MW 2 – Batu Aneh

“Saudara Ming, kamu benar-benar keren tadi!” kata Lin Xiaodong dengan antusias sambil mereka berjalan.

Lin Ming tetap diam. Kata-katanya tadi memang sangat keren dan indah, tapi, sangatlah sulit baginya untuk melampaui Zhu Yan. Usaha yang harus dia lakukan harus benar-benar di luar batas.

Dia tidak pernah takut akan kerja keras atau kepahitan dalam berlatih. Tapi tidak terhadap cedera dalam. Obat-obatan diperlukan untuk menyembuhkan cedera itu dan tentu saja obat-obatan itu sangat mahal.

Lin Xiaodong bisa menebak isi pikiran Lin Ming. “Saudara Ming, yang perlu kamu lakukan hanya berlatih dengan keras. Untuk urusan finansial, aku akan membereskannya. Tenang saja, walaupun posisi kakekku di keluarga tidak terlalu tinggi, tapi bukan berarti dia tidak punya pengaruh. Mengeluarkan beberapa ratus liang emas masih sangat mungkin buatku.”

Lin Ming berhenti berjalan dan melihat wajah Lin Xiaodong. Dalam kehidupannya, dia memiliki banyak teman, tapi yang berusaha membantunya di kondisi seperti ini sangatlah langka. Dalam persaudaraan yang kental, mengatakan terima kasih terasa janggal. Tapi, Lin Ming berhenti dan berkata dengan nada serius, “Xiaodong, terima kasih.”

“Cukup,. Ini terlalu aneh buatku. Aku bukan seseorang yang berambisi. Mengambil tes masuk ke perguruan Tujuh Kebijaksanaan hanya caraku untuk melindungi reputasi ayahku. Saudara Ming, aku akan bertaruh untukmu. Setelah kamu menjadi seorang master di masa depan, kamu harus melindungiku sedikit, hahaha.”

Lin Ming tersenyum dan tertawa. “Siap! Dengan saudara sepertimu, aku akan terus berjuang menjadi seorang master.”

Ketika Lin Ming kembali ke tempat peristirahatannya, hari sudah menjelang malam. Kamar ini adalah kamar yang dia sewa. Selama beberapa waktu ini, mulai dari hari pendaftaran perguruan Tujuh Kebijaksanaan sampai hari tes masuk, semua tempat, entah itu kamar yang disewakan atau di penginapan, semuanya penuh. Biaya sewanya tentu meningkat separuh drpd biasanya. Walaupun begitu, para pendaftar tetap memilih untuk menyewanya. Kamar yang disewa Lin Ming pun juga tidak bisa dikatakan murah.

Lin Ming telah menyewa sebuah kamar dengan luas 10m2 dengan isi yang sangat minimalis. Ketika dia akan berlatih meditasi di atas kasur, seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Lin Ming membuka pintu dan melihat ibu pemilik rumah berdiri di sana. Ibu Pemilik rumah ini berusia kurang lebih 50 tahun dengan badan yang gemuk. Wajah ibu pemilik rumah ini biasanya terlihat menakutkan dan kasar,tapi hari ini dia terlihat tersenyum, menimbulkan pertanyaan di hati Lin Ming. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Ibu, ada yang bisa saya bantu?”

“ini… Hmm… Adik kecil, aku minta maaf, tapi bisakah kamu mengosongkan ruangan ini.”

“Hah?” Lin Ming mengernyitkan dahinya, “Kenapa?”

“Hehe, maaf, tapi aku telah menyewa ruangan ini,” Sebuah suara lelaki yang kasar menjawab. Lin Ming melihat seorang pria dengan telinga besar seperti kera berjalan ke depan kamarnya. Pria itu tersenyum mengejek.

Lin Ming melihatnya sejenak dan mengenalinya sebagai salah seorang anak buah Zhu Yan dan temannya. Kelihatannya dia adalah anak buah dari teman Zhu Yan. Sebelumnya, teman Zhu Yan itu hanya terdiam dan hanya melihat Lin Ming dan Lin Xiaodong dengan perasaan jijik.

Tidak bisa dipungkiri, anak muda teman Zhu Yan itu mencoba untuk menunjukkan kebaikannya terhadap Zhu Yan dengan mengirimkan anak buahnya untuk mencari masalah dengan Lin Ming. Yang perlu dia lakukan hanyalah menawarkan biaya sewa beberapa kali lebih tinggi daripada Lin Ming.dan pemilik rumah tentunya akan segera mengusir Lin Ming.

Dikarenakan perguruan Tujuh Kebijaksanaan sedang menerima pendaftaran, maka sangatlah sulit untuk menemukan tempat untuk disewa. Menemukan tempat lain mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Tapi, walaupun Lin Ming bisa menemukan tempat lain, tidak ada jaminan bahwa si anak buah ini tidak akan mencari masalah dengannya lagi.

Wajah Lin Ming terlihat lesu dan dia menatap wajah pemilik rumah dengan dingin. “Sebelumnya kita sudah sepakat bahwa aku akan menyewa kamar ini selama lima bulan. Aku juga sudah membayarmu 5 bulan di awal. Sekarang masih ada sisa 3 bulan sampai sisa sewanya habis. Tapi kamu mau mengusirku sekarang?”

Ibu pemilik rumah itu tersenyum meminta maaf. “ini… aku menyadari hal ini. Bagaimana jika aku mengembalikan uang sewa 3 bulanmu? Oke?”

“Ha? Mengembalikan uang sewa 3 bulan? Kamu benar-benar perhitungan sekali.” Hati Lin Ming mulai panas. Jika pemilik rumah ini mengusirkan karena ditekan oleh orang lain, Lin Ming akan segera pergi. Tapi tindakan pemilik rumah yang mengusir Lin Ming karena tergiur uang membuat Lin Ming marah.

“Omong kosong apa kamu. Sebelumnya kita hanya berbicara tentang itu dan aku ingat aku tidak pernah menandatangani apapun. Ruangan ini milikku. Kepada siapa aku menyewakannya ya terserah aku lah!” Kebanyakan pemilik property di kota Sky Fortune merasa lebih superior dibandingkan orang-orang yang datang dari luar karena mereka merasa bahwa mereka adalah orang kota. Mereka akan merendahkan orang-orang yang datang dari luar dengan berbicara sinis. Selain itu, pria di sebelah pemilik rumah itu jelas dikirim oleh seseorang yang berasal dari keluarga kaya dan berkuasa.

Detik itu juga, pria bertelinga seperti monyet itu tertawa dengan angkuh, “Jika kamu bijaksana, segera tinggalkan tempat ini. Aku bilangin ya, Tuan mudaku sudah mengamatimu. Jika kamu mendapatkan tempat lain, maka aku akan mampu mengusirmu lagi. Selama 3 bulan sebelum tes masuk perguruan, lebih baik kamu tidur di jalan saja. Hahaha!”

Pria itu tertawa.

Bagi mereka yang lahir di lingkaran elite bangsawan, sangat natural apabila mereka mereka superior dan angkuh. Namun, mereka ketika mereka menunjukkan arogansinya, mereka tetap mempertahankan keanggunan dan cara bicaranya, seperti Zhu Yan. Orang yang ada di depan Lin Ming berbeda dari itu, dia terlihat seperti seorang bajingan yang tidak punya sopan santun yang hanya bergantung pada orang dan keluarga kuat yang ada di belakangnya.

Lin Ming melihat pria itu, matanya menjadi makin dingin tiap detiknya.

“Apa kamu lihat-lihat? Apa kamu berpikir untuk memukulku? Aku bilangin yah, Tuan Mudaku adalah anak kedua dari Kepala Tentara Pertahanan kota Sky Fortune. Jika kamu berani memukulku, maka Tuan mudaku akan…”

“PERGI!” Lin Ming berteriak dan melancarkan pukulan, memukul pria itu pas di hidungnya. Dengan suara “Bak”, orang itu terbang diikuti dengan suara barang pecah. Orang itu pun tergeletak di tumpukan mebel dan pot yang hancur, rambutnya kussut dan wajahnya meneteskan darah.

Sebuah pukulan yang mampu melesakkan pohon besi menghantam pas di hidung. Tentu hasilnya bisa dibayangkan, hidung pria itu melesak masuk ke dalam.

Pemilik rumah itu pun terkejut, matanya terbelalak beberapa saat sebelum dia berteriak ketakutan. “Tolong! Pembunuhan!”

Pemilik rumah itu segera berlari keluar, tetapi kakinya yang gemuk tidak dapat bekerja dengan baik dan dia terjatuh di lantai.

Lin Ming berjalan ke arah pria yang bertelinga seperti monyet itu. Walaupun dirinya hanya berada di tahap pertama latihan fisik, bukan berarti dia tidak berkemampuan. Toh, Banyak orang di kerajaan Sky Fortune tidak bisa berlatih bela diri. Lin Ming selain memiliki bakat yang cukup bagus, dia juga seorang pekerja kras. Di antara 1000 orang seumurannya dengan bakat yang sama, sangat sulit untuk menemukan satu orang saja dengan kekuatan sepertinya. Bagi Lin Ming, pria ini hanya seorang anak buah dan Lin Ming tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk menghadapinya.

Pria itu terus mengerang, dia tidak menyangka bahwa Lin Ming akan benar-benar memukulnya. Dia mengangkat jari yang berdarah dan menunjuk Lin Ming. “Kau… Kau berani memukulku, Kau… Tamat Kau!”

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku, tapi aku tahu bahwa kamu yang tamat,” Lin Ming menendang perut pria itu, membuatnya menangis kesakitan. Sekali lagi, dia terbang keluar/ Hanya saat ini, dia menabrak pintu dan menghancurkannya. Akhirnya dia terjatuh di luar rumah.

Lin Ming tetap tidak berkata apa-apa. Dia kembali ke kamarnya dan membereskan pakaiannya dan beranjak pergi. Seluruh rumah menjadi berantakan, banyak tetesan darah di mana-mana. Pemilik rumah berkata dengan malu-malu, “Kau… Kau tidak bisa pergi begitu saja, Kamu… harus… harus menggantinya.”

“Ganti… ganti…” Suara pemilik rumah melemah. Dia merasa tatapan mata Lin Ming seperti jendela ke Neraka tingkat 9, membuatnya gemetar.

Tanpa berkata apapun, Lin Ming meninju dinding, dan tangannya menembus dinding bata rumah itu, menyebabkan seluruh rumah bergetar dan debu turun dari langit-langit. Pemilik rumah berteriak dan kemudian pingsan.

Lin Ming membawa bawaannya dan berjalan keluar tanpa melihat pria yang pingsan itu.

Lin Ming sadar bahwa setelah menghajar pria itu, maka orang di belakangnya tidak akan tinggal diam akan mencari masalah dengan Lin Ming. Tapi, Lin Ming tidak menyesal.

Sebagai seorang pria, dia harus bertahan. Jika orang yang datang hari ini adalah seorang pesilat, Lin Ming tidak akan bertindak seperti itu dan dia akan memilih untuk mengalah. Namun, yang datang adalah seorang anak buah tidak berguna, yang hanya mengandalkan kekuatan di belakangnya. Jika Lin Ming memilih untuk mengalah, apa kata dunia? Apa gunanya dia belajar bela diri?

Tentunya hal seperti itu tidak sesuai dengan jalan bela diri yang ada di hati Lin Ming

Lin Ming pun meninggalkan daerah itu. Sejenak setelah itu, dia menaruh bawaannya dan mulai menimbang bagaimana menyelesaikan masalah tempat tinggal untuknya. Sekarang, semua penginapan pasti sudah penuh, selain itu, harganya juga terlalu mahal untuknya. Walaupun dia tidak punya masalah dengan tidur di luar, Lin Xiaodong akan mengomel dan memaksanya untuk tinggal bersamanya.

Jika Lin Ming melakukan hal itu dan anak kedua dari Kepala Tentara Pertahanan mengirimkan orang-orangnya ke sana, Lin Xiaodong juga akan terkena dampaknya dan akan ikut tidur di luar juga bersama Lin Ming.

Lin Ming sadar bahwa dia berada dalam masalah. Tidak ada jaminan bahwa anak kedua Kepala Tentara Pertahanan  tidak akan mengirimkan preman. Di mata orang-orang seperti ini, membuat orang menjadi lumpuh bukan masalah besar. Lin Ming tidak mau menyeret Xiaodong ke masalah ini.

Kalau memang seperti itu, ke mana dia harus pergi?

Setelah berpikir tentang hal ini, Lin Ming akhirnya memikirkan sebuah tempat – Restoran yang paling terkenal di kota Sky Fortune – Paviliun Grand Clarity.

Konsumen Paviliun Grand Clarity semuanya adalah kelas atas. Selain itu, mereka juga memiliki latar belakang yang kuat. Dengan latar belakang yang kuat, seorang anak kedua dari Kepala tentara tidak bisa melakukan apa-apa.

Alasan lain Lin Ming ingin ke Paviliun Grand Clarity adalah supaya dia tidak mengeluarkan uang untuk menyewa tempat. Dia ke sana untuk mencari kerja. Orang tua Lin Ming menjalankan usaha restoran, sehingga Lin Ming pun terlatih untuk memasak, rasa dari masakannya lumayan enak. Namun, dia tidak percaya diri bahwa dia bisa mengalahkan para ahli masak di kota Sky Fortune. Selain itu, keahlian khususnya bukan di memasak…

Paviliun grand clarity terlihat sangat terang ketika Lin Ming tiba di sana. Tempat itu adalah tempat bisnis terbaik di kota Sky Fortune.

Baju Lin Ming terlihat sangat biasa, sehingga orang yang ada di dalam melihatnya dengan ekspresi heran. Seorang dengan baju seperti Lin Ming biasanya tidak mampu untuk makan di tempat ini. Selain itu, dia juga hanya seorang anak muda berusia 15 tahun.

Namun, pelayan di sana tetap bertanya dengan sopan, “Adik kecil, apa kamu di sini dengan orang tuamu?”

Lin Ming menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Aku di sini untuk mencari pekerjaan.”

Mendengar itu, pelayan itu mengernyitkan dahinya. Pekerjaan apa yang bisa dilakukan anak usia 15 tahun? Di sini, sebagai pelayan saja harus cantik atau tampan dengan usia minimal 18 tahun atau 20 tahun. Dan untuk memasak, masakan apa yang bisa dimasak anak usia 15 tahun?

“Pergi, jangan menimbulkan masalah di sini,” pelayan itu mengibaskan tangannya dengan tidak sabar.

“Aku benar-benar bisa bekerja, tolong bawa aku ke dapur untuk mencoba.”

Pelayan itu bertanya dengan suara tidak senang, “Apa yang bisa kamu lakukan?”

Ling ming tersenyum dan menjawab, “Menulangi” (memisahkan tulang dari daging)

“Apa?” pelayan itu terkejut.

Menulangi adalah pekerjaan yang tidak jelas dan tidak semua restoran memiliki pekerjaan seperti itu. Pekerjaan itu mengharuskan untuk memotong hasil buruan menjadi bagian kecil sambil memisahkan tulangnya.

Seorang ahli jagal dapat memotong sapi dengan mudah. Seorang jagal yang lumayan juga bisa memotong seekor sapi, namun harus mengganti pisaunya minimal setahun sekali. Beberapa tukang jagal bahkan harus mengganti pisaunya sebulan sekali. Selain itu, efisiensi pekerjaannya sangat rendah dan mereka membutuhkan setengah hari untuk memotong seekor sapi.

Namun bagi Pavilin grand clarity, bahan mereka bukanlah daging sapi melainkan daging binatang buas. Daging binatang buas sangat lezat tapi sisik, kulit, tulang dan ototnya sangat keras. Orang biasa harus berusaha sekuat tenaga hanya untuk memotong sebagian kecil dari daging binatang buas itu. Seorang ahli bela diri juga tidak mau merendahkan diri mereka untuk melakukan pekerjaan itu. Walaupun mereka mau pun, seseorang yang tidak mengerti tentang otot, tulang dan urat tidak akan mampu melakukannya. Menggunakan kekuatan murni saja dalam proses pemotongan akan mengakibatkan dagingnya kehilangan rasa yang lezat.

Penulangan adalah jalan awal Lin Ming pertama kali mengetahui tentang bela diri. Di restoran orang tuanya, dia melatih dirinya di proses penulangan setiap hari selama 10 tahun.

Penulangan adalah pekerjaan yang sangat melelahkan! Lin Ming tidak pernah berpikir bahwa dia adalah seorang jenius di bela diri. Yang bisa dia gantungkan adalah kerja kerasnya dan berlatih terus menerus. Hal itulah yang membuat dasar bela dirinya menjadi solid, Dengan memotong, memotong dan memotong di dalam dapur.

Pelayan itu tidak mampu mengusir Lin Ming dan hanya bisa membawanya ke dapur…

“Kakak Lan (cewek), adik kecil ini mau mendaftar sebagai pekerja penulangan.”

“Penulangan?” dalam dapur Paviliun grand clarity, seorang wanita cantik di usianya sekitar 20 tahunan mengenakan gaun yang bagus melihat dan menilai Lin Ming. Melihat baju lin Ming yang biasa saja membuat Lin Ming terlihat seperti pengungsi, dia mengernyitkan dahinya. Dia kemudian berkata dengan tidak puas kepada pelayan yang membawa Lin Ming masuk, “Apa yang kamu lakukan, membawa masuk orang tidak dikenal ke dapur. Dong Zi, beri dia beberapa perak dan suruh dia pergi.”

Jelas sekali, wanita cantik ini mengira Lin Ming adalah anak bermasalah. Pelayan yang dimarahi itu pun menunjukkan wajah masam. Sebenarnya dia sudah berusaha mengusir Lin Ming, tapi dia tidak bisa menggeser kaki Lin Ming, seakan-akan Kaki Lin Ming mengakar di sana dan tidak bisa digerakkan.

Seorang lelaki muda juga mencoba mengusir Lin Ming. Namun, dia tiba-tiba merasa tangannya menjadi lemas. Dia memandang dengan bingung, Lin Ming dengan satu atau lain cara telah mengambil Pisau untuk menulangi yang dia pegang.

Sebelum orang bernama Dong Zi dapat memahami apa yang terjadi. Lin Ming berkata, “Aku di sini bukan untuk mengemis. Kakak, tentunya tidak terlambat bagimu untuk mengusirku setelah aku menunjukkan kemampuanku.”

Wanita cantik itu sedikit terkejut, tampaknya anak kecil ini punya keahlian. Dia menatap Dong Zi dan berkata, “Tidak berguna, kamu bahkan tidak bisa menangani anak kecil. Segera pergi ke ruang penyimpanan dan bawa seekor babi.” Setelah itu, dia menoleh ke Lin Ming dan berkata, “Jika kamu bisa menyelesaikannya dalam waktu 1 jam, maka aku akan mengizinkamu tinggal di sini.”

Dong Zi tahu bahwa dia sudah kehilangan muka dan dengan malu berangkat mengambil babi. Namun, Lin Ming mencegahnya, “Tidak perlu, aku akan mengerjakan yang itu.”

Lin Ming berkata sambil menunjuk ke arah binatang bersisik keras.

Wanita cantik itu menjadi makin terkejut. Seekor binatang bersisik keras itu adalah binatang buas level 2 yang tubuhnya sangat berotot. Otot-otot itu sangat keras dan dapat menahan serangan pedang. Namun, dengan menggunakan daun-daunan tertentu dan memasaknya perlahan selama 3 hari 3 malam akan menghasilkan sup kental yang sangat lezat.

Bagi seorang master penulangan, binatang buas seperti itu sangat sulit untuk dipotong. Anak kecil ini pasti gila.

“Apa kamu bercanda? Ini adalah binatang bersisik keras yang bernilai lebih dari 100 liang emas. Bagaimana kamu akan membayarnya jika kamu menghancurkannya?” Dong Zi berkata dengan tidak sabar. Dia masih tidak senang karena Lin Ming mengambil pisaunya.

Wanita muda itu menatap Dong Zi dan berkata,”Jika aku mengizinkanmu menghancurkannya, memang kamu bisa menghancurkannya beneran?”

Dong Zi pun terdiam. Binatang bersisik keras itu tidak sama seperti babi, sapi atau domba. Orang biasa tidak akan mampu menghancurkan sisiknya walaupun dengan pisau. Menghancurkannya bukanlah sesuatu yang orang normal mampu melakukannya.

Wanita itu menoleh ke Lin Ming dan berkata, “Aku akan mengizinkanmu memotongnya!”

Lin Ming menganggukkan kepalanya dan mengambil pisau penulangan terbaik yang ada di dapur. Dia hanya pernah memotong binatang bersisik keras dua kali; keduanya adalah ketika hari ulang tahun seorang tokoh penting di keluarga Lin. Selain itu, daging binatang buas bukanlah sesuatu yang bisa dibeli orang rata-rata.

Mengambil nafas panjang, Lin Ming dengan hati-hati menggores sisik Binatang bersisik keras itu, mencoba merasakan di mana pembuluh darahnya. Proses ini memakan waktu sebatang dupa. Di pikirannya, dia sudah membentuk formasi diagram pembuluh darah. Membandingkan dengan pengalaman sebelumnya, dia yakin bahwa analisanya benar.

Sembari menunggu, beberapa orang menjadi tidak sabar dan akhirnya berkata, “Apa yang kau lakukan? Kenapa kamu belum juga memotong?”

“Berhentilah mencoba menjadi misterius dan segera potong”

Sangat normal bila orang-orang itu menjadi tidak sabar. Seorang anak muda berusia 15 tahun mengklain bahwa dia bisa menulangi binatang buas level 2, hal ini terlihat seperti gurauan bagi mereka/

Lin Ming tidak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan itu. Dia mulai mengambil pisau, matanya terlihat sangat focus. Baginya, proses penulangan sama dengan sesi latihan bela diri.

Setelah menganalisa diagram pembuluh darah, Lin Ming akhirnya mulai.Dia tidak menggunakan Kapak atau pedang pemotong, dia hanya menggunakan pisau penulangan yang susah digenggam.

Di tangan Lin Ming, pisau biasa ini menjadi senjata yang sangat tajam. Pisau ini pun turun ke sisik binatang itu dan sisiknya pun mulai terkelupas.

Melihat kejadian ini, orang-orang yang tadi bertanya segera menutup mulutnya. Teknik ini saja membutuhkan kekuatan lengan sebesar 300 jin (181,5 kg). Bagi mereka, teknik untuk memotong-motong binatang bersisik keras umumnya membutuhkan kapak atau gergaji.

Ujung pisau itu bergerak melewati celah di antara pembuluh darah, memotongnya dengan lembut bagaikan memotong keras. Semua orang hanya bisa mendengar suara “Srak Srak” sebelum akhirnya otot putih binatang bersisik keras itu terlihat.

Melihat betapa mudahnya Lin Ming memotongnya, Pria bernama Dong Zi mengusap matanya. Dia curiga ada yang salah dengan matanya. Apakah anak kecil ini benar-benar memotong binatang bersisik keras?

Lin Ming bergerak dengan anggun. Sesekali, beberapa urat yang tidak bisa dihindari menginterupsi pekerjaannya. Ketika hal itu terjadi, Lin Ming akan menggunakan kekuatan kasarnya untuk menariknya keluar. Akhirnya dia menyelesaikannya dalam waktu hanya setengah jam untuk memotong daging binatang bersisik keras itu. Selain daging, barisan iga juga tertata dengan rapi. Bagian-bagian inilah bagian yang terpenting dari Binatang bersisik keras. Panjang dari iga yang terpotong semuanya konsisten, menunjukkan tidak adanya daging yang dibuang percuma selama pengerjaan.

Pemandangan ini menyebabkan semua orang menjadi takjub. Apa yang Lin Ming lakukan terlihat mudah, tapi semua orang di sini tahu bahwa memotong Binatang bersisik keras adalah pekerjaan besar, membutuhkan 5 orang kuat untuk bekerja bersama-sama selama setengah hari. Namun, pemuda itu hanya terlihat mukanya memerah sedikit setelah menyelesaikan tugasnya. Melihat keadaannya, memotong beberapa lagi bukan menjadi masalah!

Saat itu sudah malam, Paviliun grand clarity sudah tidak sibuk, sehingga banyak anggota dapur yang bisa menyaksikan kejadian itu. Kemudian, Lin Ming menaruh pisau dan bertanya, “Bolehkah aku bekerja di sini? Jam kerjaku tidak boleh lebih dari 4 jam sehari dan permintaan gajiku adalah 5 liang emas sebilan. Oya, satu hal lagi, pihak restoran menyediakan makanan dan akomodasi untukku.”

Wanita cantik itu mempertimbangkan sejenak penawaran itu sebelum akhirnya mengangguk, “Deal!”

Kondisi yang disampaikan Lin Ming tidaklah murah, Namun, bisa dikatakan cukup patut. Menilai dari kecepatan yang ditunjukkan Lin Ming, banyak hal bisa dilakukan selama 4 jam. Yang paling penting, pekerjaannya sangat efisien, mengakibatkan sedikitnya bahan yang terbuang selama proses.

Akhirnya, Lin Ming mulai bekerja di Paviliun Grand Clarity. 4 jam yang dia habiskan di sana bukanlah suatu hal yang sia-sia karena hal itu juga merupakan suatu bentuk latihan untuk tenaga kasarnya, dan proses penulangan adalah latihan ketelitian.

Di malam itu, Lin Ming tetap tinggal di ruang penyimpanan dan memotong 3 ekor binatang bersisik keras level 1. Setelah melakukannya, tubuhnya dipenuhi keringan dan tangannya terasa mati rasa. Dia bersiap untuk memotong yang terakhir sebelum kembali ke pondoknya untuk beristirahat.

Untuk yang terakhir, dia memilih Binatang buas level 2, trenggiling berpunggung emas, binatang buas ini memiliki gigi yang dapat menghancurkan batu dan dapat mengebor gunung bagaikan tahu.

Karena sudah menggunakan banyak tenaga sebelumnya, Lin Ming harus mengeluarkan tenaga lebih untuk memotong daerah perut binatang buas itu. Alasannya memilih trenggiling punggung emas adalah untuk memaksa dirinya melewati batas dirinya.

Setelah memotong sisiknya, pekerjaannya menjadi lebih mudah. Ujung pisau melewatu celah di antara otot perut trenggiling punggung emas. Namun, saat melakukan hal itu, Lin Ming merasa pisaunya tersendat sesuatu. Rasanya pisau itu tertahan suatu benda yang keras.

Tulang? Tidak, area perut tengah seharusnya tidak memiliki tulang.

Jika bukan itu, apakah batu? Tidak juga harusnya, Trenggiling punggung emas hanya sesekali menelan batu, namun batu itu akan hancur menjadi pecahan kecil. Jikalau tidak pecah pun, asam yang kuat yang ada di dalam perutnya akan menghancurkannya. Batu yang besar pun rasanya tidak mungkin ada di dalam, apakah mungkin ini….

Intisari?

Memikirkan kemungkinan ini, Lin Ming menjadi bersemangat. Sebuah intisari dari binatang buas level 2 adalah barang yang berharga. Walaupun misal dia tidak menjualnya, dia dapat memakannya, dan tubuhnya akan menjadi lebih bertenaga lagi.

Lin Ming mengenakan sepasang sarung tangan dan perlahan mengambil barang keras itu sambil menghindari asam lambung binatang itu. Melihatnya, Lin Ming menjadi kecewa. Yang ada di tangannya adalah objek berbentuk kubus, yang berarti bahwa itu bukan intisari, karena intisari semuanya berbentuk bulat.

Benda itu terlihat seperti batu, tapi ada sesuatu yang aneh dengan batu ini…

Batu berwarna abu-abu itu terlihat terpotong dengan rapi, dengan ujung-ujung yang teliti. Selain itu, keenam permukaan kubus itu memiliki ukiran dengan inkripsi warna hitam, memberikan benda itu aura yang misterius.

Logam?

Lin Ming dengan hati-hati mengobservasinya. Sepertinya bukan metal, bukan batu juga. Apa mungkin ini suatu jenis giok?

 

Chapter Sebelumnya | Chapter Berikutnya

← Chapter 1 – Lin Ming MW 3 – Jiwa Tak Bertuan→

Leave a Reply