Daraku no Ou Chapter 8 Part 3: Sesuatu yang Baik Pasti akan Terjadi Esok Hari

Rilis rutin hari Senin Selasa.

Daraku no Ou Chapter 8 Part 3: Sesuatu yang Baik Pasti akan Terjadi Esok Hari
Diterjemahkan oleh Aftertolv

Selamat membaca! 🙂

Part 3: Sesuatu yang Baik Pasti akan Terjadi Esok Hari

Entah mengapa, air mata keluar.

Di depan sesuatu yang benar – benar membuat hati mereka tergerak, apakah orang – orang benar – benar hanya bisa membiarkan air mata mereka mengalir keluar?

Bahkan air mata itu menjadi es saat mereka menyentuh kulitku, dan jatuh ke tanah sebagai butiran.

Berlapis di atas tanah hitam, sebuah bangunan yang konyol besarnya. Batu kokoh, kasar, dan sehalus kaca yang tak terhitung jumlahnya ditumpuk untuk membuat benteng, dan bahkan buatku yang tidak mengenal arsitektur sedikit pun, aku bisa tahu bahwa benteng ini tidak dibangun dalam beberapa tahun saja.

Berbeda dengan apa yang telah membuatku terbiasa di Bumi, bulan biru pucat Dunia Iblis, dan langit merahnya begitu menawan, dan sangat indah.

Seakan untuk mengatakan bahwa ini adalah Dunia Fantasi, dan tanpa perlu didiskusikan, aku tahu ia mengatakan yang sebenarnya.

Puncak menaranya dibangun sedemikian rupa sehingga darinya, kau bisa melihat ke segala arah.

Empat jendela dipasang secara melingkar melihat ke bawah ke arah tanah, tapi bagiku, satu jendela sudah lebih dari cukup.

“… Hah…”

Saat bersentuhan dengan nafasku, kaca jendela itu retak tanpa suara.

Benteng tanpa kehadiran satu makhluk hidup pun ini tenang secara kejam, dan kosong secara kejam.

Butiran – butiran putih mulai berjatuhan dari langit.

Bahkan jika aku tidak meraih untuk menangkap satu di tanganku, aku mengerti. Tidak ada salju di Dunia Iblis.

Jadi bagiku, ini adalah salju pertamaku dalam beberapa dekade.

Melihatnya seperti ini, aku terpaksa ingat.

“Aku ingin masuk ke bawah kotatsu…”

Seakan mengikuti perasaanku, kaca itu membeku, dan pecah menjadi kepingan – kepingan yang lebih kecil lagi. Salju mulai turun semakin deras dan badai salju melanda kastil.

… Bukannya aku mengharapkan ini, tahu.

Salju turun. Inti Sloth yang seharusnya telah hancur berkeping – keping sudah pulih hampir seluruhnya.

Bagi seseorang sepertiku yang memiliki Skill – Skill Sloth, sesuatu seperti dinginnya salju tidaklah cukup untuk memengaruhiku. Tapi mungkin fakta bahwa sebuah sensasi dingin melandaku saat aku menyentuhnya adalah akibat ingatanku dari Bumi dulu.

Saat aku memikirkan itu, momentum dari salju semakin bertambah. Awan kelabu dan tak mengenakkan bergelayut di langit, dan sejumlah besar butiran es menumbuk tanah. Dari sini, aku bahkan tidak bisa melihat Benteng lagi.

Dan itu menyedihkan.

Saat aku memikirkan itu, awan menjadi semakin berat, dan kelabu berubah menjadi hitam. Seakan telah terjadi pemadaman listrik, dunia terbungkus kegelapan.

…. Dan karenanya, aku merasakan kesedihan yang amat sangat.

Angin dingin yang menusuk berputar – putar.

Tree Melancholia… apakah orang yang menciptakan dunia ini benar – benar idiot? Ini adalah lingkaran tak berujung, bukan?

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, ini bukanlah hasrat, atau dambaan, atau apapun…

Kekuatan Sloth mulai bercampur dengan Melancholy.

Well, itu juga hal lain yang tidak kupedulikan.

Segala sesuatu yang ada sama merepotkannya, dan segala tindakan tidak bermakna.

Mungkin karena ini adalah kali pertama aku berjalan dengan kakiku sendiri setelah sekian lama, kakiku terasa berat.

Aku duduk di titik itu juga.

Kantuk mulai menguasaiku. Ia adalah, meneruskan sejak saat aku seorang manusia, kawan terbaikku.

Hatiku berat. Kelopak mataku berat.

Saat aku membuka mulutku, sebuah suara kecil keluar.

“… Aku menjadi sedikit mengantuk…”

Kembali ke tempat tidur merepotkan. Dan juga, sebuah ranjang yang tersegel dalam es tidak ada nyamannya sama sekali.

Aku berbaring, dan menguap lebar.

Tidak ada tanda – tanda pergerakan, atau kehadiran di mana pun juga. Untuk sementara, aku akan bisa tidur dengan nyaman.

Aku melipat kedua lenganku, dan menutup mataku.

Kegelapan hitam yang membuatku terbiasa. Jika aku boleh berdoa, maka kuharap bahwa saat aku membuka mataku sekali lagi, kedamaian dan keheningan telah menimpa Dunia Iblis.

Saat niatan – niatan murni dan mulia itu mengisi dadaku, aku mendengar suara aneh.

“… Tanpa ketertarikan pada apapun yang ada, sang Penguasa Kebejatan yang hanya berbaring di puncak… bukan? Penebusan Leigie yang lalu, bukan?

“Ya. Tapi… aku bertanya – tanya mengapa pria itu tidak pernah mematikan Friendly Fire…”

“Itu karena dia adalah Sloth. Lize, aku akan… berbincang dengan Leigie sedikit. Kau pergi periksa yang lainnya. Jika kau menemukan siapapun masih tersegel dalam es, bebaskan mereka. Dengan Ira-mu!”

“… Yes, understood.”

“… Ya, dimengerti.”

Dari kedua kekuatan, yang lebih kecil memisahkan diri.

But that doesn’t matter. What has captured my senses isn’t the large presence before me, but the the countless number of ones appearing within the fortress.

Tapi itu tidak berpengaruh. Apa yang menyita perhatianku bukanlah kehadiran besar di depanku, tapi kehadiran yang tak terhitung jumlah yang muncul di dalam benteng.

Kehadiran yang menyebalkan.

What suddenly appeared before me as if it had abruptly come into being was definitely one I had completely frozen.

Yang tiba – tiba muncul di hadapanku seakan ia tercipta dalam sekejap pasti merupakan salah satu yang telah kubekukan.

Pada suatu titik… tidak, itu tidak berarti juga. Tidak berarti bila itu terjadi.

… Yeah, semuanya menyedihkan.

Mengapa setiap kali aku mencoba untuk tidur, segala hal mencoba menghalangiku?

Semuanya seharusnya berada di neraka yang jauh, di kedalaman es yang tenang.

Aku membuka paksa kelopak mataku yang berat.

Aku terkejut. Aku mengamati sekelilingku dengan perlahan.

… Mustahil…

“… Sudah… pagi…?”

Saat aku menutup mataku, aku yakin saat itu malam. Setidaknya, itu tadi bukan waktu di mana hari bisa menjadi pagi dalam beberapa menit ke depan. Itu tidak berubah dari dunia itu ke dunia ini. Sebuah sistem yang sama.

Bagi malam dan siang untuk berbalik seketika, seseorang yang mampu melakukan tindakan yang absurd seperti ini seharusnya tidak ada di Dunia Iblis yang luas ini.

“… Begitu ya, jadi bahkan di depanku, kau bisa bersikap seperti itu…”

… Raja Iblis Agung, Kanon.

Penguasa Iblis terkuat yang berkuasa atas Wrath dan kehancuran.

Dengan kapasitas ingatanku yang sedikit kalah saat dibandingkan dengan manusia, itu adalah satu dari beberapa nama yang kuingat.

Aku membalikkan badanku dengan punggung di bawah, dan menatap naik ke bayangannya.

“Mungkinkah… kau…”

“… Ku… kau tidak berubah sama sekali, Leigie. Bahkan saat kita bertemu untuk pertama kalinya sejak lama… Well, baiklah. Biarlah. Benar, aku adalah orang yang membebaskan dunia yang kau segel.”

“… Dengan mengubah malam menjadi siang!? … kapan kau mendapat kekuatan semacam…”

Betapa mengerikannya Skill itu…

Meskipun aku akan tidur tanpa peduli siang atau malam, jika aku harus bilang, aku adalah seorang manusia malam. Itu adalah musuh alamiku.

Aku menutupi mataku dengan lenganku untuk menghalangi cahaya mentari.

“T-tunggu. Apa yang sih kau bicarakan?”

Dengan lenganku yang tak cukup untuk menghalangi semuanya, aku menggulingkan tubuhku ke dinding, dan menutup mataku lagi.

Sekarang aku akhirnya bisa beristirahat.

… Tidak, jika kau memikirkannya dengan tenang, aku telah melakukan itu saja cukup lama…

“Tidak, bukan apa – apa…”

“Tidaktidaktidak, mana mungkin bukan apa – apa! Ku mengapa Leigie-niisama selalu seperti ini!”

Suhu ruangan naik seketika.

Cukup panas. Untuk mendapat keteduhan sebanyak – banyaknya, aku menekankan tubuhku ke dinding.

Kanon dengan menjengkelkan menurunkan tongkatnya ke tanah, mengeluarkan suara yang cukup membawa nostalgia.

“… Dan apa urusanmu… Kanon dari Kehancuran?”

Jawaban pertama yang datang untuk pertanyaanku adalah suara lantai yang remuk.

Apa sih yang membuat gadis ini begitu marah…

“Urusan apa… katamu? Leigie, kau… apa kau bahkan mengerti apa yang telah kau perbuat?”

“Tidak.”

Aku Sloth. Mustahil aku akan melakukan apapun.

“Ku… ah, baiklah. Baiklah. Leigie. Pria seperti itulah kau. Biarkan aku memberimu sebuah penjelasan spesial tentang apa yang telah kau langsungkan.”

“Tidak, aku tidak benar – benar tertarik.”

“Diamlah dan dengarkan!”

Bola api seukuran kepalan tangan yang tak terhitung jumlahnya menumbuk tubuhku. Aku tidak terluka sedikitpun.

Entah mengapa, aku cukup sering diserang oleh Iblis Wrath, sehingga dari banyak ketahanan yang kumiliki, ketahananku terhadap api adalah yang terbesar.

“Dengar, Leigie-niisama. Kau… kau membekukan total seluruh wilayah yang telah dianugerahkan padamu! … dalam es abadi yang tak akan pernah mencair secara alami.”

“… Gitu.”

Kesedihanku, keputusasaanku lebih tinggi dari gunung, lebih lebar dari langit, dan lebih dalam dari samudra.

Itulah artinya.

Well, untuk sementara, aku akan minta maaf.

“Itu tidak kusengaja, tolong maafkan aku.”

“… Maaf!? Kau pikir berapa tahun yang diperlukan untuk mencairkan tanah yang membeku?”

“…”

Mana mungkin aku bisa tahu sesuatu seperti itu.

Memikirkan tentangnya tidak berguna, jadi aku menyerah, dan berguling kesana kemari. Aku tidak punya bantal untuk digenggam, jadi lenganku merasa kelewat kesepian.

Tongkat kanon menusuk lengan bajuku. Aku terus berguling kesana kemari tanpa peduli, jadi  tepi bajuku robek.

Aku melihat kosong sang Raja Iblis Agung.

Rambut kirmizi yang menyala – nyala, dan mata merah darah layaknya darah merpati. Raja Kehancuran.

Serius, apa sih tujuannya datang kemari?

“Kanon.”

“… Diamlah. Bicara padamu menguras energiku.”

“… Apakah kau adikku?”

“!? … Ah!”

Wajah Kanon merah padam. Aku merasakan Wrath darinya.

Aku seharusnya tidak memiliki saudara kandung. Sekarang dan dulu.

… Tidak, mungkinkah aku telah melupakan mereka? Kalau dipikir – pikir, mungkin mereka ada.

“L-Leigie… apa yang kau pikirkan sekarang kemungkinan salah.”

“… Gitu.”

Lalu kenapa aku seorang niisama?

Aku menutup mataku, dan mulai berpikir, tapi itu menjadi merepotkan, jadi aku menyerah. Itu tidak begitu berarti.

Panggil aku apapun sesuka hatimu.

“Ahem.”

Kanon membersihkan tenggorokannya dengan canggung, dan menekuk pinggulnya untuk menyamai ketinggian mataku.

“Leigie, aku datang untuk membereskan masalah yang kau buat. Tidak, awalnya, aku datang karena sebuah laporan bahwa Heard akan mencampakkan jendral – jendral pasukanmu, tapi… menemukan seluruh wilayahmu tertutup es tidak kusangka…”

Lebih tidak disangka buatku bahwa kau datang secara pribadi untuk alasan sesepele itu.

Apakah sang Raja Iblis Agung hanya bosan? Tolong bagi keberuntungan baikmu denganku.

“Mengapa kau menyegel wilayahmu, Kastil Bayangan, orang – orangmu dalam es? Mengapa Leigie-niisama, yang menyerahkan segalanya pada Heard Lauder, dan tidak pernah bergerak aktif melangsungkan sesuatu seperti ini pada saat ini?”

“…”

Apapun dan segalanya tidak berarti. Berbicara merepotkan.

Tapi jika kau memaksaku untuk mengatakannya, apa yang menyegel mereka mungkin memang aku, tapi itu bukanlah aku.

Yang kubekukan secara aktif hanyalah Lize, dan kepala-emas itu, dan pria yang satu itu yang telah melayaniku sejak lama.

Sisanya… sekedar menerima efek samping Melancholia.

Mereka membeku begitu saja karenanya. Mereka tidak mampu menahan fakta bahwa aku ada di sini.

Aku tak peduli tentang sekelilingku, tapi kebenaran itu pasti sangatlah menyedihkan.

“Leigie-niisama, kudengar Ayah ada dalam asuhanmu dulu, ayahnya Ayah juga, dan bahkan ayah yang sebelumnya yang ada dalam asuhanmu. Aku sendiri, saat aku masih kecil, aku sadar bahwa kau sering menjagaku. Jadi jika mungkin, aku tidak ingin mencampakkanmu.”

“Terimakasih?”

“Sama sam… s-salah. Aku tidak mencari terimakasihmu! Pasukannya milikmu, niisama, dan bukannya aku datang untuk menanyaimu apa yang akan kau lakukan setelah kehilangan jendralmu atau apa. Pembekuannya, dan skill yang kau gunakan yang aku tidak punya ingatan tentangnya, saat ini, itu tidak begitu berarti. Segala yang ingin kutanyakan hanyalah satu, sebuah pertanyaan sederhana…”

Kanon memiliki ekspresi serius seraya menatap mataku. Seakan jawabannya terbaring di suatu tempat jauh di dalam mataku.

Tapi itu kemungkinan sebuah kesalahan. Aku yakin mataku sekosong biasanya. Mencarinya di dalamnya buang – buang waktu.

“Niisama… apa kau berencana memberontak melawanku, melawan Kanon?”

Kata – kata itu memicu kilas balik yang jelas dari kedalaman kenanganku.

Kanon dari Kehancuran.

Dia yang mampu melukaiku, seorang Iblis Wrath langka yang mengkhususkan diri dalam kekuatan serang.

Tidak peduli musuh atau kawan, semua yang menyentuh Wrathnya hangus menjadi abu; sang Raja Kehancuran.

Dan itu adalah sesuatu dari beberapa waktu lalu. Kekuatannya sekarang seharusnya lebih kuat dari dulu.

Bahkan mungkin cukup hebat untuk menembus Slothku.

Betapa… merepotkan.

Aku putus asa.

“Ap… niisama!?”

Kanon buru – buru mendongakkan wajahnya.

Pada rambut mengkilap indahnya, dan matanya yang seperti batu rubi, dan lainnya, sebuah lapisan tipis es terbentuk.

“Mungkinkah… kau benar – benar berencana melawanku!?”

Api menari, dan membungkus sosoknya. Melalui api kirmizi yang meliuk – liuk, aku melihat ekspresi kaget.

Es itu mencair dan menghilang seketika. Api untuk mencairkan es. Artinya ini adalah apa yang mencairkan es di negeri ini, bukan?

Alis Kanon terangkat sejenak, sebelum kembali turun. Dia bicara, seakan untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Tidak… itu salah. Mustahil seorang Penguasa Sloth akan melakukan sesuatu semerepotkan itu… benar, dari semuanya, niisama tidak akan melakukan apapun yang memerlukan aktivitas sebanyak itu.”

Jalan pikirannya aneh. Mengapa semua orang terus bilang begitu aneh bagi Sloth untuk bergerak.

Itu salah. Alasan aku tidak bergerak adalah, dengan mempertimbangkan manfaat bergerak, dan manfaat tidak bergerak, yang kedua menawarkan keunggulan strategis yang lebih tinggi.

Demikianlah, jika seorang musuh datang, aku akan bertarung, dan jika akhirnya bergerak akan menghilangkan hal – hal merepotkan dengan lebih mudah, aku akan bergerak. Di Tokyo, aku akan mati jika aku tidak bekerja, jadi aku bekerja. Singkatnya, segalanya… bergantung pada situasi.

Kelihatannya di antara Iblis Sloth, banyak yang akan membiarkan diri mereka sendiri dihancurkan dalam diam.

Mungkinkah mereka idiot? Lawan, man. Apa kalian menganggap diri kalian kerang atau semacamnya?

Tidak, bahkan seekor kerang akan melawan.

Khususnya, Melancholia menawarkan kekuatan ofensif kepada Acedia yang defensif. Seakan untuk menawarkan melancholy itu, depresi gelap itu kepada orang lain. Ia menutupi titik lemah Sloth dengan cukup baik.

Aku mengulurkan tanganku, dan menyentuh tangan Kanon.

Pada gerakan itu, gerakan Kanon terhenti.

… Begini saja.

“Freezing Grave.”

“Eh…?”

Kanon mengeluarkan suara bodoh, sebelum tersegel di dalam peti mati es dengan posisi yang sama dengan posisinya sebelum membeku.

Ekspresinya sedikit tak berdosa, dan sulit untuk memikirkannya sebagai sang Raja Iblis Agung, penerima kekaguman semua orang.

Bahkan jika kau memanggilnya sang Raja Iblis Agung, dia hanya selevel ini.

Dan darinya, aku merasakan kesedihan. Aku menghela nafas.

Apa jadinya dunia ini.

“Hah… betapa menyedihkan…”

“Wai… A-apa apaan yang kau lakukan! K-kanon-sama!?”

Lize, yang baru saja masuk melalui pintu, buru – buru lari ke arah Kanon yang tersegel.

Dia menyentuh es transparan berkualitas tinggi yang menyelubungi sang Raja Iblis Agung yang terhenti. Wajahnya yang sesak melihat turun ke arahku.

“Leigie… dari Sloth. Apa – apaan… ini penipuan. Bahkan dia yang menguasai kehancuran dan api, Kanon-sama… bahkan jika itu tadi serangan kejutan, dalam sekali serang!? Penguasa Sloth, mengapa kau terus merendahkan dirimu menjadi Tingkat Ketiga!!?”

“…”

Betapa merepotkan.

Aku tidak menginginkan status. Aku tidak berencana menjadi Raja Iblis Agung, dan aku tidak membutuhkan dunia. Jika aku bisa terus hidup tanpa kekuatan, maka aku bahkan tidak butuh kekuatan.

… I merely ask for a rest deeper than all.

… Aku sekedar meminta istirahat yang lebih dalam dari segalanya.

Suasana hatiku menurun. Tiada yang berarti.

Adalah Sloth berdampingan dengan Melancholy. Kekosongan adalah kebenaran, dan depresi.

Itulah dambaan yang kukuasai.

Kebejatan dan kepasrahan, pelarian dan kebusukan, penangguhan dan stagnasi, kelembaman dan patah hati.

Inti Jiwa Melancholy yang telah tumbuh di dalamku suatu hari atau lainnya menutupi tubuhku dalam kekuatan dingin dan mengerikan.

Sesuatu seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Apa karena Slothku telah meredup, atau mereka tidak seimbang? Well, itu adalah hal lain yang tak berarti.

Apa yang sudah maka sudah. Kekuatan yang telah mengalir keluar sekali, seakan bendungannya telah jebol, menenggelamkan segalanya ke dalam neraka depresi.

Menjawab perasaanku, es menyebar, dan benteng yang telah dicairkan Kanon membeku sekali lagi. Uap lembap memadat, dan udara menjadi dingin.

Api Wrath yang buru – buru Lize keluarkan membungkus tubuhku, tapi tanpa mampu menembus ketahanan Slothku, mereka lenyap tanpa memberiku satu luka pun.

Dalam dunia menyebalkan ini, setidaknya sedikit ketenangan dan kedamaian.

Aku memanifestasikan sebuah bola cahaya putih seukuran kepalan tangan di telapak tanganku.

Ini adalah Skill yang kupakai untuk pertama kalinya, tapi aku bisa mengerti. Kekuatan yang datang darinya tidak bisa dibandingkan dengan yang sebelumnya. Skill – skill Melancholy bahkan tidak bisa menyelamatkan Penggunanya dari menjadi bagian dari target mereka.

Kupikir bahkan aku akan terkunci dalam es yang takkan pernah mencair. Tapi aku tidak akan mati karenanya. Mungkin itu baik, dalam dan dari dirinya sendiri.

Oh dunia, jatuhlah ke dalam penangguhan bejat.

Bola cahaya itu mengeluarkan kilatan keperakan seraya menyebar.

Sekarang silakan tidur.

『Absolute Requiem』

“Tunggu… ti…”

Lize, yang mencoba menyebarkan api, tersedot masuk oleh kekuatan, dan membeku dalam sikap yang sama.

Anak – anak panah yang mengalir keluar dari bola cahaya yang bergerak naik menyebar ke dunia layaknya bintang jatuh. Jangkauannya jauh melampaui bentangan Zonaku.

Di mana pun panah itu menempel, udara dingin yang tersebar di sekitarnya secara otomatis mengambil alih wilayah itu tanpa suara, dan merubahnya menjadi sebuah dunia putih.

Tidak memakan waktu lama bagi semua benda bergerak untuk hilang dari dunia.

Bukannya aku bisa merasakan di luar Zonaku, sih, tapi pengaruhnya seharusnya terbentang melampauinya.

Satu – satunya hal yang tidak kuduga adalah…

“… Jadi ketahanan Slothku adalah yang lebih kuat di antara keduanya…”

… Dalam sebuah dunia dimana segala ciptaan ditidurkan tanpa pandang bulu, aku adalah satu – satunya yang tidak mengalami efeknya.

Well, maka biarlah.

Kalau begitu, maka aku hanya akan tidur seperti biasa.

Sendirian, dalam kesunyian, aku akan tidur dengan tenang.

Saat aku akan menutup kedua mataku, aku menyadari.

Kelihatannya dunia tidak akan membiarkanku tidur semudah itu.

“… Aku. Paham… aku paham, aku mengerti, niisama. Tujuanmu adalah…”

“…”

Es yang mengunci Kanon telah mencair dalam diam. Sosok langsing sang Raja Iblis Agung terbungkus selapis panas membara yang tipis. Itu adalah panas yang bahkan melampaui Melancholy-ku.

Tapi di matanya, tidak ada amarah. Wrath Kanon hanya ditujukan pada musuh.

Apa dia belum melihatku sebagai seorang musuh? Well, itu benar. Aku tidak punya musuh.

… Tidak punya kawan juga.

Untuk lari dari kenyataan, aku memalingkan wajahku.

Tapi betapa merepotkan.

Dia memecahkannya. Segel es itu.

Jadi dia bisa memecahkannya sendiri. Kekuatanku.

Sesuai dugaanku, Wrath adalah kekuatan untuk berurusan dengan Sloth dan Melancholy. Aku sendiri tidak punya musuh, tapi Wrath bisa dibilang sebagai musuh alami dari kedua Dosa yang kukuasai, kurasa.

“Niisama… kau hanya ingin tidur, bukan?”

Kedua mata itu terisi dengan belas kasihan. Sebuah suara jernih.

Tiada yang begitu berarti.

Dan niisama, niisamanya mulai menyebalkan. Dia tidak punya niatan untuk menghilangkan kebiasaan itu, ya.

“… Niisama…?”

“I-itu tidak berarti sekarang, bukan!? Ah, sial. Mengapa setelah semua ini, aku tidak merasakan kebencian atau nafsu membunuh sedikit pun darinya!? Niisama selalu… menumpulkan Ira-ku.”

“… Gitu.”

Jika rasanya seperti itu buatmu, maka itu karena aku tidak memiliki kebencian atau nafsu membunuh saja.

Hingga sekarang, aku belum pernah membunuh orang lain atas kehendak nyataku. Mungkin, seharusnya begitu.

Maksudku, untuk menghabiskan hari – hariku dalam Sloth, aku tidak perlu membunuh orang lain.

Setelah pulih total, Kanon menusukkan tongkatnya ke tanah. Tubuhnya tidak memiliki cedera.

Dan setelah ragu sejenak, dia membuat sebuah pengumuman dengan suara jernih.

Nadanya memiliki kemauan yang kuat di dalamnya. Seperti Api Wrath yang dia kuasai, dengan energi terang benderang, kekuatan selevel yang aku bisa mengerti mengapa dia adalah sang Raja Iblis Agung.

Dan ajaibnya, itu adalah apa yang Serge miliki, dahulu kala.

“… Leigie dari para Slaughterdolls… Sebagai sang Raja Iblis Agung, aku nyatakan. Kau adalah seorang Penguasa Iblis yang gagal. Meskipun kau seorang Iblis, melakukan sesuatu sekotor membekukan wilayahmu sendiri, dan menutupinya dalam es dan salju adalah sesuatu yang sulit dimaafkan.”

“… Gitu.”

“Sebagai hukuman… peringkat niisama akan diturunkan ke tingkat terendah.”

“… Gitu.”

“Wilayahmu juga akan disita. Semua yang akan tetap kau miliki adalah Kastil Bayangan ini.”

“… Gitu.”

Sejak awal, itu semua tidak perlu buatku. Aku tidak memiliki perasaan khusus buatnya.

Peringkat dan tempat, berikan itu kepada seseorang yang pantas yang benar – benar menginginkannya.

Tanpa suara, api keemasan mengalir keluar dari tongkatnya. Apinya tidak panas. Tapi es di Benteng mencair, dan ia menyentuh semua tanah seraya menyebar. Volume kekuatannya pantas sebagai sang Raja Iblis Agung. Aku merasakan kekuatan yang menyamai atau melampaui si Penguasa Iblis yang kuperangi beberapa waktu lalu.

Dalam suara yang diwarnai dengan kelelahan, tapi tanpa membiarkannya menyebar ke ekspresinya, Kanon meneruskan.

“Wilayah yang disita akan menjadi milik Penguasa Iblis baru, Heard Lauder… Sang Kaisar Angkuh… kupikir tidak akan aneh jika dia menjadi seorang Penguasa Iblis sewaktu – waktu, tapi memang membutuhkan waktu yang cukup lama ya. Itulah seberapa kuat dia bangun 『Superbia』nya, kurasa…”

“… Yeah…”

Tepat sekali. Itulah bagaimana seharusnya. Bukannya aku benar – benar tahu.

Dia adalah seorang Iblis yang mampu mengimbangiku tahun demi tahun. Tidak ragu lagi jalan hidupnya di atas Iblis – Iblis lain.

“Jadi tidurlah dalam keheningan, Penguasa Sloth.”

“Yeah.”

Aku akan melakukan persis seperti yang kau bilang.

Dan di sana, aku menutup mataku dengan tenang. Dalam kesadaranku yang tenggelam, rasanya seperti aku mendengar suara sang Raja Iblis Agung…

… Sesuatu yang baik pasti akan terjadi esok hari.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 8 Part 2: Aku Belum Puas dengan Dunia ini Daraku no Ou Chapter 8 Part 4: Iyo→

Leave a Reply