Skyfire Avenue 1

Chapter 1: Toko Perhiasan Zeus

Sebuah cahaya cemerlang meledak dari kejauhan.

Saat pertama dimulai, itu tak lebih dari sebuah titik sederhana semata. Perlahan, itu tumbuh hingga menjadi sebuah garis. Saat sinar cahaya itu telah mulai meledak sepenuhnya, cahaya cemerlang itu telah menjadi sangat menyilaukan untuk dilihat. Ia tampak mengisi dan memberi nutrisi seluruh dunia, dan secara bersamaan ia tampak menghancurkan seluruh dunia juga.

Alam semesta. Tak terhingga dan tak terbatas.

Di balik cahaya, akan selalu ada kegelapan.

Memandang cahaya tak terbatas dalam pandanganya, ia tertawa.

“Selamat jalan, Hera.”

Bayangan yang sangat besar muncul di belakangnya. Ia mundur dengan anggun, menyatu ke dalamnya.

Bayangan itu berkilat, dan dalam sekejap, berpindah sangat jauh.

……

Bintang Skyfire. Kota Skyfire. Skyfire Avenue.

Jalur yang terkenal ini tidak mengizinkan kendaraan atau robot apa pun melewatinya, apalagi mecha. Bahkan para polisi yang berpatroli harus berjalan, yang merupakan metode yang paling kuno. Itu karena jalan ini adalah sebuah jalan untuk pejalan kaki, sebuah jalur untuk bangsawan, tersembunyi di dalam dunia berteknologi tinggi ini.

Batu yang segar namun seragam menyelimuti jalur sepanjang 2048 meter ini. Bangunan di tiap sisi jalur ini sangat berbeda jenis, tapi tiap bangunan memiliki aspek unik dan sejarahnya sendiri. Ada bangunan runcing gaya gotik Perancis kuno, bangunan yang terukir dari giok nan agung dari Tiongkok kuno, dan bahkan ada bangunan bergaya Romawi.

Jalan ini, yang kelihatannya tidak memiliki teknologi tinggi, terletak dalam wilayah yang paling pusat dan paling berkembang dalam Kota Skyfire. Maka dari itu, di sini, setiap meter persegi tanah berharga seharga salah satu hovercar atmosfer tinggi Michaely kelas P12 tingkat atas.

Di pusat Skyfire Avenue, terdapat sebuah toko kecil yang biasa – biasa saja. Alasan mengapa toko itu digambarkan sebagai ‘kecil’ hanyalah karena toko itu kecil dibandingkan dengan bangunan yang sangat besar dan megah yang mengelilinginya. Bagian depan tokonya hanya selebar tujuh belas meter, dan didesain sesuai dengan kombinasi gaya klasik yang mewah dengan gaya neo-klasik yang sederhana. Dinding – dinding biru gelap layaknya cermin, jendela display yang cemerlang, semuanya memamerkan perhiasan – perhiasan yang bergemerlap dan mempesona. Di tengah atas tokonya, empat huruf, bercahaya dengan cahaya safir, membentuk nama toko itu.

Z, E, U, S.

Pintunya dibuat dari sejenis logam biru gelap yang tak dikenal. Pintu itu tidak memiliki dekorasi apapun, selain sebuah  gambar sambaran petir.

Zeus, sang Raja para Dewa di Yunani kuno, sang pengendali kekuatan petir.

Demikian, toko ini juga dinamakan Toko Perhiasan Zeus.

Bagian dalam tokonya adalah sebuah dunia biru safir. Karpet biru safir, beludru biru safir menyelimuti dinding… bahkan dasar dari kabinet display perhiasan berwarna safir.

Di belakang meja depan Toko Perhiasan Zeus adalah dua wanita muda. Mereka mengenakan gaun putih low-cut yang persis sama. Mereka sangat cantik, dalam cara yang berbeda.

Satu tinggi dan langsing, dengan alis tinggi layaknya gunung, sebuah wajah bak bunga mawar, rambut hitam eloknya terurai di atas bahunya. Tak peduli dari dekat atau jauh, dia tampak seperti lukisan yang jernih, dan cantik, dan dia memiliki kesan yang agak klasik padanya.

Yang satunya menawan dan manis, dengan rambut biru muda yang rapi, dan pendek. Gaun low-cutnya memamerkan ‘pegunungan’ spektakulernya, tapi kesan di mata biru gelapnya selalu berubah. Dia tampak… sedikit aneh.

“Boss, aku ingin makan es krim.” Si gadis berambut pendek berujar genit, suaranya begitu manis sehingga ia dapat membunuh seorang pria karena overdosis gula.

Sebuah suara malas terdengar. “Apa kau akan memakan milikku, atau aku akan memakan milikmu?”

Suaranya datang dari belakang meja depan. Jadi sebenarnya ada orang ketiga dalam toko juga. Dia terlihat berusia dua puluhan, dan duduk di sebuah kursi putar kulit. Tangannya terkatup di belakang kepalanya, dia bersandar di sana dengan nyaman. Dia memiliki rambut hitam pendek, sebuah baju hitam, celana hitam, dan sebuah rompi putih dengan diagram dari sebuah kuil Yunani kuno.

“Yang mana saja boleh.” Si gadis berambut pendek terkikik.

“Ke’er, berhenti bermain – main.” Si gadis berambut panjang berkata pasrah.

Si pemuda duduk tegak, gerakannya lembut dan anggun. Meski rambutnya acak – acakan dan wajahnya memiliki jambang tipis yang belum dicukur, dia tidak memberi kesan kusut sama sekali.

Matanya sangat terang, tapi ia memiliki senyuman yang agak lemah di bibirnya. Tiap gerakan yang ia buat, meski begitu, sangat anggun dan memuaskan untuk dilihat. Dengan sekali lirik, seseorang bisa bilang bahwa ia adalah seseorang yang telah menerima pelajaran terbaik dalam etiket bangsawan selama bertahun – tahun, dan maka dari itu memperoleh kebiasaan – kebiasaan ini.

Dari dalam saku dadanya, ia mengambil sebuah jam saku perak, yang terselimuti dengan banyak permata kecil, namun elok yang membentuk diagram langit berbintang.

“Sudah hampir waktunya. Aku akan menyegarkan diri sedikit, jadi aku akan keluar untuk minum. Xiu Xiu, Ke’er, sudah hampir waktunya untuk kalian berdua untuk kembali juga.”

Si gadis berambut panjang, Xiu Xiu, tertawa lembut seraya melihatnya. “Boss, kau pergilah lakukan apa yang kau perlu lakukan. Tokonya punya kita.”

Si pemuda tersenyum hangat. “Xiu Xiu selalu berkelakuan baik.”

Si gadis berambut pendek langsung mengerutkan bibirnya, dan si pemuda harus menambahkan, “Um, Ke’er sangat berkelakuan baik juga.”

“Dingdingding.” Bunyi seperti dering lonceng perak terdengar, dan pintu tokonya terdorong membuka. Seorang wanita berjalan masuk dari luar.

Saat melihat wanita ini, mata si pemuda bersinar lebih terang lagi.

Ia adalah seorang wanita yang amat cantik. Makeupnya sedikit tebal, dan sulit untuk bilang berapa usianya. Dia setinggi 1,7 meter, memiliki tubuh langsing, dan pada kakinya ia mengenakan sepasang sepatu hak tinggi perak dan kristal yang sangat mewah yang dibuat khusus dari VanCleef & Arpels, yang memamerkan betis langsing dan lurusnya dengan sempurna .

Warna matanya sangat spesial. Mereka berwarna hijau giok, warna dari sebuah zamrud. Jika kau memperhatikan dengan teliti, kau akan menemukan bahwa mereka dapat menjerat jiwamu.

Setelah berjalan ke dalam toko, kakinya berhenti sejenak seraya menyapu kabinet display dengan pandangannya.

Xiu Xiu pergi menyambutnya, tersenyum seraya berkata. “Selamat datang di Zeus. Ada yang bisa saya bantu?”

Si wanita tidak melihat ke arahnya, pandangannya alih – alih jatuh ke si pemuda. “Aku ingin membeli sebuah kalung safir bintang biru royal yang setidaknya berukuran lima puluh karat atau lebih besar. Apa kau memilikinya?”

Si pemuda berjalan dari belakang meja depan. Tersenyum, ia berkata, “Tentu saja. Xiu Xiu, bimbing wanita ini ke ruang VIP.”

Xiu Xiu memberi isyarat mengundang ke arah si wanita, sedangkan di sisi lain, Ke’er sudah membuka pintu ke ruang VIP, diselimuti bulu asli yang berwarna biru gelap.

Ruang VIP tidaklah besar, hanya berukuran sekitar sepuluh meter persegi. Ia juga memiliki karpet biru dan dinding biru, sementara secara bersamaan, ia punya sebaris dari enam kabinet penyimpanan yang berbaris terhadap dinding.

Disamping itu, ruang VIP juga memiliki sebuah meja dan tiga kursi. Satu kursi menghadap ke dalam, sedangkan dua lainnya ke luar.

Ini adalah tempat di mana transaksi yang sesungguhnya dibuat. Kebanyakan perhiasan kelas top tidak akan pernah dipamerkan di kabinet – kabinet di luar.

Si pemuda mempersilakan si wanita untuk duduk, dan ia duduk di satu di antara dua kursi yang berada di luar meja.

Xiu Xiu menuangkan secangkir air hangat dan memberikannya ke si pemuda, yang lalu menempatkannya langsung di depan si wanita. Bagi sang pemilik untuk secara pribadi menyerahkan minuman tentunya lebih berarti dari seorang pegawai. Sebuah detail kecil, tapi meski begitu, seringkali detail – detail kecil lah yang menentukan sukses atau gagal.

Xiu Xiu dengan tenang menutup pintu ke ruang VIP, tanpa membuat bunyi. Toko ini memiliki aturan tak dikatakan. Selama sang bos hadir, ia akan menangani semua tamu yang dibimbing ke ruang VIP secara pribadi.

Si pemuda berjalan ke sisi si wanita, memberikan secangkir air itu padanya. “Silakan diminum.”

Si wanita menerima secangkir air itu, tapi lalu mendongakkan kepalanya dan melihat ke arahnya. “Zeus!”

Wajah si pemuda masih memiliki senyuman anggun dan lemah itu. “Kau salah mengiraku sebagai orang lain. Namaku Lan Jue, bukan Zeus. Atau mungkin, kau menyebutkan nama tokoku?”

Si wanita tidak tampak mendengarkannya, seraya menatapnya dengan pandangan membaranya. “Zeus, aku ingin memintamu untuk melakukan sesuatu untukku.”

Senyuman di wajah Lan Jue lenyap, dan ia mengambil secangkir air itu kembali dari tangan si wanita.

Secangkir air itu menyala, dan air jernih di dalamnya seketika berubah menjadi biru, biru dari sambaran petir mungil yang tak terhitung jumlahnya.

Lan Jue melihat ke arahnya dengan tenang. Tubuh si wanita sedikit berguncang, seakan ia telah terpengaruh oleh semacam kekuatan yang melumpuhkan. Ia tidak bergerak sama sekali.

Setelah menghabiskan secangkir air elektrik itu dalam sekali teguk, Lan Jue mendorong terbuka pintu ke ruang VIP dan berjalan ke luar.

“Dia tidak di sini untuk membeli barang. Tolong kawal ia keluar. Aku akan pergi untuk minum.”

Chapter Selanjutnya