Daraku no Ou Chapter 9: Rampasan Avaritia, Part 1: Baunya Busuk

Rilis rutin hari Senin, ngomong – ngomong, mulai sekarang Daraku no Ou rilis rutin dua kali seminggu tiap hari Senin dan Kamis/Jumat.

Daraku no Ou Chapter 9: Rampasan Avaritia, Part 1: Baunya Busuk
Diterjemahkan oleh Aftertolv
Disunting oleh 8seen

Selamat tahun baru membaca! 🙂

Rampasan Avaritia

Part 1: Baunya Busuk

‘Tu hanyalah sebuah rumor tak berdasar.

Bahwa dalam Dunia Iblis yang luas ini, ada seorang Penguasa Iblis saja yang berkuasa atas kekuatan es dan salju, sebuah kuasa yang tidak ada di antara dosa – dosa asal.

Tiada yang seorang pun yang mampu menentangnya, tapi tanpa memedulikan legiun – legiun para Iblis yang dia buat berlutut, dia sekedar menghabiskan eksistensi kekalnya dalam ketiadaan.

Dan tentang Penguasa Iblis agung itu, para Iblis berbisik, dan bercerita tentang kisah – kisah yang dibesar – besarkan.

… Tentang sang Raja Pemalas.

Melihat si Iblis muda bicara dengan gugup seakan – akan setiap kata yang ia katakan benar adanya, aku mendengus.

“Ki ki ki, cerita yang sungguh tak berarti…”

Sebuah piala yang terwarna merah darah.

Aku meminum seluruh cairan kental di dalamnya dalam sekali teguk. Itu adalah sebuah anggur setan yang dibuat untuk menganugerahkan keadaan mabuk kepada Ras Iblis, meskipun ketahanan terhadap abnormalitas status mereka yang tinggi.

Rasanya seakan cairan itu mengeluarkan panas yang membara sembari mengalir turun di kerongkonganku.

Panas itu menjadi kekuatan, sembari mengembang ke setiap sudut tubuhku, keenam tanganku dan semuanya.

“Tetap saja, Deije-san. Aku benar – benar serius di sini. Kau ‘dah dengar tentang bagaimana tanah Penjara Gelap tersegel dalam es, kan? Sungguh, Penguasa Iblis Superbia yang memanjat naik ke peringkat satu itu dikatakan mengalami peningkatan kekuatan untuk menahannya, atau semacamnya…”

“Apa benar… Ki ki ki komandanku benar – benar telah menjadi congkak, ya…”

Tentu saja, bukannya seorang pembelot sepertiku benar – benar menyaksikan apapun.

Tapi dari situasi saat ini, aku memiliki hipotesis yang bagus. Aku mampu memperhitungkannya.

Avaritia-ku nyeri.

Dan seakan untuk menahannya, aku mulai meminum habis isi piala yang disuguhkan padaku lagi.

Seorang Iblis tingkat tinggi, untuk argumen, sepertiku tidak akan menjadi mabuk berat akibat meminum sesuatu seperti ini, dan selama aku menghendakinya, aku bisa menghilangkan keadaan mabukku dalam sekejap.

Mataku yang tercermin di anggur yang dipoles dengan baik itu berkilat penuh hasrat.

Ki ki ki, inilah mengapa Greed tak ada gunanya.

Sesuatu berbau busuk. Busuknya bukan main. Aku mendapat firasat buruk yang mengaduk – aduk bahkan sampai kedalaman jiwaku.

Itu adalah atmosfer yang sama yang kurasakan sebelum perang hitam dan putih yang pecah sepuluh ribu tahun lalu. Hal itu mengalir. Medan akan berubah di depan mataku.

Ini pasti sesuatu yang tak bisa diungkapkan dalam kata – kata, intuisi seorang Iblis yang menghidupi tahun – tahunnya.

Ini adalah bau harta karun, dan bau perang.

Bau kematian, tapi juga bau kejayaan.

Aku memperingatkan juniorku, seorang Iblis yang juga menguasai Greed yang duduk di sampingku.

“Ki ki ki, well jangan kehilangan kesabaran, Zeta Adler. Jangan salah mengenali musuhmu.”

“Salah… mengenali musuhku?”

“Yeah.”

Umumnya, mereka dari ras Iblis semuanya mendahulukan kepentingannya sendiri.

Maka dari itu, kami selalu dikelilingi musuh. Kau bahkan tidak bisa lengah di sekitar pasukan kawan. Itulah tepatnya mengapa kemampuan untuk membedakan teman dan musuh adalah keterampilan yang wajib dimiliki. Tidak peduli seberapa berbakatnya seorang Iblis, mereka akan mati dalam sekejap jika mereka gagal dalam aspek itu.

Musuh kemarin adalah teman hari ini. Teman kemarin, musuh hari ini. Juga penting untuk melihat pihak yang saling bertukar. Mereka yang tak bisa melakukannya, tapi masih bertahan untuk hidup dengan umur panjang antara gila bakatnya, atau mungkin diberkati dengan keberuntungan yang bagus.

“Ki ki ki, tepat sekali. Zeta, bagaimana Raja Pemalas itu terkait dengan kita? Apakah dia… musuh kita?”

“… Bukan, tapi…”

Sebuah naluri untuk berselisih bersemayam dalam watak dasar seorang Iblis. Itu adalah naluri yang kuat. Mungkin itu adalah kekuatan terkuat kedua di dalam kami, setelah dosa kami.

Dan itu terkadang menumpulkan kemampuan untuk membuat keputusan.

“Maka tidak perlu untuk takut padanya, itu saja. Sang Raja Pemalas bukanlah… musuh kita. Aku tidak akan pernah bisa memenuhi Greedku dengan bekerja di tempat yang memusuhiku. Apa aku salah?”

“Kau tidak… salah.”

Zeta mengangguk dengan raut wajah tidak puas.

Tidak apa jika dia belum memahaminya. Jika dia hidup cukup lama, dia akhirnya akan mengerti.

Hanya saja hingga dia menyadarinya, akan baik jika kata – kataku berbekas pada dirinya bahkan jika hanya sedikit.

Meski begitu…

“Raja Pemalas… huh. Apa sih yang kau pikirkan, Boss Leigie… Ki ki ki, ini tak ada gunanya.”

Leigie si Bejat.

Jangankan Kelas Jendral, dia adalah seorang Penguasa berumur panjang yang ada sejak aku bahkan belum menjadi seorang Iblis Kelas Ksatria.

Alasan keberadaannya dapat diringkas ke dalam satu kata. Tiada.

Seorang Penguasa Iblis kukuh yang tak akan mengambil tindakan apapun tanpa mempedulikan zaman. Sebuah eksistensi yang tak berubah. Maka dari itu, tak peduli akan peringkatnya yang tinggi di antara para Penguasa Iblis, hanya beberapa yang mengenalnya, dan mereka yang pernah melihat sosoknya amat terbatas jumlahnya.

Itulah mengapa aku takut.

Lebih dari pengalamannya, aku yakin dia memiliki sesuatu yang tersembunyi pada dirinya.

Dari segala lainnya, dia adalah seorang Penguasa Iblis. Akan aneh baginya untuk tidak memiliki apapun.

Sebelum diberitahu oleh Zeta, aku cukup tahu tentang bagaimana wilayah Boss Leigie telah membeku.

Itu telah menyebar ke seluruh hamparan Dunia Iblis sebagai semacam legenda urban.

Lebih dari setahun telah berlalu, tapi bahkan jika kami masih mendengar tentangnya dari mereka yang bicara dengan tercekat di sudut kedai minum, bagi kami para Iblis yang mengenal eksistensi – eksistensi yang tak dapat dilampaui yang dikenal sebagai Penguasa Iblis, itu benar – benar mustahil.

Itulah mengapa bahkan setelah setahun saja, semua orang bersikap seakan tidak tahu tentang itu.

Juga ada fakta bahwa sebuah ancaman yang lebih pasti menunjukkan dirinya, tapi bukan hanya itu.

Itu mengerikan. Sebuah kekuatan tak dikenal. Bagi mereka yang tahu, dan mereka yang tidak, hanya ada sedikit yang bisa dikatakan tentang kisah itu.

Yang tidak tahu tidak berbicara.

Mereka yang cukup licik untuk mengantisipasi akibatnya menutup mulut. Tentu saja, aku tidak membicarakannya juga.

Di samping Sloth, mayoritas Skill para Iblis sedang mengalami penelitian mendalam. Jika sebuah negeri es dan salju menampakkan diri, maka kemungkinan itu berada dalam Acedia yang belum diteliti besar adanya, dan melihat dari wilayah tempatnya berlangsung, tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa Boss Leigie lah yang melakukannya.

Sebuah Skill skala besar yang dirapal oleh sang penguasa yang diam… perubahan macam apa yang telah terjadi dalam perasaannya, atau keadaan macam apa yang meledak menjadi demikian, aku bahkan tidak ingin tahu.

Mungkin Komandan Tertinggi Heard telah menginjak ekor sang harimau, atau… oh, benar, kini Heard adalah Penguasa Iblis Peringkat Satu, bukan?

Well, hal yang seharusnya kupikirkan bukanlah suatu legenda urban absurd atau apalah. Ada musuh yang jauh lebih pasti di depan mata kami.

Kontras dengan umurnya, Zeta tampak cukup menjanjikan. Berbeda denganku, dia memiliki hasrat yang membuatnya mengambil wujud humanoid. Seorang Iblis laki – laki muda dengan rambut kelabu, dan mata yang berwarna sama.

Meski dia belum mencapai Kelas Jendral, dalam beberapa tahun sejak dia dilahirkan, dia sudah berada dalam peringkat atas Kelas Ksatria. Akalnya menunjukkan prospek yang cukup bagus.

Rekan seorang Avaritia haruslah seorang Avaritia lain, atau seorang Invidia.

Bahkan jika kami memendam dosa yang sama, target kami berbeda. Ada keuntungan dalam berasosiasi. Mungkin afinitas kami bahkan lebih baik daripada dengan Invidia.

“Well, daripada itu, ada sesuatu yang seharusnya kita fokuskan, bukan?”

“Ya… itu benar. Deije-san.”

Zeta melirik ke sekeliling, seakan memperhatikan keadaan sekitar.

Sebuah kedai minum yang sepi pengunjung. Bahkan tanpa musik, hampir tidak ada Iblis lain yang hadir. Sejak awalnya, hanya ada beberapa Iblis di luar sana yang benar – benar minum.

Semua yang ada hanyalah seorang Iblis bartender aneh yang menawari kami minum, dan seorang Iblis kelas rendah menyedihkan yang tidur telentang di atas meja. Keduanya terlalu lemah untuk bahkan dipertimbangkan untuk dibandingkan denganku.

Mungkin karena ketakutan, sebuah senyum congkak timbul di wajah Zeta.

“Para 『Malaikat』 keluar lagi.”

“… Dengan itu jadi berapa kali?”

“Sudah kali ketiga dalam sebulan ini. Jumlah mereka ada lima. Aku mendapat informasi mereka terlihat di Penjara Kirmizi.”

『Malaikat』

Musuh alami seorang Iblis, dan ditakdirkan menjadi musuh bebuyutan mereka.

Garda depan dari percobaan dewa putih itu untuk menginvasi Dunia Iblis.

Kekuatan mereka yang dikhususkan untuk membunuh para Iblis begitu hebat, sehingga dikatakan bahwa mereka terlahir untuk tujuan itu.

Para Iblis menerima kekuatan yang hebat dari tanah Dunia Iblis ini, tapi mereka mampu memberikan perlawanan yang seimbang bahkan dalam miasma ini. Bukannya aku telah jatuh terlalu rendah untuk menumbangkan seorang Malaikat tingkat rendah, tapi itu tidak merubah bagaimana merepotkannya mereka.

Ini karena bawahan – bawahanku tidak sekuat diriku. Mereka akan dimurnikan oleh yang paling rata – rata di antara para Malaikat.

Penjara Kirmizi adalah salah satu wilayah yang dikelola oleh seorang Penguasa yang tunduk pada sang Raja Iblis Agung. Itu adalah sesuatu yang seharusnya sudah menjadi pengetahuan umum bagi para utusan langit itu.

“Jumlah korban jiwa?”

“Mendekati seratus Kelas Ksatria dan kelas lebih rendah…”

“Seratus… ya…”

Kelihatannya para petinggi tidak meluangkan waktu untuk keluar.

Tapi dengan hanya lima yang keluar, aku tidak mengira mereka akan keluar. Para petinggi hanya muncul saat tiba saatnya untuk perang besar untuk pembinasaan.

Waktu itu sepuluh ribu tahun yang lalu juga sama. Awalnya, hanya para Malaikat kelas rendah, kemudian perlahan kelas menengah, dan akhirnya saat para kelas atas diutus, sang Raja memimpin pasukan yang berjumlah beberapa ribu untuk memerangi mereka.

Penguasa Iblis generasi ini bahkan tidak mengetahuinya. Tidak, dia kemungkinan tahu, tapi dia tidak mengalaminya.

Bahkan aku tidak tahu tentang situasi para Malaikat, tapi mungkin mirip. Selang waktu sepuluh ribu tahun bukanlah sesuatu untuk diremehkan.

Bagi Greed, Perang hanyalah sebuah titik balik. Ki ki ki, itu adalah sesuatu yang memunculkan banyak peti harta karun.

Dengan Iblis kelas rendah, dan menengah, dan tinggi, dan bahkan Iblis Kelas Penguasa tewas di sana sini, semuanya mulai mengalir.

Harta karun setingkat itu tersebar di sana sini. Jadi musuh kami bukan hanya para Malaikat. Tepat karena hasrat mereka, Iblis Greed yang serupa bisa menjadi oposisi yang bahkan lebih besar lagi.

Apa yang kuburu… sumber daya yang kuinginkan terbatas. Jika itu memasuki genggamanku, itu tidak akan pergi ke genggaman orang lain. Jika orang lain menjamahnya, itu tidak berakhir di genggamanku.

Ini adalah permainan menjarah. Tentang Malaikat, tentang Iblis, tentang Harta.

Dan kekuatan yang diperlukan adalah sesuatu yang kumiliki.

Libell tidak di sini lagi, tapi sebagai gantinya, aku punya Zeta. Dari sisi pengalaman, Libell datang dari masa yang sama denganku, tapi itu tak bisa dihindari.

Hal pertama yang kami perlukan adalah untuk memahami musuh.

Jumlah malaikat. Kekuatan mereka. Tujuan mereka. Tindakan mereka selalu difokuskan pada tujuan yang lebih besar atau lainnya oleh kehendak Tuhan. Mengetahuinya atau tidak akan merubah kesempatan menang kami.

“Apa jadinya kelima Malaikat itu…?”

“Mereka kabur, kelihatannya. Saat mereka melihat pasukan utama sang Penguasa Iblis, mereka lari.”

“Betapa langkanya bagi sebuah pasukan Tuhan untuk mundur… orang – orang itu seharusnya tetap setia pada doktrin mereka, bahkan jika itu akan berujung pada kematian…”

Malaikat adalah kehidupan kekal yang dibuat dari jiwa. Perasaan mereka tentang hidup tidaklah begitu berbeda dari yang kami miliki, tapi ada satu hukum. Karena mereka hanya mampu bergerak menurut rancangan agung mereka, kekuatan mereka sangat terbatas saat dibandingkan dengan Iblis.

Dan itu semua agar tiap – tiap dari mereka bisa membunuh Iblis sebanyak – banyaknya.

Tapi pola kali ini jelas – jelas berbeda dari biasanya. Betapa merepotkan. Mereka seharusnya hidup saja melihat ke depan.

Apa yang mereka mungkin pikirkan…?

Apakah sebuah tujuan yang lebih penting dari membantai Iblis telah diturunkan pada mereka…?

… Well biarlah. Bagaimanapun, hasilnya sudah ditentukan.

Aku seorang Iblis Greed. Maka hanya ada satu hal yang harus kulakukan.

Kurasa aku bahkan tidak perlu mengatakannya.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 8 Part 4: Iyo Daraku no Ou Chapter 9 Part 2: Makna Greed→

Leave a Reply