Hedonist Sovereign 06 – Pertarungan yang Berakhir Sebelum Dimulai

Hello mas e/mbak e 🙂
mohon maaf kalo update suka tengah malam begini,
semoga malem ini sama kayak malem kemaren, bisa kekejar ch 7 hehe 🙂

Diterjemahkan oleh Rahvayana

Disunting oleh Aftertolv

Selamat membakar waktumu! 🙂

 

 

Hedonist Sovereign 06 – Pertarungan yang Berakhir Sebelum Dimulai

 

“Hmph! Kau pikir aku bodoh, percaya jika kau benar-benar mau merangkak diantara kedua kakiku? Jangan pernah coba bermain-main denganku.” Qin Feng berjalan santai mendekati si botak, membuat amarahnya meledak dan mengayunkan tinjunya ke arah Qin Feng.

“Omong kosong! Apa yang kau teriakkan di tengah malam begini?”

Ini adalah pertama kalinya Qin Feng berkecimpung dalam perkelahian, dan ia behadapan dengan tiga orang lelaki berotot yang brutal. Qin Feng merasa gugup, si botak bergerak secara tiba-tiba, membuat Qin Feng merasa sedikit takut.

Tinjunya begitu kuat, dan bila mengenai wajah Qin Feng, wajahnya pasti hancur seutuhnya.

Namun, Qin Feng kembali tenang. Mungkin karena Elementary Thunder Tiger Fist yang ia kuasai, Qin Feng merasa, walaupun si botak ini terlihat cukup percaya diri dan mengerikan, gerakannya terlihat lambat dan tinjunya tak berteknik sama sekali.

Dengan kata lain, sisinya terbuka lebar.

Bagaimanapun, Qin Feng melihat banyak dalam sekali pandang, dan berhasil menguatkan dirinya. Ia berdiri diam di atas tanah, dan begitu tinju si botak berjarak sejengkal dari wajahnya, matanya melebar, tubuhnya berputar, ia melontarkan serangan balik.

Suara pukulan yang teredam menggema di pabrik yang sunyi.

Qin Feng diam tak bergerak, berdiri tegap dengan kuda-kuda terpasang setelah menyerang dengan tinjunya, sementara si botak jatuh tersungkur.

Awalnya, ia tak merasakan apapun, matanya melebar menatap Qin Feng, terkejut dan takut.

Siapa kira bocah itu sekuat ini?! Ia hanya berdiri diam disana, tetapi kemudian melumpuhkanku dengan sekali pukul?

Si botak tentunya tak percaya sesuatu seperti itu dapat terjadi jika ia tidak melihat dan mengalaminya sendiri. Orang yang berdiri di depannya, dan tuan muda yang tidak berguna, Qin Feng, yang kerap ia dengar mengenainya, seperti dua orang yang sungguh berbeda.

Si bekas luka dan si pirang memandangi dengan mata melotot, terkejut melihat adegan yang baru saja terjadi. Mereka begitu tercengang hingga mulutnya terbuka lebar seakan hampir jatuh ke tanah.

Serangannya begitu cepat dan bersih, kuat dan juga hebat!

Itulah yang dipikirkan oleh si bekas luka dan si pirang mengenai serangan yang baru saja dilakukan oleh Qin Feng. Pandangannya berubah, tak lagi meremehkan, mereka mulai memandang masalah ini dengan serius. Si bekas luka memandang si pirang, memberi pesan melalui matanya. Bocah ini harus mati!

Kedua orang itu bagaikan dua serigala yang lapar, melolong dan berlari menyerang Qin Feng.

Setelah melihat hasil pukulannya, Qin Feng merasa lebih percaya diri. Ia tersenyum tenang menatap kedua orang yang berlari menyerangnya, dan dengan cepat melompat menyerang kedua penyerang.

Bang! Bang!

Saat ketiga orang bertemu, dua buah suara terdengar.

Detik berikutnya, Qin Feng menjejakkan kaki ke tanah dan berdiri tegap layaknya tombak.

Si bekas luka dan si pirang mendapatkan pukulan dari Qin Feng, terkapar di tanah. Teknik Thunder Tiger Fist benar-benar kuat dan tak terkalahkan. Kedua orang itu merasa organ dalam mereka bergeser karena pukulan dari Qin Feng.

Sebuah pertarungan yang selesai sebelum dimulai!

“Bangsat! Bocah satu ini, selama ini berpura-pura lemah. Siapa kira ia menyembunyikan kekuatan sebesar ini? Pantas saja atasan kita tidak berbuat apa-apa terhadap bocah ini. Bahkan mereka tidak yakin sepenuhnya bisa berhadapan dengan Qin Feng.”

Melihat kejadian itu, Ma De Hu, yang selama ini bersembunyi di bayang-bayang kegelapan, ternganga keheranan.

Wajahnya menggelap. Mungkinkah kesempatannya untuk menikmati tubuh Yun Xiao malam ini hilang? Ia membayangkan tubuh seksi milik Yun Xiao, dan ia memutuskan tak akan membuang-buang kesempatan malam ini.

Kau hebat dalam bertarung, eh? Aku, seniormu, akan membunuhmu dengan peluru, dan dapat menyelesaikan tugasku lebih cepat.”

Setelah berbagai pertentangan yang terjadi dalam benaknya, senyum dingin menghiasi wajah brutal Ma De Hu. Ia acungkan pistol berwarna silver ke arah punggung Qin Feng.

Tiba-tiba, sebuah dart secepat kilat meluncur menyasar Ma De Hu.

Dart itu menancap di pergelangan tangan Ma De Hu sebelum ia menarik pelatuk pistolnya. Ia menjatuhkan pistolnya kesakitan, dan berlari pergi, kabur dari area pabrik.

Seorang lelaki berusia kepala lima berdiri di sudut kegelapan. Rambut di pelipisnya berwarna putih, dengan mata yang sangat tajam dan ekspresi yang suram. Ia adalah paman Fu, bodyguard yang diperintahkan oleh Qin Huang untuk melindungi Qin Feng. Ia selalu melindungi Qin Feng dari balik bayangan.

Untungnya, ia bereaksi tepat waktu dan berhasil menyelamatkan nyawa Qin Feng. Jika terjadi apa-apa terhadap Qin Feng, paman Fu tak tau bagaimana ia akan menghadap dan menjelaskan kepada Qin Huang.

Paman Fu menghembuskan nafas lega. Matanya melebar. Ia telah melihat Qin Feng bertarung dengan ketiga lelaki berotot, dan merasa sangat terkejut.

Bahkan seorang paman Fu, yang telah melindungi Qin Feng selama lebih dari sepuluh tahun, tak tau bahwa Qin Feng telah mempelajari kemampuan bela diri yang sangat kuat semacam itu. Lebihnya lagi, jika dilihat dari gerakannya, kelihatannya ia telah berlatih selama kurang lebih sepuluh tahun.

Ini semua benar-benar tak masuk akal!

Setelah ragu-ragu sejenak, ia mengeluarkan handphone nya dan membuat panggilan.

“Paman Fu, apakah terjadi sesuatu terhadap Feng’Er?”

Setelah tersambung, sebuah suara yang kuat dan padat terdengar dari balik handphone. Qin Huang sangat khawatir Feng’Er mendapat masalah lagi karena paman Fu menelponnya di larut malam.

“Tuan Qin, jangan khawatir, tuan muda baik-baik saja. Namun, paman Fu memiliki sesuatu yang penting yang harus dilaporkan kepada tuan Qin.”

Mendengar kabar bahwa Qin Feng baik-baik saja, Qin Huang merasa lega dan menjawab dengan suara yang jelas dan keras, “Katakan.”

“Tuan Qin, Tuan Muda kelihatannya diam-diam mempelajari teknik bela diri. Dan kelihatannya teknik yang ia pelajari adalah teknik bela diri tingkat tinggi.”

“Apa?!”

Sebagai orang terkaya di kota Acropolis, Qin Huang telah melewati berbagai badai. Ia bahkan tak berkedip sedikitpun ketika menangani transaksi bernilai jutaan dolar, tapi sekarang, ia merasa bagaikan tersambar petir. Ia melompat berdiri dari sofa, bersemangat, memastikan ia tak salah dengar, “Feng’Er mempelajari teknik bela diri?”

Namun, wajah Qin Huang berubah murung, berkata dengan suara pelan, “Tidak mungkin, ketika ia lahir, aku meminta seseorang untuk memeriksanya. Mustahil untuknya berlatih, apalagi melakukan, bela diri!”

“Tuan Qin, bila saya tidak melihatnya dengan mata kepala saya sendiri, saya juga pasti tak akan percaya. Tapi, ia benar-benar telah berlatih bela diri hingga level yang cukup tinggi dan mengalahkan tiga orang pria berotot dalam sekali tarikan nafas. Saya menilai, ia telah berlatih selama kurang lebih sepuluh tahun dilihat dari gerakannya.”

Syok! Qin Huang mengeluarkan suara tertahan, benar-benar terkejut dengan informasi yang ia dapat.

Qin Huangng tau, paman Fu tidak akan pernah berbohong kepadanya, dan tak ada alasan apapun yang dapat membuat paman Fu berbohong dengan berkata hal seperti itu. Karena ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri, hal ini kemungkinan besar benar. Saking bahagianya Qin Huang, ia bahkan lupa untuk bernafas.

Setelah diam beberapa saat, ia berkata tegas, “Paman Fu, mulai hari ini dan hari-hari selanjutnya, aku ingin kau mengikuti dan melindungi Feng’Er 24 jam nonstop. Jika ada kabar baru, tolong beritahu aku secepatnya!”

Setelah menutup telepon, Qin Huang tak bisa menenangkan dirinya. Kapanpun ia teringat Feng’Er diam-diam mempelajari teknik bela diri – dan hingga telah mencapai tingkat yang memuaskan – wajahnya nyaris basah oleh air mata bahagia.

Ia berdiri dengan tangan disandangkan di belakang punggungnya, di depan jendela bergaya perancis di kamar apartemennnya. Dari sana, ia dapat melihat hampir seluruh pemandangan kota Acropolis di malam hari.

“Su su, anak lelaki kita, Feng’Er, dapat melakukan bela diri sekarang, dan telah mempelajari teknik bela diri. Dari dulu aku tau anak kita benar-benar sepertimu dan mewarisi genmu… Su Su, apakah kau baik-baik saja disana?”

Air mata meluap membasahi kelopak mata Qin Huang, dan suaranya penuh dengan kebahagiaan yang bercampur dengan semburat kesedihan.

Sebenarnya, Qin Huang telah menyerah membantu Feng’Er mengambil posisi kepala keluarga junior di perkumpulan klan keluarga Qin tahun depan. Namun, sekarang ia melihat harapan baru.

 

← Hedonist Sovereign 05 – Merangkak Diantara Kedua Kaki Hedonist Sovereign 07 – Ketidakadilan yang Besar→

Leave a Reply