ISSTH 3 – Promosi ke Outer Sect

Ini transliterasi ketiga untuk xianxia berjudul “I SHALL SEAL THE HEAVENS”. Maaf untuk delay rilisnya yang amat sangat lama karena saya ada banyak urusan lain dan tidak sempat melakukan translate selama beberapa minggu. Sekali lagi mohon maaf yang sebensar-besarnya.

Diterjemahkan oleh Prinzer

Selamat membaca!

Chapter 3 : Promosi ke Outer Sect

“Kalian mulai tidur cukup awal. Sekarang waktunya bangun untuk Kakek Tiger!” Pintu bergetar saat terbuka, dan lelaki tinggi dan kuat masuk memakai jubah pelayan. Lelaki itu menatap Meng Hao dan pemuda gendut.

“Mulai hari ini,” katanya marah, “masing-masing dari kalian bocah kurang ajar akan menebang 10 pohon tiap harinya. Kalau tidak, Kakek Tiger akan menguliti kalian hidup-hidup.”

“Salam, Kakek Tiger,” kata Meng Hao, sambil berjuang untuk turun dari tempat tidur dan berdiri dengan gugup. “Mungkin kau bisa lebih tenang sedi…” Sebelum Meng Hao selesai berbicara, lelaki besar itu menatap Meng Hao.

“Diam, anak kurang ajar! Kau pikir aku bicara terlalu keras?”

Melihat dari perawakannya yang galak dan besar, Meng Hao waswas, lalu berkata, “Tapi Elder Brother yang mengurus pelayan sudah menyuruh kami untuk menebang 10 pohon per hari.”

“Lalu tebang 10 lagi untukku,” katanya.

Meskipun Meng Hao tidak berkata apapun, otaknya berputar. Dia baru saja sampai di Immorta’s Sect dan sudah mulai diganggu. Dia tidak ingin menyerah, tapi lelaku itu sangat besar dan kuat, dan Meng Hao sendiri sudah jelas terlalu lemah dan tidak bisa melawan balik. Lalu dia melihat ke arah meja dan menyadari bekas gigitan disitu. Berpikir kembali betapa kuatnya si pemuda gendut dalam igauannya, Meng Hao mendapat sebuah ide. Dia tiba-tiba berteriak kepada pemuda gendut yang tertidur itu.

“Oi, Gendut! Seseorang mencuri mantou dan wanitamu!”

Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Meng Hao, si pemuda gendut duduk, mata terpejam, berteriak, dan wajahnya terlihat sangat kejam.

“Siapa yang mencuri mantouku? Siapa yang mencuri istriku?” teriaknya lalu dia loncat dari kasur. “Aku akan menghajarmu sampai mati! Aku akan menggigitmu sampai mati!” Pemuda gendut itu mulai menyerang dengan acak di sekitar ruangan. Si lelaki besar terkejut, lalu maju dan menampar si pemuda gendut.

“Kau berani berteriak di depam Kakek Tiger!” Tamparannya mengenai wajah pemuda itu tapi selanjutnya lelaki besar itu berteriak. Si pemuda gendut dengan mata yang terpejam menggigit tangan si lelaki itu. Tidak peduli bagaimanapun si lelaki itu mengguncang tangannya, si pemuda tidak mau lepas

“Berhenti menggigit, sialan! Berhenti menggigit!” Lelaki ini adalah pelayan, bukan Cultivator. Dia sudah menjadi pelayan dengan waktu yang lama dan tubuhnya kuat, tapi rasa sakit telah membuatnya mengeluarkan keringat dingin. Semakin keras dia memukul, semakin dalam si pemuda itu menggigit. Daging si lelaki itu digigit dan seakan sepotong daging akan sobek.

Teriakannya sampai keluar sampai orang lain sadar. Sebuah suara berteriak.

“Ada masalah apa?”

Suara itu milik pemuda berwajah kuda. Saat lelaki besar itu mendengar suaranya, dia mulai gemetar ketakutan. Meskipun dia merasa sakit, dia berhenti berteriak.

“Bukanlah ide yang bagus untuk mengganggu Elder Brother yang mengurus pelayan,” kata si lelaki besar. “Tidak ada untungnya melanjutkan ini. Cepat, berhenti menggigitku! Aku tidak butuh 10 kayu itu.”

Meng Hao tidak habis pikir kalau keadaan mimpi si pemuda gendut itu akan sangat intens dan dia juga ingin menghentikan situasi itu. Dia berjalan maju dan menampar si pemuda gendut, lalu berbisik di telinganya.

“Mantounya sudah kembali, dan juga wanitamu.”

Si pemuda kembali rileks dan melepaskan gigitannya. Sambil memukul udara, dia kembali ke kasurnya, wajahnya tertutupi darah, lalu kembali tidur.

Sambil melihat dengan gugup ke arah pemuda gendut, si lelaki besar pergi tanpa berkata apapun.

Meng Hao beridir sambil ternganga, mengagumi si pemuda gendut, lalu kembali ke kasur dengan hati hati dan kembali tidur.

Esok pagi saat fajar.

Saat matahari pagi memenuhi langit, suara bel muncul. Suara itu seperti membawa kekuatan aneh; saat orang-orang mendengarnya, mereka bangun dan mulai bekerja. Si pemuda gendut bangun. Dia melihat bekas-bekas di tubuhnya. Dia menyentuh wajahnya.

“Apa yang terjadi semalam? Bagaimana bisa seluruh tubuhku sakit? Apakah seseorang menghajarku?”

Meng Hao berpakaian dengan tenang sebelum menjawab.

“Tidak ada yang terjadi. Semuanya normal.”

“Bagaimana bisa wajahku bengkak?”

“Mungkin itu nyamuk.”

“Kau jatuh dari kasur semalam. Bahkan sampai beberapa kali.” Meng Hao membuka pintu dan melangkah keluar, lalu berhenti dan melihat ke belakang. “Dengar, gendut,” katanya dengan nada yang serius, “kau harus mengasah gigimu lebih sering. Pertajam gigimu itu.”

“Oh? Ayahku juga mengatakan hal yang sama,” kataya dengan terkejut sambil memakai jubahnya.

Meng Hao dan pemuda gendut berjalan keluar menuju sinar matahari dan memulai hidup mereka sebagai pelayan di Reliance Sect dengan menebang pohon.

Mereka masing-masing bertanggung jawab atas 10 pohon. Di sekitar Northern Servant Quarter (Bagian Pelayan Utara), lerengnya ditutupi oleh pohon. Meskipun pohonnya tidak besar, mereka sangat padat dan menyebar seperti lautan sejauh mata memandang.

Membawa kapak pelayannya, Meng Hao mengelus pundaknya. Kedua lengannya mati rasa dan sakit. Kapaknya berat. Di sisi lain, si pemuda gendut terengah-engah saat memanjat. Akhirnya, mereka menemukan tempat yang cocok, dan suara kapak menebang muncul saat mereka mulai bekerja.

“Ayahku sangat kaya,” kata pemuda gendut dengan wajah sedih. Dia mengangkat kapaknya. “Aku akan menjadi sangat kaya juga. Aku tidak ingin menjadi pelayan…para Immortals ini aneh dan mereke memiliki sihir. Kenapa mereka butuh api? Dan kenapa mereka butuh kita untuk menebang pohon?”

Tidak seperti pemuda gendut yang cerewet, Meng Hao terlalu lelah untuk bicara. Keringat membasahinya seperti hujan. Karen kemiskinannya di Propinsi Yunjie, dia tidak bisa makan banyak maka dari itu tubuhnya lemah. Dia tidak memiliki banyak energi. Setelah waktu yang dibutuhkan untuk setengah batang dupa terbakar, dia bersender di pohon, terengah-engah.

Dia melihat ke arah pemuda gendut, yang meskipun lelah sampai gemetar, masih terus mengumpat dengan pelan dan menebang pohon. Dia lebih muda dari Meng Hao tapi lebih kuat.

Meng Hao menggelengkan kepalanya sambil beristirahat. Dia mengeluarkan Qi Condensation Manual dan mulai membacanya lagi. Mengikuti deskripsi di manual, dia berusaha merasakan energi spiritual dari Surga dan Bumi.

Waktu berlalu dan akhirnya senja. Meng Hao berhasil menebang 2 dan pemuda gendut berhasil menebang 8. Dengan mengumpulkan hasilnya hanya cukup untuk satu orang makan. Mereka berdiskusi, dan pemuda gendut mengambil makanan yang mereka berdua bagi di ruangan mereka. Lalu mereka tidur, karena kelelahan.

Akhirnya, dengkuran si pemuda gendut memenuhi ruangan. Meng Hao berjuang untuk duduk, matanya dipenuhi kepastian. Mengabaikan rasa lapar dan lelah, dia mengambil Qi Condensation Manual dan membacanya lagi.

“Saat aku belajar untuk ujian, aku biasanya akan membaca sampai fajar. Aku terbiasa kelaparan. Sedangkan untuk hidupku sekarang; mungkin melelahkan, tapi paling tidak aku memiliki tujuan. Aku tidak percaya bahwa setelah gagal dalam ujian Imperial, aku juga akan gagal dalam Cultivation.” Kegigihan terlihat di matanya. Dia menundukkan kepalanya dan mulai belajar.

Dia tidak berhenti sampai larut malam, sampai dia akhirnya tertidur, meskipun dia tidak tahu kapan tepatnya. Saat dia tidur, mimpinya diisi dengan pikiran untuk merasakan energi spiritual dari surga dan bumi. Suara lonceng membangunkannya di pagi hari. Dia membuka matanya yang merah, menguap, dan turun dari kasur. Lalu, bersama dengan pemuda gendut yang bersemangat, kembali menebangi pohon.

Sehari, dua hari, tiga hari…waktu terus berjalan sampai 2 bulan telah berlalu. Kemampuan menebang Meng Hao tumbuh dengan perlahan sampai akhirnya dia bisa menebang 4 pohon dalam sehari. Tapi, sebagian besar waktunya dia gunakan untuk memahami arti energi spiritual. Matanya tambah memerah. Lalu, menjelang fajar, saat dia terengah-engah saat meditasi, tubuhnya tiba-tiba bergetar, dan dia merasa mati rasa di tangan dan kakinya. Lalu seperti ada gumpalan kecil Qi di daging dan darahnya, lalu keluar dari tubuhnya.

Setelah itu, dia merasa ada seuntai energi spiritual muncul dalam tubuhnya. Perasaan itu hilang dalam seketika, tapi Meng Hao membuka matanya dengan gembira. Rasa lelahnya hilang, dan matanya kembali normal. Tubuhnya bergetar, dan dai mencengkram Qi Condensation Manual. Dia belum makan dan tidur yang cukup beberapa bulan terkahir. Selain menebang pohon, dia menghabiskan waktunya di energi spiritual, dan sekarang, pada akhirnya, dia mendapatkan hasil. Dia merasa seperti dia terisi oleh kekuatan.

Waktu berlalu dengan cepat, dua bulan, dan sekarang adalah bulan kedelapan dalam setahun, musim panas. Cahaya matahari yang panas turun dari langit.

“Padatkan Qi kedalam tubuh, gabungkan, dan pencarkan, buka pembuluh darah dan jalur Qi, resonansikan dengan surga dan bumi.” Tengah hari di dalam pegunungan di dekat Reliance Sect. Meng Hao menggunakan satu tangan untuk menyalakan api unggun di depannya, dan tangan lain memegang Qi Condensation Manual yang ia pelajari.

Dia menutup matanya selama waktu yang dibutuhkan untuk dupa habis terbakar, merasakan untaian Qi dalam tubuhnya. Ini adalah Qi yang muncul dua bulan lalu, dan Meng Hao menganggapnya sebagai harta. Untaian itu sudah lebih tebal. Dengan menggunakan ilmu menghafal dan teknik sirkulasi yang dijelaskan dalam manual, dia duduk dalam meditasi, membiarkan untaian Qi bergerak di tubuhnya.

Setelah beberapa saat, Meng Hao membuka matanya dan melihat si pemuda gendut datang dengan cepat sambil membawa kapak.

“Jadi, bagaimana?” kata pemuda gendut sambil berlari. Meskipun gendut, tubuhnya kuat.

“Aku masih belum bisa menyebarkannya ke seluruh tubuhku,” kata Meng Hao sambil tertawa. “Tapi aku cukup yakin dalam sebulan, aku akan bisa mencapai level pertama dari Qi Condensation.” Kepercayaan memenuhi sikapnya.

“Yang kumaksud adalah, bagaimana ayamnya?” Dia menjilat bibirnya saat melihat api unggun.

“Oh sudah hampir selesai,” kata Meng Hao yang juga menjilati bibirnya dan menarik ranting yang digunakannya untuk mengatur api. Si pemuda gendut menggunakan kapaknya untuk menggali dan mengambil seekor ayam. Ayam itu sudah matang sekarang.

Aroma yang enak memenuhi udara. Mereka membelah ayam menjadi dua dan mulai memakannya.

“Setelah kau berhasil mendapat energi spiritual,” kata pemuda gendut,bibirnya dilumuri lemak, “kau bisa menangkap ayam liar. Dibandingkan sekarang, dua bulan pertama di sini merupakan mimpi buruk…” Ini merupakan kebiasaan barunya, memuji Meng Hao.

“Banyak orang mendapat makanan dari hutan, kau hanya tidak tahu tentang itu, itu saja.” Saat Meng Hao berbicara dia menggigit kaki ayam, membuat perkataannya tidak terdengar jelas.

“Ai, jika kau benar-benar mencapai level pertama dari Qi Condensation minggu depan dan menjadi murid Outer Sect,” kata pemuda gendut, mukanya pahit, “apa yang akan kulakukan? Aku tidak bisa memahami hal-hal di manual itu.” Dia melihat Meng Hao sambil berharap.

“Dengar gendut, satu-satunya cara kau bisa pulang adalah jika kau menjadi murid Outer Sect,” kata Meng Hao, menurunkan ayamya dan melihat mata pemuda gendut.

Si pemuda gendut duduk dengan diam sebentar sebelum mengangguk.

Enam hari berlalu. Malam hari. Si pemuda gendut sudah tertidur, dan Meng Hao duduk sila di ruangannya, bermeditasi. Dia memikirkan bagaimana selain menebang pohon, dia sudah menghabiskan waktunya 3 bulan terakhir ini untuk merasakan energi spiritual. Dia mengingat kembali dua bulan lalu, saat ada seuntai Qi muncul di tubuhnya. Dia bernafas dengan dalam, menutup matanya, dan membuat untaian spiritual energi disirkulasikan di seluruh tubuhnya. Lalu, suara keras muncul di kepalanya. Sampai sekarang, Meng Hao masih belum bisa menyebar Qi di seluruh tubuhnya. Tapi baru saja, dia sudah berhasil menyebarkan Qi ke setiap bagian tubuhnya. Dia merasa seakan tubuhnya melayang.

Pada saat Meng Hao mencapai level pertama dari Qi Condensation, si pemuda berwajah kuda yang duduk di batu besar di luar perlahan membuka matanya. Dia melihat ke arah rumah Meng Hao, lalu menutup matanya lagi.

Saat fajar, dibawah tatapan iri semua orang di bagian Norther Servant, Meng Hao keluar dari ruangan yang merupakan rumahnya selama empat bulan. Dia berdiri di depan pemuda berwajah kuda.

Si pemuda gendut tidak bersama Meng Hao. Dia tetap berada di dekat pintu sambil melihat Meng Hao, tekad memenuhi matanya.

“Kau mencapai level pertama dari Qi Condensation dalam empat bulan. Kau tidak luar biasa, tapi juga tidak bodoh.” Si pemuda berwajah kuda melihat Meng Hao, ekspresinya tidak lagi dingin. Dengan tenang, dia berkata, “Sekarang kau akan menuju Outer Sect, aku harus menjelaskan aturan disana. Setiap bulan Spirit Stones dan pill akan dibagikan disana, tapi dilarang untuk mengambil barang dari orang lain secara paksa. Ada Public Area disana yang dinamai Killing Zone oleh beberapa orang. Kau…kau harus menjaga dirimu sendiri.” Saat dia selesai bicara, dia mengangkat tangan kanannya, dimana selip permata keluar dan terbang di depan Meng Hao. Dia mengambilnya.

“Masukkan energi spiritual ke dalam selip permata dan itu akan membawamu ke Treasure Pavilion di Outer Sect. Itu adalah tempat dimana kau bisa mendaftar untuk promosimu.” Pemuda berwajah kuda menutup matanya.

Meng Hao tidak mengatakan apapun. Mengatupkan tangannya dengan salut, dia berbalik dan melihat ke arah pemuda gendut. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat, dan Meng Hao merasakan perasaan muncul dalam hatinya. Dia memilih untuk tidak memikirkannya. Dia menggenggam selip permata itu, yang lalu bersinar hijau dan terbang.

Meng Hao mengikuti selip itu, perlahan meninggalkan Servant’s Quarter.

Dia berjalan melewati jalan sempit yang mengarah keluar dari gerbang utama, semakin jauh menuju kaki gunung. Pada akhirnya dia mencapai area yang tidak pernah didatanginya selama empat bulan terakhir.

Reliance Sect terdiri dari empat gunung utama,yaitu, timur, barat, utara, dan selatan. Mengelilingi pegunungan itu adalah gabungan pegunungan yang tidak ada habisnya. Di tengah dari setiap gunung ada Servant’s Quarter. Meng Hao ditugaskan di Servan’ts Quarter Utara di Gunung Utara. Lebih tinggi dari Servant’s Quarter adalah area yang dilindungi oleh pelindung sihir. Dibalik pelindung itu adalah tempat tinggal murid Inner Sect dan para sesepuh.

Setiap empat gunung selalu seperti itu. Sedangkan untuk area datar diantara semuanya, diisi oleh rumah yang ditinggali oleh murid Outer Sect.

Dalam hal ini, Reliance Sect cukuo berbeda dibandingkan dengan Sect lain. Outer Sect terdapat di kaki gunung sedangkan pelayan tinggal di atas kaki gunung. Ini merupakan aturan sekte yang dibuat oleh Patriach Reliance.

Dari jauh, area Outer Sect seperti diisi oleh kabut. Meskipun begitu, saat menginjakkan kaki ke dalam kabut, semua menghilang. Di depan Meng  Hao muncul birai(balkoni) dan jalan marmer, bangunan megah dan jalanan yang beraspal batu hijau. Murid Outer Sect berada dimana-mana menggunakan jubah hijau mereka. Beberapa melihat Meng Hao saat dia berjalan.

Some of them shot him contemptuous glances which lacked even the slightest bit of good intent. He felt as if he were being stared at by wild beasts, which caused him to recall what Elder Brother Horse-face had said about the Outer Sect.

Beberapa melihat Meng Hao dengan tatapan menghina yang tidak memiliki sedikit pun niat baik. Ia merasa seperti ditatap oleh hewan buas, yang membuatnya ingat apa yang dikatakan Elder Brother berwajah kuda tentang Outer Sect.

Tidak lama setelah itu, dia mencapai bangunan hitam di bagian selatan Outer Sect. Bangunan itu memiliki 3 lantai, dan meskipun hitam, terlihat seperti dipahat dari permata, hampir transparan.

Saat Meng Hao tiba, pintu utama bangunan itu terbuka tanpa suara dan keluarlah seorang pria paruh baya. Dia memakai jubah hijau tua, dan ekspresi tajam muncul di wajahnya. Dia  mengangkat tangannya dengan gerakkan mengambil, dan selip permata terbang ke tangannya. Dia melihat selip itu dan bicara dengan lesu:

“Meng Hao sudah dipromosikan ke Outer Sect. Dia akan diberikan sebuah rumah, sebuah jubah hijau, sebuah tablet spirit, dan sebuah tas pembawa. Table spirit dapat digunakan untuk masuk ke Treasure Pavilion untuk mengambil sebuah benda sihir. Dia melambaikan tangannyam dan sebuah tas abu-abu muncul di tangan Meng Hao.

Dia melihat tas abu-abu itu selama beberapa saat, lalu kembali mengingat salah satu murid Outer Sect yang dia lewati di jalan. Laki-laki itu juga memiliki tas seperti in di pinggangnya.

Pria bermuka tajam itu melihat Meng Hao, dan dengan instan tahu bahwa Meng Hao tidak mengenal cara-cara dari Outer Sect. Jika tidak, bagimana dia bisa tidak familiar dengan tas pembawa? Sedikit merasa buruk untuk Meng Hao, pria itu berkata, “Dengan meberi tas itu energi spiritual, kau bisa memasukkan banyak benda ke dalamnya.”

Mendengar itu, Meng Hao memberi tas itu energi spiritual yang cukup. Tas itu menjadi samar-samar, dan dia melihat sedikit ruang di dalam sebesar separuh ukuran manusia. Di sana, dia bisa melihat jubah hijau, selip permata, dan benda lain.

Saat ini, keingintahuannya muncul. Tas pembawa ini pastilah setara dengan paling tidak seratus emas. Tas ini sudah pasti buatan Immortal.

Dia berkonsentrasi, dan tiba-tiba selip permata muncul di tangannya. Dia memfokuskan perhatiannya dan menemukan bahwa di dalam ada perta dari Outer Sect Quarter. Di pojok terpencil terdapat rumahnya.

“Lihat rumah itu nanti,” kata pria itu. “Treasure Pavilion sudah dibuka dan kau belum memasukinya.”

Meng Hao mengangkat kepalanya dan memasukkan tas pembawa ke dalam jubahnya. Melihat ke arah pintu Treasure Pavilion yang terbuka, dia menarik nafas yang dalam dan masuk, penuh dengan antisipasi.

Sesaat setelah dia masuk, ekspresinya berubah, dan dia menarik nafas dalam-dalam.

 

 

 

 

← ISSTH 2 – Sekte Reliance ISSTH 4 – Sebuah Cermin Perunggu→

1 comment

hmm.. untuk kedepannya lebih bagus kalo kata “sesepuh” diganti dengan kata “tetua” biar keliatan lebih cocok dengan gaya bahasanya, btw nice translate bro (Y)

Leave a Reply