MW 3 – Jiwa Tak Bertuan

Lin Ming membasuh batu itu dengan air sungai. Setelah ragu-ragu sesaat, dia mengangkat kapak yang sebelumnya ada di tanah dan menggunakan sisi tumpulnya untuk menghantam kubus itu. Kubus itu tetap utuh tanpa goresan sedikit pun.

Hal ini sudah ia perkirakan. Nyatanya, batu ini masih tetap utuh setelah ditelan trenggiling punggung emas adalah bukti ketangguhan kubus ini. Lin Ming perlahan menaikkan kekuatan hantamannya. Sampai akhirnya, dia menghantam dengan seluruh kekuatannya dan mengakibatkan kapaknya bengkok. Namun tidak ada goresan sedikitpun yang terlihat di kubus itu.

Astaga!

Lin Ming tak bisa berkata apa-apa. Dia memang mengira bahwa kubus itu sangat kuat, tapi tidak sekuat ini. Bagaimana caranya benda ini dibuat?

Lin Ming tidak mampu memikirkan jawabannya. Kubus ini dan bentuknya terlalu aneh. Mungkin seorang master membuatnya dengan menggunakan bahan yang memiliki daya tahan yang kua. Mempertimbangkan hal itu, Lin Ming memutuskan untuk menyimpan kubus itu. Walaupun dia tidak bisa menemukan apa kegunaannya, dia masih bisa menggunakan kubus itu untuk hiasan.

Setelah membereskan peralatannya, Lin Ming menuju ruangannya di Paviliun grand clarity dan beristirahat.

Setelah melatih pukulannya, dia melakukan penulangan selama 4 jam. Dan sekarang Lin Ming merasa sangat lelah.

Setelah bermeditasi dan mengatur nafasnya sejenak, Lin Ming merebahkan tubuhnya ke ranjang tanpa melepaskan pakaiannya dan tertidur lelap. Ranjang yang disiapkan Paviliun grand clarity sangatlah nyaman. Selain itu, anak kedua dari Kepala tentara pertahanan kerajaan tidak bisa menimbulkan masalah di sini.

Memikirkan hal ini, Lin Ming bisa tertidur dengan nyaman. Dalam tidurnya, dia bermimpi aneh. Dia memimpikan sebuah istana megah yang gemerlap yang terbuat dari giok. Semua bangunan terbuat dari giok dengan tingkat pembuatan yang sangat tinggi.

Menggunakan gaun yang elegan, sekelompok wanita cantik dan kelihatannya bertemperamen baik berkeliling di sekitar istana. Hewan-hewan yang mengagumkan terbang menyusuri langit, memberi kesan bahwa ini adalah dunia para dewa.

Lin Ming tidak pernah melihat istana yang sangat ingat, bahkan tidak di lukisan. Detik itu juga, pemandangan di sekitarnya berubah  dan istana itu hancur. Sosok yang tidak terhitung jumlahnya muncul di langit. Di antara sosok tersebut, seberkas sinar meluncur dengan cepat. Sinar itu sangat indah; namun saat sinar itu menyentuh tanah, tanah dan gunung di sekitarnya hancur seketika.

Tanah terbelah dan langit dipenuhi api setan. Sebuah formasi mantra tiba-tiba muncul menyelimuti daerah seluas ratusan li (0,5 km) dan beraneka ragam simbol-simbol memenuhi langit.

Perang dengan skala sebesar ini tidak pernah terbayangkan oleh Lin Ming!Para master! Master-master ini memiliki kekuatan yang tidak bisa dibayangkan! Level kekuatan mereka adalah sesuatu yang tidak bisa ditandingi oleh mereka berada di level latihan fisik ataupun houtian !

Semua orang di dalam gambaran ini adalah sosok yang Lin Ming tidak akan pernah lihat di kehidupan nyata. Namun, mengapa banyak sekali sosok yang bagaikan dewa ini muncul di sini?

Setelah itu, gambaran itu berubah menjadi dunia salju dan es. Seorang wanita yang terlihat ketakutan memegang kubus kecil, menghadapi 10 ribuan sosok yang berdiri di angkasa.

Wanita ini berdiri hanya berjarak 3 langkah dari Lin Ming. Walaupun dia tahu bahwa ini semua adalah ilusi, Lin Ming dapat merasakan kekuatan yang kuat namun lembut dan aura suci yang keluar dari tubuh wanita itu!

Yang mengejutkan Lin Ming adalah kubus yang dibawa oleh wanita itu adalah kubus yang Lin Ming temukan di perut trenggiling punggung emas.

Wanita itu berkata beberapa kata, namun kata-katanya tidak terdengar dengan jelas. Lin Ming hanya mampu mendengar 2 kata – kubus dewa!

Kubus Dewa?

Dengan alasan yang tidak diketahui, ketika Lin Ming mendengar kata-kata itu, pikiran Lin Ming langsung tertuju ke Kubus itu. Apakah nama Kubus itu adalah Kubus Dewa?

“Bang!”

Sebuah ledakan! Area itu menjadi kacau balau, langit seakan berputar membentuk pusaran kemarahan dengan kekuatan yang tidak terbatas, Menyapu bumi dan langit. Kemanapun pusaran itu pergi, gunung-gunung langsung hancur dan langit pun runtuh. Gletser es seketika menghilang dan 10 ribuan sosok tersebut hancur menjadi debu. Jiwa mereka terpecah dan diserap oleh kubus itu!

Lin Ming melihat dirinya berdiri di tengah-tengah pusaran itu, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika semuanya disedot masuk ke dalam pusaran. Semua benda ataupun manusia di sekitarnya berubah menjadi abu, sedangkan dia sendiri tetap tidak terpengaruh. Perasaan ini tidak bisa dideskripsikan dan akan menjadi pengalaman yang tidak akan pernah Lin Ming lupakan!

Lin Ming merasa tubuhnya basah karena keringat dingin. Di saat ini, dia menyadari bahwa dia sudah tiba di sebuah area yang besar dan gelap. Di sini, berbagai titik cahaya mengambang di udara, bagaikan pecahan kaca. Titik-titik cahaya itu berbeda-beda besarnya, ada yang kecil dan ada yang besar. Yang paling besar ukurannya sebesar kepalan tangan, sedangkan yang terkecil hanya bagaikan butiran nasi. Di tengah-tengah semua titik-titik cahaya itu, ada sebuah cahaya bulat, yang memancarkan sinar lembut, tenang dan suci.

Tanpa perlu dijelaskan, Lin Ming merasa bahwa suasana di sekitar bulatan cahaya itu sama sangat mirip dengan wanita yang dilihatnya tadi. Tidak, bukan mirip, melainkan sama persis!

Apakah ini adalah titik cahaya yang ditinggalkan wanita itu?

Lin Ming mengingat kembali bahwa wanita itu berubah menjadi cahaya putih dan diserap oleh kubus dewa setelah ledakan itu terjadi…

Sebuah sinar putih…. Apa mungkin sinar itu berubah menjadi cahaya bulat ini? Jika memang iya, maka ini adalah ruangan di dalam kubus dewa. Berarti… titik-titik cahaya ini…

Lin Ming bagaikan tertahan napasnya… Apa mungkin titik-titik cahaya ini semua adalah bagian dari sosok yang jumlahnya tidak terhitung yang diserap oleh kubus dewa ini setelah mereka disapu pusaran badai itu?

Lin Ming sangat terkejut!

Dan sekarang, dia memahami bahwa kejadian yang tadi dia alami memang benar-benar terjadi. Walaupun dia mengatakan pada dirinya bahwa dia hanya bermimpi, dia tidak bisa mempercayai bahwa itu semua hanya sebuah mimpi. Semua yang dia lihat di mimpi ini sangat realistis dan gambaran pusaran badai itu tertanam di pikiran Lin Ming. Sebagai seorang anak muda yang tidak berpengalaman yang belum mencapai tahap penguatan nadi, bagaimana dia bisa bermimpi seperti itu?

Jadi, apakah semua kejadian itu benar-benar terjadi? Sebuah kubus ini ternyata mampu menyerap semua master yang kekuatannya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata itu?

Lin Ming tidak mampu membayangkan kerajaan mana yang memiliki banyak master yang berada di level kekuatan yang luar biasa itu. Dia memfokuskan matanya dan memandang ke area gelap yang dihiasi titik-titik cahaya itu. Setelah berpikir keras cukup lama, Lin Ming mengulurkan tangannya dan dengan lembut menyentuh sebuah titik cahaya yang paling kecil dan paling dekat dengannya.

Ketika bersentuhan, titik cahaya itu langsung terbang masuk ke ujung jari Lin Ming. Lin Ming tidak punya waktu untuk bereaksi, kepalanya terasa bagaikan dipukul sebuah palu berat yang tiba-tiba dipukulkan dengan kejam. Dia pun berteriak dan jatuh ke tanah.

“aaaa!”

Lin Ming memegang erat kepalanya, dia merasa ada sesuatu yang memasuki pikirannya. Perasaan sakit yang menusuk ini membuat Lin Ming ingin memecahkan tengkoraknya dan mengeluarkan sesuatu itu.

Dia tidak bisa menghalanginya! Lin Ming merasa dia akan ditelan.

Ditelan?

Iya benar! Ini pasti sifat alamiah pecahan jiwa; pecahan jiwa ini mencoba untuk menelan kesadaranku!

“Sialan kau!”

Menyadari hal ini, Lin Ming panic namun segera menenangkan dirinya. Benda yang mengancamnya hanya pecahan kecil dari sebuah jiwa. Sebagai tambahan, tubuh nya juga telah hancur. Bagaimana mungkin Lin Ming akan kalah dengan kesadaran kecil seperti ini?

Lin Min tiba-tiba berteriak, mengepalkan tangannya, kukunya masuk ke dalam daging: Tetap bertahan hati dan pikiranku! Jantungku berdetak hanya untuk Jalan Bela Diri!

Aku telah bersumpah untuk berusaha seekstrem mungkin dalam berlatih bela diri, bagaimana mungkin aku hanya berhenti sampai di sini?

Lin Ming tidak punya bayangan bagaimana cara memusnahkan pecahan kesadaran yang tak bertuan itu. Yang bisa dia lakukan adalah menggertakkan giginya dan bertahan dengan segala yang dia miliki. Berbagai macam gambar memasuki kesadarannya, membuat Lin Ming merasakan sakit yang luar biasa, mengakibatkan dia hampir kehilangan kesadaran. Namun, dia tetap menggertakkan giginya, mempertahankan genggaman kesadarannya dan berpegangan pada kekuatan hatinya!

Setelah waktu yang tidak diketahui, siksaan ini perlahan menghilang. Akhirnya, Lin Ming bangun dari mimpinya. Dia membuka mata dan melihat bahwa fajar mulai menyingsing dan tubuhnya bermandikan keringat dingin; seprai tempat tidurnya basah dan telapak tangannya meneteskan darah karena menggenggam terlalu erat!

Melihat semua ini, Lin Ming 100% yakin bahwa apa yang sudah terjadi bukanlah suatu mimpi. Bahkan mimpi buruk pun tidak bisa memberikan efek seperti ini.

Lin Ming pun dengan tenang merenung dan merasa takut. Jiwa seseorang terdiri dari 2 bagian: kesadaran dan memori. Ketika kesadaran terhapus, jiwa menjadi tidak bertuan. Sebuah jiwa tidak bertuan hanya bisa bertindak mengikuti insting. Barusan, jiwa yang dia sentuh hanya sebesar separuh bulir nasi. Cahayanya juga redup. Walaupun begitu, dia hampir ditelan oleh jiwa itu, betapa menakutkannya! Jika dia menyentuk titik cahaya yang lebih besar, mungkin dia sudah mati sekarang!

Kubus ini terlalu berbahaya!

Ketika Lin Ming memikirkan tentang hal ini, wajahnya seketika berubah: Eh… Lautan kesadaranku…

Ada banyak hal di dalamnya!

Formasi… Inkripsi… pahatan… simbol-simbol aneh., karakter misterius, teknik yang terlihat biasa namun kuat…

Apa semua ini?

Apakah ini adalah memori yang dibawa jiwa tak bertuan itu?

Pemikiran ini membuat Lin Ming terperangah. Dia sedikit menyadari bahwa memori ini bisa menjadi kekayaan yang tidak terhingga…

Walaupun memori itu sudah memasuki kesadaran Lin Ming, memori itu sangat kompleks. Memori-memori itu bukanlah sesuatu yang Lin Ming bisa ingat seenaknya dan semaunya. Memori-memori itu butuh untuk dikonsolodasikan dan diintergrasikan.

Ketika melakukan hal itu, Lin Ming melewati memori tentang formasi dan inkripsi. Memori-memori ini terpecah-pecah dan tidak tertata dengan rapi. Memori ini sepertinya tentang sebuah profesi yang mengukir inkripsi ke senjata.

Lin Ming tidak tertarik dengan profesi ini. Ada hal lain yang dia perlukan, sesuatu yang dia inginkan. Dia terus mencari di dalam lautan kesadarannya dan akhirnya dia menahan napasnya ketika dia menemukan: Formula Tahapan Latihan Fisik –  Teknik Meridian Tempur Mengacaukan Kebajikan!

Sebuah Teknik peninggalan!

Apa alasan perguruan silat sky fortune berada di bawah Perguruan silat tujuh kebijaksanaan? Jawabannya adalah karena peninggalannya!

 

Chapter Sebelumnya | Chapter Berikutnya

← MW 2 – Batu Aneh MW 4 – Teknik Peninggalan→

Leave a Reply