ISSTH 4 – Sebuah Cermin Perunggu

Ini transliterasi keempat untuk xianxia berjudul “I SHALL SEAL THE HEAVENS”. Maaf untuk delay rilisnya yang amat sangat lama karena saya ada banyak urusan lain dan tidak sempat melakukan translate selama beberapa minggu. Sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Diterjemahkan oleh Prinzer

Selamat membaca!

Chapter 4 : Sebuah Cermin Perunggu

Treasure Pavillion memang diisi oleh harta. Saat masuk, mata seseorang akan dibutakan oleh cahaya terang. Rak permata yang disusun rapi diisi oleh botol, pedang, ornamen, dan perhiasan yang indah. Meng Hao mulai bernafas dengan berat, jantungnya berdegup. Rasanya seperti semua darah di tubuhnya masuk ke otaknya. Dia berdiri di tempat, tercengang.

Di hidup singkat milik Meng Hao, dia tidak pernah melihat kekayaan sebanyak itu. Dia merasa kekayaan itu menelannya. Otaknya berputar, dan dia secara tidak sengaja berpikir untuk mengambil semuanya dan melarikan diri.

“Harga dari semua harta ini…” gumam Meng Hao, “..tidak terhingga. Kompensasi berkerja untuk Immortals sangat luar biasa.” Dia berjalan melewati salah satu rak permata, ekspresinya diisi oleh ketertarikan, dan tidak sadar memajukan kepalanya. Dia penasaran appakah lantai 3 Treasure Pavilion sama dengan lantai 1, atau bahkan memiliki harta yang lebih berharga.

“Immortals… mereka sangat kaya!” Meng Hao menghela nafas panjang. Tiba-tiba, matanya melihat sesuatu yang aneh. Di salah satu rak perata, dia melihat sebuah cermin perunggu.

Ada bekas korosi di cermin itu. Cermin itu tidak terlihat spesial dan juga tidak bercahaya. Cermin itu terlihat tidak bisa dibandingkan dengan harta di sekitarnya.

Terkejut, Meng Hao mengambilnya dan melihat cermin itu dengan seksama. Cermin itu terlihat biasa saja, seperti sesuatu dari dunia mortal. Tidak ada papaun yang terlihat unik. Tapi, cermin itu ada di Treasure Pavilion, jadi dia berpikir cermin itu pasti cukup berharga.

“Junior Brother memang memiliki penglihatan yang bagus,” kata suara dari belakangnya. Dia tidak tahu kapan pria berwajah tajam itu masuk, tapi dia berdiri dan melihat ke arah cermin perunggu. Suaranya dipenuhi pujian, dia melanjutkan,”fakta bahwa kau mengambil cermin perunggu itu menunjukkan bahwa kau ditakdirkan untuk itu. Ada banyak legenda tentang cermin itu. Hal yang paling aneh adalah, hanya merka yang memiliki keberuntungan yang bagus dan mengumpulkan perbuatan baik di kehiudpan sebelumnya yang bisa mendapatkannya. Sepertinya Junior Brother adalah orang yang seperti itu. Dengan cermin ini, kau bisa menguasai surga dan bumi. Kau sudah pasti memiliki kesempatan ini.” Saat laki laki itu bicara, dia mengeluh berulang-ulang. Suaranya seperti memiliki kekuatan yang membuat Meng Hao terpaksa mendengarkannya.

“Cermin ini…” Meng Hao melihat cermin itu lagi, dan ekspresi aneh muncul di wajahnya. Cermin itu tidak ditutupi oleh pahatan rumit, melainkan korosi, membuatnya makin tidak jelas.

“Junior Brother, jangan lihat kesamaran cermin itu. Kau harus tahu bahwa harta bersifat spiritual sesungguhnya sering menutupi diri mereka di benda biasa. Semakin mereka terlihat biasa, lebih berhargalah mereka.” Meng Hao sudah hampir menaruh cermin perunggu itu kembali ke rak permata saat lelaki berwajah takam itu membuat beberapa langkah cepat untuk menghalanginya. Dia melihat Meng Hao dengan serius.

“Junior Brother, fakta bahwa kau mengambil benda ini menunjukkan bahwa kau ditakdirkan untuknya. Apakah kau akan menaruhnya kembali hanya karena cermin itu terlihat biasa? Aku sudah bertanggung jawab atas Treasure Pavillion selama bertahun-tahun, dan aku tahu asal-usul semua barang disini. Bertahun-tahun yang lalu, kaca perunggu ini menyebabkan keributan di Negara Zhao. Cermin ini terbuat dari cahaya yang jatuh dari surga. Setelah mendapatkannya, Patriach Reliance mempelajari rahasianya, percaya bahwa itu adalah harta dari surga. Pada akhirnya, dia tidak bisa memecahkan misterinya, dan mendapat kesimpulan bahwa cermin ini ditakdirkan untuk jatuh ke tangan seseorang yang akan menggunakannya untuk menguasai surga dan bumi.”

Mendengar nama Patriach Reliance mengejutkan Meng Hao. Dia baru masuk Outer Sect, dan masih banyak hal yang tidak dia ketahui. Dia mulai ragu-ragu.

“Patriach Reliance mempelajarinya, tapi tidak bisa memecahkan misterinya. Aku…”

“Kata-katamu tidak benar, Junior Brother. Biarkan Elder Brother disini menjelaskan : Kegagalan Patriach Reliance dalam memperlajari cermin ini menunjukkan ada sesuatu yang unik dan tidak biasa tentang harta ini. Sebelum kau, 10 atau lebih orang mengambil cermin itu untuk dipelajari, dan meskipun tidak ada yang berhasil memahami cermin itu, tidak ada yang menyesali pilihan mereka.

“Bagaimana jika…bagaimana jika kau adalah orang yang ditakdirkan untuk memiliki cermin itu? Dalam berbagai hal, jika kau mengambilnya, kau bisa merasa tenang. Sebagian dari temanmu yang mengambil cermin itu pada jaman dahulu, sebagian besar kembali setelah 3 bulan, dan aku membiarkan mereka menggantinya dengan yang lain. Setelah berurusan denganku untuk beberapa waktu, kau akan sadar kalau aku orangnya santai. Aku tidak ingin memberi kesulitan bagi sesama murid.

“Jika kau mengambilnya tapi tidak bisa memecahkan misterinya, maka kau bisa mengembalikannya kapanpun dan menukarnya dengan yang lain. Tapi jika kau meinggalkannya, dan ternyata kau ditakdirkan untuk mengambilnya, maka kau akan menyesalinya seumur hidupmu.” Pria yang terlihat lihai menatap Meng Ha. Saat dia melihat Meng Hao ragu-ragu, dia tertawa dalam dirinya. Murid baru paling mudah untuk dipermainkan. Yang harus dia lakukan adalah menceritakan legenda cermin itu, dan kata-kata indah untuk mengelabui mereka. Hati mereka akan mulai membara.

“Tapi…” Meng sudah belajar dan membaca dari kecil, jadi dia cukup pintar. Dari ekspresi pria yang terlihat lihai itu, dia bisa menduga bahwa cermin itu tidak sesuai yang dideskripsikan. Tapi pria itu berdiri di depan Meng Hao, berusaha mencegahnya untuk menaruh kembali cermin itu. Bahkan menaruhnya di lantai tidak akan  membantu. Meng Hao mulai menyesal mengambil cermin itu.

“Junior Brother,” katanya, wajahnya kaku, suaranya rendah, “jagan melanggar aturan pada hari pertama. Saat kau mengambil sesuatu di Treasure Pavillion, kau tidak diperbolehkan untuk mengembalikanya.” Pria itu merasa sudah cukup. Ini merupakan caranya agar orang-orang mengambil cermin itu. Dia mengayunkan lengan bajunya, dan angin muncul membawa Meng Hao terbang keluar dari Treasure Pavillion.

Suara keras muncul saat pintu utama Treasure Pavillion ditutup.

Suara pria itu bergema dari dalam: “Aku baik hati kepada sesama murid. Jika kau tidak ditakdirkan untuk cermin itu, kau bisa mengembalikannya dalam beberapa hari.”

Dengan marah, Meng Hao melihat pintu tertutup itu. Lalu dia menghela nafas dan melihat cermin perunggu di tangannya. Dia mengingat kembali kata kata di bab pertama Qi Condensation Manual dan mulai ragu. Jika cermin ini merupakan sesuatu yang Patriach Reliance pelajari, pasti benda ini cukup berharga. Menggelengkan kepalanya, dia menyimpan cermin itu di dalam jubahnya. Lalu dengan tatapan kebencian terakhir ke arah Treasure Pavillion, dia berbalik dan pergi.

Dia berjalan di sepanjang jalan hijau di Outer Sect, menggunakan informasi dari selip giok sebagai petunjuk. Pada saat tengah hari, dia menemukan rumahnya. Rumah itu terletak di bagian utara, di bagian terpencil Outer Sect. Beberapa rumah tertletak di sekitarnya.

Dia membuka pintu, dan pintu itu menabrak dinding. Di dalam terdapat sebuah kasur dan meja. Meng Hao berdiri di pintu, merasa cukup puas. Tempat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan ruangannya di Servant’s Quarter.

Dia duduk bersila di kasur, mengambil nafas yang dalam, dan mengeluarkan cermin perunggu itu dari jubahnya. Dia mempelajari cermin itu dengan seksama, sampai matahari mulai terbenam. Dia menyalakan lampu minyak dan terus mempelajari cermin itu, tapi sia-sia. Dia tidak tahu apa tujuan dari cermin perunggu itu.

Bagaimanapun melihatnya, cermin itu terlihat normal.

Saat malam mulai larut, Meng Hao menaruh cermin itu dan melihat bulan di luar jendela. Dia memikirkan tentang pemuda gendut dan dengkurannya. Dia sedikit merindukannya.

Bulan bersinar terang di luar, sinarnya menyentuh ujung jendela. Semuanya sunyi, bahkan tidak ada suara angin diantar dahan pohon. Meng Hao mengambil  nafas panjang, memikirkan tentang bulan. Dia merasa emosional, merasa seperti masuk pada jaman baru.

Dia bergumam kepada dirinya sendiri: “ Aku tidak akan lagi menjadi pelajar di Yunjie. Aku sudah menjadi murid Reliance Outer Sect…”

Meng Hao mulai memfokuskan pikirannya, menutup matanya, dan bermeditasi, mensirkulasi benang energi spiritual di tubuhnya. Dia sudah hidup begini selama berbulan-bulan dan sudah mulai terbiasa.

Satu perbedaan antara Outer Sect dan Servant’s Quarter adalah tidak ada yang menyiapkan makanan disini. Kau harus mengurus makananmu sendiri. Jika tidak, kau akan mati kelaparan dan tidak akan ada yang peduli. Meskipun, selama bertahun-tahun, tidak ada yang mati kelaran di Outer Sect.

Saat mencapai tingkat pertama dari Qi Condensation, seseorang dapat menyerap dan mengeluarkan energi spiritual dari surga dan bumi. Meskipun hal itu tidak mengurangi rasa lapar, hal itu bisa menopang hidupmu.

Beberapa hari berlalu. Suatu sore, Meng Hao duduk bersila sambil bermeditasi saat dia mendengar teriakan dari luar. Dia langsung membuka matanya, bergerak menuju jendela dan melihat keluar. Dia melihat murid Outer Sect di atas tanah, diinjak-injak oleh orang lain. Darah mengalir keluar dari luka di dadanya, tapi dia tidak mati, hanya terluka. Orang yang menendang mengambil tas pembawa orang yang terluka itu dan berjalan menjauh.

Murid yang diinjak itu berusaha berdiri, matanya diisi oleh kekejaman yang kuat. Dia berjalan sambil terhuyung-huyung. Penonton di sekitar melihat orang itu dengan dingin, muka mereka dipenuhi ekspresi mengejek.

7 hari telah berlalu. Pada waktu itu, Meng Hao melihat kejadian murid dirampok. Pertarungan dan perampokan yang terjadi antara murid Outer Sect membuat Meng Hao menjadi lebih pendiam. Yang paling mengganggu adalah saat murid di level kedua atau ketiga Qi Condensation dibunuh di Public Area. Hal ini membuat Meng Hao sangat berhati-hati saat pergi keluar.

Untungnya, level Cultivationnya rendah, dan dia tidak memiliki barang berharga, sehingga orang lain menghiraukannya.

Sebenarnya, Meng Hao sudah mencapai sebuah batas di Cultivationnya. Level dua Qi Condensation berbeda dengan yang pertama. Dia masih membutuhkan energi spiritual, tapi berdasarkan Qi Condensation Manual, tubuh mortalnya sudah mulai berubah. Maka dari itu, untuk mencapai level dua Qi Condensation dibutuhkan energi spiritual yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan level 1.

Meng Hao juga akhirnya mengetahui apa bakat terpendam itu. Kemampuan tubuh untuk menyerap energi spiritual surga dan bumi hanyalah berdasarkan itu, bakat terpendam. Semakin besar kemampuan terpendam seseorang, lebih banyak energi yang bisa mereka serap. Semakin kecil kemampuan terpendam seseorang, semakin sedikit energi yang bisa mereka serap. Bagi seseorang dengan bakat terpendam yang besar, semakin banyak waktu mereka digunakan untuk latihan pernafasan, semakin banyak energi spiritual yang dapat mereka serap.

Menurut perhitungannya, untuk mencapa level kedua Qi Condensation mungkin akan dibutuhkan paling cepat satu atau dua tahun. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai level ketiga akan jauh lebih banyak lagi.

Jika dia mendapat pill obat atau Spirit Stones, maka dia bisa menggunakan mereka untuk memperbesar energi spiritual dan dia bisa mengurangi waktu yang dibutuhkan. Itulah mengapa munculnya perampokan mengerikan di Outer Sect; setiap bulan, pill akan dibagikan.

“Yang kuat makin kuat, yang lemah makin lemah,” kata Meng Hao perahan. “Ini adalah cara Reliance Sect untuk mempersiapkan murid untuk Inner Sect.”

Pada suatu pagi, saat langit baru saja terang dengan cahaya redup, Meng Hao duduk sambil bermeditasi seperti biasa. Dia tidak memiliki sumber daya spesial, kecuali kegigihannya. Maka dari itu, dia tidak menyerah melakukan meditasi di malam hari dan latihan pernafasan. Bell berbunyi di seluruh Sect, dan Meng Hao perlahan membuka matanya.

“Suara bell ini…” mata Meng Hao mulai terfokus, seperti dia baru menyadari sesuatu. Ekspresi gembira muncul di wajahnya, dan dia berlari keluar ruangan dan melihat murid lain dimana-mana, pergi menuju suatu tempat.

“Saat suara bell ini muncul, sudah waktunya untuk pembagian Spirit Stones dan pil obat. Pasti hari ini adalah hari pembagian.” Makin banyak orang mulai berlari ke arah suara bell. Sepertinya semua murid Outer Sect ada disana.

“Hari Pembagian Pill,” kata Meng Hao, sambil bernafas dengan berat. Dia berlari dengan kerumunan sampai dia mencapai plaza di tengah Outer Sect. Plaza itu berukuran sangat besar, dan di pinggir plaza ada sembilan pilar batu dilapisi pahatan naga. Di pilar paling depan terdapat sebuah panggung dengan ukuran sembilan puluh meter dalam diameter, dan ada awan warna-warni di atasnya. Di dalam awan ini terlihat suatu bentuk.

Lebih dari seratus murid Outer Sect berdiri disana dengan jubah hijau mereka, bergumam dan melihat ke arah awan warna-warni.

Lalu, awan itu mulai menghilang, memperlihatkan orang tua dengan wajah berbintik memakai jubah emas. Wajahnya tenang dan memancarkan kekuatan alami yang tenang dan bermartabat. Matanya bersinar seperti kilat. Dua orang beridiri di sampingnya, laki-laki dan perempuan, keduanya memakai jubah perak. Laki-laki itu sangatlah tampan, dengan perawakan yang tegak lurus, meskipun ketidakacuhan terlihat di wajahnya. Dan untuk perempuannya, sesaat setelah Meng Hao melihat ke arahnya, pupilnya mengerut.

Perempuan ini adalah perempuan yang telah mengambilya dari Gunung Daqing tiga bulan lalu.

 

 

← ISSTH 3 – Promosi ke Outer Sect ISSTH 5 – Anak ini Tidak Buruk!→

Leave a Reply