Daraku no Ou Chapter 8 Part 2: Aku Belum Puas dengan Dunia ini

Rilis tambahan.

Daraku no Ou Chapter 8 Part 2: Aku Belum Puas dengan Dunia ini
Diterjemahkan oleh Aftertolv
Disunting oleh KenMashiro

Selamat membaca! 🙂

Part 2: Aku Belum Puas dengan Dunia ini

“Benar – benar… menyedihkan.”

Membuat suara kecil, udara kehilangan panasnya dan membeku.

Dingin. Hanya dingin, tiada yang lain. Seakan dari kedalaman tubuhku, kedalaman hatiku, panas dirampas pergi.

Tapi secara bersamaan, ketahanan Sloth terhadap dingin tidaklah bisa ditembus oleh suhu selevel ini.

Ini adalah dunia keperakan yang indah.

Segalanya putih dan beku, dan udara yang tidak memiliki setitik debu pun setenang puncak gunung yang tinggi.

Di depan mataku, seorang pria membeku secara menyeluruh.

Seorang pria berperawakan tinggi dan berambut hitam. Bahkan dari luar pakaiannya, aku bisa melihat dengan jelas tubuh dan sihir terlatihnya. Di dalam matanya yang telah terhenti dalam keadaan terbuka, apa yang tercermin adalah kepasrahan dan kegelisahan, dan secara bersamaan, kesenangan yang hebat. Mulutnya telah melengkung menjadi sebuah senyuman.

Aku menjulurkan kedua kakiku dari kursi berlengan, dan berdiri dengan lembut. Dari kakiku, aku merasakan dingin yang menusuk yang belum pernah kurasakan sebelumnya, tapi aku menggertakkan gigiku, dan menahannya.

Kekuatan Slothku telah melemah. Sloth bahkan tidak memperbolehkan berdiri.

Bukannya aku tidak berdiri. Aku tidak bisa berdiri. Aku tidak bisa bergerak. Demikianlah kutukan Sloth.

Tapi bagi seseorang sepertiku yang tidak peduli akan kekuatan, aku tidak peduli akan konsep itu juga.

Mungkin karena asal kekuatanku telah bergeser ke Melancholia, hatiku terasa berat.

Aku menaruh tanganku dengan lembut ke ekspresi keras pria itu.

Wajahnya tidak asing. Dia adalah seorang pria yang telah melekatkan dirinya padaku sejak dahulu kala. Aku tidak ingat namanya, tapi penampilannya telah terpatri di pikiranku.

“… Apa kau sudah puas…”

“…”

Dengan suara retak, melalui jariku, kekuatan dari sebelah kanan dadaku, dari Inti Jiwa kedua yang termanifestasi saat aku mendapatkan Melancholia mengembang.

Di sekitar si pria yang sosoknya telah membeku, air berkumpul, dan dia terkurung dalam balok es.

Ini adalah Skill 『Melancholia』 untuk melahirkan sebuah peti mati dari es.

『Freezing Grave』.

Aku berjalan melewati si pria yang telah menjadi sebuah pilar es.

Kurasa sudah sekitar seratus tahun sejak kelahiranku, dan belum pernah aku bertarung dengan layak atau bahkan berlatih.

Meski begitu, mengapa di dunia ini di mana kekuatan adalah segalanya, aku belum pernah menerima satu pun kekalahan?

Aku suka tidur.

Aku suka berbaring di atas ranjang tanpa tujuan apa pun, dan menghabiskan waktu dalam ketiadaan.

Untuk bisa makan tanpa melakukan apa pun itu menakjubkan, dan aku cukup puas bahwa pembersihan dilakukan tanpa aku.

Itu adalah sesuatu yang aku tidak pernah bisa dapatkan dulu saat aku masih hidup di Jepang.

Meski begitu, aku cukup suka hal yang dinamakan kerja keras. Tidak, lebih dari suka, aku percaya akan itu.

Aku tidak akan melakukannya sih.

Meski begitu, aku bisa percaya apa pun yang kumau, kan?

“Dunia yang tak berharga… Dunia Iblis ini…”

Lebih dari Dunia Iblis, seluruh dunia ini tak berharga.

Dunia ini keras dan kejam.

Bumi memiliki jatah kekejamannya, tapi Dunia Iblis ini jauh lebih brutal.

Aku hanya tidak memedulikannya.

Tidak, aku tidak memaafkannya.

That Serge, who repeated severe training and sharpened her fangs to take down a Demon Lord was defeated by a man who never did anything.

Serge itu, yang mengulang – ulang latihan keras dan menajamkan taringnya untuk menaklukkan seorang Penguasa Iblis dikalahkan oleh seorang pria yang tak pernah melakukan apa – apa.

Inti Jiwa Slothku yang rusak memulihkan dirinya sendiri secara perlahan. Seiring dengan itu, kepalaku menjadi semakin berat.

Ini menyedihkan. Menyedihkan saja.

Kegelapan dingin yang telah tertumpuk di kedalaman hatiku.

Perasaan itu yang terkadang kurasakan saat aku sedang tidur mungkin adalah alasan di balik aku mendapatkan Melancholia. Dulu, aku selalu merasa depresi sebelum melangkah keluar untuk pergi bekerja atau sekolah, jadi mungkin itu adalah sebabnya, tapi aku tidak punya cara untuk memastikannya, dan aku tidak peduli.

Penglihatanku menjadi gelap.

Aku melewati pintu yang telah membeku dalam keadaan membuka.

Pintu yang telah dilapisi sedikit es menjadi terbungkus es dalam sekejap. Dengan suara retakan di bawahku, aku menuruni koridor.

Persepsiku yang membentang ke seluruh wilayahku benar – benar merepotkan, dan tidak peduli seberapa banyak waktu berlalu, aku tidak pernah terbiasa dengannya.

Karena aliran emosiku yang keruh, aku merosot dengan tanganku menempel di dinding. Berpusat di titik yang kusentuh, sebuah kekuatan putih menyebar. Tanpa suara, segalanya ditutupi es tanpa ujung.

Dulu, saat aku pertama mengalami reinkarnasi ke dunia ini, ada seseorang yang mengajarkanku tentang Skill.

Jika kau membolehkanku jujur sebentar, aku tidak tahu apa yang mereka maksud.

Di antara kekuatan yang dimiliki para Iblis, ada mereka yang, di antara Skill – skill itu sendiri, mereka mencuri dan meniru dan meniadakan dan makan dan membantai, dan hal – hal tak dapat dipahami lainnya, kelihatannya begitu. Ada kekuatan – kekuatan tak masuk akal di mana dengan sekali pukulan, segalanya akan berakhir. Ini keterlaluan.

Kupikir itu mustahil.

Omong kosong. Aku belum ingin mati.

Dan seharusnya tidak ada seorang pun di luar sana yang ingin. Maksudku, bukannya dunia neraka sudah pasti lebih mudah dari dunia tempat kita hidup.

Perasaan – perasaan itu adalah yang kurasakan di kehidupanku sebelumnya, setidaknya hingga saat aku mati, dan bahkan setelah hidup panjang sebagai seorang Iblis, mereka tidak berubah sedikitpun.

Dan begitulah, aku tidak kalah. Dan begitulah, aku masih hidup. Tanpa memikirkan apa pun, aku menaklukkan kekuatan – kekuatan tak masuk akal itu.

Terpisahkan dari jalannya waktu, aku menutup diriku dengan hanya Kartu Acedia untuk melindungi tubuhku, dan yang akan terus menghentikan fungsiku dan membawaku ke dunia gelap itu tanpa peduli, Kartu Melancholia.

Aku hanya pernah mengharapkan satu hal dari kedua kartu truf itu.

… Kumohon, biarkan aku tidur. Dalam ketenangan. Dalam kemalasan.

“Ap… Leigie…sama? Apa… yang…”

Orang yang muncul di sekitar sudut adalah si Iblis Ira. Lize Bloodcross.

Dia kemungkinan adalah anti-tesis terhebat terhadap keberadaanku. Sebuah atribut yang menyebarkan api yang berkilat.

Yang tak cocok denganku, yang gemar bersembunyi di tempat lembab dan gelap.

“Mengapa… Leigie-sama… bejalan…”

“Bahkan… ada saat – saat di mana aku ingin berjalan.”

Meski begini, aku umumnya pulang – pergi kerja dengan kereta yang bergoyang tiap hari.

Lebih aneh lagi untuk… berpikir aku tidak bisa berdiri. Pertama – tama, semua orang tahu bahwa setiap Iblis memiliki kemampuan fisik dasar yang melampaui manusia, jadi saat aku yang manusia bisa berjalan, mustahil aku yang Iblis tidak bisa.

Tubuhnya terbungkus zirah api.

Dia menggunakan Kekuatan Wrath misteriusnya untuk bertahan melawan negeri beku ini.

Aku memalingkan pandanganku ke arah kiri. Seorang Iblis berambut keemasan yang berusaha tetap tersembunyi dalam bayangan.

Langkah demi langkah, aku menggerakkan kakiku maju dengan tenang.

Kami terpisah sekitar tiga puluh centimeter. Dalam keadaan seperti setengah sadar, Lize terus melihatku.

“Wai… Lize-san! Berbahay…”

“Eh…?”

Dia terdorong menjauh, dan tanganku menyentuh udara.

Tapi menggantikannya, tanganku menyentuh rambut si Iblis berambut keemasan.

“Mengapa… bergerak… ini sebuah penipuan… kusu kus…”

Dalam sekejap, waktu gadis itu terhenti.

Dengan mata yang berkaca – kaca, dan bibir yang melengkung seakan dia memaksa dirinya tertawa.

“… Gitu.”

Bahkan aku, tergantung bagaimana perasaanku… bahkan ada saat – saat aku berpikir aku akan jalan – jalan.

Apakah itu sebuah penipuan? Mengapa sebuah penipuan?

Siapa di luar sana yang menentukan bahwa tidak baik bagi Iblis Sloth untuk bergerak?

Lize bergegas lari ke arah si Iblis beku.

“Hiero!? Leigie-sama m-mengapa… pada seorang rekan…”

Mengapa? Atas alasan apa? Itu sederhana.

“Karena aku ingin tidur dalam damai.”

“Hah!? Eh? Kau ingin… tidur?”

“… Juga, ini… aku tidak bisa benar – benar mengendalikannya.”

“Eh? Betapa menyebalkan…”

Tangan terulurku menyerempet bahu Lize.

Apinya padam seketika, dan dengan begitu, dia berhenti.

Dengan ekspresi bodoh yang tak terpikirkan bagi seorang yang menguasai Wrath, dia tidak bergerak lagi.

Dan bahkan jika itu adalah sesuatu yang kumunculkan sendiri, aku merasakan duka dan kekosongan tak berujung. Secara bersamaan, aku merasakan Tree Melancholyku terus melaju.

Betapa fananya dunia ini…

Betapa rapuhnya…

Apakah itu alasan mengapa Tree Melancholy di dalamku terus melaju perlahan?

Emosi yang tak sedap dipandang. Bagiku yang hidup dalam kebejatan semata, aku seharusnya tidak punya hak untuk putus asa akan dunia.

Dalam suatu tempat yang tenang, aku hanya ingin sendiri.

Dalam benteng ini, tidak ada lagi Iblis yang bisa bergerak. Tapi bahkan pilar – pilar es keberadaan mereka menyebalkan.

Benar… aku akan memanjat menara.

Tempat tertinggi dalam kastil ini.

Dulu, seseorang membawaku ke puncaknya. Mungkin sekitar sepuluh tahun lalu?

Pemandangan tak terhalang atas benteng hitam yang membentang ke ufuk merah terang di kejauhan.

Jika aku melihatnya sekarang, aku yakin aku akan merasakan perasaan sentimental.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 8: Depresi Melancholia, Part 1: Aku Bertemu seorang Pahlawan Daraku no Ou Chapter 8 Part 3: Sesuatu yang Baik Pasti akan Terjadi Esok Hari→

Leave a Reply