Daraku no Ou Chapter 9 Part 4: Taruhan yang Tak Menguntungkan

Maaf baru rilis.

Gila yang ini panjang.
Karena itu juga rilis hari Kamis/Jumat dan Senin kemarin tidak ada.

Daraku no Ou Chapter 9 Part 4: Taruhan yang Tak Menguntungkan
Diterjemahkan oleh Aftertolv

Selamat membaca! 🙂

Part 4: Taruhan yang Tak Menguntungkan

“Sia – sia… tidak mau keluar sama sekali.”

Zeta memasang wajah lelah seraya menarik kembali jemarinya.

Di depannya, seorang Iblis perempuan seumuran Medea berdiri dalam diam dengan ekspresi datar melekat pada wajahnya.

Iblis – Iblis dengan raut wajah beku layaknya boneka adalah sesuatu yang kini sudah biasa kulihat.

Di Batu Kelabu dengan pejalan kaki seadanya, sebuah gang di sebuah tikungan jalan utama ke arah kiri. Bahkan di tengah hari, di sini gelap, dan lebih – lebih Iblis, bahkan tidak ada seekor tikus di sini.

Bahkan jika kami berada dalam wilayah milik Vanity sang Peringkat Empat, kami berada di pinggirannya daerah pinggiran. Maksudku, di sini sunyi, jadi tidaklah sulit untuk mengincar celah.

Zeta telah mengambil kenangan sembilan orang Iblis.

Skill – skill seorang Iblis adalah hasrat mereka sendiri.

Tapi mereka tidak bisa digunakan tanpa batas. Dengan panas dan kelembapan tinggi ini, wilayah ini luar biasa tidak nyaman, dan dengan tugas di tangan, yang sulitnya seperti menggenggam kabut, memberikan tekanan yang besar pada kewarasannya.

Perlahan, sebuah cahaya kemerahan melingkari rambut kelabunya.

“… Gimana?”

“Mengambil kenangan – kenangannya sangatlah mudah, tapi… sekali lagi, dia tak ada gunanya. Dia tidak melihatnya… tidak, dia menyaksikan kejadiannya, tapi tidak melihat apapun setelah itu.”

Itu adalah kalimat yang telah kudengar delapan kali sebelumnya.

Kupikir kami beruntung saat Iblis pertama yang kami cegat telah melihat para Malaikat, tapi itu salah.

Para Malaikat memamerkan kekuatan mereka dengan terlalu mencolok. Tiap – tiap dari kesembilan Iblis yang kami curi kenangannya sampai sejauh ini telah melihat sosok mereka dengan jelas.

Tapi tujuan mereka, dan arah kepergian mereka tetaplah asing.

Seluruh Malaikat mengenakan seragam yang berkilau mencolok. Itu adalah cahaya dengan kekuatan tuhan yang mengerikan itu pada intinya.

Dan itu bagus dalam segala konteks bahwa itu menarik perhatian orang, tapi di saat yang sama, cahaya itu dibenci, dan tidak ada orang yang dengan suka rela ingin melihat mereka beranjak pergi.

Apa boleh buat. Musuhnya adalah para utusan yang secara pribadi menghancurkan pasukan sang Penguasa yang memerintah. Tidaklah aneh bagi para penduduk sipil untuk ingin melarikan diri.

Tidak aneh… tapi…

Beralamat buruk. Sangat beralamat buruk.

Pengalamanku menjerit layaknya alarm kebakaran. Semuanya terlalu tenang. Terlalu banyak yang kurang.

Semuanya terlalu sempurna.

Aslinya, kemunculan para Malaikat itu sendiri akan dicurigai sebagai penipuan belaka, tapi kita bisa menggunakan kekuatan Zeta.

Kenangan tidak berbohong.

“… Oy, Zeta. Apa kau tahu laporan siapa yang bilang bahwa para Malaikat telah menampakkan diri?”

“… Ya, itu laporan anggota Orde Hitam yang menemani Vanity… laporan rutin si inspektur. Maksudku, kemunculan para Malaikat adalah urusan serius… kudengar mereka berpartisipasi dalam pasukan yang Vanity utus untuk mengejar, atau sesuatu.”

Orde Hitam.

Garda depan pribadi sang Raja Iblis Agung, dan pelayan langsungnya.

Jika itu demi Kanon Iralaude, mereka bahkan akan menentang seorang Penguasa Iblis. Mereka adalah kaki tangan sang Raja, juga mata dan telinganya.

Gadis Lize itu sama, tapi kesetiaan yang orde itu tunjukkan pada sang Raja Iblis Agung luar biasa. Karena anggota ini ditugaskan dengan seorang Penguasa yang memerintah Pride, kesetiaan mereka pasti kelas atas. Aku ragu orde itu pernah membuat kesalahan serius dalam mengutus personil.

Jika mungkin, aku ingin mengambil kenangan inspektur itu untuk memastikannya, tapi aku ragu itu akan terjadi.

Sebagai seorang inspektur, tak diragukan lagi mereka adalah seorang Kelas Jendral yang telah melampaui Zeta. Tidak seperti kekayaan materiil, merampas kenangan bergantung pada kehendak si individu, dan ketahanan mental bisa menurunkan tingkat kesuksesannya. Dengan mengesampingkan para Iblis kelas rendah yang telah kami curi ingatannya, seorang Kelas Jendral adalah beban yang terlalu berat bagi si bocah.

Orang yang paling cemas tentang situasi saat ini pastilah Zeta.

Saat dia secara pribadi mengambil pandangan – pandangan itu, dan tidak ada satu pun petunjuk yang ditemukan. Seakan – akan dia dipaksa membuka peti harta yang kosong lagi dan lagi.

Sebagai seorang Iblis muda, dia kurang pengalaman. Situasi dimana instingnya membuatnya merasakan kecemasan yang mencolok kemungkinan sama dengan perasaan yang kupendam puluhan ribu tahun lalu.

Ki ki ki, itu benar.

Maka aku akan mengambil peran orang yang menjagaku dulu.

“… Zeta, tenangkan dirimu. Hasil ini memang di luar perkiraan kita, tapi ini bukanlah kejadian yang mustahil. Bukannya kita belum mendapatkan apapun. Setidaknya… semuanya berbau busuk, itulah apa yang telah kita ketahui.”

“… Begitu…”

Pertama, kau harus menenangkan diri. Dapatkan kembali jalan pikiran yang lurus.

Para Iblis ditakdirkan untuk terlalu percaya diri dengan kemampuan mereka. Itulah mengapa saat kecelakaan terjadi, mereka sering mencoba untuk menyelesaikannya dengan kekerasan.

Pertama, ambil nafas dalam – dalam. Bernafaslah, dan fokus. Itulah kekuatan para Iblis yang tidak hanya memiliki kekuatan, tapi juga kecerdasan.

Berpikirlah dengan kepalamu sendiri. Terkadang itu akan mengubah takdirmu.

Ada saat – saat dimana kau harus mengambil resiko, dan mempertaruhkan nyawamu juga, tapi setidaknya, saat ini bukanlah waktunya.

“Para Malaikat itu, pasti ada yang pintar di antara mereka… tidak, meski begitu, jumlah mereka terlalu kecil, dan kita masih tidak memiliki petunjuk tentang mengapa mereka menyerang kota ini. Mengapa mereka mengincar daerah yang begitu terpencil… apa tujuan mereka?”

Sekedar membantai Iblis?

Seratus Iblis. Dengan pelayanan militer mereka, kekuatan mereka lebih tinggi dari Iblis rata – rata. Kurasa alasan itu cukup bagi para Malaikat untuk menyerang.

Tapi itulah persisnya mengapa aku tidak mengerti. Mengapa hanya lima yang datang?

Bahkan jika kami melawan para Malaikat yang mengkhususkan diri dalam membunuh, tanah ini meningkatkan kemampuan kami secara drastis.

Untungnya bagi mereka, tidak ada seorang Kelas Jendral dalam pasukan itu, jadi mereka mampu menghadapi seratus dengan mudah, tapi jika ada satu di sana, maka mereka berlima pasti berada dalam keadaan yang tak menguntungkan…

Jika itu surga yang sama seperti sebelumnya, jika itu malaikat – malaikat biasa yang akan memutuskan untuk membunuh tepat saat mereka bertemu seorang Iblis, maka itu akan sedikit masuk akal, tapi orang – orang kali ini… mereka mundur.

Semuanya tidak cocok. Itu ada dimana – mana.

Kecerobohan yang mereka lakukan untuk menghadapi dua puluh kali jumlah mereka, dan kebijaksanaan yang mereka miliki saat mereka mundur tepat saat pasukan terlihat. Celah itu melahirkan rasa ketidaknyamanan.

Itu tidak cocok dengan malaikat – malaikat yang telah kulihat hingga kini.

Merasakan keraguanku, Zeta mengusulkan.

“… Sesuai dugaanku, haruskah kita mencuri sedikit lagi?”

“… Bisakah kau melakukannya?”

“Yeah… Kufu, Greed-ku masih… belum terpuaskan, tahu…”

Dengan wajah yang tampak cukup dipaksakan, Zeta tersenyum.

Penyalahgunaan merampas. Kelelahannya yang menumpuk, dan lemasnya fisiknya. Aku bisa melihat semuanya.

Tapi untuk kali ini saja, aku tidak bisa menyalahkannya.

Kita perlu menemukan jejak kami sebelum seseorang menyadari ketidakkonsistenan dalam kenangan mereka, dan meninggalkan kota.

Waktu tidak berada di pihak kami. Kami tidak tahu kapan atau dimana seorang Malaikat akan muncul lagi. Kami harus menyelesaikannya secepat yang kami bisa.

Tapi di saat yang sama, aku mendapat firasat.

Bahwa kami tidak akan menemukan barang satu hal lagi dari para penduduk kota ini.

Aku kembali sekali lagi ke teras kafe tanpa nyawa itu. Saat ada seseorang berperawakan besar sepertiku, para target cenderung waspada.

Peranku adalah sebagai pemikir.

Tak diragukan lagi ada suatu sebab akibat yang sedang berlangsung di negeri ini. Selain Valkyrie itu, tempat ini adalah satu – satunya tempat yang terkena kerusakan yang besar dari para Malaikat akhir – akhir ini.

Setelah berhenti dari pasukan Boss Leigie, aku telah di sini, tapi hanya itulah perubahan sungguhan yang telah kudengar.

“… Seusai dugaanku, memang sia – sia… Hah. Rasanya seperti aku membuka peti harta kosong satu demi satu.”

Setelah melancarkan perampasan lain, Zeta menghela nafas panjang dan meratap.

Anehnya, kata – katanya persis dengan perumpamaan yang kupikirkan sebelumnya.

Seakan sudah menjadi rutinitas belaka, aku memastikannya dengannya.

“Itu yang kesepuluh, kan?”

Dan sama sepertiku, ia memberi jawaban tegas.

“Ya… Mereka yang melihatnya memiliki perbedaan – perbedaan kecil, tapi kesembilan yang lalu kurang lebih… sama…?”

Dalam sekejap, wajah Zeta gemetar.

Dia memucat, dan mulutnya membuka-tutup tanpa suara seraya mencari kata – kata, itu bukanlah ekspresi yang normal.

Aku beranjak secara refleks, dan melihat matanya.

Kedua mata itu terarah ke langit dan mengusut langit rendah yang tergantung di atas Dunia Iblis.

Pikiranku berubah. Dari benang kusut yang berputar – putar, menjadi lurus.

“Deije… sa… itu…”

“… Oy, oy, apa ini sungguhan… tipu daya macam apa ini?”

Ada sebuah sosok.

Sesosok manusia yang memancarkan cahaya putih cemerlang di langit kirmizi. Sepasang sayap besar yang muncul dari punggungnya berwarna putih bersih.

Dicintai oleh Tuhan, dan diproduksi olehnya. Sisi spektrum yang berlawanan dari Roh para Iblis.

『Malaikat』

Dalam sekejap, dia mengembangkan kekuatannya.

Kebalikan dari miasma yang menyelubungi para Iblis, sebuah aura yang bahkan bisa disebut suci disebarkan ke tanah.

Tubuhku gemetar. Ingatan genetikku, rasa takut yang diukir pada jiwa seorang Iblis ketika melihat para algojo mereka.

Tak peduli bagaimana aku melihatnya, si Malaikat bahkan kurang dari seratus meter jauhnya.

Ini aneh. Mengapa aku belum menyadarinya padahal dia sudah sedekat ini?

Malaikat adalah musuh bebuyutan Iblis. Bagaimana mereka memosisikan diri adalah satu hal, tapi jika mereka mendekat, aku seharusnya mampu menyadarinya dalam sekejap..

Aku memulai ulang pikiranku yang beku dengan kekuatan kemauan. Baiklah. Apa yang harus kupikirkan sekarang bukanlah sesuatu semacam itu.

Aku menepuk punggung Zeta untuk mencairkannya.

Aku tertawa terbahak – bahak.

Aku mendengus. Sebuah niatan buruk yang cukup hebat untuk menghempaskan rasa suci ini.

“Ki ki ki, tepat saat kupikir tidak ada jejak yang bisa ditemukan, orangnya muncul sendiri… aku beruntung.”

Untungnya, selain aku dan Zeta, tidak ada orang lain di dekat sini. Sunyinya kota ini mencekam. Ada banyak ruang kosong. Aku bisa bertarung dengan segala kemampuanku.

Aku menghitung jumlah sosok yang menghiasi langit dengan lincah.

“Sepuluh… ya? Mereka menggandakan diri.”

Kekuatan tiap individu, sesuai dugaan, bukanlah sesuatu yang serius. Bahkan dengan memperhitungkan afinitas mereka, mereka jauh lebih lemah dariku. Jika aku mengekang rasa ngeri naluriah dalam jiwaku ini, mereka adalah musuh yang bisa kuratakan dalam sepuluh menit.

Aku menanamkan kakiku ke tanah dengan kukuh, dan mengumpulkan kekuatan. Jadi aku bisa bereaksi tidak peduli kapan atau bagaimana mereka mencoba datang, aku menyiapkan jiwaku.

Kawanan Malaikat itu diam, sembari melihat turun ke arah kami. Apa yang bersemayam dalam mata mereka hanyalah cemoohan murni. Mata milik mereka yang sedang melihat spesies yang inferior.

Ki ki ki, aku sedang diremehkan.

Inikah pasukan utama mereka?

Tidak, kemungkinan bukan begitu. Ini adalah mereka yang sedang mencoba meraba – raba kekuatan lawan.

Fakta bahwa sepuluh keluar setelah lima adalah buktinya. Apakah mereka sedang mengukur kekuatan para Iblis?

Well, keluarlah dalam jumlah sebanyak yang kau mau. Greed memiliki caranya sendiri untuk melakukan hal – hal ini.

Zeta telah membuat dirinya lebih dari berguna.

Kerja keras mental dan fisik.

Penyelidikan dan pertarungan.

Dari sini, ini adalah bagianku.

“Deije… san.”

“Ki ki ki, mundur.”

『Big Pocket』

Aku membuka subruang penyimpanan Greed.

Karena Penguasa Gluttony tidak menyenangkan yang kuperangi setahun lalu itu, ruang penyimpanan ini hampir kosong. Tapi sebuah benda yang luar biasa telah kutinggalkan menggantung di sana.

Itu adalah sebuah pedang api yang dikatakan telah membakar seekor naga api yang kekuatannya menyaingi Penguasa Iblis hingga mati.

Aku menarik pedang yang telah membuatku terbiasa dengan mudah. Seperti biasanya, baja kirmizinya mengeluarkan sejumlah sihir yang meledak – ledak, menyaingi mentari yang membara di atasnya.

Demon Blade Celeste.Pedang Iblis Celeste.

Pada suatu hari, itu adalah sebuah harta agung yang dianugerahkan kepada seorang Raja Pemalas.

Dengan aku yang menjadi kebalikan dari Tuhan, merasakan aku mengeluarkan gelombang yang serupa, raut wajah seperti boneka para Malaikat berubah kejam.

“Ki ki ki, jangan terlalu khawatir tentang itu. Aku seorang Avaritia. Aku tidak akan sampai mengambil nyawa kalian.”

Jika kau mendapatkan satu, kau akan mengharap sepuluh. Sekali kau mengenal sepuluh, kau akan mendambakan seratus.

Aku tidak bisa puas dengan sekedar sepuluh malaikat. Bawakan seratus, seribu, sepuluh ribu.

Kalian bukanlah target hasratku, tapi aku akan tetap menyesap kalian.

Aku melambaikan Celeste dengan ringan. Sihir yang meluap – luap dari bilahnya mengambil bentuk seekor naga berapi, yang melesat untuk menembus sayap salah satu dari mereka.

Dan saat itu terjadi, tubuh si Malaikat terbungkus api. Dia berputar – putar sembari jatuh ke tanah.

Sebuah raungan menggelegar.

Perawakan besar si Malaikat terbentur atap kafe, dan atap kafe itu mengeluarkan suara keras sebelum runtuh.

Terbungkus dalam api legenda, seorang Malaikat tidak bergerak sama sekali, dan aku tidak merasakan sedikit pun kekuatan darinya.

Aku menjilat bibirku. Sesuai dugaanku.

… Hanya sekali pukulan, kelihatannya. Mereka benar – benar bukan sesuatu yang spesial.

Bahkan di bawah Kelas Ksatria. Bahkan jika aku tidak menghunus Celeste, mereka berada pada level yang bisa kutangani.

Aku mengarahkan pedangku ke sisa kawanan. Seakan tertusuk oleh tusukan yang kubuat ke udara, para Malaikat melenggok di udara kosong.

Haruskah aku menahan diri?

Setidaknya, aku harus membiarkan satu tetap hidup, atau kami tidak akan bisa mengambil kenangan mereka.

Tapi apakah aku memiliki kesempatan untuk mencapai sesuatu seperti itu?

Bisakah aku membuat mereka tak berdaya tanpa membunuh mereka? Keuntungan dalam bidang posisi berpihak pada para Malaikat yang menguasai langit.

Keluaran Celeste terlalu besar. Aku akan berakhir membunuh mereka semua.

Haruskah aku melompat, dan memukul jatuh mereka? Bisakah aku melakukannya? Menghindari serangan di udara?

Saat pikiran – pikiran itu berputar dalam kepalaku, kekuatan para Malaikat membengkak dengan meledak – ledak.

Dari badan mereka, seperti uap, kekuatan, sihir, dan ketuhanan mengalir keluar. Aura suci keemasan yang tumbuh, bahkan dari mata seorang Iblis sepertiku, terlihat suci.

Tubuhku merasakan peningkatan kekuatan musuhku yang tiba – tiba, dan aku bisa mengerti dalam sekejap.

Kekuatan mereka kini berada dalam tingkatan atas Kelas Ksatria. Apakah mereka menahan diri hingga kini? Untuk mengukurnya, mereka berlima semuanya berlipat dua. Perbedaannya terlalu besar.

Tapi tetap saja, superioritasku tidak tergoyahkan.

Kesembilan Malaikat mengulurkan tangan mereka, seakan mencari jawaban dari surga.

Mereka menyiapkan serangan dengan cukup jelas. Untuk menyainginya, aku membuat sebuah ayunan besar dengan Celeste.

Api Iblis itu memanggang lengan – lenganku. Itu adalah kompensasi dari meningkatkan keluaran kekuatan pedang ini.

Meningkatkan keluarannya beberapa kali lipat untuk sekali serang, sebuah pilar api menjalar naik dariku.

Aku menahan sakit yang membuat tubuhku serasa seperti sedang dicabik – cabik dan aku membuat kekuatan itu di bawah kendaliku saat sebuah pilar cahaya dari Surga menimpaku.

Intensitas cahaya itu menggelapkan penglihatanku. Kirmizinya Celeste, dan putihnya Malaikat berbentrokan, dan gelombang yang dihasilkan menyebabkan kafe dan rumah – rumah di sekitarnya goyah.

Tiga meja yang dijajarkan al fresco terhempas seketika, dan mereka hancur begitu menyentuh dinding. Bersembunyi di balik tubuhku, Zeta merendahkan tubuhnya seraya melihat bentrokan cahaya dan api.

Seorang Malaikat terkikik mesum.

Sikap itu membuatku tidak bisa melihat mereka benar – benar menguasai Keadilan.

Dan tawa itu adalah yang lebih cepat dari keduanya.

Aku mengerti saat aku pertama melihat Skill mereka. Orang – orang ini… tanpa ragu lagi, mereka bukan apa – apa dibandingkan dengan Penguasa Pelahap itu.

Ki ki ki, tidak kurasa aku mengambil target yang salah untuk dibandingkan.

Dulu saat seranganku berbentrokan dengan serangan Zebul Glaucus itu, itu adalah oposisi murni, aku tidak menahan diri, dan aku tidak punya kelapangan untuk melakukannya.

Tak peduli seberapa banyak kekuatan yang kucurahkan padanya, aku tidak bisa merangsek maju sama sekali, seakan aku sedang berurusan dengan sebuah tembok yang absolut. Rasanya seakan seluruh dunia adalah musuhku, dan aku tidak bisa menghentikan rasa takut dalam hatiku, tapi orang – orang ini berbeda.

“… Well, kurasa yang ada hanya begitu saja.”

Aku mengayunkan Celeste lagi. Hanya dengan itu, kekuatan naga api itu bertambah, dan ia menelan cahaya itu dengan begitu mudahnya untuk membakar surga.

Naga itu melesat menembus tengah – tengah formasi mereka, dan sejumlah Malaikat terbakar hangus seketika sebelum jatuh ke bumi.

Tawa dari langit terhenti.

Sosok seorang Malaikat tidak begitu berbeda dari sosok seorang Iblis. Dengan wujud yang meniru ras manusia, jubah putih gading mereka berkibar disapu angin. Mata bening bak bola kaca mereka mengikuti rekan mereka yang jatuh. Tapi dalam mata itu, tidak ada rasa takut atau ketidaksabaran.

… Bahkan saat setengah dari mereka telah tumbang.

… Perasaan apa ini?

Bahkan para Malaikat seharusnya memiliki emosi. Bagi mereka untuk se-anorganik ini…

Merasakan rasa ngeri yang asing, aku mengangkat Celeste tinggi – tinggi.

Di saat yang sama, para Malaikat menyebar.

Mereka terbang ke segala arah. Aku tidak akan bilang kecepatan mereka lebih tinggi dari kecepatan seorang Iblis, tapi tidak ada jalan yang pasti di udara. Tidak ada hambatan juga.

Udara adalah taman bermain mereka. Mobilitas mereka kelewat tinggi.

Pedang kirmizi itu menjerit.

Pusaran Mana tanpa arah itu berkilat sekali lagi untuk menyelimuti langit.

Celeste meminta bahan bakar. Bahkan jika ia hanya sebuah pedang, ia adalah sebuah benda karya Iblis. Sebuah pedang yang dilahirkan dengan tujuan untuk menentang Tuhan. Kepribadiannya adalah yang terburuk.

Api yang mengamuk ke kiri dan kanan terbang pada kecepatan yang tidak bisa dilampaui sayap – sayap surgawi itu.

Para Malaikat yang menyebar ke lima arah terbakar, dan satu jatuh ke tanah.

Perbedaan kekuatannya terlalu jelas.

Perbedaan peralatan, selama aku memiliki Celeste, kemenangan telak adalah milikku, dan situasi berlangsung dengan keuntungan itu di pihakku.

Saat aku bisa memukul jatuh Skill – skill Iustitia mereka dengan begitu mudahnya, kemenanganku sudah pasti.

Aku mengabaikan umpan balik panas yang menyakitkan dari pedang itu, dan menjilat bibirku.

“… Ada yang salah dengan gambar ini.”

Bukannya tidak ada perlawanan. Dan kehadiran si Malaikat yang terjatuh ke tanah memang telah memudar.

Tapi, tetap saja… benar, jika aku harus mengatakannya, maka aku sekedar tidak puas dengan ini. Aku tidak bisa melihat apa niatan mereka.

Mungkin ini adalah apa yang Zeta rasakan saat dia menangkap seluruh kenangan itu tanpa hasil.

Aku menghalau sebuah panah cahaya dari atas dengan Celeste.

Si Malaikat yang telah menunggu untuk menggunakan sebuah Skill hangus menjadi abu.

… Tersisa tiga dari mereka.

Tubuhku merinding semakin hebat lagi.

“Deije… san… orang – orang ini…”

“… Seriusan, tipu daya macam apa ini…”

Cahaya yang menyilaukan menghalangi langit.

Langit porak poranda. Pada kekuatan yang menentang dasar seorang Iblis, sebuah gelombang sihir surgawi mengguncang dunia, seakan dunia sedang menjerit di bawahnya.

Cukup untuk membuat pertunjukan kekuatan sebelumnya tampak seperti permainan anak kecil belaka. Jika aku harus membandingkan cakupan kekuatannya, aku yakin kekuatannya setidaknya sepuluh kali lipat yang sebelumnya.

Artinya sejak saat aku pertama melihat kelompok yang sebelumnya itu, kali ini dua puluh kali lipat lebih tinggi.

Seakan pasukan sepuluh Malaikat menjadi dua ratus.

Melawan musuh skala ini, bahkan dengan seorang Jendral di sini, aku tidak bisa memutuskan hasilnya dengan pasti.

Tapi bukan di situ masalahnya. Apa yang harus kupedulikan bukanlah sesuatu yang tak berguna semacam itu.

Jangkauan sejauh mana fluktuasi kekuatan mereka dari titik awal berlawanan dengan watak Malaikat.

Itu adalah hal paling aneh yang harus kupikirkan.

“That can’t be… it can grow that much? Were they hiding their true power? No, there shouldn’t be any meaning behind suppressing it all the way up to here…”

“Mustahil… bisakah itu berkembang sebanyak itu? Apakah mereka menyembunyikan kekuatan mereka yang sebenarnya? Tidak, seharusnya tidak ada artinya menekan kekuatan mereka hingga sejauh ini…”

Sisa Malaikat berjumlah tiga. Tapi tiap – tiap dari mereka terbalut ketuhanan yang mengerikan.

Dari segi Peringkat, mereka jauh melampaui Ksatria, dan jika mereka Iblis, mereka akan berada dalam jajaran Jendral tanpa perlu diragukan lagi.

Aku tidak yakin kapan mereka muncul, tapi ketiga Malaikat itu menghunus pedang – pedang putih dari pinggul mereka.

Itu adalah sebuah Skill yang pernah kulihat di suatu tempat dan suatu waktu sebelumnya.

Benar, itu adalah pedang – pedang suci yang digunakan oleh para Malaikat Keadilan dalam perang dulu.

Sebuah Skill Iustitia.

『Sin Breaker』

Itu bukan Skill kelas-Ksatria.

Memancarkan cahaya, sayap – sayap surgawi itu mengepak. Naik, melayang, dan turun.

Kecepatan mereka saat turun cocok dengan istilah Godspeed. Telah dikatakan bahwa para Malaikat peringkat atas bergerak dalam kecepatan cahaya, tapi mereka ini juga cukup cepat.

Mungkin mereka pikir mereka berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam pertarungan jarak jauh. Pedang cahaya pembantai iblis itu memasuki pandanganku.

Seakan – akan serangan itu adalah serangan terkoordinasi. Hanya saja senyuman – senyuman angkuh yang melekat di wajah mereka mengindikasikan bahwa tindakan ini bukanlah sesuatu semacam itu.

Gaya bertarung mereka kasar. Tanpa teknik atau apapun. Tapi hanya dalam kekuatan saja mereka unggul.

Aku bahkan tidak punya waktu untuk menghela nafas.

“… Well, well, ini akan merepotkan.”

Alangkah bodohnya.

Melawan seorang Iblis Avaritia, terlebih lagi, melawan aku, mereka bersaing dengan permainan pedang?

Pedang keadilan yang mendekati mataku padam dalam sekejap.

Di lengan kiri-bawahku, aku mampu merasakan sensasi menggenggam senjata baru. Begitu melihat senjatanya lenyap begitu saja dari tangannya, si Malaikat membeku sejenak, dan aku menebas naik ke arahnya dengan pedang curian.

Bahkan saat berbalik menyerang penggunanya, Sin Breaker memamerkan kekuatannya tanpa sesal.

Aku menaruh kekuatan ke tubuh bagian bawahku untuk menghentikan energi kinetiknya yang seperti peluru. Lengan yang mengayunkan pedang itu merasakan beban yang berat.Karena dia telah mengepakkan sayapnya untuk mundur, meskipun tubuhnya menerima luka tebasan yang dalam, dia tetap kembali ke udara tinggi.

Saat ia melesat naik, aku melancarkan tebasan untuk mengikutinya, dan bahkan dengan cahaya di punggungnya, aku bisa melihat dengan jelas wajah ketakutan terlahir padanya. Tidak seperti yang lain yang dihanguskan oleh Celeste, keputusasaan menyapu wajahnya beberapa kali sebelum dia sirna.

Dengan bunyi gedebuk, tubuh si Malaikat yang tak berdaya berguling di tanah.

Dia memang kuat. Jika aku menghadapi ketuhanan itu secara langsung, mustahil aku bisa lolos tanpa terluka.

Tapi hanya itu. Aku tinggal tidak menghadapinya secara langsung. Umumnya, Malaikat dan Iblis keduanya mengutamakan penyerangan dibandingkan pertahanan.

Artinya di samping pengecualian – pengecualian langka yang mengkhususkan diri dalam pertahanan, seperti Boss Leigie, sisa dari kami harus menghindar untuk bertahan hidup.

Tapi orang – orang ini bahkan tidak punya naluri untuk melakukannya.

Ini benar – benar tidak cocok. Kekuatan mereka tidak cocok dengan pengalaman bertarung mereka.

Mereka bahkan tidak memperhitungkan atribut musuh mereka, dan serangan mereka hanyalah kebodohan belaka.

Itulah mengapa bahkan tanpa senjata, aku seharusnya mampu menumbangkan mereka dengan mudah. Menggunakan senjata jarak dekat melawan Greed kurang lebih berarti meminta senjata mereka untuk dicuri. Itu karena ada cukup banyak Skill semacam itu pada Skill Tree Avaritia.

Bukan berarti adalah hal buruk bagiku jika musuhnya lemah.

Meski aku memiliki naluri bertarung, aku bukanlah seorang penggila pertarungan seperti Heard Lauder itu. Jika aku bisa mendapatkan hasil dengan mudah, maka tidak ada yang lebih baik.

“… Dua tersisa.”

“Deije-san… kau memang kuat…”

“Musuhnya saja yang lemah.”

Aku membalas kata – kata Zeta dengan ringan. Itu adalah perasaanku yang sejujurnya. Mustahil ini adalah semua yang ada dalam perang – perang melawan Surga.

Dua yang tersisa terhenti di udara.

Malaikat – Malaikat laki – laki. Seakan mereka telah diproduksi massal secara mekanis, dua wajah yang serupa, empat mata totalnya, membelalak ke arahku.

Apa yang ada di sana antara kebencian atau kesedihan.

Dua Malaikat kelas atas.

Tapi aku tidak merasa aku akan kalah dengan mereka.

Aku akan menumbangkan yang pertama, dan menangkap yang kedua, dan menyuruh Zeta mengambil kenangannya.

Kelas Jendral atau tidak, kita akan mengambil segalanya.

Apa masalahnya? Ini hanyalah masalah sepele. DIbandingkan dengan lebih dari sepuluh ribu tahun di neraka.

Aku menggenggam erat Celeste lagi.

Lenganku telah cukup terbakar oleh auranya. Kompensasinya. Umpan baliknya kepada sang pengguna.

Mereka yang menggunakan pedang ini ke batasnya ditakdirkan untuk hangus menjadi abu. Itu adalah sebuah legenda tanpa bukti untuk mendasarinya, tapi pedang ini terbalut kekuatan setaniah yang cukup untuk memberinya kredibilitas.

Aku belum jatuh sedalam itu untuk harus mengandalkannya sampai sejauh itu.

Dengan sebuah dengusan seorang Malaikat mengeluarkan suara penertiban.

Itu adalah sebuah jeritan tinggi menjengkelkan yang meraung di belakang telingaku. Tak mampu menahannya, Zeta menutup telinganya, dan berjongkok di titik itu juga.

Dunia berguncang. Bergemuruh. Bergetar.

Tapi tak ada yang benar – benar bergerak. Itu adalah sebuah gelombang ketuhanan yang cukup hebat untuk mengeluarkan ilusi itu.

Udara Dunia Iblis berubah warna. Dari hitam kelam menjadi putih bersih. Gelap menjadi terang.

Kelopak mata Zeta mengejang akibat situasi abnormal itu, sembari melihat sosok salah satu dari Malaikat itu.

Apa – apaan ini… aku belum pernah mendengar tentang ini.

Tidak, mungkinkah…

“Itu bisa meningkat… lebih jauh lagi? Sialan…”

Membuatku melihat ilusi tubuh si Malaikat mengembang, aura suci yang dilepaskan secara pasif dari mereka tidak melampaui dan tidak juga kalah dari pilar cahaya yang mereka lepaskan beberapa waktu lalu.

Kekuatan mereka yang meningkat mengukir langit, dan membelah awan.

Gemetarnya tubuhku yang telah kutahan dengan memikirkan pertarungan mulai sekali lagi, dan aku mengerahkan segala kekuatanku untuk menghentikannya lagi.

Kekuatan yang kurasakan dari si Malaikat telah melampaui kekuatanku sepenuhnya pada titik ini.

『Abyss Zone』 milik Vanity terkikis habis, dan pecah.

Apa yang mengembang menggantikannya adalah hawa murni dan surgawi. Seakan – akan berkat tuhan itu sendiri tertuang ke tanah ini sebagai bola – bola cahaya, dan sebuah angin keperakan menggantikan miasma yang tertinggal.

Akibat peningkatan kekuatan, sifat si Malaikat mengalami perubahan total.

Dari aura suci mereka yang tak ada artinya, dan ekspresi yang memberikan perasaan yang seperti dibuat – buat, menjadi mata yang memendam semangat bertarung yang kuat.

“Ini..”

“… Oy, oy, biarkan aku beristirahat kenapa…”

Kelas Penguasa Iblis tidak ada di antara Malaikat. Tapi untuk mengidentifikasi mereka dengan kekuatan level Penguasa Iblis, para Malaikat tingkat itu disebut sebagai berikut.

『Penguasa Suci』

Iblis dan Malaikat adalah jiwa yang berlawanan.

Hitam dan putih. Gelap dan terang. Jahat dan baik.

Maka dari itu, melalui watak kami ini, kami selalu ditakdirkan untuk menentang satu sama lain.

Eksistensi mereka, di antara musuh – musuh alami kami, adalah lawan yang terburuk dan terbesar.

“Tsk, apa – apaan… seorang Penguasa turun ke Dunia Iblis!!?”

“…”

Para Penguasa memiliki kewajiban. Mereka memiliki tanah. Mereka memiliki bawahan. Itu tidak berbeda di antara Malaikat dan Iblis.

Meski Malaikat terkadang mampir ke Dunia Iblis, hampir tidak ada ingatan yang kumiliki tentang seorang Penguasa turun ke sini.
Aku tak yakin apa mereka bahkan menyimak kata – kataku, karena si Malaikat tidak membalas.

Dia sekedar menunjuk dengan jarinya dalam diam, dan mengumpulkan Mana menjadi satu titik cahaya.

“!?”

Naluriku sebagai seorang prajurit. Pengalamanku hingga sekarang membuat tubuhku melompat minggir secara naluriah.

Sesaat setelah itu, cahaya itu dilepaskan. Kecepatannya mendekati kecepatan cahaya itu sendiri, dan seorang Iblis tingkat tinggi sepertiku dengan persepsi yang lebih tajam bahkan tak bisa mengikuti bayangannya. Bayangan itu terpisah jauh dengan panah cahaya yang diarahkan padaku sebelumnya, sebuah kekuatan yang pantas untuk seorang Penguasa sejati.

Cahaya yang meleset itu mendarat di teras kafe, dan sesaat kemudian, tubuhku diserang oleh cahaya dan bunyinya.

Raungan yang menggelegar mengguncang gendang telingaku, dan kelima indraku yang rusak dipulihkan secara paksa oleh Skill anti-abnormalitas-statusku.

Aku menggunakan naluriku untuk mengarahkan tubuhku yang jatuh.

Medan pandangku berputar.

Aku memastikan sosok tubuh Zeta yang terluka di tanah. Ia baik – baik saja. Sesuatu setingkat itu tak akan membunuh seorang Iblis Kelas Ksatria.

Aku memastikan situasiku sendiri. Aku tidak menerima serangan itu secara langsung, gelombang kejut dari serangan itu sekedar mengenaiku dari belakang, dan luka setingkat ini bukanlah sesuatu yang akan menghambat pergerakanku.

Mengapa, atas alasan apa seorang Penguasa Malaikat turun ke tempat yang begitu terpencil, aku sama sekali tidak ada gambaran. Aku bahkan tidak ingin tahu.

Keberuntunganku adalah bahwa aku tidak melepaskan Celeste pada saat itu.

Skill – skill Greed tidak memiliki kekuatan serang yang besar. Kehilangan Pedang Iblis itu tentu akan menjadi kerugian yang fatal.

Dan jika aku memiliki ini di tanganku, maka aku memiliki kesempatan melawan seorang Penguasa Suci dari Surga.

Pikiranku menjadi terpilin – pilin parah akibat bertemu dengan musuh bebuyutanku. Naluri yang mengguncang jiwaku membersihkan medan pandangku.

Cahaya yang dia tembakkan dari jarinya. Keluaran dan kecepatannya jelas memenuhi syarat untuk Skill seorang penguasa.

Aku menekuk kakiku untuk mengurangi dampaknya, dan membetulkan sikapku.

Tangan kiriku menggenggam 『Sin Breaker』.

Tangan kananku, 『Celeste』.

Saat ujung jari itu tertunjuk ke arahku sekali lagi, aku mengayunkan Pedang Iblis itu.

Seekor naga api melesat untuk melahap si Malaikat.

Cahaya turun untuk membantaiku.

Api Celeste jelas memiliki cakupan yang lebih luas, tapi tembakan – tembakan si Malaikat semuanya dipusatkan ke satu titik.

Cahaya itu melaju dengan mudah sambil merobek jeroan sang naga. Naga itu tak mampu menghentikan serbuannya.

Dan seakan untuk mempertahankan celah di pertahanan si Malaikat, Malaikat yang satunya melangkah maju.

Dalam ketakutanku, kekuatan naga api itu melemah untuk sesaat. Dengan memanfaatkan itu, kecepatan cahaya itu bertambah.

Aku bahkan tak bisa merasakan kehadiran lain yang sebesar itu hingga saat ini, tapi malaikat yang satunya jelas – jelas memberi perasaan yang sama seperti yang pertama.

Mustahil… apa artinya ini? Apa – apaan yang sedang terjadi!?

“Penguasa Malaikat… ada dua!?”

Aku hampir tidak mampu menutup celah kekuatan dengan satu, sudah begitu aku harus menghadapi dua. Para Penguasa yang belum menunjukkan wajah mereka dalam puluhan ribu tahun berjajar seakan aku sedang mengalami mimpi buruk.

Aku tidak bisa melihat apa yang mereka pikirkan dari ekspresi mereka, dan semua yang bisa kulihat adalah mereka bertekad untuk membunuhku.

Semua hanya akan memburuk kalau begini. Aku melompat minggir, dan cahaya itu selesai melaju menembus naga yang tak dapat kukendalikan lagi dan cahaya itu menusuk tanah tempat aku berdiri sebelumnya.

Bahkan saat aku belum menerima satu serangan pun secara langsung, sekujur tubuhku terasa nyeri.

Haruskah aku mundur?

Apakah aku bahkan bisa mundur? Dari monster – monster ini?

Anehnya, aku mulai mengingat saat aku mundur dari pasukan Boss Leigie setahun lalu.

Takdir. Apakah takdirku akan mengusirku pergi dari sini?

Setelah lolos dari Penguasa Iblis Pride itu, Heard Lauder, aku akan mati di sini?

Sebuah sensasi menjalar dari ujung kaki ke ujung kepalaku.

Panas gelap yang mengalir keluar dari jiwaku memberi kekuatan pada tubuhku.

“Ki ki ki, menarik, bukan? Jika kau pikir kau bisa, maka datanglah padaku.”

Aku mengangkat Pedang Iblis itu di atas kepalaku. Kedua Penguasa Malaikat melangkah mundur dengan hati – hati.

Api Celeste tak tertandingi. Tapi pada akhirnya, sebuah Pedang Iblis tetaplah sebuah pedang.

Yang dibuat untuk membelah.

Jiwaku terus mengeluarkan rasa sakit yang tumpul.

Aku menendang tanah dengan kuat, dan menusuk.

Aku memuntir tubuhku. Aku memusatkan seluruh energi kinetik perawakanku ke pedang itu, dan melemparkannya.

Pedang Iblis itu menjadi komet kirmizi yang melesat ke arah para Penguasa Suci. Sihir yang biasanya digunakan untuk membuat api skala besar kini dipusatkan di ujungnya, dan serangan ini adalah serangan terkuat yang bisa kulepaskan pada saat ini.

Tapi tanpa menunggu hasilnya, aku berlari, dan mengambil Zeta dalam lengan – lenganku.

“Hah, hah… gu… apa kita lari?”

“Ki ki ki, hidup hanya bisa dinikmati jika kau bertahan hidup.”

Harta dan kekayaan, kau bisa menimbun sebanyak yang kau inginkan selama kau terus hidup. Bahkan tidak ada gunanya menyamakannya.

Alunan suara bernada tinggi yang kuanggap jeritan para Malaikat menerpa telingaku. Tapi bahkan tanpa mencari tahu apa efek yang seharusnya ia hasilkan, resistensi abnormalitas statusku aktif, dan menghapusnya.

Semua yang tersisa hanyalah berlari. Para Malaikat memiliki mobilitas yang mengerikan, tapi jika aku berlindung di dalam kota, akan sulit untuk mencariku dari langit. Ada banyak tempat untuk sembunyi.

Dan ada beberapa keuntungan dari pertarunganku.

Mustahil Vanity tidak menyadari fakta bahwa seorang Malaikat muncul di sini. Pada kasus ini, zonanya bahkan pecah.

『Abyss Zone』 bukan hanya sebuah Skill untuk memperkuat pasukan sekutu.

Itu adalah perluasan persepsi seorang Penguasa Iblis. Itu membuat mereka bisa merasakan apabila pasukan musuh menginjakkan kaki di tanah mereka.

Jika aku bisa tetap berada di atas kakiku hingga pasukan datang, kemenangan milikku. Jika aku ditemukan, aku kalah.

Ki ki ki, betapa tidak menguntungkannya taruhan ini.

Meski tidak selebar itu, aku akan keluar ke jalan utama yang terbuka. Jika mereka menembakkan cahaya itu ke arahku dari belakang, maka berakhirlah sudah.

Selama minggu yang lalu, aku telah mengukir peta kota ini ke kepalaku. Orang – orang itu seharusnya tidak begitu mengenal tempat ini, dan cukup ironisnya, dari pencurian kenangan kami, kami tahu segala titik dengan sedikit pejalan kaki, dan visibilitas yang buruk. Kami tak pernah berpikir itu akan membantu kami kabur, sih.

Saat aku berbelok ke gang di sisi jalan, aku melihat sebuah sosok ambruk di kakiku.

Dengan mantel khaki yang membalut tubuhnya, seorang Iblis berperawakan kecil. Di saat yang sama, sosok itu adalah sosok yang telah biasa kulihat seminggu ini.

Ia adalah Iblis yang selalu terkulai di atas meja di teras kafe. Aku juga di sana untuk beberapa waktu, jadi meski tidak ada hari di mana aku tidak melihatnya, aku mulai menganggapnya sebagai bagian dari latar belakang.

… Mungkinkah orang ini tadi di teras?

Melihat Iblis itu masih menghadap ke bawah, dan tak bergerak, aku ragu untuk sesaat. Tapi aku tidak punya waktu untuk itu.

Aku meyakinkan diriku, dan mengangkat si Iblis di tengkuknya.

Aku tidak begitu peduli, tapi meninggalkan yang satu ini bukan gayaku.

Aku tak akan menyebutnya niatan baik, tapi jika aku harus bilang, aku terdorong untuk melakukan itu entah mengapa. Dan juga, dengan kekuatanku, membawa satu atau dua orang tidak begitu berbeda, dan karena aku mencampakkan Celeste, aku memiliki satu atau dua lengan yang luang.

Aku menggenggam lehernya seperti seekor anak kucing, dan saat aku mengangkatnya, tudungnya terlepas terbang.

Secara naluriah, aku melempar Iblis di belakangku dengan sekuat tenaga.

Saat mendapati timbunan Khaki itu dilemparkan ke arah mereka, para Malaikat yang mendekat terhenti sejenak.

Di atas pundakku, Zeta menjerit.

“A-apa – apaan tadi!? Tiba – tiba saja…”

“Yang… benar saja… mengapa…”

Bagaimana aku harus mengungkapkan pikiran – pikiran yang berkejaran di kepalaku?

Ketakutan. Keterkejutan. Kebingungan. Kekaguman. Semuanya bercampuraduk, tapi jika aku harus menyingkatnya menjadi satu kata, aku ‘tercengang’.

Dua Malaikat itu yang kehadirannya tak bisa kurasakan.

Dua Penguasa Malaikat itu.

Puncak seluruh peristiwa beruntun ini melampaui impian tergilaku.

Lebih hebat dari para malaikat, sebuah mimpi buruk yang ajaib.

Aku mencoba membuka mulutku untuk menyampaikannya dengan kata – kata, tapi pikiranku tidak mau menyatu. Aku tidak tahu harus bilang apa.

Aku mencoba menggerakkan mulutku dengan ketakutan, dan akhirnya emosiku yang berjungkat – jungkit jatuh pada kelelahan.

“Jadi bahkan Boss Leigie telah… memainkan perannya kali ini…”

Aku tak yakin apa yang disimpulkan pikiranku, tapi satu – satunya kesan yang terpikirkan di sana adalah sosok seorang Penguasa Sloth yang lamban.

Part Sebelumnya | Chapter Penuh | Part Selanjutnya

← Daraku no Ou Chapter 9 Part 3: … Haruskah Aku Mencurinya? Daraku no Ou Chapter 10: Rasa Lapar Gula, Part 1: Aku Kenyang→

Leave a Reply