Daraku no Ou Chapter 7 Part 4: … Betapa Tak Berguna

Rilis kedua (tambahan) minggu ini, anggap saja karena minggu kemarin tidak ada update.

Daraku no Ou Chapter 7 Part 4: … Betapa Tak Berguna

Diterjemahkan oleh Aftertolv
Disunting oleh KenMashiro

Selamat membaca!

Part 4: … Betapa Tak Berguna

Di dunia ini, segalanya hanyalah masalah sepele.

Gadis kecil Kanon itu menjadi sang Raja Iblis Agung pasti merupakan akhir dunia, dan dengan dia mencoba untuk menekan bukan hanya Surga, tapi bahkan juga Dunia Iblis, situasi ini benar – benar yang terburuk.

Bagiku, yang bahkan menumbangkan Tuanku yang Agung, mereka bukan tandinganku. Sudah jelas.

Kalau sekarang, maka bahkan Tuhan bisa tumbang di tanganku.

Aku mengepalkan telapak tanganku. Kekuatanku telah bertambah.

Tree Prideku yang telah berhenti karena aku tak mampu menjadi seorang Penguasa Iblis tiba – tiba mengalami pertumbuhan yang mengerikan.

Memperbesar persepsi. Skill baru yang kuperoleh, 『Abyss Zone』 seketika menyebar untuk melingkupi Kastil Bayangan yang telah kehilangan tuannya.

Berbeda dengan Acedia yang Ayah lepaskan, sebuah kekuatan Superbia yang seakan mendesak orang dari atas.

Tapi di dalamnya, aku tidak merasakan kemuliaan atau apapun. Bahkan tidak ada perasaan berhasil.

Meskipun seharusnya tidak ada yang berdiri di atasku lagi.

“… Hm, segalanya tak berguna, begitu ya.”

Dalam Dunia Iblis ini, tidak ada satupun tandingan bagiku.

Bahkan yang terpilih sebagai Penguasa Iblis terkuat, Kanon dari Kehancuran… buatku yang telah mengenalnya sejak dia kecil, aku ragu dia mampu menyaingiku. Untuk Prideku, itu adalah sebuah keunggulan yang besar.

Iblis – Iblis yang kulewati menatapku, dan berlutut seraya menundukkan kepala mereka.

Gerombolan tak berguna. Bahkan tanpa meneruskan hasrat – hasrat mereka, mereka adalah orang – orang bodoh yang memuaskan diri mereka hanya dengan apa yang diberikan pada mereka oleh orang lain.

Setelah memenuhi keangkuhanku, aku hanya punya satu tempat untuk dituju.

Aku berjalan ke Ruang Tahta sang Penguasa. Singgasana yang belum pernah diduduki siapapun sebelumnya berdiri di sana dalam diam.

Logam yang benar – benar langka, bahkan dalam Dunia Iblis telah dikerjakan dengan mahir oleh para seniman selama berbulan – bulan dan bertahun – tahun untuk mendirikan singgasana hitam legam itu.

Aku berani taruhan singgasana ini dibersihkan secara rutin. Di tempat itu tanpa setitikpun debu, seakan ia sedang tidur seperti ayah, udara dipenuhi suasana yang tenang dan sunyi.

Tanpa ragu – ragu, aku mendudukkan diriku ke singgasana yang belum pernah diduduki sama sekali. Singgasana itu hanya keras, dan dingin.

Aku tidak memiliki musuh yang seimbang dalam Dunia Iblis ini. Aku juga tidak punya niatan untuk membully si gadis kecil Kanon itu.

Aku menaruh sikuku di sandaran lengan, dan berpikir.

“Jika tidak ada apa – apa buatku di Dunia Iblis ini… maka haruskah aku menginvasi Surga…”

Aku mengingat sayap putih bersih, kecil, dan penuh kebencian milik garda depan Tuhan.

Dari dasarnya, mereka memiliki superiority complex terhadap para Iblis. Aku akan menghancurkan mereka secara langsung. Setidaknya itu akan membantuku mengisi waktu.

Dan bahkan di Surga, itu akan berkumandang ke segala penjuru.

Namaku. Dan nama sang Raja Agung dari Kebejatan.

Pintu terbuka dengan kasar.

Yang masuk adalah seorang Iblis berambut kirmizi dengan nama Lize Bloodcross. Secara bersamaan, seperti Kanon dulunya, dia adalah wanita yang merupakan inspektor Ayah.

Tatapan berapi – apinya seperti inkarnasi api yang mengamuk, dan penampilannya seperti jiwa yang marah.

Dia adalah seorang Iblis perempuan bodoh yang, dari segala hal, meminta seorang Superbia sepertiku untuk mengampuni nyawa Deije dan Medea, yang telah gagal dalam misi mereka.

“…! Heard Lauder. Apa artinya…”

“… Hm, Ayah telah binasa.”

“Binasa!? Leigie dari Sloth!? Apa yang mungkin…”

Dia adalah wanita yang mengatakan hal – hal tak berguna.

Mustahil ayah bisa ditaklukkan oleh eksistensi selain diriku.

“Aku membunuhnya. Beritahu gadis kecil Kanon itu. Otoritas Leigie-sama… akan diteruskan olehku.”

Aku menggunakan Evil Eye.

Tubuh Lize menjadi kaku.

Begitu, jadi ini 『Evil Eye』. Ini adalah kali pertama aku menggunakannya, tapi betapa tidak bergunanya Skill ini.

Menundukkan pasukan lawan hanya berarti jika dilakukan dengan tangan sendiri.

“Kau… seorang Penguasa Iblis!? Gu… Heard Lauder. Mungkinkah dengan membunuh Tuanmu…”

Membunuh tuannya sendiri. Itulah hasrat terpendam Superbia.

Pride menjadi pride dengan menundukkan segala yang superior bagi mereka.

“Kau adalah seorang wanita lamban, ya. Itulah yang baru saja kubilang padamu. Tidak akan ada kali kedua. Pergi beritahu Kanon. Jangan bawa masalah ke tanganku.”

“… Mengapa Leigie-sama… pada orang semacam kau…”

Betapa keras kepalanya wanita ini.

Aku berdiri, dan menggunakan sebuah Skill.

Skill skill yang kuperoleh begitu mencapai Kelas Penguasa pasti akan berguna dalam perang yang akan datang. Tidak ada ruginya berlatih menggunakan mereka.

Pikiranku semakin cepat. Dunia berhenti sejenak.

Tubuhku ringan.

Dalam satu langkah, aku mendekatinya, menggenggam lehernya, dan mengangkatnya.

Baru pada saat lehernya tercekik Lize menunjukkan keterkejutannya untuk pertama kalinya.

“Gu… ap… per…”

“Aku bilang padamu tidak ada kali kedua… Hm, untuk menjadi inspektur kepala pada tingkat ini, kualitas mereka pasti telah menurun seiring berjalannya waktu.”

Rapuh. Jauh terlalu rapuh. Dibandingkan dengan Leigie-sama, betapa rapuhnya dunia ini?

Jika aku menaruh sedikit kekuatan saja, rasanya segalanya akan remuk.

Wajah Lize terwarna ungu. Api Wrathnya menjilat lenganku, tapi bagiku yang bahkan telah meng-Overrule api Kanon, mustahil itu akan bekerja.

… Hm, tak berguna. Bahkan tak ada nilainya membunuhnya.

Dengan satu tangan, aku melemparkannya ke dinding. Aku memastikan untuk menahan diri. Aku ragu dia akan mati karena itu.

Kau masih memiliki tugas penting untuk melaporkan kata – kataku kepada Kanon.

Segalanya bergerak lamban.

Ini adalah salah satu Skill milik Penguasa Iblis Pride.

『The Only Lord』

Skill ini meningkatkan kecepatan persepsi seseorang secara drastis, untuk membuat dunia menjadi milikmu.

Itu adalah wilayah terjauh pride yang berarti karena aku telah melatih tubuhku sampai ke level ini.

Aku duduk kembali ke singgasana, dan Lize membentur dinding terjadi hampir bersamaan.

Ruangan berguncang hebat, dan kerikil berjatuhan dari atas.

Kastil Bayangan adalah, dalam dirinya, mausoleum milik ayah.

Aku harus memperbaiki dan merenovasinya. Menggantikan sebuah benteng, sebuah istana yang megah.

Aku juga harus mengatur ulang pasukan.

Medea dan Deije tidak di sini lagi.

Tentu saja, juga ada opsi aku meneruskan seorang diri.

Alasan adanya tiga brigade adalah karena ayah tidak pernah pergi sendiri.

“… Dunia ada di tanganku, bukan?”

Seberapa berharganya dunia?

Jika aku mendapatkan segalanya, akankah aku memahaminya? Apa sih yang dipikirkan Raja Iblis Agung Superbia tua saat dia mencoba mendapatkannya?

Kedengarannya bagiku seperti gagasan yang benar – benar tak berharga, tapi biarlah.

Menguasai seluruh dunia, dan membuat namaku terkenal di seluruh penjurunya tidak terdengar buruk sebagai tujuan sementara.

“… Heard-sama…”

“Masuk.”

Sebuah ketukan pelan datang dari pintu. Aku sudah mengenal eksistensi ini. Persepsi seorang Penguasa Iblis jauh lebih luas dari milik seorang Iblis biasa. Tapi bahkan jika aku bukan seorang Penguasa Iblis, aku kemungkinan sudah menyadarinya.

Itulah seberapa gembiranya kehadiran itu.

Yang masuk dengan wajah sedikit kaku adalah Hiero.

Seorang Iblis Pride. Adik perempuan Lorna dari Lust, dan seorang wanita yang mengejar pride dengan jalan yang berbeda dariku.

Mungkin karena pintu terbuka, atau karena sebuah lubang telah dibuat di dinding, udara dingin merayap masuk.

“… Kau menghancurkan Leigie-sama, bukan?”

“Yeah, Leigie-sama kuat.”

“… Selamat, Yang Mulia Penguasa Iblis. Hamba, Hiero melayani yang mulia dengan segala kemampuan hamba.”

“… Hm, sudahi omong kosongnya. Ada urusan apa kau denganku?”

“Y… ya!”

Ekspresinya pucat seraya dia berlutut, dan ada air mata tergenang di matanya. Bahkan tanpa melihatnya, aku bisa bilang tangan dan kakinya gemetar.

Ketakutan… ya?

Iblis yang tak berguna. Bahkan jika kau menghormati yang kuat, jika kau tetap takut, kau tidak akan pernah bisa meng-Overrule mereka.

Itu adalah satu – satunya tabu dalam Pride.

“Kenyataannya… well…”

“Buat menjadi singkat. Kau tidak akan mendapat kesempatan lain.”

“… Medea kabur.”

“… Begitu.”

Aku memelototi Hiero. Betapa tak bergunanya wanita ini.

Untuk membiarkan seorang Iblis Envy yang telah dilemahkan sampai sedemikian rupa kabur, betapa rusaknya dia?

Aib. Itu adalah amalan yang paling tak termaafkan bagiku. Ini tidak berubah bahkan jika orang itu adalah seorang Iblis Pride sepertiku.

Aku berdiri di depannya.

Aku memahami arti sebenarnya ketakutan di wajahnya.

Aku telah melihatnya tak terhitung berapa kali dalam hidup panjangku… mata mangsa saat mereka melihat sang predator.

Seorang wanita pintar.

Dia berpikir jauh lebih baik dari saudarinya.

Dan dia kemungkinan benar.

Jika dia mencoba untuk kabur karena kegagalannya, bahkan jika dia melarikan diri ke neraka yang paling dalam, aku akan mengejarnya dan membunuhnya.

Membunuhnya dengan segala niatanku. Membantainya dengan mengerikan. Membuatnya menyesal telah dilahirkan.

Tapi karena dia melaporkannya sendiri, aku akan menguburnya dalam sekali pukul.

“Mari dengarkan kata – kata terakhirmu.”

Apa yang kembali dari bibir Hiero bukanlah permohonan untuk diampuni.

Dengan suara gemetar, dia melihat ke arahku.

“… Tolong beritahu aku satu hal saja. Setelah meng-overrule bahkan Leigie-sama, apa yang tersisa untuk anda lakukan, Heard-sama.”

“… Hm, sudah jelas, bukan? Aku akan…”

… Mengambil dunia di tanganku, dan membuat nama Leigie-sama terdengar jelas di segala penjurunya.

Saat aku akan mengatakannya, Hiero mengeluarkan bersin ringan.

Aku mengerutkan alisku. Melihat ekspresiku, dia buru – buru minta maaf.

“A-aku benar – benar minta maaf. Hanya saja… sekarang sangat dingin…”

Hiero menggenggam lengannya, dan bukan karena ketakutannya padaku, tubuhnya bergemetar.

Memang dingin. Sebelum aku menyadarinya, es sudah mulai melapisi lantai. Suhu ruangan sudah jauh di bawah titik beku.

Lubang di dinding cukup jauh, dan sampai beberapa saat yang lalu, seharusnya tidak sedingin ini.

Ini jelas – jelas sebuah situasi yang abnormal.

“… Aneh. Apa yang terjadi.”

Aku melihat mundur ke beberapa juta tahun eksistensiku, aku tidak berpikir sesuatu seperti ini pernah terjadi sebelumnya.

Tidak seperti Hiero, sebagai seorang Penguasa Iblis, aku memiliki ketahanan terhadap dingin. Tingkat ini bukan masalah.

Tapi meresahkan jika aku tidak tahu sebabnya.

Hiero bersin sekali lagi, dan melontarkan alasan lain.

“… H-hari ini benar – benar dingin, ya…”

“… Jangan bodoh, mustahil suhu bisa turun serendah ini saat tengah hari.”

Pertama, bahkan Iblis biasa seharusnya memiliki ketahanan yang cukup bagi mereka untuk tidak memedulikan perubahan suhu pada tingkat kejadian alami.

Aku memeriksa ke segala arah dalam Zonaku.

Tapi mencari dengan Skill yang kugunakan untuk pertama kalinya tidak terasa benar bagiku. Semakin jauh aku mencoba mencari, semakin tumpul indraku menjadi.

Cuaca Abnormal? Memang sekarang musim dingin, tapi ini…

Lize akhirnya bangkit dari dinding yang remuk. Rambutnya menempel ke wajahnya karena darah yang mengalir darinya, tapi aku bisa melihat tatapan tajam datang dari sela – selanya.

“Heard Lauder. Aku takkan menerimanya. Untuk membunuh tuanmu sendiri…”

“… Hm, aku tidak pernah berniat membuatmu menerimanya.”

Hak untuk memutuskan ada pada Kanon sendiri.

Dan bahkan jika Kanon tidak menerimaku, maka aku hanya harus menguasai segalanya dan semua akan beres.

Tubuh Lize terbungkus dalam api kirmizi. Es di tanah menguap seketika, dan menghilang ke udara.

Itu adalah Skill Ira Kelas Tinggi.

『Breath of Flame』.

Kekuatan yang tak berguna. Bagimu, yang bahkan belum menjadi seorang Penguasa Iblis, kau bahkan tidak akan bisa menggoresku.

Itulah celah sederhana di antara sihir kita. Kecuali perbedaannya cukup besar, kau tidak bisa membalikkan sebuah Overrule.

Mata kami bertemu. Dibandingkan Kanon, betapa tipisnya Wrath miliknya. Sepele. Wrathmu sangat kekurangan sesuatu yang disebut bobot.

Ke sisi Lize yang Mengamuk, Hiero gemetar seraya berjalan.

Karena posisinya, kukira dia akan meminta bantuan, tapi dia mulai menghangatkan dirinya.

Aku tercengang melihatnya. Lize juga sama. Mata Hiero terbuka lebar, dan dia berjongkok.

“… Apa – apaan yang kau lakukan?”

“… Uu… dingin…”

Sosoknya yang gemetar seraya mengangkat telapak tangannya ke arah api hanya bisa dilihat sebagai lelucon, melihat situasinya, tapi orang ini cukup putus asa.

Meski begitu… suhunya telah turun bahkan lebih rendah lagi dari sebelumnya.

Lize tidak berarti lagi. Aku bisa membunuhnya dalam sekejap, dan serangannya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Kanon yang telah melemah. Aku mampu meng-Overrule-nya.

Tapi hawa dingin ini berbahaya. Itulah apa yang timbunan pengalamanku yang telah dipertajam katakan.

Seraya bergetar, Hiero melihatku.

“… Heard-sama, apa kau melayangkan serangan terakhir dengan benar pada Leigie-sama?”

“Aku meremukkan Inti Jiwanya. Aku yakin dia telah binasa.”

Saat Inti Jiwa jantung mereka telah dihancurkan, seorang Iblis tidak bisa terus hidup.

“Maka mengapa sekarang begitu dingin… pasti ada hubungannya entah bagaimana…”

Aku paham apa yang dia coba katakan.

Biarlah.

Dengan pemilihan waktu ini, tidak mungkin tidak ada korelasinya.

Tapi seharusnya tidak ada Skill Sloth untuk menurunkan suhu. Setidaknya, aku tidak pernah menyaksikan satu selama bertahun – tahun hidupku. Pertama – tama, Hasrat seorang Iblis bisa mengambil wujud Api Wrath, tapi tidak ada varian yang mengontrol es.

Saat aku mulai merengut, aku merasakan sesuatu yang tak dapat dipercaya terjadi.

Seakan sebuah pilar es telah dimasukkan ke tulang belakangku, sebuah tumbukan dingin menjalar naik di tubuhku.

“… 『Zone』ku dipecahkan, katamu…”

“… Kusu kusu, benar kan~ ini karena kau tidak mengantarkan Leigie-sama pergi hingga akhir… achoo.”

“… Kau, aku terkejut kau bisa tertawa pada saat seperti ini…”

Atmosfernya dicat ulang.

Dari udara berat yang menekan… menjadi udara yang beku, gelap dan suram.

Ini tentu bukan 『Acedia』 ayahku yang lazim.

Ini bukan Greed atau Lust atau Wrath atau Gluttony atau Envy atau bahkan Pride.

Wajah Lize berubah.

“A pa… kehadiran ini…”

“Penguasa Iblis apa ini… tidak, apakah dia bahkan seorang Penguasa Iblis?”

Saat aku merasakannya, kakiku mulai berlari ke arahnya dengan sendirinya.

Pandanganku berlalu dengan kecepatan tinggi.

Aku tidak tertarik pada Lize atau Hiero.

Mustahil ketertarikan bisa muncul pada eksistensi yang bisa kubunuh begitu saja.

Tirai keperakan telah diturunkan di Kastil Bayangan.

Salju putih yang menumpuk, dan pilar – pilar es besar yang menjulang bahkan sampai ke langit – langit.

Dan… sosok para pelayan yang diam.

Dengan ekspresi takut yang pucat, tubuh pelayan yang mengeras berguncang.

Dingin… dia telah membeku secara menyeluruh.

“… Hm, ini tidak alami.”

Sihir yang mengintai di sini sama dengan apa yang memecahkan Zonaku.

Sloth dan Greed dan Lust dan Gluttony dan Pride, dan bahkan Wrath yang memiliki api yang sesuai untuk berurusan dengannya, segalanya telah membeku tanpa pandang bulu.

Semakin dekat aku ke gundukan kekuatan itu, semakin rendah suhunya.

Di jalan, aku mengenali seorang Iblis yang tidak asing, dan berhenti sejenak.

Lorna telah membeku dengan ekspresi damai seraya mendorong sebuah troli.

TIdak ada ketakutan di wajahnya. Tanpa diberi waktu untuk takut, dia telah membeku seketika.

Kekuatan yang mengerikan.

Keluaran ini menyaingi api Ira.

Jangkauan ini menyaingi gelombang Gula.

Menarik.

Betapa pantas untuk lawan pertamaku sebagai seorang Penguasa Iblis.

Aku mulai melihat masa depan yang dimiliki kekuatan baruku.

Aku tidak bisa tidak mulai melihatnya berbentuk.

Hiero telah mengatakannya, tapi bagi seorang musuh untuk mampu menggunakan skill dengan keluaran ini, jika kau mengabaikan kemungkinan penyerbu dari luar, hanya ada satu dalam Kastil Bayangan.

Tidak… seharusnya hanya ada satu.

Pintunya yang tertutup telah membeku dengan es biru pucat.

Aku membuka paksa pintu ke kamar Ayah.

Seakan waktu dalam ruangan itu telah berhenti.

Pada pandangan yang memasuki mataku, aku merasakan hatiku sendiri menjadi teraduk – aduk.

Segalanya dilapisi es, dan suhunya bahkan menembus ketahanan dinginku. Dalam negeri beku itu, seorang pria duduk di kursi berlengan dengan lututnya dipeluk erat ke tubuhnya.

Dia adalah ayahku, yang Inti Jiwanya seharusnya sudah hancur. Di sini begitu tenang sehingga aku tidak bisa bilang apakah dia hidup atau mati.

… Aku mencoba melangkah maju, dan secara naluriah menarik kakiku.

Aku melihat turun ke kakiku, dan mataku terbuka lebar.

“… Apa… ini…”

Kakiku telah membeku seluruhnya.

Aku tidak bisa merasakannya. Bahkan tidak ada rasa sakit. Seakan telah diciutkan menjadi materi anorganik, permukaan halus dan berkilauannya menangkap cahaya dalam cara yang tak dapat dipercaya.

Aku mencoba menaruh telapak tanganku di sana. Benar – benar keras, dan dingin. Rasa sakit redup menjalar naik ke tanganku.

Skill tipe ketahanan pada umumnya tumbuh semakin banyak kau menerima luka dari atribut itu. Aku memiliki ketahanan terhadap api Wrath, tapi aku hanya memiliki ketahanan level satu yang rendah untuk es.

Jika kau tanya kenapa… dari skill – skill yang dimungkinkan pada Iblis dari ke-Tujuh Dosa Asal, dari awalnya, tidak ada serangan atribut es.

Aku menghela nafas tanpa kukehendaki.

“Ayah… bagimu untuk menyembunyikan kartu truf separah ini…”

Ini adalah sebuah kekuatan yang tak pernah kuantisipasi.

Nafasku membeku di udara, dan suara pelan terdengar seraya nafas itu jatuh sebagai butiran – butiran kecil es.

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Sebuah dunia keperakan mendekati nol mutlak. Tanpa suara, atau debu atau apapun yang ada untuk menodai udara murni.

Pada saat kaki setengah membekuku telah melangkah maju, es mulai merayap di tubuhku.

Sesuai dugaanku. Suhu di ruangan ini berbeda level dari yang di luar. Wilayah di depan kelihatannya disegel dengan sebuah pelindung.

“… Tapi tidak ada yang lebih cocok bagi dia yang merupakan Tuanku.”

Itu benar. Kupikir aku telah menang dengan terlalu mudah. Kupikir mustahil itu adalah semua yang dia miliki.

Maksudku, saat kelihatannya sudah berakhir, tidak ada satupun luka di tubuhku.

Es yang merayap berhenti.

Seperti aku akan dihabisi oleh sesuatu seperti pelindung saja.

Keangkuhanku saja adalah satu – satunya hal yang telah kubawa denganku ke dunia mati ini.

Tiap kali aku melangkah maju, sebuah gelombang kekuatan membakar kulitku.

Keluarannya tidak kalah sama sekali dari Wrath. Zonanya tidak memperbolehkan perlawanan, dan dunia beku stagnan ini tidak lain adalah dunia sempurna Ayah.

Sebuah dunia kejam di mana kecepatanku atau kekuatanku tidak berarti.

Jika aku tidak mengerahkan seluruh kekuatanku, aku akan berubah menjadi es dalam sekejap. Sama seperti para Iblis di luar.

“… Well, well… betapa tak bergunanya aku…”

Tapi memecahkan segalanya secara langsung adalah Superbiaku.

Rencana tidak diperlukan di depan Prideku.

Ingatanku kembali timbul.

Selalu sendirian, dia yang berdiri di atasku. Pencipta mutlakku.

Tidak peduli seberapa Sloth tindakan dan penampilannya, semuanya tidak relevan.

Ah, betapa kuatnya, betapa cantiknya.

Dalam Dunia Iblis yang luas, dan bahkan surga, mustahil ada sesuatu selengkap ini, secantik ini.

Dan itulah tepatnya mengapa aku memiliki arti.

“… Aku akan melampaui ini.”

Aku benar – benar tidak tahu kapan harus menyerah.

Aku tidak tahu dengan teori apa dia masih hidup saat Inti Jiwanya remuk, tapi sekali lagi, aku akan menenggelamkanmu ke kedalaman Sheol.

Aku menyatakan kepada Tuanku, yang kepalanya ditundukkan ke lutut yang dia peluk erat.

Tangan tak bergeraknya, yang sudah putih, telah melampauinya, dan mereka telah menjadi transparan layaknya es.

Es putih telah turun di rambutnya yang sehitam milikku.

Sosoknya sangat tidak hidup, aku hampir kehilangan ketertarikan untuk menyerang.

Jaraknya setengah meter. Jika aku mengulurkan tanganku, aku bisa mencapainya dengan mudah. Tapi eksistensi fananya adalah eksistensi yang serasa akan hancur jika kusentuh.

Pada saat itu, wajah ayah perlahan naik.

Seperti bola kaca, mata tanpa emosinya melihatku tanpa makna. Kilatan di dalamnya memiliki jauh lebih banyak warna dari sebelumnya, dan matanya terisi keputusasaan yang jauh lebih gelap.

Bahkan buatku yang telah melayaninya selamanya, ini adalah kali pertama aku melihat ekspresi itu.

Dan mulut ayah yang hampir tidak pernah bekerja terbuka sedikit, dan mulai bergerak.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 7 Part 3: Betapa Pas untuk Curtain Call Daraku no Ou Chapter 8: Depresi Melancholia, Part 1: Aku Bertemu seorang Pahlawan→

Leave a Reply