ISSTH 6 – Kehebatan Cermin Perunggu

Ini transliterasi keenam untuk xianxia berjudul “I SHALL SEAL THE HEAVENS”. Maaf untuk delay rilisnya yang amat sangat lama karena saya ada banyak urusan lain dan tidak sempat melakukan translate selama beberapa minggu. Sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya. Namun berhubung liburan, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk rilis lebih sering. Jika ada typo dan translasi yang kurang pas mohon memberitahu.

Diterjemahkan oleh Prinzer

Selamat membaca!

Chapter 6 : Kehebatan Cermin Perunggu

Elder Siter Xu cukup terkenal di Reliance Sect. Bahkan, bisa dibilang setiap orang mengenalinya, karena sekarang, Reliance Sect hanya punya dua murid.

Selain Elder Sister Xu, satu-satunya murid lain adalah laki-laki yang saat ini berdiri di samping Shangguan Xiu.

Setelah Elder Sister Xu meminjamkan Immortal Cavenya, hal itu memiliki efek yang menyebabkan rasa takut kepada semuanya, membuat Meng Hao bisa meninggalkan alun-alun dengan Spirit Stone dan Spirit Condensation Pills. Semua melihatnya saat dia pergi.

Setelah berjalan cukup jauh, punggungnya dipenuhi keringat, dia merasakan tatapan di belakangnya seperti pedang yang tidak terlihat. Mereka bubar setelah dia dengan cepat berjalan menjauh.

Dalam waktu yang dibutuhkan untuk tiga dupa habis terbakar, Meng Hao berjalan tanpa berhenti. Dia tidak kembali ke ruangannya di Outer Sect, melainkan mengikuti selip giok putih yang diberikan Elder Sister Xu menuju Gunung Selatan. Di kaki gunung, dia menemukan Immortal Cave itu.

Di luar gua, dua lempeng batu besar berdiri di sebelah kaki gunung. Semua tertutupi cabang hijau tanaman merambat; tempat ini terlihat tidak biasa, sangat berbeda dengan dua tempat tinggal Meng Hao sebelumnya.

Sekeliling area ini sangat tenang dan rimbun. Tidak jauh, angin gunung berhembus turun, dan anginnya membawa pergi panas dan menggantikannya dengan udara yang dingin dan segar.

Meng Hao berdiri di mulut Immortal Cave, terlihat sangat puas. Sekarang dia tau seberapa berharga gua seperti ini, sudah pasti lebih banyak dari tempat tinggal lain. Tidak heran semua murid Outer Sect terlihat iri saat Elder Sister Xu meminjamkannya.

“Ini merupakan tempat bagi Immortals,” kata Meng Hao. Dia melambaikan tangannya dan selip giok putih terbang ke arah pintu hijau gua itu. Giok itu menabrak permukaan pintu, dan suara berdengung muncul saat pintu perlahan terbuka.

Immortal Cave itu tidak terlalu besar, hanya memiliki dua ruangan. Satu ruangan untuk berlatih cultivation, dan yang lain tertutup rapat oleh pintu batu. Meng Hao masuk dan pintu batu hijau secara perlahan tertutup. Saat sudah tertutup, selip giok putih itu terbang keluar menuju tangan Meng Hao. Kemudian, sinar remang-remang muncul dari langit-langit batu.

Semakin dia melihat sekitarnya, semakin puas dirinya. Akhirnya, pandangannya tertuju pada pintu batu. Bergumam ke dirinya sendiri, dia menyentuhkan selip giok ke pintu itu, dan pintu itu terbuka dengan perlahan. Pada saat itu, bau dari energi spiritual yang kuat keluar. Meng Hao melihat ke dalam ruangan batu, matanya melebar karena terkejut.

“Immortal Cave milik Sister Xu, ini…hadiah ini terlalu berharga.” Butuh beberapa saat sampai dia bisa mengembalikan ketenangannya. Dia menatap ruangan batu itu, tepatnya ke arah sesuatu yang terlihat seperti mata air. Mata air itu mengeluarkan energi spiritual, warna-warni dan bersinar saat terangkat ke udara. Siapa yang tahu berapa lama energi spiritual itu terkumpul di ruangan batu. Begitu pintu terbuka, energi spiritual mulai keluar, aromanya manis di hidung dan mulut. Bahkan hanya dengan menciumnya akan memberikan energi.

“Jadi itu adalah mata air Spirit,” gumam Meng Hao. Mata air itu merupakan sesuatu yang belum pernah dia lihat, tapi dia sudah membacanya di Qi Condensation Manual. Beberapa mata air di dunia adalah mata air Spirit, yang tidak memiliki air. Melainkan, mereka mengeluarkan energi spiritual. Tidak banyak yang ada, dan sebagian besar dimiliki oleh Cultivator, mengingat betapa berharganya energi spiritual yang dikeluarkan.

Mata air Spirit itu cukup kecil. Saat energi spiritualya keluar, energi itu hanya sedikit lebih padat dibandingkan di luar. Bagi siapapun diatas level 3 Qi Condensation, hal ini tidak akan banyak membantu. Setelah level 3, energi spiritual yang dibutuhkan sangatlah banyak; makanya; mata air ini hanya membantu sedikit.

Meskipun begitu, bagi Meng Hao hadiah ini sangat berharga, bahkan lebih dari sebuah pil Dry Spirit. Setelah mengetahui hal ini, Meng Hao sangat senang.

Tanpa berpikir panjang, dia duduk sila, menutup mata, dan mulai latihan pernafasan. Setelah beberapa jam, sebagian besar energi spiritual di tempat itu sudah habis. Meng Hao membuka matanya dan matanya bersinar cerah.

“Beberapa jam meditasi disini sama dengan Cultivation sebulan di luar. Akumulasi energi spiritual membutuhkan waktu, dan kemungkinan tidak akan seperti ini lagi. Meskipun begitu, berlatih Cultivation di tempat ini, aku bisa mendapatkan kecepatan yang tidak mungkin di luar.” Dia menghela nafas. Melihat ke sekitarnya, dia menyadari kalau tembok-tembok di gua ini dilapisi oleh tanda aneh yang tidak dimnegertinya.

“Mata air Spirit bisa mengumpulkan banyak energi spiritual karena tanda-tanda ini. Elder Sister Xu pasti menggunakan metode ini untuk membangun energi dan menghabiskannya dalam satu waktu.” Meng Hao berpikir untuk beberapa saat, lalu dia mendapat inspirasi. Dia kembali duduk dan melakukan latihan pernafasan.

Malam berlalu dengan cepat, dan segera setelah matahari muncul pada pagi hari, Meng Hao membuka matanya. Energi spiritual di ruangan batu sangatlah tipis. Tapi mata air Spirit masih ada. Setelah beberapa waktu, energi spiritual pasti akan terkumpul lagi.

Meng Hao membutuhkan waktu untuk merasakan level kultivasinya. Sepertinya dia sudah mendapat kemajuan seperti setelah dua bulan.

“Jika aku bisa berlatih Cultivation seperti ini beberapa kali lagi, aku pasti bisa menembus level satu Qi Condensation dan memasukki level dua!” Dia mengambil nafas, gembira. Meng Hao sangat ingin menembus level satu, karena hanya dengan mencapai level dua Qi Condensation seseorang bisa menggunakan Immortal Skill (kemampuan Immortal) pertama di Qi Condensation Manual.

Berpikir tentang Immortal Skills, Meng Hao meninggalkan ruangan batu, menutup pintu batu seakan pintu itu semacam permata atau harta. Dia memutuskan untuk menggunakan metode Elder Sister Xu. Dia tidak akan diam di sebelah mata air Spirit. Dia hanya akan menunggu, lalu kembali untuk mendapatkan energi spiritual.

Duduk di Immortal Cavenya, Meng Hao mengusap perutnya. Memikirkan beberapa hari terakhir ini, dan melihat perutnya yang kurus, dia sadar dia belum makan hewan liar apapun akhir-akhir ini. Bahkan buah pun tidak.

Setelah menjadi murid Outer Sect, dia berpikir, dia belum makan sebanyak dulu saat dia masih jadi pelayan. Selama seseorang memiliki Spirit Stones yang cukup, dia bisa membawanya ke Sect’s Pill Cultivation Workshop untuk menukarkannya dengan Fasting Pills atau Appetie Control Pill. Katanya, satu pill itu bisa menghilangkan rasa lapar untuk beberapa hari. Tanpa pil itu, orang-orang akan menghabiskan waktu untuk mencari makanan.

Setelah berpikir untuk beberapa saat, Meng Hao memutuskan untuk keluar sebentar. Angin sejuk tertiup melewati dirinya dari hutan disekitarnya. Sembari berjalan, dia mengambil cermin perunggu dari tas pembawa, seperti sudah menjadi kebiasaan.

Saat ini, dia sudah yakin kalau Brother Treasure Pavilion sudah menipunya. Tidak ada apapun yang tidak biasa pada cermin ini. Selama lebih dari setengah bulan mempeajarinya, Meng Hao belum menemukan sesuatu yang aneh sedikit pun.

“Sayangnya, aku hanya punya separuh Spirit Stone di tas pembawaku. Aku bertaruh aku harus menggunakannya untuk menyogoknya agar aku bisa menukar cermin ini.” Dia membentangkan tangannya ke dalam tas dan mengambil Spirit Stone, merasa sedikit sedih.

Meng Hao tiba-tiba diam di tempat, mengangkat kepalanya saat dia menyadari ada warna yang bergerak di dalam hutan. Warna itu tidak bergerak dengan cepat. Mata Meng Hao bersinar-sinar. Berdasarkan pengalamannya selama beberapa bulan menangkap ayam liar, dia tahu apa wujud asli warna itu. Ayam liar.

Tanpa waktu untuk memasukkan cermin dan Spirit Stone ke dalam tas pembawa, dia memasukkan dua benda itu ke kantong dan melompat maju. Sejak energi spiritual muncul di tubuhnya, Meng Hao merasa bahwa dia lebih lincah dari sebelumnya. Meskipun masih lemah, dia sekarang bisa mengeluarkan tenaga yang besar.

Terutama akhir-akhir ini, setelah mencapai level pertaa Qi Condensation, loncatan seperti yang barusan dia lakukan membawanya maju dengan sangat cepat. Dalam waktu sepuluh nafas, dia bisa mengambil ayam yang ketakutan itu. Dia memegangi kedua sayapnya supaya ayam itu tidak bisa kabur.

“Aku penasaran bagaimana kabar si Fatty,” katanya, sambil memikirkan pemuda gendut sambil mengangkat ayam itu. Mungkin dia akan pergi menemuinya dan membagikan hasil tangkapannya. Saat dia berbalik, dia merasa ada sesuatu di jubahnya memanas.

Beberapa waktu setelahnya, ayam yang tadinya diam di tangannya mulai bergerak dengan liar dan mengeluarkan suara menguak yang menyedihkan. Ayam itu bergerak dengan tenaga yang membuat Meng Hao hampir tidak bisa menahannya.

Ayam itu berusaha melepaskan diri dengan liar, menguak dengan sangat nyaring. Lalu, suara meletus muncul dari pantatya, yang tiba-tiba meledak, membuat darah terbang ke semua arah.

Semua berlangsung dengan cepat. Meng Hao berdiri sambil melongo. Sejak sampai di gunug, dia sudah menangkap beberapa ayam liar. Tapi ini pertama kalinya dia melihat yang seperti ini. Dia melihat ke bawah dan terkejut melihat ayam mati dan pantatnya yang meledak. Lalu dia melihat ke sekitar. Semua masih tenang. Bahkan tidak ada bayangan yang bergerak.

“Apa yang barusan terjadi?” Meng Hao merinding. Kematian ayam liar itu sudah cukup mengerikan. Ayam itu pasti merasakan rasa sakit yang luar biasa dari pantatnya yang meledak.

Meng Hao menarik nafas dalam, menekan rasa gelisah yang dia rasakan. Kematian ayam liar itu sangat aneh dan mengerikan. Dia merasa seperti ada angin dingin yang bertiup di punggungnya.

“Sesuatu tidak benar,” kata Meng Hao. Dia melempar ayam mati itu, dan mengambil cermin perunggu dan Spirit Stonenya. Dia ingat kalau sebelum hal aneh itu terjadi, sesuatu di jubahnya terasa panas.

“Mungkinkah tadi itu Spirit Stonenya…” Lalu pandangannya jatuh pada cermin perunggu. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang dan cahaya yang kuat muncul di matanya.

“Jangan bilang…” Tangan yang memegang cermin mulai gemetar. Dia tidak punya waktu untuk makan apapun dengan si pemuda gendut. Memegang cerminnya, dia berlalri secepat mungkin ke hutan, berusaha mencari hewan liar lain. Dia harus tahu jika pembunuh ayam liar tadi adalah si cermin.

Dia tidak harus lama berlari sampai dia melihat rusa liar di depannya. Rusa itu melihat Meng Hao dengan bodoh, lalu dengan marah. Meng Hao langsung mengarahkan cerminnya ke rusa itu.

Ekspresi rusa itu langsung berubah. Rusa itu melompat kabur, berteriak menyedihkan, dengan suara yang menyayat hati yang sulit dijelaskan. Siapapun yang mendengar suara itu hanya bisa membayangkan betapa menyedihkan makhluk itu. Meng Hao bisa melihat dengan jelas pantat hewan itu saat melompat ke udara. Sebelum mendarat, pantatnya meledak dengan suara kencang, tubuhnya kejang saat jatuh.

Melihat rusa mati itu, lalu kembali ke cermin itu, ekspresi gembira muncul di wajah Meng Hao.

“Harta! Benda ini benar-benar sebuah harta!”

“Cermin ini sangat aneh. Harta yang meledakkan pantat hewan liar…” Meskipun Meng Hao tidak sepenuhnya memahaminya, dia tetap sangat gembira. Tanpa memperhatikan kenapa harta ini melakukan hal itu, dia merasakan keinginan untuk mengetesnya ke hewan lain.

 

 

← ISSTH 5 – Anak ini Tidak Buruk! ISSTH 7 – Aku Butuh Spirit Stones!→

Leave a Reply