Daraku no Ou Chapter 8: Depresi Melancholia, Part 1: Aku Bertemu seorang Pahlawan

Rilis rutin hari Senin, kita kembali ke sudut pandang Leigie.

Daraku no Ou Chapter 8: Depresi Melancholia, Part 1: Aku Bertemu seorang Pahlawan

Diterjemahkan oleh Aftertolv

Selamat membaca!

Depresi Melancholia

Part 1: Aku Bertemu seorang Pahlawan

Mungkin ini adalah memori tertua yang kumiliki.

Tentang saat aku bahkan belum menjadi seorang Penguasa Iblis, dan aku hanya seorang Iblis Pemalas.

Aku bertemu seorang Pahlawan. Dia adalah seorang Pahlawan dengan rambut perak yang elok, dan kekuatannya… mengingatnya sekarang, aku bisa bilang dia tidak begitu kuat. Anyway, dia memiliki keberanian yang jernih layaknya berlian, dan matanya memiliki kemauan kuat yang terasah layaknya pedang. Sejak kehidupanku sebelumnya, dia adalah benda paling cantik yang pernah kulihat.

Serge sang Silver Blue. Itulah nama sang Pahlawan.

Hanya sedikit lebih kuat dari orang lain, hanya sedikit lebih berbakat, dan secara kebetulan, sedikit lebih berani. Nama seorang gadis yang hanya memiliki itu pada namanya.

Nama seorang pejuang, yang, meskipun yang terbaik yang bisa dia lakukan adalah mengalahkan Iblis tingkat terendah, dia memendam impian gila, dan dia turun ke Dunia Iblis seorang diri.

Dibandingkan dengan manusia, Iblis dalam Dunia Iblis kuat bukan kepalang.

Maka dari itu, seorang gadis remaja yang menantang Dunia Iblis, tanpa perlu diperdebatkan, adalah bodoh, dan mungkin keberuntungannya kelewat bagus baginya untukku menjadi orang pertama yang dia temui. Aku tidak akan bergerak.

Pertarunganku dengan Serge adalah puncak tertinggi kekerasan.

Melawanku, yang tetap tergeletak lemas, sang Pahlawan yang sendirian terus mengayunkan Pedang Sucinya.

Semangatnya, dan kemauannya sangatlah cukup, tapi perbedaan kekuatan di antara kami layaknya langit dan bumi. Serangan – serangan itu hanya mampu menggoresku, dan luka – luka itu menghilang seketika. Aku tidak memiliki Skill apapun yang mampu membunuh Serge, dan tidak juga memiliki kemauan untuk itu, dan kekuatan Serge hanya mampu sedikit melampaui VITku.

Itu adalah pengulangan konyol hal yang sama secara terus menerus, sebuah pertarungan sampai mati yang tak akan berakhir. Mungkin itu bahkan bukan sesuatu yang bisa disebut pertarungan. Jika aku harus bilang, aku memiliki keunggulan, tapi bahkan dengan itu, aku tidak memiliki cara untuk melancarkan serangan terakhir.

Meski begitu, jalan hidup si gadis yang tidak melangkah mundur bahkan setelah menemui sebuah situasi yang akan berlangsung selamanya memang jalan hidup seorang Pahlawan, dan itu membuatku ingat bahwa ini memang dunia lain.

Dan secara bersamaan, aku berpikir. Jika aku bekerja cukup keras sampai berkeringat darah, jika aku berlatih mati – matian, jika aku menjadi kuat, aku bisa mengalahkan Pahlawan ini.

Mungkin itu baik saja buatku.

Penguasa Iblis pada akhirnya menjadi orang yang harus menundukkan para Pahlawan. Bahkan bagi seseorang yang jarang bermain game dalam kehidupanku sebelumnya, aku setidaknya tahu itu. Bagi sang Penguasa Iblis, itulah Akhir Bahagianya. Bukannya aku hidup di sini karena aku menyukainya. Hanya karena aku membenci kematian aku terus hidup…

… Tapi meski begitu, jika ini demi Pahlawan ini, kupikir aku bisa menahannya.

Reuni kami terjadi lima tahun kemudian. Aku telah menghitung hari, jadi aku ingat dengan jelas.

Serge telah tumbuh.

Dari seorang gadis yang, meskipun kuat untuk ukuran manusia, dibandingkan dengan Iblis, tidak begitu kuat; yang tidak bisa membunuh satu Iblis Sloth, dan di mana satu – satunya yang unggul dalam dirinya adalah keberaniannya, menjadi orang yang, mampu menghadapi seorang Iblis Kelas Jendral yang dilahirkan, dibesarkan dan dilatih dalam era perang besar ini satu lawan satu. Kelas Satu di antara umat manusia… pedang agung mereka.

Dalam istilah game, mungkin dia adalah seorang karakter yang broken.

Tidak, itu akan menjadi sebuah hinaan buatnya. Aku tidak tahu berapa banyak latihan yang dia lakukan. Cukup untuk membuatnya muntah darah, di mana jika seorang individu lemah sepertiku jalankan, aku akan menyerah dalam beberapa menit. Aku yakin dia mengulang – ulang latihan semacam itu. Dalam lima tahun itu, berapa petualangan yang dia jalani? Bagi seseorang yang tidak melakukan apapun selain tidur sepertiku, aku tidak bisa tahu.

Apa yang kuketahui hanyalah dua hal. Dua kebenaran sederhana.

Dia telah menjadi seorang Pahlawan yang mampu bertukar pukulan dengan seorang Iblis Kelas Jendral dengan setara.

Dan aku telah menjadi seorang Penguasa Iblis.

Zaman ini, dunia ini kejam, fana, dan tak berguna.

Dunia Iblis tunduk pada hukum rimba. Slothku telah melampaui usaha Serge. Itu saja.

Semangat bertarung yang Serge abdikan hidupnya padanya, pedang yang dulunya mampu menggoresku sedikit, bahkan tidak bisa memotong sehelai rambutku saat kami berjumpa lagi. Jarak yang tak dapat dilewati telah lahir di antara kami.

Tidak selalu pasti bahwa kerja keras akan berbuah manis.

Hukum menyedihkan dan suram dari kehidupanku sebelumnya itu juga berlaku untuk dunia ini.

Ini adalah sesuatu yang hanya bisa kukatakan setelah melihat hasilnya.

Meskipun Serge hanya mampu menggoresku sedikit di pertarungan pertama, dia tidak merasa dia harus mundur. Bahwa selama dia mampu melukaiku meskipun sedikit, adalah tugasnya untuk membunuhku. Itu adalah kesempatan pertama dan terakhirnya. Dan karena dia adalah manusia, dia tak mampu lari dari kekangan jangka hidupnya. Dia telah kehilangan kesempatan itu untuk selamanya.

Dia meneteskan air mata seraya mengangkat tinggi pedangnya. Mata Pahlawan itu persis seperti saat kami pertama bertemu, cantik dan fana, melihat bilah pedangnya yang berkilau layaknya bintang jatuh, aku mengantuk, dan tertidur.

Saat aku terbangun, apa yang memasuki mataku adalah sesosok Pahlawan yang berlutut dengan air mata mengaliri wajahnya.

Pedang Sucinya telah kehilangan cahayanya, dan setelah menjadi seonggok besi biasa, ia dihujamkan begitu saja ke tanah.

Tidak ada sedikitpun luka pada Serge. Itu sudah jelas. Itu karena aku belum mendaratkan satu jari pun padanya. Tapi sang Pahlawan yang dulunya akan terus bertarung, tidak peduli seberapa serius cedera yang dideritanya, bahkan jika sebuah lengan atau kaki terputus, telah menjadi seorang gadis kecil yang terisak.

Tidak ada sedikit pun semangat bertarung tersisa dalam mata kosongnya.

Seakan aku telah memecahkan sesuatu di dalam dirinya.

Dari saat pertama aku berjumpa dengannya, apa yang kurasakan kemungkinan adalah cinta. Mungkin, aku sudah tidak ingat lagi, tapi mengingat masa lalu, kurasa itu sesuatu semacam itu.

Namun, pada akhirnya, aku tidak bisa ingat apa yang terjadi pada Pahlawan itu. Semua yang kuketahui adalah keberanian milik dia yang disebut bintang kejora harapan dunia atas, Serge sang Silver Blue berakhir pada hari itu.

… Sang Raja Kebejatan.

Itu selalu aneh.

Itu selalu menjadi salah satu pertanyaan yang kumiliki sejak aku mengalami reinkarnasi.

Mengapa iblis – iblis lain memiliki kilauan hitam berapi dalam jiwa mereka? Mengapa mereka mengamuk dan mencari dan merendahkan dan mencabuli dan makan dan iri?

Mengapa mereka tidak bisa tidur dengan tenang saja?

Jika mereka menginginkan kekuatan sebagai seorang Iblis… hanya dengan tidur sudah lebih dari cukup.

Mengapa mereka berusaha begitu keras untuk aktif?

Tubuh seorang Iblis, jika dia tidak melakukan apapun selain tidur, tidak seperti manusia yang mampu hidup paling lama seratus tahun, mampu hidup ratusan dan ribuan dan jutaan tahun lamanya. Waktu tanpa ujung, tampaknya begitu.

Aku sadar itu adalah sebuah kesalahan setelah waktu berlalu lama.

Tahun yang tak terhitung lagi jumlahnya berlalu, aku menidurkan Iblis, Pahlawan dan bahkan Malaikat yang tak terhitung jumlahnya, dan akhirnya, seseorang mulai memanggilku dengan nama tak berguna seperti 『Raja Kebejatan』. Saat aku telah dikenal luas, aku akhirnya menyadarinya.

Ah, ini adalah watak mereka.

Bagi mereka, mengamuk, dan mencari, dan menghina, dan mencabuli, dan iri adalah alasan hidup mereka itu sendiri, dan pembenaran mereka untuk hidup.

Obrolan yang tak berguna. Bukannya mereka tidak bisa tidur. Mereka tidak bisa membiarkan diri mereka tetap tidur. Demi memurnikan jiwa mereka.

Singkatnya, keputusan kami berbeda, dan bagi sang Penguasa Iblis Sloth yang telah hidup tanpa makna, itu mungkin sesuatu yang tidak akan bisa dia pahami selama hidupnya yang kelewat panjang.

Aku tak pernah memikirkan apapun. Kekuatan tidak pernah begitu berarti. Aku tidak pernah berencana untuk membuktikan eksistensiku.

Sejak saat aku hidup di Jepang yang damai, aku hampir tidak memiliki hasrat apapun. Tidak ada hobi. Dalam tempat yang ditinggalkan oleh kekurangan tujuanku, tidur adalah satu – satunya hal yang mampu mengisi hatiku.

Kelihatannya, ini bukanlah cerita yang ganjil bagi para pemuda yang hidup di masyarakat modern. Jika mereka mengalami reinkarnasi ke dunia ini, mereka semua mungkin berakhir sebagai Iblis Sloth sepertiku.

Aku tak pernah memiliki tujuan. Jika kau memaksaku mengatakannya, maka Sloth itu sendiri adalah tujuanku, dan dibandingkan dengan para Iblis yang mendambakan kekuatan yang terbaring di ujung hasrat mereka, mungkin itu adalah alasan aku mampu menjadi seorang Penguasa Iblis dengan lebih cepat.

Sebuah cerita membosankan.

Sebuah dunia di mana kegabutan berubah menjadi kerja keras.

Buatku, yang tidak melakukan apapun selain tidur… Padaku, yang tidak melakukan apapun selain tidur tanpa tujuan, Iblis dan Manusia dan Malaikat berlutut. Di antara mereka, bahkan ada Iblis Sloth lain.

Kebejatan? Salah, bagiku, ini hanyalah gaya hidupku.

Aku adalah dia yang akan melakukan apa yang harus kulakukan saat waktunya tiba. Hanya saja waktunya tak pernah tiba buatku.

Hanya dengan menutup mataku, aku mampu merasakan kekuatanku sendiri perlahan bertambah. Aku tak peduli.

Skill yang bisa kugunakan, hal – hal yang bisa kulakukan perlahan bertambah. Secara proporsional, lingkup aktivitasku perlahan menyempit. Dengan kekuatan Skill – skillku, aku tidak perlu makan atau menggunakan kamar kecil. Bahkan bernafas menjadi tidak perlu. Tapi aku tidak peduli tentang itu juga.

… Tolong, biarkan aku tidur.

Libur seminggu bisa membuat alur waktumu berantakan. Setidaknya, itulah apa yang terjadi padaku.

Seminggu menjadi sehari, dan aku mulai merasakannya menjadi sedetik. Tapi aku tidak perlu waktu. Hanya tahun mulai berlalu. Musuh dan rekan di sekitarku berganti.

Aku tidak menghitung, tapi mungkin sekitar delapan puluh tahun telah berlalu.

Saat tidur bahkan mulai terasa merepotkan, aku menyadari. Tidak, mungkin itu adalah sesuatu yang baru yang kuperoleh saat itu.

Sebuah kekuatan untuk menidurkan diriku sendiri.

Persis seperti Skill Tree Sloth yang bangkit di dalam diriku, seperti pohon yang berdampingan dengan dahan yang saling mengait, sebuah Skill Line baru.

『Melancholia』

Dari Sloth yang menguasai keputusasaan dingin, dan kecemasan, sebuah Subtree.

Dan sekali lagi, si pecundang tanpa makna bisa tergeletak di sana sini layaknya sampah.

Di mana usaha dan latihan dan bahkan emosi tak bermakna, sebuah dunia dilapisi kegelapan murni.

Itu, seperti lapisan tipis es, dingin, fana, dan indah.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 7 Part 4: … Betapa Tak Berguna Daraku no Ou Chapter 8 Part 2: Aku Belum Puas dengan Dunia ini→

Leave a Reply