncak atap kerucut, mata Leigie yang memandang turun ke arahku mengantuk, yang artinya dia tidak meninggalkan celah dalam pertahanannya.

Jaraknya beberapa ratus meter. Tapi bagiku, jarak itu mendekati Nol.

Detik aku akan meloncat ke arahnya, suara pecah aneh terdengar ke seluruh penjuru benteng.

Sebuah benda coklat berdiri.

Apalagi ekspresi, kepala coklatnya bahkan tidak memiliki mata, hidung atau mulut.

Badan panjang dan rampingnya, juga tangan kaki panjangnya semuanya terbuat dari bahan semacam debu, dan dengan melihat tubuhnya sekilas, mudah untuk dilihat bahwa benda itu dibuat untuk menyerupai sosok manusia.

Tak peduli seberapa luas Dunia Iblis, aku ragu ada seorang Iblis yang berbentuk seperti ini.

Sebuah Skill untuk menciptakan sebuah Boneka yang tumbuh.

The skill that constitutes the reason Leigie’s title is Slaughterdolls.

Skill yang merupakan alasan julukan Leigie adalah Slaughterdolls.

『Slaughter Doll』.

Aku mengingat diriku sendiri saat aku baru saja terlahir, dan mengernyit.

“… Hm, tak berguna.”

Mustahil sebuah Boneka baru lahir yang dibuat oleh Leigie yang terdesak akan menjadi tandinganku.

Bahkan jika…

Aku mengawasi pasukan boneka sedang dibuat di sekitarku tanpa emosi atau rasa sakit apapun.

… jumlah mereka melampaui seratus.

Aku menghujamkan tanganku ke Boneka terdekat, dan membelahnya menjadi dua.

Ada sedikit perlawanan, tapi aku bahkan tidak perlu menghindar melawan benda – benda setingkat ini.

Aku memastikan zat coklat yang tersisa di tanganku.

“… Debu… tidak, sebuah Boneka dengan pasir sebagai dasarnya…”

Dia kemungkinan menggunakan bekas – bekas pasir yang telah menumpuk di puncak benteng sebagai dasar untuk menciptakan mereka.

Sungguh, untuk bisa melahirkan sebanyak ini sekaligus adalah sebuah ancaman.

Tapi baginya untuk menghabiskan kekuatannya untuk sebuah skill yang begitu tak berguna adalah sebuah opsi yang kupikir tidak akan dia pilih.

Bahkan jika skill inilah satu – satunya yang tersisa buatnya.

Aku melihat naik ke arah Ayah yang berdiri di langit yang tinggi.

“… Ayah, apakah ini perjuangan terakhirmu…?”

Telah dilahirkan duluan, mustahil aku akan kalah.

Jika kau menambahkan sifat 『Superbia』, maka apalagi.

Boneka tanah liat yang menyerbuku benar – benar cepat, dan kekuatan mereka tidaklah lemah.

Tapi itu saja. Tanpa hasrat apapun, dan tanpa pengalaman.

Tapi tetap saja, meremukkan sebanyak ini sungguh merepotkan.

Aku menutup mataku, dan mengaktifkan sebuah skill.

『Hard Pressure』

Sebuah skill Pride kelas atas.

Ini adalah skill tidak berguna untuk memaksa orang lain berlutut. Tapi ini berguna untuk menghabisi yang lemah.

Tak mampu menahan tekanannya, Boneka – boneka yang tak terhitung jumlahnya jatuh ke tanah.

Aku menginjak kepala Boneka terdekat, dan meremukkannya.

Betapa tak bergunanya. Ataukah dia pikir jumlah itu akan mampu mengalahkanku?

“… Aku akan ke atas sebentar lagi, Ayah.”

Aku menaruh kekuatan ke kakiku. Aku mensirkulasi sihirku. Aku melancarkan tendangan kuat ke jalan batu.

Kemampuan fisik yang perkasa. Boneka – boneka tanah liat menyedihkan yang bersujud di tanah dan segala lainnya di bumi meninggalkanku, dan pandanganku melayang dalam sekejap.

… Dahulu kala, aku berhasil membuat diriku mampu terbang kemana saja.

Bahkan jika Ayah tidak membantuku.

Aku menggenggam ujung runcing menara, untuk menghabiskan momentumku dan menempelkan kakiku ke genteng.

Leigie yang tergeletak menyerang ke arahku dengan pergerakan cepat yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tapi bahkan itu terlalu lamban.

Pada saat itu, tanganku telah menembus dada kiri ayah… jantung seorang Iblis, tempat di mana Inti Jiwanya bersemayam.

Mata Leigie membelalak kaget, seraya melihat dadanya.

“Selamat malam, Ayah. Serahkan sisanya padaku.”

“… Yeah…”

Tanganku telah meremukkan jantungnya.

Abyss Zone-nya pudar.

Saat aku melepaskan tanganku, sang Penguasa Kebejatan jatuh ke tanah.

Dan seperti daun kering, dia mulai jatuh ke dasar menara.

Aku telah meng-Overrule-nya. Tapi aku tidak merasakan keberhasilan sedikitpun.

Setelah memenuhi bagian terakhir 『Pride』ku, naluriku memberitahuku bahwa aku akhirnya telah mencapai Level Penguasa Iblis.

Setidaknya, sekarang, biarkan aku mendoakan sang Raja Pemalas yang Agung.

Demikianlah, aku akan menguasai segalanya, dan mempersembahkannya kepada mendiang Tuanku.

Tidak ada yang lebih pantas untuk curtain call.

[1]Bagian akhir dari pentas di mana para pemain teater muncul kembali.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 7 Part 2: Setidaknya Tetaplah Agung Daraku no Ou Chapter 7 Part 4: … Betapa Tak Berguna→

1 comment

Mantab gan lanjut terus

Leave a Reply